Archive for : December, 2012

Selamat Natal Menurut Al-Qur’an

Alhamdulillah, setelah sekian banyak uneg-uneg, pertanyaan, kegundah gulanaan saudara-saudaraku yang masuk melalui inbox FB, email dan masyarakat tercinta mengenai "Bagaimana hukum mengucapkan Selamat Natal kepada kerabat kristiani kita?", ada yang beranggapan itu dosa, ber-arti telah murtad, karena mengucapkan selamat itu mengganggu akidah seperti halnya non muslim yang ingin masuk Islam, ya harus mengucapkan dua kalimat syahadat. Dan masih banyak lagi ke-galauan yang di utarakan saudara-saudaraku.

 

Akhirnya penulis juga belajar lagi kok seperti saudara-saudaraku,,, ini dia jawabanya menurut ahlinya semoga manfaat:

 

Sakit perut menjelang persalinan, memaksa Maryam bersandar ke pohon kurma. Ingin rasanya beliau mati, bahkan tidak pernah hidup sama sekali. Tetapi Malaikat Jibril datang menghibur: "Ada anak sungai di bawahmu, goyanghan pangkal pohon kurma ke arahmu, makan, minum dan senangkan hatimu. Kalau ada yang datang katakan: 'Aku bernazar tidak bicara.'"

   

"Hai Maryam, engkau melakukan yang amat buruk. Ayahmu bukan penjahat, ibumu pun bukan penzina," demikian kecaman kaumnya, ketika melihat bayi di gendongannya. Tetapi Maryam terdiam. Beliau hanya menunjuk bayinya. Dan ketika itu bercakaplah sang bayi menjelaskan jati dirinya sebagai hamba Allah yang diberi Al-Kitab, shalat, berzakat serta mengabdi kepada ibunya. Kemudian sang bayi berdoa: "Salam sejahtera (semoga) dilimpahkan kepadaku pada hari kelahiranku, hari wafatku, dan pada hari ketika aku dibangkitkan hidup kembali."

         

Itu cuplikan kisah Natal dari Al-Quran Surah Maryam ayat 34. Dengan  demikian,  Al-Quran mengabadikan dan merestui ucapan selamat Natal pertama dari dan untuk  Nabi  mulia  itu,  Isa a.s.


 

Terlarangkah   mengucapkan   salam   semacam  itu? 

Bukankah Al-Quran telah memberikan contoh? Bukankah  ada  juga  salam yang  tertuju  kepada  Nuh, Ibrahim,  Musa, Harun, keluarga Ilyas, serta para nabi lainnya? Setiap Muslim harus  percaya kepada  Isa a.s. seperti penjelasan ayat di atas, juga harus percaya kepada Muhammad saw., karena keduanya  adalah hamba dan  utusan  Allah. Kita mohonkan curahan shalawat dan salam untuk. mereka berdua sebagaimana kita mohonkan untuk seluruh nabi  dan  rasul.  Tidak  bolehkah kita merayakan hari lahir (natal) Isa a.s.? Bukankah Nabi  saw.  juga  merayakan  hari keselamatan  Musa a.s. dari gangguan Fir'aun dengan berpuasa 'Asyura, seraya bersabda,  "Kita  lebih  wajar  merayakannya dari pada orang Yahudi pengikut Musa a.s."

 

Bukankah,  "Para Nabi bersaudara hanya ibunya yang berbeda?" seperti disabdakan Nabi Muhammad saw.? Bukankah seluruh umat bersaudara?  Apa  salahnya  kita  bergembira  dan  menyambut kegembiraan saudara kita dalam batas  kemampuan  kita,  atau batas  yang  digariskan  oleh  anutan  kita?  Demikian lebih kurang pandangan satu pendapat.

 

Banyak persoalan yang berkaitan  dengan  kehidupan  Al-Masih yang   dijelaskan   oleh   sejarah   atau agama  dan  telah disepakati, sehingga harus diterima. Tetapi, ada  juga  yang tidak dibenarkan atau diperselisihkan. Disini, kita berhenti untuk merujuk kepercayaan kita.

 

Isa a.s. datang mermbawa  kasih,  "Kasihilah  seterumu  dan doakan  yang  menganiayamu."  Muhammad  saw. datang membawa rahmat, "Rahmatilah yang di dunia, niscaya yang  di  langit merahmatimu."  Manusia  adalah fokus ajaran keduanya; karena itu, keduanya bangga dengan kemanusiaan.

 

Isa menunjuk  dirinya  sebagai  "anak  manusia,"  sedangkan Muhammad  saw. diperintahkan oleh Allah untuk berkata: "Aku manusia seperti kamu." Keduanya datang  membebaskan  manusia dari  kemiskinan ruhani, kebodohan, dan belenggu penindasan. Ketika orang-orang mengira bahwa  anak  Jailrus  yang  sakit telah   mati,   Al-Masih   yang  menyembuhkannya  meluruskan kekeliruan mereka dengan berkata, "Dia  tidak  mati,  tetapi tidur."  Dan ketika terjadi gerhana pada hari wafatnya putra Muhammad, orang berkata: "Matahari mengalami gerhana karena kematiannya." Muhammad saw. lalu menegur, "Matahari tidak mengalami gerhana karena kematian atau  kehahiran  seorang." Keduanya  datang membebaskan maanusia baik yang kecil, lemah dan tertindas -dhu'afa' dan al-mustadh'affin  dalam  istilah Al-Quran.

 

Bukankah ini satu dari sekian titik temu antara Muhammad dan Al-Masih? Bukankah ini sebagian dari kandungan Kalimat Sawa' (Kata  Sepakat)  yang  ditawarkan  Al-Quran  kepada penganut Kristen (dan Yahudi (QS 3:64)? Kalau demikian, apa  salahnya mengucapkan   selamat   natal,  selama  akidah  masih dapat dipelihara dan selama ucapan itu  sejalan  dengan  apa  yang dimaksud  oleh  Al-Quran  sendiri  yang telah  mengabadikan selamat natal itu? Itulah antara lain alasan yang  membenarkan  seorang  Muslim mengucapkan selamat atau menghadiri upacara Natal yang bukan ritual . Di sisi lain,  marilah  kita menggunakan  kacamata yang melarangnya.

 

Agama,   sebelum   negara,   menuntut  agar  kerukunan  umat dipelihara. Karenanya salah,  bahkan  dosa, bila  kerukunan dikorbankan  atas  nama agama. Tetapi, juga salah serta dosa pula, bila kesucian akidah ternodai  oleh  atau  atas  nama kerukunan. Teks  keagamaan  yang  berkaitan dengan akidah sangat jelas, dan tidak juga rinci. Itu semula untuk menghindari kerancuan dan  kesalahpahaman. Bahkan Al-Qur'an tidak menggunakan satu kata yang mungkin dapat menimbulkan  kesalahpahaman,  sampai dapat   terjamin bahwa   kata   atau  kalimat  itu,  tidak disalah pahami. Kata "Allah," misalnya, tidak digunakan  oleh Al-Quran,   ketika   pengertian  semantiknya  yang  dipahami masyarakat jahiliah belum  sesuai  dengan yang  dikehendaki Islam.  Kata  yang digunakan sebagai ganti ketika itu adalah Rabbuka  (Tuhanmu,  hai Muhammad)  Demikian  terlihat  pada wahlyu  pertama  hingga  surah  Al-Ikhlas.  Nabi saw. sering menguji pemahaman umat tentang Tuhan. Beliau tidak sekalipun bertanya, "Dimana Tuhan?" Tertolak riwayat sang menggunakan redaksi itu karena ia  menimbulkan  kesan  keberadaan  Tuhan pada  satu  tempat,  hal yang mustahil bagi-Nya dan mustahil pula diucapkan oleh Nabi. Dengan alasan serupa,  para  ulama bangsa  kita enggan  menggunakan  kata  "ada"  bagi Tuhan, tetapi "wujud Tuhan."

 

Natalan, walaupun berkaitan  dengan  Isa  Al-Masih,  manusia agung  lagi  suci  itu, namun ia dirayakan oleh umat Kristen yang pandangannya terhadap Al-Masih berbeda dengan pandangan Islam.  Nah, mengucapkan  "Selamat Natal" atau menghadiri perayaannya  dapat  menimbulkan  kesalahpahaman  dan  dapat mengantar  kepada  pengaburan  akidah.  Ini  dapat  dipahami sebagai pengakuan akan ketuhanan Al-Masih,  satu  keyakinan yang  secara mutlak bertentangan dengan akidah Islam. Dengan kacamata  itu, lahir  larangan   dan   fatwa   haram   itu, sampai-sampai ada yang beranggapan jangankan ucapan selamat, aktivitas  apa  pun  yang  berkaitan  dengan   Natal   tidak dibenarkan, sampai pada jual beli untuk keperluann Natal.

 

Adakah kacamata lain? Mungkin!

Seperti  terlihat,  larangan  ini  muncul dalam rangka upaya memelihara akidah. Karena, kekhawatiran kerancuan pemahaman, agaknya   lebih   banyak   ditujukan   kepada   mereka  yang dikhawatirkan kabur akidahnya. Nah, kalau demikian, jika ada seseorang  yang  ketika mengucapkannya tetap murni akidahnya atau  mengucapkannya  sesuai  dengan   kandungan   "Selamat Natal"   Qurani,   kemudian mempertimbangkan  kondisi  dan situasi dimana hal itu diucapkan, sehingga tidak menimbulkan kerancuan akidah baik bagi dirinya ataupun Muslim yang lain, maka agaknya tidak beralasan  adanya  larangan  itu. Adakah yang  berwewenang  melarang seorang membaca atau mengucapkan dan menghayati satu ayat Al-Quran?

 

Dalam rangka interaksi  sosial  dan  keharmonisan  hubungan, Al-Quran  memperkenalkan  satu  bentuk redaksi, dimana lawan bicara   memahaminya   sesuai    dengan    pandangan    atau keyakinannya,   tetapi bukan  seperti  yang  dimaksud  oleh pengucapnya. Karena, si  pengucap  sendiri  mengucapkan  dan memahami   redaksi   itu   sesuai   dengan   pandangan   dan keyakinannya. Salah  satu  contoh  yang dikemukakan  adalah ayat-ayat   yang   tercantum  dalam  QS  34:24-25.  Kalaupun non-Muslim memahami ucapan "Selamat  Natal"  sesuai  dengan keyakinannya,  maka  biarlah  demikian,  karena  Muslim yang memahami akidahnya akan mengucapkannya sesuai  dengan  garis keyakinannya.   Memang,  kearifan  dibutuhkan  dalam  rangka interaksi sosial.

 

Tidak kelirulah, dalam kacamata ini, fatwa dan larangan itu, bila  ia ditujukan kepada mereka yang dikhawatirkan ternodai akidahnya.   Tetapi,   tidak   juga   salah   mereka    yang membolehkannya,  selama pengucapnya bersikap arif bijaksana dan  tetap  terpelihara  akidahnya,  lebih-lebih  jika   hal tersebut merupakan tuntunan keharmonisan hubungan.

 

Dostojeivsky  (1821-1881),  pengarang Rusia kenamaan, pernah berimajinasi tentang kedatangan kembali Al-Masih.  Sebagian umat  Islam pun percaya akan kedatangannya kembali. Terlepas dari penilaian terhadap imajinasi dan kepercayaan itu,  kita dapat  memastikan  bahwa  jika  benar beliau datang, seluruh umat berkewajiban menyambut dan mendukungnya, dan pada  saat kehadirannya itu pasti banyak hal yang akan beliau luruskan. Bukan saja sikap dan ucapan umatnya, tetapi juga  sikap  dan ucapan  umat  Muhammad saw. Salam sejahtera semoga tercurah kepada beliau, pada  hari  Natalnya,  hari  wafat  dan  hari kebangkitannya nanti.

 

Sumber:

MEMBUMIKAN AL-QURAN

Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat

Prof. Dr. K.H. M. Quraish Shihab,M.A

Penerbit Mizan, Cetakan 13, Rajab 1417/November 1996

http://media.isnet.org/islam/Quraish/Membumi/Natal.html

FacebookTwitterGoogle+LinkedIn

THE MEANINGS OF TEACHERS PROFFESIONS IN ISLAMIC EDUCATIONAL MANAGEMENT

 

 

By: Afiful Ikhwan[*]

Abstract

The long journey of Islamic education hitherto recorded three meanings inherent in the teaching profession, which is as managerial (who/which manages Islamic education), as holder of the mandate (especially from parents) and the work that is professional. Teacher serves as a fiduciary that is an educator who serves the people to lead the learners to be able to find their dignity as humans. In this position the teacher is as a successor to the Islamic prophet struggle (waratsat al-Anbiya'). In his position as professionals, teachers in activities are required to fulfill work duties in accordance with the requirements of professional ethics, obey and adhere to the essential values ​​contained in the Qur'an and Hadits. As compensation from the exercise of duties, teachers are entitled to an award of financial and nonfinancial people or the people who need their services.

Keywords: Professions, Teachers, and Appreciation of Islamic Managerial Education.

Introduction

Teachers as part of the scientists took over as successor (heir) carried the message of Islam spread by the prophets. As the successor to the prophet, the holy and the mission teachers have a responsibility to develop the potential of people. For that, it requires special skills and a high sense of devotion to carry out the mandate given to him that is to educate.

In the tradition of Islamic education, the teaching profession is a profession related to faith, science and charity are integral. Acts committed teachers have synergy with the confidence and knowledge possessed and taught. Thus, Islam outlined that the teaching profession is a profession eligible Islam that upholds the values ​​of al-Karimah morality and devotion to God Almighty.

The explanation above illustrates that the teaching profession in Islam has its own typical and very interesting to study and discuss. In keeping with that, this paper tries to look beyond the meaning of the teaching profession and the special properties for teachers related to the exercise of the profession as it has been exemplified in the classical Islamic education and Islamic education were associated with management, resulting in output of Islamic education that could color the history resurrection and human civilization.


 

Teachers and His Profession

Etymologically, "Teacher" in Arabic is often known as "mu'allim" (the learned) or "Mudarris" (those who teach) (Munawwir, 1997: 966). As al-Ghazali in the word "Master" is often used the term mu'allim, Mudarris and al-Muwaddib (Educators), where every word is directed to the person in charge and responsible for the education and teaching activities (Zainuddin, 1991: 50) .

In connection with the entrusted tasks, (Ali, 1999: 93) formulated two meanings contained in the word "Master", that the teacher is defined as persons who carry out the mandate, and second, the work of teachers as professionals.

Definition of teachers as people undertaking more popular in the early period of Islam. More explicitly stated that the teachers are the ones who receive the message of the parents to educate their children. From the statement can be understood that in this period a teacher gives knowledge to the students based on the concept of running a mandate. As the holder of the mandate, the teacher responsible for the mandate entrusted to him, as affirmed in the Qur'an Surah an-Nisa: 58.

While the word "Teachers" is defined as professionals can be found in the phenomenon of Islamic education in the modern progress and during this period, "Master" into a profession that can mean the search for revenue (income). In this context not only undertaking teacher education, but also those who provide themselves as professionals who are willing to accept payment for his duties as a teacher to support and provide for his family.

Professional terms, according to Arifin (1995: 105), derived from the profession, which contains the same meaning as the word occupation or a job that requires skills acquired through education as a specific area of ​​expertise to address the specific employment needs. In general, Sadirman (2001:131) defines a profession as an occupation that requires advanced education in science and technology are used as the basis to be implemented in a variety of worthwhile activities. In its application involves aspects that are more mental than it is manual work. Professional workers always use the techniques and procedures that rests on an intellectual basis to be learned deliberate, planned and then used for the benefit of the public.

Sugmadinata (2000:191) defines indicators profession generally revolve around the following points:

  1. Functions and social significance,
  1. Have the skills or expertise,
  1. Skills / Skills obtained by using the theory and the scientific method,
  1. In discipline science is based on a clear,
  1. Education obtained in a certain period of time,
  1. Application and dissemination of professional values​​,
  1. Having a code of ethics,
  1. Freedom to give judgment in solving problems within the scope of its work,
  1. It has a professional responsibility and autonomy,
  1. There was recognition from the public and the reward for the service profession.

In this paper defined the profession an occupation that requires specialized skills, which skills must be acquired through a certain education level a relatively long time and are finally able to categorize continuous Islamic education was then called the Islamic Educational Management. Implementation of professional work serves to address issues for the community and benefit the public interest.

When you understand the above formulation of the profession, means that the need for the teaching profession requires special skills as well the ability of manager in learning activities and the ability of proprietary knowledge that will be given to students.

In Islam, by Abdullah Ulwan, through the profession of the teacher's task is doing is implementing the scientific education to shape the personality and dignity of human emancipation (Ulwan, 1978:1019). In addition, as the holder of the mandate of the parents, which is also the task of Muslim educators in general, which gives education-minded human being (Aly, 1999:95). To implement the profession that al-Nahlawi (1979:154) suggests, teachers should follow the example of the role that has been made by the prophets and their followers, the first task is to study and teach the science of divine (Qur'an 3:79) and develop and cleanse the soul of man (QS 2:129).

In order to perform its teaching profession as well, Islam stressed the need for special properties that must be possessed by the teacher (special description of this is presented in sub c of this writing). On the other hand, if the teacher is recognized as a profession, meaning educators (including the non-Muslim educator) is a person entitled to compensation (compensation) of the work performed and its responsibility. In the tradition of medieval Islamic education, both financial rewards in the form of salary and non-financial such as power and prosperity is something that has been done.

Financial Appreciation

In the early development of Islam who have not seen the material goals of education in the Islamic world as it is known in the modern era. However, due to the social development, and the demand for education is increasing, then it implies that the teacher's role is significant for parents and communities in need of education services in a more programmed. So this kind of social conditions demand professionalism specializing professionalism in education.

As a consequence of this the parents have to provide payment to the teachers to teach and educate the assistance given to their sons and daughters. Reality as is done by the authorities of the palace. Authorities palace provide regular salaries to teachers who teach their children (Ahmed, 1968, 47-48). In this case, in addition to a salary basis, the teachers were also given a place to stay, valet and clothing as used by the authorities of the palace, and even not infrequently the muaddib and mukattib considered part of the royal family (Syalabi, 1973; 232-233).

Regular salary received by teachers (Muaddib and Mukattib example) depends on the type of specialist science they teach. For example, for expert Nahwu paid sixty dirhams, and for science bayan paid sebasar thousand dirham (al-Jumbulati, 1994:20-21). Even according to Al-Jumbulati the early development of Islam, the salary given to teachers is measured by adequacy to eat alone. As a result of the salary received by a variety, such as a piece of cloth, a piece of bread (case teacher named Raqasy). The fact this happened to teachers who teach in incidental (Al-Jumbulati, 1994, 19).

In addition to specially pay attention to muaddib and mukattib, teachers with other designations, such as mudarris, mu'allim, imam, sheikh also given a financial guarantee by society and the state through charitable foundations, such as those conducted by the Caliph al-Ma'mun (Stanton, 1994, 43) and madrasah Nizamiya power during Nizam al-Mulk about 5-6 century H. even today released funding charitable foundation also for madrasah staff, scholarships and other educational infrastructure.

From the above explanation can be understood on the size of the form of financial rewards given to teachers in the tradition of Islamic education, determined by the level and the institution where teaching disciplines taught scientific appreciation of the rulers (government) and society in general. From some of the determinants on the subject, it appears the attention of governments and the existence of waqf institutions as a form of appreciation accumulation government and society is an alternative that is used to support the amount of financial reward received by teachers in the history of Islamic education.

Nonfinancial Appreciation

Islam gives great attention to the presence of the teacher, the teacher occupies a distinguished position second only to the prophets. Therefore, it is very reasonable, the existence of teachers in the triumph of Islam in the Middle Ages (in particular) received great attention from the public and the government. The amount of public attention that lived during the time it is because they are a science-loving community. Thus the presence of a teacher is someone who is highly expected.

Form of their attention to the teacher, other than wages, providing shelter and other living facilities are in the form of non-financial in the form of rank. Langgulung (1992:242), describes the tradition of Islam granted the rank based on the principles in accordance with the skill of a person, without any discrimination or not in accordance with his expertise. This opinion is moving from a statement the Prophet Muhammad: "Affairs are given to people who are not experts so watch its destruction" (al-Hadith). Therefore, in the Islamic tradition of awarding rank was very selective and proportionate.

Forms obtained the rank of professor in the tradition of Islamic education is determined by the field-controlled and taught. In line with that in the early development of Islam, has been known to rank as interpreter, muhaddist, jurists. Particularly applicable to teachers who teach at the school, while the progress of Islam in the next decade several indications show the rank in addition to giving directly to the experts, but also given to students who have the intellectual ability and mastery of science, which is almost completed his studies. This pattern is known as naib, mufidz and muidz. Third professionalism has a special duty to perform the assistance and mudarris mu'allim. Naib act as a substitute for mudarris has not been removed and the old mudarris can no longer perform the task, he also replaced mudarris when mudarris unable to attend (Ash'ari, 1994:39). While mufidz and muidz is mudarris aides to facilitate teaching and learning. The difference in the two is that mufidz levels higher than muidz (Maksidi, 1981:195), for mufidz is a senior student repeat what was said by mudarris, while muidz are senior students who assist students who have difficulty juniors (Ash'ari, 1994:77-78).

Application assistance system in madrasah education is as done by mudarris against al-Ghazali before he became mudarris at Madrasah Nizamiya Nasshapur first become mufidz for al-Juwayni (Ash'ari, 1994:58).

Meanwhile, expert teachers are more popular with the rank sheikh (professor). The awarding of the rank sheikh (professor) or a great teacher like that once carried by the prime minister during the reign of Nizam al-Mulk to al-Ghazali for a professor at the University of Baghdad Nizam al-Mulk. The awarding is given to al-Ghazali after he made a big discussion at the Palace of Nizam al-Mulk.

Of the cases described above demonstrate that administration of rank in the tradition of Islamic education is highly selective and strongly based on academic ability and dedication to the advancement of the field of expertise donated it and the betterment of society in general. In addition to gaining academic rank awarded by the scientific community and the state, as described above, the teacher occupies a glorious position in the view of society.

Teacher Professional Attributes in Islamic Education Management

As stated in the previous description, a profession has its own attributes in the form of codes of conduct. The code of ethics must be implemented and adhered to by the person's profession. Among the substances that ethical codes are traits that must be possessed by a professionalism.

In the tradition of Islamic education management, the properties outlined in the code of conduct and a Muslim teacher who had owned it ordained that Islamic values ​​of the Qur'an and Hadith. Al-Ghazali (d. 505 H), one among the Islamic scholars paid great attention to this issue, outlines the eight properties that should be possessed by teachers as described by Ali (1999:97-99) are as follows:

First, teachers should look at the students as their own: love and treat them like their own children. Prophet pointed to his whereabouts in the midst of his companions, saying: "I am for you as parents to their children." (Reported by Abu Dawud, al-Nasa'i Ibn Majah, and Ibn Hibban).

Secondly, in carrying out its duties, the teacher should not expect a reward or praise, but should expect the pleasure of Allah and oriented closer to Him. It is guided by the principle of the prophets (see Surah 11:29).

Third, teachers should take advantage of every opportunity to give advice and guidance to the students that the purpose of studying is to draw closer to God, not to get tenure or worldly pride.

Fourth, the students who behave badly, should teachers wherever possible reprimand by insinuating and affectionate, not to frankly and reproach, reprimand because the latter can make bold students rebelled and intentionally continued to behave badly.

Fifth, the teacher should not fanatical about fosterage field of study, and denounced the field of study that raised another teacher. Instead, it should encourage students to love all areas of study are cared for by other teachers.

Sixth, teachers should pay attention to the development phase of student thinking in order to convey knowledge in accordance with the capacity to think.

Seventh, teachers should pay attention to weak students by giving lessons in an easy and clear, and do not haunt him with the things that can make it difficult and losing the love of learning.

And eighth, teachers should practice the science, and not otherwise act contrary to the teaching of science to students (note QS 2:44).

Eighth formulation properties must be owned by a Muslim teacher illustrates that a teacher in the management that Islam is the one who should have a moral virtue, has a depth of knowledge, pious, have attention to physical and spiritual potential learners, may lead students to love science , and has a sincerity in his education as the foundation of devotion to Allah, and seek His good pleasure.

When linked to the award given to teachers in the form of financial (in the form of salaries and other physical needs) and non-financial (such as promotion or award honors) with the properties it has, of course, the award given to the teacher is not a goal, but more focused to an appreciation of science developed by the teacher, who donated time and energy to teaching and learning, respect for future generations. Appreciation can be used as a motivating factor for teachers to be more vigorous and intense to the development of science and the progress of students.

The amount of attention to the teacher's Islam is in line with the statement of the Prophet that the ink of the scholars is more valuable than the blood of the martyrs (al-hadits).

Conclusion
Islamic teaching profession is an occupation in teaching and learning, where skills should be based on substantial ownership and managerial knowledge to guide the development of students' potentials in order to serve Allah and attain His pleasure.
Appreciation society and government in the form of financial and non-financial the teaching profession in Islam is a form of appreciation of science which was developed by the teacher, who donated time and energy to the development and progress of science learners, and to the future generations.

To be able to perform his profession well in the context of management education to Islam, a Muslim educators are required to have admirable qualities that moral virtue, pious, have attention to physical and spiritual potential learners.

 

REFERENCES

Ahmed, Muniruddin, 1968, Muslim Education and The Scholar's Social Status Up to The 5th Century Muslim Era (11th Ventury Christian Era) in The Light of Tarikh Baghdad, Verlag, Dar Islam, Zurich.

Ali, Noer Hery, 1999, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta : Logos.

Al-Jumbulati, Ali, 1994, Perbandingan Pendidikan Islam, Jakarta : Rineka Cipta.

Al-Nahlawi, Abdurrahman, 1979, Ushul al-Tarbiyah al-Islamiyah wa Asalibuha fi al-Bayt wa al-Madrasah wa al-Mujtama', Damaskus : Dar al-Fikr.

Arifin, M., 1995, Kapita Selekta Pendidikan Islam (Islam dan Umum), Jakarta : Bumi Aksara.

Asy'ari, Hasan, 1994, Menyingkap Zaman Keemasan Islam : Kajian Atas Lembag-lembaga Pendidikan, Bandung : Mizan.

Langgulung, Hasan, 1992, Asas-asas Pendidikan Islam, Jakarta : IKAPI.

Makdisi, George, 1981, The Rise Colleges, Edinburgh : EUP.

Munawir, Ahmad warsono, 1987, Kamus Al-Munawir Indonesia Terlengkap, Jakarta : Pustaka Progresif Surabaya.

Nakosteen, Mehdi, 1996, Kontribusi Islam Atas Dunia Intelektual Barat, Surabaya : Risalah Gusti.

Salaby, Ahmad, 1973, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta : Bulan Bintang.

Sadirman, A.M., Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta : Bina Aksara.

Stanton, Charles Michael, 1994, Pendidikan Tinggi Dalam Islam Sejarah dan Peranannya Dalam Kemajuan Ilmu Pengetahuan, Jakarta : Logos.

Sukmadinata, Nana S., 2000, Pengembangan Kurikulum, Bandung : Remaja Rosdakarya.

Ulwan, Abdullah, 1978, Tarbiyah al-Awlad fi al-Islam, Beirut : Dar al-Salam.

Zainuddin, 1999, Seluk Beluk Pendidikan al-Ghazali, Jakarta : Bumi Aksara.

 

BIOGRAPHY

 

  1. Personal Details

 

1.   Name                                  :     AFIFUL IKHWAN, M.Pd.I

2.   Place & Date of Birth       :     Jambi, 22 Pebruary 1988

3.   Sex                                      :     Male

4.   Religion                             :     Islam

5.   Statue                                 :      Maried

6.   Lates Education                 :     Post Graduate STAIN Tulungagung

7.   Address                              :      Dsn.Jabalan Kel.Jabalsari RT.002/RW.004

                                                         Kec. Sumbergempol Kab.Tulungagung

                                                         Prov. Jatim – Indonesia KP: 66291

8.  Email                                   :      afifulikhwan@gmail.com

 

 

  1. Formal Education

 

No

Formal Education

Year of Graduation

Information

 

1.

2.

 

3.

4.

5.

6.

 

 

SDN Jambi

Bording School Gontor Ponorogo

MAKN Model Jambi

Strata-1 STAIN Tulungagung

Strata-2 STAIN Tulungagung

Strata-3 UIN Malang

 

1999

 

 

 2003

2006

2010

2012

-

 

graduate

graduate

 

graduate

graduate

graduate

Process

 

 

 


[*] The writer is a doctoral graduate student of UIN Malang. Journal presented in an international seminar in the Annual conference on 1-2 December 2012 at UIN Malang.

FacebookTwitterGoogle+LinkedIn

KOMPONEN–KOMPONEN KURIKULUM PENDIDIKAN

 

 

Oleh: Afiful Ikhwan[*

 

PENDAHULUAN

Pembicaraan seputar Islam dan pendidikan tetap menarik, terutama terkait dengan upaya membangunsumber daya manusia muslim. Dan sebagaimana dimaklumi bahwa dalam Islam belum terdapat rumusan tentang sistem pendidikan yang baku, melainkan hanya terdapat nilai-nilai moral dan etis yang seharusnya mewarisi sistem pendidikan tersebut. Sebagai contoh, nilai-nilai tersebut terlihat dalam ayat al Qur’an yang pertama kali turun, yaitu ayat 1 s.d. 5 surat al ‘Alaq:

 

إقرأ باسم ربّك الذى خلق. خلق اللإ نسان من علق. إقرأ وربّك الأكرم. الذى علّم بالقلم. علّم اللإنسان مالم يعلم (العلق: 1-(5

 

Artinya: “Bacalah dengan (mnyebut) nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah yang Maha pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan qalam. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya”.

 

Pada ayat tersebut paling tidak terdapat 5 komponen pendidikan, yaitu guru (Allah), murid (Muhammad SAW), sarana dan prasarana (qalam), metode (iqra’), dan kurikulum.

 

Pendidikan jika dipandang sebagai suatu proses, maka proses tersebut akan berakhir pada tercapainya tujuan akhir pendidikan (Ghofir, 1993: 25), yang mana dinilai dan diyakini sebagai sesuatu yang paling ideal. Bagi Indonesia tujuan yang ideal itu dicapai melalui sebuah proses dan sistem pendidikan nasional sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No 20 Tahun 2003 Bab II pasal 3 (2003: 7) : Pendidikan nasional…bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

 

Pendidikan Islam sebagai sub sistem dari sistem pendidikan nasional yang mencita-citakan terwujudnya insan kamil atau orang Islam yang saleh ritual dan saleh sosial, secara implisit akan mencerminkan ciri kualitas manusia Indonesia seutuhnya sebagaimana yang digambarkan di atas (Fadjar, 1998: 30).

 

Akan tetapi kemudian realita di lapangan menunjukkan bahwa dunia pendidikan saat ini pada umumnya sangat dipengaruhi oleh pandangan hidup Barat yang antara lain bercorak ateistik, materialistik, dan skeptis. Sehingga kemudian yang terjadi adalah munculnya pola hidup yang bercorak materialistik, hedonistik, individualistik, pola hidup permissive, living together. Landasan filosofis pendidikan yang seperti ini harus segera diperbaiki agar sesuai dengan pandangan hidup Islami dan disesuaikan dengan nilai luhur budaya bangsa Indonesia (Abudin Nata, 2003: 179).

 

Sehingga sejalan dengan pandangan tersebut, bagaimana Islam sebagai ajaran yang universal dapat memberikan solusi bagi masalah-masalah nasional, terutama masalah pendidikan dengan berperan aktif dalam rangka membawa dan merawat perkembangan umat manusia.

 


 

Demikian strategisnya posisi dan peranan pendidikan, sehingga umat Islam senantiasa concern terhadap masalah tersebut. Sehingga banyak sekali bermunculan lembaga – lembaga pendidikan dengan berbagai macam program yang sampai hari ini masih berkibar, dalam rangka ikut serta mensukseskan pembangunan nsional di bidang pendidikan yang bermuara pada terwujudnya manusia Indonesia seutuhnya.

 

Dalam rangka mencapai sebuah hasil yang dicita-citakan dalam dunia pendidikan yang dalam hal ini pendidikan Islam, perlu sebuah kejelasan konsep yang dikonstruksi dari sumber-sumber ajaran Islam, dengan tanpa meninggalkan rumusan para pakar pendidikan yang dianggap relevan yang kemudian konsep tersebut dituangkan dan dikembangkan dalam kurikulum pendidikan (Muhaimin, 1991: 10). Kurikulum merupakan faktor yang sangat penting dalam proses kependidikan dalam suatu Lembaga Pendidikan Islam (Arifin, 2003: 77). Dengan kurikulum akan tergambar secara jelas secara berencana bagaimana dan apa saja yang harus terjadi dalam pendidikan.

 

Kurikulum sebagai sebuah bangunan atau sistem, tidak bisa lepas dari berbagai komponen yang saling mendukung satu dengan lainnya. Dengan berbagai bagian tersebut akan menghasilkan sebuah bangunan dalam rangka mencapai sebuah titik akhir berupa tujuan yang dalam hal ini adalah tujuan pendidikan Islam.

 

KOMPONEN KURIKULUM PENDIDIKAN

Sebagaimana dimaklumi bahwa manusia atau binatang sebagai suatu organisme, memiliki susunan atau unsur-unsur anatomi tertentu, dimana yang satu dengan lainnya saling menopang. Demikian halnya dengan kurikulum pendidikan yang di dalamnya terdapat berbagai bagian yang saling mendukung dan membentuk satu kesatuan.  Nana Syaodih Sukmadinata (2002: 102) mengidentifikasi unsur atau komponen dari anatomi tubuh kurikulum yang utama adalah : tujuan, isi atau materi, proses atau sistem penyampaian dan media, serta evaluasi, yang kempatnya berkaitan erat satu dengan lainnya.

Lain halnya dengan Tohari Musnamar sebagaimana dikutip Muhaimin (1991: 11), telah mengidentifikasikan dan merinci komponen – komponen yang dipertimbangkan dalam rangka pengembangan kurikulum yaitu: dasar dan tujuan pendidikan, pendidik, materi pendidikan, sistem penjenjangan, sistem penyampaian, sistem evaluasi, peserta didik, proses pelaksanaan (belajar mengajar), tindak lanjut, organisasi kurikulum, bimbingan dan konseling, administrasi pendidikan, sarana dan prasarana, usaha pengembangan, biaya pendidikan, dan lingkungan. Sementara itu Hasan Langgulung (2002: 100)membagi unsur kurikulum menjadi empat yaitu: tujuan pendidikan, isi atau kandungan pendidikan, metode pengajaran, dan metode penilaian. Sedangkan Akhmad Sudrajat mengidentifikasi  komponen kurikulum kepada lima komponen utama, yaitu : (1) tujuan; (2) materi; (3) strategi, pembelajaran; (4) organisasi kurikulum dan (5) evaluasi, dimana kelima komponen tersebut memiliki keterkaitan yang erat dan tidak bisa dipisahkan.

 

Setelah melihat komponen kurikulum yang dikemukanan para pakar tersebut, sebenarnya menurut Muhaimin (1991: 11-12) kurikulum dapat dikelompokkan menjadi empat yaitu : pertama kelompok komponen-komponen dasar, kedua kelompok komponen-komponen pelaksanaan, ketiga kelompok-kelompok pelaksana dan pendukung kurikulum, dan keempat kelompok komponen usaha-usaha pengembangan.

 

Dalam pelakasanaannya, suatu kurikulum harus mempunyai relevansi atau kesesuaian. Kesesuaian tersebut paling tidak mencakup dua hal pokok. Pertama relevansi antara kurikulum dengan tuntutan, kebutuhan, kondisi serta perkembangan masyarakat. Kedua relevansi antara komponen-komponen kurikulum.

 

 

Komponen Dasar Kurikulum

 

Kelompok komponen-komponen dasar pendidikan, mencakup konsep dasar dan tujuan pendidikan, prinsip-prinsip kurikulum yang dianut, pola organisasi kurikulum, kriteria keberhasilan pendidikan, orientasi pendidikan, dan sistem evaluasi.

 

  1. Dasar dan Tujuan Pendidikan

Yang dimaksud sebagai konsep dasar dalam hal ini merupakan konsep dasar filosofis dalam pengembangan kurikulum pendidikan Islam yang pada gilirannya akan berpengaruh terhadap tujuan pendidikan Islam itu sendiri. Dengan adanya dasar, maka pendidikan Islam akan tegak berdiri dan tidak mudah diombang ambingkan oleh pengaruh luar yang mau merobohkan atau mempengaruhinya. Kerna fungsinya tersebut, maka yang menjadi dasar tersebut harus sesuai dengan nilai-nilai filosofis yang dianut oleh masyarakat tertentu. Begitu pun dengan pendidikan Islam, maka pendidikan Islam mempunyai fundamen yang menjadi landasan tegak berdiri dalam prosesnya untuk mencapai tujuan yang diharapkan.

 

Berbicara dasar pendidikan Islam tidak bisa dilepaskan dari aliran filsafat pendidikan yang mendasari pendidikan yang diantaranya adalah aliran progresivisme, aliran esensialisme, aliran perenialisme, dan aliran rekonstruksionalisme.

 

Aliran progresivism menghendaki sebuah pendidikan yang pada hakekatnya progresif, tujuan pendidikan seyogyanya diartikan sebagai rekonstruksi pengalaman yang terus menerus, agar siswa sebagai peserta didik dapat berbuat sesuatu yang inteligen dan mampu mengadakan penyesuaian kembali sesuai tuntutan lingkungan. Essentialism menginginkan pendidikan yang bersendikan atas nilai yang tinggi, yang hakiki kedudukannya dalam kebudayaan, dan nilai-nilai tersebut hendaknya yang sampai kepada manusia melalui civilisasi dan telah teruji oleh waktu. Pendidikan bertugas sebagai perantara atau pembawa nilai di luar ke dalam jiwa peserta didik, sehingga ia perlu dilatih agar punya kemampuan absorbsi yang tinggi (Muhaimin, 2003: 41).

 

Sedangkan perenialism menghendaki pendidikan kembali pada jiwa yang menguasai abad pertengahan, karena ia merupakan jiwa yang menuntun manusia hingga dapat dimengerti adanya tatanan kehidupan yang ditentukan secara rasional. Dan rekonstruksionalism menginginkan pendidikan yang membangkitkan kemampuan peserta didik untuk secara konstruktif menyesuaikan diri dengan tuntutan perubahan dan perkembangan masyarakat sebagai dampak dari ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga peserta didik tetap berada dalam suasana bebas (Imam Barnadib, 1987: 26). Akan tetapi kemudian yang menjadi sebuah pertanyaan, di antara empat aliran tersebut, mana yang secara ideal bisa dijadikan dasar filosofis pendidikan Islam?

 

Yang jelas adalah bahwa konsep pendidikan Islam berbeda dengan pendidikan Barat. Pendidikan Islam dalam hal ini sangat memerlukan intervensi wahyu dalam menjawab masalah pendidikan. Sementara pendidikan Barat lebih menonjolkan dan mengagungkan rasio, lewat para pakarnya, tanpa konsultasi dengan wahyu (Muhaimin, 1991: 18).

 

Namun yang perlu dimengerti bahwa ketika pendidikan Islam dihadapkan pada problem dasar pendidikannya, maka menurut Naquib al Attas dan al Jamaly cenderung kearah progresivisme dan perenialisme/essensialisme (Muhaimin, 2003: 28). Sementara bagi Muhaimin dapat dikatakan bahwa konsep dasar filosofis pengembangan kurikulum pendidikan Islam dilandasi oleh paduan dari progresivisme dan essensialisme plus. Progresivisme plus berarti bahwa pengembangan kurikulum pendidikan Islam menempatkan anak didik sebagai individu yang mempunyai berbagai potensi sebagai anugerah Allah dalam rangka meraih kebahagiaan hidupnya. Dalam rangka meraih itu diperlukanm terobosan dan gagasan yang handal dalam rangka memnuhi tuntutan jaman. Tetapi kemudian tak dapat dipungkiri bahwa terobosan tersebut sering sangat peka dan sangat rentan. Sehingga dalam hal ini diperlukan kendali berupa esensi-esensi berupa nilai–nilai ilahi serta insani yang bersumber dari Allah dan rasul-Nya. Sehingga di sinilah essensialisme plus mengambil perannya (Muhaimin, 1991: 22-23).

 

Sementara itu tujuan pendidikan merupakan landasan bagi pemilihan materi serta strategi penyampaian materi terseburt. Tujuan akan mengarahkan semua kegiatan pengajaran dan mewarnai komponen lainnya. Tujuan pendidikan harus berorientasi pada pada hakekat pendidikan yang meliputi beberapa aspek, antara lain: tujuan dan tugas hidup manusia, memperlihatkan sifat-sifat dasar (nature) manusia, tuntutan masyarakat, serta dimensi-dimensi kehiduapn ideal Islam (Fu’adi, 2003: 428-429). Dengan memperhatikan hakekat pendidikan Islam tersebut, akan didapatkan sebuah gambaran bagaimanakah seharusnya suatu suatu tujuan pendidikan dirumuskan, agar tujuan pendidikan benar-benar cocok untuk direalisasikan.

 

Mengingat pentingnya pendidikan bagi manusia, hampir di setiap negara telah mewajibkan para warganya untuk mengikuti kegiatan pendidikan, melalui berbagai ragam teknis penyelenggaraannya, yang disesuaikan dengan falsafah negara, keadaan sosial-politik kemampuan sumber daya dan keadaan lingkungannya masing-masing. Kendati demikian, dalam hal menentukan tujuan pendidikan pada dasarnya memiliki esensi yang sama. Menurut Hummel, seperti dikutip Akhmad Sudrajat, tujuan pendidikan secara universal akan menjangkau tiga jenis nilai utama yaitu:

 

 

  1. Autonomy; gives individuals and groups the maximum awarenes, knowledge, and ability so that they can manage their personal and collective life to the greatest possible extent.
  1. Equity; enable all citizens to participate in cultural and economic life by coverring them an equal basic education.
  1. Survival ; permit every nation to transmit and enrich its cultural heritage over the generation but also guide education towards mutual understanding and towards what has become a worldwide realization of common destiny.)

 

Dalam perspektif pendidikan nasional, tujuan pendidikan nasional dapat dilihat secara jelas dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistrm Pendidikan Nasional, bahwa : ” Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. Tujuan pendidikan nasional yang merupakan pendidikan pada tataran makroskopik, selanjutnya dijabarkan ke dalam tujuan institusional yaitu tujuan pendidikan yang ingin dicapai dari setiap jenis maupun jenjang sekolah atau satuan pendidikan tertentu.

 

Sementara itu, terkait dengan tujuan pendidikan Islam, menurut Hasan Langgulung sebagaimana dikutip Maksum pada dasarnya adalah tujuan hidup manusia itu sendiri, sebagaimana tersirat dalam Q.S. al Dzariyat ayat 51 :

 

وما خلقت الجنّ والإنس إلاّ ليعبدون ( الذاريات : 51)

 

Artinya : “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka menyembahku”.

 

 Bagi Langgulung tugas pendidikan adalah memelihara kehidupan manusia (Maksum, 1999: 45). Selain itu masih banyak para pakar yang memberikan rumusan tentang tujuan pendidikan Islam seperti: Imam al Ghazali, Alamsyah Ratu Prawiranegara, Moh. Athiyah al Abrosyi, Abdurrahman  Nahlawy, Moh. Said Ramdhan El Buthi, Zakiyah Daradjat, dan lainnya.

 

Namun dari rumusan para pakar tersebut, sebenarnya bisa ditegaskan bahwa tujuan pendidikan Islam bila ditinjau dari cakupannya dibagi menjadi tiga yaitu (1) dimensi imanitas, (2) dimensi jiwa dan pandangan hidup Islami (3) dimensi kemajuan yang peka terhadap perkebmangan IPTEK serta perubahan yang ada. Sedangkan bila dilihat dari segi kebutuhan ada dimensi individual dan dimensi sosial (Muhaimin, 1991: 30).

 

  1. Prinsip Kurikulum Pendidikan Islam

Prinsip pendidikan Islam merupakan kaidah sebagai landasan supaya kurikulum pendidikan sesuai dengan harapan semua pihak. Dalam hal ini Winarno Suracmad sebagaimana dikutip Abdul Ghofir (1993: 31) mengemukakan prinsip kurikulum pendidikan yaitu relevansi, efektivitas, efisiensi, fleksibilits, dan kesinambungan. Nana Syaodih S. (2002: 150-151) menerangkan bahwa prinsip umum kurikulum adalah prinspi relevansi, fleksibilitas, kontinuitas, praktis, dan efektifitas.

 

Sementara itu al Syaibani menyatakan bahwa prinsip umum yang menjadi dasar kurikulum pendidikan Islam adalah : pertautan sempurna dengan agama, prinsip universal, keseimbangan antara tujuan dan isi kurikulum, keterkaitan dengan segala aspek pendidikan, mengakui adanya perbedaan (fleksibel), prinsip perkembangan dan perubahan yang selaras dengan kemaslahatan, dan prinsip pertautan antara semua elemen kurikulum (Muhaimin, 1991: 39-40).

 

  1. Pola organisasi kurikulum pendidikan Islam

Organisasi kurikulum di sini merupakan kerangka umum program pendidikan yang akan disampaikan kepada siswa dalam rangka mencapai tujuan pendidikan. Beberapa jenis organisasi kurikulum tersebut antara lain subject curriculum merupakan kurikulum yang direncanakan berdasarkan disiplin akademik sebagai titik tolak mencapai ilmu pengetahuan (Abdul Manab, 1995: 24), correlated curriculum yang mencoba mengadakan integrasi dalam pengetahuan peserta didik, integrated curriculum yang mencoba menghilangkan batas-batas antara berbagai mata pelajaran, core curriculum dan lainnya.

 

Pada dasarnya semua pola organisasi tersebut baik, namun paling tidak dari yang baik tersebut bisa diambil yang paling baik. Yang jelas bahwa kurikulum pendidikan Islam harus integratif, atau setidak-tidaknya korelatif, yang tidak memisahkan antara ilmu pengetahuan dengan wawasan keagamaan.

 

Namun yang perlu dimengerti bahwa beragamnya pandangan yang mendasari pengembangan kurikulum memunculkan terjadinya keragaman dalam mengorgansiasikan kurikulum. Dari pandangan tersebut, setidaknya terdapat enam ragam pengorganisasian kurikulum, yaitu:

 

  1. Mata pelajaran terpisah (isolated subject); kurikulum terdiri dari sejumlah mata pelajaran yang terpisah-pisah, yang diajarkan sendiri-sendiri tanpa ada hubungan dengan mata pelajaran lainnya. Masing-masing diberikan pada waktu tertentu dan tidak mempertimbangkan minat, kebutuhan, dan kemampuan peserta didik, semua materi diberikan sama
  1. Mata pelajaran berkorelasi; korelasi diadakan sebagai upaya untuk mengurangi kelemahan-kelemahan sebagai akibat pemisahan mata pelajaran. Prosedur yang ditempuh adalah menyampaikan pokok-pokok yang saling berkorelasi guna memudahkan peserta didik memahami pelajaran tertentu.
  1. Bidang studi (broad field); yaitu organisasi kurikulum yang berupa pengumpulan beberapa mata pelajaran yang sejenis serta memiliki ciri-ciri yang sama dan dikorelasikan (difungsikan) dalam satu bidang pengajaran. Salah satu mata pelajaran dapat dijadikan “core subject”, dan mata pelajaran lainnya dikorelasikan dengan core tersebut.
  1. Program yang berpusat pada anak (child centered), yaitu program kurikulum yang menitikberatkan pada kegiatan-kegiatan peserta didik, bukan pada mata pelajaran.
  1. Inti Masalah (core program), yaitu suatu program yang berupa unit-unit masalah, dimana masalah-masalah diambil dari suatu mata pelajaran tertentu, dan mata pelajaran lainnya diberikan melalui kegiatan-kegiatan belajar dalam upaya memecahkan masalahnya. Mata pelajaran-mata pelajaran yang menjadi pisau analisisnya diberikan secara terintegrasi.
  1. Ecletic Program, yaitu suatu program yang mencari keseimbangan antara organisasi kurikulum yang terpusat pada mata pelajaran dan peserta didik.

 

Berkenaan dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), kalau ditinjau dalam perspektif madrasah/sekolah, tampaknya lebih cenderung menggunakan pengorganisasian yang bersifat eklektik, yang terbagi ke dalam lima kelompok mata pelajaran, yaitu : (1) kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia; (2) kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian; (3) kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi; (4) kelompok mata pelajaran estetika; dan (5) kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan

 

Kelompok-kelompok mata pelajaran tersebut selanjutnya dijabarkan lagi ke dalam sejumlah mata pelajaran tertentu, yang disesuaikan dengan jenjang dan jenis sekolah. Di samping itu, untuk memenuhi kebutuhan lokal disediakan mata pelajaran muatan lokal serta untuk kepentingan penyaluran bakat dan minat peserta didik disediakan kegiatan pengembangan diri.

 

  1. Orientasi Pendidikan

Orientasi pendidikan perlu dipertimbangkan dalam rangka perumusan kurikulum pendidikan.  Dengan orientasi pendidikan akan dapat diambil sebuah kebijakan dalam rangka memproduk out put pendidikan sesuai yang diinginkan. Dari berbagai pendapat tokoh pendidikan, dapat ditemukan beberapa orientasi pendidikan antara lain: berorientasi pada peserta didik, pada social-demend, pada tenaga kerja, berorientasi masa depan dan perkembangan IPTEK, dan berorientsai pada pelestarian nilai-nilai insani dan ilahi.

 

  1. Sistem Evaluasi Pendidikan Islam

Sistem evaluasi pendidikan dimaksudkan dalam rangka memenuhi kebutuhan psikologis, didaktis, serta administrasi atau manajerial.

 

Dalam evaluasi pendidikan harus diperhatikan beberapa hal yaitu: bahwa evaluasi harus bermuara pada tujuan, dilaksanakan secara obyektif, komprehensif dan harus dilakukan secara kontinyu.

 

Menurut Muhaimin (1991: 87-88) ada satu ciri khas dari sistem evaluasi pendidikan yang Islami, yaitu self-evaluation disamping tetap adanya evaluasi kegiatan belajar peserta didik. Evaluasi semacam ini menjadi penting karena sebagai sosok social being dalam kenyataannya ia tak bisa hidup (lahir dan proses dibesarkan) tanpa bantuan orang lain.

 

Komponen Pelaksanaan

 

Kelompok komponen-komponen pelaksanaan pendidikan, mencakup materi pendidikan, sistem penjenjangan, sistem penyampaian, proses pelaksanaan, dan pemanfaatan lingkungan.

 

  1. Materi pendidikan

Siswa belajar dalam bentuk interaksi dengan lingkungannya dalam rangka mencapai tujuan pendidikan. Sebagai perantara mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan, diperlukan bahan ajar atau materi pendidikan. Materi pendidikan tersusun atas topik-topik dan sub topik tertentu.

 

Kenyataan menunjukkan bahwa banyak sekali tuntutan yang harus dipenuhi lembaga pendidikan pada umumnya, begitu pula Islam, sedangkan waktu yang tersedia terbatas. Sehingga dalam hal ini, menjadi penting menyeleksi materi pendidikan.

 

Dalam rangka memilih materi pendidikan, Hilda Taba mengemukakan beberapa kriteria diantaranya: (1) harus valid dan signifikan, (2) harus berpegang pada realitas sosial, (3) kedalam dan keluasannya harus seimbang, (4) menjangkau tujuan yang luas, (5) dapat dipelajari dan disesuaikan dengan pengalaman siswa, dan (6) harus dapat memenuhi kebutuhan dan menarik minat peserta didik (Ghofir, 1993: 37-38).

 

Islam dengan Al Qur’annya menurut Abdurrahman Saleh Abdullah dipandang sebagai landasan pendidikan Islam yang prinsipnya hendak menyatukan mata pelajaran yang bermacam-macam. Tidak ada klasifikasi mata pelajaran umum dan agama, dimana semua materi termasuk ilmu alam harus diajarkan menurut pandangan Islam.

 

Untuk mencapai materi pendidikan seperti yang diinginkan ini, paling tidak yang perlu diperhatikan dalam rangka pengembangannya adalah jenis materi, ruang lingkup materi, klasifikasi materi, sekuensi materi, serta sumber acuannya.

 

  1. Sistem Penyampaian

Sistem penyampaian merupakan sistem atau strategi yang digunakan dalam menyampaikan materi pendidikan yang telah dirumuskan. Sistem penyampaian ini paling minim berkaitan dengan metode yang digunakan dalam menyampaikan materi, serta pendekatan pembelajaran. Ketika guru menyusun materi pendidikan, secara otomatis ia juga harus memikirkan strategi yang sesuai untuk menyajikan materi pendidikan tersebut.

 

Sementara itu Muhaimin (2003: 184) mengidentifikasi bahwa sistem pengampaian ini mencakup beberapa hal pokok, yaitu: strategi dan pendekatannya, metode pengajarannya, pengaturan kelas, serta pemanfaatan media pendidikan.

 

Metode misalnya, ia ikut menentukan efektif atau tidaknya proses pencapaian tujuan pendidikan. Semakin tepat metode yang digunakan, akan semakin efektif proses pencapaian tujuan pendidikan tersebut. Sehingga dalam hal ini terlihat betapa pentingnya pengetahuan tentang metode bagi seorang guru. Bagi Ahmad Tafsir, pengetahuan tentang metode mengajar yang terpenting adalah pengetahuan tentang cara menyusun urutan kegiatan belajar mengajar dalam rangka pencapaian tujuan (Tafsir, 1999: 34).

  1. Proses belajar mengajar (pelaksanaan)

Proses pelaksanaan belajar mengajar dalam pendidikan Islam secara umum dilaksanakan dengan lebih banyak mengacu kepada bagaimana seorang peserta didik belajar selain kepada apa yang dipelajari. Sehingga memungkinkan terjadinya interaksi antara peserta didik dengan guru, sesama peserta didik, dan peserta didik dengan lingkungannya.

 

Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam pelaksanaan belajar mengajar antara lain adalah pola atau pendekatan belajar-mengajar yang digunakan, intensitas dan frekuensinya, model interaksi pendidik-peserta didik , dan / atau  antar peserta didik di dalam dan di luar kegiatan belajar mengajar, serta pengelolaan kelas, serta penciptaan suasana betah di sekolah.

 

  1. Pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar

Dalam pendidikan Islam, sangat diperlukan adanya pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar. Lingkungan tersebut bisa lingkungan sekolah maupun luar sekolah dalam rangka mencapai tujuan pendidikan. Kalau di lingkungan sekolah, siswa dapat belajar dari guru dan sesama temannya, maka di lingkungan luar sekolah juga demikian halnya.

 

Pemanfaatan  lingkungan masyarakat sebagai sumber belajar bisa dilakukan dengan cara: melakukan kerja sama dengan orang tua murid, membawa sumber dari luar ke dalam kelas, membawa siswa ke masyarakat, dan sebagainya.

 

Komponen Pelaksana dan pendukung kurikulum

 

  1. Komponen pendidik

Dalam perspektif pendidikan Islam, seorang guru biasa disebut sebagai ustadz, mu’allim, murabby, mursyid,mudarris, dan mu’addib (Muhaimin, 2003: 209-213). Sebagai ustadz, ia dituntut untuk komitmen terhadap profesionalisme dalam mengemban tugasnya yaitu menyiapkan generasi penerus yang akan hidup pada zamannya di masa depan. Sebagai mu’allim ia dituntut mampu mengajarkan kandungan ilmu pengetahuan dan al hikmah atau kebijakan dan kemahiran melaksanakan ilmu pengetahuan itu dalam kehidupan yang mendatangkan manfaat dan semaksimal mungkin menjauhi madlarat. Sebagai murabby, guru dituntut menyiapkan peserta didik agar mampu berkreasi, sekaligus mengatur dan memelihara hasil kreasinya agar tidak menimbulkan malapetaka bagi dirinya, masyarakat, dan alam sekitarnya. Guru sebagai mursyid dituntut menularkan penghayatan (transinternalisasi) akhlaq dan/atau kepribadiannya pada peserta didik, baik itu berupa etos ibadah, etos kerja, etos belajar, maupun dedikasinya, atau dalam pengertian yang lebih semple seorang guru harus merupakan “model” atau pusat anutan, teladan bagi peserta didik. Sementara sebagai mudarris guru bertugas mencerdaskan peserta didiknya, menghilangkan ketidaktahuan atau memberantas kebodohan mereka, serta melatih ketrampilan peserta didik sesuai bakat, minat, dan kemampuannya. Sebagai mu’addib, seorang guru memliki peran dan fungsi untuk membangun peradaban (civilization) yang berkualitas di masa yang akan datang.

 

Sedangkan dalam perspektif humanisme religius, secara konvensional guru paling tidak harus memiliki tiga kualifikasi dasar, yaitu menguasai materi, antusiasme, dan penuh kasih sayang (loving) dalam mengajar dan mendidik (Abdurrahman Mas’ud, 2002: 194).

 

Dilihat dari segi aktualisasinya, pendidikan merupakan proses interaksi antara guru (pendidik) dengan peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan. Pekerjaan mendidik merupakan pekerjaan profesional, sehingga guru sebagai pelaku utama pendidikan merupakan pendidik profesional. Peranan guru sebagai pendidik profesional akhir-akhir ini dipertanyakan eksistensinya, akibat munculnya serangkaian fenomenalulusan pendidikan yang secara moral cenderung merosot dan secara intelektual akademik juga kurang siap memasuki lapangan kerja (Abuddin Nata, 2003: 136).

 

Kalau fenomena tersebut benar adanya, maka baik langsung maupun tidak langsung akan terkait dengan peranan guru sebagai pendidik profesional. Sehingga sejalan dengan hal tersebut terkait dengan masalah pendidik sebagai komponen kurikulum  pendidikan, perlu diperhatikan beberapa hal yaitu: kode etik guru/pendidik, kualifikasinya, pengembangan tenaga pendidik, placement, imbalan atas kesejahteraan, dan sebagainya.

 

  1. Peserta didik

Banyak sebutan di sekitar kita mengenai peserta didik ini. Ada yang menyebut murid, siswa, santri, anak didik dan berbagai sebutan lainnya. Murid misalnya, secara terminologi dapat diartikan sebagai orang yang sungguh-sungguh mencari ilmu dengan mendatangu guru. Sedangkan dalam pendidikan Islam, ketika dihadapkan pada orang yang meguru kepada seorang guru, maka melahirkan konsep “santri kelana”. Istilah santri kalau berasal dari kata cantrik lebih pas dengan pendidikan Islam. Karena di padepokan, seorang cantrik pasti patuh pada sang guru.

 

Dalam pendidikan Islam, beberapa hal yang perlu dikembangkan terkait dengan komponen peserta didik (input) antara lain adalah persyaratan penerimaan (rekrutmen) siswa baru. Selain itu juga perlu diperhatikan mengenai rumusan tentang kualitas output peserta didik yang diinginkan, akan dibawa ke mana anak didiknya harus secara jelas dan tegas dirumuskan.

 

Kemudian yang juga perlu mendapatkan perhatian adalah jumlah peserta didik yang diinginkan, karena ini akan berkaitan erat dengan kapasitas sarana pendidikan yang dimiliki oleh sebuah lembaga pendidikan Islam. Dan tak kalah pentingnya adalah latar belakang peserta didik, baik itu mengenai pendidikannya, sosialnya, budayanya, pengalaman hidupnya, potensi, minat, bakat, dan lainnya.

 

  1. Komponen bimbingan dan konseling

Bimbingan dan penyuluhan adalah terjemahan dari bahasa Inggris guidance  (bimbingan) dan counseling (penyuluhan). Bimbingan mengandung pengertian proses pemberianbantuan kepada individu yang dilakukan secara berkesinambungan, supaya individu dapat memahami dirinya sehingga sanggup mengarahkan dirinya dan dapat bertindak secara wajar, sesuai dengan tuntutan dan keadaan lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat (Natawidjaja, 1987: 7). Sedangkan konseling merupakan bantuan yang diberikan kepada klien dalam memecahkan masalah kehidupan dengan wawancara face to face atau yang sesuai dengan keadaan klien yang dihadapi untuk mencapai kesejahteraan hidupnya (Sukardi, 2003: 67).

 

Sedangkan bimbingan dan konseling dalam pendidikan Islam merupakan proses pengajaran dan pembelajaran psikososial yang berlaku dalam bentuk tatap muka antara konselor dengan peserta didik, dalam rangka antara lain memperkembangkan pengertian dan pemahaman pada diri siswa untuk mencapai kemajuan di sekolah. Pelaksanaan bimbingan dan konseling dalam pendidikan akan efektif dan berhasil apabila dilaksanakan atau dilakukan oleh suatu tim kerja (team work). Kemudian tim kerja inilah kemudian yang akan menyusun program perencanaan kegiatan bimbingan dan konseling di lembaga pendidikan.

 

Program perencanaan kegiatan bimbingan dan konseling perlu disusun agar upaya kegiatan layanan bimbingan di sekolah benar-benar berdaya guna dan berhasil guna, serta mengena pada sasarannya sebagai sarana pencapaian tujuan pendidikan (Sukardi, 2003: 7).

 

Selain itu dalam kegiatan bimbingan dan konseling perlu diperhatikan pula strategi pendekatannya, jenis program dan layanannya, proses layanan serta termasuk di dalamnya teknik bimbingan dan konselingnya.

 

Selain komponen tersebut sebagai bagian dari komponen pelaksana dan pendukung, masih ada komponen lain diantaranya: administrasi pendidikan (manajemen kelembagaannya, ketenagaannya, hubungan dengan orang tua dan masyarakat, ketatausahaan, serta manajemen informasi), sarana dan prasarana (buku teks, perpustakaan, laboratorium, perlengkapan sekolah, media pendidikan, serta gedung sekolah), dan biaya pendidikan (sumber biaya dan alokasinya, perencanaan penggunaan biaya, serta sistem pertanggungjawaban keuangan dan pengawasannya) (Muhaimin, 2003: 186-187).

 

Komponen Usaha-Usaha Pengembangan

 

Usaha pengembangan yang dimaksudkan di sini adalah usaha pengembangan ketiga kelompok komponen kurikulum di atas dengan berbagai unsurnya dalam rangka memperbaiki bangunan sistem tersebut.

 

Realisasi dari adanya usaha pengembangan tersebut ditunjukkan dengan adanya evaluasi dan inovasi kurikulum; adanya penelitian terhadap efektifitas dan kualitas kurikulum yang sedang berjalan; adanya perencanaan jangka pendek, menengah, dan jangka panjang; adanya seminar, diskusi, simposium, lokakarya, dsb.; adanya penerbitan-penerbitan; munculnya peranan dan partisipasi komite sekolah; dan terjalinnya keja sama dengan lembaga–lembaga lain baik yang berada di dalam maupun di luar negeri dalam rangka pengembangan kurikulum tersebut.

 

 

DAFTAR RUJUKAN

Abdul Ghofir dan Muhaimin, Pengenalan Kurikulum Madrasah,  Solo, Ramadhani, 1993

Abdul Manab, Pengembangan Kurikulum, Tulungagung, Kopma IAIN Sunan Ampel, 1995

Abdurrahman Mas’ud, Menggagas Format Pendidikan Nondikotomik, Yogyakarta, Gama Media. 2002

Abuddin Nata, Manajemen Pendidikan : Mengatasi Kelemahan Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta, Prenada Media, 2003

Ahmad Tafsir, Metodologi Pengajaran Agama Islam, Bandung, Remaja Rosdakarya, 1999

Akhmad Sudrajat, Komponen-Komponen Kurikulum,  http://akhmadsudrajat.wordpress.com/ bahan-ajar/komponen-komponen-kurikulum/, diakses tanggal 17 Januari 2008

Akhyak (ed.), Meniti Jalan Pendidikan Islam, Yogyakarta, Pustaka Pelajar. 2003

Dewa Ketut Sukardi, Manajemen Bimbingan dan Konseling di Sekolah, Bandung: Alfabeta, 2003

Hasan Langgulung, Peralihan Paradigma Pendidikan Islam dan Sains Sosial, Jakarta, Gaya Media Pratama, 2002

H.M. Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta, Bumi Aksara, 2003

Imam Barnadib, Filsafat Pendidikan (Sistem dan Metode), Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2004

Maksum, Madrasah: Sejarah dan Perkembangannya, Jakarta, Logos, 1999

Malik Fadjar, Visi Pembaruan Pendidikan Islam, Jakarta, LP3NI, 1998

Muhaimin, Konsep Pendidikan Islam : Sebuah Telaah Komponen dasar Kurikulum, Solo, Ramadhani, 1991

——–, Wacana Pengembangan Pendidikan Islam, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2003

Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek, Bandung, Remaja Rosdakarya, 2002

Rachman Natawidjaja, Pendekatan-Pendekatan dalam Penyluhan Kelompok, Bandung, Diponegoro. 1987

Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bandung, Citra Umbara, 2003

 


[*] Penulis adalah Mahasiswa Program Doktor S3 MPI UIN Malang

FacebookTwitterGoogle+LinkedIn

Pengambilan Keputusan Secara Musyawarah dalam Manajemen Pendidikan Islam: (Kajian Tematik Al-Qur’an dan Hadist)

 

Oleh: Afiful Ikhwan*

Pengambilan Keputusan Secara Musyawarah dalam Manajemen Pendidikan Islam:

(Kajian Tematik Al-Qur’an dan Hadist)

 

A.   Pendahuluan

Betapapun terdapat banyak kritik yang dilancarkan oleh berbagai kalangan terhadap pendidikan Islam, atau tepatnya terhadap praktek pendidikan secara umum, namun hampir semua pihak sepakat bahwa nasib suatu komunitas atau suatu bangsa di masa depan sangat bergantung pada kontribusinya pendidikan, pendidikanlah yang dapat memberikan kontribusi pada kebudayaan di hari esok.

Dengan demikian, sebagai institusi atau lembaga pendidikan Islam pada prinsipnya memikul amanah “etika masa depan dari sebuah keputusan”. Etika masa depan timbul dan dibentuk oleh kesadaran bahwa setiap anak manusia akan menjalani sisa hidupnya di masa depan bersama-sama dengan makhluk hidup lainnya yang ada di bumi. Hal ini berarti bahwa, di satu pihak, pengambilan keputusan menuntut manusia untuk tidak mengelakkan tanggung jawab atas konsekuensi dari setiap perbuatan yang dilakukannya sekarang ini.

Sementara itu pihak lain, manusia ditutut untuk mampu mengantisipasi, merumuskan nilai-nilai, dan menetapkan prioritas-prioritas pengambilan keputusan dalam suasana yang tidak pasti agar generasi-generasi mendatang tidak menjadi mangsa dari proses yang semakin tidak terkendali di zaman mereka dikemudian hari, dan kesemuanya itu ditentukan oleh keputusan-keputusan yang di ambil, dalam hal ini kaitannya dengan Mnajamen Pendidikan Islam.

Dalam sepanjang hidupnya manusia selalu   dihadapkan   pada   pilihan-pilihan  atau   alternatif   dan   pengambilan keputusan. Hal ini sejalan dengan teori real life choice (pilihan kehidupan yang nyata) yang menyatakan  dalam  kehidupan  sehari-hari  manusia  melakukan  atau membuat pilihan-pilihan  di  antara  sejumlah  alternatif.  Pilihan-pilihan tersebut biasanya berkaitan dengan alternatif dalam penyelesaian masalah  yakni upaya untuk menutup  terjadinya kesenjangan  antara  keadaan  saat  ini  dan  keadaan  yang diinginkan.

Situasi pengambilan keputusan yang dihadapi seseorang akan mempengaruhi keberhasilan suatu   keputusan yang akan dilakukan.  Setelah seseorang berada dalam situasi pengambilan keputusan maka selanjutnya dia akan melakukan tindakan untuk mempertimbangkan, menganalisa, melakukan prediksi, dan menjatuhkan pilihan terhadap alternatif yang ada, sebagaimana dalam pembahasan makalah ini adalah Pengambilan Keputusan Secara Musyawarah dalam Manajemen Pendidikan Islam.

Dalam makalah ini, sistematika pemahamannya penulis kategorikan menjadi berbagai macam pembahasan, begitu juga kaitannya pada khazanah-khazanah keilmuan yang telah penulis tentukan sebelum disusun menjadi sebuah makalah. Penjelasannya tidak tergabung langsung di bawah setelah ayat Al-Qur’an ataupun Haditsnya, akan tetapi tetap tidak keluar dari pemahaman penulis terhadap ayat Al-Qur’an dan Hadits kaitannya dengan tema pada makalah ini.

 


 

B.   Definisi Keputusan

Terdapat beberapa pengertian keputusan yang telah disampaikan oleh para ahli, diantaranya adalah sebagai berikut[1]:

1.     Menurut Ralp C. Davis

Keputusan adalah hasil pemecahan masalah yang dihadapinya dengan tegas. Suatu keputusan merupakan jawaban yang pasti terhadap suatu pertanyaan. Keputusan harus menjawab pertanyaan tentang apa yang dibicarakan dalam hubungannya dengan perencanaan. Keputusan dapat pula berupa tindakan terhadap pelaksanaan yang sangat menyimpang dari rencana semula.

2.     Menurut Mary Follet

Keputusan adalah suatu hukum atau sebagai hukum situasi.

Apabila semua fakta dari situasi itu dapat diperolehnya dan semua yang terlibat, baik pengawas maupun pelaksana mau mentaati hukumnya atau ketentuannya, maka tidak sama dengan mentaati perintah. Wewenang tinggal dijalankan, tetapi itu merupakan wewengan dari hukum situasi.

3.     Menurut James A.F. Stoner

Keputusan adalah pemilihan diantara alternatif-alternatif. Definisi ini mengandung tiga pengertian, yaitu :

a.      Ada pilihan dasar logika atau pertimbangan

b.     Ada beberapa alternatif yang harus dan dipilih salah satu yang terbaik

c.      Ada tujuan yang ingin dicapai, dan keputusan itu makin mendekatkan pada tujuan tersebut.

4.     Menurut Prof.Dr.Prajudi Atmosudirjo,SH.

Keputusan adalah suatu pengakhiran dari proses pemikiran tentang suatu masalah atau problema untuk menjawab pertanyaan apa yang harus diperbuat guna mengatasi masalah tersebut, dengan menjatuhkan pilihan pada suatu alternatif.

 

Dari pengertian keputusan di atas, dapat penulis tarik kesimpulan bahwa: keputusan merupakan suatu pemecahan masalah sebagai suatu hukum situasi yang dilakukan melalui pemilihan satu alternatif dari beberapa alternatif.

 

C.   Definisi Pengambilan Keputusan

Pengambilan keputusan sangat penting dalam manajemen dan merupakan tugas utama dari seorang pemimpin (manajer). Tidak lepas dari pengertian keputusan diatas, pengambilan keputusan (decision making) diproses oleh pengambilan keputusan (decision maker) yang hasilnya keputusan (decision) itu sendiri. Defenisi-defenisi Pengambilan Keputusan Menurut Beberapa Ahli[2]:

1.     George. R. Terry

Pengambilan keputusan dapat didefenisikan sebagai “pemilihan alternatif kelakuan tertentu dari dua atau lebih alternatif yang ada”.

2.     Harold Koontz dan Cyril O’Donnel

Pengambilan keputusan adalah pemilihan diantara alternatif-alternatif mengenai sesuatu cara bertindak—adalah inti dari perencanaan. Suatu rencana dapat dikatakan tidak ada, jika tidak ada keputusan suatu sumber yang dapat dipercaya, petunjuk atau reputasi yang telah dibuat.

3.     Theo Haiman

Inti dari semua perencanaan adalah pengambilan keputusan, suatu pemilihan cara bertindak. Dalam hubungan ini kita melihat keputusan sebagai suatu cara bertindak yang dipilih oleh manajer sebagai suatu yang paling efektif, berarti penempatan untuk mencapai sasaran dan pemecahan masalah.

4.     Drs. H. Malayu S.P Hasibuan

Pengambilan keputusan adalah suatu proses penentuan keputusan yang terbaik dari sejumlah alternative untuk melakukan aktifitas-aktifitas pada masa yang akan datang.

5.     Chester I. Barnard

Keputusan adalah perilaku organisasi, berintisari perilaku perorangan dan dalam gambaran proses keputusan ini secara relative dan dapat dikatakan bahwa pengertian tingkah laku organisasi lebih penting dari pada kepentingan perorangan.

Ada beberapa definisi tentang pengambilan keputusan. Dalam hal ini arti pengambilan keputusan sama dengan pembuatan keputusan. Menurut penulis definisi pengambilan keputusan adalah pemilihan alternatif perilaku dari dua alternatif atau lebih tindakan pimpinan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam organisasi yang dipimpinnya dengan melalui pemilihan satu diantara alternatif-alternatif yang dimungkinkan. Dan keputusan di dalam manajemen dibagi menjadi dua:

1.     Keputusan terprogram atau keputusan terstruktur: keputusan yg berulang-ulang dan rutin, sehingga dapat diprogram. Keputusan terstruktur terjadi dan dilakukan terutama pada manajemen tingkat bawah. Contoh keputusan pemesanan barang.

2.     Keputusan tidak terprogram atau tidak terstruktur : keputusan yang tidak terjadi berulang-ulang dan tidak selalu terjadi. Keputusan ini terjadi di manajemen tingkat atas. Informasi untuk pengambilan keputusan tidak terstruktur tidak mudah untuk didapatkan dan tidak mudah tersedia dan biasanya berasal dari lingkungan luar. Pengalaman manajer merupakan hal yang sangat penting didalam pengambilan keputusan tidak terstruktur. Keputusan untuk bergabung dengan perusahaan lain merupakan contoh keputusan tidak terprogram.

 

D.   Faktor yang Mempengaruhi Pengambilan Keputusan

Dalam prakteknya terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi proses pengambilan keputusan, yaitu:  (1)  informasi yang diketahui perihal permasalahan yang dihadapi; (2) tingkat pendidikan; (3) personality; (4) coping, dalam hal ini dapat berupa pengalaman hidup yang terkait dengan  permasalahan (proses adaptasi); dan (5) culture[3].

Terdapat  aspek-aspek tertentu bersifat internal dan eksternal yang dapat mempengaruhi proses pengambilan keputusan. Adapun aspek internal tersebut antara lain :

a.      Pengetahuan. Pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang secara langsung maupun tidak langsung  akan  berpengaruh  terhadap  pengambilan  keputusan.  Biasanya semakin luas pengetahuan seseorang semakin mempermudah pengambilan keputusan.

b. Aspek kepribadian. Aspek kepribadian ini tidak nampak oleh mata tetapi besar peranannya bagi pengambilan keputusan.

Sementara aspek eksternal dalam pengambilan keputusan, antara lain:

a.      Kultur: Kultur yang dianut oleh individu bagaikan kerangka bagi perbuatan individu. Hal ini berpengaruh terhadap proses pengambilan keputusan.

b.     Orang lain: Orang lain dalam hal ini menunjuk pada bagaimana individu melihat contoh  atau cara orang lain (terutama orang dekat ) dalam melakukan pengambilan  keputusan. Sedikit banyak perilaku orang lain dalam mengambil keputusan  pada gilirannya juga berpengaruh pada perilkau individu dalam mengambil  keputusan.[4]

 

Dengan demikian, seseorang yang telah mengambil keputusan, pada dasarnya dia telah melakukan pemilihan terhadap alternatif-alternatif yang ditawarkan kepadanya. Kendati demikian, hal yang tidak dapat dipungkiri adalah kemungkinan atau pilihan yang tersedia bagi tindakan itu akan dibatasi oleh kondisi dan kemampuan individu yang bersangkuran,  lingkungan  sosial,  ekonomi,  budaya,  lingkungan  fisik  dan aspek psikologis.

Pemimpin/Manajer Pendidikan sebagai problem  solver dituntut untuk memiliki kreativitas   dalam   me-menej   masalah   dan   mengembangkan   alternatif penyelesaiannya. Berpikir kreatif  untuk memecahkan masalah dapat dilakukan  melalui tahapan-tahapan sebagai berikut:

a.      Tahap  orientasi  masalah,  yaitu  merumuskan  masalah  dan mengindentifikasi  aspek  aspek  masalah  tersebut.  dalam  prospeknya, si pemikir mengajukan beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan masalah yang dipikirkan.

b.     Tahap preparasi. Pikiran  harus  mendapat  sebanyak  mungkin informasi yang  relevan  dengan  masalah tersebut. Kemudian informasi  itu diproses untuk menjawab pertanyaan yang diajukan pada tahap orientasi.

c.      Tahap inkubasi.  Ketika  pemecahan  masalah  mengalami kebuntuan maka biarkan pikiran beristirahat sebentar. Sementara itu pikiran bawah sadar kita akan bekerja secara otomatis untuk mencari pemecahan masalah.

d.   Tahap iluminasi. Proses inkubasi berakhir, karena si pemikir  mulai  mendapatkan  ilham  serta  serangkaian  pengertian (insight)  yang  dianggap dapat memecahkan masalah.

e.      Tahap verifikasi, yaitu melakukan pengujian atas pemecahan  masalah tersebut, apabila gagal maka tahapan sebelummnya harus di ulangi lagi.[5]

 

E.   Peran Kepemimpinan dalam Pengambilan Keputusan

Berbicara masalah pengambilan keputusan, tidak bisa lepas dari peran kepemimpinan, manajer atau si pembuat keputusan tersebut, dalam hal ini adalah  seorang pemimpin, singkat akan penulis bahas juga dalam makalah ini tentang kepemimpinan dan kaitannya  pada pengambilan keputusan.

Kepemimpinan seseorang dalam sebuah organisasi atau sebuah lembaga, sangat besar perannya dalam setiap pengambilan keputusan, sehingga membuat keputusan dan mengambil tanggung jawab terhadap hasilnya adalah salah satu tugas pemimpin, jika seorang pemimpin tidak mampu membuat keputusan, seharusnya dia tidak dapat menjadi pemimpin.

Dilain hal, pengambilan keputusan dalam tinjauan perilaku mencerminkan karakter bagi seorang pemimpin. Oleh sebab itu, untuk mengetahui baik tidaknya keputusan yang diambil bukan hanya dinilai dari konsekwensi yang ditimbulkannya. Melainkan melalui berbagai pertimbangan dalam prosesnya. Kegiatan pengambilan keputusan merupakan salah satu bentuk kepemimpinan, sehingga:

a.      Teori keputusan merupakan metodologi untuk menstrukturkan dan menganalisis situasi yang tidak pasti atau beresiko, dalam konteks ini keputusan lebih bersifat perspektif dari pada deskriptif.

b.     Pengambilan keputusan adalah proses mental dimana seorang manajer memperoleh dan menggunakan data dengan menanyakan hal lainnya, menggeser jawaban untuk menemukan informasi yang relevan dan menganalisis data; manajer, secara individual dan dalam tim, mengatur dan mengawasi informasi terutama informasi bisnisnya.

c.      Pengambilan keputusan adalah proses memilih di antara alternatif-alternatif tindakan untuk mengatasi masalah.[6]

 

Dalam pelaksanaannya, pengambilan keputusan dapat dilihat dari beberapa aspek, yaitu: proses dan gaya pengambilan keputusan.

1.  Proses pengambilan keputusan

Prosesnya dilakukan melalui beberapa tahapan seperti:

a.      Identifikasi masalah

b.     Mendefinisikan masalah

c.      Memformulasikan dan mengembangkan alternative

d.     Implementasi keputusan

e.      Evaluasi keputusan

2.  Gaya pengambilan keputusan

Selain proses pengambilan keputusan, terdapat juga gaya pengambilan keputusan. Gaya adalah lear habit atau kebiasaan yang dipelajari. Gaya pengambilan keputusan merupakan kuadran yang dibatasi oleh dimensi:

a.      Cara berpikir, terdiri dari:

a)     Logis dan rasional; mengolah informasi secara serial

b)     Intuitif dan kreatif; memahami sesuatu secara keseluruhan.

b.     Toleransi terhadap ambiguitas

a) Kebutuhan yang tinggi untuk menstruktur informasi dengan cara meminimalkan ambiguitas

b) Kebutuhan yang rendah untuk menstruktur informasi, sehingga dapat memproses banyak pemikiran pada saat yang sama.

 

Kombinasi dari kedua dimensi diatas menghasilkan gaya pengambilan keputusan seperti:

1.     Direktif = toleransi ambiguitas rendah dan mencari rasionalitas. Efisien, mengambil keputusan secara cepat dan berorientasi jangka pendek

2.     Analitik = toleransi ambiguitas tinggi dan mencari rasionalitas. Pengambil keputusan yang cermat, mampu menyesuaikan diri dengan situasi baru

3. Konseptual = toleransi ambiguitas tinggi dan intuitif. Berorientasi jangka panjang, seringkali menekan solusi kreatif atas masalah

4.     Behavioral = toleransi ambiguitas rendah dan intuitif. Mencoba menghindari konflik dan mengupayakan penerimaan.[7]

 

Berdasarkan uraian di atas, maka berikut adalah upaya-upaya yang perlu ditempuh seperti:

1.     Cerna masalah

Sejalan dengan peran kepemimpinan, maka terdapat perbedaan antara permasalahan tentang tujuan dan metode. Dalam kondisi seperti ini peran pemimpin adalah mengambil inisiatif dalam hubungannya dengan tujuan dan arah daripada metode dan cara.

2.     Identifikasi alternatif

Kemampuan untuk memperoleh alternativ yang relevan sebanyak-banyaknya.

3.     Tentukan proritas

Memilih diantara banyak alternativ adalah esensi dari kegiatan pengambilan keputusan.

4.     Ambil langkah

Upaya pengambilan keputusan tidak berhenti pada tataran pilihan, melainkan berlanjut pada langkah implementasi dan evaluasi guna memberikan umpan balik.[8]

 

Islam juga mengajarkan dalam memilih dan mempertimbangkan pemimpin (dalam hal ini pemimpin pendidikan), agar keputusan yang lahir benar-benar kredibilitasnya teruji dan produktif yang pada akhirnya dapat mengantarkan pada keberhasilan serta kemajuan pendidikan, seperti halnya Rasulullah saw mempertimbangkan keadaan kaum Quraisy di masa beliau, yaitu kekuatan dan rasa kesetiakawanan kesukuan yang kuat (‘ashabiyyah) pada mereka yang merupakan syarat utama dalam menopang ke-khalifahan atau pemerintahan. Lebih jauh, ia berkata “Jika persyaratan Quraisy ini terbukti hanya untuk menghindari terjadinya perebutan kekuasaan karena kesetiakawanan, kesukuan dan kekuatan yang mereka miliki, dapat kita simpulkan bahwa persyaratan tersebut hanya didasarkan pada kecakapan dan kemampuan menjadi pemimpin.[9]

Untuk itu, persyaratan ini kita kembalikan kepadanya dengan mengabaikan faktor dalam pengertian Quraisy, yaitu kesetiakawanan, kesukuan (‘Ashobiyyah). Atas dasar itu, pemimpin pendidikan hendaklah berasal dari kelompok yang memiliki kesetiakawanan, kesukuan, kepintaran, kemampuan, kredibilitas yang kuat di bandingkan kelompok lain, sehingga dapat menjadi panutan yang lain dan kesatuan pendapat, persatuan dalam pengambilan keputusan dapat terpelihara dan berajalan dengan baik.

 

F.   Prinsip-Prinsip Pengambilan Keputusan Berdasarkan Islam

Prinsip-prinsip yang bisa kita gunakan dan kita timba dari Firman Tuhan untuk menolong kita mengambil keputusan diambil dari kisah Raja Rehabeam, ada beberapa prinsip pengambilan keputusan yang bisa kita petik yaitu:

a.      Keputusan yang benar tidak mesti dikaitkan dengan bagaimana orang lain melihat diri kita. Di sini kita melihat Rehabeam ingin menunjukkan kekuasaannya dan keinginannya untuk dipandang berkuasa, hal itu telah membuatnya mengambil keputusan yang salah. Dengan kata lain adakalanya keputusan kita menjadi sangat salah, karena yang memotivasi kita mengambil keputusan itu bukanlah kita mempertimbang-kan keputusan yang benar, namun kita lebih mempedulikan bagaimanakah orang lain melihat kita. Kita ingin agar orang melihat kita sesuai dengan citra yang kita coba proyeksikan kepada orang lain. Yang penting kita memfokuskan mata kita pada permasalahannya.

b. Keputusan yang benar didasari atas masukan dari sumber yang memahami duduk masalahnya. Kadang-kadang kita mempunyai pandangan dalam mengambil keputusan mengumpulkan data sebanyak-banyaknya, saya kira itu tidak tepat, bukan kumpulkan data sebanyak-banyaknya, melainkan kumpulkan data setepat-tepatnya. Tepat dalam pengertian kita mencari sumber yang memang kompeten atau memahami duduk masalahnya, jangan sampai kita kumpulkan terlalu banyak pandangan dari orang-orang yang tidak kompeten.

c.  Keputusan yang benar berpijak pada konsep kebajikan yang universal, yaitu harus adil, penuh kasih dan juga harus baik. Jadi dalam pengambilan keputusan kita mesti bertanya aspek etisnya, aspek moralnya, apakah keputusan kita itu baik, apakah juga adil. Kadang-kadang baik untuk kita tetapi tidak baik untuk orang lain. Adil, apakah adil untuk kita dan untuk orang lain dan apakah ada unsur kasihnya, karena kasih adalah isi hati Tuhan yang paling dalam, yang juga harus kita miliki. Tuhan pernah mengajarkan kepada kita suatu perintah yang disebut hukum emas yaitu berbuatlah kepada orang lain sebagaimana kita inginkan orang perbuat kepada kita. Jadi kita bisa gunakan prinsip ini dalam pengambilan keputusan.

d.   Keputusan yang benar mesti mempertimbangkan dampak dari keputusan itu. Orang yang bijaksana akan selalu mengingat apa akibat keputusan saya ini terhadap diri saya dan apa akibatnya terhadap orang lain.

e.   Keputusan yang benar muncul dari pergumulan dalam do’a. Rehabeam tidak mencari Tuhan. Kita ingat sebelum Salomo mengemban tugasnya sebagai seorang raja, dia berdoa, dia meminta Tuhan memberikan hikmat dan itu yang Tuhan karuniakan. Jadi dalam kita mengambil keputusan jangan lupa untuk bergumul dalam doa, meminta Tuhan memimpin kita dan kita harus yakin setelah kita berdo’a meminta pimpinan Tuhan, mulai detik itu Tuhan akan memimpin kita.

f.      Keputusan yang benar tidak selalu tampak dengan jelas. Kita hidup dalam masyarakat yang instan, kita ingin segala sesuatu muncul dengan seketika. Tapi keputusan yang baik sering kali menuntut waktu yang panjang, tidak selalu jelas apa itu keputusan yang baik yang bias kita ambil. Jadi perlu ada waktu untuk mendinginkan kita dan membuktikan motivasi kita yang sebenarnya.

g.     Keputusan yang benar tidak menutup kemungkinan muncul dari keputusan yang salah. Jadi adakalanya kita keliru mengambil keputusan yang salah, kita belajar dari kesalahannya apa dan belajar mengenal yang benar itu apa. Nah, justru keputusan yang salah menjadi batu pijakan atau batu loncatan yang membawa kita masuk ke dalam keputusan yang benar. Jadi intinya adalah bersedialah untuk meminta maaf jika menyadari bahwa kita telah membuat keputusan yang salah.

h.     Demokrasi

Jika dilihat basis empiriknya, Islam dan demokrasi memang berbeda. Agama berasal dari wahyu sementara demokrasi berasal dari proses pemikiran manusia. Dengan demikian, agama memiliki tata aturannya sendiri. Namun begitu, tidak ada halangan bagi agama untuk berdampingan dengan demokrasi. Dalam perspektif Islam terdapat nilai-nilai demokrasi meliputi: syura, musawah, adallah, amanah, masuliyyah dan hurriyyah.[10]

 

G.  Al-Qur’an dan Hadits

1.     Teks Ayat

Sudah menjadi sunnatullah, bahwa dinamika kehidupan manusia selalu dihiasi dengan pententangan ( disitulah pentingnya sebuah keputusan ). Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt. Surat Al-Baqarah: 30 dan Asy-Syuura: 38:

a.

ŒÎ)ur tA$s% š•/u‘ Ïps3Í´¯»n=yJù=Ï9 ’ÎoTÎ) ×@Ïã%y` ’Îû ÇÚö‘F{$# Zpxÿ‹Î=yz ( (#þqä9$s% ã@yèøgrBr& $pkŽÏù `tB ߉šøÿム$pkŽÏù à7Ïÿó¡o„ur uä!$tBÏe$!$# ß`øtwUur ßxÎm7|¡çR x8ωôJpt¿2 â¨Ïd‰s)çRur y7s9 ( tA$s% þ’ÎoTÎ) ãNn=ôãr& $tB Ÿw tbqßJn=÷ès?

b.

tûïÏ%©!$#ur (#qç/$yftGó™$# öNÍkÍh5tÏ9 (#qãB$s%r&ur no4qn=¢Á9$# öNèdãøBr&ur 3“u‘qä© öNæhuZ÷t/ $£JÏBur öNßg»uZø%y—u‘ tbqà)ÏÿZãƒ

 

2.     Terjemah Ayat

a.   Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (Q.S. Al-Baqarah: 30)[11]

 

b.    Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang kami berikan kepada mereka. (Q.S. Asy-Syuura: 38)[12]

 

3.     Asbabunnuzul

·     Surah Al-Baqarah adalah surah ke-2 dan terpanjang yang seluruhnya diturunkan di Madinah, sehingga digolongkan ke dalam surah Madaniyah. Sebagian besar surah Al Baqarah ini turun dipermulaan tahun Hijriah. Adapun surah Al Baqarah ayat 30 secara khusus tidak memiliki asbabun nuzul.

Isi kandungan Surah Al Baqarah Ayat 30, antara lain sebagai berikut.

a.  Manusia berfungsi sebagai si pembuat keputusan dimuka bumi. Ayat ini menunjukkan bahwa yang mengatur segala yang ada di bumi adalah manusia sebagai makhluk Allah yang sempurna dan memiliki potensi, diantaranya hawa nafsu, pendengaran, pengelihatan, hati/perasaan, penciuman, akal pikiran, mulut, tangan, kaki, dll.

b.     Fungsi manusia sebagai pembuat keputusan di bumi yakni sebagai berikut.

·       Menjadi pemimpin, baik bagi orang lain maupun dirinya sendiri dalam upaya mencari ridha Allah dengan mengabdi dan menyembah hanya kepada-Nya.

·       Menyejahterakan dan memakmurkan bumi dengan keputusan manusia. Allah menciptakan alam semesta, baik flora dan fauna untuk makhluk, khususnya manusia. Oleh karena itu, manusia wajib mengelola, merawat, mengambil keputusan dan memanfaatkan hasilnya untuk kesejahteraan seluruh makhluk.

  1. Upaya antipasi terhadap rintangan pada umat manusia karena di dalam menjalankan fungsi atau tugas manusia salah satunya me-menej pendidikan Islam. Iblis dan setan tidak akan henti-hentinya menggoda manusia agar tersesat. Adapun cara iblis atau setan menggoda manusia adalah dengan masuk ke dalam kalbu manusia sehingga selalu menimbulkan perselisihan, permusuhan, dan perusakan salah satunya menganggu dari sebuah keputusan manajemen pendidikan Islam.[13] 

·       Surah Asy-Syuura  adalah surah ke-42 dalam al-Qur'an. Surah ini terdiri dari 53 ayat dan termasuk surah Makiyyah. Dinamakan Asy-Syura yang berarti Musyawarah diambil dari kata Syuura yang terdapat pada ayat 38 pada surah ini. Dalam ayat tersebut diletakkan salah satu dari dasar-dasar pemerintahan Islam ialah musyawarah. Surah ini kadang kala disebut juga Ha Mim 'Ain Sin Qaf karena surah ini dimulai dengan huruf-huruf hijaiyah itu.[14]

Ayat 38 ini turun dengan orang-orang Anshar yang disuruh untuk memenuhi ajakan Rasulullah untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta Al-Qur’an, sebagian mereka beriman dan mendirikan Shalat. Maka dari itu, turunlah ayat ini.[15]

 

4.     Kandungan Ayat

a.     Surah Al-Baqarah Ayat 30

Sejak dulu manusia sudah diciptakan oleh Allah pada awalnya menjadi umat yang akan menjadi pemimpin di surga. Manusia akan menjadi pemimpin malaikat dan syetan, akibatnya syetanpun cenburu, dan berbuat murka dan tidak patuh terhadap Allah. Seiring berjalannya waktu, Syetanpun berhasil mempengaruhi manusia untuk melanggar aturan dari Allah swt, sehingga manusia dapat hukuman untuk diturunkan didunia.

Para malaikat khawatir, bahwa umat manusia (keturunan Adam) akan membuat kerusakan di bumi. Padahal para malaikat merupakan makhluk yang selalu bertasbih, mensucikan Allah. Ketidaktahuan para malaikat dan kekhawatiran para malaikat itu menjadi hilang setelah mendapatkan penjelasan dari Allah bahwa Allah lebih mengetahui apa yang tidak diketahui oleh para malaikat.[16]

b.     Surah Asy-Syuura Ayat 38

Dalam ayat tersebut Allah menyerukan agar umat Islam mengesakan dan mnyembah Allah SWT. Menjalankan shalat fardu lima waktu tepat pada waktunya. Apabila mereka menghadapmasalah maka harus diselesaikan dengan cara musyawarah. Rasulullah SAW sendiri mengajak para sahabatnya agar mereka bermusyawarah dalam segala urusan, selain masalah-masalah hukum yang telah ditentukan oleh Allah SWT. Persoalan yang pertama kali dimusyawarahkan oleh para sahabat adalah khalifah. Karena nabi Muhammad SAW sendiri tidak menetukan siapa yang harus jadi khalifah setelah beliau wafat. Akhirnya disepakati Abu Bakarlah yang menjadi khalifah.[17]

Kata ( أَمْرُهُمْ ) amruhum/ urusan mereka menunjukkan bahwa yang mereka musyawarahkan untuk suatu keputusan adalah hal-hal yang berkaitan dengan mereka, serta yang berada dalam wewenang mereka. Karena itu masalah ibadah mahdhah/murni yang sepenuhnya berada dalam wewenang Allah tidaklah termasuk hal-hal yang dapat dimusyawarahkan. Di sisi lain, mereka yang tidak berwenang dalam urusan yang dimaksud, tidaklah perlu terlibat dalam musyawarah itu, kecuali jika di ajak oleh yang berwewenang, karena boleh jadi yang mereka musyawarahkan adalah persoalan rahasia antar mereka. Al-Maraghi mengatakan apabila mereka berkumpul mereka mengadakan musyawarah untuk memeranginya dan membersihkan sehingga tidak ada lagi peperangan dan sebagainya. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa mereka bermusyawarah didalam mengambil suatu keputusan untuk mereka ikuti pendapat itu, contohnya dalam peperangan.

 

5.     Tafsir Ayat

a.     Tafsir At-Tabari Al-Baqarah: 30

Ayat ini mengingatkan nikmat-nikmat Allah kepada manusia, di antaranya dinobatkannya Adam a.s. sebagai khalifah di bumi. Menurut At-Thabari maksud (Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi) adalah mengangkat Adam a.s. sebagai khalifah di bumi dan mengangkat setelahnya khalifah-khalifah lain silih berganti. Hasan Al-Bashri mengatakan bahwa yang dimaksud khalifah adalah suksesi kepemimpinan yang silih berganti sejak Adam a.s. hingga keturunannya sampai hari kiamat.

Menurut Ibnu Abbas, Adam a.s. diangkat sebagai khalifah di muka bumi menggantikan bangsa Jin. Sedangkan At-Thabari berpendapat, berdasarkan riwayat Ibnu Abbas r.a. dan Ibnu Mas’ud r.a., bahwa yang diangkat sebagai khalifah Allah hanyalah Adam a.s. dan mereka yang taat kepada Allah. Mereka bertugas menegakkan hukum Allah ditengah-tengah makhluknya. Adapun sebab para malaikat itu bertanya (Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah disana). Adalah untuk memperoleh informasi, karena para malaikat itu, menurut riwayat Ibnu Abbas r.a. pernah ditugaskan untuk membasmi Jin penghuni bumi sebelum Adam a.s., yang kebetulan suka berbuat kerusakan dan menumpahkan darah.

Maka timbulah pertanyaan ini karena mereka hendak memperoleh informasi dari Allah, bukan karena para malaikat itu tahu perkara ghaib, tidak pula karena mereka berburuk sangka, atau hendak mengingkari keputusan Allah SWT.[18]

b.     Tafsir Ibnu Katsir Al-Baqarah: 30

Setelah menyempurnakanpenciptaan langit dan bumi, Allah SWT kemudian mengamanati manusia menjadi khalifah di muka bumi. Menurut Qurthubi, pernyataan malaikat diatas semata karena mereka tahu karakter manusia yang suka berbuat kerusakan, kezaliman, dan perbuatan dosa sehingga mengakibatkan pertumpahan darah diantara sesama manusia.

Pernyataan malaikat itu bukanlah protes kepada Allah SWT, bukan pula ekspresi iri dan dengki atas kepercayaan Allah SWT kepada manusia. Pernyataan itu semata-mata sekedar bahan pertimbangan dari malaikat yang disampaikan kepada Allah SWT. Pernyataan tersebut lebih bermakna pertanyaan atas keputusan Allah SWT, bukan penolakan. Dengan kata lain, malaikat hendak mengatakan, “Ya Tuhan kami apa hikmah di balik keputusanMu menjadikan manusia sebagai Khalifah di muka bumi ini, sementara mereka suka berbuat kerusakan dan kezaliman?” Malaikat hendak bertanya, kalau pilihan itu disebabkan penghambaan manusia kepada Allah SWT, bukankah malaikat lebih baik dari pada manusia dalam penghambaan? Hal itu karena malaikat selalu membaca tasbih dan tahmid kepada-Nya siang dan malam.

Allah menegaskan kepada malaikat, Dia Maha Mengetahui atas keputusan yang diambilNya. Allah SWT lebih mengetahui keadaan manusia yang telah banyak melakukan kerusakan. Allah SWT menjadikan diantara mereka para Nabi dan Rasul. Selain itu, diantara manusia banyak sekali orang jujur, saleh, zuhud, khusyu’, dekat dengan Allah SWT, dan mengikuti semua petunjuk Rasulullah SAW.[19]

·       Tafsir At-Tabari Asy-Syuura: 38

Allah SWT mengingatkan kepada manusia bahwa perhiasan dunia yang Allah berikan, berupa harta dan anak, merupakan kekayaan yang dapat dinikmati sepanjang kehidupan dunia. Namun, itu bukan dari kekayaan akhirat dan tidak dapat memberi manfaat di hari kiamat. Kemudian Allah berfirman apa yang Allah siapkan bagi mereka yang taat dan beriman kepada-Nya di akherat lebih baik dari apa yang diberikan di dunia, dan kenikmatan di akherat adalah kekal. Dan apa yang diberikan di dunia hanya bersifat sementara. Dan hanya kepada Allah-lah orang mukmin bertawakkal menyerahkan segala urusan kepada-Nya.

Kemudia, Allah SWT menjabarkan sifat-sifat orang yang akan mendapatkan kenikmatan itu, yaitu: yang beriman dan yang menjauhi dosa-dosa besar dan juga yang menjauhi perbuatan yang keji (berbuat zina); apabila mereka ditimpa suatu kejahatan sehingga membuat mereka marah, mereka mengampuni orang yang berbuat kejahatan tersebut, dan memaafkan kesalahannya: memenuhi panggilan Allah ketika mereka dipanggil untuk mengikrarkan ketauhidan, ke-esaan-Nya dan membebaskan diri dari segala bentuk peribadatan kepada selain-Nya. Mereka mendirikan shalat yang wajib dengan memenuhi batasan-batasannya dan melakukannya pada waktu-waktunya: apabila mereka menghadapi suatu perkara, mereka bermusyawarah untuk memecahkannya: yaitu mereka menunaikan kewajiban harta mereka, diantaranya dengan menunaikan zakat, infak kepada orang yang berhak menerimanya.[20]

·       Tafsir Ibnu Kastir Asy-Syuura: 38

Maksud firman Allah, (Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhan), yaitu mereka yang mengikuti Rasul-Nya dan mentaati perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya. (Dan melaksanakan shalat), merupakan ibadah teragung kepada Allah SWT. (Sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka) maksudnya mereka tidak mau memutuskan suatu perkara atau mengambil suatu keputusan, kecuali mereka musyawarahkan terlebih dahulu.musyawarah ini membantu mereka memutuskan perkara-perkara seperti perang dan lainnya.[21]

·       Tafsir Muyassar Asy-Syuura: 38

Disyari’atkan kepada manusia untuk saling bermusyawarah mengenai keputusan mereka tanpa mempermalukan salah seorang di antara mereka dengan pendapatnya di hadapan saudara-saudaranya yang beriman. Mereka menjalin hubungan dengan Allah melalui shalat dan menjalin hubungan dengan kaum Muslimin melalui musyawarah dan nasihat.[22]

 

6.     Hadist

a.      

عَنْ مَيْمُوْنِ بِنْ مَهْرَانِ قَالَ: كَانَ أَبُوْ بَكْرٍ إِذَا وُرِدَ عَلَيْهِ الْخِصْمُ نَظَرَ فِى كِتَابِ اللهِ، فَإِنَّ وَجَدَ فِيْهِ مَا يَقْضِى بِهِ بَيْنَهُمْ قَضَى بِهِ، وَإِنْ لمَ ْيَكُنْ فِي الْكِتَابِ وَعَلِمَ مِنْ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِى ذَلِكَ الأَمْرُ سُنَّةُ قَضَى بِهِ. فَإِنْ أَعْيَاهُ خَرَجَ فَسَأَلَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَقَالَ: أَتَانِي كَذَا وَكَذَا، فَهَلْ عَلِمْتُمْ أَنَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَضَى فِي ذَلِكَ بِقَضَاءٍ؟ فَرُبَّمَا اِجْتَمَعَ إِلَيْهِ النَّفَرَ كُلُّهُمْ يَذْكُرُ مِنْ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْهِ قَضَاءًا، فَيَقُوْلُ أَبُوْ بَكْرٍ اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِى جَعَلَ فِيْنَا مَنْ يَحْفَظُ عَنْ نَبِيِّنَا صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَإِنْ أَعْيَاهُ أَنْ يَجِدَ فِيْهِ سُنَّةٌ مِنْ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَمَعَ رَؤُوْسُ النَّاسَ وَخِيَارُهُمْ فَاسْتَشَارُهُمْ، فَإِذَا اجْتَمَعَ رَأْيُهُمْ عَلَى أَمْرٍ قَضَى بِهِ. وَكَذَلِكَ فَعَلَ عُمَرُ ابْنِ الخَطَّابْ مِنْ بَعْدِهِ.  )رَوَاهُ الدَّارِمِى وَالْبَيْهَقِى وَصَحَّحُ الْحَافِظُ إِسْنَادُهُ فِى الفَتْحِ(

 

Diriwayatkan dari Maimun bin Mahran, ia mengisahkan: “Dahulu Abu Bakar (As Shiddiq) bila datang kepadanya suatu permasalahan (persengketaan), maka pertama yang ia lakukan ialah membaca Al Qur’an (mencari dalam kitabullah), bila ia mendapatkan padanya ayat yang dapat ia gunakan untuk menghakimi mereka, maka ia akan memutuskan berdasarkan ayat itu. Bila ia tidak mendapatkannya di Al Qur’an, akan tetapi ia mengetahui sunnah (hadits) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ia akan memutuskannya berdasarkan hadits tersebut. Bila ia tidak mengetahui sunnah, maka ia akan menanyakannya kepada kaum muslimin, dan berkata kepada mereka: ‘Sesungguhnya telah datang kepadaku permasalahan demikian dan demikian, apakah kalian mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memutuskan dalam permasalahan itu dengan suatu keputusan?’ Kadang kala ada beberapa sahabat yang semuanya menyebutkan suatu keputusan (sunnah) dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga Abu bakar berkata: ‘Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan di antara kita orang-orang yang menghafal sunnah-sunnah Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Akan tetapi bila ia tidak mendapatkan satu sunnah-pun dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka ia mengumpulkan para pemuka dan orang-orang yang berilmu dari masyarakat, lalu ia bermusyawarah dengan mereka. Bila mereka menyepakati suatu pendapat (keputusan), maka ia akan memutuskan dengannya. Dan demikian pula yang dilakukan oleh khalifah Umar bin Khatthab sepeninggal beliau.” (Riwayat Ad Darimi No.161 dan Al Baihaqi, dan Al Hafiz Ibnu Hajar menyatakan bahwa sanadnya adalah shahih)[23]

 

b.      

7.    حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ عَلِيٍّ عَنْ زَائِدَةَ عَنْ سِمَاكٍ عَنْ حَنَشٍ

حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ عَلِيٍّ عَنْ زَائِدَةَ عَنْ سِمَاكٍ عَنْ حَنَشٍ عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قاَلَ: قاَلَ رَسُوْلُ اللهِ ص.م (اِذَا تَقَاضَى اِلَيْكَ رَجُلاَنِ فَلاَ تَقْضِ لِلْاَوَّلِ حَتَّى تَسْمَعَ كَلاَمَ الآخَرِ, فَسَوْفَ تَدْرِيْ كَيْفَ تَقْضِيْ) قَالَ عَلِيٌّ: فَمَا زِلْتُ قَاضِيًا بَعْدُ. (رَوَاهُ اَحْمَدُ وَاَبُوْ دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيُّ وَحَسَّنَهُ, وَقَوَّاهُ ابْنُ الْمَدْيِِنِيِّ وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ)

 

Telah menceritakan kepada kami Hushain bin Ali dari Zai`dah dari Simak dari Hanasy dari Ali Radhiallah 'anhu ia berkata : Telah bersabda Rasulullah saw: “Apabila dua orang minta keputusan kepadamu, maka janganlah engkau menghukum bagi yang pertama sebelum engkau mendengar perkataan orang yang kedua. Jika demikian engkau akan mengetahui bagaimana engkau mesti menghukum”. ‘Ali berkata : Maka tetap saya jadi hakim (yang layak) sesudah itu”. (H.R. Ahmad No.1148, Abu Dawud dan Tirmidzi dan Ia hasankan-dia, dan dikuatkan-dia oleh Ibnul-Madini dan dishahkan-dia oleh Ibnu Hibban)[24]

 

7.Sanad Perawi Hadist

a.    

 

Abdullah bin 'Utsman bin 'Amir bin 'Amru bin Ka'ab
bin Sa'ad binTaymi bin Murrah (kalangan : sahabat, masa hidup: Madinah, W:13H)

Menurut ulama Ibnu Hajar Al Atsqalani: Sahabat

 

 

Rawi Terputus (kalangan tabi’ut tabi’in)

 

 

Ja'far bin Burqan (kalangan : tabi’ tabi’in tua, masa hidup: Jazirah, W:150H, buruk hafalannya)

Menurut ulama:

Ahmad bin Hambal

la ba`sa bih (tidak masalah)

Ya'qub bin sufyan

Tsiqah

Muhammad bin Sa'd

Tsiqah Shaduuq (tingkatannya berada di bawah tsiqah)

 

 

 

Zuhair bin Mu'awiyah bin Hudaij (Kalangan : Tabi'ut Tabi'in tua, masa hidup: Kufah, W: 173H, tsiqah hafiz)

Menurut ulama:

Yahya bin Ma'in

Tsiqah

An Nasa'i

Tsiqah Tsabat

Al Bazzar

Tsiqah

Ibnu Hibban

disebutkan dalam 'ats tsiqaat

Adz Dzahabi

Alhafidz

Adz Dzahabi

tsiqah hujjah

 

 

 

Maimun bin Mihran (kalangan : tabi’in biasa, masa hidup: Jazirah, W:117H, buruk hafalannya) Menurut ulama:

Abu Hatim

Tsiqah

Ahmad bin Hambal

Tsiqah

Al 'Ajli

Tsiqah

Abu Zur'ah

Tsiqah

An Nasa'i

Tsiqah

Ibnu Sa'd

Tsiqah

Ibnu Hibban

'ats tsiqaat

Ibnu Hajar al 'Asqalani

"tsiqah,faqih" (berilmu pengetahuan luas)

Adz Dzahabi

tsiqah ahli ibadah

 

 

 

Muhammad bin Ash Shalti bin Al Hajjaj (Kalangan : Tabi'ul Atba' tua, masa hidup : Kufah, W: 218H, adil dan kuat hafalanya)

Menurut ulama:

Abu Zur'ah

Tsiqah

Abu Hatim

Tsiqah

Ibnu Hibban

'ats tsiqaat

Ibnu Hajar al 'Asqalani

Tsiqah

 

 

 

Zuhair bin Mu'awiyah bin Hudaij (Kalangan : Tabi'ut Tabi'in tua, masa hidup: Kufah, W: 173H, tsiqah hafiz)

Menurut ulama:

Yahya bin Ma'in

Tsiqah

An Nasa'i

Tsiqah Tsabat (memiliki kekokohan sikap dan keteguhan prinsip)

Al Bazzar

Tsiqah

Ibnu Hibban

'ats tsiqaat

Adz Dzahabi

Alhafidz

Adz Dzahabi

tsiqah hujjah

 

 

 

Muhammad bin Ash Shalti bin Al Hajjaj (Kalangan : Tabi'ul Atba' tua, masa hidup : Kufah, W: 218H, adil dan kuat hafalanya)

Menurut ulama:

Abu Zur'ah

Tsiqah

Abu Hatim

Tsiqah

Ibnu Hibban

'ats tsiqaat

Ibnu Hajar al 'Asqalani

Tsiqah

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  • Hadist ini berdasarkan penyandarannya  mauquf, yaitu: perkataan, perbuatan atau taqrir yang disandarkan kepada seorang sahabat.
  • Hadist berdasarkan gugurnya sanad  munqothi’, yaitu: hadits/berita yang di tengah sanadnya gugur/terputus seorang rawi atau beberapa rawi, tetapi tidak berturut-turut.
  • Hadist berdasarkan banyaknya jalan Gharib, yaitu: hadits yang diriwayatkan hanya dengan satu sanad.[25]

b.    

 

Simak bin Harb bin Aus (Kalangan : Tabi'in biasa W:123H, buruk hafalanya) Menurut ulama:

Yahya bin Ma'in

Tsiqah

Abu Hatim Ar Rozy

shaduuq tsiqah

Ibnu Hibban

Banyak salah

Adz Dzahabi

Tsiqah

Adz Dzahabi

Jelek Hafalannya

 

 

 

Za'idah bin Qudamah (Kalangan: Tabi'ut Tabi'in tua, masa hidup : Kufah , W:161H, Tsiqah hafiz) Menurut ulama:

Abu Zur'ah

Shaduuq

Abu Hatim

Tsiqah

An Nasa'i

Tsiqah

Ibnu Hajar al 'Asqalani

tsiqah tsabat

Adz Dzahabi

tsiqah hujjah

Adz Dzahabi

Alhafidz

 

 

 

Hanasy bin Al Mu'tamir (Kalangan: Tabi'in pertengahan, masa hidup : Kufah, buruk hafalanya)

Menurut ulama:

Abu Daud

Tsiqah

An Nasa'i

laisa bi qowi (tidak kuat hafalan)

Al 'Ajli

Tabi'i Tsiqoh

Ibnu Hajar al 'Asqalani

Shaduuq Lahu Auham (Jujur, tapi ia mempunyai beberapa kesalahan)

 

 

 

Al Husain bin 'Ali bin Al Walid (Kalangan: Tabi'ut Tabi'in biasa, masa hidup : Kufah, W: 203H, Tsiqah ‘Adil) Menurut Ulama:

Yahya bin Ma'in

Tsiqah

Ibnu Hibban

disebutkan dalam 'ats tsiqaat

Ibnu Hajar al 'Asqalani

Tsiqah abid

 

 

 

Ali bin Abi Thalib bin 'Abdu Al Muthallib bin Hasyim bin 'Abdi Manaf  (Kalangan : Shahabat, masa hidup : Kufah, W: 40H)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  • Hadist ini berdasarkan penyandarannya: Marfu' ialah sabda atau perbuatan, taqrir atau sifat yang disandarkan kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
  • Hadist berdasarkan banyaknya jalan: Gharib, yaitu: hadits yang diriwayatkan hanya dengan satu sanad.[26]

8.     Khazanah Sosial Islamiah

Manusia adalah para pelaku yang menciptakan sejarah. Gerak sejarah adalah gerak menuju suatu tujuan. Tujuan tersebut berada dihadapan manusia, berada di “masa depan”. Sedangkan masa depan yang bertujuan harus tergambar dalam benak manusia. Dengan demikian, benak manusia merupakan langkah pertama dari gerak sejarah atau dengan kata lain “dari terjadinya perubahan”,[27] dimulai dari sebuah keputusan yang terkonsep secara matang, yang ditentukan sejak awal secara musyawarah.

Al-Qur’an tidak mejelaskan bagaimana bentuk Syûrâ yang dianjurkannya. Ini untuk memberikan kesempatan kepada setiap masyarakat menyusun bentuk Syûrâ (Musyawarah/Pengambilan suatu keputusan) yang mereka inginkan sesuai dengan perkembangan dan ciri masyarakat masing-masing. Perlu diingat bahwa ayat ini pada periode dimana belum lagi terbentuk masyarakat Islam yang memiliki kekuasaan politik, atau dengan kata lain sebelum terbentuknya negara Madinah di bawah pimpinan Rasul SAW. Turunnya ayat yang menguraikan Syûrâ pada periode Mekkah, menunjukkan bahwa musyawarah adalah anjuran al-Qur’an dalam segala waktu dan berbagai persoalan yang belum ditemukan petunjuk Allah di dalamnya. Pengambilan keputusan, mengandung banyak sekali manfaatnya. Diantaranya adalah sebagai berikut:

1.     Melalui musyawarah untuk mengambil suatu keputusan, dapat diketahui kadar akal, pemahaman, kadar kecintaan, dan keikhlasan terhadap kemaslahatan umum.

2.     Kemampuan akal manusia itu bertingkat-tingkat, dan jalan berfikirnya pun berbeda-beda. Sebab, kemungkinan ada diantara mereka mempunyai suatu kelebihan yang tidak dimiliki orang lain, para pembesar sekalipun.

3.     Semua pendapat/keputusan didalam musyawarah diuji kemampuannya. Setelah itu, dipilihlah pendapat/keputusan yang lebih baik.

4.     Di dalam musyawarah untuk mengambil suatu keputusan, akan tampak bersatunya hati untuk mensukseskan suatu upaya dan kesepakatan hati.

 

Telah diriwayatkan dalam Al-Hasan r.a., bahwa Allah swt. sebenarnya telah mengetahui bahwa Nabi saw. sendiri tidak membutuhkan mereka (para sahabat, dalam masalah ini). Tetapi, beliau bermaksud membuat suatu sunnah untuk orang-orang sesudah beliau.[28]  Diriwayatkan dari Nabi saw., bahwa beliau pernah bersabda:

مَا تُشَاوِرُ قَوْمٍ قط إِلا هُدْوًا إِلَى رَشَدَ أَمْرُهُمْ

“Tidak satu kaum-pun yang selalu melakukan musyawarah melainkan akan ditunjukkan jalan paling benar dalam perkara mereka.”[29]

 

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., “Aku belum pernah melihat seseorang melakukan musyawarah selain Nabi saw.”

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ

“Apabila hatimu telah bulat dalam melakukan sesuatu, setelah hal itu dimusyawarahkan, serta dipertanggung jawabkan kebenarannya, maka bertawakkallah kepada Allah.”

 

Serahkanlah sesuatu kepada-Nya, setelah mempersiapkan diri dan memiliki sarana untuk meniti sebab-sebab yang telah dijadikan Allah swt. untuk bisa mencapainya, didalam hadits ini, terkandung isyarat yang menunjukkan wajibnya melaksanakan tekat apabila syarat-syaratnya telah terpenuhi dan diantaranya melalui musyawarah dalam mengambil suatu keputusan.

Rahasia yang terkandung dalam hal ini adalah, bahwa meralat hal-hal yang sudah diputuskan merupakan kelemahan jiwa seseorang. Juga sebagai kelemahan di dalam tabiatnya yang menjadikan yang bersangkutan itu tidak bisa dipercayai lagi, perkataan maupun perbuatannya. Terlebih lagi, jika ia seorang pemimpin pemerintahan, pemimpin organisasi pendidikan dan atau panglima perang.

Oleh sebab itu, Nabi saw. tidak mendengarkan pendapat orang yang meralat pendapat/keputusan pertamanya, sewaktu beliau sedang bermusyawarah mengenai perang Uhud. Pendapat/keputusan itu mengatakan, bahwa kaum Muslimin harus keluar ke Uhud, begitu mereka telah mengenakan baju besi. Beliau berpandangan, bahwa sesudah bulat keputusan suatu musyawarah, maka tahap selanjutnya adalah tahap pelaksanaan, jadi tidak boleh diralat lagi.

Dengan demikian, berarti Nabi saw mengajari mereka, bahwa dalam setiap pekerjaan ada waktunya masing-masing yang terbatas. Dan waktu bermusyawarah itu, apabila talah selesai, tinggalah tahap pengamalannya. Seorang manajer (pemimpin), apabila telah bersiap melaksanakan suatu pekerjaan sebagai realisasi dari hasil musyawarah dan lahir sebuah keputusan, maka tidak boleh ia mencabut keputusan atau tekadnya, sekalipun ia melihat adanya kesalahan pendapat dari orang-orang yang ikut bermusyawarah, seperti yang terjadi dalam perang Uhud.

Lain halnya jika suatu keputusan belum ditetapkan walaupun sudah disepakati (ketok palu) oleh seorang pemimpin organisasi dan masih ada pendapat, usul, masukan dan tawaran lain dalam musyawarahnya (sebuah keputusan yang hampir final), pemimpin tidak berhak memutuskan secara sepihak dan masih ada hak bagi orang lain atau anggota musyawarah untuk berpendapat. Tidak ada dasar untuk menuntut orang lain yang mempertahankan diri.[30]

Pada surat Ali ‘Imran ayat 159 dari segi redaksional ditujukan kepada Nabi Muhammad Saw, agar memusyawarahkan persoalan-persoalan tertentu dengan sahabat atau anggota masyarakatnya. Tetapi, yang akan dijelaskan lebih jauh, ayat ini juga merupakan petunjuk kepada setiap Muslim, khususnya kepada setiap pemimpin/manajer, agar bermusyawarah dalam mengambil suatu keputusan dengan anggotanya atau bawahannya. Juga dalam ayat itu dijelaskan sikap apa yang harus dilakukan ketika mengambil keputusan, yaitu:

  1. Sikap lemah lembut

Seorang yang melakukan pengambilan keputusan, apalagi sebagai pemimpin, harus menghindari tutur kata yang kasar serta sikap keras kepala, karena jika tidak, mitra musyawarah atau bawahan akan pergi.

 وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ…  (ال عمران : ١٥٩)

“Seandainya engkau bersikap kasar dan berhati keras[31], niscaya mereka akan menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (Ali ‘Imran: 159)[32]

 

  1. Keputusan memberi dan membuka lembaran baru bagi anggota musyawarah.
  2. Keputusan melahirkan suasana baru yang lebih sesuai dengan sikon.
  3. Keputusan untuk kemaslahatan orang banyak.

9.     Khazanah Aplikasi dalam Peradaban Islam

Pada waktu kaum muslimin mendapatkan kemenangan dalam perang badar, banyak orang-orang musyrikin yang menjadi tawanan perang. Untuk menyelesaikan masalah itu Rasulullah saw, mengadakan musyawarah dengan Abu bakar siddiq dan Umar bin khatab agar melahirkan sebuah keputusan yang baik. Rasulullah saw meminta pendapat Abu bakar tentang tawanan perang tersebut. Abu bakar memberikan pendapatnya bahwa tawanan perang itu sebaiknya di kembalikan kepada keluarganya dengan membayar tebusan. Hal man sebagai bukti bahwa Islam itu lunak. Kepada Umar bin khatab juga diminta pendapatnya. Dia mengemukakan, bahwa tawanan perang itu dibunub saja. Yang diperintah membunuh adalah keluarganya. Hal mana dimaksudkan agar di belakang hari mereka tidak berani lagi menghina dan mencaci Islam. Sebab bagaimana Islam perlu memperlihatkan kekuatan di mata mereka.

Dari dua pendapat yang bertolak belakang ini Rasulullah saw sangat kesulitan untuk mengambil keputusan. Akhir Allah swt menurunkan surat Ali ‘Imran ayat ke-159 yang menegaskan agar Rasulullah berbuat lemah lembut. Kalau berkeras hati, mereka tentu tidak akan menarik simpati sehingga mereka akan lari dari agama Islam. Ayat ini juga memberi peringatan kepada Umar bin khatab, apabila permusyawarahan pendapat hendaklah diterima dan bertawakal kepada Allah swt. (H.R. Kalabi dari Abi shalih dari Ibnu abbas).

Hal itu mengingat, bahwa didalam musyawarah, silang pendapat selalu terbuka, apalagi jika orang-orang yang terlibat terdiri dari banyak orang. Oleh sebab itulah, Allah memerintah Nabi agar menetapkan peraturan itu, dan mempraktekkannya dengan cara yang baik. Nabi saw manakala bermusyawarah dengan para sahabatnya senantiasa bersikap tenang dan hati-hati. Beliau memperhatikan setiap pendapat, kemudian mentarjihkan suatu pendapat dengan pendapat lain yang lebih banyak maslahatnya dan faedahnya bagi kepentingan kamu Muslimin, dengan segala kemampuan yang ada.

Sebab, jamaah itu jauh kemungkinan dari kesalahan dibandingkan pendapat perseorangan dalam berbagai banyak kondisi. Bahaya yang timbul sebagai akibat dari penyerahan masalah umat terhadap pendapat perorangan, bagaimanapun kebenaran pendapat itu, akibatnya akan lebih berbahaya dibandingkan menyerahkan urusan mereka kepada pendapat umum.

Memang Nabi saw. selalu berpegang pada musyawarah selama hidupnya dalam menghadapi semua persoalan. Beliau selalu bermusyawarah dengan mayoritas kaum Muslimin, yang dalam hal ini beliau khususkan dengan kalangan ahlurru’yi dan kedudukan dalam menghadapi perkara-perkara yang apabila tersiar akan membahayakan umatnya.

Demikian beliau melakukan musyawarah pada waktu pecah perang Badar, setelah diketahui bahwa orang-orang Quraisy telah keluar dari Mekkah untuk berperang. Nabi, pada waktu itu tidak menetapkan suatu keputusan sebelum kaum Muhajirin dan Anshar menjelaskan isi persetujuan mereka. Juga musyawarah yang pernah beliau lakukan sewaktu menghadapi perang Uhud.

Nabi saw. selalu bermusyawarah dengan para sahabatnya dalam menghadapi masalah-masalah penting untuk mengambil suatu keputusan, selagi tidak ada wahyu mengenai hal itu. Sebab, jika ternyata jika Allah menurunkan wahyu, wajiblah Rasulullah melaksanakan perintah Allah yang terkandung dalam wahyu itu. Nabi saw. tidak mencanangkan kaidah-kaidah dalam bermusyawarah. Karena bentuk musyawah itu berbeda-beda sesuai denga sikon masyarakat, serta sesuai dengan perkembangan zaman dan tempat. Sebab, seandainya Nabi mencanangkan kaidah-kaidah musyawarah, maka pasti hal itu akan diambil sebagai Dien oleh kaum Muslimin, dan mereka berupaya untuk mengamalkannya pada segala zaman dan tempat.

Oleh karena itulah, ketika Abu Bakar diangkat menjadi khalifah, para sahabat mengatakan bahwa Rasulullah saw sendiri rela sahabat Abu Bakar menjadi pemimpin agama kami, yaitu tatkala beliau sakit beliau sakit dan memerintahkan Abu Bakar mengimani shalat. Lalu mengapa kita tidak rela padanya dalam urusan duniawi kita, itu alasan umat sepeninggal Rasul saw dalam mengambil sebuah keputusan untuk menggantikan kursi kepememimpinan umat Islam.[33]

Dan yang lebih tinggi lagi tingkatan waktu lahirnya sebuah peradaban yang diceritakan dalam Islam adalah lahirnya “keputusan” Allah SWT yang akan menciptakan khalifah di muka bumi, dan sebelum keputusan itu dilaksanakan terjadi dialog antara Allah SWT dengan malaikat-Nya, akan tetapi penafsiran didalam Tafsir Al-Maraghi surat Al-Baqarah ayat 30, menegaskan bukan terjadi musyawarah antara Tuhan dan malaikat dalam pengambilan keputusan; bahwasannya Allah SWT akan menciptakan khalifah di muka bumi, sebab itu mustahil sekali seandainya Sang-Pencipta bermusyawarah (minta pendapat) dengan makhluk ciptaan-Nya, diterangkan bahwa disana Tuhan menjelaskan secara detail sebab Tuhan akan menciptakan khalifah di muka bumi.[34]

 

10.  Khazanah dalam Manajemen Pendidikan Islam

Adakalanya suatu keputusan dituntut untuk segera diambil oleh pemimpin. Tuntutan kecepatan ini biasanya terkait dengan keadaan yang membutuhkan penyelesaian mendesak, semakin cepat semakin baik. Dalam hal ini, pemimpin dihadapkan pada tiga kemungkinan, yaitu keputusan dapat diambil dengan cepat tetapi kurang sempurna, keputusan yang diambil relatif sempurna tetapi terlambat, dan keputusan yang dapat diambil dengan cepat dan relatif sempurna. Diantara ketiganya itu keputusan yang cepatdan relatif sempurna tentu menjadi pilihan, tetapi sayangnya keputusan semacam ini jarang terjadi, realita menunjukkan bahwa yang sering terjadi justru keputusan yang pertama atau kedua.[35]

Diantara dua macam keputusan itu, Madhi memilih model keputusan yang pertama, dia mengatakan bahwa keputusan yang tegas tetapi kurang sempurna dan ditindak lanjuti dengan baik, lebih utama dari pada suatu keputusan yang ideal dan cermat tapi terlambat. Ketegasan menjadi penting agar permasalahan yang dihadapi tidak mengambang tanpa tentu arahnya, ketegasan dalam mengambil keputusan mampu meredam kebimbangan dan meujudkan kepastian sikap yang harus dijalani. Misalnya, apakah kepala Madrasah harus menghukum siswa yang melakukan pelanggaran atau membebaskannya. Kepastian keputusan itu harus segera diwujudkan dengan memperhatikan faktor apa yang mempengaruhi pengambilan keputusan seperti bahasan poin diatas.

Adapun para pelaku pengambil keputusan dalam sebuah organisasi pendidikan dan mereka inilah yang mewarnai keputusan yang diambil oleh pemimpin organisasi pendidikan. Orang yang paling layak diajak bekerjasama dalam pembuatan keputusan pada tingkat organisasi adalah kepala sekolah, sebaliknya bagi kepala sekolah orang yang paling layak diajak bekerja sama dalam pembuatan keputusan pada tingkat organisasi adalah guru, atau lebih luas lagi anggota komite sekolah. Intinya dalam proses pengambilan keputusan sebaiknya jangan dilakukan sendiri, tetapi harus melibatkan banyak pihak terkait agar dapat memberikan berbagai pandangan dan pertimbangan sehingga menghasilkan keputusan yang jernih, rasional, dan dapat dipertanggungjawabkan pada atasan maupun publik. Terlebih lagi era saat ini merupakan suatu era yang menuntut adanya transparansi dan partisipasi berbagai pihak.

Demikianlah hal yang perlu diperhatikan oleh pemimpin lembaga pendidikan Islam dalam menjalankan roda organisasi, agar keputusan yang diambil benar-benar produktif dan pada akhirnya dapat mengantarkan pada keberhasilan serta kemajuan pendidikan yang dipimpin.[36]

 

PENUTUP 

Kesimpulan

1.     Keputusan merupakan suatu pemecahan masalah sebagai suatu hukum situasi yang dilakukan melalui pemilihan satu alternatif dari beberapa alternatif.

2.  Pengambilan keputusan adalah pemilihan alternatif perilaku dari dua alternatif atau lebih tindakan pimpinan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam organisasi yang dipimpinnya dengan melalui pemilihan satu diantara alternatif-alternatif yang dimungkinkan.

3.     Faktor yang mempengaruhi proses pengambilan keputusan: Informasi yang diketahui perihal permasalahan yang dihadapi, tingkat pendidikan, personality, proses adaptasi, dan cultur.

4.     Peran kepemimpinan dalam pengambilan keputusan: menganalisis situasi yang tidak pasti atau beresiko; identifikasi masalah, memformulasikan alternatif, evaluasi keputusan, memperoleh dan menggunakan data dengan menanyakan hal lainnya; rasional, kreatif, memilih di antara alternatif-alternatif tindakan; cerna masalah, identifikasi alternatif, tentukan prioritas dan ambil langkah.

5.  Prinsip-prinsip pengambilan keputusan berdasarkan Islam: diluar kepentingan pribadi, dari pendapat ahlinya, adil, lihat kausalitasnya, bersandarkan pada Al-Qur’an dan Hadits, waktu yang panjang, evaluasi dan demokrasi.

6.     Ayat yang diambil dalam pembahasan ini ada dua, yaitu: (Q.S Al-Baqarah:30), dengan pertimbangan dalam ayat ini menjelaskan tentang musyawarah dalam mengambil suatu keputusan didalam kehidupan karena manusia adalah pemimpin untuk mengatur bumi, sebagaimana Tuhan mengambil keputusan akan menciptakan manusia di bumi,  dan (Q.S Asy-Syuura:38), dijelaskan juga musyawarah dalam mengambil keputusan pada ayat ini tentang pemilihan khalifah (pengganti kepemimpinan/penerus) Rasul saw.

7.     Hadits yang diambil dalam pembahasan ini ada dua, riwayat Ad-Darimi dan Ahmad. Dalam kedua hadits tersebut menjelaskan bahwasannya mengambil suatu keputusan tidak boleh keluar dari Al-Qur’an dan Sunah, juga dari para pemuka masyarakat (ahli dalam bidangnya), dan juga tidak boleh sepihak, sebagaimana yang dilakukan oleh para khalifah.

8.     Sanad perawi hadist penulis buat diagram, di dalamnya urutan-urutan perawi mulai dari sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, perawi dan penuyusun hadist. Juga dijelaskan berdasarkan penyandaranya hadist pertama mauquf, kemudian berdasarkan gugurnya sanad muqothi’, lalu berdasarkan banyaknya jalan gharib. Hadist kedua berdasarkan penyandaranya Marfu’ dan berdasarkan banyaknya jalan gharib juga.

9.     Khazanah sosial Islamiahnya: mengambil keputusan dengan bermusyawarah akan menciptakan keikhlasan dan keberkahan, akan melahirkan keputusan yang terbaik, menjaga persatuan, mengambil keputusan juga dengan lemah lembut dan melahirkan hal yang baru.

10.  Khazanah aplikasinya dalam peradaban Islam: pada waktu kaum Muslim menang dalam perang Badar, banyak dari pihak musuh ditawan, dan para sahabat Rasul memiliki pendapat masing-masing untuk memutuskan akan diapakan tawanan tersebut, ada yang memberi keputusan dibunuh, ada juga yang dilepaskan saja, ada juga yang disuruh membayar denda. Dan akhirnya turunlah suatu ayat Q.S Al-Imran: 159 yang menjelaskan agar mengambil suatu keputusan itu harus lemah lembut, apa lagi Islam saat itu sedang pembabatan, agar menarik simpati dan tidak melahirkan klaim Islam itu kejam akhirnya dilepaskanlah para tawanan itu dengan harapan akan menyebarkan informasi bahwa Islam itu cinta kedamaian. Dan yang perlu diperhatikan juga dalam mengambil suatu keputusan harus dilihat dari berbagai aspek; aspek sikon daerahnya, masyarakatnya, waktunya, dll.

11.  Khazanah dalam Manajemen Pendidikan Islam: dalam sebuah organisasi pengambilan keputusan amat sangat diperhatikan oleh pemimpin organisasi itu, karena dari keputusan itulah yang menentukan maju dan berhasilnya suatu organisasi pendidikan. Keputusan yang tegas, cepat dan rasional yang menghantarkan sebuah organisasi itu mencapai keberhasilan serta kemajuan pendidikan yang dipimpin.

 

 

 "والله أعلم بالصواب "

  

DAFTAR PUSTAKA

 

Al-Maraghi, Mustofa, Ahmad. Terjemah Tafsir Al-Maraghi –Penterjemah: Anshori Umar Sitonggal. Semarang: CV. Thoha Putra, 1992.

_________________, Ahmad. Tafsir Al-Maraghi. Semarang: CV. Toha Putra, 1986.

Al-Qarni, Aidh. Tafsir Muyassar Jidil 4. Jakarta: Qisthi Press, 2008.

Al-Qardhawi, Yusuf. Pengantar Studi Hadits. Bandung: Pustaka Setia, 2007.

Andi Subarkah, dkk. Syamil Al-Qur’an Miracle The Reference. Bandung: Sygma Publishing, 2011.

Asy-Syarifain, al-Haramaini, Khadim. Al-Qur’an dan Terjemahnya. Jakarta: Depag R.I, 1971.

Firman. Kandungan Surah Al-Baqarah: 30, dalam http://www.firmanthok.web.id/2009/10/kandungan-surat-al-baqarah-ayat-30.html, diakses pada kamis, 15 Nov 2012.

Fujiwara, Ryan. Pengambilan Keputusan, dalam http://www.scribd.com/doc/47251522/KWU, diakses pada jum’at, 09 Nov 2012.

Hamid, Ali. Akhlaqiyât al-Mihnah Mišlu wa ‘Araf Asy-Syurtah wa Kayfiÿatu Tathbiqoha. Yaman: Jami’ah Naif al-‘Arabiyah lil ‘Ulumi al-‘Ammiyah, 2008.

Hasan, Terjemah Bulughul Maram Bab Memutus Perkara. Bandung: CV. Diponegoro, 2000.

Ihsan, Muhammad. Peran Kepemimpinan Dalam Pengambilan Keputusan, Mengendalikan Konflik Dan Membangun Tim, dalam http://www.ruangihsan.net/2009/08/peran-kepemimpinan-dalam-pengambilan.html diakses pada rabu, 7 Nov 2012.

Ikhwan, Afiful. Perencanaan Pendidikan dalam Manajemen Mutu Terpadu Pendidikan Islam, dalam http://afifulikhwan.blogspot.com/2011/12/perencanaan-pendidikan-dalam-manajemen.html, diakses pada kamis 15 Nov 2012.

Ismail, Bustamam. Al-Qur’an tentang Demokrasi, dalam http://hbis.wordpress.com/2008/12/10/al-qur%E2%80%99an-tentang-demokrasi/, diakses pada kamis, 15 Nov 2012.

Juliadi, Keputusan dan Pengambilan Keputusan, dalam http://juliadi.wikispaces.com/, diakses pada 10 Nov 2012.

Katsir, Ibnu. Tafsir Al-Qur’an al ’Azim Jilid IV. Beirut: Daarul Fikri, t.t.

___________, Tafsir At-Thabari Jilid XX, Kairo: Dar Hijr, 2001.

Lembaga Ilmu Dakwah & Publikasi Sarana Keagamaan, Kitab 9 Imam Hadist, Jakarta Timur: Lidwa Pusaka i-Software, 2011.

Muhammad bin Jarir, Abu Ja’far, At-Tabari. Tafsir At-Thabari Jilid I. Kairo: Dar Hijr, 2001.

Qomar, Mujamil. Strategi Baru Pengelolaan Lembaga Pendidiakan Islam-Manajemen Pendidikan Islam. Surabaya: Erlangga, 2007.

Satria, Pengambilan Keputusan dalam Manajemen, dalam http://satriabajahikam.blogspot.com/2012/02/pengambilan-keputusan-dalam-manajemen.html, diakses pada kamis 05 Nov 2012.

Shafiyurrahman, Mubarakfury. Al-Misbah Al-Munir fi Tahzib Tafsir Ibnu Kasir. Riyadh: Darussalam, t.t.

Shihab, Quraish. Membumikan Al-Qur’an Fungsi dan Peran Wahyu dalam

Kehidupan Masyarakat. Bandung: Mizan, 1994.

_____________, Wawasan Al-Qur'an Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat. Bandung: Mizan, 2000.

Veithzal, Rivai. Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2007.

Wikepedia, Ensiklopedia Bebas, dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Surah_Asy-Syura, diakses pada kamis 15 Nov 2012.

Wahbah, Az-Zuhaily. At Tafsir Al Wajiz ‘ala Hamisil Qur’anil ‘Adzim. Damaskus Syiria: Darul Fikr, t.t.

Yunistia, Vienna. Definisi Pengambilan Keputusan Menurut Para Ahli, dalam http://www.scribd.com/doc/52282565/definisi-keputusan-menurut-ahli#download, diakses pada 09 Nov 2012.

 


 

[1]Juliadi, Keputusan dan Pengambilan Keputusan, dalam http://juliadi.wikispaces.com/, diakses pada 10 Nov 2012.

[2]Vienna Yunistia, Definisi Pengambilan Keputusan Menurut Para Ahli, dalam http://www.scribd.com/doc/52282565/definisi-keputusan-menurut-ahli#download, diakses pada 09 Nov 2012.

[3]Satria Baja Hikam, Penambilan Keputusan dalam Manajemen, dalam http://satriabajahikam.blogspot.com/2012/02/pengambilan-keputusan-dalam-manajemen.html, diakses pada Kamis 05 Nov 2012.

[4]Ryan Fujiwara, Pengambilan Keputusan, dalam http://www.scribd.com/doc/47251522/KWU, diakses pada 09 Nov 2012.

[5]Ibid.

[6]Rivai, Veithzal, Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2007), t.h.

[7]Ibid.

[8]Muhammad Ihsan, Peran Kepemimpinan Dalam Pengambilan Keputusan, Mengendalikan Konflik Dan Membangun Tim, dalam http://www.ruangihsan.net/2009/08/peran-kepemimpinan-dalam-pengambilan.html diakses pada 7 Nov 2012.

[9]Yusuf Al-Qardhawi, Pengantar Studi Hadits (Bandung: Pustaka Setia, 2007), 209.

[10]Afiful Ikhwan, Perencanaan Pendidikan dalam Manajemen Mutu Terpadu Pendidikan Islam, dalam http://afifulikhwan.blogspot.com/2011/12/perencanaan-pendidikan-dalam-manajemen.html, diakses pada Kamis 15 Nov 2012.

[11]Andi Subarkah, dkk., Syamil Al-Qur’an Miracle The Reference (Bandung: Sygma Publishing, 2011), 9.

[12]Khadim al-Haramaini asy-Syarifain, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Jakarta: Depag R.I, 1971), 789.

[13]Penulis menyadur (mengolah hasil pemahaman sendiri) dari ayat terkait.

[14]Wikepedia, Ensiklopedia Bebas, dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Surah_Asy-Syura, diakses pada Kamis 15 Nov 2012.

[15]Az-Zuhaily, Wahbah. At Tafsir Al Wajiz ‘ala Hamisil Qur’anil ‘Adzim (Damaskus Syiria: Darul Fikr, t.t), 488.

[16]Firman, Kandungan Surah Al-Baqarah: 30, dalam http://www.firmanthok.web.id/2009/10/kandungan-surat-al-baqarah-ayat-30.html, dikases pada 15 Nov 2012.

[17]Bustamam Ismail, Al-Qur’an tentang Demokrasi, dalam http://hbis.wordpress.com/2008/12/10/al-qur%E2%80%99an-tentang-demokrasi/, diakses pada Kamis, 15 Nov 2012.

[18]At-Tabari, Abu Ja’far Muhammad bin Jarir, Tafsir At-Thabari Jilid I  (Kairo: Dar Hijr, 2001),  470-500.

[19]Mubarakfury, Syeikh Shafiyurrahman, Al-Misbah Al-Munir fi Tahzib Tafsir Ibnu Kasir (Riyadh: Darussalam), 40-41.

[20]At-Tabari, Abu Ja’far Muhammad bin Jarir, Tafsir At-Thabari Jilid XX…, 420-523.

[21]Mubarakfury, Syeikh Shafiyurrahman, Al-Misbah Al-Munir…, 981.

[22]‘Aidh al-Qarni, Tafsir Muyassar Jidil 4 (Jakarta: Qisthi Press, 2008), 23.

[23]Ibnu Katsir, Sirah dan Tarikh Islam, Al Bidayah wa An Nihayah Jilid 6…, 308.

[24]A. Hasan, Terjemah Bulughul Maram Bab Memutus Perkara No.1415 (Bandung: CV. Diponegoro, 2000), 639.

[25]Lembaga Ilmu Dakwah & Publikasi Sarana Keagamaan, Kitab 9 Imam Hadist, (Jakarta Timur: Lidwa Pusaka i-Software, 2011)

[26]Ibid.

[27]Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat (Bandung: Mizan, 1994), 246.

[28]Ahmad Mushthafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi, (Semarang: CV. Toha Putra, 1986), 196-197.

[29]Ali Hamid, Akhlaqiyât al-Mihnah Mišlu wa ‘Araf Asy-Syurtah wa Kayfiÿatu Tathbiqoha (Yaman: Jami’ah Naif al-‘Arabiyah lil ‘Ulumi al-‘Ammiyah, 2008), 10.

[30]Khadim al-Haramaini asy-Syarifain, Al-Qur’an dan Terjemahnya…, 782.

[31](Dalam urusan peperangan dan hal-hal duniawi lainnya, seperti urusan politik, ekonomi, kemasyarakatan, pendidikan, dan lain-lain). Andi Subarkah, dkk., Syamil Al-Qur’an Miracle…, 139.

[32]Ibid.

[33]Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an al ’Azim Jilid IV (Beirut: Daarul Fikri, tt), 143.

[34]Ahmad Mustofa Al-Maraghi, Terjemah Tafsir Al-Maraghi –Penterjemah: Anshori Umar Sitonggal (Semarang: CV. Thoha Putra, 1992), 130-137.

[35]Mujamil Qomar, Strategi Baru Pengelolaan Lembaga Pendidiakan Islam-Manajemen Pendidikan Islam (Surabaya: Erlangga, 2007), 294.

[36]Ibid…, 297.

 

*) Penulis adalah mahasiswa SPS program S3 doktor MPI UIN MLG

FacebookTwitterGoogle+LinkedIn

Gallery

slide3 slide2 slide1
FacebookTwitterGoogle+LinkedIn