Archive for : June, 2013

Ohh.. Indonesia…

 

 

“Suatu pagi, kami menjemput seseorg klien di bandara. Org itu sdh tua, kisaran 60 thn. Si Bpk adl pengusaha asal Singapura, dgn logat bicara gaya melayu & english, beliau menceritakan pengalaman2 hidupnya kpd kami yg msh muda.

 

Beliau berkata, “Ur country is so rich!”

Ah biasa banget denger kata2 itu. Tapi tunggu dulu… “Indonesia doesn’t need the world, but the world needs Indonesia,” lanjutnya. “Everything can be found here in Indonesia, U don’t need the world.”

“Mudah saja, Indonesia paru2 dunia. Tebang saja hutan di kalimantan, dunia pasti kiamat. Dunia yg butuh Indonesia! Singapura is nothing, we can’t be rich without Indonesia.. 500.000 org Indonesia berlibur ke Singapura tiap bulan.. Bisa terbayang uang yg masuk ke kami, apartemen2 terbaru kami yg beli org2 Indonesia, ga peduli harga selangit, laku keras. Lihatlah RS kami, org Indonesia semua yg berobat. Trus, kalian tau bgmna kalapnya pemerintah kami ketika asap hutan Indonesia masuk? Ya, bener2 panik. Sangat terasa, we are nothing. Kalian tau kan kalo Agustus kmrn dunia krisis beras. Termasuk di Singapura dan Malaysia? Kalian di Indonesia dgn mudah dpt beras.. Liatlah negara kalian, air bersih di mana2, liatlah negara kami, air bersih pun kami beli dari Malaysia. Saya ke Kalimantan pun dlm rangka bisnis, krn pasirnya mengandung permata. Terliat glitter kalo ada matahari bersinar. Penambang jual cuma Rp 3.000/kg ke pabrik china, si pabrik jual kembali seharga Rp 30.000/kg. Saya liat ini sbg peluang.. Kalian sadar tidak kalo negara2 lain selalu takut meng-embargo Indonesia?! Ya, karena negara kalian memiliki segalanya. Mereka takut kalau kalian menjadi mandiri, makanya tidak di embargo. Harusnya KALIANLAH YG MENG-EMBARGO DIRI KALIAN SENDIRI. Belilah pangan dari petani2 kita sendiri, belilah tekstil garmen dari pabrik2 sendiri.. Tak perlu impor klo bisa produk sendiri. Jika kalian bisa mandiri, bisa MENG-EMBARGO DIRI SENDIRI, INDONESIA WILL RULES THE WORLD!!!” “”

FacebookTwitterGoogle+LinkedIn

RANCANGAN PENELITIAN KUALITATIF

 

 BAB I

PENDAHULUAN

 

Oleh: Afiful Ikhwan

 

 

  1. Latar Belakang Masalah

Penelitian kualitatif adalah riset yang bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis dengan pendekatan induktif. Proses dan makna (perspektif subyek) lebih ditonjolkan dalam penelitian kualitatif. Landasan teori dimanfaatkan sebagai pemandu agar fokus penelitian sesuai dengan fakta di lapangan. Selain itu landasan teori juga bermanfaat untuk memberikan gambaran umum tentang latar penelitian dan sebagai bahan pembahasan hasil penelitian. Terdapat perbedaan mendasar antara peran landasan teori dalam penelitian kuantitatif dengan penelitian kualitatif. Dalam penelitian kuantitatif, penelitian berangkat dari teori menuju data, dan berakhir pada penerimaan atau penolakan terhadap teori yang digunakan; sedangkan dalam penelitian kualitatif peneliti bertolak dari data, memanfaatkan teori yang ada sebagai bahan penjelas, dan berakhir dengan suatu “teori”.[1]

Penelitian kualitatif jauh lebih subyektif dari pada penelitian atau survei kuantitatif dan menggunakan metode sangat berbeda dari mengumpulkan informasi, terutama individu, dalam menggunakan wawancara secara mendalam dan group fokus. Sifat dari jenis penelitian ini adalah penelitian dan penjelajahan terbuka berakhir dilakukan dalam jumlah relatif kelompok kecil yang diwawancarai secara mendalam.

Metodologi penelitian merupakan sesuatu yang berusaha membahas konsep teoritik berbagai metode, kelebihan dan kelemahannya yang dalam karya ilmiah dilanjutkan dengan pemilihan metode yang digunakan. Dalam hal ini metode lebih bersifat teknis pelaksanaan lapangan sedangkan metodologi lebih pada uraian filosofis dan teoritisnya. Oleh karena itu penetapan sebuah metodologi penelitian mengandung implikasi inheren di dalam diri filsafat yang dianutnya. Sebab filsafat ilmu yang melandasi berbagai metodologi penelitian yang ada. Maka dari itu  dengan mengetahui metodologi penelitian yang digunakan, filsafat ilmu dan kajian teoritisnya, kelemahan dan kelebihannya diharapkan akan mampu memberikan kesesuaian metodologi dengan fokus masalah penelitian.

Munculnya penelitian kualitatif adalah karena reaksi dari tradisi yang terkait dengan positivisme dan postpositivisme yang berupaya melakukan kajian budaya dan interpretatif sifatnya. Berbagai jenis metode dan pendekatan  dalam penelitian kualitatif, tingkat perkembangan dan kematangan masing-masing metode ditentukan juga oleh bidangkeilmuan yang memiliki sejarah perkembangannya. Setiap uraian mengenai penelitian kualitatif harus bekerja didalam bidang historis yang kompleks. Penelitian kualitatif mempunyai pengertian yang berbeda-beda untuk setiap momen, meskipun demikian definisi secara umum : penelitian kualitatif merupakan suatu metode berganda dalam fokus, yang melibatkan suatu pendekatan interpretatif  dan wajar terhadap setiap pokok permasalahannya. Ini berarti penelitian kualitatif bekerja dalam setting yang alami, yang berupaya untuk memahami, member tafsiran pada fenomena yang dilihat dari arti yang diberikan orang-orang kepadanya.

Penelitian kualitatif melibatkan  penggunaan dan pengumpulan  berbagai bahan empiris, seperti studi kasus, pengalaman pribadi, instropeksi, riwayat hidup, wawancara, pengamatan, teks sejarah, interaksional dan visual: yang benggambarkan momen rutin dan problematis, serta maknanya  dalam kehidupan individual dan kolektif.[2]

 


 

  1. Rumusan Masalah
  1. Bagaimana pengertian penelitian kualitatif ?
  1. Apa ciri-ciri penelitian kualitatif ?
  1. Bagaimana bentuk rancangan penelitian kualitatif ?
  1. Bagaiaman format rancangan penelitian kualitatif ?
  1. Bagaimana penelitian kualitatif dalam pendidikan ?

 

  1. Tujuan Masalah
  1. Untuk mengetahui pengertian penelitian kualitatif.
  1. Untuk mengetahui ciri-ciri penelitian kualitatif.
  1. Untuk mengetahui bentuk rancangan penelitian kualitatif.
  1. Untuk mengetahui format rancangan penelitian kualitatif.
  1. Untuk mengetahui penelitian kualitatif dalam pendidikan.

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

RANCANGAN PENELITIAN KUALITATIF

 

 

  1. Pengertian Penelitian Kualitatif

Penelitian berasal dari bahasa inggris research (re: kembali, dan search: mencari), dengan demikian research berarti mencari kembali. Sehingga, penelitian adalah semua kegiatan pencarian, penyelidikan dan percobaan secara ilmiah dalam suatu bidang tertentu untuk mendapatkan fakta-fakta tau prinsip-prinsip baru yang bertujuan untuk mendapatkan pengertian baru dan menaikan tingkat ilmu dan teknologi.[3]

Penelitian kualitatif adalah penelitian yang dimaksudkan untuk mengungkap gejala secara holistik-kontekstual (secara menyeluruh dan sesuai konteks/apa adanya) melalui pengumpulan data dari latar alami sebagai sumber langsung dengan instrumen kunci penelitian itu sendiri. Menurut Bogdan dan Taylor dalam Moleong ”penelitian kualitatif” adalah penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.[4]

Istilah penelitian kualitatif menurut Kirk dan Miller pada mulanya bersumber pada pengamatan kualitatif yang dipertentangkan dengan pengamatan kuantitatif, lalu mereka mendefinisikan bahwa metodologi kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada pengamatan pada manusia dalam kaasannya sendiri dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasanya dan dalam peristilahannya.

Sedangkan penelitian kualitatif menurut Jane Richie, adalah upaya untuk menyajikan dunia sosial, dan perspektifnya di dalam dunia, dari segi konsep, prilaku, persepsi, dan persoalan tentang manusia yang diteliti.[5] Penelitian kualitatif ini dimaksudkan sebagai jenis penelitian yang temuan-temuannya tidak diperoleh melalui prosedur statistik atau bentuk hitungan lainnya.Contohnya dapat berupa penelitian tentang kehidupan, riwayat dan perilaku seseorang, peranan organisasi pergerakan nasional, atau hubungan timbal balik.[6]

Kajian penelitian kualitatif berawal dari kelompok ahli sosiologi dari “mazhab Chicago” pada tahun 1920-1930, yang memantapkan pentingnya penelitian kualitatif untuk mengkaji kelompok kehidupan manusia. Pada waktu yang sama, kelompok ahli antropologi menggambarkan outline dari metode karya lapangan; yang melakukan pengamatan langsung ke lapangan untuk mempelajari adat dan budaya masyarakat setempat. Dari awal, tampak bahwa penelitian kualitatif merupakan bidang penyelidikan tersendiri. Bidang ini bersilang dengan disiplin dan pokok permasalahan lainnya. Suatu kumpulan istilah, konsep, asumsi yang kompleks dan saling terkait meliputi istilah penelitian kualitatif.

Dalam penelitian tidak lepas dari rancangan, tetapi pada rancangan penelitian kualitatif dalam pendidikan, penelitiannya bersifat sementara karena ketika penelitian berlangsung, peneliti secara terus menerus menyesuaikan rancangan tersebut dengan proses penelitian dan kenyataan yang terjadi di lapangan khususnya di dalam dunia pendidikan. Jadi berbeda dengan proses penelitian kuantitatif yang disusun secara ketat dan kaku sebelum penelitian dilaksanakan. Hal ini disebabkan karena:

  1. Peneliti kualitatif belum dapat membayangkan sebelumnya tentang kenyataan-kenyataan yang akan dijumpai di lapangan;
  1. Peneliti belum dapat meramalkan sebelumnya tentang perubahan yang terjadi ketika terjadi interaksi antara peneliti dan kenyataan yang diteliti;
  1. Bermacam-macam sistem nilai yang terkait berhubungan dengan cara yang tidak dapat diramalkan.[7]

 

  1. Ciri-ciri Penelitian Kualitatif

Sekadar memberikan gambaran dan penjelasan menegenai penelitian kualitatif, ada baiknya dikemukakan cirri-ciri pokok penelitian. Ada lima ciri pokok dari penelitian kualitatif:[8]

  1. Penelitian kualitatif menggunakan lingkungan alamiah sebagai sumber data langsung. Situasi pendidikan baik dalam lingkungan keluaraga, sekolah dan masyarakat, sebagaimana adanya (alami) tanpa dilakukan perubahan dan intervensi oleh peneliti, merupakan objek bagi penelitian kualitatif. Peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam situasi pendidikan terutama peristiwa sosial, dalam arti interaksi manusia, seperti interaksi siswa-siswa, guru-guru, siswa-lingkungan, merupakan kajian utama penelitian kualitatif. Peneliti pergi kelokasi tersebut, memahami dan mempelajari, perilaku insane tersebut dalam konteks lingkungannya, sebagaimana yang ditunjukkannya.
  1. Penelitian kualitatif sifatnya deskriptif analitik. Data yang diperoleh dari penelitian kualitatif seperti hasil pengamatan, hasil wawancara, hasil pemotretan, cuplikan tertulis dari dokumen, catatan lapangan, disusun peneliti di lokasi penelitian, tidak dituangkan dalam bentuk dan bilangan statistik.
  1. Tekanan penelitian kualitatif ada pada proses bukan pada hasil.
  1. Penelitian kualitatif sifatnya induktif.
  1. Penelitian kualitatif mengutamakan makna.

 

Penelitian kualitatif memiliki ciri atau karakteristik  yang membedakan dengan penelitian jenis lainnya. Dari hasil penelaahan pustaka yang dilakukan Moleong atas hasil dari mensintesakan pendapatnya Bog dan Biklen dengan Lincoln dan Guba ada sebelas ciri penelitian kualitatif, yaitu:

  1. Penelitian kualitatif menggunakan latar alamiah atau pada konteks dari suatu keutuhan (enity).
  1. Penelitian kualitatif intrumennya adalah manusia, baik peneliti sendiri atau dengan bantuan orang lain.
  1. Penelitian kualitatif menggunakan metode kualitatif.
  1. Penelitian kualitatif menggunakan analisis data secara induktif.
  1. Penelitian kualitatif lebih menghendaki arah bimbingan  penyusunan  teori subtantif yang berasal dari data.
  1. Penelitian kualitatif  mengumpulkan data deskriptif (kata-kata, gambar) bukan angka-angka.
  1. Penelitian kualitatif lebih mementingkan proses dari pada hasil.
  1. Penelitian kualitatif menghendaki adanya batas dalam penelitian nya atas dasar fokus  yang timbul sebagai masalah dalam peneltian.
  1. Penelitian kualitatif meredefinisikan validitas, realibilitas, dan objektivitas dalam versi lain dibandingkan dengan yang lazim digunakan dalam penelitian klasik.
  1. Penelitian kualitatif menyusun desain yang secara terus menerus disesuaikan dengan kenyataan lapangan (bersifat sementara).
  1. Penelitian kualitatif menghendaki agar pengertian  dan hasil interpretasi yang diperoleh dirundingkan dan disepakati oleh manusia yang dijadikan sumber data.

 

  1. Bentuk-bentuk Rancangan Penelitian Kualitatif
  1. Grounded Theory (Teoretisasi Data)

Rancangan teori grounded merupakan prosedur penelitian kualitatif yang sistematik, dimana peneliti melakukan generalisasi satu teori yang menerangkan konsep, proses, tindakan, atau interaksi mengenai suatu topik pada level konseptual yang luas. Tujuan grounded theory yaitu untuk menentukan kondisi yang memunculkan sejumlah tindakan/interaksi yang berhubungan dengan suatu fenomena dan akibatnya.[9]

Dalam dunia pendidikan teori ini digunakan untuk meneliti bagaimana proses kegiatan pengajaran, proses bimbingan, pengelolaan kelas/manajemen kelas, dan bagaimana hubungan antara guru dan siswa di sekolah.

  1. Rancangan Penelitian Etnografik

Rancangan penelitian etnografik merupakan prosedur penelitian kualitatif untuk mendeskripsikan, menganalisa, dan menginterprestasi pola prilaku, kepercayaan, dan bahasa bersama dari sekelompok budaya yang berkembang pada seluruh waktu. Dalam lingkungan pendidikan penelitian ini dirancang untuk meneliti tentang bagaimana kurikulum yang diterapkan, serta metode apa yang digunakan guru untuk mengajar.

  1. Rancangan Penelitian Naratif

Dalam rancangan ini, seorang peneliti mendeskripsikan kehidupan individual, mengumpulkan dan menceritakan informasi tentang kehidupan individu-individu, serta melaporkannya secara naratif tentang pengalaman-pengalaman mereka.Dalam bidang pendidikan misalnya, meneliti bagaimana perkembangan psikososial anak didik serta aktifitas-aktifitasnya baik di dalam sekolah maupun di luar sekolah.

  1. Rancangan Study Kasus

Penelitian dalam rancangan study kasus dilakukan untuk memperoleh pengertian yang mendalam mengenai situasi dan makna sesuatu/subyek yang diteliti. Penelitian ini lebih mementingkan proses dari pada hasil, lebih mementingkan konteks dari pada suatu variabel khusus, lebih ditunjukan untuk menemukan sesuatu dari pada kebutuhan konfirmasi.

Penelitian ini menganalisa bagaimana keadaan individu peserta didik, dalam persoalan sosialnya maupun pola kehidupannya baik dalam hal pergaulan maupun sikap di dalam masyarakat.

  1. Rancangan Metode Campuran

Dalam penelitian metode campuran, peneliti mengkombinasikan data kuantitatif dengan data kualitatif, yaitu untuk menerangkan dan mengeksplor problem penelitian dengan cara terbaik. Rancangan metode ini merupakan prosedur untuk mengumpulkan data kuantitatif dan data kualitatif dalam satu penelitian tunggal, dan untuk menganalisa dan melaporkan data ini berdasarkan prioritas, sekuensi, dan level integrasi informasi.

Biasanya rancangan ini ditujukan dalam pengisian hasil studi/nilai akhir sekolah, menganalisis nilai siswa, serta untuk menentukan pengembangan diri masing-masing siswa selama mengkuti pembelajaran.

  1. Rancangan Penelitian Tindakan (Action Research)

Penelitian ini memanfaatkan data kuantitatif dengan data kualitatif seperti metode campuran, akan tetapi fokusnya lebih merupakan terapan. Tujuan penelitian ini dalam dunia pendidikan adalah untuk meningkatkan praktek pendidikan dan pengajaran dimana guru melaksanakannya berkaitan dengan problem yang mereka hadapi dalam setting sekolah.Dalam bidang pendidikan dan pengajaran rancangan penelitian tindakan merupakan prosedur sistematik yang dipakai oleh guru (atau peneliti) untuk mengumpulkan data kuantitatif dan atau data kualitatif tentang cara-cara mereka bekerja, bagaimana mereka mengajar, dan bagaimana baiknya siswa belajar.

 

  1. Format Rancangan Penelitian Kualitatif

Dalam konteks pendekatan kualitatif, elemen dan unsur-unsur utama sebagai isi (content) dari rancangan penelitian dalam pendidikan pada umumnya adalah: konteks penelitian (latar belakang masalah); fokus kajian atau pokok persoalan yang hendak diteliti; tujuan penelitian; ruang lingkup dan setting penelitian (latar alamiah penelitian itu dilakukan); perspektif teoritik (fenomena sosial) dan kajian pustaka; serta metode yang digunakan.

Adapun format rancangan penelitian kualitatif ada beberapa versi, akan tetapi format di sini sebagai modifikasi, sehingga mudah diaplikasikan. Sistematikannya adalah sebagai berikut:

  1.  Judul
  1.  Konteks Penelitian
  1. Fokus Kajian
  1. Tujuan Penelitian
  1. Ruang Lingkup dan Setting Penelitian
  1. Perspektif Teoritik dan Kajian Pustaka
  1. Metode Penelitian
  1. Pendekatan
  1. Unit Analisis
  1. Pengumpulan dan Analisis Data
  1. Keabsahan data
  •  Jadwal kegiatan penelitian
  1. Anggaran Penelitian
  • Daftar Kepustakaan[10]

 

  1. Penelitian Kualitatif dalam Pendidikan

Penelitian kualitatif mempunyai tempat tersendiri dalam bidang pendidikan, mengingat sifat dan hakikat pendidikan sebagai proses sadar tujuan, dalam meningkatkan kualitas manusia dan kualitas hidupnya sebagai manusia yang berbudaya. Ada beberapa alasan kuat pentingnya penelitian  kualitatif dalam pendidikan;[11]

  1. Pendiddikan sebagai proses sosialisasi pada hakikatnya adalah interaksi manusia dengan lingkungan yang membentuknya melalui proses belajar dalam konteks lingkungan yang berubah-ubah.
  1. Pendidikan senantiasa melibatkan komponen manusia, yakni tenaga kependidikan dan siswa dengan komponen, kurikulum dan sistem pendidikan, lingkungan pendidikan, tempat/ruang dan waktu serta sarana dan prasarana pendidikan. Setiap komponen berinteraksi satu sama lain dalam satu proses pendidikan dan pengajaran untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.
  1. Pendidikan sebagai suatu sistem tidak hanya berorientasi kepada hasil tetapi juga berorientasi kepada proses agar memperoleh hasil yang optimal.
  1. Pendidikan dalam pengertian luas, terjadi pada manusia dan berlaangsung sepanjang hayat, dalam lingkungan keluarga, sekolah dan lingkungan masyarakat, secara alami.
  1. Tekanan utama pendidikan adalah pembinaan dan pengembangan kepribadian manusia mencakup aspek intelektual, moral, sosial dalam satu kesatuan utuh, serasi, selaras, dan seimbang. Pembinaan dan pengembangan tersebut melalui proses belajar agar diperoleh perubahan-perubahan perilaku menyangkut pengetahuan, sikap dan ketrampilan.

Penggunaan penelitian kualitatif dalam pendidikan bertujuan untuk;

  1. Mendeskripsikan suatu proses kegiatan pendidikan berdasarkan apa yang terjadi di lapangan sebagai bahan kajian lebih lanjut untuk menemukan kekurangan dan kelemahan pendidikan, sehingga dapat ditentukan upaya penyempurnaannya.
  1. Menganalisis dan menafsirkan suatu fakta, gejala dan peristiwa pendidikan yang terjadi di lapangan sebagaimana adanya dalam konteks ruang dan waktu serta situasi lingkungan pendidikan secara alami.
  1. Menyusun hipotesis berkenaan dengan konsep dan prinsip pendidikan berdasarkan data dan informasi yang terjadi di lapangan (induktif) untuk dilakukan pengujian lebih lanjut melalui pendekatan kuantitatif.

 

Bidang kajian penelitian kualitatif dalam pendidikan berkenaan dengan suatu proses dan kegiatan yang memungkinkan terjadinya interaksi antarmanusia dan atau interaksi manusia dengan lingkungannya. Seperti proses pengajaran,proses bimbingan, pengelolaan kelas/manajemen kelas, kepemimpinan dan pengawasan pendidikan, proses penilaian pendidikan, hubungan sekolah dengan masyarakat, upaya pengembangan tugas profesi guru dan lain-lain. Permasalahan diangkat dari semua komponen pendidikan seperti contoh dibawah ini;

  1. Bidang ketenagaan
  • bagaimana guru melaksanakan pengajaran di sekolah ?
  • bagaimana guru mengatasi kesulitan belajar siswanya di sekolah ?
  • bagaimana guru mengoptimalkan kegiatan belajar siswa di sekolah ?
  • bagaimana kepala sekolah mengupayakan sumber-sumber belajar ?
  • bagaimana kepala sekolah meningkatkan kemampuan profesional guru-guru yang ada di sekolahnya ?
  • bagaimana tenaga pembimbing memberikan penyuluhan kepada para siswanya ?
  1. Bidang anak didik
  • bagaimana cara siswa belajar di sekolah dan di rumahnya ?
  • bagaimana cara siswa bergaul dengan teman-teman sekelasnya?
  • bagaimana siswa memanfaatkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dari sekolahnya ?
  • bagaimana hubungan sosial siswa dengan keluarga dan lingkungan tempat tinggalnya ?
  • bagaimana sikap siswa terhadap guru dan mata pelajaran di sekolah ?
  1. Bidang lingkungan pendidikan
  • bagaimana peran dan partisipasi orang tua murid dalam pendidikan anaknya di sekolah ?
  • bagaimana sikap dan pandangan orang tua terhadap kualitas anak-anaknya di sekolah ?
  • bagaimana peran dan partisipasi tokoh masyarakat setempat dalam memajukan pendidikan disekolah ?
  1. Bidang kurikulum dan sistem pendidikan
  • bagaimana pelaksanaan kurikulum muatan lokal ?
  • bagaimana sekolah membina hubungan dengan masyarakat ?
  • bagaimana pendidikan kependudukan diintegrasikan dalam bidang-bidang studi di sekolah ?

 

Pertanyaan-pertanyaan diatas dan tentunya masih banyak pertanyaan lain yang sejenis dalam setiap bidang garapan pendidikan menuntut data dan informasi yang mendalam berdasarkan apa adanya dalam praktek pendidikan sehari-hari.

 

BAB III

PENUTUP

 

  1. Kesimpulan

Penelitian kualitatif merupakan upaya untuk menyajikan dunia sosial, dan perspektifnya di dalam dunia, dari segi konsep, prilaku, persepsi, dan persoalan tentang manusia yang diteliti.Misalkan dapat berupa penelitian tentang kehidupan, riwayat dan perilaku seseorang.

Ciri-ciri Penelitian kualitatif; menggunakan latar alamiah, intrumennya adalah manusia, menggunakan metode kualitatif, menggunakan analisis data secara induktif, lebih menghendaki arah bimbingan  penyusunan  teori subtantif yang berasal dari data, mengumpulkan data deskriptif (kata-kata, gambar) bukan angka-angka, lebih mementingkan proses dari pada hasil, menghendaki adanya batas dalam penelitiannya atas dasar fokus  yang timbul sebagai masalah dalam peneltian, meredefinisikan validitas, realibilitas, dan objektivitas dalam versi lain dibandingkan dengan yang lazim digunakan dalam penelitian klasik, menyusun desain yang secara terus menerus disesuaikan dengan kenyataan lapangan (bersifat sementara), menghendaki agar pengertian  dan hasil interpretasi yang diperoleh dirundingkan dan disepakati oleh manusia yang dijadikan sumber data.

Rancangan penelitian kualitatif dalam pendidikan penelitiannya bersifat sementara, karena ketika penelitian berlangsung, peneliti secara terus menerus menyesuaikan rancangan tersebut dengan proses penelitian dan kenyataan yang terjadi di lapangan khususnya di dalam dunia pendidikan.

Bentuk-bentuk rancangan penelitian kualitatif antara laingrounded theory, penelitian etnografik, penelitian naratif, Rancangan Study Kasus, Metode Campuran, dan Rancangan Penelitian Tindakan (Action Research). Sedangkan konteks pendekatan kualitatif, elemen dan unsur-unsur utama sebagai isi rancangan penelitian dalam pendidikan adalah konteks penelitian, fokus kajian, tujuan penelitian, ruang lingkup dan setting penelitian, perspektif teoritik dan kajian pustaka, dan metode yang digunakan.

Penelitian kualitatif dalam pendidikan; pendidikan sebagai proses sosialisasi pada hakikatnya adalah interaksi manusia dengan lingkungan yang membentuknya melalui proses belajar dalam konteks lingkungan yang berubah-ubah, senantiasa melibatkan komponen manusia, system yang tidak hanya berorientasi kepada hasil tetapi juga berorientasi kepada proses agar memperoleh hasil yang optimal, pembinaan dan pengembangan kepribadian manusia mencakup aspek intelektual, moral, sosial dalam satu kesatuan utuh, serasi, selaras, dan seimbang. Pembinaan dan pengembangan tersebut melalui proses belajar.

 

  1. Saran

Demikian uraian yang telah kami paparkan, melalui makalah ini penulis menjelaskan dan menguraikan bahwa dalam rancangan penelitian dalam pendidikan tidak terlepas dari sebuah konsep, metode maupun format yang harus dibuat, karena pada dasarnya penelitian ini memberikan kemungkinan bagi perubahan-perubahan manakala ditemukan fakta yang lebih mendasar. Demikian, apabila dalam penulisan ini masih banyak kekurangan, kami mohon kritik dan saran dari pembaca.

 

 

DAFTAR RUJUKAN

 

Alsa, Asmadi. 2007. Pendekatan Kuantitatif dan Kualitatif serta Kombinasinya dalam Penelitian Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Bungin, Burhan. 2003. Analisis Data Penelitian Kualitatif. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Corbin, Juliet, Strauss, Anselm. 2007. Dasar-dasar Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Haryono, Hadi, Amirul. 2005. Metodologi Penelitian Pendidikan. Bandung: CV. Pustaka Setia.

Ibrahim, Sudjana, Nana. 2007. Penelitian  dan Penilaian Pendidikan, Bandung: Sinar Baru Algensindo.

Moleong, Lexy J. 2009. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Sudjana, Nana. 2007. Ibrahim, Penelitian  dan Penilaian Pendidikan. Bandung: Sinar Baru Algensindo.

Tanzeh, Ahmad. 2005. Pengantar Metode Penelitian, Yogyakarta: Teras.

Universitas Negeri Malang (UNM), Metode Penelitian Kualitatif, dalam http://www.penalaran-unm.org/index.php/artikel-nalar/penelitian/116-metode-penelitian-kualitatif.html, diakses pada 10 Mei 2013.

Wikepedia Ensiklopedia Bebas, Penelitain Kualitatif, dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Penelitian_kualitatif, diakses pada 15 Mei 2013.

 

 

 

DAFTAR ISI

 

Halaman Judul          ……………………………………………….…..…      i

Kata Pengantar         …………………………………………………..….      ii

Daftar Isi                    …………………………………………………..….      iii

 

BAB I             PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah   ………………………………      1
  1. Rumusan Masalah ……………………………………..      2
  1. Tujuan Masalah   ………………………………………      2

 

BAB II            PEMBAHASAN

RANCANGAN PENELITIAN KUALITATIF

  1. Pengertian Penelitian Kualitatif …………………………    3
  1. Ciri-Ciri Penelitian Kualitatif    …………………………     4
  1. Bentuk-Bentuk Rancangan Penelitian Kualitatif ……….     6
  1. Format Rancangan Penelitian Kualitatif   ………………     8
  1. Penelitian Kualitatif dalam Pendidikan   ………………..    8

 

 BAB III         PENUTUP

  1. Kesimpulan   ……………………………………………..   12
  1. Saran   …………………………………………………….  13

 

DAFTAR RUJUKAN   ………………………………………………………       14

 

 


[1]Wikepedia Ensiklopedia Bebas, Penelitian Kualitatif, dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Penelitian_kualitatif. di akses 22 Maret  2013.

[2]Universitas Negeri Malang (UNM), Metode Penelitian Kualitatif, dalam http://www.penalaran-unm.org/index.php/artikel-nalar/penelitian/116-metode-penelitian-kualitatif.htm, di akses 22 Maret 2013.

[3]Amirul Hadi, Haryono, Metodologi Penelitian Pendidikan,(Bandung: CV. Pustaka Setia, 2005), hlm 39.

[4]Ahmad Tanzeh, Pengantar Metode Penelitian (Yogyakarta: Teras, 2005), hlm. 10.

[5]Lexy J. Moleong,Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2009), hlm 6.

[6]Anselm Strauss dan Juliet Corbin, Dasar-dasar Penelitian Kualitatif (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007), hlm. 4.

[7]Asmadi Alsa, Pendekatan Kuantitatif dan Kualitatif serta Kombinasinya dalam Penelitian Psikologi (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007), hlm. 52.

[8]Nana Sudjana, Ibrahim, Penelitian  dan Penilaian Pendidikan (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2007), hlm. 197.

[9]Anselm Strauss dan Juliet Corbin, Dasar-dasar Penelitian Kualitatif…, hlm. 290.

[10]Burhan Bungin, Analisis Data Penelitian Kualitatif,(Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. 2003), hlm 47-48.

[11]Nana Sudjana, Ibrahim, Penelitian  dan Penilaian Pendidikan, hlm. 207-210.

FacebookTwitterGoogle+LinkedIn

KAJIAN KRITIS TERHADAP PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL TENTANG KRITERIA DAN PERANGKAT AKREDITASI SEKOLAH/MADRASAH

 

BAB I

PENDAHULUAN

Oleh: Afiful Ikhwan

 

  1. Latar Belakang Masalah

Akreditasi sekolah  merupakan  kegiatan penilaian  yang dilakukan oleh pemerintah dan/atau lembaga mandiri yang berwenang untuk menentukan kelayakan program satuan pendidikan pada jalur pendidikan formal dan non-formal pada setiap jenjang dan jenis pendidikan, berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan, sebagai bentuk akuntabilitas publik yang  dilakukan secara obyektif, adil, transparan  dan komprehensif dengan menggunakan instrumen dan kriteria yang mengacu kepada Standar Nasional Pendidikan.

Latar belakang adanya  kebijakan akreditasi   sekolah di   Indonesia adalah bahwa setiap warga negara berhak memperoleh pendidikan yang bermutu. Untuk dapat menyelenggarakan pendidikan yang bermutu, maka setiap satuan/program pendidikan harus memenuhi atau melampaui standar yang dilakukan melalui kegiatan akreditasi terhadap kelayakan setiap satuan/program pendidikan.

Sebagaimana tujuan diadakannya kegiatan akreditasi sekolah/madrasah ialah:

  1. Memberikan informasi tentang kelayakan sekolah/madrasah atau program yang dilaksanakannya berdasarkan Standar Nasional Pendidikan.
  2. Memberikan pengakuan peringkat kelayakan.
  3.  Memberikan rekomendasi tentang penjaminan mutu pendidikan kepada  program dan atau satuan pendidikan yang diakreditasi dan pihak terkait[1].

 

Pelaksanaan akreditasi sekolah/madrasah memiliki manfaat sebagai berikut:

  1. Dapat dijadikan sebagai acuan dalam upaya peningkatan mutu Sekolah/Madrasah dan rencana pengembangan Sekolah/Madrasah.
  2. Dapat dijadikan sebagai motivator agar Sekolah/Madrasah terus meningkatkan mutu pendidikan secara bertahap, terencana, dan kompetitif baik di tingkat kabupaten/kota, provinsi, nasional bahkan regional dan internasional.
  3. Dapat dijadikan  umpan balik dalam usaha pemberdayaan dan pengembangan kinerja    warga Sekolah/Madrasah dalam rangka menerapkan visi,  misi, tujuan, sasaran, strategi  dan program Sekolah/Madrasah.
  4. Membantu mengidentifikasi Sekolah/Madrasah dan program dalam rangka pemberian bantuan pemerintah, investasi dana swasta dan donatur atau bentuk bantuan lainnya.
  5. Bahan informasi bagi Sekolah/Madrasah  sebagai masyarakat belajar untuk meningkatkan dukungan dari pemerintah, masyarakat, maupun sektor swasta dalam hal profesionalisme, moral, tenaga dan dana.
  6. Membantu Sekolah/Madrasah dalam menentukan dan mempermudah kepindahan peserta didik dari satu sekolah ke sekolah lain, pertukaran guru dan kerjasama yang saling menguntungkan[2].

 


 

Berdasarkan uraian di atas menunjukkan betapa pentingnya akreditasi sekolah bagi upaya peningkatan mutu dan layanan serta penjaminan mutu sebuah satuan pendidikan. Dalam kenyataan di lapangan bahwa akreditasi sekolah lebih banyak dimaknai untuk memperoleh status dan pengakuan secara formal saja. Sementara makna sesungguhnya belum banyak diketahui dan dilaksanakan secara sungguh-sungguh. Ini terbukti bahwa kinerja sekolah akan meningkat ketika akan dilakukan kegiatan akreditasi dengan menyiapkan seluruh perangkat administrasi sesuai dengan instrument yang ada, sementara setelah akreditasi berlangsung dan memperoleh sebuah pengakuan maka kinerja dari komponen sekolah kembali seperti semula. Hal inilah yang menjadi keprihatinan, dan mengapa demikian? Berdasarkan penelusuran penulis di lapangan (masyarakat dan sekolah), itu semua disebabkan karena kesalah pahaman masyarakat dan pengelola sekolah memaknai Akreditasi, yang sepemahaman mereka jika sekolah sudah terakreditasi berarti sekolah tersebut mendapatkan kategori sekolah maju, bermutu, dan secara otomatis juga mendapat pengakuan dari masyarakat luas, bermula dari sinilah makalah ini akan membahas studi kebijakan pendidikan –tentang kriteria dan perangkat akreditasi sekolah/madrasah.

 

  1. Fokus Kajian

Berangkat dari latar belakang masalah diatas, maka fokus kajian dalam makalah ini adalah:

  1. Permendiknas No.25 Th.2008 tentang Kriteria dan Perangkat Akreditasi Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah, pada point II.Standar Proses No.18: Partisipasi aktif siswa dalam penerapan teknologi informasi dan komunikasi[3], akan tetapi pada kurikulum 2013 ditiadakannya (diintegrasikan) mata pelajaran TIK dan telah diterapkan pada sekolah/madrasah yang tadinya Sekolah Bertaraf Internasional (SBI).
  1. Permendiknas No.25 Th.2008 tentang Kriteria dan Perangkat Akreditasi Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah, pada point V.Standar Sarpras No.88: Sekolah/Madrasah memiliki ruang laboratorium komputer yang dapat menampung minimum satu rombongan belajar dengan luas dan sarana sesuai ketentuan.[4] Masih adanya sekolah/madrasah yang tidak menerapkan norma pelaksanaan akreditasi, yaitu: ketidak jujuran, profesionalisme, keterbukaan, keunggulan mutu.[5]
  1. Untuk mengetahui dampak dari akreditasi sekolah/madrasah dengan peningkatan kinerja sekolah/madrasah.

 

  1. Tujuan Kajian

Adapun tujuan dari kajian makalah adalah untuk mengetahui dan mengkritisi terhadap Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) tentang kriteria dan perangkat akreditasi Sekolah/Madrasah, disamping itu juga untuk mengetahui hubungan antara akreditasi sekolah/madrasah dengan peningkatan kinerja sekolah/madrasah dan juga agar mengetahui dampak dari akreditasi sekolah/madrasah dengan peningkatan kinerja sekolah/madrasah.

 

  1. Metode Kajian

Kajian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan data yang diuraikan secara deskriptif. Penelitian kualitatif ini berakar pada latar alamiah sebagai keutuhan, mengandalkan manusia sebagai alat penelitian, mengandalkan analisis data secara induktif, dan bersifat deskriptif berarti lebih mementingkan proses dari pada hasil dan membatasi studi dengan fokus.[6]

Latar alamiah pada metode kajian makalah ini adalah lingkungan internal sekolah/madrasah, masyarakat sekitar sekolah/madrasah, wali murid madrasah[7], dan peserta didiknya (murid).  Penulis mengikuti dan mengamati secara berkala proses kegiatan akreditasi di sekolah/madrasah, dan mewawancarai kepala sekolah, guru, staf, wali murid, dan masyarakat secara umum.

Dalam kajian ini penulis juga menggunakan metode kajian pustaka (library research). Kajian pustaka adalah segala upaya yang dilakukan oleh peneliti untuk memperoleh dan menghimpun segala informasi tertulis yang relevan dengan masalah yang diteliti.[8] Dalam hal ini ialah akreditasi sekolah/madrasah.

Penulis tidak serta merta berangkat untuk mengkaji masalah akreditasi ini hanya dari lapangan saja, akan tetapi juga di dukung dengan kajian pustaka atau sumber-sumber baik dari buku, karya ilimah; skripsi/tesis/disertasi, jurnal, artikel, surat kabar, internet, dll. Yang kedua metode kajian ini saling menopang dan saling melengkapi diantara keduanya guna untuk saling mendukung hasil yang akan diperoleh dan penulis paparkan kedalam makalah ini.

 

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

 

 

  1. Pengertian Akreditasi Sekolah/Madrasah
  1. Akreditasi menurut pemerintah : kegiatan penilaian kelayakan program dan/atau satuan pendidikan berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan.[9] Sedangkan lembaga yang bertanggungjawab terhadap proses akreditasi disebut Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah yang selanjutnya juga disebut BAN S/M adalah badan evaluasi mandiri yang menetapkan kelayakan program dan/atau satuan pendidikan jenjang pendidikan dasar dan menengah jalur formal ataupun non-formal dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan[10].
  1. Akreditasi menurut Bambang Suryadi : satu proses penilaian kualitas dengan menggunakan kriteria baku mutu yang ditetapkan dan bersifat terbuka.[11]
  1. Akreditasi menurut arti kata : pengakuan terhadap lembaga pendidikan yang diberikan oleh badan yang berwenang setelah dinilai bahwa lembaga itu memenuhi syarat kebakuan atau kriteria tertentu.[12]
  1. Akreditasi atau pentauliahan menurut Ensiklopedi : suatu bentuk pengakuan pemerintah terhadap suatu lembaga pendidikan swasta.[13]
  1. Akreditasi sekolah/madrasah menurut BAP-S/M Provinsi Jakarta : proses penilaian secara komprehensif terhadap kelayakan satuan atau program pendidikan, yang hasilnya diwujudkan dalam bentuk sertifikat pengakuan dan peringkat kelayakan yang dikeluarkan oleh suatu lembaga yang mandiri dan profesional.[14]

 

Dari beberapa pengertian tersebut diatas, dapat penulis simpulkan bahwa yang dimaksud dengan akreditasi adalah pengakuan dan penilaian terhadap suatu lembaga pendidikan tentang kelayakan dan kinerja suatu lembaga pendidikan yang dilakukan oleh Badan Akreditasi Sekolah Nasional (BANAS) atau Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (BAN-S/M) yang kemudian hasilnya berbentuk pengakuan peringkat kelayakan. Akreditasi ini dilakukan dengan membandingkan keadaan sekolah yang sebenarnya dengan kriteria standar yang telah ditetapkan. Sekolah akan mendapatkan status “terakreditasi” jika keadaan sekolah yang sebenarnya telah memenuhi kriteria standar yang telah ditetapkan. Sebaliknya, sekolah tidak dapat “terakreditasi” jika keadaan sekolah yang sebenarnya tidak memenuhi kriteria standar yang telah ditetapkan.

Dengan demikian, hasil dari akreditasi adalah pengakuan “terakreditasi” atau “tidak terakreditasi”. Bagi sekolah yang terakreditasi diklasifikasi menjadi tiga tahapan, yaitu:

  1. A (Amat Baik) dengan nilai antara 86-100;
  2. B (Baik) dengan nilai antara 71-85;
  3. C (Cukup) dengan nilai antara 56-70.[15]

 

Jika nilai tersebut kurang dari 56 maka sekolah tersebut tidak layak untuk mendapatkan pengakuan “terakreditasi”. Beberapa hal yang harus diperhatikan oleh pihak sekolah mengenai masa berlaku akreditasi yang telah diperolehnya, antara lain:

  1. Peringkat akreditasi berlaku selama 4 tahun terhitung sejak ditetapkannya peringkat akreditasi,
  2. Sekolah wajib mengajukan permohonan re-akreditasi yaitu 6 bulan sebelum masa akreditasi berakhir,
  3. Sekolah yang meghendaki re-akreditasi bisa mengajukan permohonan sekurang-kurangnya 1 atau 2 tahun setelah penetapan akreditasi,
  4. Sekolah yang masa akreditasinya telah berakhir dan sudah mengajukan permohonan re-akreditasi namun belum ditindak lanjuti maka sekolah tersebut masih menggunakan peringkat akreditasi terdahulu,
  5.  Sekolah yang masa akreditasnya berakhir dan menolak untuk re-akreditasi maka peringkat akreditasi yang terdahulu sudah tidak berlaku.[16]

 

  1. Tujuan Akreditasi Sekolah/Madrasah

Berdasarkan Keputusan Menteri pendidikan Nasional Nomor 087/U/2002, akreditasi sekolah mempunyai tujuan, yaitu: (1) memperolah gambaran kinerja sekolah sebagai alat pembinaan, pengembangan, dan peningkatan mutu; (2) menentukan tingkat kelayakan suatu sekolah dalam penyelenggaraan pelayanan pendidikan. Tujuan akreditsi tersebut berarti bahwa hasil akreditasi itu:

  1. Memberikan gambaran tingkat kinerja sekolah yang dijadikan sebagai alat pembinaan, pengembangan dan peningkatan sekolah baik dari segi mutu, efektivitas, efisiensi, produktivitas dan inovasinya.
  2. Memberikan jaminan kepada publik bahwa sekolah tersebut telah diakreditasi dan menyediakan layanan pendidikan yang memenuhi standar akreditasi nasional.
  3. Memberikan layanan kepada publik bahwa siswa mendapatkan pelayanan yang baik dan sesuai dengan persyaratan standar nasional.[17]
  1. Tujuan akreditasi madrasah adalah untuk memperoleh gambaran keadaan kinerja madrasah dan untuk menentukan tingkat kelayakan suatu madrasah dalam menyelenggarakan pendidikan, sebagai dasar yang dapat digunakan sebagai alat pembinaan dan pengembangan, dalam rangka peningkatan mutu pendidikan di madrasah.[18]

 

Akreditasi dilaksanakan dalam rangka:

  1. Memberi informasi bahwa sekolah atau sebuah program dalam suatu sekolah telah atau belum memenuhi standar kelayakan dan kinerja yang telah ditentukan.
  1. Membantu sekolah melakukan evaluasi diri dan menentukan kebijakan sendiri dalam upaya peningkatan mutu.
  1. Membimbing calon peserta didik, orang tua, dan masyarakat untuk mengidentifikasi sekolah bermutu yang dapat memenuhi kebutuhan individual terhadap pendidikan termasuk mengidentifikasi sekolah memiliki prestasi dalam suatu bidang tertentu yang mendapat pengakuan masyarakat.
  1. Membantu sekolah dalam menentukan dan mempermudah kepindahan peserta didik dari satu sekolah ke sekolah lain, pertukaran guru, dan kerjasama yang saling menguntungkan.
  1. Membantu mengidentifikasi sekolah dan program dalam rangka pemberian bantuan pemerintah, investasi dana swasta, donator atau bantuan lainnya.[19]

 

  1. Manfaat Akreditasi Sekolah/Madrasah

Hasil akreditasi suatu lembaga pendidikan mempunyai beberapa manfaat bagi beberapa kelompok kepentingan, di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Sekolah: Acuan dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan dan rencana pengembangan sekolah, bahan masukan untuk pemberdayaan dan pengembangan kinerja warga sekolah, pendorong motivasi peningkatan kualitas sekolah secara gradual, selain sebagai sekolah yang berkualitas, sekolah yang terakreditasi ini juga mendapatkan dukungan dari pemerintah, masyarakat maupun sektor swasta dalam hal moral, dana, tenaga dan profesionalisme.
  1. Kepala sekolah: Bahan informasi untuk pemetaan indikator keberhasilan kinerja warga sekolah termasuk kinerja kepala sekolah selama 1 periode (4 tahun), bahan masukan untuk penyusunan anggaran pendapatan dan belanja sekolah.
  1. Guru: Dorongan bagi guru untuk selalu meningkatkan diri dari bekerja keras untuk memberi layanan yang terbaik bagi siswanya.
  1. Masyarakat (wali murid): Informasi yang akurat untuk menyatakan kualitas pendidikan yang ditawarkan oleh setiap sekolah, bukti bahwa mereka menerima pendidikan yang berkualitas tinggi, sehingga siswa mempunyai kepercayaan terhadap dirinya bahwa ia mampu masuk dan bersekolah di lembaga pendidikan yang terakreditasi nasional.
  1. Dinas pendidikan: Acuan dalam rangka pembinaan dan pengembangan/peningkatan kualitas pendidikan di daerah masing-masing, bahan informasi penting untuk penyusunan anggaran pendidikan secara umum, dan khususnya anggaran pendidikan yang terkait dengan rencana biaya operasional Badan Akreditasi Sekolah di tingkat Dinas.
  1. Pemerintah: Bahan masukan untuk pengembangan sistem akreditasi sekolah di masa mendatang dan alat pengendalian kualitas pelayanan pendidikan bagi masyarakat yang bersifat nasional, sumber informasi tentang tingkat kualitas layanan pendidikan yang dapat dipergunakan sebagai acuan untuk pembinaan, pengembangan, dan peningkatan kinerja pendidikan secara makro, bahan informasi penting untuk penyusunan anggaran pendidikan secara umum di tingkat nasional, dan khususnya program dan penganggaran pendidikan yang terkait dengan peningkatan mutu pendidikan nasional.[20]

 

  1. Fungsi Akreditasi Sekolah/Madrasah

Dengan menggunakan instrumen yang komprehensif dan dikembangkan berdasarkan pada standar mutu yang ditetapkan, hasil akrediatasi diharapkan dapat memetakan secara utuh profil sekolah. Proses akreditasi sekolah berfungsi untuk:

  1. Pengetahuan, yakni sebagai informasi bagi semua pihak tentang kelayakan dan kinerja sekolah dilihat dari berbagai unsur yang terkait, mengacu pada standar yang ditetapkan beserta indikatorindikatornya.
  1. Akuntabilitas, yakni sebagai bentuk pertanggungjawaban sekolah kepada publik, apakah layanan yang dilaksanakan dan diberikan oleh sekolah telah memenuhi harapan atau keinginan masyarakat.
  1. Pembinaan dan pengembangan, yakni sebagai dasar bagi sekolah, pemerintah, dan masyarakat dalam upaya peningkatan mutu sekolah.[21]

 

  1. Landasan Akreditasi Sekolah/Madrasah
  1. Aspek Filosofis Akreditasi Sekolah/Madrasah:
  1. Akreditasi sekolah/madrasah berorientasi pada usaha-usaha peningkatan mutu peserta didik.
  1. Filosofi pendidikan yang berbasis pada nilai-nilai luhur, nilai akademik, kebutuhan peserta didik dan masyarakat.[22]
  1. Aspek Yuridis Akreditasi Sekolah/Madrasah:
  1. Undang-undang nomor 25 tahun 2000, tentang program pembangunan Nasional (Propenas), menyatakan bahwa perlu dilaksanakan pengembangan sistem akreditasi sekolah secara adil dan merata baik sekolah negeri maupun sekolah swasta,
  1. Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 087/U/2002, tentang akreditasi sekolah,
  1. Undang-undang Nomor 20 tahun 2003, tentang sistem pendidikan nasional Bab XVI Pasal 60 tentang akreditasi yang berbunyi:
  • akreditasi dilakukan untuk menentukan kelayakan program dan satuan pendidikan pada jalur pendidikan formal pada setiap jenjang dan jenis pendidikan,
  • akreditasi terhadap program dan satuan pendidikan dilakukan oleh lembaga mandiri yang berwenang sebagai bentuk 27 akuntabilitas publik,
  • akreditasi dilakukan atas dasar kriteria yang bersifat terbuka,
  • ketentuan mengenai akreditasi sebagaimana dimaksud dalam ayat 1, ayat 2 dan ayat 3
  1. Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 039/O/2003, tentang Badan Akreditasi Nasional (BASNAS),
  1. Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 tahun 2005, tentang Standar Nasional Pendidikan (Dinas pendidikan dan Kebudayaan, 2006:2).
  1. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (PerMen DikNas) No. 11 tahun 2009 tentang kriteria dan perangkat akreditasi sekolah dasar/madrasah ibtidaiyah(SD/MI)
  1. Aspek Konspetual Akreditasi Sekolah/Madrasah yaitu 8 SNP:
  1. isi;
  1. proses;
  1. kompetensi lulusan;
  1. pendidik dan tenaga kependidikan;
  1. sarana dan prasarana;
  1. pengelolaan;
  1. standar pembiayaan;dan
  1. penilaian pendidikan.

 

Prinsip – prinsip akreditasi yaitu : (a) objektif, informasi objektif tentang kelayakan dan kinerja sekolah, (b) efektif, hasil akreditasi memberikan informasi yang dapat dijadikan dasar dalam pengambilan keputusan, (c) komprehensif, meliputi berbagai aspek dan menyeluruh, (d) memandirikan, sekolah dapat berupaya meningkatkan mutu dengan bercermin pada evaluasi diri, dan (d) keharusan (mandatori), akreditasi dilakukan untuk setiap sekolah sesuai dengan kesiapan sekolah.

Sistem akreditasi memiliki karakteristik : (a) keseimbangan fokus antara kelayakan dan kinerja sekolah, (b) keseimbangan antara penilaian internal dan eksternal, dan (d) keseimbangan antara penetapan formal peringkat sekolah dan umpan balik perbaikan.

Akreditasi sekolah dilaksanakan mencakup : (a) Lembaga satuan pendidikan (TK, SD, SMP, SMA) dan (b) Program Kejuruan/kekhususan (SDLB, SMPLB, SMALB, SMK) Akreditasi sekolah mencakup penilaian terhadap sembilan komponen sekolah, yaitu: (a) kurikulum dan proses belajar mengajar; (b) administrasi dan manajemen sekolah; (c) organisasi dan kelembagaan sekolah; (d) sarana prasarana (e) ketenagaan; (f) pembiayaan; (g) peserta didik; (h) peranserta masyarakat; dan (i) lingkungan dan kultur sekolah. Masing-masing kompoenen dijabarkan ke dalam beberapa aspek. Dari masing-masing aspek dijabarkan lagi kedalam indikator. Berdasarkan indikator dibuat item-item yang tersusun dalam Instrumen Evaluasi Diri dan Instrumen Visitasi.

Akreditasi dilaksanakan melalui prosedur sebagai berikut : (a) pengajuan permohonan akreditasi dari sekolah; (b) evaluasi diri oleh sekolah; (c) pengolahan hasil evaluasi diri ; (d) visitasi oleh asesor; (e) penetapan hasil akreditasi; (f) penerbitan sertifikat dan laporan akreditasi.

Dalam mempersiapkan akreditasi, sekolah melakukan langkah-langkah sebagai berikut : (a) Sekolah mengajukan permohonan akreditasi kepada Badan Akreditasi Propinsi (BAP)-S/M untuk SLB, SMA, SMK dan SMP atau kepada Unit Pelaksana Akreditasi (UPA) Kabupaten/Kota untuk TK dan SD Pengajuan akreditasi yang dilakukan oleh sekolah harus mendapat persetujuan atau rekomendasi dari Dinas Pendidikan; (b) Setelah menerima instrumen evaluasi diri, sekolah perlu memahami bagaimana menggunakan instrumen dan melaksanakan evaluasi diri. Apabila belum memahami, sekolah dapat melakukan konsultasi kepada BAN-SM mengenai pelaksanaan dan penggunaan instrumen tersebut; (c) Mengingat jumlah data dan informasi yang diperlukan dalam proses evaluasi diri cukup banyak, maka sebelum pengisian instrumen evaluasi diri, perlu dilakukan pengumpulan berbagai dokumen yang diperlukan sebagai sumber data dan informasi.

 

  1. Penerapan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)

Kebijakan pada Permendiknas No.25 Th.2008 tanggal 18 September 2008 tentang Kriteria dan Perangkat Akreditasi Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah, dalam instrumen akreditasi, pada point II.Standar Proses No.18: Partisipasi aktif siswa dalam penerapan teknologi informasi dan komunikasi.[23]

 

 

Gambar 1: Kajian Kritis Instrument Akreditasi

(Sumber: Permendiknas No.25 Th.2008: 13)

 

Dalam petunjuk teknis pengisian instrument akreditasi sekolah/madrasah, hanya menyatakan “Jawaban dibuktikan dengan mengecek metode pembelajaran serta sumber belajar dan/atau media pembelajaran dalam RPP.[24] Dan kesemuanya itu dilaksanakan oleh guru yang jika pembahasannya masuk kedalam ranah kajian kurikulum 2013 adalah seluruh guru mata pelajaran (selanjutnya disingkat mapel) yang wajib mengintegrasikan mapel yang di ampunya kedalam penerapan teknologi infromasi dan komunikasi.

Sedangkan permasalahan besar sampai saat ini yang masih hangat sebagaimana yang penulis kutip dari Sekjen Forum Serikat Guru Indonesia (FSGI) di media berita eletronik jaringan berita terluas di Indonesia (JPNN) adalah “bahwa diera digital ini siswa memiliki cara belajar yang berbeda dengan gurunya. ’’Karena sebagian besar guru yang saat ini mengajar, mereka lahir di saat dunia pendidikan masih bergelut dengan peralatan analog. Tetapi, sekarang mereka harus mengajar anak didik yang lahir dengan pertumbuhan era digital yang begitu pesat.”[25] Kesimpulannya tidak  tepat mapel TIK dihapus dari sekolah-sekolah seluruh Indonesia sedangkan guru dan murid masih membutuhkannya, apalagi menurut juknis intrumen akreditasi semua guru wajib menyyelaraskan RPP-nya kedalam TIK, terutama guru senior.

Menurut Retno, penghapusan mata pelajaran TIK sungguh sangat bertentangan dengan tuntutan zaman. ’’Ini kebijakan aneh. Di saat para guru dihadapkan dengan revolusi teknologi informasi, justru pelajaran itu dihapus.’’[26]

Disamping itu kemajuan teknologi informasi telah mengubah sikap dan cara berpikir anak didik. Karena, saat ini siapa pun termasuk siswa sudah terbuka akses informasi maupun komunikasi yang nyaris tanpa batas. Karena itu, sebaiknya siswa harus dibekali keterampilan mendasar, keterampilan berpikir maupun keterampilan berkomunikasi dalam menghadapi kemajuan teknologi dengan tidak dihapusnya maple TIK pada sekolah/madrasah.

Jadi, kesimpulan penulis jika kurikulum 2013 tetap diterapkan dengan penghapusan mapel TIK didalamnya, maka instrument akreditasi pada Permendiknas No.25 Th.2008 tentang Kriteria dan Perangkat Akreditasi Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah yang isinya “Penyusunan RPP wajib memperhatikan prinsip perbedaan individu siswa, mendorong partisipasi aktif siswa, dan menerapkan teknologi informasi dan komunikasi” juga akan melahirkan masalah baru, terutama pada guru senior.

 

  1. Norma Pelaksanaan Akreditasi

Seperti tahun-tahun sebelumnya, selalu ada siswa yang mencontek saat ujian nasional. Keberadaan guru pengawas tak menjadi hambatan. Bahkan, ada sebagian guru maupun pimpinan sekolah justru menyuruh siswa mencontek demi menjaga citra baik guru dan akreditasi sekolah.[27] Ini bertentangan dengan norma-norma pelaksanaan akreditasi.

Ada juga sekolah/madrasah yang ketika di akreditasi/visitasi untuk kelangkapan sarana prasarananya meminjam atau bukan milik sendiri, hal ini terjadi karena pengurus sekolah ingin sekolah/madrasahnya ter-akreditasi dan dengan begitu mereka dan masyarakat luas mengaggap bahwa sekolah yang telah terakreditasi tersebut bagus dengan mengenyampingkan pendidikan yang bermutu.[28]

 

  • Norma-norma Pelaksanaan Akreditasi Sekolah/Madrasah

Pelaksanaan akreditasi sekolah/madrasah harus berpedoman kepada norma-norma yang sesuai dengan tujuan dan fungsi akreditasi. Norma-norma ini harus menjadi pegangan dan komitmen bagi semua pihak yang terlibat di dalam proses akreditasi. Norma dalam pelaksanaan akreditasi adalah sebagai berikut:

  1. Kejujuran

Dalam menyampaikan data dan informasi dalam pengisian instrumen akreditasi dan instrumen pengumpulan data dan informasi pendukung, pihak sekolah/ madrasah harus secara jujur menyampaikan semua data dan informasi yang dibutuhkan. Sekolah/Madrasah harus memberikan kemudahan administratif dengan menyediakan data yang diperlukan, mengijinkan tim asesor untuk melakukan pengamatan, wawancara dengan warga sekolah/madrasah, dan pengkajian ulang data pendukung. Proses verifikasi dan validasi data serta penjaringan informasi lainnya oleh tim asesor harus dilaksanakan dengan jujur dan benar, sehingga semua data dan informasi yang diperoleh bermanfaat dan obyektif. Dengan demikian dapat dihindari kemungkinan terjadinya pengambilan keputusan yang menyesatkan atau merugikan pihak manapun.

  1. Independensi

Sekolah/Madrasah dalam melaksanakan pengisian instrumen akreditasi dan instrumen pengumpulan data dan informasi pendukung, harus mandiri dan tidak terpengaruh oleh intervensi siapapun dan dari pihak mana pun serta bebas dari pertentangan kepentingan (conflict of interest). Demikian pula halnya dengan tim asesor dalam melakukan visitasi, juga harus mandiri dan tidak terpengaruh oleh intervensi siapa pun dan dari pihak mana pun. Asesor tidak diperbolehkan untuk menerima layanan dan pemberian dalam bentuk apapun sebelum, selama, dan sesudah proses visitasi yang mungkin akan berpengaruh terhadap hasil visitasi. Keputusan tim asesor harus bebas dari pertentangan kepentingan, baik dari pihak sekolah maupun tim asesor itu sendiri.

  1. Profesionalisme

Untuk dapat melaksanakan visitasi dan pengisian instrumen akreditasi dan instrumen pengumpulan data dan informasi pendukung, sekolah/madrasah harus benar-benar memahami ketentuan-ketentuan dan prosedur yang berlaku. Konsultasi dapat diajukan oleh sekolah/madrasah kepada BAP-S/M jika diperlukan. Asesor harus benar-benar memahami ketentuan-ketentuan dan prosedur yang berlaku dalam pelaksanaan akreditasi. Asesor harus memiliki kecakapan yang memadai di dalam menggunakan perangkat akreditasi sekolah/ madrasah dan dapat memberikan penilaian berdasarkan profesionalismenya. Asesor juga harus mampu memberikan saran-saran atau masukan yang membangun dalam rangka perbaikan, pengembangan, dan peningkatan kinerja sekolah/madrasah. Tim asesor harus bersedia menerima pernyataan puas dan/ atau tidak puas dari pihak sekolah/madrasah yang divisitasi.

  1. Keadilan

Dalam pelaksanaan visitasi dan pengisian instrumen akreditasi dan instrumen pengumpulan data dan informasi pendukung, semua sekolah/madrasah harus diperlakukan sama dengan tidak memandang apakah status sekolah/madrasah negeri atau swasta. Sekolah/Madrasah harus dilayani sesuai dengan norma, kriteria, standar, serta mekanisme dan prosedur kerja secara adil dan/atau tidak diskriminatif. Tim asesor tidak boleh dipengaruhi oleh prakonsepsi maupun stigma terhadap sekolah/madrasah tertentu sehingga terbebas dari bias-bias yang mempengaruhi penilaian.

  1. Kesejajaran

Semua responden harus dipandang sejajar dalam rangka pemberian data dan informasi. Hal ini dimaksudkan bahwa data dan informasi yang diberikan oleh setiap responden sangat penting dalam proses akreditasi sekolah/madrasah. Dalam pelaksanaan visitasi, kedudukan antara asesor dengan warga sekolah/ madrasah adalah sejajar. Asesor dilarang melakukan penekanan dalam melaksanakan tugas dan fungsinya.

  1. Keterbukaan

Sekolah/Madrasah harus secara terbuka menyampaikan data dan informasi tentang sekolahnya sesuai dengan kondisi nyata sekolah/madrasah. Untuk itu, BAP-S/M dan/atau tim asesor juga harus transparan di dalam menyampaikan penjelasan norma, kriteria, standar, prosedur atau mekanisme kerja, jadwal dan sistem penilaian akreditasi. Asesor harus menjaga kerahasiaan dokumen dan informasi yang disampaikan oleh setiap warga sekolah/madrasah.

  1. Akuntabilitas

Hasil isian instrumen akreditasi dan instrumen pengumpulan data dan informasi pendukung menjadi sumber data dan informasi mengenai profil nyata sekolah/ madrasah. Bersama dengan hasil visitasi, data dan informasi dalam instrumen akreditasi digunakan sebagai bahan dalam penetapan hasil dan peringkat akreditasi yang dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat. BAP-S/M, sekolah/madrasah, dan asesor harus bersama-sama menjaga akuntabilitas dari proses dan hasil akreditasi. Jika terjadi kesalahan dan penyimpangan dalam proses visitasi atau pelanggaran terhadap norma-norma visitasi, sekolah/ madrasah dapat melaporkan hal tersebut kepada BAP-S/M.

  1. Bertanggung jawab

Dalam pelaksanaan akreditasi, asesor harus berpedoman pada aturan, prosedur, dan prinsip akreditasi yang sudah ditetapkan oleh BAP-S/M. BAP-S/M, sekolah/madrasah, dan asesor harus dapat mempertanggungjawabkan semua penilaian dan keputusannya sesuai dengan aturan, prosedur, norma, dan prinsip akreditasi yang telah ditetapkan.

  1. Bebas intimidasi

BAP-S/M, sekolah/madrasah, responden, maupun asesor dalam melakukan tugas dan fungsinya dalam rangka pelaksanaan akreditasi sekolah/madrasah harus bebas dari intimidasi oleh pihak mana pun. BAP-S/M dan asesor dalam melaksanakan akreditasi tidak diperkenankan melakukan intimidasi kepada pihak sekolah/madrasah yang dapat mempengaruhi objektivitas hasil akreditasi.

  1. Menjaga kerahasiaan

BAP-S/M dan asesor harus menjaga kerahasiaan data dan informasi yang terjaring dalam proses akreditasi. Data dan informasi hasil akreditasi hanya dapat digunakan untuk kepentingan pelaksanaan akreditasi atau kepentingan lain yang sesuai dengan tujuan akreditasi.

  1. Keunggulan mutu

Proses akreditasi harus mendorong sekolah/madrasah berorientasi pada usaha-usaha peningkatan mutu peserta didik dan bukan sekedar untuk memperoleh peringkat akreditasi. Hasil akreditasi harus dijadikan dasar untuk melakukan usaha-usaha pemberdayaan, pengembangan, dan peningkatan kinerja sekolah/ madrasah dalam rangka mencapai keunggulan mutu.[29]

 

3. Dampak Akreditasi Sekolah dalam Peningkatan Kinerja Sekolah

Berdasarkan berbagai hal di atas maka ada hubungan yang sangat erat antara pelaksaaan akreditasi sekolah dengan upaya peningkatan kinerja sekolah. Sekolah yang akan dilakukan akreditasi maka seluruh komponen yang terlibat di dalamnya baik kepala sekolah, guru, staf tata usaha, komite sekolah, siswa dan stake holder lainnya harus benar-benar bekerjasama dan meningkatkan kinerjanya sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya masing-masing. Apabila setiap komponen yang terlibat bekerja sesuai dan memenuhi instrument akreditasi maka akan ada peningkatan kinerja dari sekolah itu.

Pengamatan dari penulis suatu sekolah pernah dilakukan akreditasi maka sebelum dilakukan akreditasi, sekolah melakukan berbagai persiapan yaitu dengan membentuk Tim yang membidangi 8 standar yang akan dilakukan penilaian sesuai ketentuan BNSP. Tugas dari masing-masing tim adalah mencermati dan menyiapkan bukti fisik dari indikator dan instrument yang ada dalam penilaian akreditasi tersebut. Melalui bimbingan dari pengawas sekolah yang ditunjuk sebagai pendamping maka semua komponen sekolah yang terlibat menyiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Sesuai dengan prosedur yang ada setelah semua persiapan dianggap cukup maka sekolah mengisi instrument akreditasi sebagai bentuk  melakukan evaluasi diri dan dikirimkan ke badan akreditasi sekolah/madrasah tingkat provinsi. Selanjutnya sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan oleh BAS/M provinsi ditindaklunjuti dengan visitasi atau penilaian. Proses menyiapkan diri untuk diakreditasi inilah yang terlihat adanya upaya sekolah untuk meningkatkan kinerja sekolah yaitu masing-masing warga sekolah bekerja sesuai dengan indikator dan instrument akreditasi yang ada dengan harapan untuk memperoleh penilaian kinerja yang terbaik.

Dampak  Akreditasi sekolah dalam peningkatan kinerja sekolah menunjukkan hal yang signifikan. Dengan adanya akreditasi sekolah mengharuskan stake holder yang ada dalam suatu sekolah menyiapkan segala bentuk perangkat yang akan dinilai untuk memenuhi kriteria seperti yang diharapkan. Adapun dampak negatif dari akreditasi adalah:

  1. Peningkatan kinerja dari komponen sekolah hanya sebatas ketika akan dilakukan akreditasi sementara setelah selesai akan kembali seperti semula.
  2. Adanya berbagai macam rekayasa data hanya sekedar untuk memenuhi penilaian sementara pada proses yang sebenarnya tidak dilakukan seperti dalam pembuatan bukti-bukti fisik.
  3. Status akreditasi kurang membawa pengaruh bagi pembinaan sekolah karena hanya sekedar memberi status dan label.[30]

 

BAB III

ALTERNATIF PEMECAHAN DAN KEBIJAKAN

 

 

  1. Penerapan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)

Mata Pelajaran TIK jangan dihapus pada kurikulum 2013, bukan kurikulum 2013 yang tidak boleh diterapkan pada dunia pendidikan di Indonesia. Dan siswa sebaiknya sudah ditanamkan keterampilan kognitif (cognitive skills) yakni keterampilan berpikir ala pakar. Mereka memiliki kemampuan bukan saja merekam data atau fakta di sekelilingnya, tapi  juga bagaimana mengelola data itu, kemudian dipergunakan untuk memecahkan masalah yang belum ada formulanya.

Selanjutnya, (interpersonal skills), yakni anak harus punya kemampuan komunikasi yang baik agar bisa meyakinkan orang terhadap apa yang dia sampaikan. Ketiga adalah kemampuan (internal personal), kemampuan  dalam berkomuikasi dengan dirinya sendiri. ”Jadi anak perlu dibekali ketahanan mental, sehingga bisa mengelola gejala psikologis yang timbul dalam dirinya.”

Tentu saja untuk pembekalan ketiga hal mendasar itu, mau tidak mau akan melibatkan bagaimana gurunya mengajar. Di dalam UU Sisdiknas bahwa guru ditempatkan sebagai fasilitator. Artinya, guru harus mampu menciptakan suasana proses pembelajaran agar siswa aktif mengembangkan dirinya. Ini pembelajaran active learning. Tetapi, praktiknya memang belum sepenuhnya dilakukan.

Inilah yang menurut penulis harus menjadi fokus perhatian profesionalisme guru bagi pemerintah, bukan pada penghapusan mapel TIK yang akan melahirkan masalah baru khusunya pada instrument akreditasi didalam Permendiknas No.25 Th.2008 tentang Kriteria dan Perangkat Akreditasi Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah. Tapi sampai hari ini proyek-proyek profesionalisme guru baru sibuk menguji kompetisi awal, kompetensi akhir, memetakan, atau yang kita kenal dengan isitlah UKG (Uji Kompetensi Guru) tapi sampai kapan akan terimplementasi dalam dunia pendidikan penulis juga belum tahu.

Namun demikian, Kemendikbud juga masih membuka peluang untuk TIK sebagai mapel muatan lokal, atau ekstra kurikuler. Saat ini, kurikulum baru akan masuk pada tahap uji publik, di mana masyarakat dipersilakan untuk memberikan masukan, saran atau kritikan terhadap rencana pemberlakuaan baru. Dalam berbagai kesempatan, pihak Kemendikbud menjelaskan, Kurikulum  baru disusun terkait dengan rencana jangka panjang Bangsa Indonesia, hingga tahun 2030.

 

  1. Norma Pelaksanaan Akreditasi

Dengan banyaknya kejadian dilapangan tentang manipulasi atau ketidak jujuran proses akreditasi pada sebuah sekolah/madrasah, seharusnya kita semua turut ambil andil dalam mensukseskan program pemerintah yang sangat bagus ini, guna untuk selalu meningkatkan kualtias mutu pendidikan. Dan paling penting yang ikut andil dalam hal ini adalah pantauan serta dukungan selalu terus menerus dari pemerintah, baik pusat, provinsi ataupun daerah.

Seperti pantauan secara berkala (tidak 5 tahun sekali pada saat pengajuan akreditasi lanjutan), akan tetapi pantauan continue yang mungkin bekerjasama dengan pengawas, komite, dan atau masyarakat sekitar sekolah yang diakreditasi, sehingga manipulasi atau data fiktif yang diajukan oleh sekolah/madrasah itu tidak terjadi lagi.

Alternatif kebijakan yang tepat bagi sekolah/madrasah yang bermain curang dengan akreditasinya, hendaknya ditindak lanjuti dengan tegas berupa sanksi penutupan sekolah/madrasah tersebut, itu menurut penulis keputusan yang tepat, lebih baik memiliki sekolah sedikit akan tetapi berkualitas dari pada memiliki sekolah banyak tapi tidak berkualitas, bahkan cenderung dimanfaatkan oleh segelintir orang yang tidak bertanggungjawab mencari keuntungan dibalik kepentingan sekolah/madrasah yang terakreditasi tersebut (Bussines Oriented).

 

  1. Akreditasi Sekolah dalam Peningkatan Kinerja

Seharusnya akreditasi dapat memecahkan masalah dan carut marut dunia pendidikan di indonesia serta melahirkan kebijakan yang berdampak positif dari akreditasi sekolah/madrasah, antara lain:

  1. Tumbuhnya kesadaran dari warga sekolah untuk meningkatkan kinerja sesuai dengan tupoksinya masing-masing baik sebagai kepala sekolah, guru, staf TU, siswa dan komite sekolah.
  2. Tumbuhnya kesadaran dari warga sekolah untuk memberikan dan meningkatkan pelayanan sesuai dengan kriteria yang ditetapkan dalam proses akreditasi.
  3. Tumbuhnya kesadaran bekerjasama seluruh komponen sekolah untuk mendapatkan  penilaian yang terbaik terkait hasil dari akreditasi.
  4. Mengetahui kekurangan yang dimiliki oleh sekolah sebagai bahan perbaikan dan pembinaan sekolah ke depan.
  5. Tumbuhnya kesadaran meningkatkan mutu pendidikan melalui pencapaian standar yang telah ditetapkan.
  6. Tumbuhnya kebanggaan dari segenap warga sekolah  dan mempertahankan hasil akreditasi apabila telah memperoleh yang terbaik misalnya terakreditasi A.[31]

 

BAB IV

PENUTUP

 

Kesimpulan dan Rekomendasi

  • Kebijakan pada Permendiknas No.25 Th.2008 tanggal 18 September 2008 tentang Kriteria dan Perangkat Akreditasi Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah, dalam instrumen akreditasi, pada point II.Standar Proses No.18: Partisipasi aktif siswa dalam penerapan teknologi informasi dan komunikasi. Jika kurikulum 2013 dengan penghapusan mapel KTI jadi diterapkan maka akan melahirkan masalah baru, terutama guru senior yang gaptek, perlu dibedakan antara TIK sebagai media pembelajaran yang diselenggarakan oleh guru dengan TIK sebagai salah satu materi pelajaran yang dipelajari oleh siswa. Alternatifnya siswa ditanamkan keterampilan cognitive skill (berfikir ala pakar), interpersonal skill (komunikasi baik), dan internal personal (kuat mental)
  • Sekolah/madrasah yang ketika di akreditasi/visitasi untuk kelangkapan sarana prasarananya meminjam atau memanipulasi data, tanpa memperhatikan sebelas norma pelaksanan akreditasi: jujur, independen, professional, adail, sejajar, terbuka, akuntabilitas, bertanggungjawab, beban intimidasi, rahasia, dan keunggulan mutu. Hal demikian dikesampingkan karena hanya ingin memperoleh pengakuan kelayakan versi pemerintah yang jangka pendek, sehingga mengenyampingkan mutu dari pendidikan itu sendiri yang jangka panjang. Alternatifnya tidnak lanjut keputusan yang tegas berupa penutupan sekolah/madrasah yang telah berbuat curang, pantauan berkala secara terus menerus tidak hanya 5 tahun sekali, dan perketat syarat demi mengutamakan mutu pendidikan.
  • dampak negatif dari akreditasi adalah: Peningkatan kinerja dari komponen sekolah hanya sebatas ketika akan dilakukan akreditasi sementara setelah selesai akan kembali seperti semula, Adanya berbagai macam rekayasa data hanya sekedar untuk memenuhi penilaian sementara pada proses yang sebenarnya tidak dilakukan seperti dalam pembuatan bukti-bukti fisik, Status akreditasi kurang membawa pengaruh bagi pembinaan sekolah karena hanya sekedar memberi status dan label. dampak positif dari akreditasi sekolah/madrasah, antara lain: Tumbuhnya kesadaran dari warga sekolah untuk meningkatkan kinerja sesuai dengan tupoksinya masing-masing baik sebagai kepala sekolah, guru, staf TU, siswa dan komite sekolah, tumbuhnya kesadaran dari warga sekolah untuk memberikan dan meningkatkan pelayanan sesuai dengan kriteria yang ditetapkan dalam proses akreditasi, tumbuhnya kesadaran bekerjasama seluruh komponen sekolah untuk mendapatkan  penilaian yang terbaik terkait hasil dari akreditasi.

 

 

DAFTAR RUJUKAN

 

Artikata.com, Definisi akreditasi, dalam http://www.artikata.com/arti-318197-akreditasi.html, diakses pada 5 April 2013.

BAN S/M. t.t. Kebijakan dan Pedoman Akreditasi Sekolah/Madrasah. Jakarta: BAN-S/M.

BAP-S/M Jakarta, Pengertian Akreditasi Sekolah/Madrasah, dalam http://jakarta.bapsm-dki.or.id/berita/read/pengertian-akreditasi-sekolah-madrasah, diakses pada 5 April 2013.

Badan Akreditasi Sekolah/Madrasah. T.t. PPT Materi 01 – Kebijakan Umum Akreditasi Sekolah/Madrasah. Jakarta: BAN-S/M.

Direktorat PSMP. 2010. Panduan Pelaksanaan untuk Sekolah dalam Mempersiapkan Akreditasi. Jakarta: Direktorat PSMP.

Ikhwan, Afiful.  Akreditasi Sekolah/Madrasah, dalam http://www.afifulikhwan.blogspot.com, diakses pada 6 Juni 2013.

Kemendiknas. 2011. Analisis Sistem Akreditasi Sekolah/Madrasah. Jakarta: Kemendikas.

Listyarti, Retno. 31 Mei, 2013. Misteri Penghapusan pelajaran TIK di Kurikulum 2013. Jpnn online dalam http://www.jpnn.com/read/2013/05/31/174640/Misteri-Penghapusan-Pelajaran-TIK-di-Kurikulum-2013-, diakses pada 1 Juni 2013.

Pendidikan, Jurnal. 2004. Ensiklopedi Nasional Indonesia ISBN 979-9327-00-8. Bekasi: Delta Pamungkas.

Peraturan Pemerintah No.19 Th. 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.

Sudibyo, Bambang. 2008. Permendiknas No.25 Th.2008 tentang Kriteria dan Perangkat Akreditasi Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah, pada point II.Standar Proses No.18. Jakarta: Permendiknas.

Suyitno, Tanzeh, Ahmad. 2006. Dasar-Dasar Penelitian. Surabaya: Elkaf.

Suryadi, Bambang. 2005. Pedoman Akreditasi Madrasah Tsanawiyah. Jakarta: Depag RI Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam.

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Tujuan dan Manfaat Akreditasi suatu Lembaga Pendidikan (Yogyakarta: Blog UMY, Jan 2013), dalam http://blog.umy.ac.id/mariatulqiftiyah/tujuan-dan-manfaat-akreditasi-suatu-lembaga-pendidikan/, diakses pada 5 april 2013.

Wahyudi, Zaid, M. 25 April 2013. Tak Jujur Tak Mampu Menalar. Kompas.com. hlm. Edukasi, dalam http://edukasi.kompas.com/read/2013/04/25/1105151/Tak.Jujur.Tak.Mampu.Menalar, diakses pada 6 Juni 2013.

  

DAFTAR ISI

 

Halaman Judul          ……………………………………………….…..…      i

Kata Pengantar         …………………………………………………..….      ii

Daftar Isi                    …………………………………………………..….      iii

 

BAB I             PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah   ………………………………      1
  1. Fokus Kajian  …………………………………………..     2
  1. Tujuan Kajian   …………………………………………     3
  1. Metode Kajian   …………………………………………     3

 

BAB II            KAJIAN PUSTAKA

  1. Pengertian Akreditasi   ………….………………………     5
  1. Tujuan Akreditasi    ………………………….…………      7
  1. Manfaat Akreditiasi  …………………………………….    8
  1. Fungsi Akreditasi   ………………………………………    9
  1. Landasan Akreditasi   ……………………………………    9

 

 BAB III         ALTERNATIF PEMECAHAN DAN KEBIJAKAN

  1. Penerapan TIK   ………………………..………………..    19
  1. Norma Pelaksanaan Akreditasi  ………………………..      20
  1. Akreditasi Sekolah dalam Peningkatan Kinerja   ……….     20

 

BAB IV          KESIMPULAN DAN REKOMENDASI ………………….  22

 

DAFTAR RUJUKAN   ………………………………………………………       24

 


[1]Kemendiknas, Analisis Sistem Akreditasi Sekolah/Madrasah (Jakarta: Kemendikas, 2011), hlm. 14.

[2]Ibid.

[3]Bambang Sudibyo, Permendiknas No.25 Th.2008 tentang Kriteria dan Perangkat Akreditasi Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah, pada point II.Standar Proses No.18 (Jakarta: Permendiknas, 2008), hlm. 13.

[4]Ibid, hlm. 43.

[5]Badan Akredtiasi Sekolah/Madrasah, PPT Materi 01 – Kebijakan Umum Akreditasi Sekolah/Madrasah (Jakarta: BAN-S/M), hlm. 31.

[6]Ahmad Tanzeh & Suyitno, Dasar-Dasar Penelitian (Surabaya: Elkaf, 2006), hlm. 114-115.

[7]Dalam kajian kali ini, penulis secara umum mengambil lokasi, terutama dalam kajian pustaka.

[8]Ahmad Tanzeh & Suyitno, Dasar-Dasar Penelitian…, hlm. 124.

[9]Peraturan Pemerintah No.19 Th. 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, hlm. 3.

[10]Ibid, hlm. 4.

[11]Bambang Suryadi, Pedoman Akreditasi Madrasah Tsanawiyah (Jakarta: Depag RI Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam, 2005), hlm. 5.

[12]Artikata.com, Definisi akreditasi, dalam http://www.artikata.com/arti-318197-akreditasi.html, diakses pada 5 April 2013.

[13]Jurnal Pendidikan, Ensiklopedi Nasional Indonesia ISBN 979-9327-00-8 (Bekasi: Delta Pamungkas, 2004), hlm. 213.

[14]BAP-S/M Jakarta, Pengertian Akreditasi Sekolah/Madrasah, dalam http://jakarta.bapsm-dki.or.id/berita/read/pengertian-akreditasi-sekolah-madrasah, diakses pada 5 April 2013.

[15]Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Tujuan dan Manfaat Akreditasi suatu Lembaga Pendidikan (Yogyakarta: Blog UMY, Jan 2013), dalam http://blog.umy.ac.id/mariatulqiftiyah/tujuan-dan-manfaat-akreditasi-suatu-lembaga-pendidikan/, diakses pada 5 april 2013.

[16]Ibid.

[17]Ibid.

[18]Bambang Suryadi, Pedoman Akreditasi Madrasah…, hlm. 6.

[19]Direktorat PSMP, Panduan Pelaksanaan untuk Sekolah dalam Mempersiapkan Akreditasi (Jakarta: Direktorat PSMP, 2010), hlm. 3.

[20]Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Tujuan dan Manfaat Akreditasi.

[21]Direktorat PSMP, Panduan Pelaksanaan untuk Sekolah…, hlm. 5.

[22]Bahan Uji Publik Kurikulum 2013, hlm. 6.

[23]Bambang Sudibyo, Permendiknas No.25 Th.2008 tentang Kriteria dan Perangkat Akreditasi Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah, pada point II.Standar Proses No.18 (Jakarta: Permendiknas, 2008), hlm. 13.

[24]Ibid, Lampiran II: petunjuk teknis pengisian instrument akreditasi sekolah menengah atas/madrasah aliyah, hlm. 74.

[25]Retno Listyarti, 31 Mei, 2013. Misteri Penghapusan pelajaran TIK di Kurikulum 2013. Jpnn online dalam http://www.jpnn.com/read/2013/05/31/174640/Misteri-Penghapusan-Pelajaran-TIK-di-Kurikulum-2013-, diakses pada 1 Juni 2013.

[26]Ibid.

[27]M.Zaid Wahyudi, 25 April 2013. Tak Jujur Tak Mampu Menalar. Kompas.com. hlm. Edukasi, dalam http://edukasi.kompas.com/read/2013/04/25/1105151/Tak.Jujur.Tak.Mampu.Menalar, diakses pada 6 Juni 2013.

[28]Wawancara dengan Bpk. Achmad Rois,M.Pd.I Praktisi Pendidikan di Kec.Bandung Campurdarat Tulungagung. 6 Juni 2013.

[29]BAN S/M, Kebijakan dan Pedoman Akreditasi Sekolah/Madrasah (Jakarta: BAN-S/M, t.t), hlm. 15-18.

[30] Ibid.

[31]Afiful Ikhwan, Akreditasi Sekolah/Madrasah, dalam http://www.afifulikhwan.blogspot.com, diakses pada 6 Juni 2013.

FacebookTwitterGoogle+LinkedIn

Gallery

slide3 slide2 slide1
FacebookTwitterGoogle+LinkedIn