Sejarah Perkembangan Ajaran Trinitas

 

oleh L. Berkhof

Diterjemahkan oleh:

Drs. H. Thoriq A. Hindun

 

ASAL USUL DAN SEJARAH KRISTEN

 

Pendiri agama Kristen adalah seorang Yahudi  bernama  Yesus,

yang  lahir  di Betlehem, Palestina, antara tahun 8 hingga 4

SM. Tradisi biasanya menyebutkan bahwa dia lahir dalam bulan

Desember  tahun  pertama  era Kristen yaitu, tahun 1 M, akan

tetapi telah diketahui sekarang bahwa hal ini  salah.  Dalam

catatan-catatan yang menyangkut Yesus -yakni Injil, empat di

antaranya  terdapat  dalam  perjanjian  baru  yang   ditulis

Matius, Markus, Lukas, dan Yahya- kita diberi tahu bahwa dia

lahir selama berkuasanya Raja Herodes dan pada saat Kerajaan

Romawi   melaksanakan   sensus   penduduk.  Kerajaan  Romawi

melaksanakan  sensus  penduduk  empat  belas  tahun  sekali.

Sensus  pertama  berlangsung  tahun  6  M; ini berarti bahwa

sensus sebelumnya dimulai tahun 8  SM,  selama  pemerintahan

Kaisar  Augustus  dan  tanah  Judea diperintah Kerenius yang

dapat di baca dalam Lukas kitab suci umat kristiani (Injil) 2:1-5.  Disitu  juga  diberi  tahu

tentang  bintang  yang  menuntun orang Majus ke tempat Yesus

berada,  dan  astronom  Keppler,  menghitung  bahwa   timbul

konjungsi antara Saturnus, Jupiter, dan Mars kira-kira tahun

7 SM yang menampakkan kesan sebagai bintang baru yang terang

benderang.  Semua  data ini mendukung kesimpulan bahwa Yesus

lahir antara tahun 8 hingga 4 SM. Kita juga dapat  menentang

pendapat  bahwa  Yesus  lahir  bulan  Desembers karena dalam

Injil Lukas terdapat gembala yang  menggembalakan  ternaknya

pada  malam  hari (2:8). Namun di Palestina pun cuaca dingin

dan turun salju, jadi saat kelahiran itu  pastilah  di  luar

musim dingin karena para gembala tidak akan keluar pada saat

tersebut. Musim yang lebih mungkin adalah  musim  semi  atau

musim rontok.

 


 

Penganut  ajaran  Kristen  percaya  bahwa  ibu  Yesus, yakni

Maria, melahirkan Yesus  dalam  keadaan  masih  perawan  dan

belum  bersetubuh dengan suaminya yaitu Yusuf. Anak tersebut

lahir karena kekuasaan Tuhan melalui roh kudus. Kaum Katolik

bahkan   berkeyakinan  bahwa  Maria  tetap  perawan  setelah

kelahiran Yesus. Saudara laki-laki dan perempuan Yesus  yang

disebutkan  dalam  Markus  6:1-6 adalah anak-anak Yusuf dari

perkawinannya yang terdahulu.

 

Tidak  banyak  yang  kita  ketahui  tentang  Yesus  di  masa

kanak-kanak;   kisahnya   mulai   banyak  diungkapkan  untuk

perjalanan  hidupnya  setelah  berusia   tigapuluhan,   saat

dibaptis   oleh   Yahya.  Yahya  membaptis  manusia  sebagai

persiapan mereka untuk menerima kedatangan  "juru  selamat;"

pada  waktu Yesus datang, dia menolak membaptis Yesus dengan

menyatakan bahwa Yahya tidak pantas membaptis Yesus,  bahkan

sebaliknya  dialah  yang  pantas dibaptis. Namun Yesus tetap

meminta  Yahya  membaptis  dirinya;  setelah  dibaptis   dia

mengasingkan  diri  selama  40  hari  dan  memikirkan  "juru

selamat" yang  bagaimanakah  sebenarnya.  Selama  itu  iblis

menggoda  dia,  membujuk  Yesus  agar  menjadi pahlawan bagi

bangsa Yahudi, atau  memenangkan  dukungan  bangsanya  lewat

perbuatan  kegaiban  atau  dengan memenuhi kepuasan material

bangsa Yahudi. Yesus menolak godaan ini,  karena  Dia  sadar

bahwa  Dia haruslah "juru selamat" yang menderita, yang akan

mati demi bangsanya.

 

Setelah meninggalkan gurun,  dia  memilih  dua  belas  orang

sebagai  teman dan muridnya. Murid-murid ini mempunyai latar

belakang yang beragam: Petrus dan Andreas adalah  bersaudara

dan nelayan miskin; Yacob dan Yahya, juga bersaudara, adalah

nelayan juga, namun lebih makmur; Matius (atau Levi)  adalah

pengumpul  pajak yang bekerja bagi orang Romawi; ada anggota

kelompok Zealot yang fanatik; dan Yudas Iskariot, orang yang

pada  akhirnya  mengkhianati Yesus dan menyerahkannya kepada

musuhnya. Dari kedua belas muridnya, Petrus, Yacob dan Yahya

merupakan teman Yesus yang paling dekat.

 

Dalam  Markus  6:1-6  Yesus  disebut "tukang kayu," dan dari

sini diasumsikan bahwa sebelum  terkenal,  Yesus  meneruskan

profesi  ayahnya  sebagai tukang kayu. Kita tidak mengetahui

latar belakang pendidikannya walaupun mungkin dia memperoleh

pendidikan  dari  cendekiawan  monastik  Yahudi,  yakni kaum

Essenes, yang ajarannya banyak mirip dengan ajaran  Kristen.

Namun  dari  kitab-kitab  Injil  dapat  kita lihat bahwa dia

adalah manusia yang cerdas, arif dan penuh humor.  Ajarannya

dia sampaikan lewat perumpamaan, dongeng, kisah-kisah pendek

yang mengandung makna mendalam.  Teknik  pengajaran  seperti

inilah yang ditempuh para rabbi karena lebih mudah menangkap

makna   lewat   kisah-kisah   pendek   dibandingkan    lewat

kisah-kisah panjang, atau lewat diskusi formal yang panjang.

Kisah-kisah atau  perumpamaan  Yesus  adalah  sederhana  dan

langsung kena, kisah yang mudah disimak oleh siapa pun. Akan

tetapi,  dia  juga  menggunakan  kotbah,  dan  kotbah   yang

terkenal  adalah  kotbah  bukit  (kotbah  ini  bukanlah satu

kotbah panjang, melainkan adalah intisari yang diambil  dari

ucapan-ucapan Yesus dalam berbagai kejadian).

 

Di samping memberikan ajaran, Yesus juga menyembuhkan banyak

penyakit  dan  bahkan  menghidupkan  kembali   orang   mati.

Perlahan-lahan  namanya  termasyhur  ke  seluruh  negeri dan

orang  mulai  berbisik-bisik  mempersoalkan  siapakah   dia.

Pertama kali Yesus mengaku sebagai "juru selamat" yang telah

lama dinanti-nantikan di  Caesarea  Phillippi.  Setelah  dia

menanyakan   kepada   murid-muridnya  tentang  siapakah  dia

disebut khalayak ramai, dia bertanya tentang siapakah dia di

mata  para muridnya? Petrus, yang merupakan orang pemberani,

menjawab, "Engkau adalah juru selamat." Semenjak  itu  Yesus

mulai  memperkenalkan ajaran-ajaran dan perintah-perintahnya

kepada kedua belas muridnya  tentang  tujuan  kedatangannya.

Lalu  dia  diberi  nama  Kristus  yang  berarti  "orang yang

diurapi." Segera setelah pengakuan oleh Petrus  tentang  dia

(Yesus)  sebagai  "juru selamat," dia mengajak Petrus, Yahya

dan Yacob ke suatu bukit, di mana pakaian  dan  wajah  Yesus

menjadi  bercahaya  putih mengkilap dan dia berkomune dengan

Nabi Elisa dan Musa.  Peristiwa  ini  disebut  Transfigurasi

(perubahan tubuh).

 

Namun  selama  tiga  tahun  misi  Yesus,  tantangan terhadap

ajarannya meningkat terutama dari pihak Parisi  dan  Saduki.

Kaum  Saduki  adalah  kelompok  kecil aristokrat yang sangat

berpengaruh  yang  mengaku   sebagai   keturunan   Sulaiman.

Kelompok  Parisi terbentuk pada saat Kekaisaran Yunani ingin

menanamkan pengaruhnya di Palestina, dan Kaum Parisilah yang

sangat  menentang  pengaruh (Helenisasi) ini. Kedua kelompok

ini, dengan alasan yang berbeda, memusuhi Yesus; kaum Parisi

menolak  karena  ajaran-ajaran  Yesus  menentang  sikap kaum

Parisi. Kita tahu orang Yahudi sangat berpegang erat  kepada

10  perintah Allah, sementara Yesus memperbaharui penafsiran

tentang   makna   kesepuluh   perintah   tersebut.    Selama

bertahun-tahun   hukum  itu  berubah  menjadi  doktrin  yang

mendasari ajaran Yudaisme, yang  menjadi  dasar  bagi  orang

Yahudi  untuk mengasihi Tuhan dan sesamanya. Bagi kebanyakan

orang Parisi, tradisi  lebih  penting  daripada  hukum,  dan

Yesus  sangat lantang menentang sikap orang Parisi ini. Kaum

Saduki menentang Yesus karena  mereka  bekerja  sama  dengan

bangsa  Romawi, dan karena itu mereka sangat berpengaruh dan

menikmati  hak-hak  istimewa.  Mereka  khawatir  Yesus  bisa

menimbulkan   kesulitan  yang  berakhir  pada  situasi  yang

mengancam pada prestise dan kekuasaan mereka.

 

Setelah kira-kira  tiga  tahun,  Yesus  pergi  ke  Yerusalem

menunggang  keledai  dan disambut sebagai pembebas dan "juru

selamat," karena saat itu bertepatan  dengan  berlangsungnya

pesta  paskah  dan  Yerusalem  dipadati oleh banyak manusia.

Paskah adalah  hari  yang  ditunggu-tunggu  bagi  kedatangan

"juru  selamat"  bangsa  Yahudi, sehingga suasana saat Yesus

memasuki kota amatlah eksplosif.  Lalu  dia  masuk  ke  Bait

Allah   dan  mengusir  semua  pedagang,  pembunga  uang  dan

orang-orang lain  yang  dia  anggap  mengotori  tempat  suci

tersebut.  Penduduk  menunggu  tindakannya yang selanjutnya,

yakni  hal  mengumumkan  dirinya  sebagai  Raja  yang   akan

mengusir    penjajah    Romawi;    namun    tindakan    yang

ditunggu-tunggu itu tidak pernah  muncul.  Sebaliknya  Yesus

mengadakan  perjamuan  dengan murid-muridnya, yang dinamakan

perjamuan   terakhir   (sebagian   cendekiawan   menyebutnya

perjamuan paskah), sesudah itu dia pergi ke Taman Getsemane.

Di sana dia  ditangkap  serdadu  yang  dipimpin  oleh  Yudas

Iskariot.

 

Pertama  kali  setelah  ditangkap, Yesus diajukan ke hadapan

para imam dan dituduh menghujat Allah, suatu kejahatan besar

dalam   hukum   Yahudi,  namun  karena  mereka  tidak  dapat

menjatuhkan hukuman mati, keputusan  mereka  harus  disahkan

oleh penguasa Romawi. Lalu Yesus dihadapkan kepada penguasa,

Pontius  Pilatus,  dan   dituduh   melakukan   pemberontakan

subversi   dan   menghindari   pajak;  Pilatus  tidak  ingin

menghukum  orang  yang  tidak  bersalah,  namun   disebabkan

tekanan  para  imam  dan  amarah  bangsa Yahudi -yang merasa

tertipu kalau Yesus  tidak  memperlihatkan  dirinya  sebagai

"juru selamat" dalam arti penuh kemenangan dalam peperangan-

dia terpaksa membuat keputusan yang tidak  menyenangkan  dan

Yesus  dihukum  dengan penyaliban. Putusan itu dilaksanakan,

dan Yesus mati setelah penuh penderitaan selama tiga jam  di

kayu salib.

 

Akan  tetapi,  bagi  Gereja  Kristen,  itu  bukanlah  akhir,

melainkan adalah awal. Tiga hari kemudian Yesus bangkit dari

kematian  (tiga  hari  berdasarkan perhitungan Yahudi -Yesus

meninggal hari Jumat dan bangkit hari Minggu).  Para  wanita

yang  pergi  ke makamnya pada Minggu pagi menemukan makamnya

sudah kosong,  namun  pakaiannya  masih  terlipat  di  dalam

kubur.  Kemudian  Yesus  sendiri  menampakkan dirinya kepada

mereka; kemudian mereka berlari untuk memberitahukan hal itu

kepada   murid-murid   Yesus   yang   sebelumnya   meragukan

kebangkitan Yesus; namun kemudian  mempercayainya.  Beberapa

saat   kemudian   Yesus  mengajak  mereka  ke  suatu  bukit,

memberkati mereka lalu mereka terangkat ke  surga.  Semenjak

itu Yesus tidak pernah menampakkan diri lagi di bumi ini.

 

Sementara   itu  murid-murid  Yesus  tidak  bisa  menentukan

langkah-langkah   mereka   seterusnya.   Namun   pada   hari

Pantekosta,  pada  saat mereka semua berkumpul di Yerusalem,

Roh Kudus turun dari surga dan  hinggap  pada  masing-masing

mereka.  Sejak  itu  mereka  diubahkan, tidak lagi cemas dan

takut, melainkan sudah menjadi rasul-rasul yang berani  yang

menjelajahi  dunia  ini  untuk  menyampaikan  kabar  gembira

tentang Tuhan Yesus Kristus. Pada  awalnya  mereka  berharap

Yesus  segera  muncul  kembali,  namun hal itu tidak terjadi

demikian.

 

Iman  baru  ini  segera  menyebar  di  seluruh  dunia  lama.

Hebatnya,  misi  penyebaran  Injil  yang  paling spektakuler

bukanlah oleh salah satu murid Yesus melainkan  adalah  oleh

Saul  (Paulus)  dari  Tarsus, yang mengalami pertobatan pada

saat dia  dalam  perjalanan  ke  Damascus  untuk  menangkapi

orang-orang  Kristen;  sebagai  hasil  pertobatan  ini,  dia

banyak melakukan perjalanan untuk pekabaran Injil, mengalami

penderitaan  yang berat, bahkan mati martir demi imannya Dia

menuliskan banyak surat nasihat dan  penguatan  iman  kepada

gereja-gereja  baru  yang  dia  dirikan, dan dokumen-dokumen

ini, yang terdapat dalam  PerjanJian  Baru,  sangat  penting

karena  merupakan  salah  satu  tulisan Kristen pertama yang

kita miliki.

 

Pada tahun-tahun awal tersebut, ajaran baru ini masih dianut

orang   Yahudi,   namun   ternyata  agama  baru  ini  segera

menghilang dari antara orang-orang Yahudi  dan  dianut  oleh

orang-orang  di  luar Yahudi. Pemisahan antara ajaran Yahudi

dan Kristen mulai nyata dan akhirnya tak dapat  dihindarkan;

para  penganut  Kristen tidak lagi merayakan hari-hari besar

Yahudi serta tidak mempertahankan tradisi dan budaya Yahudi.

Pemisahan  ini  diakui pada Dewan Yerusalem pada tahun 48 M,

pada   saat   pembatasan-pembatasan    Yudaistis    terhadap

orang-orang Kristen yang bukan Yahudi diberlakukan.

 

Mula-mula  dengan  enggan  diberi  toleransi  oleh  Kerajaan

Romawi, faham Kristen di bawah masa pemerintahan Kaisar Nero

yang   sangat   membenci   ajaran   Kristen.  Nero  berusaha

memojokkan orang  Kristen  dengan  menuduh  bahwa  kebakaran

besar  kota Roma disebabkan oleh orang Kristen (64 M), serta

membunuh  orang-orang  Kristen,  di  antaranya  Petrus   dan

Paulus.  Banyak  orang  Kristen  berkeyakinan  bahwa  dengan

kematian rasul-rasul  ini,  dan  kematian  orang-orang  yang

secara   pribadi  mengenai  Kristus,  perlu  dibuat  rekaman

tertulis tentang kehidupan Kristus. Selama empat puluh tahun

berikutnya  masih  banyak tulisan tentang Yesus, namun hanya

empat di antaranya diakui dalam Perjanjian Baru. Akan tetapi

tindakan  pembunuhan  ini  bukanlah  yang  terakhir,  bahkan

meningkat selama pemerintahan  Kaisar  Domitian  (81-96  M).

Selama dua ratus tahun ajaran Kristen merupakan doktrin yang

ilegal hingga akhirnya Kaisar  Konstantin,  setelah  melihat

cahaya   terang   di  malam  hari  sebelum  melakukan  suatu

pertempuran, yang  meliputi  salib  dengan  tulisan  "dengan

tanda  ini  kamu  ditaklukkan,"  memberikan hak legal kepada

orang-orang Kristen pada tahun 313 M  dan  menjadikan  agama

Kristen sebagai agama negara Kekaisaran Romawi.

 

Apa  yang  terjadi  kepada  gereja muda ini selama masa yang

penuh kesulitan tersebut?  Tantangan  muncul  dari  berbagai

arah, namun penyebarannya makin pesat. Walaupun pada mulanya

Yerusalem  dianggap  sebagai   pusat   suci,   namun   sikap

permusuhan   yang   diperlihatkan  orang-orang  Yahudi  yang

menguasai  Yerusalem  mendorong  pemindahan  pusat  Kristen;

mula-mula  ke  Antiokia,  bergeser  ke  Roma. Selama periode

Konstantine, Agama Kristen makin kuat dan melembaga.

 

Salah satu masalah  pertama  yang  harus  dipecahkan  adalah

masalah  Trinitas,  keyakinan umat Kristen akan Bapak, Anak,

dan Roh Kudus, yang pada hakikatnya identik  namun  terpisah

satu  sama lain. Banyak pendapat yang berbeda diajukan untuk

menjawab masalah Trinitas, dan tahun 325 Konstantin  meminta

Dewan  Pertama  Nicaea  untuk  membahas  masalah  ini dengan

saksama, yakni 'Aryan Heresy' yang menyatakan bahwa  Kristus

diciptakan  Tuhan untuk membantu dalam penciptaan dunia ini,

dan menerima status ketuhanan dari Tuhan,  jadi  tidak  sama

esensinya  dengan  Tuhan.  Status ketuhanannya dapat dicabut

Tuhan. Dewan ini melahirkan Nicene Creed suatu  bentuk  yang

digunakan hingga dewasa ini dan mencakup kata-kata:

 

  – Kami percaya akan satu Tuhan, Tuhan Yang Mahakuasa,

    pencipta langit dan bumi, yang kelihatan maupun yang

    tidak kelihatan.

  – Kami percaya akan Yesus Kristus, anak tunggal Allah,

    yang diturunkan oleh Allah Bapak, bukan diciptakan,

    yang satu dengan Allah Bapak.

  – Kami percaya akan Roh Kudus, Tuhan, pemberi kehidupan,

    yang diturunkan dari Allah Bapak dan anak.

 

Lalu gereja dihadapkan dengan sekumpulan  masalah,  terutama

masalah  intern.  Romawi  Barat  dan  Timur  mulai  terpisah

semakin jauh dan akhirnya benar-benar terpisah. Memang sebab

pemisahan  ini  bukan hanya hal di atas, karena masih banyak

titik-titik perpecahan antara Barat dan Timur.  Dibandingkan

dengan   Kristen   Barat,  Kristen  Timur  lebih  menekankan

ikon-ikon. Ikon merupakan gambar flat pada kayu, gading atau

bahan-bahan  lain, yang memperlihatkan Yesus, Perawan Maria,

atau orang suci yang lain dan melembaga dalam Gereja Yunani.

Selama  abad  kedelapan,  ikon-ikon dilarang oleh Kaisar Leo

III, namun protes keras  menyebabkan  larangan  ini  dicabut

pada  Sidang  Umum  ketujuh yang berlangsung di Nicaea tahun

787. Ini tampaknya merupakan kemenangan Gereja Timur.  Namun

perpecahan di antara keduanya tidak akan diatasi oleh sidang

tersebut dan masalah ini mengemuka  pada  abad  ke  11  pada

waktu Roma menerima pemberian suatu tambahan ke dalam Nicene

Creed, suatu hal yang tidak disetujui Gereja Timur. Tambahan

itu  adalah "dan anak" setelah frasa "kami percaya dalam Roh

Kudus, Tuhan pemberi kehidupan, yang diturunkan  dari  Allah

Bapak  …"  Jadi,  Gereja-gereja Timur tidak menerima bahwa

Roh Kudus diturunkan dari Allah Bapak  dan  Anak,  melainkan

hanya  dari Allah Bapak. Tentang masalah ini Timur dan Barat

sama sekali  tidak  mempunyai  titik  temu  dan  menimbulkan

pemisahan   tahun   1054,   karena  wakil  Paus  menempatkan

surat-surat  ekskomunikasi  pada   altar   St.   Sophia   di

Konstantinopel.  Sejak itulah muncul Gereja Katolik Roma dan

Gereja Ortodoks Yunani. Unsur-unsur doktrinal membuat mereka

tetap  terpisah:  Gereja  Katolik  dipimpin oleh satu tampuk

pimpinan  yang  disebut  Paus,  sementara  Gereja   Ortodoks

menyerahkan   kepemimpinan   di   tangan  para  bishop  atau

patriark; pandangan tentang Roh Kudus juga  berbeda,  Gereja

Ortodoks  tetap  memberikan kedudukan penting bagi ikon-ikon

dalam pemujaan, para pelayan gerejanya  dibolehkan  menikah,

dan lain-lain.

 

Segera   kemudian,   yakni   tahun  1096,  Paus  Urbanus  II

mengorganisasi Gereja Katolik ke  dalam  satu  pola  seragam

yang  bertahan  selama  hampir  200  tahun  -tentara  salib.

Mula-mula  dibentuk  untuk  dua  tujuan,  yakni   mengurangi

tekanan  Turki  atas  Kekaisaran  Timur  dan  untuk menjamin

keamanan para peziarah yang berkunjung ke Yerusalem, tentara

salib  segera  mengalami  degradasi  cita-cita; mereka ingin

membebaskan Yerusalem dari kekuasaan Muslim.

 

Gereja  Katolik   tetap   berperan   penting   hingga   abad

pertengahan.  Berpusat  di  Roma,  Paus  memegang  kekuasaan

tertinggi, yang melampaui kekuasaan  raja  dan  ratu.  Namun

sejak  akhir  abad  keempat  belas mulailah timbul tantangan

terhadap kekuasaan Paus yang begitu besar. Timbullah gerakan

reformasi  yang  dimulai  Lollards dan Hussites; gerakan ini

berubah menjadi ancaman  serius  terhadap  supremasi  Gereja

Katolik  ketika  tahun  1617,  seorang  imam  bernama Martin

Luther menentang keras penjualan surat  aflat  oleh  gereja.

Dia     lalu     menolak    supremasi    Paus,    menyangkal

transubstantiation, serta mendorong  para  bangsawan  Jerman

untuk  memberontak  dan  memisahkan  kekuasaan  mereka. Para

bangsawan, yang sebelumnya terdisilusi dengan  kontrol  oleh

Gereja  dan Paus, membutuhkan sedikit dorongan dan banyak di

antara mereka segera bergabung dengan Martin Luther.

 

Tindakan Luther merupakan awal tumbuhnya berbagai sekte yang

didasari kepada doktrin pokok Luther namun berkembang sesuai

dengan jalan yang ditempuh  masing-masing  sekte.  Pandangan

Luther  mendapat  formalisasi  dalam  Gereja  Lutheran  yang

tumbuh subur  di  Jerman,  Skandinavia  dan  Amerika.  Namun

Luther  pun  bertentangan  dengan  bekas sekutunya menentang

Paus. Salah satu bekas pendukungnya, Zwingli,  mengembangkan

pandangan  Eukaristi  yang  menyebabkan  Luther  dan Zwingli

berpisah.

 

Pengaruh Reformasi menyebar ke seluruh Eropa. Pembaharu yang

lain,  John Calvin, memisahkan diri dari Gereja Katolik Roma

tahun 1533. Pandangannya hampir sama  dengan  Luther,  namun

dia  yakin  akan  adanya  karunia  tertentu  untuk  kelompok

tertentu.  Pengikut  Calvin  menyebar  di   Jerman,   Negeri

Belanda,   Skotlandia,   Swiss,   Amerika  Utara  dan  cukup

berpengaruh di Inggris.

 

Inggris juga mengikuti anjuran para pembaharu  namun  dengan

motif  yang  agak  berbeda. Tahun 1521 Raja Henry VIII telah

mengeluarkan  suatu  traktat  yang  menyerang  Luther   yang

menyebabkan  dia  mendapat  titel  'Pembela Iman" dari Paus.

Akan tetapi Raja Henry VIII sangat ingin menikahi putri Anne

Boleyn   namun   sebelum   bisa  menikahi  Anne,  dia  harus

menceraikan  Catherine  of  Aragon.  Sayangnya  Paus   tidak

merestui    perceraian    itu    (Roma    dipengaruhi   oleh

saudara-saudara Catherine yang ada di Spanyol,  negeri  asal

Catherine)  dan  Henry  terpaksa  mengabaikan kekuasaan Paus

pada tahun 1534. Lalu dia menyatakan dirinya sebagai  kepala

Gereja  Inggris,  dan dapat membatalkan perkawinannya dengan

Catherine.  Ajaran  "Tiga  puluh   sembilan   pasal,"   yang

menyangkut  hal-hal  yang  kontroversial serta mengungkapkan

bagaimana  kedudukan   Gereja   Inggris   mengenai   masalah

perceraian   tersebut,   dikeluarkan   tahun   1571   selama

pemerintahan Ratu Elizabeth I, anak perempuan Henry.  Gereja

Inggris mengakui kerajaan sebagai kepala gereja, bukan Paus,

juga  menolak  transubstantiation,  meniadakan  biara  serta

menggantikan   bahasa  Latin  dengan  bahasa  Inggris  untuk

dipakai di Gereja.

 

Tetapi reaksi terhadap Roma masih belum  mencapai  bentuknya

yang  paling  ekstrim. Dalam abad ketujuh belas, George Fox,

dari  Leicestershire  (Inggris),  mulai  menyebarkan  ajaran

bahwa manusia dapat berhubungan dengan Tuhan tanpa melakukan

suatu  'hiasan'  (upacara)  ritualis  yang  ditetapkan  oleh

gereja-gereja  Katolik,  dan  bahwa gereja-gereja yang telah

diperbaharui belum  cukup  jauh  melangkah  dalam  penolakan

mereka  terhadap  upacara  dan  hierarki  gerejawi.  Seorang

kristen, menurut George  Fox  tidak  membutuhkan  imam  atau

pendeta/pastor,  dan juga tidak membutuhkan bait suci. Tidak

ada  gunanya  ketujuh   sakramen   Gereja   Katolik;   tidak

dibutuhkan   suatu   sakramen   apa   pun.  Fox  lalu  mulai

menyebarkan ajarannya dan melakukan berbagai  perjalanan  ke

daerah-daerah   pedalaman.  Pada  umumnya,  saat  berdirinya

gerakan Fox ini dianggap terjadi pada tahun 1652, yakni saat

terjadinya  kebaktiannya  yang sangat berhasil untuk pertama

kalinya. Pengikutnya disebut  "Quakers,"  atau  "Perkumpulan

Sahabat-sahabat."   Sampai   sekarang   juga   mereka  tidak

mempunyai bait suci kecuali rumah-rumah kebaktian, dan dalam

kebaktian  mereka  tidak  ada  liturgy,  tetapi  sebaliknya,

setiap orang dapat berbicara bila mereka merasa bahwa mereka

mempunyai  sesuatu  yang  bermanfaat untuk diutarakan, tanpa

memperhatikan  atau  mempedulikan  berapa  usia   yang   mau

berbicara tersebut dan apa kedudukannya dalam masyarakat.

 

Berbagai  perkembangan  baru  telah  terjadi di Inggris pada

periode setelah Perang Saudara. Banyak  orang  merasa  tidak

senang  dengan  penyatuan  gereja  dan negara yang dilakukan

oleh  Henry  VIII,  tetapi  selama   periode   persemakmuran

(Commonwealth   period)  di  Inggris,  mereka  menjadi  lega

melihat bahwa kedua hal tersebut (gereja dan  negara)  telah

dipisahkan  kembali.  Akan tetapi, dengan naiknya Charles II

menjadi pangeran, Undang-undang Uniformitas dikeluarkan pada

tahun   1662   yang   memulihkan  status  quo  tersebut  dan

memerintahkan  semua  pastor  untuk   menerima   "Buku   Doa

Bersama." Imam-imam yang menolak untuk menerima (oleh karena

itu disebut Non-Conformis) ketentuan-ketentuan Undang-undang

ini  akan  dikeluarkan  dari Jemaah mereka dan dianiaya. Hal

ini  berlangsung  sampai  dengan   keluarnya   Undang-undang

Toleransi  pada  tahun  1689 yang memberikan mereka beberapa

hak hukum (legal). Akibatnya, perkembangan Gereja Baptis dan

Gereja   Reformasi  bersatu  mengalami  perkembangan  cepat.

Gereja Baptis, yang didirikan oleh  John  Smith,  menganggap

bahwa  pembaptisan  bayi  adalah  melawan  perintah Alkitab.

Hanya orang dewasa yang telah  mengerti  makna  sumpah  yang

diucapkannyalah  yang  dapat  dibaptis.  Mereka juga mencoba

untuk meyakinkan bahwa jemaat ikut  aktif  dalam  perjalanan

Gereja,  dan  mencontoh  Kisah rasul-rasul dengan mengangkat

deakonis dari antara jemaatnya (lihat Kisah  Rasul-Rasul  6:

1-6)   untuk   membantu   mengarahkan  dan  menuntun  gereja

tersebut. Gereja Reformasi Bersama adalah suatu koalisi dari

GereJa  Presbiterian  Inggris (yang dikembangkan dari ajaran

Calvin) dan gereja-gereja  Jemaat  Inggris  dan  Wales  yang

didasarkan  pada  ajaran-ajaran dari tokoh pembaharu lainnya

yang telah menyebarkan ajarannya pada  zaman  Calvin,  yakni

Robert Browne (1550-1633). Terlepas dari pandangan-pandangan

mereka yang sangat sama, tetapi usaha-usaha untuk menyatukan

kelompok-kelompok  ini  barulah  berhasil  pada  tahun  1972

dengan pembentukan Gereja Reformasi Bersatu.

 

Gereja Metodis pada mulanya adalah merupakan  suatu  gerakan

dalam  Gereja  Inggris. Pendirinya, John Wesley (1703-1791),

tetap menolak untuk  berpisah  dari  gereja  induknya.  Akan

tetapi,  setelah  kematiannya, disadari bahwa Gereja Metodis

tidak dapat lagi dimasukkan dalam Gereja Inggris,  dan  lalu

memisahkan  diri pada tahun 1795. John Wesley dan saudaranya

Charles,  melalui  studi  mereka  yang  ketat  dan   metodis

terhadap   InJil   (sehingga   mereka  disebut  dengan  nama

Metodis), merasa bahwa keselamatan  diperoleh  hanya  karena

kasih  dan  karunia Tuhan, bukan karena suatu perbuatan atau

kebaikan manusia.

 

Menjelang akhir abad kesembilan belas,  ada  gelombang  atau

kegairahan   lain  mengenai  perhatian  keagamaan.  Hal  ini

sebagian  disebabkan  penemuan-penemuan  ilmiah  dalam  abad

tersebut yang mengancam berbagai keyakinan yang hingga waktu

itu telah diterima sebagai  kebenaran  religius  yang  tidak

dapat dibantah (misalnya, mengenai taman firdaus dan masalah

penciptaan).  Dalam  hal   ini,   reaksi   dari   Pencerahan

(Enlightement)  dalam tahun-tahun sebelumnya turut berperan.

Akibatnya adalah bermunculannya banyak sekte yang memisahkan

diri  dari  gereja  induk  mereka,  sebagaimana yang terjadi

dalam  Reformasi   yang   memunculkan   gereja-gereja   yang

diperbaharui  yang  memisahkan  diri  dari  iman Katolik. Di

Inggris, Bala Keselamatan berkembang sebagai suatu  kekuatan

besar,  bukan  saja karena ketaatan beragamanya, tetapi juga

karena   reformasi   dan   bantuan   sosialnya.   Di   bawah

kepemimpinan  William  Booth  (1829-1912),  Bala Keselamatan

tersebut memisahkan diri dari  gereja  Metodis  dalam  tahun

1865  dan  membentuk  sendiri  suatu organisasi yang bergaya

militer karena kelompok tersebut menganggap dirinya  sebagai

laskar  perang  Tuhan  dan  memerangi  ketidakadilan sosial.

Dibandingkan dengan kebanyakan sekte Gereja,  mereka  sangat

sedikit  memperhatikan  sakramen,  walaupun  mereka menerima

bahwa beberapa orang Kristen mungkin  melihat  sakramen  itu

merupakan pertolongan dan bantuan.

 

Di   Amerika  juga  terjadi  suatu  gejolak  keagamaan  yang

demikian. Pada tahun 1830, Mormon, atau Gereja Yesus Kristus

dari  Orang-orang  Suci  Hari Terakhir, dibentuk oleh Joseph

Smith (1805-1844) yang mengklaim telah mengalami suatu wahyu

Tuhan, menemukan tablet-tablet emas yang tertulis dalam Buku

Mormon, yakni yang merupakan  kitab  suci  penganut  Mormon.

Pada    mulanya   ajaran   Mormon   ini   terlarang   karena

pandangan-pandangan  mereka  yang  menyimpang  dari   ajaran

Kristen  dan  praktek  poligami  mereka,  tetapi  Mormon ini

merayap ke seluruh Amerika dan akhirnya menetap di Salt Lake

City, tempat markas mereka terletak hingga kini.

 

Aliran  spiritual  mulai  ada  tahun  1848  ketika dua orang

perempuan, yakni saudara  perempuan  Fox  yang  berumur  dua

belas  dan lima belas tahun, menyebabkan suatu kegemparan di

antara, penduduk  kota  mereka,  Arcadia,  New  York  State,

dengan  mengklaim  bahwa  mereka  telah  dapat berkomunikasi

dengan  roh-roh.  Walaupun   ada   yang   menyatakan   bahwa

suara-suara  gaduh tersebut adalah suara gabungan dari suara

kedua anak perempuan tersebut, tetapi mereka (penduduk  kota

tersebut)   berkumpul  sedemikian  banyak  mendukung  supaya

Gereja Spiritual didirikan. Penganut aliran Spiritual yakin,

selain   pada   pandangan-pandangan  Kristen  biasa,  bahwa,

melalui mereka, nasihat dan tuntunan dapat diperoleh.

 

Advent  Hari  Ketujuh  juga  mulai  ada  di  Amerika,   yang

membangun  reputasinya  dalam  tahun  1860,  dan setelah itu

sekte ini cepat menyebar ke seluruh  dunia.  Berbeda  dengan

sekte-sekte  Kristen  lainnya,  mereka  membuat hari ketujuh

sebagai Sabat (yaitu,  mereka  menjalankannya  seperti  yang

dilakukan  oleh  orang  Yahudi,  dimulai  dari saat matahari

terbenam pada  hari  Jumat  sampai  matahari  terbenam  hari

Sabtu).  Sama  seperti Gereja Baptis, mereka hanya membaptis

orang-orang dewasa, dan juga  membuat  pembatasan-pembatasan

mengenai  apa yang dapat dimakan dan diminum oleh jemaatnya.

Misalnya, mereka  tidak  boleh  minum  alkohol  dan  memakan

makanan kerang-kerangan.

 

Sebelum mengakhiri ulasan ini, tiga kelompok Kristen lainnya

harus disebut yakni: Christian Science,  Saksi  Jehova,  dan

gerakan Pantekosta.

 

Christian  Science  didirikan oleh Mrs. Mary Baker Eddy pada

tahun 1879, yang mempertahankan bahwa satu-satunya  realitas

hanyalah pikiran dan semua yang lainnya adalah illusi.

 

Oleh  karena itu penyakit jangan dirawat dengan obat, tetapi

harus disembuhkan dengan mempraktekkan pemikiran yang benar.

 

Saksi Jehova, yang didirikan oleh C.T. Russell, yakin  bahwa

kedatangan  kedua  kalinya  Yesus serta akhir dunia ini akan

terjadi dalam waktu yang tidak lama lagi, dan bila  hal  itu

terjadi  maka  hanya  suatu kelompok elit saja yang selamat,

yaitu kelompok Saksi Jehova itu  sendiri.  Mereka  mempunyai

Al-Kitab   dengan   terjemahan  mereka  sendiri  dan  mereka

menyisihkan   banyak   waktu,   usaha,   dan   uang    untuk

kegiatan-kegiatan missionaris.

 

Yang  terakhir,  yakni gerakan Pantekosta, yang bermula dari

suatu missi di Los Angeles dalam tahun 1906  yang  dilakukan

oleh  W.J.  Seymour,  mengajarkan bahwa setiap orang Kristen

dapat mengalami kehadiran  Rohul  Kudus  dalam  diri  mereka

sendiri  dan  menerima  hadiah-hadiah  roh.  Oleh karena itu

kebaktian Pantekosta adalah merupakan  upacara  yang  sangat

emosional,  di  mana  jemaatnya  menjadi dirasuki oleh Rohul

Kudus dan tampak  berbicara  dalam  lidah  (berbahasa  roh),

sebagaimana  yang  dilakukan  oleh  murid-murid  Yesus  yang

pertama. Walaupun gerakan Pantekosta telah mempunyai  gereja

sendiri,   tetapi   gerakan   ini  telah  juga  mempengaruhi

aspek-aspek lain dari Gereja  (Kristen),  dan  dalam  GereJa

Katolik  gerakan  tersebut juga berpengaruh dengan munculnya

apa yang disebut  gerakan  Karismatik,  orang-orang  Katolik

bermaksud menerima Rohul Kudus dalam diri mereka sendiri.

 

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mengulas secara mendalam

sekte-sekte Kristen, bahkan tulisan ini tidak menyebut semua

sekte  yang  ada,  karena  ada  banyak  gerakan-gerakan  dan

aliran-aliran pemikiran yang berbeda dalam  Gereja  Kristen.

Penulis hanya mencoba untuk menempatkan dalam latar belakang

historis dan teologis sekte yang paling menyebar.

 

 

The History of Christian Doctrine

Sejarah Perkembangan Ajaran Trinitas

L. Berkhof

Penerbit CV. Sinar Baru

Cetakan pertama: 1992

Bandung

FacebookTwitterGoogle+LinkedIn

Comments

comments

Gallery

slide3 slide2 slide1
FacebookTwitterGoogle+LinkedIn