Archive for : October, 2010

ANALISIS DAN INTERPRETASI ITEMAN

 

 

B.   INTERPRETASI ITEMAN

Dalam analisis iteman, perlu dijabarkan secara rinci dalam interpretasi iteman, yang meliputi:

  1. Analisis soal.
  2. Analisis option (pilihan jawaban).
  3. Analisis kualitatif.

Berikut ini dijelaskan secara rinci,” Interpretasi iteman” yang didapat dari:

Mata Pelajaran         : Pendidikan Agama Islam

Kelas / Semester      : IV (empat) / I (Ganjil)

Tahun Pelajaran       : 2008-2009

Sekolah                   : SDN Wajak Lor I

Alamat                     : Jl. Raya Wajak Lor- Boyolangu-Tulungagung

Materi                      : Kisah Nabi dan Perilakunya

Dari materi pokok tersebut didapatkan SK, KD dan indikator, yaitu:

I.    Standar Kompetensi     : Menceritakan kisah Ibrahim dan Nabi Ismail as.

      Kompetensi Dasar        : Menceritakan Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail as.

Indikator                      :

1.   Menjelaskan kisah hidup Nabi Ibrahim as dan Ismail as..

2.   Menyebutkan keluarga Nabi Ibrahim as dan Ismail as.

3.   Menjelaskan dakwah Nabi Ibrahim as kepada ayahnya.

4.   Menjelaskan kisah Nabi Ismail di Mekah dan air zam-zam.

5.   Menyebutkan ketaatan nabi Ismail as terhadap Allah SWT dan ayahnya.

Materi Pokok               : Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as.

II.   Standar Kompetensi     : Kisah Ibrahim dan Nabi Ismail as.

      Kompetensi Dasar        : Membiasakan perilaku terpuji.

Indikator                      :

1.   Menjelaskan ketaatan hidup Nabi Ibrahim as dalam menerima ujian dari Allah SWT.

2.   Meneladani keteguhan hati Nabi Ibrahim as dalam berdakwah.

3.   Menceritakan kisah Nabi Ismail as.

4.   Menceritakan akhlak Nabi Ismail as yang taat dalam kehidupan.

5.   Meneladani akhlak Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as dalam kehidupan sehari-hari.

Materi Pokok               : Perilaku Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as.

Pada “interpretasi soal’ terdapat kaidah penulisan soal pilihan ganda (PG) pada soal-soal disimbolkan dengan:

1.   Soal harus sesuai dengan indokator.

2.   Pengecoh berfungsi.

3.   Setiap jawaban mempunyai satu jawaban yang benar.

4.   Pokok soal dirumuskan secara tegas dan jelas.

5.   Pokok soal tidak memberi petunjuk ke arah jawaban yang benar.

6.   Plihan jawaban homogen dan logis ditinjau dari segi materi.

7.   Panjang rumusan pilihan jawaban harus relatif sama.

8.   Pilihan jawaban tidak mengandung pernyataan “semua pilihan jawaban di atas salah atau benar”.

9.   Pilihan jawaban yang berbentuk angka disusun berdasarkan urutan besar kecilnya nilai angka.

10. Soal tidak bergantung pada jawaban soal sebelumnya.

11. Soal menggunakan bahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.

12. Pernyataan mudah dimengerti warga belajar siswa.

 


 

 Pop endorsing atau pop correct : proporsi siswa yang menjawab benar butir soal. Bila nilai ekstrim (mendekati nol atau satu) menunjukan bahwa butir soal terlalu sukar atau terlalu mudah untuk peserta tes.

Biser adalah indeks daya pembeda soal dengan menggunakan koefisien korelasi biserial. Nilai positif menunjukkan bahwa peserta tes yang menjawab benar butir soal mempunyai skor yang relatif tinggi dalam tes atau skala tersebut. Sedangkan nilai negatif menunjukkan bahwa peserta yang menjawab benar butir soal memproleh skor yang relatif rendah dalam tes atau skala tersebut. Untuk statistik pilihan jawaban (alternatif) korelasi biserial negatif sangat tidak dikehendaki untuk kunci jawaban dan sangat dihendaki untuk pilihan jawaban yang lain (pengecoh).

Point biser adalah daya pembeda soal dan pilihan jawaban (alternatif) dengan menggunakan koefisien point biserial. Nilai -9,00 menunjukkan statistika butir soal pilihan jawaban tidak dapat dihitung. Hal tersebut terjadi bila tidak ada peserta tes menjawab butir soal atau pilihan jawaban tersebut.

Adapun skala pedoman kriteria tingkat kesukaran dengan daya pembeda pada items statisties dan alternative statisties sebagai berikut:

1.   Tingkat kesukaran (pop correct dan pop endorsing).

0, 00 – 0, 30 = sukar

0, 31 – 0, 70 = sedang (tidak terlalu sukar atau mudah)

0, 71 – 1, 00 = mudah

2.   Daya pembeda (Biser dan point biser).

0, 40 – 1, 00 = baik

0, 30 – 0, 39 = diterima dan diperbaiki

0, 20 – 0, 29 = diperbaiki

0, 19 – 0, 00 = mudah

Berikut diuraikan ketiga interpretasi di atas:

1.   Ayah Nabi Ibrahim bernama….

a.   Azzar                                                c.   Ghaffar

b.   Nizar                                                 d.   Azzam

A.   Interpretasi Soal sesuai no. 4, 5, 6, 7, 8, 10, 11, dan 12, selain itu soal sesuai dengan:

-     Indikator, yaitu: menyebutkan keluarga Nabi Ibrahim as” (ayahnya yang bernama Azzar) dan keluarga Nabi Ismail, dalam hal ini berarti kakek Nabi Ismail as (no 1).

-     Pengecoh berfungsi (no. 2) dimana siswa dengan nilai rendah terkecoh dengan jawaban, A, B, D sedang siswa dengan nilai tinggi, banyak yang menjawab A sebanyak 9 siswa, meskipun Pop correct 0, 55 (sedang tidak terlalu sukar atau mudah).

B.   Interpretasi Option

Alternatif

Pop Endorsing

Biser

Point Biser

A

0, 55 = sedang

0, 659    = baik

0, 525   = baik

B

0, 2   = sukar

- 0, 53    = ditolak

-0, 371  = ditolak

C

0, 1   = sukar

- 0, 41    = ditolak

- 0, 371 = ditolak

D

0, 15 = sukar

- 0, 79    = ditolak

- 0, 517 = ditolak

Yang lain

0, 00 = -

-9, 00     = tidak dapat dihitung

-9, 0      = tidak dapat dihitung

 

C.   Interpretasi Kualitatif

  1. Soal

a.  Pop correct(tingkat kesukaran), 0, 550, berarti proporsi siswa yang menjawab benar butir soal kategori sedang (tidak terlalu sukar atau mudah).

b.   Biser (daya pembeda) 0, 659 = baik, indeks yang koefisien korelasi biserial positif menunjukkan bahwa peserta tes yang menjawab benar butir soal, mempunyai skor relatif tinggi dalam tes atau skala tersebut.

c.    Point biser (daya pembeda) soal baik yaitu 0, 625.

2.   Alternatif jawaban

a.    Pop endorsing (tingkat kesukaran) jawaban benar A. Azzar dalam kategori sedang (tidak terlalu sukar atau mudah), jawaban pengecoh B. Nizar, C. ghaffar dan D. Azzam dalam kategori sukar, namun yang paling sukar adalah C .

b.   Biser (daya pembeda) antara A. Azzar dan C. ghaffar memiliki biser baik sedangkan pada B Nizar dan D. Azzam ditolak karena koefisienannya negatif berarti peserta yang menjawab benar butir soal memperoleh skor yang relatif rendah dalam tes skala tersebut dan sangat dikehendaki untuk pilihan jawaban pengecoh.

c.    Point biser (daya pembeda) A. Azzar baik sedangkan C. Ghaffar perlu diperbaiki sedang alternatif B dan D ditolak.

2.   Nabi Ibrahim dihukum Raja Namrud berupa….

a.   dipenjara                                           c.   dibakar

b.   dirajam                                              d.   dibuang kelaut

A.   Interpretasi Soal, sesuai no 4, 5, 6, 7, 8, 10, 11 dan 12 dan selain itu soal sesuai dengan:

-     Indikator, yaitu: menjelaskan dakwah Nabi Ibrahim kepada Raja Namrud.

-     Pengecoh berfungsi (no. 2) dimana siswa rendah terkecoh dengan jawaban A atau B dan D, sedang siswa dengan nilai tinggi banyak menjawab C sebanyak 10 orang

-     no. 4 karena jawaban hanya satu (C).

B.   Interpretasi option

Alternatif

Pop Endorsing

Biser

Point Biser

A

0, 1   = sukar

-0, 231  = ditolak

-0, 135 = ditolak

B

0, 1   = sukar

-0, 487  = ditolak

-0, 285 = ditolak

C

0, 6   = sedang

0, 419   = baik

0,331 = diterima dan diperbaiki

D

0, 2   = sukar

-0, 129  = ditolak

-0, 9     = ditolak

Yang lain

0, 00 = -

-9, 00    = tidak

dapat dihitung

-9,00  = tidak dapat dihitung

 

C.   Interpretasi Kualitatif

  1. Soal

-     Pop correct 0, 6, berarti proporsi siswa yang enjawab benar butir soal dalam kategori sedang (tidak terlalu sukar atau mudah).

-     Biser (daya pembeda) = 0, 419 = baik. Indeks menunjukkan nilai positif menunjukkan bahwa peserta tes yang menjawab benar butir soal mempunyai skor yang relatif tinggi dalam tes /skala tersebut.

-     Point biser (daya pembeda) soal 0, 331 berarti soal diterima namun perlu diperbaiki.

2.   Alternatif jawaban

-     Pop endorsing (tingkat kesukaran) jawaban A. dipenjara B. dirajam dalam kategori sukar, jawaban C. dibakar merupakan jawaban benar dengan tingkat kesukaran sedangkan jawaban D. dibuang ke laut, alternatif jawaban (pembeda) jawaban benar C. dibakar adalah baik sedangkan daya pembeda A, B, D dengan koefisien negatif berarti kunci tersebut sangat tidak dikehendaki.

-     Point biser (daya pembeda) pada C diterima dan diperbaiki sedangkan alternatif A, B, D ditolak.

3.   Nabi Ibrahim membangun ka’bah bersama…

a.   Ismail                                                c.   Ishaq

b.   Sarah                                                d.   Muhammad

A.   Interpretasi Soal sesuai no. 4, 5, 6, 7, 8, 10, 11 dan 12, selain itu soal sesuai dengan:

 -    Indikator yaitu “menyebutkan kisah Nabi Ismail di Makkah”, yaitu Nabi Ismail membangun ka’bah bersama ayahnya di Makkah” (no. 1).

-     Pengecoh berfungsi (no. 2) dimana siswa dengan nilai rendah terkecoh denga jawaban B dan C .Padahal siswa dengan nilai tinggi yang menjawab A 8 orang sebagai jawaban benar A. Ismail.

-     no. 4 karena jawaban hanya satu (A).

B.   Interpretasi Option

Alternatif

Pop endorsing

Biser

Point Biser

A

0, 75 = mudah

0, 142    = ditolak

0, 104 = ditolak

B

0, 05 = sukar

-0, 742   = ditolak

0, 357 = diterima + diperbaiki

C

0, 15 = sukar

0, 077    = ditolak

0, 05    = ditolak

D

0, 05 = sukar

0, 131    = ditolak

0, 062   = ditolak

Yang lain

0, 00 = -

-9,00 = tidak dapat dilihat

-9,00 = tidak dapat dilihat

C.  Interpretasi Kualitatif

I.    Soal

a.   Pop Correct = 0,7, berarti proporsi siswa yang menjawab benar butir soal dalam kategori sedang (tidak terlalu sukar atau mudah).

b.   Biser (daya pembeda) = 0, 142 = ditolak, meskipun ditolak, namun karena bernilai positif menunjukkan bahwa peserta tes yang menjawab benar butir soal  mempunyai skor yang relatif tinggi dalam tes atau skala tersebut.

c.   Point Biser (daya pembeda) soal 0,104 = ditolak

II.   Alternatif Jawaban

a.   Pop Endorsing (tingkat kesukaran) jawaban A. Ismail sebagai jawaban benar dalam kategori mudah, sedangkan jawaban B, C, D dalam kategori sukar, namun jawaban yang lebih sukar adalah jawaban B. Sarah dan D. Muhammad.

b.   Biser (daya pembeda) jawaban A, B, dan D ditolak dengan koefisien positif, yang berarti meskipun alternatif tersebut ditolak, namun pserta tes yang menjawab benar butir soal mempunyai skor yang relatif tinggi dalam tes / skala tersebut, sedangkan pada B. Sarah, menunujukkan bahwa peserta tes yang menjawab butir soal memperoleh skor yang relatif rendah dalam tes / skala tersebut. namun hal ini sangat dikehendaki untuk jawaban lain (pengecoh)_.

c.   Point Biser (daya pembeda) B. Sarah diterima dan diperbaiki sedangkan alternatif A, C, D ditolak.

4.   Nabi Ibrahim bergelar “khalilullah’ karena….

a.   kekayaannya                                     c.   ketaqwaannya

b.   kesabarannya                                    d.   kebaikannya

A.  Interpretasi Soal, sesuai no. 4, 5, 6, 7, 8, 10, 11 dan 12, selain itu soal sesuai dengan:

-     Indikator yaitu menjelaskan kisah hidup nabi Ibrahim, termasuk gelarnya “khalilullah”.

-     No. 4, karena jawaban hanya 1 C. ketaqwaannya.

B.   Interpretasi Option

Alternatif

Pop Endorsing

Biser

Point Biser

A

0, 05 = sukar

-0, 305    = ditolak

-0,145   = ditolak

B

0, 15   = sukar

0,007   = ditolak

0,05  = ditolak

C

0, 7   = mudah

0, 608   = baik

0, 461 = ditolak

D

0, 1 = sukar

- 1, 00    = ditolak

- 0, 66 = ditolak

Yang lain

0, 00 = -

-9, 00     = tidak dapat dihitung

-9, 0      = tidak dapat dihitung

 

C.  Interpretasi Kualitatif

I.    Soal

a. Pop Correct (tingkat kesukaran) 0,7 berarti proporsi siswa yang menjawab benar butir soal dalam kategori sedang (tidak terlalu sukar atau mudah).

b.   Biser (daya pembeda) 0,608 baik, indeks koefisien positif menunjukkan bahwa peserta tes yang menjawab butir soal mempunyai skor relative tinggi dalam tes atau skala tersebut.

c. Point biser (daya oembeda) soal baik 0,461.

II.   Alternatif jawaban

  1. Pop Endorsing (tingkat kesukaran), jawaban benar C. ketaqwa-annya dalam kategori mudah, sedangkan jawaban A, B, D adalah sukar, jawaban yang lebih sukar jawab-A kekayaannya.
  1. Biser (daya pembeda). jawaban benar baik, amun jawaban A, B, dan D ditolak, namun pada B karena koefisien positif, maka peserta tes yang menjawab benar butir soal mempunyai skor yang relatif tinggi dalam tes atau skala tersebut sedangkan pada A dan D karena koefisiennya negatif, maka peserta tes yang menjawab butir soal memperoleh skor yang relatif rendah dalam tes /skala tersebut dan hal ini sangat dikehendaki untuk jawaban pengecoh.
  1. Point biser (daya pembeda) C. baik sedangkan pada A, B da D ditolak.
  1. Nabi Ibrahim lahir ditegah-tengah masyarakat penyembah…

 a.  Matahari                                            c.   Allah

b.   Bintang                                              d.   Berhala

A.   Interpretasi Soal sesuai no. 4, 5, 6, 7, 8, 10, 11 dan 12, selain itu soal sesuai dengan:

-     indikator yaitu “menyebutkan kisah nabi Ibrahim as” dimana beliau lahir ditengah masyarakat yang kafir”penyembah” berhala (no. 10).

-     Pengecoh berfungsi no. 2 dimana siswa dengan nilai rendah terkecoh dengan jawaban Adan B sedangkan siswa dengan nilai tinggi banyak yang menjawab D. berhala sebanyak 50% dari keseluruhan siswa (10 orang) dengan Pop Correct 0,7 = sedang (tida terlalu sukar/mudah).

-     No. 4 jawaban hanya 1 yaitu D. Berhala.

B.   Interpretasi Option

Alternatif

Pop Endorsing

Biser

Point Biser

A

0,25 = sukar

-0,92   = ditolak

-0,675  = ditolak

B

0,1   = sukar

-0,103 = ditolak

-0,06    = ditolak

C

0,1   = sukar

-0,103 = ditolak

-0,06    = ditolak

D

0,55 = sedang

0,83    = baik

0,66      = baik

yang lain

0,00 = -

-9,00  = tidak dapat dihitung

-9,00    = tidak dapat dilihat

C.  Intepretasi Kualitatif

I.    Soal

a.   Pop Correct (tingkat kesukaran) 0,55 berarti proporsi siswa yang menjawab benar butir soal dalam kategori sedang (tidak terlalu sukar atau mudah).

b.   Biser (daya pembeda) 0,83 = baik dengan koefisien positif menunjukkan bahwa peserta tes yang menjawab benar butir soal mempunyai skor relatif tinggi.

c.   Point Biser (daya pembeda) soal 0,66 = baik.

II.   Alternatif Jawaban

a.   Pop Endorsing (tingkat kesukaran) jawaban benar D. berhala adalah sedang (tidak terlalu sukar atau mudah) sedangkan jawaban pengecoh a, B, C dalam kategori sukar, namun yang paling sukar adalah B dan C.

b.   Biser (daya pembeda) jawaban D. berhala baik, sedangkan pada A, B dan C ditolak, karena koefisiennya negatif, menunjukkkan peserta  yang menjawab benar butir soal memperoleh skor yang relatif rendah dalam tes atau skala tersebut dan sangat dikehendaki untuk pilihan jawaban lain (pengecoh).

c.   Point Biser (daya pembeda) D. baik sedangkan pada A, B dan C ditolak.

6.   Ibu Nabi Ismail bernama….

a.   Siti Hajar                                           c.   Siti Fatimah

b.   Siti Sarah                                           d.   Siti Aminah

A.   Interpretasi Soal sesuai no. 4, 5, 6, 7, 8, 10, 11 dan 12 selain itu soal sesuai dengan:

-     Indikator, yaitu, menyebutkan keluarga Nabi Ismail disini ibunya Nabi Ismail yaitu Siti Hajar (no. 1).

-     Pngecoh berfungsi (no. 2) dimana siswa dengan nilai rendah terkecoh dengan jawaban C dan D sementara siswa dengan niai tinggi banyak yang menjawab A sebanyak 7 siswa dengan pop correct 0,6 sedang (tidak terlalu sukar atau mudah).

-     No. 4 jawaban hanya 1 hanya A Siti Hajar.

B.   Interpretasi Option

Alternatif

Pop Endorsing

Biser

Point Biser

A

0,6     = sedang

0,128 = ditolak

0,10   = ditolak

B

0,15   = sukar

0,463 = baik

0,302  = ditolak

C

0,15   = sukar

-0,695= ditolak

-0,454 = ditolak

D

0,1     = sukar

0,026  = ditolak

0,015   = baik

yang lain

0,00   = -

-9,00  = tidak dapat dihitung

-9,00    = tidak dapat dihitung

 

C.   Interpretasi Kualitatif

I.    Soal

a.   Pop Correct (tingkat kesukaran) 0,66 berarti proporsi siswa yang menjawab benar butir soal dalam kategori sedang (tidak terlalu sukar atau mudah).

b.   Biser (daya pembeda) 0,128 ditolak, meskipun soal ditolak tapi karena indeks korelasi biserial positif menunjukkan bahwa peserta tes yang  yang menjawab benar butir soal mempunyai skor relatif tinggi dalam tes atau skala tersebut.

c.   Point biser (daya pembeda) ditolak yaitu 0,101.

II.   Alternatif Jawaban

a.   Pop Endorsing (tingkat kesukaran) jawaban benar A. Siti Hajar dalam kategori sukar, namun yang paling sukar adalah D. Siti Aminah.

b.   Biser (daya pembeda) pada jawaban A, B, dan D koefisien biserial menunjukkan positif, berarti peserta tes yang menjawab benar butir soal mempunyai skor yang relatif tinggi dalam tes atau skala tersebut, namun tetap saja posisi alternatif A. ditolak. Pada kunci C dengan koefisien negatif dengan ditolak sebagai alternatif, hal ini menunjukkan bahwa peserta tes yang menjawab butir soal memperoleh skor yang relatif rendah dalam tes atau skala tersbeut, namun hal ini justru dikehendaki untuk jawaban lain (pengecoh).

c.   Point Biser (daya pembeda) pada B diterima dan diperbaiki sedangkan A, E dan E ditolak.

7.   Nabi Ismail melahirkan keturunan Arab….

a.   Badui                                                c.   Musta’ribah

b.   Nadzir                                               d.   Arofah

A.   Interpretasi Soal, sesuai no. 4, 5, 6, 7, 8, 10, 11, 12 selain itu soal sesuai dengan:

-     Indikator yaitu menjelaskan kisah Nabi Ismail termasuk kisahnya di Mekah yang melahirkan keturunan Arab Musta’riban.

-     No. 4 jawaban hanya 1 C. Musta’ribah

B.   Interpretasi option

Alternatif

Pop Endorsing

Biser

Point Biser

A

0,1     = sedang

0,282 = diperbaiki

0,165  = ditolak

B

0  =—-

-9,0- = tidak dapat dihitung

-9,00 = ditolak

C

0,85   = sukar

-0,463  = ditolak

-0,302 = diterima dan diperbaiki

D

0,05     = sukar

0,567  = baik

-0,268 = ditolak

yang lain

0,00 = -

-9,00  = tidak dapat dihitung

-9,00  = tidak da-pat dihitung

 

C.   Interpretasi Kualitatif

I.    Soal

a.   Pop Correct (tingkat kesukaran) 0,85 berarti proporsi siswa yang menjawab benar butir soal dalam kategori mudah.

b.   Biser (daya pembeda) -0,463 = ditolak, berarti peserta tes yang  yang menjawab benar butir soal memperoleh skor relatif rendah dalam tes atau skala tersebut.

c.   Point biser (daya pembeda) soal -0,302 = ditolak.

II.   Alternatif jawaban

a.   Pop Endorsing (tingkat kesukaran) jawaban benar C. dalam kategori mudah, sedangkan jawaban pengecogh (A dan B) sukar bagi siswa.

b.   Biser (daya pembeda) pada jawaban C. ditolak dengan koefisien  negatif yang berarti peserta yang menjawab benar butir soal memperoleh skor yang relatif rendah dalam tes (skala tersebut dan sangat dikehendaki untuk pilihan jawaban pengecoh. Adapun pada A. alternatif diperbaiki dan pada D baik dengan koefisien positif yang menunjukkkan peserta tes yang menjawab benar butir soal atau memperoleh skor yang relatif tinggi dalam tes atau skala tersebut.

c.   Point Biser (daya pembeda) jawaban C sebagai jawaban benar diterima diperbaiki, sedangkan jawaban A ditolak, B tidak dapat dihitung dan pada D alternatif tersebut perlu diperbaiki.

8.   Nabi Ismail meninggal usia…

a.   110 tahun                                          c.   137 tahun

b.   120 tahun                                          d.   157 tahun

A.   Interpretasi Soal, sesuai no. 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12 selain itu soal sesuai dengan:

-     Indikator yaitu menceritakan kisah Nabi Ismail termasuk kapan beliau wafat (no. 1).

-     Pengecoh berfungsi (no. 20 dimana siswa dengan nilai rendah terkecoh dengan jawaban d sedangkan siswa dengan nilai tinggi banyak yang menjawab C. 137 tahun sebantak 4 siswa dengan pop correct 0,6 = mudah.

-     No. 4 jawaban hanya 1 C. 137 tahun

B.   Interpretasi Option

Alternatif

Pop Endorsing

Biser

Point Biser

A

0,05     = sedang

0,131 = ditolak

0,062  = ditolak

B

0,05   = sukar

0,131 = ditolak

0,062  = ditolak

C

0,6   = sukar

0,012  = ditolak

0,009  = ditolak

D

0,3     = sukar

0,091  = ditolak

-0,069 = ditolak

yang lain

-

-9,00  = tidak dapat dihitung

-9,00  = tidak da-pat dilihat

 

C    Interpretasi Kualitatif

I.    Soal

a.   Pop Correct (tingkat kesukaran) 0,6 berarti proporsi siswa yang menjawab benar butir soal dalam kategori mudah.

b.   Biser (daya pembeda) 0,012= ditolak, berarti peserta yang  yang menjawab benar butir soal memperoleh skor relatif rendah dalam tes atau skala tersebut.

c.   Point biser (daya pembeda) soal 0,009 = ditolak.

II.   Alternatif Jawaban

a.   Pop Endorsing (tingkat kesukaran) jawaban benar C. 137 tahun dalam kategori sedang (tidak terlalu sukar atau mudah), sedangkan jawaban pengecoh lain termasuk sukar, namun yang lebih sukar pada a. 110 tahun dan B. 120 tahun.

b.   Biser (daya pembeda) pada jawaban C. ditolak dengan koefisien  negative, hal itu menunjukkan  peserta tes yang menjawab benar butir soal memperoleh skor yang relatif tinggi dalam tes (skala tersebut. Sebagaimana pada A dan B, namun pada alternative D dengan koefisien negatf yang berarti peserta yang menjawab benar butir soal memperoleh skor relatif rendah dalam tes atau skala tersebut dan hal itu sangat dikehendaki untuk pilihan jawaban pengecoh.

c.   Point Biser (daya pembeda) jawaban benar C. ditolak sedangkan jawaban A, B, dan D juga ditolak sebagai alternatif jawaban.

9.   Mata air yang dicari Siti Hajar adalah…

a.   Zamani                                              c.   Zam-Zam

b.   Zam-Zami                                         d.   Zabi

A.   Interpretasi Soal, sesuai no. 4, 5, 6, 7, 8, 10, 11, 12 selain itu soal sesuai dengan:

-     Indikator yaitu menjelaskan kisah Nabi Ismail (termasuk Siti Hajar) di mekah dan air Zam-Zam” (no. 1).

-     Pengecoh berfungsi (no. 2) namun hanya ada satu siswa dengan nilai rendah  menjawab D, namun pada siswa dengan nilai tinggi menjawab siswa (no.2).

-     No. 4 jawaban hanya 1 C. Zam-Zam.

B.   Interpretasi Option

Alternatif

Pop Endorsing

Biser

Point Biser

A

0,05     = sukar

0,131 = ditolak

0,062  = ditolak

B

0,05   = sukar

0,131 = ditolak

0,062  = ditolak

C

0,85   = mudah

0,212  = ditolak

0,139  = ditolak

D

0,05     = sukar

0,742  = ditolak

-0,351 = ditolak

yang lain

0,0 = -

-9,00  = tidak dapat dihitung

-9,00  = tidak da-pat dilihat

 

C.   Interpretasi Kualitatif

I.    Soal

a.   Pop Correct 0,85 = berarti proporsi siswa yang menjawab benar butir soal dalam kategori mudah.

b.   Biser (daya pembeda) 0,212= diperbaiki, indeks tersebut dengan koefisien positif menunjukkan bahwa peserta tes yang menjawab butir soal, mempunyai skor relatif tinggi dalam tes atau skala tersebut.

c.   Point biser (daya pembeda) hal ditolak = 0,139

II.   Alternatif Jawaban

a.   Pop Endorsing (tingkat kesukaran) jawaban benar C. Zam-Zam dalam kategori mudah, padahal jawaban pengecoh A, B dan D dalam kategori sukar.

b.   Biser (daya pembeda) pada jawaban benar C. Zam-Zam dan jawaban pengecoh A dan B dengan koefisien  yang berarti  peserta tes yang menjawab benar butir soal mempunyai skor yang relatif tinggi dalam tes atau skala tersebut. Namun pada C dalam kategori diperbaiki sedangkan pada B dan D dalam kategori ditolak dan pada D meskipun sama-sama.ditolak, namun pada alternatif D dengan koefisien negatif yang menunjukkan bahwa peserta tes yang menjawab benar butir soal memperoleh skor yang relatif rendah dalam tes atau skala tersebut, namun hal ini sangat dikehendaki untuk jawaban lain (pengecoh).

c.   Point Biser (daya pembeda) semua altrnatif jawaban ditolak

10. Nabi yang termasuk ulul azmi adalah…

a.   Ismail                                                c.   Musa

b.   Ishaq                                                 d.   Ibrahim

A.   Interpretasi Soal, sesuai no. 4, 5, 6, 7, 8, 10, 11, 12 selain itu soal sesuai dengan:

-     Indikator yaitu menjelaskan kisah hidup Nabi Ibrahim, termasuk gelar yang diberikan kepadanya yaitu “ulul azmi” (nol).

-     Pengecoh berfungsi (no. 2) dimana siswa dengan nilai rendah terkecoh dengan jawaban A, B, C sedangkan siswa dengan nilai tinggi banyak yang menjawab Nabi Ibrahim yaitu 12 siswa.

-     No. 4 jawaban hanya 1 yaitu D. Ibrahim.

B.   Interpretasi Option

Alternatif

Pop Endorsing

Biser

Point Biser

A

0,05     = sukar

-0,087 = ditolak

- 0,041  = ditolak

B

0,1       = sukar

0,103 = ditolak

- 0,06  = ditolak

C

0,15     = sukar

0,405 = ditolak

- 0,265  = ditolak

D

0,7       = mudah

0,349 = diterima + diperbaiki

-0,265 = ditolak

yang lain

0,0       = -

-9,00 = tidak dapat dihitung

-9,00  = tidak da-pat dihitung

 

C.   Interpretasi Kualitatif

I.    Soal

a.   Pop Correct 0,7 = berarti proporsi siswa yang menjawab benar butir soal dalam kategori mudah.

b.   Biser (daya pembeda) 0,349= diterima dan diperbaiki, indeks tersebut dengan koefisien positif menunjukkan bahwa peserta tes yang menjawab butir soal mempunyai skor relatif tinggi dalam tes atau skala tersebut.

c.   Point Biser (daya pembeda) hal diperbaiki = 0,265

II.   Alternatif Jawaban

a.   Pop Endorsing (tingkat kesukaran) jawaban benar D. Ibrahim dalam kategori mudah, padahal jawaban pengecoh A, B dan C kategori sukar namun yang paling sukar adalah A. Ismail.

b.   Biser (daya pembeda) pada jawaban benar D, dala kategori diterima dan diperbaiki dengan koefisien  yang berarti  peserta tes yang menjawab benar butir soal mempunyai skor yang relatif tinggi dalam tes sedangkan pada jawaban A, B, C ditolak dengan koefisien negatif yang berarti peserta tes yang enjawab butir soal memp-eroleh skor yang relatif rendah dalam tes atau skala tersebut dan hal ini memang dikehendaki untuk jawaban lain (pengecoh).

c.   Point biser pada D diperbaiki sedangkan pada A, B dan C ditolak.

11. Iman kepada Rasul adalah rukun iman yang ke….

a.   Dua                                                   c.   Empat

b.   Tiga                                                   d.   Lima

A.   Interpretasi Soal, sesuai no. 4, 5, 6, 7, 8, 10, 11, 12 selain itu soal sesuai dengan:

-     Terdapat pengecoh berfungsi (no. 2) dimana siswa dengan nilai rendah terkecoh dengan jawaban A, dan B,C sedangkan siswa dengan nilai tinggi banyak yang menjawab benar C siswa dengan pop correct 0,65 = sedang (tidak terlalu sukar atau mudah).

-     No. 4 jawaban hanya 1 yaitu C. Empat

B.   Interpretasi option

Alternatif

Pop Endorsing

Biser

Point Biser

A

0,1     = sukar

- 0,23 = ditolak

- 0,135  = ditolak

B

0,0     = -

- 9,00 = tidak dapat dihitung

- 9, 00  = tidak dapat dihitung

C

0,65   = sedang

-0,292 = ditolak

0,226  = diperbaiki

D

0,25   = sukar

0,212  = diterima + diperbaiki

-0,56 = ditolak

yang lain

0,0     = -

-9,00 = tidak dapat dihitung

-9,00  = tidak da-pat dihitung

 

C.   Interpretasi Kualitatif

I.    Soal

a.   Pop correct (tingkat kesukaran) 0,65 = berarti proporsi siswa yang menjawab benar butir soal dalam kategori mudah. Sedang (tidak terlalu atau mudah).

b.   Biser (daya pembeda) 0,292= diperbaiki koefisien biserial positif menunjukkan bahwa butir soal mempunyai skor relatif tinggi.

c.   Point biser (daya pembeda) soal 0,226 = diperbaiki

II.   Alternatif Jawaban

a.   Pop Endorsing (tingkat kesukaran) jawaban benar C. empat adalah sedang (tidak terlalu sukar atau mudah) sedangkan jawaban pengecoh B tidak berfungsi dan pada A dan D adalah sukar, namun lebih sukar A dua.

b.   Biser (daya pembeda) pada jawaban C. empat diperbaiki dengan positif,  yang menunjukkan peserta tes atau skala tersebut. Sedangkan pada A dan C ditolak dengan koofisien negatif yang menunjukkan bahwa peserta yang menjawab benar butir soal memperoleh skor relatif rendah dalam tes atau skala tersebut dan sangat dikehendaki untuk pilihan jawaban lain (pengecoh).

c.   Point Biser (daya pembeda) C diperbaiki, A dan C ditolak, sedangkan B. tidak dapat dihitung.

12. Allah menggantikan Ismail yang akan disembelih Ibrahim berupa seekor….

a.   Kuda                                                 c.   Kerbau

b.   Kambing                                           d.   Kelinci

A.   Interpretasi Soal, sesuai no. 4, 5, 6, 7, 8, 10, 11, 12 selain itu soal sesuai dengan:

-     Indikator, yaitu menjelaskan ketaatan Nabi Ismail as yang taat dalam menerima ujian dari Allah SWT” (no. 2).

-     Pengecoh berfungsi (no. 2) dimana siswa dengan nilai rendah terkecoh dengan jawaban A, dan C sedangkan siswa dengan nilai tinggi banyak yang menjawab B sebanyak 12 orang (keseluruhan siswa kelas atas = 100%) dengan pop correct.

-     No. 4 jawaban hanya 1 yaitu B. Kambing (no. 3).

B.   Interpretasi option

Alternatif

Pop Endorsing

Biser

Point Biser

A

0,05     = sukar

- 1,0 = ditolak

- 0,557  = ditolak

B

0,85    = -

- 0,984 = baik

- 0,643  = baik

C

0,05  = sedang

-0,305 = ditolak

-0,145  = diperbaiki

D

0,05   = sukar

0,742 = diterima + diperbaiki

-0,357= ditolak

yang lain

0,00     = -

-9,00 = tidak dapat dihitung

-9,00  = tidak da-pat dihitung

 

 

C.   Interpretasi Kualitatif

I.    Soal

a.   Pop Correct (tingkat kesukaran) 0,85 = berarti proporsi siswa yang menjawab benar butir soal dalam kategori mudah.

b.   Biser (daya pembeda) 0,984= baik, indeks positif menunjukkan  bahwa peserta tes yang menjawab benar butir soal, mempunyai skor relatif tinggi dalam tes atau skala tersebut.

c.   Point biser (daya pembeda) soal diperbaiki =0,643

II.   Alternatif jawaban

a.   Pop endorsing (tingkat kesukaran) jawaban benar B. Kambing dalam kategori mudah, padahal jawaban pengecoh A, C dan D pada tingkat sukar.

b.   Biser (daya pembeda) pada jawaban B dalam kategori baik, dengan koefisien baik, dengan koefisien positif yang berarti peserta tes yang menjawab benar-benar butir soal mempunyai skor yang relative tinggi dalam tes atau skala tersbeut, namun pada A, C dan D dengan koefisien negatif dalam kategori ditolak berarti peserta tes yang menjawab benar butir soal memperoleh skor yang relatif rendah dalam skala atau tes tersebut, namun hal ini sangat dikehendaki untuk jawaban lain (pengecoh).

c.   Point biser (daya pembeda) B. baik dan pada A, C dan C ditolak.

13. Terhadap orang tuanya, Nabi Ismail….

a.   beribadah                                          c.   ingkar

b.   acuh                                                  d.   patuh

A.   Interpretasi Soal, sesuai no. 4, 5, 6, 7, 8, 10, 11, 12 selain itu soal sesuai dengan:

-     Indikator, yaitu menjelaskan ketaatan Nabi Ismail as dan menceritakan akhlak Nabi Ismail as yang taat dalam kehidupan.

-     Pengecoh berfungsi (no. 2) dimana siswa dengan nilai rendah terkecoh dengan jawaban B dan C sedangkan siswa dengan nilai tinggi banyak yang menjawab D. patuh yaitu sebanyak 6 orang dengan pop correct 0,45 = 45.

-     No. 4 jawaban hanya 1 yaitu D. patuh

B.   Interpretasi Option

Alternatif

Pop Endorsing

Biser

Point Biser

A

0,15     = sukar

0,560 = baik

 0,365  = diterima  dan diperbaiki

B

0,2   = diperbaiki

- 0,53 = ditolak

- 0,371  = ditolak

C

0,2  = diperbaiki

-0,08 = ditolak

-0,034= ditolak

D

0,45   = baik

0,08 = ditolak

-0,063= ditolak

yang lain

0,0     = -

-9,00 = tidak dapat dihitung

-9,00  = tidak da-pat dihitung

 

C.   Interpretasi Kualitatif

I.    Soal

a.   Pop correct (tingkat kesukaran) 0,45 = berarti proporsi siswa yang menjawab benar butir soal dalam kategori baik.

b.   Biser (daya pembeda) 0,08 = ditolak, indeks positif menunjukkan  bahwa peserta tes yang menjawab benar butir soal, mempunyai skor relatif tinggi dalam tes atau skala tersebut.

c.   Point Biser (daya pembeda) soal ditolak = 0,063

II.   Alternatif Jawaban

a.   Pop endorsing (tingkat kesukaran) jawaban benar D. patuh adalah baik, sedangkan pada B dan C sama-sama diperbaiki.

b.   Biser (daya pembeda) pada jawaban benar D ditolak dan pada jawaban A baik dengan koefisien positif berarti peserta tes yang menjawab benar butir soal mempunyai skor yang relatif tinggi dalam tes atau skala tersebut sedangkan pada B, C dan D ditolak dengan koefisien negatif, berarti peserta tes yang menjawab benar butir soal memperoleh skor yang relatif rendah dalam skala atau tes tersebut, namun hal ini sangat dikehendaki untuk jawaban lain (pengecoh).

c.   Point Biser (daya pembeda) B, C dan D ditolak dan pada A diterima namun diperbaiki.

14. Kejadian luar biasa yang diberikan kepada Rasul disebut….

a.   karomah                                            c.   hidayah

b.   nikmat                                               d.   mukjizat

A.   Interpretasi Soal, sesuai no. 4, 5, 6, 7, 8, 10, 11, 12 selain itu soal sesuai dengan:

-     Pengecoh berfungsi (no. 2) dimana siswa dengan nilai rendah terkecoh dengan jawaban B dan C sedangkan siswa dengan nilai tinggi banyak yang menjawab D. mukjizat yaitu sebanyak 11 orang.

-     No. 4 jawaban hanya 1 yaitu D. mukjizat.

B.   Interpretasi Option

alternatif

Pop Endorsing

Biser

Point Biser

A

0,05   = sukar

0,349 = diterima + diperbaiki

 0,365 = diterima + diperbaiki

B

0,05   = diperbaiki

- 0,087 = ditolak

- 0,041  = ditolak

C

0,1     = diperbaiki

-0,231  = ditolak

-0,135   = ditolak

D

0,8     = baik

0,048   = ditolak

0,034    = ditolak

yang lain

0,00   = -

-9,00  = tidak dapat dihitung

-9,00 = tidak dapat dihitung

 

C.   Interpretasi Kualitatif

I.    Soal

a.   Pop Correct (tingkat kesukaran) 0,8 = berarti proporsi siswa yang menjawab benar butir soal dalam kategori baik.

b.   Biser (daya pembeda) 0,048 = ditolak, indeks positif menunjukkan  siswa peserta tes yang menjawab benar butir soal, mempunyai skor relatif tinggi dalam tes atau skala tersebut.

c.   Point biser (daya pembeda) soal ditolak = 0,034

II.   Alternatif Jawaban

a.   Pop Endorsing (tingkat kesukaran) jawaban benar D. mukjizat mudah, sedangkan jawaban pengecoh A, B dan C sukar, namun yang paling sukar adalah A dan B.

b.   Biser (daya pembeda) pada jawaban benar D ditolak dan pada A sebagai jawaban alternative pengecoh dengan koefisien positif yang berarti peserta tes yang menjawab benar butir soal mempunyai sukar yang relative tinggi dalam tes atau skala tersebut, namun pada jawaban pengecoh b dan C dalam kategori ditolak ,  koefisien negatif yang  berarti peserta tes yang menjawab benar butir soal memperoleh skor yang relatif rendah dalam skala atau tes tersebut, dan sangat dikehendaki untuk jawaban lain (pengecoh).

c.   Point biser (daya pembeda) A, B, C dan D ditolak.

15. Perintah Allah kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih puteranya, datang melalui:

a.   Bisikan                                              c.   Malaikat

b.   Mimpi                                               d.   Kitab

A.   Interpretasi Soal, sesuai no. 4, 5, 6, 7, 8, 10, 11, 12 selain itu soal sesuai dengan:

-     Pengecoh berfungsi (no. 2) dimana siswa dengan nilai rendah terkecoh dengan jawaban A dan C sedangkan siswa dengan nilai tinggi banyak yang menjawab B. sebanyak 9 orang dengan pop correct 0,75 = 45 mudah.

-     No. 4 yaitu jawaban hanya 1 yaitu B. mimpi.

B.   Interpretasi Option

Alternatif

Pop Endorsing

Biser

Point Biser

A

0,1     = sukar

- 0,487 = baik

 -0,385  = diterima + diperbaiki

B

0,75   = diperbaiki

 0,496  = baik

0,364   = ditolak

C

0,1     = diperbaiki

0,26     = diperbaiki

0,015  = diterima + diperbaiki

D

0,05   = baik

-0,742  = ditolak

-0,351   = ditolak

yang lain

0        = -

-9,0      = tidak

dapat dihitung

-9,00 = tidak dapat dihitung

 

C.   Interpretasi Kualitatif

I.    Soal

a.   Pop Correct (tingkat kesukaran) 0,75 = berarti proporsi siswa yang menjawab benar butir soal dalam kategori mudah.

b.   Biser (daya pembeda) 0,496 = baik, dengan koefisien positif menunjukkan bahwa peserta tes yang menjawab benar butir soal, mempunyai skor relatif tinggi

c.   Point biser (daya pembeda) soal diterima dan diperbaiki = 0,364

II.   Alternatif jawaban

a.   Pop Endorsing (tingkat kesukaran) jawaban benar B. mimpi adalah mudah, sedangkan jawaban pengecoh A, C, dan D dalam kategori sukar, namun yang paling sukar memperoleh skor adalah D. kitab.

b.   Biser (daya pembeda) pada jawaban B. mimpi, baik sedangkan –engecoh C diperbaiki dengan koefisien positif, menunjukkkan dalam tes sedangkan pada A dan D dalam kategori ditolak dengan koefisien negative menunjukkkan bahwa peserta tes yang menjawab benar butir soal memperoleh skor yang relatif rendah dalam skala atau tes tersebut, namun hal ini sangat dikehendaki untuk pilihan jawaban lain (pengecoh).

c.   Point Biser (daya pembeda) pada A, C dan D ditolak dan pada B diterima namun diperbaiki.

16. Orang yang mendiami Makkah pertama kali ialah…

a.   Ismail dan Siti Sarah                          c.   Ishaq dan Siti Sarah

b.   Ismail dan Siti Hajar                           d.   Ishaq dan Siti Sarah

A.   Interpretasi Soal, sesuai no. 4, 5, 6, 7, 8, 10, 11, 12 selain itu soal sesuai dengan:

-     Indikator, yaitu menjelaskan kisah Nabi Ismail as di Makkah dan dihuni bersama dengan ibunya yaitu Siti hajar (no. 1).

-     Pengecoh berfungsi (no. 2) dimana siswa dengan nilai rendah terkecoh dengan jawaban C dan D sedangkan siswa dengan nilai tinggi banyak yang menjawab B. Ismail dan Siti hajar yaitu sebanyak 9 orang dengan pop correct 0,750 = mudah.

-     No. 4 jawaban hanya 1 yaitu B. Ismail dan Siti Hajar.

B.   Interpretasi Option

Alternatif

Pop Endorsing

Biser

Point bBser

A

0,0     = -

-9,0 = tidak dapat dihitung

-9,0  = tidak dapat dihitung

B

0,75   = mudah

0,142 = ditolak

0,104  = ditolak

C

0,1  = sukar

0,538 = baik

0,315= diterima+diperbaiki

D

0,15   = sukar

-0,598 = ditolak

-0,391= ditolak

yang lain

0,0     = -

-9,00 = tidak dapat dihitung

-9,0  = tidak da-pat dihitung

 

C.   Interpretasi Kualitatif

I.    Soal

a.   Pop Correct (tingkat kesukaran) 0,75 = berarti proporsi siswa yang menjawab benar butir soal dalam kategori mudah.

b.   Biser (daya pembeda) 0,142 = ditolak, dengan koefisien positif  menunjukkan  bahwa peserta tes yang menjawab benar butir soal, mempunyai skor relatif tinggi.  

c.   Point Biser (daya pembeda) soal 0,104 ditolak.

II.   Alternatif Jawaban

a.   Pop Endorsing (tingkat kesukaran) jawaban benar B dalam kategori mudah, sedang pada B dan C sukar, namun yang paling sukar adalah D. Ishaq dan Siti Hajar sedang pada A tidak ada yang memilih.

b.   Biser (daya pembeda) pada jawaban B ditolak, meskipun ditolak namun koefisiennya positif berarti peserta tes yang menjawab benar butir soal mempunyai skor yang relatif tinggi dalam tes atau skla tersebut sedangkan pada B dan C dan D ditolak dengan koefisien negatif, begitu pula pada C dengan koefisien yang positif namun dalam kategori baik sedangkan pada D daya pembedanya ditolak dengan koefisien skor yang relatif rendah dalam tes atau skala tersebut dan hal ini memang sangat dikehendaki untuk pilihan jawaban lain (pengecoh).

c.   Point Biser (daya pembeda) A ditolak dapat ditolak pada B dan D ditolak, dan pada C diterima dan diperabiki.

 

17. Nabi yang disuruh khitan perama kali adalah…

a.   Isa                                                     c.   Ibrahim

b.   Ishaq                                                 d.   Ismail

A.   Interpretasi Soal, sesuai no. 4, 5, 6, 7, 8, 10, 11, 12 selain itu soal sesuai dengan:

-     Indikator, yaitu menjelaskan kisah hidup Nabi Ismail as termasuk ia adalah Nabi yang disuruh khitan pertama (no.2).

-     Pengecoh berfungsi (no. 2) dimana siswa dengan nilai rendah terkecoh dengan jawaban A dan D sedangkan siswa dengan nilai tinggi banyak yang menjawab C yaitu sebanyak 11 siswa.

-     No. 4 jawaban hanya 1 yaitu C. Ibrahim.

 

B.   Interpretasi Option

Alternatif

Pop Endorsing

Biser

Point Biser

A

0,15     = sukar

-0,598 = ditolak

-0,391  = ditolak

B

0,70   = -

-9,0 = tidak dapat dihitung

-9,0  = tidak dapat dihitung

C

0,75  = mudah

0,496 = baik

0,364= diterima+diperbaiki

D

0,1   = sukar

-0,103 = ditolak

-0,06= ditolak

yang lain

0     = -

-9,0 = tidak dapat dihitung

-9,0  = tidak dapat dihitung

 

C.   Interpretasi Kualitatif

I.    Soal

a.   Pop Correct (tingkat kesukaran) 0,75 = berarti proporsi siswa yang menjawab benar butir soal dalam kategori mudah.

b.   Biser (daya pembeda) 0,496 = baik, indeks koefisien positif  menunjukkan  siswa yang menjawab benar butir soal, mempunyai skor relatif tinggi dalam tes atau skala tersebut. 

c.   Point biser (daya pembeda) soal baik = 0, 364.

II.   Alternatif Jawaban

a.   Pop Endorsing (tingkat kesukaran) jawaban benar C mudah, sedangkan jawaban pengecoh A dan D dalam kategori sukar namun yang lebih sukar adalah D. Ismail.

b.   Biser (daya pembeda) pada jawaban C. Ibrahim baik, namun koefisiennya positif menunjukkan peserta tes yang menjawab benar butir soal mempunyai skor yang relatif tinggi dalam tes atau skala tersebut sedangkan jawaban pengecoh A dan C sama-sama ditolak dengan koefisien negatif yang menunjukkan peserta tes yang menjawab benar B. soal memperoleh skor yang relatif rendah dalam tes atau skala tersebut dan ha ini memang dikehendaki untuk jawaban lain (pengecoh).   

c.   Point biser (daya pembeda) pada A dan D ditolak pada C diterima namun diperbaiki dan pada B tidak dapat dihitung.

18. Nabi Ibrahim dan Ismail membangun ka’bah di ….

a.   Makkah                                            c.   Mesir

b.   Madinah                                            d.   Irak

A.   Interpretasi Soal, sesuai no. 4, 5, 6, 7, 8, 10, 11, 12 selain itu soal sesuai dengan:

-     Indikator, yaitu “ menjelaskan kisah hidup Nabi Ibrahim  termasuk membangun  ka’bah dan Makkah dan menjelaskan kisah Nabi Ismail di Makkah “ ( no 1)

-     Pengecoh berfungsi (no. 2) dimana siswa dengan nilai rendah terkecoh dengan jawaban sedangkan siswa dengan nilai tinggi banyak yang menjawab A  sebanyak 13 siswa.

-     No. 4 jawaban hanya 1 yaitu A makkah

B.   Interpretasi Option

Alternatif

Pop Endorsing

Biser

Point Biser

A

0,19     = mudah

-0,473 =  baik

0,435  = baik

B

0,05     =  skor

-0.007 = ditolak

-0,041 = ditolak

C

0,05     =  skor

1,00    = ditolak

-0,557 = ditolak

D

0,0       =  -

-9,0     = tidak

dapat di hitung

-0,06   = ditolak

yang lain

0,0       = -

-9,0 = tidak dapat dihitung

-9,0  = tidak dapat dihitung

 

C.   Interpretasi Kualitatif

I.    Soal

a.   Pop correct (tingkat kesukaran) 0,9 = berarti proporsi siswa yang menjawab benar butir soal dalam kategori mudah.

b.   Biser (daya pembeda) 0,743 = baik, indeks koefisien positif  menunjukkan  siswa yang menjawab benar butir soal, mempunyai skor relatif tinggi dalam tes atau skala tersebut

c.   Point biser (daya pembeda) soal baik = 0, 435

II.   Alternatif Jawaban

a.   Pop Endorsing (tingkat kesukaran) jawaban benar A mudah, sedangkan jawaban pengecoh A dan B adalah sukar

b.   Biser (daya pembeda) jawaban benar A. baik, dengan koefisien positif menunjukkan peserta tes yang menjawab benar butir soal mempunyai skor yang relatif tinggi dalam tes atau skala tersebut B dan C setelah dengan koefisien negatif yang menunjukkan peserta tes yang menjawab benar butir soal mempunyai skor yang relatif rendah dalam tes atau skala tersebut dan hal ini memang dikehendaki untuk jawaban lain (pengecoh).  

c.   Point Biser (daya pembeda) pada A baik, pada B dan C ditolak  dan pada D tidak dapat dihitung.

19. Yang menolong Nabi Ibrahim ketika di hukum raja namrud adalah……  

a    Allah                                                 c.   Ismail

b.   raja Namrud                                     d.   Ishaq

A.   Interpretasi Soal, sesuai no. 4, 5, 6, 7, 8, 10, 11, 12 selain itu soal sesuai dengan:

-     Indikator, yaitu “ menjelaskan kisah hidup Nabi Ibrahim  termasuk membangun  ka’bah dan makkah dan menjelaskan kisah Nabi Ismail di makkah “ ( no 1)

-     Pengecoh berfungsi (no. 2) dimana siswa dengan nilai rendah terkecoh dengan jawaban sedangkan siswa dengan nilai tinggi banyak yang menjawab A  sebanyak 13 siswa.

-     No. 4 jawaban hanya 1 yaitu A Makkah

 

C    Interpretasi Option

Alternatif

Pop Endorsing

Biser

Point Biser

A

0,19     = mudah

-0,473 = baik

0,435  = baik

B

0,05     =  skor

-0.007 = ditolak

-0,041 = ditolak

C

0,05     =  skor

1,00    = ditolak

-0,557 = ditolak

D

0,0       =  -

-9,0    = tidak dapat di hitung

-0,06   = ditolak

yang lain

0,0       = -

-9,0    = tidak dapat dihitung

-9,0      = tidak

dapat dihitung

 

C.   Interpretasi Kualitatif

I.    Soal

a.   Pop correct (tingkat kesukaran) 0,9 = berarti proporsi siswa yang menjawab benar butir soal dalam kategori mudah.

b.   Biser (daya pembeda) 0,743 = baik, indeks koefisien positif  menunjukkan  siswa yang menjawab benar butir soal, mempunyai skor relatif tinggi dalam tes atau skala tersebut. 

c.   Point biser (daya pembeda) soal baik = 0, 435

II.   Alternatif Jawaban

a.   Pop Endorsing (tingkat kesukaran) jawaban benar A mudah, sedangkan jawaban pengecoh A dan B adalah sukar

b.   Biser (daya pembeda) jawaban benar A. baik, dengan koefisien positif menunjukkan peserta tes yang menjawab benar butir soal mempunyai skor yang relatif tinggi dalam tes atau skala tersebut B dan C setelah dengan koefisien negatif yang menunjukkan peserta tes yang menjawab benar butir soal mempunyai skor yang relatif rendah dalam tes atau skala tersebut dan hal ini memang dikehendaki untuk jawaban lain (pengecoh).  

c.   Point biser (daya pembeda) pada A baik, pada B dan C ditolak  dan pada D tidak dapat dihitung.

20. Istri kedua Nabi Ibrahim bernama…….

a.   Siti Sarah                                           c.   Siti Saudah

b.   Siti Hajar                                           d.   Siti Fatimah

A.   Interpretasi Soal, sesuai no. 4, 5, 6, 7, 8, 10, 11, 12 selain itu soal sesuai dengan:

-     Indikator, yaitu “ menjelaskan kenangan Nabi Ibrahim  As disaat adalah   istrinya yang kedua yaitu Siti Hajar  “ ( no 1)

-     Pengecoh berfungsi (no. 2) dimana siswa dengan nilai rendah terkecoh dengan jawaban D Siti Fatimah sedangkan siswa dengan nilai tinggi banyak yang menjawab A  sebanyak 13 siswa.

-     No. 4 jawaban hanya 1 yaitu D Siti Hajar

B.   Interpretasi Option

Alternatif

Pop Endorsing

Biser

Point Biser

A

0,05    = sukar

0,567 = baik

0,268 = diperbaiki

B

0,8      =  mudah

0.691 = baik

0,484  = baik

C

0,0      =  -

-9,0   = tidak dapat dihitung

-9,0     = tidak

dapat dihitung

D

0,15    =  sukar

-1,0    = ditolak

-0,706  = ditolak

yang lain

0,0      = -

-9,0    = tidak dapat dihitung

-9,0      = tidak

dapat dihitung

 

C.   Interpretasi Kualitatif

I.    Soal

a.   Pop correct (tingkat kesukaran) 0,8 = berarti proporsi siswa yang menjawab benar butir soal dalam kategori mudah.

b.   Biser (daya pembeda) 0,691= baik, karena  indeks koefisien positif  menunjukkan  siswa yang menjawab benar butir soal, mempunyai skor relatif tinggi dalam tes atau skala tersebut. 

c.   Point biser (daya pembeda ) 0, 484= baik

II.   Alternatif jawaban

a.   Pop endorsing (tingkat kesukaran) jawaban benar B mudah, sedangkan jawaban D dan D sama- sama sukar  namun yang paling sukar adalah  A Siti sarah.

b.   Biser (daya pembeda) jawaban benar B. baik, jawaban pengecoh  A  juga baik dengan  koefisien positf nenunjukkan  peserta tes yang menjawab benar butir soal  mempunyai skor yang relatif tinggi  dalam tes skala tersebut. Dan skala pada C  tidak dapat dihitung dan pada  D ditolak dengan koefisien negatif, menunjukkan peserta  tes yang menjawab benar butir soal memperoleh skor yang relatif rendah dalam tes skala tersebut. Hal ini memang dikehendaki untuk jawaban lain ( pengecoh) 

c.   Point biser (daya pembeda) pada A diperbaiki, pada B baik dan  D ditolak.

Dari data-data diatas maka dapat diringkas bahwa:

1.   N of items (jumlah soal yang dianalisir) sebanyak 20 soal.

2.   N of examines (jumlah siswa) sebanyak 20 siswa.

3.   Mean (rata-rata jawaban benar) 14,4.

4.   Varience (penyebaran distribusi jawaban benar) = 4,940

5.   Std. Dev (standar Deviasi atau akar varience) 3,113

6.   Skew (kencenderungan kurva atau bentuk destribusi) = – 0,783

7.   Kurtosis (tingkat pemuncakan kurva) = -0,2 dengan distribusi lebih mendatar.

8.   Minimum (skor minimum siswa dari 20 siswa )= 9,0

9.   Maximum ( skor maksimum ) 17,0

10. Median (skor tengah )15,0

11. Alphal reliabilitas skor tes atau = 0,264

12. SEM (standar kesalahan pengukuran) = 1,906

13. Mean p (rf = tingkat kesukaran) = 0,720

14. Mean item-tot 9nilai rf indeks daya pembeda) = 0,258

15. mean biserial (rata-rata korelasi biserial) = 0,359

FacebookTwitterGoogle+LinkedIn

PERAN e-LEARNING DALAM PEMBELAJARAN DI ERA GLOBALISASI

 

 

Oleh: Afiful Ikhwan*

 

  1. Mengenal e-Learning

E-learning merupakan bentuk pembelajaran/pelatihan jarak jauh yang memanfaatkan teknologi telekomunikasi dan informasi , misalnya internet, video/audiobroadcasting, video/audioconferencing, CD-ROOM (secara langsung dan tidak langsung).

Kegiatan e-learning termasuk dalam model pembelajaran individual. Menurut Loftus (2001) dalam Siahaan (2004) kegiatan e-learning lebih bersifat demokratis dibandingkan dengan kegiatan belajar pada pendidikan konvensional, karena peserta didik memiliki kebebasan dan tidak merasa khawatir atau ragu-ragu maupun takut, baik untuk mengajukan pertanyaan maupun menyampaikan pendapat/tanggapan karena tidak ada peserta belajar lainnya yang secara fisik langsung mengamati dan kemungkinan akan memberikan komentar, meremehkan, atau mencemoohkan pertanyaan maupun pernyataannya.

  1. Filosofi e-learning

Pertama, elearning merupakan penyampaian informasi, komunikasi, pendidikan, pelatihan secara on-line.

Kedua, e-learning menyediakan seperangkat alat yang dapat memperkaya nilai belajar secara konvensional (model belajar konvensional, kajian terhadap buku teks, dan pelatihan berbasis komputer) sehingga dapat menjawab tantangan perkembangan globalisasi.

Ketiga, e-learning tidak berarti menggantikan model belajar konvensional di dalam kelas, tetapi memperkuat model belajar tersebut melalui pengayaan content dan pengembangan teknologi pendidikan.

Keempat, Kapasitas siswa amat bervariasi tergantung pada bentuk isi dan cara penyampaiannya. Makin baik keselarasan antar conten dan alat penyampai dengan gaya belajar, maka akan lebih baik kapasitas siswa yang pada gilirannya akan memberi hasil yang lebih baik.[1]

  1. Profil Peserta e-Learning

Profil peserta e-learning adalah seseorang yang :

(1)       mempunyai motivasi belajar mandiri yang tinggi dan memiliki komitmen untuk belajar secara bersungguh-sungguh karena tanggung jawab belajar sepenuhnya berada pada diri peserta belajar itu sendiri.

(2)  senang belajar dan melakukan kajian-kajian, gemar membaca demi pengembangan diri terus menerus, dan yang menyenangi kebebasan.

(3)       mengalami kegagalan dalam mata pelajaran tertentu di sekolah konvensional dan membutuhkan penggantinya, atau yang membutuhkan materi pelajaran tertentu yang tidak disajikan oleh sekolah konvensional setempat maupun yang ingin mempercepat kelulusan sehingga mengambil beberapa mata pelajaran lainnya melalui e-learning, serta yang terpaksa tidak dapat meninggalkan rumah karena berbagai pertimbangan.[2]

 

Pembelajaran dengan bantuan komputer (PBK) atau Computer Assisted Instruction (CAI) merupakan awal mula kemunculan dari e-learning.

Dalam era globalisasi seperti sekarang ini, penerapan e-Learning merupakan suatu strategi yang efektif untuk mengejar ketertinggalan bangsa kita dengan bangsa lainnya yang sudah selangkah lebih maju dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), terutama teknologi informasi. Sebagai solusi, e-Learning memiliki keunggulan berupa biaya pengembangan yang lebih murah, lebih baik, serta lebih cepat.

Dikatakan lebih murah karena, metode pembelajaran secara e-Learning tidak mengharuskan peserta kegiatan belajar mengajar menghadiri suatu ruang tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya sebagai ruang pertemuan dan ruang tempat proses belajar mengajar terjadi. Selain itu, dengan metode e-Learning, tidak diperlukan keberadaan ataupun penyediaan seorang tutor.

Dikatakan lebih baik karena, metode pembelajaran secara e-Learning tidak menetapkan seorang peserta sebagai bagian dari seluruh peserta lainnya mengikuti cara belajar teman-teman lainnya. Artinya, kecepatan belajar ditentukan oleh diri sendiri bukan oleh kemampuan yang diseragamkan dalam kelas. Hal ini, jelas sekali membuat mereka yang memiliki intelegensia tinggi dapat mempelajari subjek masalah yang ingin dipelajari secara lebih mendalam dan dapat lebih banyak lagi mendapatkan informasi yang menarik.

Dikatakan lebih cepat karena, metode pembelajaran secara e-Learning memberi kebebasan kepada pesertanya untuk tidak menghadiri ruang kelas apabila mereka ingin mendapatkan jawaban atas permasalahan mengenai suatu bidang yang saat ini digelutinya atau dipelajarinya, asalkan peserta tersebut memiliki hak akses perangkat teknologi informasi (misalnya komputer), dengan cepat ia akan segera mendapatkan informasi yang dicarinya, bahkan tanpa disadiri ia mungkin akan mendapatkan informasi jauh melebihi dari apa yang ia cari. Ini sangat berbeda sekali dengan metode pembelajaran konvensional, dimana apabila ada suatu masalah yang memerlukan jawaban, biasanya solusi dari masalah tersebut dijabarkan hanya di ruang kelas saja, umumnya dilakukan oleh staf pengajar.

Setiap orang atau organisasi yang ingin memenangkan suatu persaingan yang sedemikian kompetitif, harus mengambil langkah-langkah yang positif secara cepat. E-learning sebagai suatu strategi dan solusi mengakselerasi kondisi yang sedemikian cepatnya menjadi suatu hal yang sinkron, sehingga dapat dikatakan e-learning adalah senjata yang ampuh untuk diterapkan dalam memenangkan persaingan yang semakin kompetitif di era globalisasi ini.[3]

Peranan e-learning dalam meningkatkan efektifitas belajar tidak dapat dilepaskan dari konteks pengertian belajar yang efektif (baik menggunakan awalan “e” ataupun tidak). Belajar bukan hanya sekedar transfer informasi dari sumber belajar kepada pembelajar, tetapi harus menghasilkan perubahan yang terjadi akibat dari pengalaman.[4] 

 


 

 

Belajar yang efektif mempunyai kriteria sebagai berikut :

  • melibatkan pembelajar dalam proses belajar.
  • mendorong munculnya ketrampilan untuk belajar mandiri (learning how to learn)
  • meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan pembelajar.
  • memberi motivasi untuk belajar lebih lanjut.

 

Upaya Memanfaatkan E-learning untuk Meningkatkan kualitas Pembelajaran di Sekolah.

Tidak dapat dipungkiri bahwa eksistensi sekolah-sekolah di negara kita sangat beragam. Hal ini tidak terlepas dari faktor giografis dan topografis di negara kita yang beragam pula. Ditambah pula adanya faktor kultural yang ada pada berbagai suku juga beragam.

Terlepas dari hal diatas telah kita ketahui bersama bahwa keberadaan seperangkat komputer pada suatu sekolah sampai saat ini secara garis besar masih cukup jarang, artinya sekolah yang memiliki fasilitas komputer dengan sekolah yang belum memiliki fasilitas komputer masih banyak yang belum memiliki fasilitas computer, khususnya di pe-desaan. Hal ini dikarenakan beberapa faktor, yaitu :

(1) faktor dana, artinya sekolah tidak cukup dana untuk membeli seperangkat komputer,

(2) faktor kemampuan penguasaan teknologi, maksudnya masih banyak guru di sekolah dasar belum mampu mengoperasikan komputer ( GAPTEK = Gagap Teknologi ),

(3) Faktor lain, misalnya faktor keamanan. Sekolah yang tidak aman enggan untuk membeli komputer.[5]

 

  1. Kelebihan E-Learning & Kekurangan E-Learning di Era Globalisasi

Kelebihan yang paling menonjol dari pembelajaran menggunakan komputer dalam hal ini e-learning adalah kemampuan siswa untuk dapat belajar mandiri. Karena sifat komputer yang lebih personal/individu, dapat membantu siswa untuk belajar mandiri dengan atau tanpa bimbingan langsung dari gurunya. Guru dalam hal ini pembelajaran dengan e-learning, dapat melaksanakan pembelajaran tanpa tatap muka secara langsung. Dengan kata lain, dengan atau tanpa gurupun pembelajaran secara mandiri tetap bisa berlangsung. Sebagaimana yang diungkapkan oleh beberapa ahli di bawah ini.

Darsono (2001) menyatakan bahwa prinsip memahami sendiri (belajar mandiri) sangat penting dalam belajar dan erat kaitannya dengan prinsip keaktifan. Siswa yang belajar dengan melakukan sendiri (tidak minta tolong orang lain) akan memberikan hasil belajar yang lebih cepat dalam pemahaman yang lebih mendalam. Prinsip ini telah dibuktikan oleh John Dewey dengan “lerning by doing” nya. Lebih lanjut prinsip memahami sendiri ini diartikan bahwa hendaknya siswa tidak hanya tahu secara teoritis, tetapi juga secara praktis. Pembelajaran dengan menggunakan e-learning dapat menumbuhkan sikap belajar mandiri.

Arsyad (2002) menyatakan bahwa media pembelajaran dengan komputer dapat menampilkan dengan baik berbagai simulasi, visualisasi, konsep-konsep, dan multimedia yang dapat diakses user (siswa) sesuai dengan yang diinginkan sehingga visualisasi yang bersifat abstrak dapat ditampilkan secara konkrit dan dipahami secara mendalam. Maka dengan menggunakan e-learning, siswa mendapatkan kemudahan dalam mengatasi pembelajaran fisika yang banyak menampilkan visualisasi yang bersifat abstrak. Media pembelajaran ini dapat menampilkan konsep yang bersifat abstrak ke dalam konsep yang bersifat konkrit sehingga pemahaman siswa lebih mendalam.

Kelemahan, Ada beberapa kelemahan dalam e-learning yang sering menjadi pembicaraan, antara lain kemungkinan adanya kecurangan, plagiasi, dan pelanggaran hak cipta. Kuldep Nagi dari Amerika, memberikan ide untuk mengaktifkan diskusi kelompok secara online dan membatasi kadaluwarsa soal-soal ujian.

Selain itu, pengajar (guru) juga harus memberikan interaksi yang responsif dan berkelanjutan untuk mengenal siswa lebih jauh dan dapat melihat minatnya, memberikan ujian berupa analisa atas suatu kasus yang berbeda, serta memintanya untuk menjelaskan logika yang menjadi analisa tersebut.

Emil Marais dan Basie von Solms dari Afrika Selatan menambahkan perlunya penyediaan alat bantu untuk membatasi akses ilegal ke dalam proses pembelajaran, baik dengan menggunakan password ataupun akses dari nomor IP (Internet Protocol) tertentu untuk mengurangi kecurangan dalam praktik e-learning. Kelemahan yang paling mendasar dari e-learning adalah kecurangan, plagiasi, dan pelanggaran hak cipta. Sesuai data dari Microsoft Corporation, pada tahun 2006 Indonesia menduduki peringkat ke dua terbesar dalam pembajakan di dunia maya (internet) pada khususnya dan penggunaan software di PC (Personal Computer) pada umumnya. Hal tersebut membuktikan bahwa internet dalam hal ini e-learning masih banyak sekali kekurangannya. Pembelajaran dengan menggunakan e-learning juga harus membutuhkan jaringan internet untuk pembelajaran jarak jauh. Padahal tidak semua instansi memiliki jaringan internet. Program-program dalam e-learning juga membutuhkan Personal Computer (PC) dengan spesifikasi yang cukup canggih agar program bisa berjalan dengan baik. Walaupun programer sudah menyediakan fasilitas password atau pengaman tetapi tangan-tangan jahil masih banyak yang merusaknya atau membajaknya. Walaupun demikian, e-learning sebagai suatu inovasi dalam proses pembelajaran sudah memberikan warna baru cara belajar jarak jauh yang mandiri.

 

  1. Manfaat e-Learning

manfaat yang bisa dinikmati dari e-learning :

Fleksibilitas. Jika pembelajaran konvensional di kelas mengharuskan siswa untuk hadir di kelas pada jam-jam tertentu (seringkali jam ini bentrok dengan kegiatan rutin siswa), maka e-learning memberikan fleksibilitas dalam memilih waktu dan tempat untuk mengakses pelajaran. Siswa tidak perlu mengadakan perjalanan menuju tempat pelajaran disampaikan, e-learning bisa diakses dari mana saja yang memiliki akses ke Internet. Bahkan, dengan berkembangnya mobile technology (dengan palmtop, bahkan telepon selular jenis tertentu), semakin mudah mengakses e-learning. Berbagai tempat juga sudah menyediakan sambungan internet gratis (di bandara internasional dan cafe-cafe tertentu), dengan demikian dalam perjalanan pun atau pada waktu istirahat makan siang sambil menunggu hidangan disajikan, Anda bisa memanfaatkan waktu untuk mengakses e-learning.

“Independent Learning”. E-learning memberikan kesempatan bagi pembelajar untuk memegang kendali atas kesuksesan belajar masing-masing, artinya pembelajar diberi kebebasan untuk menentukan kapan akan mulai, kapan akan menyelesaikan, dan bagian mana dalam satu modul yang ingin dipelajarinya terlebih dulu. Ia bisa mulai dari topik-topik ataupun halaman yang menarik minatnya terlebih dulu, ataupun bisa melewati saja bagian yang ia anggap sudah ia kuasai. Jika ia mengalami kesulitan untuk memahami suatu bagian, ia bisa mengulang-ulang lagi sampai ia merasa mampu memahami. Seandainya, setelah diulang masih ada hal yang belum ia pahami, pembelajar bisa menghubungi instruktur, nara sumber melalui email atau ikut dialog interaktif pada waktu-waktu tertentu. Banyak orang yang merasa cara belajar independen seperti ini lebih efektif daripada cara belajar lainnya yang memaksakannya untuk belajar dengan urutan yang telah ditetapkan, dan masih banyak lagi manfaat-manfaat lainnya.

 


[1] Cisco (2001). Filosofi e-learning.

[2] Deasy Nirma Pradipta. e-learning. Senin, 19 Mei 2008.

[3] Deasy Nirma Pradipta. e-learning di era globalisai. Kamis, 15 Mei 2008.

[4] (Gage, 1984). Indah. W. Perancangan e-learning yang efektif.

[5] Siti Muarifah. Penerapan e-learning Dalam Pembelajaran.

 

*) Penulis Mahasiswa Program Doktor di UIN Malang

FacebookTwitterGoogle+LinkedIn

MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH 2

 

 

 

I.          PENDAHULUAN

 

Era reformasi telah membawa perubahan-perubahan mendasar dalam berbagai kehidupan termasuk kehidupan pendidikan. Salah satu perubahan mendasar yang sedang digulirkan saat ini adalah manajemen negara, yaitu dari manajemen berbasis pusat menjadi manajemen berbasis daerah. Secara resmi, perubahan manajemen ini telah diwujudkan dalam bentuk "Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah" yang kemudian diikuti pedoman pelaksanaannya berupa "Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonomi. Konsekwensi logis dari Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah tersebut adalah bahwa manajemen pendidikan harus disesuaikan dengan jiwa dan semangat otonomi. Karena itu, manajemen pendidikan berbasis pusat yang selama ini telah dipraktekkan perlu diubah menjadi manajemen berbasis sekolah (MBS).

 

Selain alasan normatif, secara empirik MBS memang perlu diterapkan karena di lapangan menunjukkan kenyataan-kenyataan sebagai berikut.

 

   1. Manajemen berbasis pusat selama ini telah memiliki banyak kelemahan, antara lain: keputusan pusat sering kurang sesuai dengan kebutuhan sekolah; administrasi berlebihan yang dikarenakan lapis-lapis birokrasi yang terlalu banyak telah menyebabkan kelambanan dalam menangani setiap permasalahan, sehingga menyebabkan kurang optimalnya kinerja sekolah; dalam kenyataan, administrasi telah mengendalikan kreasi; proses pendidikan dijalankan dengan undermanaged sehingga menghasilkan tingkat efektivitas dan efisiensi yang rendah; pendekatan sarwa-negara (state-driven) telah menempatkan sekolah pada posisi yang marginal, sehingga sekolah tidak memiliki keberanian moral (prakarsa) untuk berinisiatif; sekolah tidak mandiri; terjadi penyumbatan dan bahkan pemasungan demokrasi; sekolah tidak peka dan jeli dalam menangkap dan mengungkap permasalahan, kebutuhan, dan aspirasi pendidikan dari masyarakat; dan manajemen berbasis pusat tidak saja menumpulkan daya kreativitas sekolah, tetapi juga mengikis habis rasa kepemilikan warga sekolah terhadap sekolahnya.

   2. Sekolah paling memahami permasalahan disekolahnya. Karena itu, sekolah merupakan unit utama yang harus memecahkan permasalahannya melalui sejumlah keputusan yang dibuat "sedekat" mungkin dengan kebutuhan sekolah. Untuk itu, sekolah harus memiliki kewenangan (otonomi), tidak saja dalam pengambilan keputusan, akan tetapi justru dalam mengatur dan mengurus kepentingan sekolah menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi warga sekolah sesuai dengan payung kebijakan makro pendidikan nasional.

   3. Perubahan di sekolah akan terjadi jika semua warga sekolah ada "rasa memiliki" yang berasal dari kesempatan berpartisipasi dalam merumuskan perubahan dan keluwesan untuk mengadaptasikannya terhadap kebutuhan individu sekolah. Rasa memiliki ini pada gilirannya akan meningkatkan pula rasa tanggungjawab. Jadi, makin besar tingkat partisipasi warga sekolah dalam pengambilan keputusan, makin besar rasa memiliki terhadap sekolah, dan makin besar pula rasa tanggungjawabnya. Yang demikian ini berarti bahwa "perubahan" lebih disebabkan oleh dorongan internal sekolah dari pada tekanan dari luar sekolah.

   4. Telah lama pengaturan yang bersifat birokratik lebih dominan dari pada tanggungjawab profesional, sehingga kreativitas sekolah pada umumnya dan guru pada khususnya terpasung dan bahkan terbunuh. Tidak jarang pula dijumpai bahwa formalitas sering jauh melampaui hakiki. Yang lebih parah lagi guru-guru kehilangan "jiwa kependidikannya". Mendidik tidak lebih dari sekadar pengenalan nilai-nilai, yang hasilnya hanya berupa pengetahuan nilai (logos) dan belum sampai pada penghayatan nilai (etos), apalagi sampai pengamalannya. Akibatnya, menurut Aburizal Bakrie (1999), proses belajar mengajar di sekolah lebih mementingkan jawaban baku yang dianggap benar oleh guru, dibanding daya kreasi, nalar, dan eksperimentasi peserta didik untuk menemukan kemungkinan-kemungkinan baru. Tidak ada keterbukaan dan demokrasi. Tidak ada toleransi pada kekeliruan akibat kreativitas berpikir, karena yang benar adalah apa yang dipersepsikan benar oleh guru, sehingga yang terjadi hanyalah memorisasi dan "recall" dan tidak dihargainya kreativitas dan kemampuan peserta didik. Padahal, pembelajaran yang sebenarnya semestinya lebih mementingkan pada proses "pencarian jawaban" dibanding "memiliki jawaban".

 


 

II.        PEMBAHASAN

 

Pengertian

 

Istilah manajemen berbasis sekolah (MBS) berasal dari tiga kata, yaitu manajemen, berbasis, dan sekolah. Manajemen adalah pengkoordinasian dan penyerasian sumberdaya melalui sejumlah input manajemen untuk mencapai tujuan atau untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Catatan: sumber daya terbagi menjadi sumber daya manusia dan sumber daya selebihnya (peralatan, perlengkapan, bahan/material, dan uang); input manajemen terdiri dari tugas, rencana, program, limitasi yang terwujud dalam bentuk ketentuan-ketentuan. Pengertian manajemen tersebut, menurut Poernomosidi Hadjisarosa, 1997) dapat dilukiskan seperti pada Gambar 1 berikut, dengan keterangan: SDM-M (sumberdaya manusia manajer) mengatur sumber daya manusia pelaksana (SDM-P) melalui input manajemen yang terdiri dari (T = Tugas; R = Rencana, P = Program; T3 = Tindakan Turun Tangan; K = Kesan) agar SDM-P menggunakan jasa manusianya (Jm) untuk bercampur tangan terhadap sumber daya selebihnya (SD-slbh), sehingga proses dapat berlangsung dengan baik untuk menghasilkan output.

 

Berbasis berarti "berdasarkan pada" atau "berfokuskan pada". Sekolah adalah suatu organisasi terbawah dalam jajaran Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) yang bertugas memberikan "bekal kemampuan dasar" kepada peserta didik atas dasar ketentuan-ketentuan yang bersifat legalistik (makro, meso, mikro) dan profesionalistik (kualifikasi, untuk sumber daya manusia; spesifikasi untuk barang/jasa, dan prosedur-prosedur kerja).

 

 

Sumber: Poernomosidi Hadjisarosa, 1997

 

Dari uraian tersebut dapat dirangkum bahwa "manajemen berbasis sekolah" adalah pengkoordinasian dan penyerasian sumberdaya yang dilakukan secara otonomis (mandiri) oleh sekolah melalui sejumlah input manajemen untuk mencapai tujuan sekolah dalam kerangka pendidikan nasional, dengan melibatkan semua kelompok kepentingan yang terkait dengan sekolah secara langsung dalam proses pengambilan keputusan (partisipatif)". Catatan: kelompok kepentingan yang terkait dengan sekolah meliputi: kepala sekolah dan wakil-wakilnya, guru, siswa, konselor, tenaga administratif, orangtua siswa, tokoh masyarakat, para profesional, wakil pemerintahan, wakil organisasi pendidikan. Lebih ringkas lagi, manajemen berbasis sekolah dapat dirumuskan sebagai berikut (David, 1989): manajemen berbasis sekolah = otonomi manajemen sekolah + pengambilan keputusan partisipatif.

 

 Otonomi dapat diartikan sebagai kewenangan/kemandirian yaitu kemandirian dalam mengatur dan mengurus dirinya sendiri, dan merdeka/tidak tergantung (Undang-Undang No.22 Th.1999 tentang Pemerintahan Daerah). Istilah otonomi juga sama dengan istilah "swa", misalnya swasembada, swakelola, swadana, swakarya, swalayan, dan swa-swa lainnya. Jadi otonomi sekolah adalah kewenangan sekolah untuk mengatur dan mengurus kepentingan warga sekolah menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi warga sekolah sesuai dengan peraturan perundang-undangan pendidikan nasional yang berlaku. Tentu saja kemandirian yang dimaksud harus didukung oleh sejumlah kemampuan, yaitu kemampuan mengambil keputusan yang terbaik, kemampuan berdemokrasi/menghargai perbedaan pendapat, kemampuan memobilisasi sumber daya, kemampuan memilih cara pelaksanaan yang terbaik, kemampuan berkomunikasi yang efektif, kemampuan memecahkan persoalan-persoalan sekolah, kemampuan adaptif dan antisipatif, kemampuan bersinergi dan berkolaborasi, dan kemampuan memenuhi kebutuhannya sendiri.

 

Untuk mencapai otonomi sekolah, diperlukan suatu proses yang disebut "desentralisasi". Desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintahan pendidikan dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah, dari pemeritah Dati I ke Dati II, dari Dati II ke sekolah, dan bahkan dari sekolah ke guru, tetapi harus tetap dalam kerangka pendidikan nasional. Pengalaman selama ini menunjukkan bahwa pendidikan yang diatur secara "sentralistik" menghasilkan fenomena-fenomena seperti berikut: lamban berubah/beradaptasi, bersifat kaku, normatif sekali orientasinya karena terlalu banyaknya lapis-lapis birokrasi, tidak jarang birokrasi mengendalikan fungsi dan bukan sebaliknya, uniformitas telah memasung kreativitas, dan tradisi serta serimoni yang penuh kepalsuan sudah menjadi kebiasaan. Kecil itu indah, adalah merupakan esensi desentralisasi. Menurut Bailey (1991), organisasi yang cakupan, pemerintahan, manajemen, dan ukurannya kecil, mudah beradaptasi. Karena itu, desentralisasi bukan lagi merupakan hal penting untuk diterapkan, tetapi sudah merupakan keharusan. Dengan desentralisasi, maka: (1) fleksibilitas pengambilan keputusan sekolah akan tumbuh dan berkembang dengan subur, sehingga keputusan dapat dibuat "sedekat" mungkin dengan kebutuhan sekolah; (2) akuntabilitas/pertanggunggugatan terhadap masyarakat (majelis sekolah, orangtua peserta didik, publik) dan pemerintah meningkat; dan (3) kinerja sekolah akan meningkat (efektivitasnya, kualitasnya, efisiensinya, produktivitasnya, inovasinya, provitabilitasnya, kualitas kehidupan kerjanya, dan moralnya).

 

Pengambilan keputusan partisipatif (David, 1989) adalah suatu cara untuk mengambil keputusan melalui penciptaan lingkungan yang terbuka dan demokratik, dimana warga sekolah (guru, siswa, karyawan, orang tua siswa, tokoh masyarakat) didorong untuk terlibat secara langsung dalam proses pengambilan keputusan yang akan dapat berkontribusi terhadap pencapaian tujuan sekolah. Hal ini dilandasi oleh keyakinan bahwa jika seseorang dilibatkan (berpartisipasi) dalam pengambilan keputusan, maka yang bersangkutan akan ada "rasa memiliki" terhadap keputusan tersebut, sehingga yang bersangkutan juga akan bertanggungjawab dan berdedikasi sepenuhnya untuk mencapai tujuan sekolah. Singkatnya: makin besar tingkat pertisipasi, makin besar pula rasa memiliki; makin besar rasa memiliki, makin besar pula rasa tanggungjawab; dan makin besar rasa tanggung jawab, makin besar pula dedikasinya. Tentu saja pelibatan warga sekolah dalam pengambilan keputusan harus mempertimbangkan keahlian, yurisdiksi, dan relevansinya dengan tujuan pengambilan keputusan sekolah.

 

Dengan pengertian diatas, maka pengembangan manajemen berbasis sekolah semestinya mengakar di sekolah, terfokus di sekolah, terjadi disekolah, dan dilakukan oleh sekolah. Untuk itu, penerapan manajemen berbasis sekolah memerlukan konsolidasi manajemen sekolah.

 

Tujuan

 

Manajemen berbasis sekolah bertujuan untuk "memberdayakan" sekolah, terutama sumber daya manusianya (kepala sekolah, guru, karyawan, siswa, orang tua siswa, dan masyarakat sekitarnya), melalui pemberian kewenangan, fleksibilitas, dan sumber daya lain untuk memecahkan persoalan yang dihadapi oleh sekolah yang bersangkutan.

 

Ciri-ciri sekolah yang "berdaya" pada umumnya: tingkat kemandirian tinggi/tingkat ketergantungan rendah; bersifat adaptif dan antisipatif/proaktif sekaligus; memiliki jiwa kewirausahaan tinggi (ulet, inovatif, gigih, berani mengambil resiko, dsb.); bertanggungjawab terhadap hasil sekolah; memiliki kontrol yang kuat terhadap input manajemen (T,R,P,L,T3,K) dan sumber dayanya; kontrol terhadap kondisi kerja; komitmen yang tinggi pada dirinya; dan dinilai oleh pencapaian prestasinya. Selanjutnya, bagi sumber daya manusia sekolah yang berdaya, pada umumnya, memiliki ciri-ciri: pekerjaan adalah miliknya, dia bertanggung jawab, dia memiliki suara bagaimana sesuatu dikerjakan, pekerjaannya memiliki kontribusi, dia tahu posisinya dimana, dia memiliki kontrol terhadap pekerjaannya, dan pekerjaannya merupakan bagian hidupnya.

 

Contoh-contoh tentang hal-hal yang dapat memberdayakan warga sekolah adalah: pemberian tanggung jawab, pekerjaan yang bermakna, memecahkan masalah pekerjaan secara "teamwork", variasi tugas, hasil kerja yang terukur, kemampuan untuk mengukur kinerjanya sendiri, tantangan, kepercayaan, didengar, ada pujian, menghargai ide-ide, mengetahui bahwa dia adalah bagian penting dari sekolah, kontrol yang luwes, dukungan, komunikasi yang efektif, umpan balik bagus, sumber daya yang dibutuhkan ada, dan warga sekolah diberlakukan sebagai manusia ciptaan-Nya yang memiliki martabat tertinggi (Slamet PH, 2000; Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2000).

 

Pergeseran Pendekatan Manajemen Pendidikan

 

Seiring dengan berlakunya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Otonomi Daerah) dan bukti-bukti empirik tentang kurang efektif dan efisiensinya manajemen berbasis pusat, maka Departemen Pendidikan Nasional melakukan penyesuaian-penyesuaian, salah satunya adalah melakukan pergeseran pendekatan manajemen, yaitu dari pendekatan manajemen berbasis pusat menjadi manajemen berbasis sekolah, seperti dilukiskan pada Gambar 2 (Slamet PH, 2000).

 

Berikut disampaikan penjelasan terhadap pergeseran pendekatan manajemen berbasis pusat menuju MBS.

 

a.         Dari Sub-Ordinasi Menuju Otonomi

 

Pada manajemen berbasis pusat, sekolah merupakan sub-ordinasi dari pusat, sehingga sifat ketergantungannya sangat tinggi. Sekolah tidak berdaya dan tidak memiliki kemandirian, sehingga kreativitas dan prakarsanya terpasung dan beku. Pada MBS, sekolah memiliki otonomi (kemandirian) untuk berbuat yang terbaik bagi sekolahnya. Ketergantungan pada tingkat pusat makin kecil, sehingga sekolah harus dewasa dan meyakini bahwa perubahan pendidikan tidak akan terjadi jika sekolahnya sendiri tidak berubah. Tentu saja kemandirian ini menuntut kemampuan sekolah untuk mengatur dan mengurus sekolahnya menurut prakarsanya sendiri berdasarkan aspirasi warga sekolah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

 

 

 

b.         Dari Pengambilan Keputusan Terpusat Menuju Pengambilan Keputusan Partisipatif

 

Berbeda dengan pengambilan keputusan pada manajemen berbasis pusat yang ditandai oleh one man show, lamban hasilnya, dan sering tidak pas hasilnya dengan kebutuhan sekolah, maka pengambilan keputusan pada MBS melibatkan warga sekolah, yang selain cepat hasilnya, juga sesuai hasilnya dengan kebutuhan sekolah. Pelibatan partisipan dalam pengambilan keputusan tentu saja disesuaikan dengan relevansi, keahlian, yurisdiksi, dan kompatibilitas keputusan dengan kepentingan partisipan.

 

c.          Dari Ruang Gerak Kaku Menuju Ruang Gerak Luwes

 

Akibat banyaknya tugas dan fungsi, wewenang, tanggungjawab, kewajiban dan hak sekolah yang ditangani oleh Pusat, Wilayah, dan Kandep, maka ruang gerak sekolah kaku untuk menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi maupun untuk memenuhi kebutuhannya. Pada pendekatan manajemen yang baru, ruang gerak sekolah sangat luwes karena apa yang selama ini dilakukan oleh Pusat, Wilayah, dan Kandep, sebagian besar kini diserahkan ke sekolah.

 

d.       Dari Pendekatan Birokrasi Menuju Pendekatan Profesionalisme

 

Pada pendekatan birokrasi, apa yang dilakukan oleh sekolah didasarkan atas apa yang dianggap benar dan baik oleh pimpinannya. Pada pendekatan profesionalisme, apa yang dilakukan oleh sekolah didasarkan atas profesionalisme. Karena itu, peranan keahlian sangat penting dalam membimbing tingkah laku warga sekolah, bukan kekuasaan.

 

e.      Dari Manajemen Sentralistik Menuju Manajemen Desentralistik

 

Pada model lama, pusat memiliki kewenangan yang berlebihan, sehingga terjadilah pemusatan kekuasaan di pusat. Pemusatan kekuasaan ini telah menimbulkan dampak negatif pada sekolah, yaitu selain sekolah tidak berdaya, banyak keputusan-keputusan yang tidak efektif dan efisien. Karena kecil kewenangan yang dimiliki oleh sekolah, maka tidak jarang sekolah acuh tak acuh terhadap masalah-masalah yang dihadapi. Sedang pada manajemen desentralistik, banyak kewenangan Pusat, Wilayah, dan Kandep yang diserahkan ke sekolah. Dengan pendekatan ini, maka sekolah akan lebih berdaya dan keputusan-keputusan yang dibuatnya akan lebih efektif dan efisien.

 

f.         Dari Kebiasaan Diatur Menuju Kebiasaan Motivasi Diri

 

Pola perilaku lama yang sering menunggu perintah dan kebiasaan diatur (dorongan eksternal) akan berubah menjadi pola perilaku baru yang bercirikan motivasi diri (dorongan internal). Perubahan ini tentu saja akibat dari otonomi (kemandirian) sekolah yang diberikan oleh Pusat, Wilayah, dan Kandep. Struktur organisasi yang berjiwa otonomi akan mendorong sekolah untuk berinovasi dan berimprovisasi dari dalam diri sekolah, bukan dari tekanan luar.

 

 

g.      Dari Over regulasi Menuju Deregulasi

 

Terlalu banyaknya regulasi pendidikan (overregulasi) termasuk juklak dan juknis telah membuat sekolah seperti robot yang hanya menunggu perintah, tumpul, telah membunuh kreativitas sekolah, terutama gurunya. Deregulasi pendidikan akan mampu menumbuhkan daya kreativitas dan prakarsa sekolah, dan membuat sekolah sebagai pusat perubahan. Deregulasi juga mampu memberikan kelenturan sekolah dalam mengelola sekolahnya.

 

h.      Dari Mengontrol Menuju Mempengaruhi

 

Jika manajemen pola lama lebih cenderung menekankan pada "mengkomando" dan "mengontrol" , maka manajemen berbasis sekolah lebih menekankan pada "mempengaruhi". "Mengontrol" lebih cenderung pada output, sehingga jika terjadi kesalahan, menjadi terlanjur. Sedang "mempengaruhi" lebih cenderung menekankan pada input dan poses, sehingga terhindar dari kemungkinan terlanjur salah.

 

i.        Dari Mengarahkan Menuju Memfasilitasi

 

Pada manajemen berbasis pusat lebih menekankan pada pemberian "pengarahan", yang sering diwujudkan dengan kata-kata "kita harus kesana", "kita harus mengerjakan itu", dengan maksud agar pekerjaan cepat selesai. Sedang pada MBS lebih menekankan pada pemberian "fasilitasi", misalnya: "bagaimana menurut pendapat anda untuk mengerjakan ini?"

 

j.        Dari Menghindari Resiko Menuju Mengolah Resiko

 

Jika pada pola manajemen tradisional lebih menekankan untuk "menghindari resiko", maka pada pola manajemen baru lebih menganjurkan "mengambil resiko". Hal ini didasari oleh kenyataan bahwa orang-orang yang berani mengambil resiko cenderung lebih maju dari pada orang yang suka menghindari resiko.

 

k.      Dari Menggunakan Uang Semuanya Menuju Menggunakan Uang Seefisien Mungkin

 

Pola anggaran lama yang menekankan pada "uang harus dihabiskan semua", akan bergeser menjadi "gunakan uang secukupnya", akan meningkatkan efisiensi sekolah. Tentu saja hal ini akan menuntur "restrukturisasi" anggaran pola lama.

 

l.        Dari Individu yang Cerdas Menuju "Teamwork" yang Kompak dan Cerdas

 

Tidak jarang sekolah memiliki individu-individu yang cerdas. Pada MBS, individu-individu yang cerdas ini harus diajak memperhatikan kinerja sekolah secara keseluruhan, dan disadarkan bahwa hanya melalui "teamwork" yang kompak dan cerdaslah yang akan mampu meningkatkan kinerja sekolah.

 

m.    Dari Informasi Terpribadi Menuju Informasi Terbagi

 

Informasi sering hanya dimiliki oleh sejumlah warga sekolah, khususnya kepala sekolah, wakil-wakilnya, dan beberapa guru. Informasi ini umumnya juga tidak disebarluaskan kesemua warga sekolah (terpribadi). Di masa mendatang, informasi harus tersebar/terbagi secara merata keseluruh warga sekolah. Tentu saja yang dimaksud di sini bukan setiap ada informasi baru harus disampaikan kesemua warga sekolah, namun informasi diberikan kepada mereka yang memang berhak menerimanya.

 

n.      Dari Pendelegasian Menuju Pemberdayaan

 

Manajemen pendidikan kita sampai saat ini masih diwarnai oleh praktek-praktek pendelegasian tugas dan fungsi serta tanggungjawab semata, tanpa diikuti penyerahan kewenangan, sehingga sekolah tidak berdaya. Mulai sekarang, Pusat, Wilayah, dan Kandep harus memberdayakan sekolah, yaitu melalui penyerahan tugas dan fungsi, tanggungjawab, hak dan kewajiban, yang disertai kewenangan untuk mengambil keputusan. Karena, hanya sekolahlah yang merupakan "pusat perubahan" yang sebenarnya, terutama sumberdaya manusianya. Sebagus apapun kebijakan dari Pusat, Wilayah, dan Kandep, namun jika sekolah tidak berubah, maka tidak akan pernah ada perubahan.

 

o.      Dari Organisasi Hirarkis Menuju Organisasi Datar

 

Sampai saat ini organisasi pendidikan khususnya organisasi sekolah masih diatur dengan lapis-lapis manajemen yang rumit, sehingga sekolah lamban adaptasi dan antisipasinya terhadap perubahan-perubahan, dan kurang tanggap terhadap isu-isu kritis/strategis yang menyangkut kemajuan sekolah. Mulai saat ini, organisasi sekolah harus dibuat lebih datar agar lebih responsif dan antisipatif, tidak saja terhadap isu-isu strategis/kritis yang dihadapi oleh sekolah, bahkan terhadap perubahan-perubahan sosial

 

Model MBS Ideal

 

Dalam artian yang sesungguhnya, sebenarnya sulit memberikan contoh manajemen berbasis yang "uniformitas" dan "konformitas" sekaligus, karena dalam kenyataan juga tidak mudah menemukan sekolah yang karakteristik "kancah"nya sama. Model MBS berikut merupakan model yang pada umumnya memiliki ciri-ciri universal, sehingga setiap sekolah yang akan mengadopsi model ini perlu mengadaptasikannya/menyesuaikannya dengan karakteristik kancah di sekolah masing-masing. Model MBS berikut pada dasarnya ditampilkan menurut pendekatan sistem (berfikir sistem), yaitu output-proses-input. Urutan ini dipilih dengan alasan bahwa setiap kegiatan sekolah akan dilakukan, termasuk kegiatan melakukan analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, and Threat), semestinya dimulai dari "output" yang akan dicapai, kemudian ke "proses", dan baru ke "input" yang dibutuhkan untuk berlangsungnya proses. Namun, langkah-langkah pemecahan persoalannya ditempuh dengan mengikuti urutan yang berlawanan dengan arah analisis SWOT.

 

Karena MBS telah merupakan jiwa dan semangat sekolah, maka setiap penjelasan berikut telah menginklusifkan otonomi dan partisipasi ke dalamnya, meskipun tanpa menyebut istilah otonomi dan partisipasi. Artinya, setiap pembahasan butir-butir berikut selalu dijiwai oleh otonomi dan partisipasi dalam pengambilan keputusan sekolah. Secara ringkas, MBS dapat diuraikan seperti berikut (Slamet PH, 2000; Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2000).

 

1.         Output

 

Output sekolah diukur dengan kinerja sekolah. Kinerja sekolah adalah pencapaian/prestasi yang dihasilkan oleh proses/perilaku sekolah. Kinerja sekolah dapat diukur dari efektivitasnya, kualitasnya, produktivitasnya, efisiensinya, inovasinya, kualitas kehidupan kerjanya, dan moral kerjanya (lihat Gambar 3), dengan keterangan seperlunya seperti berikut.

 

Efektivitas adalah ukuran yang menyatakan sejauhmana sasaran (kuantitas, kualitas, waktu) telah dicapai. Dalam bentuk persamaan, efektivitas sama dengan hasil nyata dibagi hasil yang diharapkan.

 

Kualitas adalah gambaran dan karakteristik menyeluruh dari barang atau jasa, yang menunjukkan kemampuannya dalam memuaskan kebutuhan yang ditentukan atau yang tersirat. Mutu barang atau jasa dipengaruhi oleh banyak tahapan kegiatan yang saling berhubungan seperti disain, operasi produk atau jasa dan pemeliharaannya.

 

Produktivitas adalah hasil perbandingan antara output dibagi input. Baik output maupun input adalah dalam bentuk kuantitas. Kuantitas input berupa tenaga kerja, modal, bahan, dan energi. Kuantitas output dapat berupa jumlah barang atau jasa, tergantung pada jenis pekerjaan.

 

Gambar 3: Kinerja Sekolah

 

Efisiensi dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu efisiensi internal dan efisiensi eksternal. Efisiensi internal menunjuk kepada hubungan antara output pendidikan (pencapaian belajar) dan input (sumberdaya) yang digunakan untuk memroses/menghasilkan output pendidikan (Coombs & Hallak, 1987). Efisiensi internal biasanya diukur dengan biaya-efektivitas. Setiap penilaian biaya-efektivitas selalu memerlukan dua hal, yaitu penilaian ekonomik untuk mengukur biaya masukan (input) dan penilaian hasil pembelajaran (prestasi belajar, lama belajar, angka putus sekolah). Sedang efisiensi eksternal adalah hubungan antara biaya yang digunakan untuk menghasilkan tamatan dan keuntungan kumulatif (individual, sosial, ekonomik, dan non-ekonomik) yang didapat setelah pada kurun waktu yang panjang diluar sekolah. Analisis biaya-manfaat merupakan alat utama untuk mengukur efisiensi eksternal.

 

Inovasi adalah proses yang kreatif dalam mengubah input, proses, dan output agar dapat sukses dalam menanggapi dan mengantisipasi perubahan-perubahan internal dan eksternal sekolah. Inovasi selalu memberikan nilai tambah terhadap input, proses, maupun output yang ada.

 

Kualitas kehidupan kerja adalah kinerja sekolah yang ditunjukkan oleh ukuran tentang bagaimana warga sekolah merasakan hal-hal seperti: pekerjaannya, kemanfaatannya, kondisi kerjanya, kesan dari anak buah terhadap bapak/ibu buah, kawan/kolega kerjanya, peluang untuk maju, pengembangan, kepastian, keselamatan dan keamanan, dan imbal jasanya.

 

Moral kerja adalah tingkat baik buruknya warga sekolah terhadap pekerjaannya yang ditunjukkan oleh etika kerjanya, kedisiplinannya, kejujurannya, kerajinannya, komitmennya, tanggungjawabnya, hubungan kerjanya, daya adaptasi dan antisipasinya, motivasi kerjanya, dan jiwa kewirausahaannya (bersikap dan berpikir mandiri, memiliki sikap berani mengambil resiko, tidak suka mencari kambing hitam, selalu berusaha menciptakan dan meningkatkan nilai sumberdaya, terbuka terhadap umpan balik, selalu ingin mencari perubahan yang lebih baik, tidak pernah merasa puas dan terus menerus melakukan inovasi dan improvisasi demi perbaikan selanjutnya, dan memiliki tanggungjawab moral yang baik).

 

2.      Proses

 

Proses merupakan berubahnya "sesuatu" menjadi "sesuatu yang lain". Sesuatu yang berpengaruh terhadap berlangsungnya proses disebut "input", sedang sesuatu dari hasil proses disebut output. Dalam pendidikan bersekala mikro (sekolah), proses yang dimaksud adalah: (a) proses pengambilan keputusan, (b) proses pengelolaan kelembagaan, (c) proses pengelolaan program, dan (d) proses belajar mengajar.

 

Proses Pengambilan Keputusan

 

Proses pengambilan keputusan partisipatif merupakan salah satu "inti" MBS. Esensi proses pengambilan keputusan partisipatif (Cangemi, 1985) adalah untuk mencari "wilayah kesamaan" antara kelompok-kelompok kepentingan yang terkait dengan sekolah (stakehorder) yaitu kepala sekolah, guru, siswa, orangtua siswa, dan pemerintah/yayasan). Wilayah kesamaan inilah yang menjadi modal dasar untuk menumbuhkan "rasa memiliki" bagi semua kelompok kepentingan yang terkait dengan sekolah dan ini dapat dilakukan secara efektif melalui pelibatan semua kelompok kepentingan dalam proses pengambilan keputusan. Pelibatan kelompok kepentingan dalam proses pengambilan keputusan harus mempertimbangkan keahlian, yurisdiksi, dan relevansinya dengan tujuan pengambilan keputusan.

 

Menurut Cangemi (1985), paling tidak ada tiga pertanyaan yang harus dijawab oleh kepala sekolah sewaktu akan menerapkan pengambilan keputusan partisipatif: (1) bagaimana cara menentukan, dalam setiap kasus, apakah cocok dan produktif jika pengambilan keputusan melibatkan kelompok-kelompok kepentingan?; (2) kemudian, jika proses pengambilan keputusan perlu melibatkan kelompok-kelompok kepentingan, pertanyaan kedua adalah: bagian yang mana dari proses pengambilan keputusan yang perlu melibatkan kelompok-kelompok kepentingan?; (3) pertanyaan ketiga adalah cara yang mana (apa) yang paling efektif untuk melibatkan mereka dalam proses pengambilan keputusan?

 

Tentunya tidak semua wilayah (zona) pengambilan keputusan harus melibatkan semua kelompok kepentingan. Ada wilayah-wilayah yang memang merupakan hak prerogatif pimpinan untuk diputuskan secara sendirian dan bawahan harus menerimanya tanpa syarat. Kalaupun pimpinan melibatkan kelompok-kelompok kepentingan, maka hal ini harus dipikirkan secara mendalam dan terkontrol pelaksanaannya.

 

Ada empat petunjuk untuk mengidentifikasi pengambilan keputusan yang harus melibatkan para kelompok kepentingan, yaitu relevansi, kompetensi, yurisdiksi, dan kompatibilitas tujuan. Pertama, adalah tingkat relevansinya. Sekiranya keputusan yang akan diambil relevan dengan kebutuhan kelompok kepentingan tertentu (kelompok yang bakal terkena dampak keputusan), maka pengambilan keputusan sebaiknya melibatkan kelompok kepentingan tersebut. Kedua, adalah uji keahlian. Artinya, kelompok kepentingan yang akan berpartisipasi dalam pengambilan keputusan, harus memiliki sesuatu untuk dikontribusikan. Mereka harus memiliki kompetensi untuk ikut serta dalam memecahkan persoalan-persoalan yang terkait dengan kepentingannya. Ketiga, uji yurisdiksi. Sekolah didirikan untuk menjalankan fungsinya melalui struktur-herarkis. Karena itu, ada batas-batas yurisdiksi yang memang tidak semua kelompok kepentingan harus terlibat dalam pengambilan keputusan. Pelibatan yang tidak proporsional secara yurisdiksi akan cenderung membuat frustasi dan kemarahan yang tidak berdasar. Keempat, uji kompatibilitas tujuan. Apabila kompatibilitas tujuan dari semua kelompok kepentingan diinginkan, maka pelibatan mereka dalam proses pengambilan keputusan sangat diperlukan.

 

Disamping empat petunjuk pelibatan para kelompok kepentingan dalam pengambilan keputusan, ada delapan model yang dapat diadopsi oleh kepala sekolah berkaitan dengan pengambilan keputusan partisiptatif.

   1. Pemberitahuan

 

Di sini kepala sekolah mengambil keputusan secara sendirin. Dia tidak mencari informasi dan tidak mencari nasehat dari orang lain. Dia mempercayakan pada pengalamannya sendiri dan penelitiannya sendiri, dan semata-mata mengumumkan keputusannya. Gaya ini cocok untuk keputusan-keputusan yang terletak diluar zona kepedulian karyawan.

 

   2. Pengumpulan Informasi

 

Disini kepala sekolah menggunakan kelompok kepentingan tertentu hanya untuk tujuan pengumpulan informasi (penelitian masalah). Partisipan tidak diundang untuk datang bersama-sama dan bahkan tidak tahu siapa saja yang dimintai informasi. Melalui pembicaraan telpon atau laporan tertulis, kepala sekolah mencoba menarik kontribusi dari kelompok kepentingan tertentu agar supaya dapat mengambil keputusan oleh dirinya sendiri. Gaya semacam ini hanya berlaku secara terbatas untuk keputusan-keputusan marjinal diluar zona kepedulian karyawan.

 

   3. Pengumpulan Informasi dan Pembahasan

 

Di sini kepala sekolah berusaha mengumpulkan informasi dan memferifikasinya dengan mengundang secara bersama-sama para kelompok kepentingan yang dapat berkontribusi terhadap informasi awal yang telah dikumpulkan. Sewaktu informasi ini dicek-silang dan diklarifikasi, kolegialitas antar kelompok kepentingan tidak terlalu didorong/dimunculkan. Dari informasi cek-silang ini, kemudian Kepala Sekolah akan menggunakannya untuk masukan bagi pengambilan keputusan yang akan dilakukan oleh dirinya sendiri.

 

   4.  Pengumpulan Pendapat dan Pembahasan

 

Di sini kepala sekolah meminta bawahannya untuk menginterpretasi informasi yang telah dibagi-bagikan kepada mereka. Dia memanfaatkan mereka untuk menjelaskan makna data-data yang telah dibagi-bagikan keseluruh kelompok. Pendapat-pendapat yang diusulkan mungkin beragam dan tidak bisa menghasilkan saran-saran umum terhadap Kepala Sekolah untuk memecahkan persoalan. Lagi-lagi, sepala sekolah mengambil keputusan oleh dirinya sendiri tetapi dalam hal ini dia telah mendorong pertukaran pendapat secara bebas sewaktu dilakukan cek-silang antar kelompok kepentingan. Kondisi ini cocok jika setiap kelompok kepentingan dapat dipercaya untuk bagi-bagi pendapat dan memiliki keahlian yang sesuai dengan keputusan yang akan diambil.

 

   5.  Debat, Dialog, dan Proteksi Ekuitas/Kesamaan

 

Dalam model ini, kepala sekolah tidak hanya mendorong pertukaran pendapat secara bebas, tetapi juga untuk meyakinkan bahwa individu-individu yang menawarkan pendapat harus berdebat untuk mempertahankan pendapatnya. Melalui interaksi ini kemudian dilakukan penilaian terhadap pendapat-pendapat tersebut sehingga ditemukan pendapat yang relatif lebih baik. Karena semua pendapat harus dilontarkan, maka peran kepala sekolah adalah melindungi pendapat-pendapat dari kelompok minoritas dan memberhentikan mereka yang telah habis waktunya dalam curah/debat pendapat. Dalam peran ini, kepala sekolah tetap akan mengambil keputusan oleh dirinya sendiri, namun dia akan dipengaruhi secara signifikan oleh argumen-argumen yang disampaikan oleh para partisipan.

 

   6.  Demokrasi

 

Model pengambilan keputusan semacam ini pada dasarnya menggunakan sistem "voting". Kepala sekolah menyerahkan sebagian besar wewenang pengambilan keputusannya, sehingga dia akan berpartisipasi dalam diskusi tersebut dan dia akan memberikan suaranya melalui "voting", dan oleh karena itu keputusan final akan ditentukan oleh suara mayoritas. Teknik ini cocok untuk pengambilan keputusan yang kontroversial, dimana konsensus sukar dicapai.

 

   7. Konsensus

 

Di sini kepala sekolah mendorong munculnya pendapat-pendapat yang beragam dan dia bertindak sebagai parlementarian untuk menjamin hak-hak yang sama dari semua peserta yang terlibat dalam diskusi. Segera setelah kelompok diskusi mengarah kepada kesepakatan, dia meringkasnya dan mengklarifikasi isu-isu tersebut. Dia memimpin diskusi, tetapi dia tidak menempatkan pendapatnya di atas peserta diskusi. Dia berusaha membawa kelompok diskusi kearah persetujuan terhadap alternatif terbaik, yaitu alternatif yang dapat diterima oleh kelompok secara keseluruhan. Ini tidak berarti bahwa setiap peserta akan puas secara total terhadap keputusan, akan tetapi paling tidak setiap peserta seyogyanya puas terhadap keputusan tersebut karena inilah keputusan terbaik yang dapat dicapainya.

 

   8. Delegasi

 

Dalam kondisi-kondisi tertentu, suatu keputusan tidak harus ditangani oleh kepala sekolah, karena keputusan tersebut tidak relevan baginya maupun bagi sekolahnya. Dia tidak memiliki keahlian untuk berkontribusi dan karena itu dia mendelegasikan keputusan kepada bawahannya (guru, konselor, BP3, dsb.). Dia tidak berpartisipasi. Dia tidak mengganggu hasil akhir keputusan, namun bisa saja dia merupakan salah seorang yang menunjukkan adanya permasalahan.

 

a.       Pengelolaan Kelembagaan

 

Sekolah, sebagai lembaga pendidikan, harus dikelola secara profesional agar menjadi "sekolah belajar" (learning school) yang mampu menjamin kelangsungan hidup dan perkembangannya. Menurut Bovin (1998), untuk menjadi sekolah belajar, maka sekolah harus:

 

1).memberdayakan sumber daya manusianya seoptimal mungkin,

 

2).memfasilitasi warga sekolahnya untuk belajar terus dan belajar kembali,

 

3).mendorong kemandirian (otonomi) setiap warganya,

 

4).memberikan tanggungjawab kepada warganya,

 

5).mendorong setiap warganya untuk "mempertanggungugatkan" (accountability) terhadap hasil kerjanya,

 

6).mendorong adanya teamwork yang kompak dan cerdas dan shared value bagi setiap warganya,

 

7).merespon dengan cepat terhadap pasar (pelanggan),

 

8).mengajak warganya untuk menjadikan sekolahnya customer focused,

 

9).mengajak warganya untuk nikmat/siap berhadap perubahan,

 

10).mendorong warganya untuk berfikir sistem, baik dalam cara berfikir, cara mengelola, maupun cara menganalisis sekolahnya,

 

11).mengajak warganya untuk komitmen terhadap "keunggulan kualitas",

 

12).mengajak warganya untuk melakukan perbaikan secara terus-menerus, dan

 

13).melibatkan warganya secara total dalam penyelenggaraan sekolah.

 

b.      Proses Pengelolaan Program

 

Pengelolaan program merupakan pengkoordinasian dan penyerasian program sekolah, yang meliputi: (1) perencanaan, pengembangan, dan evaluasi program sekolah, (b) pengembangan kurikulum, (c) pengembangan proses belajar mengajar, (d) pengelolaan sumberdaya manusia (guru, karyawan, konselor, dsb.), (e) pelayanan siswa, (f) pengelolaan fasilitas, (g) pengelolaan keuangan, (h) perbaikan program, dan (i) pembinaan hubungan antara sekolah dan masyarakat.

 

c.       Proses Belajar Mengajar

 

Sedang proses belajar mengajar merupakan pemberdayaan pelajar yang dilakukan melalui interaksi perilaku pengajar dan perilaku pelajar, baik di ruang maupun di luar kelas. Karena proses belajar mengajar merupakan pemberdayaan pelajar, maka penekanannya bukan sekadar penguasaan pengetahuan tentang apa yang diajarkan (logos), tetapi merupakan internalisasi tentang apa yang diajarkan sehingga tertanam dan berfungsi sebagai muatan nurani dan dihayati serta dipraktekkan oleh pelajar (etos).

 

Selain itu, proses belajar mengajar semestinya lebih mementingkan proses pencarian jawaban dari pada memiliki jawaban. Karena itu, proses belajar mengajar yang lebih mementingkan jawaban baku yang dianggap benar oleh pengajar adalah kurang efektif. Proses belajar mengajar yang efektif semestinya menumbuhkan daya kreasi, daya nalar, rasa keingintahuan, dan eksperimentasi-eksperimentasi untuk menemukan kemungkinan-kemungkinan baru (meskipun hasilnya keliru), memberikan keterbukaan terhadap kemungkinan-kemungkinan baru, menumbuhkan demokrasi, dan memberikan toleransi pada kekeliruan-kekeliruan akibat kreativitas berfikir.

 

Secara ringkas, proses belajar mengajar (sebagai sistem) dapat dilukiskan seperti pada Gambar 4 berikut.

 

3.      Input

 

Input adalah segala sesuatu yang harus tersedia karena dibutuhkan untuk berlangsungnya proses. Sesuatu yang dimaksud tidak harus berupa barang, tetapi juga dapat berupa perangkat dan harapan-harapan sebagai pemandu bagi berlangsungnya proses. Berikut disampaikan sejumlah input dengan uraian seperlunya.

 

 Visi

 

Setiap sekolah yang akan menerapkan manajemen berbasis sekolah harus memiliki visi. Visi adalah wawasan yang menjadi sumber arahan bagi sekolah, dan digunakan untuk memandu perumusan misi sekolah. Dengan kata lain, visi adalah pandangan jauh kedepan kemana sekolah akan dibawa atau gambaran masa depan yang diinginkan oleh sekolah, agar sekolah yang bersangkutan dapat dijamin kelangsungan hidup dan perkembangannya.

 

 

Gambar 4: Proses Belajar Mengajar Sebagai Sistem

 

 Misi

 

Misi adalah tindakan untuk merealisasikan visi. Karena visi harus mengakomodasi semua kelompok kepentingan yang terkait dengan sekolah, maka misi dapat juga diartikan sebagai tindakan untuk memenuhi masing-masing dari semua kelompok kepentingan yang terkait dengan sekolah. Dalam merumuskan misi, harus mempertimbangkan tugas pokok sekolah dan kelompok-kelompok kepentingan yang terkait dengan sekolah.

 

Tujuan

 

Tujuan merupakan penjabaran misi. Tujuan merupakan "apa" yang akan dicapai/dihasilkan oleh sekolah yang bersangkutan dan "kapan" tujuan akan dicapai. Tujuan dirumuskan untuk jangka waktu 1-3 tahuan.

 

Sasaran

 

Sasaran adalah penjabaran tujuan, yaitu sesuatu yang akan dihasilkan/dicapai oleh sekolah dalam jangka waktu satu tahun, satu catur wulan, atau satu bulan. Agar sasaran dapat dicapai dengan efektif, maka sasaran harus dibuat spesifik, terukur, jelas kriterianya, dan disertai indikator-indikator yang rinci.

 

Struktur Organisasi

 

Mengingat fungsi dasar sekolah berubah, dari subordinasi menjadi otonomi, dari pengambilan keputusan tunggal menjadi pengambilan keputusan partisiptatif, sudah tentu perubahan ini berdampak pada struktur organisasi yang telah ada, serta peran dari kelompok-kelompok kepentingan yang terkait dengan sekolah.

 

Input Manajemen

 

Kepala sekolah mengatur dan mengurus sekolahnya melalui sejumlah input manajemen. Kelengkapan dan kejelasan input manajemen akan membatu kepala sekolah mengelola sekolahnya dengan baik. Berikut adalah sejumlah input manajemen, dengan keterangan seperlunya (Poernomosidi Hadjisarosa, 1997):

 

1. Tugas

 

Kepala sekolah harus jelas memberikan tugas-tugas kepada bawahannya, yang dilengkapi ketentuan-ketentuan mengenai fungsi, wewenang, tanggungjawab, kewajiban dan hak.

 

2. Rencana

 

Rencana/rancang-bangun adalah diskripsi produk untuk keperluan pembuatan/pembangunan (diskripsi disebut kualifikasi untuk sumberdaya manusia, spesifikasi untuk sumberdaya selain sumber daya manusia). Rencana juga mengandung isi diskripsi kegiatan untuk keperluan penyelenggaraan, dalam arti, cukup lengkap untuk berlangsung. Dalam pendidikan, rencana yang dimaksud adalah rencana pengembangan sekolah.

 

3. Program

 

Program adalah alokasi sumberdaya kedalam kegiatan-kegiatan, menurut jadwal-waktu dan menunjukkan tatalaksana yang sinkron. Dengan kata lain program adalah bentuk dokumen untuk menggambarkan langkah-langkah untuk mewujudkan sinkronisasi dalam ketatalaksanaan, sebagai salah satu konsekwensi dari koordinasi.

 

4. Limitasi/Ketentuan-Ketentuan

 

Input manajemen yang menyangkut limitasi, yaitu yang muncul dalam berbagai bentuk ketentuan, seperti yang menyangkut kualifikasi, spesifikasi dan metoda ataupun prosedur, manual, dan peraturan-perundangan. Input manajemen yang berupa limitasi ini pada dasarnya merupakan aturan main atau rule of the game yang perlu diikuti oleh semua warga sekolah agar pengembangan sekolah berjalan lancar untuk mencapai tujuannya.

 

5. Pengendalian/Tindakan Turun Tangan

 

Input manajemen yang menyangkut pengendalian/pengawasan, yaitu yang muncul dalam wujud Tindakan Turun Tangan (T3), untuk meyakinkan bahwa tujuan/sasaran sekolah yang telah ditetapkan dapat dicapai secara efektif dan efisien.

 

Sumberdaya

 

Sumberdaya merupakan jenis input penting yang diperlukan untuk berlangsungnya proses pendidikan di sekolah. Tanpa sumberdaya, proses pendidikan di sekolah tidak akan berlangsung, dan pada gilirannya sasaran sekolah tidak akan tercapai. Sumber daya dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu sumberdaya manusia dan sumberdaya selebihnya, dengan penegasan bahwa sumber daya selebihnya tidak mempunyai arti apapun bagi perwujudan sasaran sekolah, tanpa campur tangan sumberdaya manusia.

 

1. Sumber Daya Manusia

 

Sumberdaya manusia merupakan hasil ciptaan-Nya yang paling sempurna dan karenanya harus didudukkan pada posisi tertinggi dalam setiap kehidupan organisasi termasuk organisasi yang disebut sekolah. Karena itu, sumberdaya manusia (kepala sekolah, guru, siswa, dll.) merupakan jiwa sekolah dan merupakan satu-satunya sumberdaya aktif, dan sumberdaya selebihnya merupakan sumberdaya pasif. Pada dasarnya, agar sekolah dapat berjalan secara efektif dan efisien, diperlukan kesiapan sumberdaya manusia. Kesiapan sumberdaya manusia = kesiapan kemampuan + kesiapan kesanggupan. Kesiapan kemampuan menyangkut persyaratan kualifikasi dan kesiapan kesanggupan menyangkut pemenuhan kepentingan sumberdaya manusia.

 

2. Sumber Daya Selebihnya

 

Sumber daya selebihnya dapat dikelompokkan menjadi: peralatan, perlengkapan, perbekalan, bahan/material/sumber daya alam, uang, dan perangkat-perangkat lainnya, yang diperlukan untuk berlangsungnya proses pendidikan di sekolah

 

6. Strategi Pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah

 

Pada dasarnya, mengubah pendekatan manajemen berbasis pusat menjadi manajemen berbasis sekolah bukanlah merupakan one-shot and quick-fix, akan tetapi merupakan proses yang berlangsung secara terus menerus dan melibatkan semua unsur yang bertanggung jawab dalam penyelenggaraan pendidikan persekolahan. Oleh karena itu, strategi utama yang perlu ditempuh dalam melaksanakan manajemen berbasis sekolah adalah sebagai berikut (Slamet PH, 2000; Direktorat Dikmenum, 2000).

 

   1. Mensosialiasikan konsep manajemen berbasis sekolah keseluruh warga sekolah, yaitu guru,siswa, wakil-wakil kepala sekolah, konselor, karyawan dan unsur-unsur terkait lainnya (orangtua murid, pengawas, wakil kandep, wakil kanwil, dsb.) melalui seminar, diskusi, forum ilmiah, dan media masa. Hendaknya dalam sosialisasi ini juga dibaca dan dipahami sistem, budaya, dan sumber daya sekolah yang ada secermat-cermatnya dan direfleksikan kecocokannya dengan sistem, budaya, dan sumber daya yang dibutuhkan untuk penyelenggaraan manajemen berbasis sekolah.

   2. Melakukan analisis situasi sekolah dan luar sekolah yang hasilnya berupa tantangan nyata yang harus dihadapi oleh sekolah dalam rangka mengubah manajemen berbasis pusat menjadi manajemen berbasis sekolah. Tantangan adalah selisih (ketidaksesuaian) antara keadaan sekarang (manajemen berbasis pusat) dan keadaan yang diharapkan (manajemen berbasis sekolah). Karena itu, besar kecilnya ketidaksesuaian antara keadaan sekarang (kenyataan) dan keadaan yang diharapkan (idealnya) memberitahukan besar kecilnya tantangan (loncatan).

   3. Merumuskan tujuan situasional yang akan dicapai dari pelaksanaan manajemen berbasis sekolah berdasarkan tantangan nyata yang dihadapi (butir 2). Segera setelah tujuan situasional ditetapkan, kriteria kesiapan setiap fungsi dan faktor-faktornya ditetapkan. Kriteria inilah yang akan digunakan sebagai standar atau kriteria untuk mengukur tingkat kesiapan setiap fungsi dan faktor-faktornya.

   4. Mengidentifikasi fungsi-fungsi yang perlu dilibatkan untuk mencapai tujuan situasional dan yang masih perlu diteliti tingkat kesiapannya. Untuk mencapai tujuan situasional yang telah ditetapkan, maka perlu diidentifikasi fungsi-fungsi mana yang perlu dilibatkan untuk mencapai tujuan situasional dan yang masih perlu diteliti tingkat kesiapannya. Fungsi-fungsi yang dimaksud meliputi antara lain: pengembangan kurikulum, pengembangan tenaga kependidikan dan nonkependidikan, pengembangan siswa, pengembangan iklim akademik sekolah, pengembangan hubungan sekolah-masyarakat, pengembangan fasilitas, dan fungsi-fungsi lain.

   5. Menentukan tingkat kesiapan setiap fungsi dan faktor-faktornya melalui analisis SWOT (Strength, Weaknes, Opportunity, and Threat). dilakukan dengan maksud mengenali tingkat kesiapan setiap fungsi dari keseluruhan fungsi yang diperlukan untuk mencapai tujuan situasional yang telah ditetapkan. Analisis SWOT dilakukan terhadap keseluruhan faktor dalam setiap fungsi, baik faktor yang tergolong internal maupun eksternal. yang dinyatakan sebagai: kekuatan, bagi faktor yang tergolong internal; peluang, bagi faktor yang tergolong faktor eksternal. Sedang tingkat kesiapan yang kurang memadai, artinya tidak memenuhi ukuran kesiapan, dinyatakan bermakna: kelemahan, bagi faktor yang tergolong faktor internal; dan ancaman, bagi faktor yang tergolong faktor eksternal.

   6. Memilih langkah-langkah pemecahan (peniadaan) persoalan, yakni tindakan yang diperlukan untuk mengubah fungsi yang tidak siap menjadi fungsi yang siap. Selama masih ada persoalan, yang sama artinya dengan ada ketidaksiapan fungsi, maka tujuan situasional yang telah ditetapkan tidak akan tercapai. Oleh karena itu, agar tujuan situasional tercapai, perlu dilakukan tindakan-tindakan yang mengubah ketidaksiapan menjadi kesiapan fungsi. Tindakan yang dimaksud lazimnya disebut langkah-langkah pemecahan persoalan, yang hakekatnya merupakan tindakan mengatasi makna kelemahan dan/atau ancaman, agar menjadi kekuatan dan/atau peluang, yakni dengan memanfaatkan adanya satu/lebih faktor yang bermakna kekuatan dan/atau peluang.

   7. Berdasarkan langkah-langkah pemecahan persoalan tersebut, sekolah bersama-sama dengan semua unsur-unsurnya membuat rencana untuk jangka pendek, menengah, dan panjang, beserta program-programnya untuk merealisasikan rencana tersebut. Sekolah tidak selalu memiliki sumber daya yang cukup untuk melaksanakan manajemen berbasis sekolah idealnya, sehingga perlu dibuat sekala prioritas jangka pendek, menengah, dan panjang.

   8. Melaksanakan program-program untuk merealisasikan rencana jangka pendek manajemen berbasis sekolah. Dalam pelaksanaan, semua input yang diperlukan untuk berlangsungnya proses (pelaksanaan) manajemen berbasis sekolah harus siap. Jika input tidak siap/tidak memadai, maka tujuan situasional tidak akan tercapai. Yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan adalah pengelolaan kelembagaan, pengelolaan program, dan pengelolaan proses belajar mengajar.

   9. Pemantauan terhadap proses dan evaluasi terhadap hasil manajemen berbasis sekolah perlu dilakukan. Hasil pantauan proses dapat digunakan sebagai umpan balik bagi perbaikan penyelenggaraan dan hasil evaluasi dapat digunakan untuk mengukur tingkat ketercapaian tujuan situasional yang telah dirumuskan. Demikian kegiatan ini dilakukan secara terus-menerus, sehingga proses dan hasil manajemen berbasis sekolah dapat dioptimalkan.

 

 

 

III.  PENUTUP

 

Mengubah manajemen berbasis pusat menjadi manajemen berbasis sekolah (transisi) merupakan proses yang panjang dan melibatkan banyak pihak. Transisi ini memerlukan penyesuaian-penyesuaian, baik sistem (struktur)nya, kulturnya, maupun figurnya, dengan tuntutan-tuntutan baru manajemen berbasis sekolah. Oleh karena itu, kita tidak bermimpi bahwa perubahan ini akan berlangsung sekali jadi dan baik hasilnya. Dengan demikian, fleksibiltas dan eksperimentasi-eksperimentasi yang menghasilkan kemungkinan-kemungkinan baru dalam penyelenggaraan manajemen berbasis sekolah perlu didorong.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Aburizal Bakrie. 1999. Mengefektifkan Sistem Pendidikan Ganda. (Makalah Disampaikan pada Rapat Kerja Majelis Pendidikan Kejuruan Nasional, 29 Maret 1999) di Jakarta.

 

Bailey, William J. 1991. Schhol-Site Management Applied. Lancaster-Basel: Technomic Publishing CO.INC.

 

Direktorat Dikmenum. 2000. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. Jakarta: Depdiknas.

 

Bovin, Olle. 2000. Towards A Learning Organization. Geneva: International Labour Office.

 

Cangeni, Joseph P. & Casimir J. Kowalski & Jeffry C. Claypool. 1984. Participative Management. New York: Philosophical Library.

 

David, Jane L. Synthesis of Research on School-Based Management. (Educational Leadership, Volume 46, Number 8, May 1989).

 

Dewan Perwakilan Rakyat. 1999. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. Jakarta: Dewan Perwakilan Rakyat.

 

Dewan Perwakilan Rakyat. 2000). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonomi. Jakarta: Dewan Perwakilan Rakyat.

 

Direktorat Pendidikan Menengah Umum. 2000. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (Buku 1). Jakarta: Direktorat Pendidikan Menengah Umum, Departemen Pendidikan Nasional.

 

Poernomosidi Hadjisarosa. 1997. Naskah 1: Butir-Butir untuk Memahami Pengertian Mengenali Hal Secara Utuh dan Benar (Bahan Kuliah STIE Mitra Indonesia).

 

Slamet PH. 2000. Menuju Pengelolaan Pendidikan Berbasis Sekolah. Makalah Disampaikann dalam Seminar Regional dengan Tema "Otonomi Pendidikan dan Implementasinya dalam EBTANAS" pada Tanggal 8 Mei 2000 di Universitas Panca Marga Probolinggo, Jawa Timur.

 

Slamet PH (2000). Menuju Pengelolaan Pendidikan Berbasis Sekolah. Makalah pada Acara Seminar dan Temu Alumni Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Yogyakarta dengan Tema "Pendidikan yang Berwawasan Pembebasan: Tantangan Masa Depan" pada Tanggal 27 Mei 2000 di Ambarukmo Palace Hotel, Yogyakarta.

 

Sumarno dkk. (2000). Otonomi Pendidikan. Kertas Kerja yang Dibahas di Universitas Negeri Yogyakarta dalam Rangka Memberi Masukan kepada Menteri Pendidikan Nasional

FacebookTwitterGoogle+LinkedIn

BEBERAPA MACAM ISTILAH FIQHIYAH DAN PEMBAGIANYA

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Dewasa ini banyak kejadian-kejadian yang kerap muncul dan memberi sohck terapi bagi seseorang yang turut mersakan dapat dari kejadian tersebut. Hal ini didominasi dengan pengaruh globalisasi pemikiran-pemikiran para ahli dan ideologi seseorng yang cenderung individualis. Ini semua sangat berpengaruh bagi kehidupan sehari-hari terutama orang yang memiliki peradaban yang tinggi dan memiliki moralitas agam yang cukup kuat. Seperti halnya umat Islam, akhir-akhir ini digemparkan tentang istilah hukum bagi sesuatu ataupun hal yang belum begitu dimengerti ole khayalak umum. Karena hal ini belum jelas tercantum dan dijelaskan dalam Al-Qur’an dan Al- Hadits, melainkan datri beberapa kesepakan petinggi-petinggi isalam yang juga kerap disebut ulama. Maka dari itu oarang harus pandai memilih dan memilah apa yang ia mau dapatkan. Tidak menutup kemungkinan suatu hal itu yang ia anggap sudah benar dan halal untuk didapat tetapi tetapi sesungguhnya hal itu di larang dan haram untuk di dapat. Maka dari itu kata oarang tua kita “orang hidup itu jangan semaunya sendiri, tetapi harus punya tata krama dan panutan”, dari situ dapat disimpulkan bahawa dalam memeahami kaidah islam yaitu yang termaktub dalam fiqhiyah kita aharus mempunyai oang yang kits buat teladan yang sepenuhnya orang tersebut lebig bisa mendalami dan lebih memahami kaidah-kaidah fiqhiyah yang soheh di dalam menghadsapi munculnya beberapa temuan hukum yang kontemporer yang sesuai dengan kemajuan zaman.

 

  1. Rumusan Masalah
  1. Apa saja istilah fiqhiyah yang kerap muncul pada masyarakat golongan umum?
  2. Siapa saja para mujtahid itu dan apa saja tingkatany?
  3. Seberapa besar pengaruhnya dalam perkembangan tarikh tasry?
  1. Tujuan Masalah
  1. Agar mengetahui kaidah istilah fiqhiyah yang sesuai dan benar
  2. Agar mengetahui bebrapa mujtahid dan tingkatanya

 


 

BAB II

PEMBAHASAN

 

 A. Beberapa istilah-istilah fiqhiyah yang sering didapati oleh khyalak umum.

            Sebagai mana dimaklumi bahwa hukum islam terbagi dalam berbagai bidang, seperti ibadah, jinayah, maumalah dan laian-lain. Dalam bidang ini terbagi atas 3 macam hukum yakni taklifi, takhyiri dan wadl’iy. Berdasarkan pengamatan terhadap satuan hukum yang sejenis illahnya dalam hal ini ketentuan hukujm  itu melarang melakukan sesuatu yang membawa kerusakan, maka dilakukanlah ijtihad para ulama’ untuk merumuskan dalam perumusan yang umum yang dapat mencangkup satuan-satuan hukum yang di maksud[1]

 

BEBERAPA MACAM ISTILAH FIQHIYAH DAN PEMBAGIANYA

1. Maslahah Mursalah.

 a. Pengertian

Maslahah mersalah menurut lughoh /  bahasa yaitu manfaat atau perbaikan. Juga dapat berarti , suatu perbuatan yang mengandung nilai baik dan bermanfaat.

Sedangkan menurut beberapa ulama’ ushul ada bermacam macam ta’rif yang diberikan diantaranya;

Imam Ar-Razi menta’rifkan bahwa maslahah adalah suatu perbutan yang bermanfaat yang telah diperintah oleh musyarri’ (Allah) kepada hambanya tentang pemeliharaan Agamanya, jiwanya, akalnya, keturunanya, dan harta bendanya.

Imam Al-Ghazali menta’rifkan bahwa mashalah mursalah pada dasarnya ialah meraih manfaat dan menolak mudharat.

Menurut Muhammad Hasbi Ash Shidiqi maslahah ialah memelihara tujuan syara’ dengan jalan menolak swgala sesuatu yang merusakan makhluk.

      Dari ketiga ta’rif diatas rupanya mempunyai tijuan yang sama yaitu, maslahah tiada lain hanyalah memelihara tercapainya tujuan-tujuan syara’ yaitu, menolak madharat dan meraih yang maslahahnya.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                   

 b. pembagian maslahah

            Ulma’ ushul membagi membagi maslahah kepada tiga bagian yaitu:

1. Maslahah Dharuniyah, yaitu segala sesuatu yang harus ada untuk tegaknya kehidupan manusia, diniyah maupun duniawiayah, dalam arti apabila dharuriyah itu tidak berdiri (tidak terwujud) rusaklah kehidupan manusia di dunia ini. Maslahah dharuriyah tersebut meliputi ;

  • Memelihara agama
  • Memelihara jiwa
  • Memelihara keturunan
  • Memelihara harta benda
  • Memelihara akal.

            Untuk memelihara kokohnya Agama maka disyariatkan ibadah kepada Allah untuk membersihakan jiwa seorang hamba karena menjalankan semua perintah agama Nya dengan dasar iman di dadanya. Sebagaiman firman Allah SWT….

ﻭﻤﺍﺨﻠﻘﺖﺍﻠﺠﻦ  ﻭﻹﻨﺲ ﺇﻵﻠﻴﻌﺒﺪﻭﻦ

Artinya; Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melaiankan supaya mereka menyembaha Ku.

 

2. Maslahah Hajiyat, yaitu segala bentuk perbuatan dan tindakan yang tidak terkait dengan dasar yang lain (yang ada pada maslahah dharuriyah) yang dibutuhkan oleh masyarakat tetap terwujud akan tetapi dapat menhindarkan kesulitan dan menghikangkan kesempitan. Termasuk dalam hal hajiyat ini, memeilhara kemerdekaan beragama. Sebab dengan adanya kemerdekaan pribadi dan kemerdekaan beragama luaslah gerak langkah hidup manusia. Melarang atau mengharamkan rampasan dan penodongan masuk juga kedalam lingkungan hijayat.

3. Maslahah Tahsiniyah adalah mempergunakan segala yang layak dan pantas yang dibenarkan oleh adat kebiasan yang baik dan semua dicakup oleh bagian mahasinul akhlak. Tahsiniyah ini, juga masuk dalam lapangan ibadah, adat, mua’amalah dan bidang uqubat.

            Adapun maslahah mursalah ialah kebaikan yang tidak disebut atau dijelaskan syara’ untuk mengerjakanya ataupun meniggalkanya dan kalau dikerjakan akan membawa manfaat atau menghindari keburukan. Dalam prakteknya maslahah ini tidak banyak berbeda dengan ihtisan.[2]

 

2. AL- IHTIHSAN

a. pengertian

            Menurut bahasa istihsan adalah segala sesuatu yang dianggap baik, ihtisan itu barasal dari kata hasana yang berarti baik atau indah. Sedangkan menurut istilah ihtihasan diartikan yaitu berpindah dari sesuatu hukum yang sudah diberikan kepada sebandingnya ke hukum lain karena adanya suatu sebab yang dipandang lebih kuat atau lebih baik.

b. Kehujjahn Ihtihsan.

            Ada dua pendapat dari ulama’ ushul tentang kehujjahan ihtihsan, diantaranya.

 Madzab Hanafi dan Maliki berpendapat bahwa ihtihsan dapat menjadi hujjah, alasan mereka adalah pada firman Allah

ﻮﱠﺘﺒﻌﻮﺍ ﺃﺤﺴﻦ ﻤﺍﺃﻨﺰﻞ ﺇﻠﯦﮑﻤ ﻤﻦ ﺮﺑﮑﻤ

Artinya; Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari tuhanmu (Azzumar, 55)

            Ayat ini menunjukan bahwa Allah SWT menganjurkan kepada kita untuk mengikuti segala sesuatu yang lebih baik menurut Al-Qur’an. Kemudian anjuran ini bersifat amar yang berarti wajib dikerjakan, oleh karena itu maka ihtihsan dipandang sebagai hujjah dalam menetrapkan hukum-hukum syara’

 Madzab syafi’i menganggap ihtihsan tetap tidak dapat dijadikan hujjah dalam menetapkan hukum-hukum syara’. Dengan keras Imam Syafi’i membantah penggunaan ihtihsan sebagai hujjah, dengan kaidah beliau yang terkenal:

ﻤﻦ ﺍﺴﺘﺤﺴﻦ ﻑﻘﺪ ﺸﺮﻉ

Artinya; Barang siapa yang menetapakan hukum dengan dalil ihtihsan berarti membuat syari’at baru.

            Imam syafi’i beralasan dengan firman Allah:

ﺃﯦﺤﺴﺐ ﺍﻹﻨﺴﺍﻦ ﺃﻦ ﯦﺘﺮﻚ ﺴﺪﻯ

artinya ; Apakah manusia itu mengira bahwa ia dibiarkan begitu saja (tanpa ada pertanggung jawaban). (Al- Qiyamah 36).

Imam syafi’i mengomentari ayat ini, bahwasanya Allah SWT tidak membiarkan manusia itu begitu saja sia-sia. Tetapi Allah memerintahkn sesuatu kepadanya dan melarang sesuatu dan sekaligus menjelaskan kedudukan perintah dan larangan itu melalui Al-Qur’an yang Ia turunkan kepada Nabi Nya secara qat’i. alasan lain yang dikemukakan Imam Syafi’i ialah, bahwa Rasulullah SAW tidak pernah memberi fatwa dengan dalil atau dasar ihtihsan, sebab semua perkataan Rasul adalah wahyu.[3]

c.pembagian ihtihsan

Ihtihsan pada dasarnya dibagi menjadi dua :

I. Segi dalil yang ditinggalkan dan dalil yang masih terpakai, ini ada beberapa

bagian ;

1. Dari qiyas yang jelas menuju qiyas yang tidak jelas

2. Dari ketentuan nash yang umum menuju hukum yang khusus.

3. Dari hukum yang umum kepada hukum pengecualian.

II. Segi sandaran dasar ihtihsan.

1. Dasar yang berupa qiyas, seperti contoh diatas

2. Dasar yang berupa nash; seperti larangnan menjual barang yang tidak atau belum ada yang dikeluarkan Nabi SAW, akan tetapi beliau memperbolehkan salam.

3. Dasar yang berupa kebiasaan [4]

 

3. IJTIHAD.

a. pengertian.

Ijtihad adalah usaha dengan sungguh-sungguh menggunakan seluruh kesanggupan untuk menetapkan hukum-hukum syara’ berdasarkan Nash (Al-Qur’an dan Al-Hadits).

Mujtahid adalah orang-orang para ahli fiqh yang berusaha dengan sungguh-sungguh dengan seluruh keanggupanya untuk menghasilkan hukum syara’ dengan jalan mengistimbatkan dari Al-Qur’an dan Asunnah[5].

b. Pembagian Ijtihad

            Pada garis besarnya pelaksanaan ujtuhad di bagi dua yakni ijtihad fardiyah dan ijtihad jama’iyah.

1. Ijtihad fardiyah, yakni Ijtihad yang dilakukan oleh orang-perorangan, tanpa melibatkan persetujuan atau pertimbangan mujtahid lain

2. Ijtihad Jma’iyah, yakni Ijtihad dengan melibatkan fihak (mujtahid) lain untuk bermusyawarah menetapkan hukum suatu persoalan.

c. Hal yang boleh dan tidak boleh diijtihadi

            Hukum- hukum yang telah ada nash yang qot’i stubutnya dan dalalahnya, baik dari kitabullah maupun sunnah rasulallah mutawatiroh, tidak dapat dilakukan ijtihad lagi, demikian hal-hal yang sudah ada batasan-batasan dari syara’tidak dapat di ijitihadi lagi karena sudak menjadi ketetapan. Sedangkan sesuatu yang tidak ada nashnya, tidak ada pula ijma’ sahabat atasnya dan tidak pula diketahui dengan mudah bahwa ia dari agama, maka diperlukanlah ijtihadnya[6].

 

4. TARJIH.

a. Pengertian.

            Secara lughoh atau bahasa tarjih yaitu menjadikan suatu timbangan. Sedangkan menurut istilah adalah menguatkan salah satu hukum atas hukum yang lainya. Karena banyaknya dalil- dalil tentang hukum-hukum syara’ sehingga terkadang secara lahirnya tidak sama satu sama lain, maka perlu dipertimbangkan yang lebih kuat. Apabila ada dua dugaan yang berlawanan, maka menurut kebiasan yang rasional tentu akan memilih dugaan yang lebih luas. Demikian pula hasi ljtihad para muttahid terkadang kelihatan bertentangan satu sama lain, maka orang yang menarjih itu harus pandai memilih pendapat itu sehingga dapat disimpulkan atau diambil hasil yang menirut kajianya lebih kuat.[7]

            Jadi ahli tarjih bukan membuat atau menetapkan hukum baru dengan sewenang-wenang, tapi hanya mencari mana dari dalil-dalil dan pendapat-pendapat yang ada yang lebih kuat setelah ditinjau dari berbagai sisi. Memilih diantaranya yang ada itu tidak boleh didasri oleh kemauan dan kepentingan hawa nafsu, tetapi harus secara bertangung jawab dalam rangka mencari kebenaran yang dikehendaki dan dituntunkan oleh[8] Allah SWT.

b. Macam-macam tarjih

            Ada empat cara dalam bertarjih, yakni : jurusan sanad, jurusan matan dan jurusan hal-hal diluarnya.

I. Tarjih dari jurusan sanad.

  • Tarjih dengan melihat banaknya perowi yang meriwayatkanya
  • Tarjih dari jutusan ketelitianya
  • Tarjih dari jurusan kepercayaanya.

II. Tarjih daru jurusan matan.

  • Mendahulukan matan haqiqi dari pada matan majaz
  • Mendahulukan yang menunjukan dua jalan dari yang menunjukan satu jalan
  • Mendahulukan amar atau perintah dari pada ibahah

III. Tarjih Dari Jurusan Diluar Hadits

  • Mendahulukan hadits yang didukung oleh dalil lain
  • Mendahulukan yang berdasar kepada perkatan dari pada perbuatan
  • Mendahulukan dalil yang menyerupai dhohirnya[9]

 

B. PARA IMAM MUJTAHID DAN TINGKATANYA.

            Kemampuan dan minat seseorang terbatas. Bahkan ada orang yang sudah puas dengan menigikut saja. Sejalan dengan kemampuan dan minat para mujtahid membagi beberapa tingkatan dari pada kemampuan dan minat tersebut yang dipunyai. Berikut ini di paparkan tingkatan mujtahid serta nama para mujtahid yang masuk dalam kategori tinggakatanya tersebut.

a. mujtahid mutlaq mustaqil.

Adalah seorang yang mampu membuat kaidah sendiri dalam membuat kesimpulan-kesimpulan hukum fiqh. Atau ketika berfatwa terhadap suatu masalah, mereka menggunakan kaidah-kaidah yang mereka ciptakan sendiri sebagai hasil dari pemahaman mereka yang mendalam terhadap Al-Qur’an dan Sunnah. Yang termasuk dalam kriteria ini adalah; Al-Imam Abu Hanifah (80-150 H),Al- Malik bin Anas bin Abi amir Al-Ashbahi (93-179 H), Muhammad bin Idris Asy Syafi’i (150-204 H), dan Al-Imam Ahmad bin Hambal asy Syaibani (164-241).

b. Mujtahid mutlaq ghairu mustaqil.

Mereka adalah ulama’ yamg memenuhui kriteria sebagi mujtahid mustaqil, akan tetapi akan tetapi ia tidak membuat kaidah-kaidah sendiri dalam menyimpulkan masalah-masalah fiqihnya. Mereka tetap masih menggunakan kaidah-kaidah yang dipakai imam madzab masing-masing dalam ijtihadnya. Yang termasuk diantarnya adalah para murid imam mazhab seperti: Abu Yusuf, Muhammad Zufar dari kalangan mazhab Al-Hanfiyah. Ibnu Qosim, Asyhab dan Asad ibnu Furat dari kalangan mazhab Al Malikiyah. Al-Buwaithi, Al-Muzanni dari kalangan mazhab asy-syafi’iyah. Abu Bakar Al-Atsram, Abu Bakar Al-Mawardi dari kalangan mazhab Al-Hambaliyah.[10]

c. Mujtahid Muqoyyad.

Yaitu meeka para imam mujtahid yang terikat pada suatu mazhab, sekalipun ia sendiri dapat menilai dalil-dalil atau jalan yang ditempuh oleh imam mazhab itu dengan tidak keluar dari kaidah kesepakatan imam mazhab tersebut. Yang termasuk dalam kategori tingatan ini adlah: Al-Hashafi, Al-Thahawi, Al-Abrahi, Ibnu Abi Zaid Al-Qirawani, Abi Ishaq Al-Syiraji, dan Al-Qadli Abu Ya’ala.[11]

d. Mujtahid Tarjih.

Yaitu mereka para ulama’ yang mamou mentarjih (menguatkan) salah satu pendapat dari imam madzhab dari pendapat imam-imam lain, atau daapat mentarjih pendapat dari salah satu imam madzab dari pendapat para muridnya atau pendapat imam lainya. Jadi mereka hanya mengambil satu riwayat dari beberapa riwayat. Yang termasuk dalam kategori tingkatan ini adalah: Al-Qauduri, Al-Murghainani (pengarang kitab al-hidayah) dari kalangan madzab Al-Hanafiyah. Imam Al-Kholil dari kalangan mazab Al- Malikiyah. Al- Rafi’i, Al- Nawawi dari kalangan madzab Al- Syafi’iyah. Al- Qadli Alaudin, Abu al-Khotob Mahfudz bin Ahmad Al-Kalwadzani Al-Bagdati dari kalangan madzab Al- Hambaliyah.[12]

 

C. PENGARUH DIDALAM PERKEMBANGAN TARIKH TASYRI

            Pada pemaparan masalah diatas banyak sekali pengaruhnya dalam perkembangan dan kemajuan tasyri’ islam. Maka dengan senantiasa kepada mereka yang lebih mempunyai ilmu yang matang dan tinggi harus selau terus melakukan pengembangan sampai hayat mereka. Sebagai upaya menghadapi tantangan zaman yang serba modern, para mujtahid berusaha menafsirkan dan membuat kesepekatan baru dari pada Al-Qur’an terkait dengan semakin pesatnya tingkat kemajuan zaman dan makin banyanya masalah-masalah yang timbul.

            Dalam penafsiran ini muhammad abduh senantiasa berusaha mencari persesuaian antara Al- Qur’an dan teori-teori ilmu pengetahuan modern. Beliau berpendapat bahwa Al- Qur’an tidak mungkin mangandung ajaran-ajaran yang berlawanan dengan hakikat ilmu. Bahkan, Al- Qur’an mencangkup teori-teori ilmu pengetahuan modern.

            Dalam pewujudan pembaharuan dan pengembangan serta pembentukan hukum ini, para mujtahid tidak terikat oleh salah satu madzab. Mereka mengambil pendapat dari beberapa ulma’ ahli hukum yang lebih sesuai kemaslahatanya umat dan masyarakat di alam modern.[13]

 

BAB III

PENUTUP

 

A. KESIMPULAN

            Bahwasanya disetiap bertambahnya tat cara dalam kehidupan maka bertambah pula masalah maupun problematika yang muncul. Maka dari itu harus pandai-pandai mengambil sikap dan langkah yang cepat dan tepat dalam penagambilan sebuah kesepakatan. Dari pemaparan beberapa statemen diatas dapat ditarik benang merahnya yaitu, pemahaman tentang istilah fiqh beserta garis hukumya yang sesuai dengan kaidahnya. Dan haruslah dengan cermat dan teliti, karena persamaan dan berbedaan pendapat kerap sekali menuai pro dan kontra. Maka dari itu fahami secara mendetail agar masalah serta kadar hukumnya dapat diketahui secara jelas dan gamblang

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Mu’in Drs. Dkk, Ushul Fiqh II, DEPAG RI, Jakarta 1986

H. A. Abdul Majid MA. Ushul Fiqh, Garuda Buana Indah, Pasuruan 1994

Amirudin, H. Zen, Drs, M.Si. Ushul Fiqh,  eLKAF, Surabaya. 2006

Sarwat ahmad, Lc. www.dimensi islam.com, entri 21-01-2008

Tafsir Ahmad, Prof DR, Materi Pendidikan Agama Islam, PT. Remaja            Rosdakarya, Bandung 2001

 

[1] Mu’in Drs. Dkk, Ushul Fiqh II DEPAG RI, Jakarta 1986

[2] H. A. Abdul Majid MA. Ushul Fiqh, Garuda Buana Indah, Pasuruan 1994 hl. 89

[3] Ibid hl 102-106

[4] Ibid hl. 109

[5] Amirudin, H. Zen, Drs, M.Si Ushul Fiqh Elkaf hl. 189

[6] Ibid hl. 191-193

[7] Amirudin, H. Zen, Drs, M.Si hl 194

[8] Ibid hl 196

[9] op cit hl. 197-198

[10] Sarwat ahmad, Lc. www.dimensi islam.com

[11] Mu’in Drs. Dkk, Ushul Fiqh II DEPAG RI, Jakarta 1986

[12] Sarwat ahmad, Lc. www.dimensi islam.com

[13] Tafsir Ahmad, Prof DR, MATERI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung 2001, hl 339

FacebookTwitterGoogle+LinkedIn

KRITERIA ORANG YANG MATANG BERAGAMA

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang Masalah

Manusia mengalami dua macam perkembangan, yaitu perkembangna jasmani dan rohani. Perkembangan jasmani diukur berdasarkan umur kronologis. Punck perkembangna jasmani yang dicapai manusia disebut kedewasaan. Sebaliknya, perkembangan rohani diukur berdasarkan tingkat kemampuan (abilitas). Pencapaian tingkat abilitas tertentu bagi perkembangan rohani disebut istilah kematangan (maturity).

Menurut Prof. Dr. Zakiah Darajat bahwa psikologi agama meneliti pengaruh agama terhadap sikap dan tingkah laku orang atau mekanisne yang bekerja dalam diri seseorang, karena cara seseorang berpikir, bersikap, bereaksi dan bertingkah laku tidak dapat dipisahkan dari keyakinannya, karena keyakinan itu masuk dalam kostruksi pribadi

      Disini kami membahas secara mendalam bagaimana kriteria orang yang agamanya sudah matang atau mendalam, mulai dari dasar yakni dari faktor intern anak hingga dewasa.

 


  1. Rumusan Masalah
  1. Apa saja kriteria agama yang matang itu ?
  2. Bagaimana cirri-ciri orang yang sudah matang agamanya ?
  3. Bagaimana proses orang yang akan mencapai kematangan agama ?

 

  1. Tujuan Masalah
  1. Agar mengetahui apa saja kriteria agama yang matang itu
  2. Agar mengetahui bagaimana cirri-ciri orang yang sudah matang agamanya
  3. Agar mengetahui Bagaimana proses orang yang akan mencapai kematangan agama

BAB II

PEMBAHASAN

KRITERIA ORANG YANG MATANG BERAGAMA

 

"Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya, dan orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang men- jaga kemaluannya kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memeli- hara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, dan orang-orang yang memelihara shalat. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi." (QS. Al-Mu'minun : 1 – 10)

 

Ilmu jiwa agama adalah suatu bidang disiplin ilmu yang berusaha mengeksplorasi perasaan dan pengalaman dalam kehidupan seseorang. Penelitian itu didasarkan atas dua hal yaitu sejauh mana kesadaran beragama (religious counsciousness) dan pengalaman beragama (religious experience). Apabila standar itu kita coba terapkan pada seseorang yang secara spesifik beragama Islam, maka akan kita lihat beberapa standar diantaranya Al-Qur'an dan As-Sunnah dan penjelasan para ulama.

A. Kepribadian yang matang

Kepribadian yang matang merupakan label positif bagi orang yang dianggap telah mencapainya. Sayang, banyak orang tak pernah berpikir menjadi matang. Padahal, kepribadian matang merupakan ukuran perkembangan kepribadian yang sehat.

Kepribadian yang matang diartikan secara berbeda-beda oleh banyak orang . Hal ini tercermin dari beberapa pendapat berikut ini.  Menjawab pertanyaan dosen dalam kuliah tentang kepribadian di sebuah fakultas psikologi, ada mahasiswa yang mengartikan matang kepribadian sebagai sabar, tidak berlebihan dalam mengekspresikan emosi, dan pandai mengelola hubungan dengan orang lain.

Ada juga yang mengartikan kemampuan untuk memecahkan berbagai masalah kehidupan dengan bijaksana. Beberapa mahasiswa menunjuk pada kemampuan memenuhi tugas-tugas perkembangan masa dewasa dengan baik, seperti memiliki pekerjaan dan filsafat hidup yang mantap, kondisi batin yang stabil, dan sebagainya.

Tulisan ini menyajikan kriteria yang lebih utuh mengenai kepribadian yang matang dari seorang sesepuh yang ikut merintis Psikologi, yakni Gordon W. Allport (1897-1967). Hingga saat ini teori-teorinya (tentang kepribadian yang sehat) tetap relevan.

Berikut adalah tujuh kriteria dari Allport tentang sifat-sifat khusus kepribadian yang sehat, yaitu :

1. Perluasan Perasaan Diri

Ketika orang menjadi matang, ia mengembangkan perhatian-perhatian di luar diri. Tidak cukup sekadar berinteraksi dengan sesuatu atau seseorang di luar diri. Lebih dari itu, ia harus memiliki partisipasi yang langsung dan penuh, yang oleh Allport disebut "partisipasi otentik". 

Dalam pandangan Allport, aktivitas yang dilakukan harus cocok dan penting, atau sungguh berarti bagi orang tersebut. Jika menurut kita pekerjaan itu penting, mengerjakan pekerjaan itu sebaik-baiknya akan membuat kita merasa enak, dan berarti kita menjadi partisipan otentik dalam pekerjaan itu. Hal ini akan memberikan kepuasan bagi diri kita.  

Orang  yang semakin terlibat sepenuhnya dengan berbagai aktivitas orang, atau ide, ia lebih sehat secara psikologis. Hal ini berlaku bukan hanya untuk pekerjaan, melainkan juga hubungan dengan keluarga dan teman, kegemaran, dan keanggotaan dalam politik, agama, dan sebagainya.

2. Relasi Sosial yang Hangat

Allport membedakan dua macam kehangatan dalam hubungan dengan orang lain, yaitu kapasitas untuk mengembangkan keintiman dan untuk merasa terharu. Orang  yang sehat secara psikologis mampu mengembangkan relasi intim dengan orangtua, anak, pasangan, dan sahabat. Ini merupakan hasil dari perasaan perluasan diri dan perasaan identitas diri yang berkembang dengan baik. 

Ada perbedaan hubungan cinta antara orang yang neurotis (tidak matang) dan yang berkepribadian sehat (matang). Orang-orang neurotis harus menerima cinta lebih banyak daripada yang mampu diberikannya kepada orang lain. Bila mereka memberikan cinta, itu diberikan dengan syarat-syarat. Padahal, cinta dari orang yang sehat adalah tanpa syarat, tidak melumpuhkan atau mengikat.

Jenis kehangatan yang lain, yaitu perasaan terharu, merupakan hasil pemahaman terhadap kondisi dasar manusia dan perasaan kekeluargaan dengan semua bangsa. Orang  sehat memiliki kapasitas untuk memahami kesakitan, penderitaan, ketakutan, dan kegagalan yang merupakan ciri kehidupan manusia.

3. Keamanan Emosional

Kualitas utama manusia sehat adalah penerimaan diri. Mereka menerima semua segi keberadaan mereka, termasuk kelemahan-kelemahan, dengan tidak menyerah secara pasif terhadap kelemahan tersebut.  Selain itu, kepribadian yang sehat tidak tertawan oleh emosi-emosi mereka, dan tidak berusaha bersembunyi dari emosi-emosi itu. Mereka dapat mengendalikan emosi, sehingga tidak mengganggu hubungan antarpribadi. Pengendaliannya tidak dengan cara ditekan, tetapi diarahkan ke dalam saluran yang lebih konstruktif.

Kualitas lain dari kepribadian sehat adalah "sabar terhadap kekecewaan". Hal ini menunjukkan bagaimana seseorang bereaksi terhadap tekanan dan hambatan atas berbagai keinginan atau kehendak. Mereka mampu memikirkan cara yang berbeda untuk mencapai tujuan yang sama.

Orang-orang yang sehat tidak bebas dari perasaan tak aman dan ketakutan. Namun, mereka tidak terlalu merasa terancam dan dapat menanggulangi perasaan tersebut secara lebih baik daripada kaum neurotis.

 

4. Persepsi Realistis

Orang-orang sehat memandang dunia secara objektif. Sebaliknya, orang-orang neurotis kerapkali memahami realitas disesuaikan dengan keinginan, kebutuhan, dan ketakutan mereka sendiri. Orang  sehat tidak meyakini bahwa orang lain atau situasi yang dihadapi itu jahat atau baik menurut prasangka pribadi. Mereka memahami realitas sebagaimana adanya.

 

 

5. Keterampilan dan Tugas

Allport menekankan pentingnya pekerjaan dan perlunya menenggelamkan diri di dalam pekerjaan tersebut. Kita perlu memiliki keterampilan yang relevan dengan pekerjaan kita, dan lebih dari itu harus menggunakan keterampilan itu secara ikhlas dan penuh antusiasme.

Komitmen pada orang sehat atau matang begitu kuat, sehingga sanggup menenggelamkan semua pertahanan ego. Dedikasi terhadap pekerjaan berhubungan dengan rasa tanggung jawab dan kelangsungan hidup yang positif.

Pekerjaan dan tanggung jawab memberikan arti dan perasaan kontinuitas untuk hidup. Tidak mungkin mencapai kematangan dan kesehatan psikologis tanpa melakukan pekerjaan penting dan melakukannya dengan dedikasi, komitmen, dan keterampilan.

 

6. Pemahaman Diri

Memahami diri sendiri merupakan suatu tugas yang sulit. Ini memerlukan usaha memahami diri sendiri sepanjang kehidupan secara objektif.  Untuk mencapai pemahaman diri yang memadai dituntut pemahaman tentang dirinya menurut keadaan sesungguhnya. Jika gambaran diri yang dipahami semakin dekat dengan keadaan sesungguhnya, individu tersebut semakin matang. 

Demikian juga apa yang dipikirkan seseorang tentang dirinya, bila semakin dekat (sama) dengan yang dipikirkan orang-orang lain tentang dirinya, berarti ia semakin matang. Orang  yang sehat terbuka pada pendapat orang lain dalam merumuskan gambaran diri yang objektif.

Orang yang memiliki objektivitas terhadap diri tak mungkin memproyeksikan kualitas pribadinya kepada orang lain (seolah orang lain negatif). Ia dapat menilai orang lain dengan seksama, dan biasanya ia diterima dengan baik oleh orang lain. Ia juga mampu menertawakan diri sendiri melalui humor yang sehat.

 

7. Filsafat Hidup

Orang yang sehat melihat ke depan, didorong oleh tujuan dan rencana jangka panjang. Ia memiliki perasaan akan tujuan, perasaan akan tugas untuk bekerja sampai tuntas sebagai batu sendi kehidupannya. Allport menyebut dorongan-dorongan tersebut sebagai keterarahan (directness). 

Keterarahan itu membimbing semua segi kehidupan seseorang menuju suatu atau serangkaian tujuan, serta memberikan alasan untuk hidup. Kita membutuhkan tarikan yang tetap dari tujuan yang bermakna. Tanpa itu mungkin kita mengalami masalah kepribadian.

Kerangka dari tujuan-tujuan itu adalah nilai, yang bersama dengan tujuan sangat penting dalam rangka mengembangkan filsafat hidup. Memiliki nilai-nilai yang kuat merupakan salah satu cirri orang matang. Orang-orang neurotis tidak memiliki nilai atau memiliki nilai yang terpecah-pecah dan bersifat sementara, yang tidak cukup kuat untuk mempersatukan semua segi kehidupan. 

Suara hati berperan dalam menentukan filsafat hidup. Allport mengemukakan perbedaan antara suara hati yang matang dengan suara hati tidak matang. Yang tidak matang, suara hatinya seperti pada kanak-kanak: patuh dan membudak, penuh larangan dan batasan, bercirikan perasaan "harus". 

Orang yang tidak matang berkata, "Saya harus bertingkah laku begini." Sebaliknya, orang yang matang berkata, "Saya sebaiknya bertingkah laku begini."  Suara hati yang matang adalah perasaan kewajiban dan tanggung jawab kepada diri sendiri dan orang lain, dan mungkin berakar dalam nilai-nilai agama atau etis.

Faktor intern anak yang dapat memepengaruhi perkembangan kepribadian adalah

  1. Konstitusi tubuh
  1. struktur dan keadaan fisik
  1. koordinasi motorik
  1. kemampuan mental dan bakat khusus, intelegensi tinggi, hambatan mental, dan bakat khusus
  1. emosional

 

B. Kriteria Orang yang Matang Beragama

Kriteria yang diberikan oleh Al-Qur'an bagi mereka yang dikategorikan orang yang matang beragama Islam cukup bervariasi. Seperti pada sepuluh ayat pertama pada Surah Al-Mu'minun dan bagian akhir dari Surah Al-Furqan :

- Mereka yang khusyu' shalatnya

- Menjauhkan diri dari (perbuatan-perbuatan) tiada berguna

- Menunaikan zakat

- Menjaga kemaluannya kecuali kepada isteri-isteri yang sah

- Jauh dari perbuatan melampaui batas (zina, homoseksual, dan lain-lain)

- Memelihara amanat dan janji yang dipikulnya

- Memelihara shalatnya (QS. Al-Mu'minun : 1 – 10)

- Suka bertaubat, tidak memberi persaksian palsu dan jauh dari perbuatan

sia-sia, memperhatikan Al-Qur'an, bersabar, dan mengharap keturunan yang bertaqwa (QS. Al-Furqan : 63 – 67)

 

Kriteria dari As-sunnah : Rasulullah SAW memberikan batas minimal bagi seorang yang disebut muslim yaitu disebut muslim itu apabila muslim-muslim lain merasa aman dari lidah dan tangannya (HR. Muslim). Sementara ciri-ciri lain disebutkan cukup banyak bagi orang yang meningkatkan kualitas keimanannya. Sehingga tidak jarang Nabi SAW menganjurkan dengan cara peringatan, seperti : "Barangsiapa beriman kepada Allah dan Rasul-Nya hendaknya dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri" (HR. Bukhari). "Tidak beriman seseorang sampai tetangganya merasa aman dari gangguannya " (HR. Bukhari dan Muslim). "Tidak beriman seseorang kepada Allah sehingga dia lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya dari pada kecintaan lainnya…" (HR. Muslim).

Dengan demikian petunjuk-petunjuk itu mengarahkan kepada seseorang yang beragama Islam agar dia menjaga lidah dan tangannya sehingga tidak mengganggu orang lain, demikian juga dia menghormati tetangganya, saudara sesama muslim dan sangat mencintai Allah dan Rasul-Nya.

 

Ringkas kata, dia berpedoman kepada petunjuk Al-Qur'an dan mengikuti contoh praktek Rasulullah SAW, sehingga dia betul-betul menjaga hubungan "hablum minallah " (hubungan vertikal) dan "hablum minannaas" (hubungan horizontal).

 

Peringatan shahabat Ali r.a. bahwa klimaks orang ciri keagamaannya matang adalah apabila orang tersebut bertaqwa kepada Allah SWT. Dan inti taqwa itu ada  empat, menurut Ali r.a. :

  • Mengamalkan isi Al-Qur'an
  • Mempunyai rasa takut kepada Allah sehingga berbuat sesuai dengan perintah Nya
  • Merasa puas dengan pemberian atau karunia Allah SWT meskipun terasa sedikit

 

Sedangkan Ibnul Qoyyim, ulama abad ke 7, menyebutkan 9 kriteria bagi orang yang matang beragama Islamnya, yaitu :

  • Dia terbina keimanannya yaitu selalu menjaga fluktualitas keimanannya agar
  • selalu bertambah kualitasnya
  • Dia terbina ruhiyahnya yaitu menanamkan pada dirinya kebesaran dan keagungan
  • Allah serta segala yang dijanjikan di akherat kelak, sehingga dia menyibukkan
  • diri untuk meraihnya
  • Dia terbina pemikirannya sehingga akalnya diarahkan untuk memikirkan
  • ayat-ayat Allah Al-Kauniyah (cipataan-Nya) dan Al-Qur'aniyah (firman-Nya).
  • Dia terbina perasaannya sehingga segala ungkapan perasaan ditujukan kepada
  • allah, senang atau benci, marah atau rela, semuanya karena Allah.
  • Dia terbina akhlaknya dimana kepribadiannya di bangun diatas pondasi akhlak
  • mulia sehingga kalau berbicara dia jujur, bermuka manis, menyantuni yang tidak
  • mampu, tidak menyakiti orang lain dan berbagai akhlak mulia
  • Dia terbina kemasyarakatannya karena menyadari sebagai makhluk sosial, dia
  • harus memperhatikan lingkungannya sehingga dia berperan aktif mensejahterakan
  • masyarakat baik intelektualitasnya, ekonominya, kegotang-royongannya, dan
  • lain-lain
  • Dia terbina keamuannya sehingga tidak mengumbar kemauannya ke arah yang
  • distruktif tetapi justru diarahkan sesuai dengan kehendak Allah. Kemauan yang
  • mendorongnya selalu beramal shaleh
  • Dia terbina kesehatan badannya karena itu dia memberikan hak-hak badan untuk
  • ketaatan kepada Allah karena Rasulullah SAW bersabda : "Orang mukmin yang kuat
  • itu lebih baik dan dicintai Allah daripada mukmin yang lemah " (HR. Ahmad)
  • Dia terbina nafsu seksualnya yaitu diarahkan kepada perkawinan yang
  • dihalalkan Allah SWT sehingga dapat menghasilkan keturunan yang shaleh dan
  • bermanfaat bagi agama dan negara.

 

Demikian secara ringkas kami paparkan kriteria ideal untuk mengetahui dan mengukur sejauh mana kematangan beragama Islam seseorang. Sengaja kami batasi agama Islam karena pembahasan ciri-ciri beragama secara umum terlalu luas. Dan perlu kita ingat dalam kondisi masyarakat yang komplek dengan problematika kehidupannya, maka sungguh orang yang beragamalah yang akan terhindar dari penyakit stress, kata Robert Bowley.

 

BAB III

P E N U T U P

 

  1. Kesimpulan

Kriteria yang diberikan oleh Al-Qur'an bagi mereka yang dikategorikan orang yang matang beragama Islam cukup bervariasi. Seperti pada sepuluh ayat pertama pada Surah Al-Mu'minun dan bagian akhir dari Surah Al-Furqan : Mereka yang khusyu' shalatnya, Menjauhkan diri dari (perbuatan-perbuatan) tiada berguna, Menunaikan zakat, Menjaga kemaluannya kecuali kepada isteri-isteri yang sah, Jauh dari perbuatan melampaui batas (zina, homoseksual, dan lain-lain), Memelihara amanat dan janji yang dipikulnya, Memelihara shalatnya (QS. Al-Mu'minun : 1 – 10), Merendahkan diri dan bertawadlu', Menghidupkan malamnya dengan bersujud (Qiyamullail), Selalu takut dan meminta ampunan agar terjauh dari jahanam, Membelanjakan hartanya secara tidak berlebihan dan tidak pula kikir, Tidak menyekutukan allah, tidak membunuh, tidak berzina, Suka bertaubat, tidak memberi persaksian palsu dan jauh dari perbuatan sia-sia, memperhatikan Al-Qur'an, bersabar, dan mengharap keturunan yang bertaqwa (QS. Al-Furqan : 63 – 67).

  1. Saran

Dalam penulisan makalah ini, penulis harapkan kepada pembaca untuk mengkaji ulang terkait dengan tema ini yang belum kami bahas, untuk itu lebih dikaji dari refrensi yang lain.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Al-Qur'an dan terjemahannya, Yayasan Penyelenggara Penterjemah / Penafsir Al-Qur'an

Hadits-hadits Nabi yang terkumpul dalam Shahih Bukhari, Muslim, dan lain-lain

Zakiah Derajat , Ilmu Jiwa Agama, Bulan Bintang, Jakarta, 1996

Jalaluddin, Psikologi Agama, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2005

Fauzi Ahmad, Psikologi Umum, Pustaka setia, Bandung, 2004

Rakhamat Jalaluddin, Psikologi Agama sebuah pengantar, PT. Mizan Pustaka, Bandung, 2003

 

 

FacebookTwitterGoogle+LinkedIn

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI INDONESIA

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang Masalah

                 Masalah pendidikan adalah masalah yang sangat penting dalam kehidupan, bukan saja penting bahkan masalah pendidikan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan, khususnya pendidikan agama. Baik dalam kehidupan berkeluarga maupun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sehingga pendidikan dijadikan suatu ukuran maju mundurnya suatu bangsa.

                 Di dalam makalah ini kita akan membahas bagaimana Pendidikan Agama Islam di Indonesia, baik dari segi perkembangannya dizaman dahulu dan sampai sekarang, kedudukannya disekolah-sekolah negeri maupun swasta, dan cara penerapan pendidikan agama itu di dalam proses pendidikan.

 


 

  1. Rumusan Masalah
  1. Bagaimana Pendidikan Agama Islam di Indonesia dahulu dan sekarang ?
  2. Bagaimana proses Pendidikan Agama Islam bisa sampai ke Indonesia ?
  3. Bagaimana Perkembangan Pendidikan Agama Islam di Indonesia ?
  4. Apa dasar dan tujuan Pendidikan Agama Islam ?

 

  1. Tujuan Masalah
  1. Untuk mengetahui bagaimana Pendidikan Agama Islam di Indonesia dahulu dan sekarang.
  2. Untuk mengetahui bagaimana proses Pendidikan Agama Islam bisa sampai ke Indonesia.
  3. Untuk mengetahui bagaimana Perkembangan Pendidikan Agama Islam di Indonesia.
  4. Untuk mengetahui apa dasar dan tujuan Pendidikan Agama Islam.

 

BAB II

PEMBAHASAN

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI INDONESIA

 

  1. DASAR DAN TUJUAN PENDIDIKAN AGAMA
  1. Dasar Dan Tujuan Pendidikan Pada Umumnya

Dasar dan tujuan pendidikan adalah : masalah yang sangat pokok dalam pelaksanaan pendidikan. Sebab dari dasar pendidikan itu akan menentukan corak dan arah pendidikan, dan dari tujuan pendidikan akan menentukan ke arah mana peserta didik itu akan diarahkan.

Tujuan pendidikan yaitu : mengusahakan supaya tiap-tiap orang sempurna pertumbuhan tubuhnya, sehat otaknya, baik budi pekertinya dan sebagainya. Sehingga ia dapat mencapai kesempurnaan dan berbahagia hidupnya lahir batin. Seperti tujuan Pendidikan Nasional Indonesia yaitu :

  1. Mencerdaskan kehidupan bangsa;
  1. Mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya;
  1. Manusia yang beriman;
  1. Manusia yang bertakwa kepada Tuhan YME
  1. Manusia yang memiliki budi pekerti yang luhur;
  1. Manusia yang memiliki pengetahuan dan keterampilan;
  1. Sehat jasmani dan rohani;
  1. Memiliki kepribadian yang mantap dan mandiri;
  1. Manusia yang memiliki rasa tanggung jawab terhadap kemasyarakatan dan bangsa.

 

Dasar pendidikan adalah : suatu landasan yang dijadikan pegangan dalam menyelenggarakan pendidikan. Adapun dasar pendidikan di Indonesia secara yuridis telah dirumuskan, antara lain :

  1. Undang-undang tentang pendidikan dan pengajaran No. 4 Th. 1950, Jo Nomor 12 Th 1954, Bab III pasal 4 yang berbunyi : Pendidikan dan pengajaran berdasar atas azas-azas yang termaktub dalam pancasila, UUD RI. Dan kebudayaan bangsa Indonesia.
  1. Ketetapan MPRS No. XXVII/MPRS/1966 Bab II pasal 2 yang berbunyi : Dasar pendidikan adalah falsafah negara pancasila.
  1. Dalam GBHN Th. 1973, GBHN 1978, GBHN 1983 dan GBHN 1988 Bab IV bagian pendidikan yang berbunyi : Pendidikan Nasional Berdasarkan Pancasila.[1]

 

2. Dasar dan Tujuan Pendidikan Agama Islam

          Dasar dan tujuan pendidikan agama Islam : Firman Allah  dan sunah Rasulullah SAW. Kalau pendidikan diibaratkan bangunan, maka isi Al-Qur’an dan Hadist-lah yang menjadi pondamenya.

          Al-Qur’an adalah sumber kebenaran dalam Islam, kebenarannya tidak dapat diragukan lagi. Sedangkan sunah Rasulullah yang dijadikan landasan pendidikan agama Islam adalah merupakan perkataan, perbuatan atau pengakuan Rasulullah SAW dalam bentuk isyarat (suatu perbuatan yang dilakukan oleh sahabat atau orang lain dan Rasulullah membiarkan saja, dan perbuatan serta kejadian itu terus berlangsung). Dan Allah berfirman yang artinya :

“ Dan barang siapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia akan bahagia sebenar-benar bahagia. (Q.S Al-Ahzab : 71)

 

3. Tujuan Pendidikan Agama Islam Menurut Beberapa Tokoh

        Adapun tujuan pendidikan agama Islam menurut beberapa ahli/tokoh pendidik Islam adalah :

  1. Imam al-Ghazali, tujuan yang hendak dicapai adalah : pertama, kesempurnaan manusia, yang puncaknya adalah dekat dengan Allah. Kedua, kesempatan manusia, yang puncaknya kebahagiaan di dunia dan akhirat.
  1. Muhammad Athiyah al-Abrasi : a) untuk membantu pembentukan akhlak yang mulia; b) persiapan untuk kehidupan dunia dan akhirat; c) persiapan mencari rejeki dan pemeliharaan segi-segi kemanfaatannya; d) menumbuhkan semangat ilmiah pada pelajar; e) menyiapkan pelajaran dari segi professional, tekhnis supaya dapat menguasai profesi tertentu dan keterampilan tertentu.
  1. Ahmad D. Marimba : untuk mencapai keseimbangan pertumbuhan diri pribadi manusia muslim secara menyeluruh melalui latihan kejiwaan, akal pikiran, kecerdasan, perasaan dan panca indera, sehingga memiliki kepribadian yang utama.[2]

 

  1. DASAR-DASAR PELAKSANAAN PENDIDIKAN AGAMA
  1. Dasar dari segi Yuridis / Hukum : Dasar-dasar pelaksanaan pendidikan agama yang berasal dari peraturan perundang-undangan.
  2. Dasar dari segi Sosial Psychologi : Semua manusia dalam hidupnya di dunia ini, selalu membutuhkan adanya suatu pegangan hidup yang disebut agama. Hal semacam ini terjadi pada masyarakat yang masih primitive atau modern. Meraka merasa tenang dan tentram hatinya kalau mereka dapat mendekatkan dan mengabdi kepada Dzat yang Maha Kuasa. Hal ini sesuai dengan Firman Allah SWT yang artinya : “ Ketahuilah, bahwa hanya dengan mengingat Allah, hati akan menjadi tentram. (Q.S Ar-Ra’ad : 28)

 

C. PERKEMBANGAN PENDIDIKAN AGAMA DI MADRASAH

         Sekitar abad ke 19 pemerintah Belanda mulai memperkenalkan sekolah-sekolah modern menurut system persekolahan yang berkembang di dunia barat, dan mempengaruhi system pendidikan di Indonesia yang telah berkembang di Indonesia yaitu pesantren atau madrasah.

         Pada perkembangan selanjutnya banyak madrasah yang didirikan terpisah dengan induknya yaitu pesantren, surau, masjid. Bahkan dengan adanya ide-ide pembaharuan dalam dunia Pendidikan Islam di Indonesia, tidak sedikit madrasah yang didirikan sudah lepas sama sekali dengan pesantren yang tidak hanya memberikan pengetahuan agama saja tetapi juga mengajarkan  pengetahuan umum, sesuai dengan tuntutan zaman. Madarasah pertama kali didirikan di Indonesia, adalah Madrasah Adabiyah di Padang-Sumatra Barat, yang didirikan oleh Syekh Abdullah Ahmad, tahun 1909.

         Adabiyah inilah sekolah pertama yang memasukkan pelajaran agama kedalam kegiatan pengajarannya. Pada awal abad ke 20 adalah merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan madrasah di seluruh Indonesia, dengan nama dan tingkatan yang bervariasi, dan belum ada system / keseragaman baik isi kurikulum serta rencana pelajaran, setalah Indonesia merdeka tepatnya tahun 1950 mulai dirintis penyeragaman system dan rencana pelajaran.

 

D. PERKEMBANGAN PENDIDIKAN AGAMA DI SEKOLAH UMUM DI INDONESIA

  1. Periode Penjajahan Belanda

Semenjak kedatangan penjajah Belanda ke Indonesia abad 16 sampai dengan tahun 1854 belum ada sekolah umum yang dibuka oleh pemerintah Belanda. Yang ada pada waktu hanya pendidikan pesantren yang bercorak tradisional dengan kurikulum seperti Tauhid, fiqih, akhlak dan tasawuf serta aspek-aspek ibadah ritual dalam Islam. Semula pemerintah Belanda mencurigai pondok-pondok pesantren karena dianggap melahirkan santri-santri yang anti kepada Belanda.

            Setelah Belanda membuka lembaga-lembaga pendidikan formal di Indonesia, disekolah-sekolah umum secara resmi belum diberi pendidikan agama. Hanya di fakultas-fakultas hukum telah ada mata kuliah Islamologi dengan maksud agar mahasiswa dapat mengetahui hukum-hukum dalam Islam.

            Dengan sikap Belanda yang tetap tidak mau memasukkan pendidikan agama pada sekolah-sekolah umum, sedangkan pendidikan umum/pelajaran umum semakin maju. Mulailah dikembangkan pemisahan antara pengetahuan agama, dengan pengetahuan umum, sekolah agama dengan sekolah umum, guru agama dan guru umum, bahkan kadang-kadang dipertentangkan sehingga pendidikan agama mendapat tekanan. Dengan demikian eksistensi dan fungsi guru agama semakin berkurang pada pemerintah kolonial Belanda.

 

  1. Periode Penjajahan Jepang

Jepang sebelum datang ke Indonesia telah mengetahui bahwa umat Islam Indonesia tidak menyenangi bangsa Belanda. Oleh karena itu, begitu Jepang masuk ke Indonesia, mereka berusaha membujuk umat Islam dan mengharapkan agar mereka dapat menjadi sekutu Jepang. Sikap Jepang tersebut membawa perubahan pula terhadap kemajuan pendidikan agama disekolah umum, sehingga pendidikan agama mendapat perhatian oleh Jepang.

Di Sumatra, organisasi Islam menggabungkan diri dalam Majelis Islam Tinggi. Kemudian majelis tersebut mengajukan usul kepada Pemerintah Jepang, yaitu agar sekolah-sekolah pemerintah diberikan pendidikan agama, sejak sekolah rakyat 3 tahun. Dan ternyata usulan tersebut diterima atau dikabulkan tetapi dengan syarat tidak disediakan anggaran biaya untuk guru-guru agama. Semenjak inilah penddikan agama secara resmi boleh diberikan disekolah-sekolah pemerintah, tetapi baru berlaku untuk sekolah di Sumatra saja, sedangkan daerah lain masih belum ada pendidikan agama, yang ada hanyalah pendidikan budi pekerti.

  1. Periode Orde Lama (1945-1965)

Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945. pada kabinet pertama, Ki Hajar Dewantara duduk sebagai menteri Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan (PPK). Dalam rapat tanggal 27 Desember 1945 Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP-KNIP) mengusulkan kepada Kementrian Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan (PPK) supaya mengusahakan pembaharuan pendidikan dan pengajaran di Indonesia. Saran Badan Pekerja adalah sebagai berikut :

  1. Pengajaran agama hendaklah mendapat tempat yang teratur seksama, hingga cukup mendapat perhatian yang semestinya dengan tidak mengurangi kemerdekaan golongan-golongan yang berkehendak mengikuti kepercayaan yang dipeluknya. Tentang cara melakukan hal ini baiklah kementrian mengadakan perundingan dengan badan pekerja.
  1. Madrasah dan pesantren yang pada hakekatnya adalah satu alat dan sumber pendidikan dan pencerdasan rakyat jelata yang sudah berurat berakar dalam masyarakat Indonesia umumnya hendaklah pula mendapat perhatian dan bantuan yang nyata dengan berupa tuntunan dan bantuan material dari pemerintah.

 

  1. Periode Orde Baru (1966-1997)

Diusahakan bertambahnya sarana-sarana yang diperlukan bagi pengembangan kehidupan keagamaan dan kehidupan kepercayaan Tuhan YME, termasuk pendidikan agama yang dimasukkan kedalam kurikulum sekolah-sekolah mulai dari SD sampai dengan Universitas-universitas Negeri.

Karena dimasukannya pendidikan agama kedalam kurikulum sekolah-sekolah mulai dari SD sampai Universitas Negeri, maka dengan sendirinya pengajaran agama di sekolah-sekolah swasta juga harus mengikutinya. Pada dasarnya ketetapan MPR No. IV Th. 1973 inilah yang menjadi landasan pendidikan agama disekolah-sekolah di Indonesia sampai saat ini.

Seiring dengan perkembangan waktu, maka pendidikan agama semakin menjadi perhatian, dengan pengertian bahwa pendidikan agama semakin dibutuhkan oleh setiap manusia terutama yang masih duduk dibangku sekolah. Hal ini dibuktikan dengan adanya pendidikan agama dimasukkan dalam GBHN, mulai GBHN Th. 1973 sanmpai dengan 1983 dan 1988 dan 1993 yang pada pokoknya dinyatakan bahwa pelaksanaan pendidikan agama secara langsung dimasukkan kedalam kurikulum disekolah-sekolah mulai dari SD sampai Universitas Negeri dan dikuatkan lagi dengan Undang-undang No. 2 Th. 1989 yaitu tentang system Pendidikan Nasional pada bab IV pasal 11 ayat 6 berbunti “ Pendidikan keagamaan merupakan pendidikan yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat menjalankan peranan yang menuntut penguasaan pengetahuan khusus tentang ajaran agama yang bersangkutan “.

 

  1. Periode Reformasi (1998-Sampai Sekarang)

Seiring dengan adanya babak baru dalam pergulatan politik di Indonesia, sejak bergulirnya reformasi, kebijakan-kebijakan baik yang menyangkut politik, ekonomi, maupun pendidikan mengalami perubahan. Khususnya pada bidang pendidikan, dengan adanya UU No. 22 dan 25 Th. 1999 tentang Otonomi Daerah, menjadikan pendidikan sebagai bagian otinomi pemerintah daerah, yang menyaratkan adanya pendelegasian wewenang pendidikan dari tingkat pusat ke daerah.

Arus reformasi ini, mau tidak mau mengarahkan pada desentralisasi pendidikan, yang akhirnya mengubah system pendidikan nasional secara total. Dengan adanya otonomi daerah ini, sebetulnya justru merupakan suatu keuntungan bagi daerah-daerah, kerana dengan diterbitkannya UU SISDIKNAS No. 22 Th. 2003, memberikan paradigma baru tentang system pendidikan nasional. Satu-satunya implementasi dari paradigma baru itu adalah kurikulum yang sejalan dengan disentralisasi, demokratisasi dan otonomi daerah yang sifatnya diverifikasi.

Kurikulum dimaksud telah digagas oleh Tim Perumus Pendidikan Nasional, yang akhirnya diberi nama dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi, yang mana dalam perkembangannya nanti, Pendidikan Agama Islam tetap diberikan kepada tiap jenjang sekolah-sekolah dan pengelolanya diserahkan sepenuhnya dan seluas-luasnya kepada masing-masing daerah untuk mengelolanya, disesuaikan dengan kemampuan / kompetensi masing-masing sekolah, termasuk juga mengenai proporsinya dengan pendidikan umum. Namun disisi lain, pusat tetap memberikan standar kompetensinya.

Jadi disini ada persaingan sehat antara sekolah pada daerah satu dengan ssekolah daerah lainnya, Karena masing-masing daerah diberi hak secara otonomi untuk merumuskan silabinya masing-masing dan untuk mengembangkan kompetensinya.

Untuk pengadaan gurunya telah disediakan lembaga pendidikan seperti PGAN untuk agama Islam itu sendiri.[3]

 

BAB III

P E N U T U P

 

  1. Kesimpulan

 

Pendidikan keagamaan berupa pendidikan khusus yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat melaksanakan peranan yang menuntut penguasaan pengetahuan khusus tentang ajaran agama. Pendidikan keagamaan dapat terdiri dari tingkat pendidikan dasar, tingkat pendidikan menengah dan tingkat pendidikan tinggi, yang termasuk tingkat pendidikan dasar misalnya : SD, MI. tingkat menengah : Tsanawiyah, PGAN (Pendidikan Guru Agama Negeri) dan yang tingkat pendidikan tinggi seperti : Sekolah Theologia, IAIN dll.

             Dilihat dari kecenderungannya, pendidikan keagamaan ada yang sepenuhnya memberikan pendidikan agama dan ada yang memeberikan pendidikan atas dasar pendidikan agama dan umum yang setara dengan pendidikan umum setingkat.

 

  1. Saran

Dalam penulisan makalah ini, penulis harapkan kepada pembaca untuk mengkaji ulang terkait dengan tema ini yang belum kami bahas, untuk itu lebih dikaji dari refrensi yang lain.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Patoni Achmad, Metodologi Pendidikan Agama Islam, Jakarta : PT. Bina Ilmu, 2004

Tirtarahardja Umar, Pengantar Pendidikan, Jakarta : PT. Rineka Cipta, 2005                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                           

 


[1] Patoni Achmad, Metodologi Pendidikan Agama Islam, Jakarta : PT. Bina Ilmu, 2004, Hal.40.

[2] Ibid. Hal. 45

[3] Tirtarahardja Umar, Pengantar Pendidikan, Jakarta : PT. Rineka Cipta, 2005, hal. 269

FacebookTwitterGoogle+LinkedIn

Ilmu Pendidikan

 

BAB I

PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP

ILMU PENDIDIKAN

 

A. Pengertian Pendidikan

  1. Maha Luas : Pendidikan adalah segala pengalaman belajar yang berlangsung dalam segala lingkungan dan sepanjang hidup yang mempengaruhi individu (pengalaman).
  2. Maha Sempit : Pendidikan adalah pendidikan yang melibatkan guru, murid, alat didik, media serta adanya jenjang pendidikan.
  3. Luas terbatas : Pendidikan adalah campuran dari pendidikan maha luas dan maha sempit.

 

B. Ruang Lingkup Pendidikan

  1. Pendidik : orang dewasa yang bertanggung jawab untuk memberikan bimbingan secara sadar terhadap perkembangan kepribadian dan kemampuan si terdidik baik jasmani maupun rohani agar mampu berdiri sendiri memenuhi tugasnya sebagai makhluk Tuhan, makhluk individu dan social.
  1. Peserta didik : Fungsinya adalah belajar diharapkan peserta didik mengalami perubahan tingkah laku sesuai dengan tujuan dan system pendidikan.
  1. Tujuan dan Prioritas                              8.   Fasilitas
  1. Struktur dan jadwal waktu                    9.   Tekhnologi
  1. Isi dan bahan pengajaran                       10.   Manajemen atau pengelolaan
  1. Alat pendidikan                                    11. Pengawasan mutu
  1. Penelitian                                              12. Biaya

 


 

BAB II

DASAR TUJUAN DAN

AZAS – AZAS PENDIDIKAN

 

  1. Dasar pendidikan

Dasar pendidikan adalah : pandangan yang mendasari seluruh aktifitas pendidikan, baik dalam rangka penyusunan teori perencenaan, maupun pelaksanaan dan penyelenggaraan pendidikan.

Adapun dasar – dasar pendidikan adalah :

  1. Dasar Filosofis
  2. Dasar Sosiologis
  3. Dasar Kultural
  4. Dasar Psikologis
  5. Dasar Ilmiah dan Teknologis

 

  1. Tujuan Pendidikan

Tujuan pendidikan adalah : perubahan yang diharapkan pada subjek didik setelah mengalami proses pendidikan baik tingkah laku individu dan kehidupan pribadinya maupun kehidupan masyarakat dari alam sekitarnya dimana individu itu hidup.

Ada empat jenjang tujuan pendidikan, diantaranya :

  1. Tujuan umum pendiknas Indonesia : manusia pancasila.
  1. Tujuan Institusional : tujuan yang menjadi tugas dari lembaga pendidikan tertentu untuk mencapainya.
  1. Tujuan kurikuler : tujuan bidang studi atau tujuan mata pelajaran.
  1. Tujuan Intruksional.

Tujuan pendidikan di Indonesia :

  1. Untuk menanamkan jiwa patriotisme (SK Mendik pengajaran  dan kebudayaan No.104, Bhg.O tgl 1 Maret 1946)
  2. Membentuk manusia susila yang cakap dan demokratis serta bertanggung jawab kesejahteraan masyarakat dan tanah air (UUD Pendidikan & Pengajaran No.4 Th.1950)
  1. Azas – azas Pendidikan

Azas utama pendidikan adalah bahwa manusia itu dapat di didik dan dapat mendidik diri sendiri.

Ada tiga azas yang sangat relevan dengan upaya pendidikan, baik masa kini maupun masa depan :

  1. Azas Tut Wuri Handayani (Jika dibelakang, mengikuti dengan awas)

Yang menegaskan bahwa setiap orang mempunyai hak mengatur dirinya yang mengingat tertibnya persatuan dalam kehidupan umum.

  1. Azas Belajar sepanjang Hayat

Azas Belajar sepanjang Hayat (life long learning) merupakan sudut pandang dari sisi lain terhadap pendidikan seumur hidup (life long education). Pendidikan seumur hidup merupakan konsep.

  1. Azas Kemandirian Dalam Belajar

Dalam asas ini erat kaitannya antara azas tut wuri handayani maupun belajar sepanjang hayat. Pada prinsipnya azas tut wuri handayani bertolak dari asumsi kemampuan siswa untuk mandiri, termasuk mandiri dalam belajar.

 

BAB III

BATAS – BATAS PENDIDIKAN

 

  1. Batas – Batas Awal Pendidikan

Kapan pendidikan dimulai ? yaitu sejak adanya manusia dan sejak peradaban itu ada. Ciri utama dari pendidikan yang sesungguhnya ialah adanya kesiapan interaktif edukatif antara sendidik dan peserta didik (Zakiyah Derajat, 1966 : 49).

 

  1. Batas – Batas Akhir Pendidikan

Sepanjang tatanan yang berlaku proses pendidikan itu mempunyai titik akhir yang bersifat alamiah. Titik akhir bersifat principal dan tercapai bila sesorang manusia muda itu dapat berdiri sendiri dan secara mantap mengembangkan serta melaksanakan rencana sesuai dengan pandangan hidupnya. Kriteria untuk menetapkan kapan batas akhir pendidikan itu ada 3, yaitu :

  1. Telah dapat bertindak secara merdeka untuk mandiri pribadi secara susila dan social
  1. Telah sanggup menyambut dan merebut kedewasaan
  1. Telah berani dan dapat memikul tanggung jawab

 

BAB IV

ALAT – ALAT PENDIDIKAN

 

  1. Pengertian Alat Pendidikan
  1. Roestiyah NK, dkk : “ Media pendidikan adalah alat, metodhe dan teknik yang digunakan dalam rangka meningkatkan efektifitas komunikasi dan interaksi edukatif antara guru dan sisiwa dalam proses pendidikan dan pengajaran disekolah.
  1. M. Ngalim Purwanto : “ Alat pendidikan sebagai usaha dari si pendidik yang ditujukan untuk pelaksanaan tugas pendidik “.
  1. Imam Barnadib : “ Alat pendidikan ialah suatu tindakan atau benda yang dengan sengaja di adakan untuk mencapai suatu tujuan pendidikan “.

Kesimpulan bahwa alat pendidikan ialah : “ segala sesuatu atau alat atau media pendidikan yang meliputi segala yang digunakan untuk mencapai tujuan “.

  1. Tujuan dan Alat Pendidikan

Alat pendidikan tidak terpisahkan dengan tujuan, karena tujuan pendidikan tidak mungkin tercapai tanpa alat, berarti bahwa alat berfungsi mengantarkan penggunanya untuk mencapai tujuan.

Menurut Ahmad D. Marimba mengatakan bahwa dilihat dari fungsi, alat pendidikan terbagi 3 jenis :

  1. Alat sebagai perlengkapan, artinya tanpa perlengkapan tujuan masih bisa tercapai
  1. Alat sebagai pembantu mempermudah usaha tujuan
  1. Alat sebagai tujuan

Dilihat dari bentuknya alat pendidikan dibagi menjadi 2 :

  1. Alat pendidikan materil (bentuk benda, misalnya : papan tulis, bangku, meja)
  2. Alat pendidikan in material (bentuk non benda, misalnya : teguran, pemberitahuan, peringatan, dll)
  1. Macam – Macam Alat Pendidikan

Al-Nahwi membagi alat-alat pendidikan menjadi 2 macam :

  1. Alat – alat yang bersifat material
  2. Alat – alat yang bersifat psikhis

BAB V

FUNGSI DAN PERANAN LEMBAGA PENDIDIKAN

 

Lingkungan atau tempat berlangsungnya proses pendidikan meliputi pendidikan keluarga, sekolah dan masyarakat. Menurut Ki Hajar Dewantara menganggap ketiga lembaga tersebut sebagtai tri pusat pendidikan. Maksudnya ialah tiga pusat pendidikan yang secara bertahap dan terpadu mengemban suatu tanggung jawab pendidikan bagi generasi mudanya.

 

  1. Lembaga Pendidikan Keluarga / Orang Tua

Lingkungan keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang pertama dan utama. Karena dalam keluarga inilah anak pertama-tama mendapatkan didikan dan bimbingan anak sebagai manusia yang belum sempurna perkembangannya dipengaruhi dan diarahkan orang tua untuk mencapai kedewasaan. Kedewasaan dalam arti keseluruhan, yakni dewasa secara biologis (badaniyah) dan dewasa secara rohani, tugas utama dari keluarga bagi pendidikan anak-anak ialah sebagai peletak dasar bagi pendidikan akhlak dan pandangan hidup keagamaan.

 

  1. Lembaga Pendidikan Sekolah

Pada dasarnya pendidikan sekolah merupakan bagian dari pendidikan keluarga yang sekaligus juga merupakan lanjutan dari pendidikan keluarga. Disamping itu, kehidupan disekolah adalah jembatan bagi anak yang menghubungkan kehidupan dalam keluarga dengan kehidupan dalam masyarakat kelak.

Yang dimaksud pendidikan disini ialah : pendidikan yang diperoleh oleh seseorang disekolah secara teratur, sistematis, , bertingkat dan dengan mengikuti syarat-syarat yang jelas dan ketat.

  1. Tanggung jawab sekolah
  1. Tanggung jawab formal sesuai fungsi dan tujuan dalam hal ini UU Pendidikan, UUPN Nomor 2 Th. 1989.
  1. Tanggung jawab keilmuan berdasarkan bentuk, isi pendidikan.
  1. Tanggung jawab fungsional berdasarkan ketetapan jabatannya.
  1. Sifat-sifat lembaga pendidikan sekolah

Sekolah merupakan lembaga pendidikan kedua setelah pendidikan keluarga, bersifat formal namun tidak kodrati. Sifat-sifat pendidikan tersebut adalah :

  1. Tumbuh sesudah keluarga (pendidikan kedua)
  1. Lembaga pendidikan formal, karena sekolah mempunyai bentuk yang jelas dalam arti memiliki program yang telah direncanakan dengan teratur dan ditetapkan dengan resmi.
  1. Lembaga pendidikan yang tidak bersifat kodrati.

Artinya lembaga pendidikan di dirikan tidak atas hubungan negara antara guru dan murid. Tapi berdasarkan hubungan yang bersifat kedinasan.

  1. Fungsi dan peranan sekolah.
  1. Mengembangkan kecerdasan fikiran dan memberikan pengetahuan
  1. Spesialisasi dalam pendidikan dan pengajaran
  1. Efesiensi                       e)  Konservasi dan Transmisi cultural
  1. Sosialisasi                     f)  Transisi dari rumah ke masyarakat
  1. Macam – Macam Sekolah :
  1. Ditinjau dari segi yang mengusahakan :
  1. Sekolah Negeri, yaitu sekolah yang diusahakan oleh pemerintah.
  1. Sekolah Swasta, yaitu sekolah yang diusahakan oleh selain pemerintah yaitu badan – badan swasta.
  1. Di tinjau dari sudut tingkatan, menurut UU No. 2 Th 1989. Jalur pendidikan sekolah :
  1. Pendidikan dasar : SD, MI – SMP, MTS
  1. Pendidikan Menengah : SMU, SMK, MA
  1. Pendidikan Tinggi : Akademi, Institut, Sekolah Tinggi, Universitas
  1. Di tinjau dari sifatnya :
  1. Sekolah Umum : Penekanan pada persiapan mengikuti pendidikan yang lebih tinggi
  1. Sekolah Kejuruan : Persiapan penguasaan keahlian – keahlian tertentu

 

 

  1. Lembaga Pendidikan di Masyarakat

Pendidikan berkenaan dengan perkembangan dan perubahan kelakuan anak didik. Pendidikan bertalian dengan transmisi pengetahuan, sikap, kepercayaan, keterampilan dan aspek – aspek kelakuan lainnya kepada generasi muda. Pendidikan adalah proses mengajar dan belajar pola – pola kelakuan manusia menurut apa yang diharapkan oleh masyarakat.

Masyarakat dapat diartikan sebagai suatu bentuk tata kehidupan social dengan tata nilai dan tat budaya sendiri, dalam arti ini masyarakat adalah wadah dan wahana pendidikan, medan kehidupan manusia yang majemuk.

Pendidikan yang dialami dalam masyarakat ini, telah mulai ketika anak-anak untuk beberapa waktu setelah lepas dari asuhan keluarga dan berada di luar dari pendidikan tersebut tampaknya lebih luas.

  1. Beberapa istilah jalur pendidikan luar sekolah
  1. Pendidikan Sosial

Merupakan proses yang diusahakan dengan sengaja dalam masyarakat untuk mendidik dalam lingkungan social.

  1. Pendidikan Masyarakat

Merupakan pendidikan yang ditujukan  kepada orang dewasa, dan dilakukan di luar lingkungan dan system persekolahan resmi.

  1. Pendidikan Rakyat

Pendidikan yang mengenai masyarkat lapisan bawah

  1. Pendidikan Luar Sekolah

Penekanannya pada pendidikan yang berlangsung di luar sekolah

  1. Mass Education

Ditujukan pada orang dewasa diluar lingkungan sekolah

  1. Adult Education

Pendidikan untuk dewasa yang menagmbil umur batas tertinggi dari masa kewajiban belajar

  1. Extension Education

Pendidikan yang diselenggarakan diluar sekolah biasa, yang khusus dikelola oleh perguruan tinggi.

 

BAB VI

ALIRAN – ALIRAN PENDIDIKAN

 

  1. Aliran Klasik dan Gerakan Baru Dalam Pendidikan

Aliran – aliran klasik dalam pendidikan dan pengaruhnya terhadap pemikiran pendidikan di Indonesia :

  1. Aliran Empiris : disebut juga aliran optimisme, menurutnya bahwa petumbuhan dan perkembangan sang anak menjadi manusia dewasa ditentukan oleh pengaruh eksternal. Tokoh aliran ini Jhon Locke. Faktor utama dalam proses belajar ini :
  1. Pandangan yang menentukan stimulus
  1. Pandangan menekankan perasaan dari dampak ataupun prilaku sebaliknya
  1. Pandangan menekankan pengamatan dan imitasi

Faktor / pandangan ini tidak lagi sepenuhnya karena telah mulai memperhatikan faktor – faktor yang internal.

  1. Aliran Nativisme : Aliran ini disebut aliran pesimisme. Hasil akhir perkembangan dan pendidikan manusia ditentukan pembawaan dari lahir baik dan buruknya.
  1. Aliran Naturalisme : Aliran ini disebut juga negativisme karena berpendapat bahwa pendidikan wajib membiarkan pertumbuhan anak pada alam. Ciri utama dalam mendidik seseorang kembalilah kea lam. Pandangan ini hampir sama dengan nativisme. Perbedaannya semua anak yang dilahirkan mempunyai pembawaan buruk.
  1. Aliran Konvergensi : Tokohnya William Stern (1817-1939). Aliran ini mempertemukan nativisme dan empirisme. Perkembangan seseorang tergantung pada pembawaan dan lingkungan. Jadi menurut teori konvergensi :
  1. Pendidikan mungkin untuk dilaksanakan
  1. Pendidikan diartikan sebagai pertolongan yang diberikan lingkungan kepada anak didik
  1. Yang membatasi hasil pendidikan : pembawaan dan lingkungan.

 

  1. Pengaruh Aliran Klasik dan Gerakan Baru Pendidikan Serta Pengaruhnya Terhadap Pelaksanaan di Indonesia

Aliran pendidikan klasik mulai dikenal di Indonesia melalui upaya – upaya pendidikan utamanya persekolahan. Setelah kemerdekaan, gagasan gagasan aliran pendidikan masuk ke Indonesia melalui orang-orang Indonesia yang belajar di berbagai negara.

Gerakan – gerakan baru dalam pendidikan memusatkan diri pada perbaikan dan penigkatan kualitas kegiatan belajar mengajar pada system persekolahan. Pada umumnya memberi kontribusi yang bervareasi terhadap penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar disekolah sekarang ini. Akhirnya, ditekankan pemikiran pendidikan pada masa lalu akan bermanfaat memperluas pemahaman tentang pendidikan, memupuk wawasan histories dari setiap tenaga kependidikan.

  1. Dua Aliran Pokok Pendidikan
  1. Perguruan Kebangsaan Taman Siswa

Di dirikan oleh Ki Hajar Dewantara (lahir 2 Mei 1889), azas dan tujuan taman siswa:

  1. Setiap orang mempunyai hak mengatur dirinya sendiri dengan mengingat terbitnya persatuan dalam kehidupan umum.
  1. Pengajaran harus memberi pengetahuan yang bermanfaat dalam arti lahir dan bathin yang dapat memerdekakan diri.
  1. Pengajaran harus tersebar luas sampai dapat menjangkau kepada seluruh rakyat.
  1. Bahwa untuk mengejar kemerdakaan hidup yang sepenuhnya lahir dan bathin hendaknya di usahakan dengan kekuatan sendiri – sendiri dan menolak bantuan apapun dari siapapun yang mengikat baik berupa ikatan laihir maupun bathin.
  1. Sebagai konsekuensi hidup dengan kekuatan sendiri maka mutlak harus membelajari sendiri segala usaha yang dilakukan.

 

Taman siswa melengkapi azas dari wawasan kependidiakan guru adalah :

  1. Azas Kemerdekaan
  1. Azas Kodrat alam
  1. Azas Kebudayaan
  1. Azas Kebangsaan
  1. Azas Kemanusiaan

Upaya – upaya pendidikan yang dilakukan taman siswa :

  1. Menyelenggarakan tugas pendidikan dalam bentuk perguruan tingkat dasar hingga tingkat tinggi, baik yangbersifat umum maupun yang bersifat kejujuran.
  1. Mengikuti, mempelajari perkembangan dunia diluar taman siswa yang ada hubungannya dengan bidang-bidang kegiatan-kegiatan taman siswa
  1. Menumbuhkan dan memasukan lingkungan hidup keluarga taman siswa
  1. Meluaskan kehidupan ke-taman siswaan diluar lingkungan masyarakat perguruan
  1. Ruang Pendidikan INS Kayu Tanam

Di dirikan oleh Moh. Syafi’I (Lahir di Matan, Kal-Bar th 1895) pada tanggal 31 Okt 1926 di Kayu Tanam (Sum-Bar) mulanya dipimpin oleh bapaknya, kemudian diambil alih oleh Moh. Syafi’I pada th 1952. INS mendirikan percetakan SRIDHARMA yang menerbitkan majalah bulanan SENDI dengan sasaran khalayak adalah anak-anak.

Azas Ruang Pendidik INS Kayu Tanam :

  1. Berfikir logis dan rasional
  1. Keaktifan atau kegiatan
  1. Pendidikan masyarakat
  1. Memperhatikan pembawaan anak
  1. Menentang Intelektualisme

Tujuan Ruang Pendidik INS Kayu Tanam :

  1. Mendidik rakyat kearah kemerdekaan
  1. Memberi pendidikan ayng sesuai dengan kebutuhan masyarakat
  1. Mendidik para pemuda agar berguna untuk masyarakat

 

BAB VII

PENDIDIKAN DI INDONESIA

 

  1. Sistem Pendidikan Nasional di Indonesia

Yang dimaksud system pendidikan nasional disini adalah suatu keseluruan yang terpadu  di semua satuan dan aktifitas pendidikan yang terkait satu dengan yang lainnya untuk  mengusahakan tercapai tujuan pendidikan nasional.dalam hal ini ,system pendidikan nasional tersebut merupakan suatu supra system yaitu suatu system yang besar dan kompleks.yang didalamnya tercakup beberapa bagian yang juga merupakan system-sistem.

Tujuan system pendidikan nasional berfungsi memberikan arah pada semua kegiatan pendidikan dalam satuan-satuan pendidikan yang ada. Tujuan  pendidikan tersebut , merupakan tujuan umum yang tidak dicapai oleh semua satuanpendidikannya, meskipun setiap satuan pendidikan tersebut mempunyai tujuan-tujuan sendiri, namun tidak terlepas dari tujuan pendidikan naisonal .

Dalam system pendidikan nasional, peserta didiknya adalah semua warga negara. Artinya semua satuan pendidikan yang ada harus memberikan kesempatan menjadi peserta didiknya semua warga negara yang memenuhi persyaratan tertentu yang mempunyai kekhususannya, tanpa membedakan status social, ekonomi, agama, suku bangsa, dsb.

Dalam rangka pelaksanaan pembangunan nasional sebagai pengalaman pancasila dibidang pendidikan, maka pendidikan nasional mengusahakan ;

  1. pembentukan manusia pancasila sebagai manusia pembangunan yang tinggi kwalitasnya dan dapat berdiri sendiri.
  1. pemberian dukungan bagi perkembangan masyarakat, bangsa dan negara Indonesia yang terwujud dalam ketahanan nasional yang teguh dan mengandung makna  terwujudnya kemampuan bangsa menangkal setiap ajaran, paham dan ideologi yang bertentangan dengan penderitaan.

 

B.  Kelembagaan, Program, dan Pengelolaan Pendidikan

  1. Kelembagaan Pendidikan.

Berdasrkan UU RI NO 2 tahun 1989 tentng system pendidikan nasional, kelembagaan pendidikan dapat dilihat dari segi jalur pendidikan dan program serta pengolahan pendidikan.

  1. Jalur Pendidikan

1.   Jalur pendidikan sekolah

Pendidikan yang diselenggarakan disekolah melalui kegiatan belajar mengajar berjenjang dan berkesinambungan. Sifatnya formal,  diatur berdasarkan ketentuan pemerintah dan mempunyai keseragaman pola berstrata nasional.

2.  Jalur pendidikan luar sekolah

Pendidikan yang bersifat kemasyarakatan yang diselenggarakan diluar sekolah melalui kegiatan belajar mengajar yang tidak berjenjang dan berkesinambungan.

  1. Jenjang Pendidikan

Jenjang pendidikan adalah suatu tahap dalam pendidikan berkelanjutan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik serta keluasan dan kedalaman bahan pengajaran (UU RI No.2 Th.1989 BAB I ayat 5)

  1. Jenjang pendidikan dasar

Pendidikan dasar di selenggarakan untuk memberi bekal dasar yang dipelukan untuk hidup di masyarakat berupa pengembangan sikap pengetahuan dan keterampilan dasar.

  1. Jenjang pendidikan menengah

Pendidikan menengah dalam hubungannya kebawah berfungsi sebagai lanjutan perluasan dasar dan dalam hubungan ke atas mempersiapkan peserta didik untuk mengikuti pendidikan tinggi ataupun memasuki lapangn kerja.

  1. Jenjang pendidikan tinggi

Pendidikan tinggi merupakan lanjutan pendidkan menengah yang diselenggarakan untuk menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik yang dapat menerapkan ilmu pengetahuan, tekhnologi dan seni.

 

         Satuan pendidikan yang diselenggarakan pendidikan tinggi disebut perguruan tinggi yang dapat berbentuk akademik, politekhnik, sekolah tinggi, institut dan universitas.

  Akademi merupakan perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan terapan dalam sejumlah bidang pengetahuan khusus. Sekolah tinggi ialah : perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan akademik dan professional dalam satu disiplin ilmu.

            Institut ialah : perguruan tinggi yang terdiri dari atas sejumlah fakultas yang menyelenggarakan pendidikan akademik dalam sekelompok disiplin dan yang sejenis.

Universitas perguruan tinggi yang terdiri atas sejumlah fakultas yang menyelenggarakan pendidikan akademik dan professional dalam sejumlah disiplin ilmu tertentu

  1. Program dan Pengelolaan Pendidikan
  1. Jenis Program Pendidikan :

Jenis pendidikan adalah pendidikan yang dikelompokan sesuai dengan sifat dan kekhususan kerjanya (UU RI No.2 Th. 1989 BAB I Pasal I Ayat 4 No.2 Th.1989)

  1. Pendidikan Umum.

Pendidikan yang mengutamakan perluasan pengetahuan dan keterampilan peserta didik dengan pengkhususan yang diwujudkan pada tingkat-tingkat akhir masa pendidikan

  1. Pendidikan Kejuruan

Pendidikan yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat bekerja dalam pekerjaan bidang tertentu.

  1. Pendidikan Luar Biasa

Pendidikan khusus yg diselenggarakan untuk peserta didik yang menyandang kelainan fisik atau mental

  1. Pendidikan kedinasan

Pendidikan khusus yang diselenggarakan untuk meningkatkan kemampuan dalam pelaksanaan dalam pelaksanaan tugas kedinasa, pegawai, suatu departemen pemerintah atau non departemen.

  1. Pendidikan Keagamaan

Pendidikan khusus yang mempersiapkan peserta didik utnuk dapat melaksanakan peranan yang menuntut penguasaan pengetahuan khusus tentang ajaran agama.

  1. Kurikulum Program Pendidikan

Pada zaman yunani kuno, kurik dalam bahasa Yunani berarti “Pelari” dan Curure artinya “tenpat berpacu” kurikulum kemudian diartikan “jarak yang lurus di tempuh” oleh pelari. Jadi kurikulum dalam pendidikan di analogikan sebagai arena tempat peserta didik “berlari” untuk mencapai finish berupa ijazah, diploma atau gelar.

Kurikulum mengadung dua aspek :

  1. Aspek Kesatuan Nasional, yang memuat unsur2 pengetahuan bangsa
  1. Aspek Lokal, yang memuat sifat-sifat ke-khasan daerah, baik berupa unsure budaya, social, maupun lingkungan alam.

UUD RI No.6 Th.1989 Pasal 38 Ayat 1 mengatakan adanya dua aspek nasional dan local itu sebagai berikut : pelaksanaan kegiatan pendidikan dalam suatu satuan pendidikan didasarkan atas kurikulum yang berlaku sacara nasional yang sesuai dengan keadaan serta kebutuhan lingkungan dan cirri khas suatu pendidikan yang bersangkutan.

  1. Warga Negara dan Haknya Memperoleh pendidikan.

Sikap warga negara Indonesia setiap warga negara Indonesia untuk memeproleh pendidiakn sudah di jamin hukum yang pasti dan bersifat mengikat. Artinya ; pihak manapun tidak dapat merintangi maksud seseorang untuk belajar dan medapatan pengajaran.

Secara lebih rinci lagi tentang hak warga negara untuk memperoleh pengajaran itu telah disebutkan dalam UUD No.2 Th.1989 sebagai berikut :

  1. setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan (pasal 5)
  1. Setiap warga negara berha atas kesempatan yang seluas-luasnya untuk mengikuti pendidikan agar memperoleh pengetahuan, kemampuan dan keterampilan yang sekurang-kurangnya setara dengan kemampuan, dan keterampilan.
  1. Penerimaan seseorang sebagai peserta didik dalam satuan pendidikan diselenggarakan dengan tidak membedakan jenis kelamin, agama, suku, ras, kedudukan social, dan tingkat kemampuan ekonomi, serta dengan tidak mengindahkan kekhususan satuan pendidikan yang bersangkutan (pasal 7).
  1. a. warga negara yang mempunyai kelainan fisik dan mental berhak memperoleh pendidikan luar biasa
  1. warga negara yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa berhak memperoleh perhatian khusus (pasal 8)

Yang dimaksud dengan kelainan fisik disini, antara lain adalah tuna netra (buta), tuna rungu (tuli) atau cacat salah satu anggota tubuhnya. Sedangkan yang dimaksud kelainan mental antara lain adalah tuna daksa (nakal), idiot dan embisil (sangat bodoh).

Pendidikan luar biasa dalah : pendidikan yang di sesuaikan dengan kelainan peserta didik berkenaan dengan penyelenggaraan pendidikan yang bersangkutan.

Dalam upaya pembangunan bangsa, tampaknya pengembangan sumber manusia adalah yang paling penting dan utama jika di bandingkan dengan pengembangna SDA, meskipun antara keduanya saling berkaitan tak terpisahkan. Dalam konteks ini maka pengembangan SDM pada hakekatnya adalah proses kebudayaan.

Karenanya, pembangunan manusia seutuhnya perlu di wujudkan dengan sebaik-baiknya sehingga diperlukan pendekatan-pendakatan yang baik untuk itu pendekatan yang dipakai dalam pendidikan nasional guna pengambangan kebudayaan adalah pendekatan cultural.

 

FacebookTwitterGoogle+LinkedIn

DISCOVERY / INQUIRY

 

 A.    PENGERTIAN STARATEGI  INQUIRY / DISCOVERY

Inquiry berarti pertanyaan, atau pemeriksaan, penyelidikan. Strategi inquiry berarti suatu rangkaian belajar yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, analitis, sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri. Sasaran utama dalam kegiatan belajar mengajar strategi ini ialah :

·       Keterlibatan siswa secara maksimal dalam proses kegiatan belajar. Kegiatan belajar disini adalah kegiatan mental intelektual dan social emosional.

·       Keterarahan kegiatan secara logis dan sistematis pada tujuan pengajaran.

·       Mengembangkan sikap percaya pada diri sendiri (self belief) pada diri siswa tentang apa yang ditemukan dalam proses inquiry.

 

Untuk menyusun strategi yang terarah pada sasaran tersebut perlu diperhatikan kondisi-kondisi yang memungkinkan siswa dapat berinquiry secara maksimal. Joyce mengemukakan kondisi-kondisi umum yang merupakan syarat bagi timbulnya kegiatan inquiry bagi siswa. Kondisi tersebut ialah :

a.     Aspek social didalam kelas dan suasana terbuka yang mengundang siswa bediskusi. Dimana setiap siswa tidak merasakan adanya tekanan atau hambatan untuk mengemukakan pendapatnya. Adanya rasa takut, atau rendah diri, atau merasa malu dan sebagainya, baik terhadap teman, siswa maupun terhadap guru adalah faktor – faktor yang menghambat terciptanya suasana bebas dikelas.

b.     Inquiry berfokus pada hipotesis.

c.      Penggunaan fakta sebagai evidensi. Didalam kelas dibicarakan validitas dan reliabilitas tentang fakta sebagaimana dituntut dalam pengujian hipotesis pada umumnya.

 

Untuk menciptakan kondisi seperti itu, maka peranan guru sangat menentukan. Guru tidak lagi berperan sebagai pemberi informasi dan siswa sebagai penerima informasi, sekalipun hal itu sangat diperlukan. Peranan utama guru dalam menciptakan kondisi inquiry adalah :

1.     Motifator, yang memberi rangsangan supaya siswa aktif dan gairah berfikir.

2.     Fasilitator, yang menunjukan jalan keluar jika ada hambatan dalam proses berfikir siswa.

3.     Penanya, untuk menyadarkan siswa dari kekeliruan yang mereka perbuat dan memberi keyakinan pada diri sendiri.

4.     Administrator, yang bertanggung jawab terhadap seluruh kegiatan didalam kelas.

5.     Pengarah, yang memimpin arus kegiatan berfikir siswa pada tujuan yang diharapkan.

6.     Manejer, yang mengelola sumber belajar, waktu, dan organisasi kelas.

7.     Rewarder, yang memberi penghargaan pada prestasi yang dicapai dalam rangka penigkatan semangat heuristic pada siswa.

Supaya guru dapat melakukan peranannya secara efektif maka pengenalan kemampuan siswa sangat diperlukan, terutama cara berfikirnya, cara mereka menanggapi, dan sebagainya.[1]

 

Asumsi-asumsi yang mendasari model inquiry ialah :

(1)  Keterampilan berfikir kritis dan berfikir dedukatif yang diperlukan berkaitan dengan pengumpulan data yang bertalian dengan kelompok hipotesis.

(2)  Keuntungan bagi siswa dari pengalaman kelompok dimana mereka berkomunikasi, berbagi tanggung jawab , dan bersama-sama mencari pengetahuan.

(3)  Kegiatan-kegiatan belajar disajikan dengan semangat berbagai inquiry dan discovery menambah motivasi dan memajukan partisipasi.[2]

 


 

Tidak ada satu metode mengajar yang baik untuk semua pengajaran. SBM yang efektif untuk mencapai tujuan tertentu itu tergantung pada kondisi masing-masing unsur yang terlibat dalam proses belajar mngajar secara factual. Kemampuan siswa, kemampuan guru, sifat materi, sumber belajar, media pengajaran, faktor logistic, tujuan yang ingin dicapai, adalah unsur – unsur pengajaran yang berbeda-beda disetiap tempat dan waktu. Mungkin untuk suatu program pengajaran pada suatu saat dipandang lebih efektif penyampaiannya dengan metode ceramah, pada saat lain mungkin diskusi kelompok, dan pada saat lain mungkin Tanya jawab. Rangkaian ini secara secara keseluruhan membentuk suatu pola yang kita sebut SBM.

SBM itu dapat kita golongkan dalam dua kutub yang ekstrem. Disatu pihak ialah SBM dimana siswa terlibat secara maksimal dalam usaha mencari dan menemukan, sedangkan pada kutub lain keterlibatan siswa sangat terbatas pada menerima informasi dimana peranan guru sangat dominan. Yang pertama disebut strategi inkuiri / discovery, dan yang kedua disebut strategi ekspositori. Dalam pembahasan kali ini kita berbicara tentang SBM inquiry yang sering disebut juga dengan discovery. Pada discovery tekanan lebih pada ditemukannya konsep atau prinsip yang sebelumnya tidak diketahui. Inquiry juga menuntut usaha menemukan seperti itu. Perbedaannya dengan discovery ialah bahwa dalam discovery masalah yang dihadapkan kepada siswa semacam masalah yang direkayasa oleh guru. Pada inquiry masalahnya bukan hasil rekayasa, sehingga siswa harus mengerahkan seluruh pikiran dan keterampilannya untuk mendapatkan temuan-temuan didalam masalah itu melalui proses penelitian.[3]

Tekhnik penemuan adalah terjemahan dari discovery. Menurut Sund Discovery adalah proses mental dimana siswa mampu mengasimilasikan sesuatu konsep atau prinsip. Yang dimaksud dengan proses mental tersebut antara lain ialah :

-        Mengamati                             -   membuat kesimpulan

-        Mencerna                                –   dan sebagianya.

-        mengerti

-        menggolong-golongkan

-        membuat dugaan

-        mengukur

Suatu konsep misalnya : segitiga, panas, demokrasi dan sebagainya, sedang yang dimaksud dengan prinsip antara lain adalah : logam apabila dipanaskan akan mengembang. Dalam tekhnik ini siswa dibiarkan menemukan sendiri atau mengalami proses mental itu sendiri, guru hanya membimbing dan memberikan intruksi.

Penggunaan tekhnik discovery ini guru berusaha meningkatkan aktifitas siswa dalam proses belajar mengajar. Maka tekhnik ini memiliki keunggulan sebagai berikut :

-        Tekhnik ini mampu membantu siswa untuk mengembangkan ; memperbanyak kesiapan ; serta penguasaan keterampilan dalam proses kognitif / pengenalan siswa.

-        Siswa memperoleh pengetahuan yang bersifat sangat pribadi / individual sehingga dapat kokoh / mendalam tertinggal dalam jiwa siswa tersebut.

-        Dapat membangkitkan kegairahan belajar para siswa.

-        Tekhnik ini mampu memberikan kesempatan kepada siswa untuk berkembang dan maju sesuai dengan kemampuannya masing-masing.

-        Mampu mengarahkan cara siswa belajar, sehingga lebih memiliki motivasi yang kuat untuk belajar lebih giat.

-        Membantu siswa untuk memperkuat dan menambah keparcayaan pada diri sendiri dengan proses penemuan sendiri.

-        Strategi itu berpusat pada siswa tidak pada guru. Guru hanya sebagai teman belajar saja ; membantu bila diperlukan.

 Walaupun demikian baiknya tekhnik ini, masih ada pula kelemahan yang perlu diperhatikan, ialah :

-        para siswa harus ada kesiapan dan kematangan mental untuk secara belajar ini. Siswa harus berani dan berkeinginan untuk mengetahui keadaan sekitarnya dengan baik.

-        Bila kelas terlalu besar penggunaan tekhnik ini akan kurang berhasil.

-        Bagi guru dan siswa yang sudah biasa dengan perencanaan dan pengajaran tradisional mungkin akan sangat kecewa bila diganti dengan tekhnik penemuan.

-        Dengan tekhnik ini ada yang berpendapat bahwa proses mental ini terlalu mementingkan proses pengertian saja, kurang memperhatikan perkembangan / pembentukan sikap dan keterampilan bagi siswa.

-        Tekhnik ini mungkin tidak memberikan kesempatan untuk berfikir secara kreatif.

 

Dr. J. Richard dan asistennya mencoba self learning siswa ( belajar sendiri ) itu, sehingga situasi belajar mengajar berpindah dari situasi teacher dominated learning menjadi situasi student dominated learning. Dengan menggunakan discovery learning, ialah suatu cara mengajar yang melibatkan siswa dalam proses kegiatan mental melalui tukar pendapat, dengan diskusi, seminar, membaca sendiri dan mencoba sendiri, agar anak dapat belajar sendiri.[4]

Pendekatan inquiry / discovery ini bertolak dari pandangan bahwa siswa sebagai subjek dan objek dalam belajar, mempunyai kemampuan dasar untuk berkembang secara optimal sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Proses pembelajaran harus dipandang sebagai stimulus yang dapat menantang siswa untuk melakukan kegiatan belajar. Peranan guru lebih banyak menempatkan diri sebagai pembimbing atau pemimpin belajar dan fasilitator belajar. Dengan demikian, siswa lebih banyak melakukan kegiatan sendiri atau dalam bentuk kelompok memecahkan permasalahan dengan bimbingan guru.

Pendekatan “ inquiry “ merupakan pendekatan mengajar yang berusaha meletakkan dasar dan mengembangkan cara berfikir ilmiah. Pendekatan ini menempatkan siswa lebih banyak belajar sendiri, mengembangkan kekreatifan dalam pemecahan masalah. Siswa betul-betul ditempatkan sebagai subjek yang belajar. Peranan guru dalam pendekatan “ inquiry “ adalah pembimbing belajar dan fasilitator belajar. Tugas utama guru adalah memilih masalah yang perlu dilontarkan kepada kelas untuk dipecahkan oleh siswa sendiri. Tugas berikutnya dari guru adalah menyediakan sumber belajar bagi siswa dalam rangka pemecahan masalah. Sudah barang tentu bimbingan dan pengawasan dari guru masih tetap diperlukan, namun campur tangan atau intervensi terhadap kegiatan siswa dalam pemecahan masalah, harus dikurangi.

Pendekatan inquiry dalam mengajar termasuk pendekatan modern, yang sangat didambakan untuk dilaksanakan disetiap sekolah. Adanya tuduhan bahwa sekolah menciptakan kultur bisu, tidak akan terjadi apabila pendekatan ini digunakan. Pendekatan inquiry dapat dilaksanakan apabila dipenuhi syarat-syarat sebagai berikut :

(a)   guru harus terampil memilih persoalan yang relevan untuk diajukan kepada kelas (persoalan bersumber dari bahan pelajaran yang menantang siswa/problematika) dan sesuai dengan daya nalar siswa,

(b)  guru harus terampil menumbuhkan motivasi belajar siswa dan menciptakan situasi belajar yang menyenangkan,

(c)   adanya fasilitas dan sumber belajar yang cukup,

(d)  adanya kebebasan siswa untuk berpendapat, berkarya, berdiskusi,

(e)   partisipasi setiap siswa dalam setiap kegiatan belajar,

(f)   guru tidak banyak campur tangan dan intervensi terhadap kegiatan siswa.

 

Ada lima tahapan / langkah yang ditempuh dalam melaksanakan pendekatan inquiry / discovery yakni ;

(a)   perumusan masalah untuk dipecahkan siswa,

(b)  menetapkan jawaban sementara atau lebih dikenal dengan istilah hipotesis,

(c)   siswa mencari informasi, data, fakta yang diperlukan untuk menjawab permasalahan / hipotesis,

(d)  menarik kesimpulan jawaban atau generalisasi,

(e)   mengaplikasikan kesimpulan / generalisasi dalam situasi baru.

 

B.    PENGAJARAN DISCOVERY DALAM KELAS

Metode mengajar yang biasa digunakan guru dalam pendekatan ini antara lain metode diskusi dan pemberian tugas. Diskusi untuk memecahkan permasalahan dilakukan oleh sekelompok kecil siswa (antara 3-5 orang ) dengan arahan dan bimbingan guru. Kegiatan ini dilaksanakan pada saat tatap muka atau pada saat kegiatan terjadwal. Dengan demikian dalam pendekatan inquiry / discovery model komunikasi yang digunakan bukan komunikasi satu arah atau komunikasi sebagai aksi tapi komunikasi banyak arah atau komunikasi sebagai tranaksi. Studi dan penelitian terhadap kedua pendekatan ini telah banyak dilakukan. Misalnya studi yang dilakukan oleh University of Philipine sampai kepada kesimpulan bahwa pendekatan ekspositeri dan inquiry tidak berbeda keaktifannya dalam mencapai hasil belajar yang bersifat informasi, fakta dan konsep, tetapi berbeda secara signifikan dalam mencapai keterampilan berpikir, pendekatan inquiry lebih efektif daripada pendekatan ekspositeri.[5]

 

Adapun model inquiry ini dilaksanakan oleh kelompok itu dengan langkah-langkah sebagai berikut :

(1)  Membentuk kelompok-kelompok inquiry. Masing-masing kelompok dibentuk berdasarkan rentang intelektual dan keterampilan-keterampilan social.

(2)  Memperkenalkan topic-topik inquiry kepada semua kelompok. Tiap kelompok diharapkan memahamidan berminat mempelajarinya.

(3)  Membentuk proposisi tentang kebijakan yang bertalian dengan topic, yakni pernyataan apa yang harus dikerjakan. Mungkin terdapat satu atau lebih solusi yang diusulkan terhadap masalah pokok.

(4)  Merumuskan semua istilah yang terkandung dalam proposisi kebijakan.

(5)  Menyelidik validitas logis dan konsistensi internal pada proposisi dan unsur-unsur penunjangnya.

(6)  Mengumpulkan evidensi (bukti) untuk menunjang unsur-unsur / isi proposisi.

(7)  Menganalisis solusi-solusi yang diusulkan dan mencari posisi kelompok.

(8)  Menilai proses kelompok.[6]

 

Strategi belajar discovery paling baik dilaksanakan dalam kelompok belajar yang kecil. Namun dapat juga dilaksanakan dalam kelompok belajar yang besar. Kendatipun tidak semua siswa dapat terlibat dalam proses discovery, namun pendekatan discovery dapat memberikan mafaat bagi siswa yang belajar. Pendekatan ini dapat dilaksanakan dalam bentuk komunikasi dua arah, bergantung pada besarnya kelas.[7]

  1. Sistem Satu Arah

Pendekatan satu arah berdasarkan penyajian satu arah (penuangan/exposition) yang dilakukan guru. Struktur penyajian dalam bentuk usaha merangsang siswa melakukan proses discovery di depan kelas. Guru mengajukan suatu masalah, dan kemudian memecahkan masalah tersebut melalui langkah-langkah discovery. Caranya adalah mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada kelas, memberikan kesempatan kepada kelas untuk melakukan refleksi. Selanjutnya guru menjawab sendiri pertanyaan-pertanyaan yang diajukannya itu. Dalam prosedur ini guru tidak menentukan / menunjukkan aturan-aturan yang harus digunakan oleh siswa, tetapi dengan pertanyaan-pertanyaan guru mengundang siswa untuk mencari aturan-aturan yang harus diperbuatnya. Pemecahan masalah berlangsung selangkah demi selangkah dalam urutan yang ditemukan sendiri oleh siswa. Guru mengharapkan agar siswa secara keseluruhan berhasil melibatkan dirinya dalam proses pemecahan masalah, menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukannya secara reflektif. Dalam keadaan ini, sesungguhnya tidak ada jaminan bahwa adanya penyajian oleh guru. Penggunaan discovery dalam kelompok kecil sangat bergantung pada kemampuan dan pengalaman guru sendiri, serta waktu dan kemampuan mengantisipasi kesulitan siswa.

  1. Sistem Dua Arah (Discovery Terbimbing)

Sistem dua arah melibatkan siswa dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan guru. Siswa melakukan discovery, sedangkan guru membimbing mereka kearah yang tepat/benar. Gaya pengajaran demikian, oleh Cagne disebut guide discovery, sekalipun didalam kelas yang terdiri dari 20-30 orang siswa. Hanya beberapa orang saja yang benar-benar melakukan discovery, sedangkan yang lainnya berpartisipasi dalam proses discovery misalnya dalam system ceramah reflektif. Dalam kelompok yang lebih kecil, guru dapat melibatkan hampir semua siswa dalam proses itu. Dalam system ini, guru perlu memiliki keterampilan memberikan bimbingan, yakni mendiagnosis kesulitan-kesulitan siswa dan memberikan bantuan dalam memecahkan masalah yang mereka hadapi. Namun demikian, tidak berarti guru menggunakan metode ceramah reflektif sebagaimana halnya pada strategi di atas.[8]

 

C.    STRATEGI INQUIRY DAN DIMENSI BERFIKIR

Untuk mengenal berbagai cara berfikir siswa, terutama dalam mereka berinquiry, perlu kita kenal beberapa cara berfikir pada umumnya.

1.     Berfikir Urutan, apabila misalnya guru menghadapkan kepada siswa tiga bilangan berturut-turut 2, 4, 6, maka siswa dapat menyebut bahwa bilangan pada urutan ke-4 adalah 8 dan yang ke-5 adalah 10.

2.     Berfikir Bertentangan, jika kepada siswa dihadapkan pasangan kata-kata : panas-dingin dan kecil-besar, maka mereka dapat menyebut pasangan dari kata-kata : siang-…, malam-…, dan seterusnya dengan benar.

3.     Berfikir Asosiasi, jika kepada siswa dihadapkan pasangan kata-kata : besi-berat, kapas-ringan, maka mereka dapat menyebut pasangan dari kata murid-… dengan benar.

4.     Berfikir Kausalitas (sebab-akibat), kalau kepada siswa dihadapkan pasangan kata : rajin-pandai dan mendung-hujan, maka mereka dapat menyebut pasangan dari kata : menganggur-… dengan benar.

5.     Berfikir Konsentris, berfikir konsentris menuntut kemampuan intelektual yang lebih tinggi dari keempat cara berfikir diatas. Berfikir konsentris terarah pad mencari hakikat dari sesuatu yang bersifat umum (lihat ilustrasi).

6.     Berfikir Konvergen, berpangkal dari unsur-unsur yang terpisah-pisah (berfikiran luas)

7.     Befikir divergen, bertitik tolak dari suatu peristiwa menuju keberbagai kemungkinan, (pengembangan berfikir).

8.     Berfikir Silogisme, bertitik tolak pada premis mayor yang tidak diragukan kebenarannya, Contoh : semua manusia akan mati, Si polan adalah manusia, Si polan akan mati.

 

D.    PROSES INQUIRY

Inquiry tidak hanya mengembangkan kemampuan intelektual tetapi seluruh potensi yang ada, termasuk pengembangan emosional dan pengembangan keterampilan. Pada hakekatnya inquiry ini merupakan suatu proses. Proses ini bermula dari merumuskan masalah, mengembangkan hipotesis, dan menarik kesimpulan sementara, menguji kesimpulan sementara supaya sampai pada kesimpulan yang taraf tertentu diyakini oleh peserta didik yang bersangkutan.

Kemampuan – kemampuan yang dituntut pada setiap tahap dalam proses inqury adalah :

  1. Merumuskan masalah, kemampuan yang dituntut : kesadaran terhadap masalah, melihat pentingnya masalah, merumuskan masalah.
  2. Merumuskan jawaban sementara (hipotesis), kemampuan yang dituntut : menguji dan menggolongkan jenis data yang dapat diperoleh, melihat dan merumuskan hubungan yang ada secara logis, merumuskan hipotesis.
  3. Menguji jawaban tentatif, kemampuan yang dituntut : Merakit Peristiwa (mengidentifikasikan peristiwa yang dibutuhkan, mengumpulkan data, mengevaluasi data), Menyusun Data (mentranslasikan data, menginterpretasikan data, mengklasifikasikan), Analisis Data (melihat hubungan, mencatat persamaan dan perbedaan, mengidentifikasikan tren, sekuensi dan keteraturan).
  4. Menarik Kesimpulan, mencari pola dan makna hubungan dan merumuskan kesimpulan.
  5. Menerapkan kesimpulan dan generalisasi.[9]

E.    STRATEGI INQUIRY DAN TEKHNIK BERTANYA

SBM inquiry dapat dilaksanakan dengan serbagai metode mengajar, seperti metode Tanya jawab, diskusi, problem solving, studi kasus, penelitian mandiri dan sebagainya. Salah satu tekhnik yang banyak dipakai dalam berbagai metode mengajar ialah tekhnik bertanya. Karena teknik ini digunakan secara luas, maka perlu dibicarakan secara khusus penggunaan teknik bertanya itu dalam hubungannya dengan strategi inquiry.

Pentingnya Bertanya

Pentingnya bertanya itu dapat kita lihat pada beberapa pernyataan, antara lain :

(1)   jantung strategi belajar yang efektif terletak pada pertanyaan yang diajukan oleh guru (Fraenkel)

(2)   dari sekian banyak metode pengajaran, yang paling banyak dipakai ialah bertanya (Bank)

(3)   bertanya adalah salah satu teknik yang paling tua dan paling baik (Clark)

(4)   mengajar itu adalah bertanya (Dewey)

(5)   pertanyaan-pertanyaan adalah unsur utama dalam strategi pengajaran, merupakan kunci permainan bahasa dalam pengajaran (Hyman)

Fungsi bertanya

Pentingnya bertanya dalam kegiatan belajar mengajar dapat kita pahami kalau diperhatikan peranannya sebagai berikut :

(1)  melengkapi kemampuan berceramah

(2)  mengubah kemampuan berceramah

(3)  meningkatkan kadar CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif)

(4)  Sikap inquiry bertitik tolak pada bertanya

(5)  Mengubah persepsi yang keliru terhadap bertanya

Dalam peranan yang demikian itu kegiatan bertanya berfungsi untuk :

(1)  Mengembangkan minat dan keingintahuan

(2)  Memusatkan perhatian pada pokok masalah

(3)  Mendiagnosis kesulitan belajar

(4)  Meningkatkan kadar CBSA

(5)  Kemampuan memahami informasi

(6)  Kemampuan mengemukakan pendapat

(7)  Mengukur hasil belajar

 

Untuk mengembangkan pertanyaan yang efektif sesuai dengan fungsi tersebut, beberapa hal yang perlu diperhatikan ialah :

(1)   kehangatan dan antusias. Bertanya dan menjawab dilakukan dalam situasi yang cukup hangat dan antusias

(2)   beberapa kebiasaan yang perlu dihindari dalam mengajukan pertanyaan ialah :

a.      mengulang pertanyaan

b.     mengulang jawaban siswa

c.      menjawab pertanyaan sendiri

d.     memancing jawaban serentak

e.      pertanyaan ganda

f.      menentukan siswa tertentu

Prinsip-prinsip Bertanya Dasar

Bertanya sebagai alat untuk mengembangkan kemampuan dapat dibagi dalam dua kelompok, yaitu :

(1)  Bertanya dasar, bertanya untuk mengembangkan kemampuan berfikir dasar. Dihubungkan dengan taksonomi Bloom, kemampuan dasar ini terdiri atas pengetahuan, pemahaman, dan aplikasi. (jelas, singkat, acuan, pemusatan, giliran (horizontal), penyebaran, waktu berfikir, tuntunan).

(2)  Bertanya lanjut, bertanya untuk mengembangkan kemampuan ini meliputi analisis, sintesis dan evaluasi. Tujuannya :

a.      mengembangkan kemampuan untuk menemukan, mengorganisasikan, dan menilai informasi.

b.     mengembangkan kemampuan untuk mengungkapkan pertanyaan.

c.      Membangkitkan ide.

d.     Mendorong keinginan berpretase.

Prinsip-prinsipnya :

a.      sama dengan bertanya dasar

b.     waktu berfikir diberi agak lama

c.      butir-butir pertanyaan perlu disiapkan terlebih dahulu

d.     menilai apakah pertanyaan relevan dan komprehensif[10]

 

DAFTAR PUSTAKA

  

Hamalik, Oemar, Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem, Jakarta : Sinar Grafika Offset, 2002.

Hamalik, Oemar, Proses Belajar Mengajar, Jakarta : Sinar Grafika Offset, 2003.

Roestiyah, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta : Bina Aksara, 1998.

Sudjana Nana, Dasar-dasar proses belajar mengajar, Bandung : Sinar Baru Algesindo, 2004.

W. Gulo, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta : PT. Grasindo, 2002.

 


 

[1] W. Gulo, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta : PT. Grasindo, 2002, hal, 86.

[2] Hamalik, Oemar, Proses Belajar Mengajar, Jakarta : Sinar Grafika Offset, 2003. Hal, 220.

[3] W. Gulo, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta : PT. Grasindo, 2002, hal, 83.

[4] Roestiyah, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta : Bina Aksara, 1998. Hal. Tanpa Halaman.

[5] Sudjana Nana, Dasar-dasar proses belajar mengajar, Bandung : Sinar Baru Algesindo, 2004, hal, 154.

[6] Hamalik, Oemar, Proses Belajar Mengajar, Jakarta : Sinar Grafika Offset, 2003. Hal, 224.

[7] Hamalik, Oemar, Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem, Jakarta : Sinar Grafika Offset, 2002. Hal, 187.

[8] Ibid, Hal. 188.

[9] W. Gulo, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta : PT. Grasindo, 2002, hal, 95.

[10] Ibid. Hal. 104.

FacebookTwitterGoogle+LinkedIn

Gallery

slide3 slide2 slide1
FacebookTwitterGoogle+LinkedIn