Archive for : January, 2012

ILLUMINATI

 

Illuminati adalah sebuah organisasi persaudaraan rahasia kuno yang pernah ada dan diyakini masih tetap ada sampai sekarang, walaupun tidak ditemukan bukti – bukti nyata tentang keberadaan organisasi persaudaraan ini sampai saat ini. Kata Illuminati dapat diterjemahkan sebagai "Pencerahan Baru". Para pengikut Illuminati disebut "Illuminatus", yang berarti "Yang Tercerahkan". Illuminati sebelumnya bernama Ordo Perfectibilists, yang didirikan oleh Adam Weishaupt (1748-1811), seorang keturunan Yahudi yang lahir dan besar di Ingolstadt, dan memiliki latar belakang pendidikan sebagai seorang Jesuit. Adam Weishaupt lalu menjadi seorang pendeta Katolik dan selanjutnya mengorganisasi House of Rothschild. Pada perkembangan selanjutnya, ia beserta organisasi yang dipimpinnya, Illuminati, memiliki pandangan-pandangan yang menyimpang (bid'ah) dari ajaran resmi gereja Katolik, sehingga ia diekskomunikasi (dilarang mengajarkan pahamnya) oleh gereja dan dikeluarkan dari kelompok gereja kristiani-Katolik. Illuminatus adalah individu – individu yang mencari jawaban dan penjelasan rasional dengan apa yang disebut "Agama sebagai misteri Tuhan". Menurut mereka, dengan penjelasan logis ilmu pengetahuan tidak ada lagi misteri Tuhan karena semua ada jawabannya.

 

Dalam novel "Angels and Demon" karya Dan Brown; Salah seorang Illuminatus yang terkenal adalah Galileo Galilei, seorang ahli antropologi yang dihukum pancung oleh gereja akibat membuat pernyataan bahwa pusat alam semesta bukan bumi, melainkan matahari. Pernyataan tersebut dianggap menyinggung gereja, karena secara tidak langsung menyatakan bahwa Tuhan dengan sengaja menempatkan pusat kehidupan di planet lain. Dalil Galilei tersebut juga sekaligus membantah doktrin gereja pada saat itu bahwa Bumi berbentuk datar. Sejak saat itu Illuminatus terus diburu oleh para kaum gereja. Saat pihak geraja menenmkan anggota Illuminati, mereka ditangkap lalu diberi cap salib di dada mereka, baru kemudian dibunuh. Anggota Illuminati kemudian bergerak dari bawah tanah sebagai sebuah kelompok rahasia yang paling dicari oleh gereja. Para Illuminatus yang melarikan diri kemudian bertemu dengan kelompok rahasia lainnya yaitu kelompok ahli batu yang bernama Freemasonry atau lebih sering disebut sebagai kelompok Mason.

 


 

[sunting] Perkembangan Illuminati

 

Sejak bergabung dengan kelompok Freemasonry, illuminati menjadi semakin kuat karena dibantu oleh jaringan kelompok Freemasonry yang sepertinya tidak menyadari telah dijadikan alat transportasi aman oleh illuminati. Illuminati terus diburu oleh gereja. Mereka dicap sebagai penganut paham Luciferian Conspiracy, dikarenakan mereka, sama seperti halnya Freemasonry, memiliki ritual pemujaan kepada "Sang Arsitek Agung" / "The Great Architect", yang dilambangkan oleh mereka berupa "The Wholeseeing-Eye" / "Mata tuhan" (diambil dari legenda mesir); yang merupakan simbol dari Lucifer (sebutan setan dalam tradisi kristiani).

 

Sejak 1782 gerakan Illuminati menyebar dari Denmark sampai ke Portugal, bahkan lebih jauh lagi. Orang-orang Inggris yang terilluminasi bergabung dengan orang-orang Amerika membangun Loji Columbia di kota New York pada tahun yang sama. Seorang bangsawan muda Rusia, Alexander Radischev, bergabung di Leipzieg, dan menyebarkan doktrinnya ke kampung halamannya di St. Petersburg. Di Lisabon seorang penyair bernama Claudio Manuel da Costa menjadi anggota, dan ketika hijrah ke Brazil ia mendirikan sebuah cabang dengan dibantu dua orang dokter dari Ouro Preto, Domingos Vidal Barbarosa dan Jose Alvares Maciel. Pada tahun 1788 trio ini melancarkan pemberontakan Illuminati yang pertama, Inconfidencia Mineira, tetapi pemberontakan itu ditumpas ketika baru saja berputik oleh raja muda Marquis de Barbacena. Hingga saat ini, mereka berjuang secara diam-diam melawan dan berusaha meruntuhkan gereja katolik roma, yang dianggap melambangkan kekuasaan dari Yesus Kristus, musuh Lucifer.

FacebookTwitterGoogle+LinkedIn

Makalah Hukum Terorisme Internasional

 

BAB I
PENDAHULUAN

 

I.I Latar Belakang Masalah

 

Terorisme internasional yang mulai dibentuk dan bergerak pada tahun 1974 kini sudah berkembang menjadi 27 (dupuluh tujuh) organisasi yang tersebar di beberapa negara seperti di negara-negara Timur Tengah, Asia dan Eropa. Terorisme internasional yang berkembang di negara-negara timur tengah pada prinsipnya bertujuan untuk menyingkirkan Amerika Serikat dan pengikutnya darinegara-negara Arab. Pada umumnya kehadiran terorisme internasional dilator belakangi oleh tujuan-tujuan yang bersifat etnis, politis, agama, dan ras. Tidak ada satupun dari organisasi terorisme intenasional tersebut yang dilatar belakangi oleh tujuan mencapai keuntungan materiel.

 

Dengan latar belakang tujuan tersebut maka tidaklah heran jika organisasi terorisme internasional tersebut memiliki karakteristik yang sangat terorganisasi,tangguh, ekstrim,ekslusif, tertutup, memiliki komitmen yang sangat tinggi, dan memiliki pasukan khusus serta di dukung oleh keuangan dan dana yang sangat besar. Organisasi terorisme internasional tidak bertujuan atau bercita-cita membentuk suatu negara baru/pemerintahan baru melainkan bagaimana menciptakan keadaan khaos dan tidak terkontrol suatu pemerintahan yang menjadi sasarannya sehingga pemerintahan itu tunduk dan menyerah terhadap idealismenya. Berbagai cara pemaksaan kehendak dan tuntutan yang sering dilakukannya seperti penyanderaan, pembajakan udara, pemboman, perusakan instalasi strategis dan fasilitas publik, pembunuhan kepala negara atau tokoh politik atau keluarganya, dan pemerasan. Bagi organisasi terorisme internasional tersebut tujuan menghalalkan segala cara sekalipun harus menimbulkan korban penduduk sipil yang tidak berdosa. Peristiwa pemboman, pembajakan udara disertai dengan tuntutan dan jatuhnya korban-korban terorisme internasional sudah sering terjadi dan terakhir peristiwa sebelas september 2001 di Amerika Serikat yangpada tahun 1993 gedung WTC di New York tersebut pernah dijadikan objek pembomanoleh organisasi terorisme internasional.

 

I.II Rumusan Masalah

 

Dari latar belakang yang dikemukakan diatas, maka konsentrasi penulis agar makalah ini lebih kepada :

 

1.Apakah pemberlakuan Undang-undang No.15 tahun 2003 tentang Terorisme merupakan sebuah kebutuhan dari bangsa Indonesia?

 

BAB II
PEMBAHASAN

 

Pemerintah Indonesia perlu menyikapi masalah terorisme internasional ini apalagi sejak terjadinya pemboman dibeberapa wilayah Ibukota sejak tahun 1999 yang lalu dan dibeberapa kota besar lainnya. Tidak ada klaim dari organisasi terorisme internasional atau organisasi terorisme domestik atas kejadian-kejadian di Indonesia. Namun demikian jelas bahwa kejadian-kejadian di Indonesia tersebut merupakan sinyal bahwa Indonesia telah merupakan salah satu target operasi organisasi terorisme baik internasional maupun domestik. Meningkatkan kewaspadaan secara fisik semata-mata tidaklah cukup untuk menghadapi organisasi terorisme internasional karena secara organisatoris kelompok tersebut sudah memiliki perencanaan dan persiapan yang sangat diperhitungkan baik segi operasional, personil, maupun dukungan infrastruktur dan pendanaan termasuk dukungan para ahli hukum dan akuntan yang disewanya yang memiliki reputasi internasional. Disamping itu organisasi terorisme internasional juga merupakan nasabah perbankan nasional dibeberapa negara.

 

Melihat kerapihan organisasi terorisme internasional tersebut maka sangatlah naif jika sikap pemerintah menyamakan organisasi terorisme internasional ini dengan menghadapi para penjahat perorangan, kelompok artau terorganisasi yang semata-mata mencari keuntungan materiel. Namun seyogyanya kita menyikapinya dengan sangat hati-hati, terencana baik, terkoordinasi dan didukung oleh sarana peraturan perundang-undangan yang kuat dan tangguh serta dukungan dana yang memadai. Jika hal-hal tersebut tidak dilakukan atau sekedar tambal sulam maka jangan diharapkan pemerintah Indonesia dapat menjaga dengan optimal kedaulatan wilayah negaranya dan melindungi warga negara dari sasaran organsisasi terorisme tersebut.

 


 

Pemerintah Indonesia sejak tahun 1999 telah menyusun naskah Rancangan Undang-undang tentang Pemberantasan Terorisme(draft ke I)dengan pertimbangan bahwa,Pemerintah RI sudah memiliki UU Narkotika dan UU Psikotropika dan bersamaan dengan UU tersebut sedang disusun juga Rancangan Undang-undang tentang Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. Ketiga subjek tersebut berkaitan satu sama lain yaitu hasil perdagangan ilegal narkotika dan psikotropika internasional sering digunakan untuk pembelian senjata untuk keperluan organisasi terorisme internasional seperti di Afganistan termasuk pusat candu diASIA dikenal dengan bulan sabit emas dan di daerah segitiga emas dikawasan ASEAN. Keterkaitan antara penjualan narkotika ilegal dan pembelian senjata untuk organisasi terorisme internasional ini digolongkan ke dalam kegiatan yang disebut narco-terorism. Selain itu, terhadap hasil penjualan candu dan narkotika lainnya juga dilakukan pencucian uang dan ditanam dalam kegiatan bisnis legal atau disimpan dibank. Ketiga subjek kegiatan yang bersifat internasional tersebut satu sama lain saling berhubungan dan berkepentingan sehingga sangatlah sulit jika dihadapi secara satu persatu sehingga diperlukan suatu pendekatan yang bersifat komprehensif.

 

Pendekatan yang bersifat komprehensif ini memerlukan juga perubahan mendasar tentang paradigma yang sudah lama dianut dalam politik hukum pidana yang berlaku dalam sistem hokum pidana diIndonesia. Perubahan paradigma dalam politiik hukum pidana ini sangat mendesak karena ketiga subjek diatas saling memupuk kekuatan dengan solidaritas yang tinggi sehingga jika tidak diwaspadai akan merupakan virus perusak tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara baik dari sisi keajegan dan kelanjutan kehidupan suatu pemerintahan maupun dari sisi kesejahteraan bangsa. Perubahan paradigma politik hukum pidana memerlukan pengkajian secara serius karena berkaitan dengan pertanyaan apakah kita tetap akan mempertahankan"due process of law" secara mutlak dan tidak terbatas atau mengenyampingkannya atau membatasi sedemikian rupa sehingga perlindungan hak asasi rakyat luas yang sangat potensial menjadi korban ketiga virus perusak tersebut terutama organisasi terorisme internasional, akan lebih dikedepankan/diutamakan dari pada perlindungan hak asasi tersangka in casu terorisme internasional?,

 

Tim Penyusun Rancangan Undang-undang Pemberantasan Terorisme pada waktu itu memilih alternatif kedua dengan dasar pertimbangan sebagaimana telah diuraikan di atas. Pertimbangan lain yang perlu disampaikan ialah bahwa dengan berkaca kepada pengalaman pemerintah Inggris dan akhir-akhir ini pemerintah AS. Pemerintah Inggris di bawah kecaman pendukung HAM tetap mencabut "hak untuk tidak menjawab"(the right to remain silent) dari tersangka terorisme selama menjalani pemeriksaan pendahuluan (diatur dalam UU Hukum Acara Pidana, 1976). Kemudian baru-baru ini ternyata Pemerintah AS demi perlindungan atas warga negaranya dan aset-aset di seluruh dunia telah memberlakukan kebijakan yang merampas Hak Asasi tersangka pelaku terorisme asing seperti: hak untuk diadili oleh Grand Jury; pemeriksaan tertutup; laporan intelijen diakui sebagai alatbukti; pembicaraan antara penasehat hukum dan tersangka disadap; tersangka diancam dengan pidana mati. Selain itu, seluruh keuangan tersangka teroris dan organisasi teroris yang disimpan di perbankan di AS dibekukan dan disita tanpa mempertimbangkan lagi undang-undang tentang kerahasiaan bank. Kebijakan kedua pemerintah tersebut yang dikenal sebagai pendukung dan pelopor HAM ternyata tidak dipersoalkan masyarakat internasional atau objek penyelidikan komisi HakAsasi Manusia PBB. Sedangkan secara nyata bahwa kebijakan politik hukum pidana tersebut penuh dengan pelanggaran atas konvensi internasional tentang HAM bahkan bertentangan pula dengan Konsitusi negara-negara tersebut.

 

Tim Penyusun draft ke I Rancangan UU Pemberantasan Terorisme telah mengambil sikap yang paling ekstrim dari kedua negara tersebut dengan pertimbangan bahwa, pertama, negara Indonesia merupakan negara kepulauan yang jauh lebih sulit kendali dan pengawasannya apalagi infrastruktur yang dimiliki belum secanggih di kedua negara tersebut. Kedua, Undang-undang Dasar 1945 disusun terutama untuk menciptakan kesejaheraanbangsa Indonesia dan sekaligus melindunginya sehingga tidak ada hak-hak konstitusional untuk melindungi warga negara asing yang melakukan kegiatan terorisme di Indonesia apalagi di tengah keadaan krisis multi dimensi yang sedang melanda Indonesia terutama di bidang penegakan hukum. Kegiatan terorisme internasional di Indonesia jelas memperparah keadaan yang sudah buruk tersebut. Ketiga, KUHAP yang berlaku terlalu menitikberatkan kepadaperlindungan HAK-HAK Tersangka dan kurang memberikan perlindungan terhadap korban kejahatan apalagi untuk Korban pelaku terorisme sehingga akan terjadi ketidakseimbangan yang signifikan antara hak tersangka pelaku teroris disatu sisi dan hak korban rakyat yang tidak berdosa disisi lain. Selain itu KUHAP tidak mengakui sarana telekomunikasi dan sarana teknologi canggih lainnya sebagai alat bukti sedangkan kegiatan terorisme tidak dapat dideteksi tanpa mempergunakan sarana-sarana tersebut. Keempat, KUHPidana sebagai hukum materiel sangat lemah dan kurang berfungsi sebagai deteren dan refresip terhadap pelaku terorisme internasional karena ancaman hukuman minimal satu hari dan praktik peradilan pidana terbukti telah menimbulkan kekecewaan masyarakat luas terutama dalam kasus-kasus yang menyentuh dan merugikan kepentingan rakyat seperti korupsi apalagi untuk kasus terorisme dengan korban yang konkrit dan kontan saat itu juga di mana peristiwa teror terjadi .

 

Untuk melaksanakan fungsi koordinasi dan tertata secara baik dalam menghadapi terorisme internasional diperlukan suatu badan nasional anti terorisme dibawah dan bertanggung jawab kepada Presiden RI yang diatur dalam RUU ini, sehingga jelas tugas dan wewenangnya dan pembatasannya dalam menghadapi kegiatan terorisme dan para pelakunya.

 

Kegiatan terorisme internasional sudah terbukti sangat merugikan kepentingan bangsa dan negara dimana korban mati atau luka berat sangat banyak dan kerusakan bangunan dan fasilitas publik tidak dapat dihindarkan sehingga sulit untuk tidak memberikan beban pertanggungjawaban yang sangat berat terhadap para pelaku terorisme internasional tersebut. Kelima, kegiatan terrorisme internasional telah diatur dalam beberapa konvensi internasional menentang terorisme internasional dan pemerintah Indonesia termasuk negara penandatangan konvensi internasional tentang pemberantasan pendanaan untuk terorisme(1999) dan terikat kepada Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 1373 tahun 2001 yang menegaskan kewajiban seluruh negara anggota PBB termasuk Indonesia untuk antara lain melakukan pembekuan tanpa ditunda-tunda seluruh aset dan keuangan dan yang memfasilitasi kegiatan terorisme.

 

Di dalam Konvensi Internasional tentang Pemberantasan Pendanaan Terorisme(1999) dan Kovensi Internasional tentang Pemberantasan Pemboman oleh Teroris(1997) telah dibedakan antara terorisme internasional dan terorisme domestik di mana ketentuan Pasal 3 dari kedua konvensi tersebut menegaskan bahwa ketentuan dalam konvensi tidak berlaku terhadap kegiatan seseorang yang terjadi disatu negara dan dilakukan oleh warga negara yang bersangkutan kecuali terlibat yurisdiksi negara lain didalamnya. Pada tahun 2003 akhirnya Indonesia meratifikasi konvensi internasional mengenai terorisme yang di tuangkan dalam UU No.15/2003 tentang Terorisme.

 

BAB III

PENUTUP
III.I KESIMPULAN

 

Bertitik tolak dari perkembangan instrrumen internasional tersebut maka pemerintah RI seyogyanya memang meratifikasi konvensi internasional tersebut dan mengingat kejadian terror didalam wilayah Indonesia yang tidak bisa ditutupi eksistensi dari organisasi internasional. Kejadian yang paling memukul bangsa Indonesia dan dunia internasional adalah bom bunuh diri dibali yang menewaskan warga Indonesia, Amerika Serikat dan Australia oleh anggota organisasi terorisme internasional.

 

Dari banyaknya kejadian- kejadian terror diwilayah Negara kesatuan republik Indonesia sudah semestinya Indonesia meratifikasih konvensi internasional tentang terorisme, sehingga pemerintah sudah memiliki satu undang-undang yang dapat melindungi kedaulatan wilayahnya dan warga negaranya.

DAFTAR PUSTAKA

UU.No.15 tahun 2003 tentang terorisme

www.youtube.com

FacebookTwitterGoogle+LinkedIn

HAKEKAT

Banyak orang sangat berkepentingan dengan kata yang satu ini. Di Perguruan tinggi hampir semua Dosen dan Mahasiswa berhadapan dengan istilah hakekat. Namun tidak semua mahasiswa dan dosen memahami  pengertian “hakekat” dengan baik. Kata yang satu ini sangat gampang diucapkan dan sangat enak di dengar. Namun penggunaannya sering salah suai, alias tidak cocok dengan yang seharusnya (makna yang dikandungnya). Tidak jarang kita temukan dalam karya ilmiah atau bukan, pengertian hakekat adalah peran-peran atau fungsi-funsi dari manusia. Sebagai contoh dalam sebuah literatur saya membaca, yang kutipannya sebagai berikut; …”Secara filosofis hakikat manusia merupakan kesatuan integral dari potensi-potensi esensial yang ada pada diri manusia” yakni:

  1. Manusia sebagai mahluk pribadi/individu,
  2. Manusia sebagai mahluk sosial ,
  3. Manusia sebagai mahluk susila/moral.
  4. Manusia sebagai makhluk relegius.

 

Berikut ini penulis mencoba menjelaskan pengertian hakekat sebatas kemampuan  yang ada. Hakekat adalah apa yang membuat sesuatu terwujud. Hakekat mengacu kepada  faktor utama yang lebih fundamental. Hakekat selalu ada dalam keadaan sifatnya tidak berubah-rubah. Tanpa faktor utama tersebut sesuatu tidak akan bermakna sebagai wujud yang kita maksudkan. Karena hakekat merupakan faktor utama yang wajib ada, maka esensinya itu tidak dapat dipungkiri atau dinafikan. Keberadaannya (eksistensinya) di setiap tempat dan waktu tidak berubah.

 

Selanjutnya untuk  lebih  memudahkan  pemahaman  kita,  ada baiknya mari kita mengenal hakekat manusia sebagai contoh: Hakekat merupakan inti pokok dari sesuatu, dengan hakekat itulah sesuatu bereksistensi. Maka pada manusia  sebagai makhluk Tuhan  terbentuk atau terwujud  oleh  jasad dan roh. Jadi hakekatnya  sebagai  esensi  dari manusia itu yakni   ikatan  jasad dan roh. Dalam hal ini perlu di ingat adalah setelah roh ditiupkan atau dimasukan kedalam jasad oleh sang Maha Pencipta, maka roh tersebut berubah namanya menjadi nafs ( jiwa).

 

Sesungguhnya Allah menciptakan manusia sebagai makhluk sosial yang yang selalu memiliki ketergantungan, bahkan sejak ia masih berupa segumpal darah di dalam rahim seorang wanita. Hal ini tergambar dari wahyu pertama ayat kedua yang diterima oleh Nabi. Sebagaimana yang dijelaskan Quraish Shihab bahwa makna dari khalaqal insana min ‘alaq bukan saja diartikan sebagai “menciptakan manusia dari segumpal darah” atau sesuatu yang berdempet di dinding rahim”, tetapi dapat dipahami juga sebagai “diciptakan dinding dalam keadaan selalu bergantung kepada pihak lain atau tidak dapat hidup sendiri”. Jadi manusia akan selalu bergantung pada segala apa yang ada disekitarnya.

 

Dalam dunia sosial masyarakat, manusia memiliki tingkat kecerdasan, kemampuan dan status sosial yang berbeda satu dengan yang lainnya. Hal ini juga tergambar dalam Q.S.al-Zukhruf 43:32 “Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? kami Telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami Telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.”

 

Suatu esensi adalah satu kesatuan yang tidak dapat dibagi dalam bereksistensi. Dengan kata lain hakekat atau esensi mengacu kepada hal-hal yang lebih permanen yang tidak terpengaruh oleh situasi dan kondisi. Suatu hakikat lebih mantap dan stabil serta tidak mendatangkan sifat yang berubah-rubah, parsial ataupun yang fenomenal. Maka yang namanya manusia (an-nas) adalah makhluk Tuhan yang memiliki jiwa dan raga. Keharmonisan ikatan (integritas) jasmani dan jiwa tersebut menjadikan manusia dapat bereksistensi. Dengan itu pula dia dapat menjalankan funsi-funsi kemanusiaannya. Pada  ”hakekat”  itu  terletak (terdapat) hal-hal lain yang menjadi atribut manusia.

 

Bila jiwa berpisah dengan raga maka hilanglah sebutan manusia. Kalau jasad saja mungkin bernama mayat dan jiwanya berobah namanya kembali sebagai roh. Dengan demikian kalau satu saja di antara faktor utama itu  yang ada maka manusia tidak bisa bereksistensi, dan fungsi-fungsi  manusia tidak dapat dijalankan. Itulah yang disebut dengan manusia telah mati.

 

Sekian semoga bermanfaat.

FacebookTwitterGoogle+LinkedIn

MAKNA HAKIKI DAN MAJAZI DALAM MEMAHAMI HADITS

A. Pendahuluan

 

 

Menggunakan kata kiasan dalam mengungkapkan sebuah ide merupakan gejala universal di semua bahasa, Arab, Inggris, Indonesia, Belanda dan sebagainya. Bahasa Arab -tidak bermaksud untuk megucilkan bahasa yang lain-nampaknya lebih sering menggunakan kata-kata dalam bentuk kiasan. Menurut kajian ilmu-ilmu Balaghah, ungkapan dalam bentuk majaz lebih berkesan daripada ungkapan hakiki. Berkesan di sini dalam arti mempunyai nilai tinggi dan makna yang dalam karena tidak seperti ungkapan-unkapan seperti biasanya. Misalnya, seseorang hendak memuji kebaikan orang lain dengan berkata “sungguh, kau adalah malaikat bagiku.” Ekspresi ini tentunya lebih bermakna dari pada mengatakan “kau sangat baik, telah membantuku menyelesaikan masalah ini.” perumpamaan “malaikat” tentunya dimaksudkan untuk mengungkapkan kebaikan yang sifatnya lebih dari pada sekadar dengan menyebut “sangat baik”.

 

Hal ini tidak hanya terjadi dalam percakapan sehari-hari, al-Qur’an juga banyak menyuguhkan ungkapan-ungkapan kiasan dalam menyampaikan pesannya. Contohnya pada surat al-Baqarah ayat 187:

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ

“makanlah dan minumlah sehingga tampak jelas bagimu benang putih dari benang hitamnya fajar, kemudian sempurnakanlah puasa hingga malam.”

 

“Benang putih dari benang hitamnya fajar” yang dimaksud dalam ayat ini bukan benang dalam arti alat yang biasanya dipakai untuk menjahit, akan tetapi –sebagaimana dijelaskan oleh Nabi dalam hadisnya-, bahwa maksud ayat ini adalah putihnya siang dan hitamnya malam.

Sekilas, memahami kata-kata kiasan dalam al-Qur’an terlihat tidak begitu sulit karena masih ada hadis Nabi yang menjelaskannya. Lain halnya dengan ungkapan-ungkapan majaz yang kemudian diucapkan oleh Nabi sendiri, siapa yang akan menjelaskannya kalau Nabi tidak memberikan klarifikasi sendiri? Padahal di waktu yang bersamaan fakta menunjukkan bahwa memang banyak ungkapan majaz ditemukan pada hadis Nabi.

 

Mengatasi problem ini, ulama hadis khususnya berinisiatif untuk menyusun beberapa kaidah pemaknaan hadis yang salah satunya adalah makna hakiki dan majaz dalam hadis. Memahami makna hakiki dan majazi juga menjadi salah satu step untuk bisa memahami hadis. Oleh karena itu pula tulisan ini hadir di tengah-tengah para calon muhaddis sebagai penyambung lidah dan penyampai informasi tentang beberapa kajian ulama mengenai pemahaman makna hakiki dan majaz dimaksud dengan harapan semoga bacaan sederhana ini bisa menjadi tambahan ilmu yang bermanfaat.

 


 

Tulisan ini sudah diusahakan dengan semaksimal mungkin untuk bebas dari kesalahan, namun karena berbagai keterbatasan, banyak terdapat kekurangan dan kesalahan di sana-sini, oleh sebab itu masukan dan kritikan anda sekalian kami tunggu untuk perbaikan ke depan.

 

B. Pembahasan

 

1. Pengertian Makna Hakiki dan Majaz

a)      Makna Hakiki

Kata Hakiki dari asal kata hakikat yang ditambah ya’ nisbat berarti lafad yang digunakan dalam makna yang sebenarnya sesuai dengan yang ditunjukkan harfiahnya.[1] Sedangkan apabila disambung dengan kata ‘makna’ menjadi satu kesatuan, makna hakiki berarti makna (arti) yang dimaksud adalah makna yang sebenarnya sesuai dengan harfiahnya. Contoh, perkataan seseorang “singa itu makan”. Singa di sini yaitu (hewan) singa, bukan yang lain. Berbeda apabila singa yang dimaksud itu adalah seorang pemberani, maka yang demikian itu sudah bukan makna hakiki lagi melainkan makna majazi.

 

b)      Makna Majazi

Kata majaz berarti lafad yang digunakan dalam makna yang bukan seharusnya karena adanya hubungan (‘alaqah) disertai karinah (hal yang menunjukkan dan menyebabkan bahwa lafad tertentu menghendaki pemaknaan yang tidak sebenarnya) yang menghalangi pemakaian makna hakiki. Seperti contoh, “singa itu berpidato” dengan maksud “si pemberani (yang seperti singa) itu berpidato. Hubungan yang dimaksud terkadang karena adanya keserupaan dan ada pula karena faktor yang lain. Sedangkan karinah ada kalanya lafdiyah (karinah itu terdapat dalam teks, tertulis) dan ada pula haliyah (karinahnya tidak tertulis, berdasarkan pemahaman saja).[2]

Majaz terbagi menjadi empat. Atara lain, majaz Mufrad Mursal, Mufrad Isti’arah, Murakkab Mursal dan Murakkab Isti’arah.

 

Majaz mursal adalah kata yang digunakan bukan dalam maknanya yang asli karena ada hubungan (makna asli dan makna majazi) selain keserupaan serta ada karinah yang menghalangi pemahaman dengan makna asli. Hubungan dalam majaz mursal ini ada kalanya al-sababiyah, al-musabbabiyah, al-kulliyah, al-juz’iyah, i’tibaru ma kana, i’tibaru ma yakunu, al-mahally, al-haliyah dan seterusnya.[3]

 

Hubungan al-sababiyah dapat terlihat dalam perkataan al-Mutanabbi berikut,

له أيّاد عليّ سابغة    أعدّ منها ولاأعدّدها

“ia mempunyai tangan-tangan yang berlimpah padaku, dan diriku ini merupakan bagian darinya, aku tidak kuasa menghitungnya.”

 

Kata ayyad dalam ungkapan ini bermakna majaz yaitu kenikmatan-kenikmatan yang banyak, bukan makna tangan secara hakiki. Hubungan yang seperti ini adalah hubungan ‘sebab’. Ketahuilah bahwa tangan (makna hakiki) adalah alat untuk menyampaikan beberapa kenikmatan. Jadi, tangan itu merupakan sebab  bagi kenikmatan tersebut.

 

Hubungan al-musabbab ada pada pada contoh ayat,

وينزّل لكم من السّماء رزقا…….الأية (المؤمن:13)

“dan menurunkan untukmu rezeki dari langit…..(QS. Al-Mu’min: 13)”

 

Jika dimaknai secara hakiki, maka sesuai dengan lafadnya, yang diturunkan dari langit oleh Allah adalah rezeki, padahal pada kenyataannya bukanlah rezeki melainkan air hujan yang kemudian karenanya tumbuh-tumbuhan menjadi hidup dan menjadi sumber rezeki bagi segenap makhluk. Maka rezeki adalah musabbab atau akibat dari turunnya hujan. Dengan demikian, hubungannya adalah al-musabbabiyah.

 

Hubungan al-kulliyah terdapat pada firman Allah

وَإِنِّي كُلَّمَا دَعَوْتُهُمْ لِتَغْفِرَ لَهُمْ جَعَلُوا أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ ….(نوح: 7)

“Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya…..” (Q.S.Nuh: 7)

 

Pada contoh ini, diyakini bahwa seseorang tidak mungkin dapat meletakkan seluruh jarinya di telinganya. Jadi, sekalipun yang disebutkan dalam ayat tersebut adalah seluruh jari, namun yang dimaksudkan adalah ujung salah satu jarinya. Penggunaan kata-kata tersebut adalah majaz, dan hubungannya adalah kulliyah.

 

Hubungan al-juz’iyah seperti contoh syair,

كم بعثنا الجيش جرّا       راوأرسلنا العيونا

“Berkali-kali kami mengutus tentara dalam jumlah besar dan kami melepaskan banyak mata-mata”

 

Kata al-‘uyun dalam contoh ini maksudnya adalah mata-mata (makna majaz). Hubungannya adalah bahwa mata-mata adalah hanya suatu bagian, namun yang dimaksud adalah keseluruhan dari orang yang ditugaskan untuk memata-matai itu. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa hubungannya adalah juz’iyah.

 

Adapun contoh hubungan i’tibaru ma kana antara makna hakiki dan majazi suatu lafad yaitu firman Allah yang berbunyi,

وَآتُوا الْيَتَامَى أَمْوَالَهُمْ ….(النّساء: 2)

“Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah baligh) harta mereka….(QS. Al-Nisa’: 2)”

 

Sebagaimana dipahami bersama bahwa anak yatim menurut bahasa adalah anak kecil yang ayahnya meninggal. Dengan begitu, apakah harta peninggalan ayahnya akan dipasrahkan kepada anak yatim yang masih kecil (sesuai dengan lafad ayat)? Tentu tidak, akan tetapi, yang benar adalah Allah memerintahkan untuk memberikan harta itu kepada anak yatim yang telah mencapai usia dewasa. Jadi, penggunaan kata yatama pada ayat di atas adalah majaz karena maksud yang sebenarnya adalah orang-orang yang justru telah meninggalkan usia yatimnya. Hubungan antara kedua makna ini adalah i’tibar ma kana (mempertimbangkan apa yang telah berlalu).

 

Untuk hubungan i’tibaru ma yakunu bisa dilihat pada contoh ayat,

إِنَّكَ إِنْ تَذَرْهُمْ يُضِلُّوا عِبَادَكَ وَلا يَلِدُوا إِلا فَاجِرًا كَفَّارًا (نوح: 27)

“sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hambaMu dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir. (QS. Nuh: 27).”

 

Kata Fajiran Kaffaran dalam ayat ini adalah majaz karena anak yang baru dilahirkan itu tidak bisa melakukan maksiat dan tidak dapat berbuat kekufuran, tetapi mungkin akan melakukan yang demikian setelah masa kanak-kanak. Jadi yang diucapkan adalah anak yang maksiat, namun yang dimaksud adalah orang dewasa yang maksiat. Hubungannya adalah i’tibar ma yakunu (mempertimbangkan sesuatu yang akan terjadi).

 

hubungan al-mahally yaitu,

فَلْيَدْعُ نَادِيَهُ، سَنَدْعُ الزَّبَانِيَةَ  (العلق: 17-18)

“maka biarkan dia memanggil golongannya (untuk menolongnya), kelak Kami akan memanggil malaikat Zabaniyah. (QS. Al-Alaq; 17-18)”

 

Makna kata nadi yang lumrah dipakai adalah tempat berkumpul. Akan tetapi yang dimaksud dengannya adalah orang-orang yang ada di tempat yang sama, siapapun dia, keluarga, pembantunya, teman dan  yang lain. Jadi, kata nadi dalam ayat ini adalah majaz, yaitu menyebutkan tempat, namun yang dimaksud adalah orang yang menempatinya. Hubungannya adalah al-mahally.

Untuk hubungan al-haliyah seperti contoh berikut,

إِنَّ الأبْرَارَ لَفِي نَعِيم   (المطفّفين: 22)

“Sesungguhnya orang-orang yang berbakti itu benar-benar berada dalam kenikmatan yang besar (surga). (QS. Al-Muthaffifin: 22)”

 

Kenikmatan itu tidak dapat ditempati oleh manusia karena kenikmatan itu sesuatu yang bersifat abstrak, yang bisa ditempati adalah tempat kenikmatan itu. Maka penggunaan kata kenikmatan untuk menyatakan suatu tempat adalah majaz, yaitu menyebutkan suatu hal yang menempati suatu tempat, namun yang dimaksudkan adalah tempatnya itu. Jadi, hubungannya adalah al-haliyah.[4]

 

Berbeda dengan majaz mursal, majaz isti’arah adalah jenis majaz yang ‘alaqahnya (hubungan antara makna hakiki dan majazi) karena danya kesrupaan. Isti’arah juga diistilahkan dengan tasybih yang salah satu tharafnya (musyabah {musta’ar lah} atau musyabah bih {musta’ar minhu}) dibuang.[5]

 

Isti’arah ini banyak macamnya. Diantaranya:

1)      Berdasarkan penyebutan musta’ar lah dan musta’ar minhu-nya dibagi menjadi dua, Tasrihiyah (isti’arah yang musta’ar minhu-nya disebutkan) dan makniyah (isti’arah yang musta’ar minhu-nya dibuang dan sebagai isyarat disebutkan salah satu sifat khasnya.

2)      Berdasarkan lafad yang dijadikan isti’arah, maka majaz ini dibagi menjadi dua, isti’arah ashliyah apabila musta’ar (lafad yang dijadikan isti’arah) berupa isim jamid (bukan kata kerja atau yang musytaq darinya) dan isti’arah taba’iyah apabila musta’ar berupa fi’il atau isim yang musytaq.

3)      Berdasarkan persambungan dan hubungan dengan kata-kata sesudahnya, majaz isti’arah ada tiga, isti’arah murasysyahah yaitu isti’arah yang disertai penyebutan kata-kata yang relevan dengan musta’ar minhu. Kedua, isti’arah mujarradah yaitu isti’arah yang disertai penyebutan kata-kata yang relevan dengan musta’ar lah. Ketiga adalah isti’arah muthalaqah yaitu isti’arah yang tidak disertai penyebutan kata-kata yang relevan dengan musta’ar minhu maupun musta’ar lah-nya. Dan masih banyak lagi pembagian majaz isti’arah ini.[6]

 

 

Sedangkan untuk majaz murakkab, baik itu murakkab mursal maupun murakkab isti’arah itu pengertiannya sama dengan masing-masing majaz mufrad-nya hanya saja dalam majaz murakkab bentuk majaznya tidak cuma satu melainkan banyak (terdapat dalam satu kalimat).[7]

  1. Ketentuan Pemaknaan Majaz dalam Memahami Hadis

a)      Membedakan makna hakiki dan makna majazi dalam memahami hadis

Sebagaimana difinisi majaz yang telah dijelaskan di awal, berarti dalam tataran aplikasi dan prakteknya adalah jika pada suatu hadis terdapat karinah yang mengharuskannya untuk dimaknai secara majazi maka hadis tersebut hendaknya dipahami secara majaz dan keluar dari makna hakikinya. Dengan kata lain pengertian keluar dari makna hakiki pada makna majazi itu apabila terdapat suatu tanda yang menghalangi penyampaian makna hakiki berdasarkan alasan dalil naqli atau rasional.[8]

Berikut beberapa penjelasan mengenai tanda-tanda itu:

1)      Dalam keadaan tertentu, makna majaz merupakan cara yang ditentukan, jika tidak ditafsirkan secara majaz pasti akan menyimpang dari makna yang dimaksud dan terjerumus pada kesalahan yang fatal. Contoh hadis dalam masalah ini yaitu, sabda Rasulullah SAW kepada istri-istri beliau yang berbunyi,

أسرعكنّ لحوقا بي أطول كنّ يدا

“Orang yang paling cepat menyusulku antara kalian adalah orang yang paling panjang tangannya (paling dermawan)”

 

Pada mulanya, semua istri Nabi memahami “panjang tangan” itu dengan makna aslinya sesuai dengan petunjuk lafdiahnya. Aisyah menceritakan bahwa para istri Rasulullah SAW pada mulanya mengukur tangan mereka masing-masimg untuk mengetahui siapa yang terpanjang. Sebagian riwayat lain mengatakan bahwa mereka (para istri Rasulullah) mengambil sebatang kayu untuk mengukur tangan mereka, siapa yang paling panjang tangannya. Padahal maksud Rasulullah tidak seperti itu, melainkan makna kias dari kata “panjang tangan” yang berarti mengulurkan tangan untuk kebaikan dan suka memberi (dermawan) yang dimaksud oleh hadis tersebut.[9]

 

Contoh lain terjadi pada hadis Qudsi yang berbunyi,

إن تقرّب عبدي إليّ بشبر تقرّبت إليه ذراعا وإن تقرّب إليّ ذراعا تقرّبت إليه باعا. وإن أتاني يمشي أتيته هرولة

“Jika hambaKu mendekatkan diri kepadaKu sejengkal, maka Aku mendekat kepadanya satu hasta. Jika dia mendekat kepadaKu satu hasta, maka Aku mendekat kepadanya satu depa dan jika dia datang kepadaKu dengan berjalan, maka Aku datang kepadanya dengan berlari kecil.”

 

Menyikapi hadis ini, golongan Mu’tazilah sangat mengecam ahli hadis karena telah meriwayatkan hadis yang seolah-olah menyerupakan Allah dengan makhlukNya melalui gambaran konkrit “berjalan” dan “berlari kecil”. Mereka mengatakan bahwa hal seperti itu tidak layak bagi sifat Tuhan Yang Maha sempurna.[10]

 

Pendapat Mu’tazilah di atas dibantah oleh imam Ibn Qutaibah dalam kitabnya, Ta’wil Mukhtalaf al-Hadis. Ia berkata bahwa ungkapan ini (hadis Qudsi) adalah ungkapan tamsil dan tasybih dari barang siapa yang mendatangiKu dengan cepat dengan ketaatannya dia akan diberi pahala olehKu lebih cepat dari pada kedatangannya. Ungkapan ini yang kemudian dikiaskan dengan kata “berjalan” dan “berlari kecil”.[11]

 

2)      Makna majaz sebagai solusi bagi hadis yang dilihat sulit untuk dipahami secara harfiahnya dan kesulitan ini akan hilang bila hadis tersebut diartikan dengan makna majazi. Sebagai contoh adalah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Nabi SAW bersabda,

إشتكت النّار إلى ربّها, فقالت: يا ربّ أكل بعضي بعضا, فأذّن لها بنفسين: نفس في الشتاء ونفس في الصّيف فهو أشدّ ما تجدون من الحرّ وأشدّ ما تجدون من الزمهرير.

“Neraka mengadu kepada Tuhannya, ‘wahai Tuhanku, sebagian dariku memakan sebagian dari yang lain’, maka diberi izin bagi neraka untuk menghembuskan nafas dua kali; sekali pada musim dingin dan sekali pada musim panas. Hal itu dapat kalian rasakan pada saat panas yang sangat terik dan saat musim dingin yang sangat membeku.”

 

Hadis ini sangat erat kaitannya dengan geografi khususnya mengenai penyebab-penyebab berubahnya musim, mulainya musim panas, musim dingin dan keadaan cuaca panas atau dingin. Masyarakat seperti pelajar dan ilmuwan sudah mengetahui bahwa fenomena ini berjalan berdasarkan tatanan hukum alam dan penyebab yang telah dipelajarinya.

 

Oleh karena itu, sudah sepantasnya hadis riwayat Abu Hurairah ini bila dipahami dengan makna majaz bahwa hal itu merupakan hembusan dari neraka jahanam sebagaimana digambarkannya musim dingin yang sangat membeku sebagai hembusan lain dari neraka jahanam. Dari hadis ini juga diperoleh informasi bahwa neraka jahanam itu mempunyai berbagai macam azab, ada yang sangat panas dan pula yang sangat dingin.[12]

 

Contoh lain hadis yang berbunyi ‘إعلموا أنّ الجنّة تحت ظلال السيف’ yang artinya ‘ketahuilah bawa surga itu berada di bawah bayang-bayang pedang’. Jika dimaknai secara hakiki sesuai dengan lafadnya maka kita akan mendapatkan pemahaman bahwa surga itu ada di bawah bayang-bayang pedang padahal yang demikian itu sangat mustahil dan tidak bisa diterima oleh akal. Oleh karena itu muhaddisin memahami hadis tersebut secara majaz dan menyatakan bahwa yang dimaksud hadis tersebut adalah surga itu diraih dengan kerja keras, kesungguhan serta ketulusan layaknya perjuangan berperang melawan musuh-musuh Allah.[13]

 

Satu contoh lagi yaitu sebuah hadis yang menarasikan bahwa istri itu tercipta dari tulang rusuk suami. Bila suami mencoba meluruskan tanpa kebijaksanaan, ia akan patah, tetapi bila dibiarkan ia akan tetap bengkok. Hadis itu berbunyi,

عن أبي هريرة عن النبي صلّى الله عليه وسلّم قال: واستوصوا بالنساء خيرا فإنهن خلقن من ضلع وإن أعوج شيء في الضلع أعلاه فإن ذهبت تقيمه كسرته وأن تركته لم يزل أعوج فاستوصوا بالنساء خيرا.[14]

Tentu, ilmu pengetahuan menyalahkan informasi ini (bahwa istri tercipta dari tulang rusuk suami). Namun, para ulama menangkap hadis ini sebagai kiasan. Wanita sebagai anggota keluarga –tepatnya ibu rumah tangga- yang dikepalai oleh seorang suami pada umumnya lebih emosional dari pada pria. Sifat emosional itu yang kemudian disimbolkan sebagai tulang yang bengkok. Meluruskannya harus dengan kesabaran dan hati-hati. Jika meluruskannya dengan cara paksa dan kasar maka ia akan patah dan apabila dibiarkan begitu saja ia akan tetap bengkok.[15]

 

Pemaknaan secara majaz yang ditempuh oleh para ulama dalam memahami hadis ini nampaknya sangat tepat. Hal ini selain karena alasan adanya pertentangan dengan pengetahuan umum –bahwa penciptaan manusia (termasuk wanita) itu bukan dari tulang rusuk suami melainkan dari tanah, air mani dan sebagainya-[16] pemahaman seperti ini juga mampu meredam para aktivis gender yang menurut mereka hadis ini sangat memihak pada kaum pria dan ada bias gender di dalamnya.

 

3)      Makna majaz sebagai bentuk tamsil dan penyerupaan (menggambarkan sesuatu yang abstrak dengan sesuatu yang konkrit) sebagai isyarat dari tingkat keharusan dari suatu anjuran maupun larangan. Seperti contoh pada hadis yang berbunyi,

إنّ الله خلق الخلق حتّى إذا فرغ من خلقه قالت الرّحم: هذا مقام العائذ بك من القطيعة قال: نعم، اما ترضين ن أصل من وصلك واقطع من قطعك؟ قالت: بلى ياربّ قال: فهو لك. قال رسول الله فاقرءوا إن شئتم: (فهل عسيتم إن تولّيتم أن تفسدوا فى الارض وتقطعوا ارحامكم….

“Allah menciptakan makhlukNya, setelah selesai menciptakan (mereka), Rahim berkata, ‘ini adalah tempat bagi orang yang memohon perlindungan kepadaMu dari orang yang memutuskanku.’ Allah menjawab ‘ya, tidakkah kamu suka bila Aku berhubungan dengan orang yang menghubungkanmu dan memutuskan hubungan dengan orang yang memutuskanmu?’ Rahim menjawab, ‘ya wahai Tuhanku,’ Allah berfirman, ‘itu untukmu.’ Rasulullah SAW bersabda, ‘bacalah olehmu jika kamu suka akan firmanNya, maka apakah kiranya jika kalian berkuasa kalian akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan…?’ (QS. Muhammad: 22)[17]

 

Apakah perkataan rahim tentang hubungan kekeluargaan di sini diartikan makna hakiki atau majazi? Al-Qadhi Iyadh, sebagaimana dikutip oleh al-Qardhawi menakwilkan makna hadis ini dengan makna majaz dan mengatakan bahwa ungkapan seperti ini termasuk ke dalam bab tamsil.[18]

Untuk penjelasan ungkapan ‘Allah SWT berhubungan dengan orang yang menghubungkan tali kekeluargaan” Ibn Abu Jamrah menjelaskan bahwa maksud dari kata-kata tersebut adalah Allah memberi pahala yang besar sebagai balasan yang baik dariNya pada orang yang terus menyambung tali silaturahim, demikian juga bagi orang yang memutuskannya, dia akan juga menerima balasan dariNya.[19]

 

Pengertian ini bila diartikan secara hakiki merupakan hal yang mustahil bagi Allah (yaitu mendekatkan diri). Dengan demikian, dapat diketahui bahwa yang dimaksud adalah ungkapan kinayah yang menunjukkan betapa besarnya kebaikan Allah kepada hambaNya. Ungkapan  seperti ini dalam hadis tersebut juga menunjukkan kuatnya perintah yang menganjurkan bersilaturrahim. Hal ini tentunya bisa digeneralisasi pada hadis-hadis lain yang kasusnya sama seperti hadis di atas.

b)      Menghindari Penakwilan yang Terlalu Meluas dalam Pengertian Majazi

Meskipun banyak ulama yang memberikan lampu hijau adanya pemaknaan majazi pada sebuah hadis atupun nas-nas lainnya di samping juga pemahaman majazi diperlukan akan tetapi perlu diingat dan ini seringkali menjadi warning bagi para ulama bahwa penakwilkan (hadis-hadis dan nas-nas lain) yang terlalu luas dan menyimpang jauh dari makna lahiriyahnya itu sangat berbahaya dan berakibat fatal.

 

Hadis-hadis yang ditakwilkan berdasarkan pertimbangan sempit atau faktor waktu dan tempat tanpa ada dalil naqli ataupun dalil aqli yang membenarkannya maka yang demikian ini membiarkan hadis sesuai dengan makna lahiriahnya harus dilakukan. Sebagai contoh, hadis yang berbunyi,

من قطع سدرة صوّب الله رأسه فى النّار[20]

“Barang siapa yang memotong pohon sidrah, maka Allah akan menjungkalkan kepalanya ke dalam neraka”

 

Hadis ini diriwayatkan dalam bentuk ungkapan yang bermacam-macam, sebagian dari pensyarah ada yang mengartikan bahwa makna yang dimaksud adalah larangan memotong sidrah yang terdapat di tanah suci saja dengan alasan (walaupun lafad yang ditunjukkan itu nakirah yang berarti umum, berlaku pada sidrah di manapun) adanya ancaman yang keras terhadap pelaku dalam teks hadis itu.

 

Yusuf Qardhawi dalam bukunya, Kaifa Nata’ammalu ma’a al-sunnah al-nabawiyah mengatakan kekurang setujuannya terhadap pemahaman seperti di atas. Menurutnya, hadis ini mengingatkan pada suatu perkara penting yang terlupakan oleh sebagian besar orang yaitu pentingnya pohon dan flora yang lain, terlebih lagi pohon sidrah bagi negeri-negeri Arab mengingat manfaatnya yang sangat besar bagi manusia, baik naungannya yang rindang maupun buahnya, terutama bagi daerah pedalaman. Dengan begitu, memotong atau menebang pohon ini berarti sama saja dengan mencegah kebaikan bagi manusia dan merusak ekosistem yang ada.[21]

 

Dengan demikian, penakwilan yang terlalu luas pada sebuah teks khususnya, tanpa dalil dan dirasa bertentangan dengan fakta-fakta akurat yang lainnya itu perlu dihindari demi mencapai pemahaman yang valid. Apabila pemaknaan secara hakiki sudah bisa ditangkap maka tidak perlu adanya sebuah penakwilan.

c)      Takwil-takwil yang Tidak Dapat Diterima

Takwil yang tidak dapat diterima ialah takwil yang jauh dari makna lafadnya, tidak ada dalil yang mendukung ke arahnya, baik dari ungkapan maupun konteksnya dan bertentangan dengan dalil-dalil yang sudah ada. Seperti yang terjadi pada hadis,

تسحّروا فإنّ فى السّحور بركة

“Bersahurlah kalian karena sesungguhnya di dalam bersahur itu terkandung berkah”.

 

Salah satu kelompok, tepatnya kaum batiniyah mengatakan bahwa yang dimaksud sahur dalam hadis ini ialah beristighfar. Istighfar dan sahur, keduanya sama-sama merupakan amal yang sangat dianjurkan oleh Islam. Namun, bila pengertian tersebut diterapkan pada hadis ini sebagai makna yang dikandungnya, maka merupakan suatu hal yang menyimpang dan tidak dapat diterima, apalagi ada hadis-hadis lain yang menjelaskan makna yang dmaksud secara meyakinkan. Seperti riwayat نعم السحور التمر (sahur yang paling baik ialah memakan buah kurma). Hadis lain yang menguatkan makna harfiahnya ialah sabda Nabi yang berbunyi,

السحور كلّه بركة فلا تدعوه ولو ان يجرع احدكم جرعة من ماء

“Makan sahur itu semuanya mengandung berkah, maka janganlah kalian meninggalkannya, sekalipun hanya seteguk air.”[22]

 

Kedua hadis yang juga membicarakan tentang sahur ini cukup menjadi bukti bahwa kata sahur yang dimaksud adalah sahur dalam arti aslinya “makan dan minum sebelum berpuasa”, bukan istighfar.

 

Hadis yang juga termasuk dalam bahasan ini adalah hadis-hadis yang menceritakan tentang Dajjal, (Na’udzu billah min fitnatihi). Mengenai pemahamannya ada yang menyebutkan bahwa makna hadis-hadis tersebut melambangkan peradaban Barat yang berkiprah pada masa kini sebagai peradaban yang buta, memandang kehidupan dan manusia sebagai pelakunya dengan sebelah mata, yaitu pandangan materialis saja, tidak memperhatikan sisi rohani, tidak menganggap adanya Tuhan semesta alam pun adanya kehidupan akhirat sesudah kehidupan dunia. Fenomena ini dijadikan takwil oleh sebagian ulama mengenai sifat Dajjal yang dalam teks hadis dikatakan bahwa sebelah matanya buta.[23]

 

Kembali menurut Qardhawi, takwil yang seperti ini jelas bertentangan dengan yang telah dibuktikan oleh hadis-hadis yang jumlahnya cukup banyak dan mencapai tingkat mutawatir. Semua hadis itu menyebutkan bahwa Dajjal itu seorang manusia, berwujud sosok manusia, datang dan pergi, keluar, masuk, berseru, menggoda, mengancam dan sebagainya.[24]

Kedua hadis ini sebagai contoh dari takwil yang tidak dapat diterima dalam memaknai suatu hadis, dan masih banyak lagi contoh yang lainnya.

 

 

C. Analisa

 

Memahami hadis ternyata tidak semudah yang dikira. Hadis tidak ubahnya al-Qur’an yang menerlukan penafsiran dan penjelasan dari para mufasir untuk menjelaskannya. Mungkin, jika dibandingkan lebih lanjut mengenai tingkat kesulitannya, hadis tampak ada di urutan lebih depan dari pada al-Qur’an dengan beralasan bahwa di belakang al-Qur’an ada hadis yang menjelaskannya (meski tidak semuanya) sedangkan hadis (yang masih memerlukan penjelasan) tidak dapat ditemukan pendukungnya kecuali Rasulullah sendiri yang mengklarifikasi.

 

Pada saat seperti ini terbukti adanya ungkapan bahwa “ulama adalah pewaris para Nabi”. Melihat kondisi tersebut para ulama berijtihad untuk menemukan jalan keluarnya dan akhirnya usaha itu tidak sia-sia. Salah satu produk mereka (setelah mengadakan banyak pengamatan dan penelitian) yaitu adanya teori pemahaman hadis dengan pemaknaan secara hakiki dan majazi. Sungguh langkah yang sangat solutif dalam usaha melestarikan hadis.

 

Pemakaian makna hakiki dan majazi pada suatu hadis itu berawal dari redaksi hadis itu sendiri. Kefasihan Rasulullah dalam menuturkan bahasa Arab tampaknya sangat mempengaruhi redaksi hadis yang ada (khususnya hadis qauli) sehingga muncul hadis yang bisa dipahami secara hakiki (pemahamannya sesuai dengan arti lafad yang sebenarnya) ada pula secara majazi (lafad yang digunakan hanya sebagai  simbol dan isyarat untuk mengantarkan seseorang pada proses pemahaman dan tentunya makna yang digunakan bukan arti lafad (itu) yang sebenarnya).

 

Selama ini belum ditemukan pengklasifikasian hadis berdasarkan pemahamannya secara hakiki dan majazi namun hal ini bisa dilihat dari susunan redaksi hadis yang bersangkutan. Pemaknaan hadis dimulai dari hipotesa bahwa semua hadis bermakna hakiki, akan tetapi jika pada proses pemahaman terasa sulit dalam artian bertentangan dan tidak sejalan dengan banyak pihak, misal bertentangan dengan al-Qur’an, hadis lain, pengetahuan umum dan tidak masuk akal maka kemudian tangguhkan dulu hadis tersebut (tidak dipahami secara hakiki).

 

Setelah itu, kemudian hadis tersebut diteliti lagi apakah cukup persyaratannya untuk dipahami secara majazi, alaqah dan qarinah di dalamnya harus jelas dan jangan lupa kroscek dulu hasil pemaknan majazi tersebut dengan dalil-dalil naqli yang lain untuk menghindari penakwilan yang berlebihan dan melenceng jauh missal dengan ayat al-Qur’an atau hadis lain yang mempunyai tema yang sama sebagaimana terlihat dalam beberapa contoh di atas.

Pemaknaan hadis secara majazi bukan berarti mengalihkan perhatian, menjadi alat aternatif untuk menguatkan dalil yang sebenarnya lemah dan sudah hampir tertolak baik kesahihan maupun kehujjahannnya karena sulit diterima dan bertentangan dengan dalil-dalil lainnya seperti yang terjadi pada hadis yang sebagian bunyi redaksinya yaitu “Allah turun dari langit pada sepertiga malam……”.

 

Menanggapi persoalan ini, perlu kembali sejenak pada masalah kesahihan sanad dan matan hadis. Jika sanad suatu hadis sahih (seperti pada hadis “Allah turun darilangit sepertiga malam…”) maka perlu dilanjutkan pada penelitian matannya tanpa terkecuali walau secara sepintas matan tersebut janggal dan bertentangan dengan dalil-dalil yang lain, naqli ataupun aqli. Apabila setelah diamati ulang matan hadis tersebut dapat dipahami secara majazi (alaqah dan qarinahnya jelas dan tentunya sejalan dan tidak bertentangan dengan dalil aqlli maupun naqli) maka dapat dipastikan bahwa pemahaman tersebut sudah mendekati kebenaran.

 

Selain itu perlu diperhatikan pula warning dari para ulama. Meski mereka sudah memberikan izin untuk memaknai hadis secara majazi namun tidak berarti bebas tanpa batas. Selama hadis bisa dipahami secara hakiki maka tidak boleh dimaknai majazi karena hal ini akan berakibat fatal. Wallahu a’lam.

 

D. Kesimpulan

 

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa:

1. Makna hakiki adalah makna yang sebenarnya, asli sesuai dengan petnjuk harfiah suatu lafad sedangkan makna majazi adalah makna yang tidak sebenarnya  disebabkan adanya hubungan-hubungan tertentu dan disertai karinah yang mengharuskan untuk tidak dimaknai secara hakiki.

2. Aplikasi pemaknaan hakiki dan majazi dalam sebuah hadis tentunya harus mengikuti kaidah-kaidah dalam makna hakiki dan majazi dan dapat disimpulkan bahwa ada tiga poin utama mengenai pemaknaan majaz dalam sebuah hadis yaitu:

a. Makna majaz merupakan ketentuan, jika tidak ditafsirkan secara majaz pasti akan menyimpang dari makna yang dimaksud dan terjerumus pada kesalahan yang fatal.

b. Makna majaz sebagai solusi bagi hadis yang dilihat sulit untuk dipahami secara harfiahnya dan kesulitan ini akan hilang bila hadis tersebut diartikan dengan makna majazi.

c. Makna majaz sebagai bentuk tamsil dan penyerupaan sebagai isyarat dari tingkat keharusan dari suatu anjuran maupun larangan.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Baqi, Fuad Abdul. Tt. al-Lu’lu’ wa al-Marjan. juz III. Beirut: Darul Fikr.

Al-Bukhari, “Shahih al-Bukhary” dalam al-Maktabah al-Syamilah

al-Hasyimi, Ahmad. Tt. Jawahir al-Balaghah. Beirut: Darul Kutubil Ilmiyah.

al-Jarim, Ali. dan Amin, Mustafa. Tt. al-Balaghat al-Wadihah. Surabaya: Maktabatul Hidayah.

Terjemahan al-Balaghat al-Wadhihah. Terj. Mujiyo Nurkholis dkk. 2010. Cet. VIII. Bandung: Sinar Baru Algensindo.

al-Jurjany, “al-Ta’rifat” dalam al-Maktabah al-Syamilah

al-Naisabury, Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairy. “Shahih Muslim” dalam al-Maktabah al-Syamilah

Qardhawi, Yusuf. 1995. Studi Kritis As Sunah. Terj. Bahrun Abubakar. Bandung: Trigenda Karya.

al-Qardhawi, Yusuf. 1995. Bagaimana Mamahami Hadis Nabi SAW. Terj. Muhammad al-Baqir. Bandung: Karisma

al-Tahawi. 1995. Musykil al-Atsar. juz III. Beirut: Darul Kutibil Ilmiyah.

Zuhri, Muh. 2003. Telaah Matan Hadis Sebuah Tawaran Metodologis. Yogyakarta: LESFI.

 

 

[1]Al-Jurjany, “al-Ta’rifat” dalam al-Maktabah al-Syamilah

[2]Ibid., lihat pula Ahmad al-Hasyimi, Jawahir al-Balaghah (Beirut: Darul Kutubil Ilmiyah, tt), 231; dan juga Ali al-Jarim dan Mustafa Amin, al-Balaghat al-Wadihah (Surabaya: Maktabatul Hidayah, tt), 71.

[3]Al-Jarim dan Amin, al-Balaghat…, 110. Ada yang menambahkan dengan al-lazimiyah, al-malzumiyah, al-aliyah, al-Ithlaq, al-taqyid, al-umum, al-khusus, al-badaliyah, al-mujawarah dan al-taaluq al-isytiqaqy. Lihat di al-Hasyimi, Jawahir…, 234.

[4]Ali al-Jarim dan Mustafa Amin, Terjemahan al-Balaghat al-Wadhihah, terj. Mujiyo Nurkholis dkk, cet. VIII (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2010), 150-151.

[5]Ibid., 102.

[6]Lihat al-Hasyimi, Jawahir…, 241-256.

[7]Al-Jurjany, al-Ta’rifat…

[8]Yusuf Qardhawi, Studi Kritis As Sunah, terj. Bahrun Abubakar (Bandung: Trigenda Karya, 1995), 193.

[9]Fuad Abdul Baqi, al-Lu’lu’ wa al-Marjan, juz III (Beirut: Darul Fikr, tt), 155; lihat pula al-Tahawi, Musykil al-Atsar, juz III (Beirut: Darul Kutibil Ilmiyah, 1995), 143.

[10]Yusuf al-Qardhawi, Bagaimana Mamahami Hadis Nabi SAW, terj. Muhammad al-Baqir (Bandung: Karisma, 1995), 170.

[11]Ibid.

[12]Qardhawi, Studi…,190.

[13]Muh. Zuhri, Telaah Matan Hadis Sebuah Tawaran Metodologis (Yogyakarta: LESFI, 2003), 60.

[14]Al-Bukhari, “Shahih al-Bukhary” dalam al-Maktabah al-Syamilah

[15]Zuhri, Telaah Matan…, 60.

[16]Keterangan tersebut banyak ditemukan dalam al-Qur’an khususnya ayat-ayat yang menjelaskan tentang penciptaan manusia. Salah satunya pada surat al-Hijr ayat 26.

[17]Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairy al-Naisabury, “Shahih Muslim” dalam al-Maktabah al-Syamilah

[18]Al-Qardhawi, Bagaimana memahami…, 172.

[19]Ibid.

[20]Qardhawi, Studi…, 206; Abu Dawud, Sunan Abu Dawud dalam Kitab al-Adab, bab Qath’u al-Sidrah, hadis no. 5239; Imam al-Baihaqi, Shahih al-Jami’ al-Shaghir.

[21]Ibid.

[22]Ibid., 207.

[23]Zuhri, Telaah Matan…, 62.

[24]Al-Qardhawi, Bagaimana memahami…, 186.

 

FacebookTwitterGoogle+LinkedIn

[Fakta] Penjelajah Muslim Lebih Dulu Injak Amerika Daripada Colombus

 

Christopher Columbus menyebut Amerika sebagai 'The New World' ketika pertama kali menginjakkan kakinya di benua itu pada 21 Oktober 1492. 

Namun, bagi umat Islam di era keemasan, Amerika bukanlah sebuah 'Dunia Baru'. Sebab, 603 tahun sebelum penjelajah Spanyol itu menemukan benua itu, para penjelajah Muslim dari Afrika Barat telah membangun peradaban di Amerika.

 

Klaim sejarah Barat yang menyatakan Columbus sebagai penemu benua Amerika akhirnya terpatahkan. Sederet sejarawan menemukan fakta bahwa para penjelajah Muslim telah menginjakkan kaki dan menyebarkan Islam di benua itu lebih dari setengah milenium sebelum Columbus.

Secara historis umat Islam telah memberi kontribusi dalam ilmu pengetahuan, seni, serta kemanusiaan di benua Amerika.

 

''Tak perlu diragukan lagi, secara historis kaum Muslimin telah memberi pengaruh dalam evolusi masyarakat Amerika beberapa abad sebelum Christopher Columbus menemukannya,'' tutur Fareed H Numan dalam American Muslim History A Chronological Observation. Sejarah mencatat Muslim dari Afrika telah menjalin hubungan dengan penduduk asli benua Amerika, jauh sebelum Columbus tiba.

Jika Anda mengunjungi Washington DC, datanglah ke Perpustakaan Kongres (Library of Congress). Lantas, mintalah arsip perjanjian pemerintah Amerika Serikat dengan suku Cherokee, salah satu suku Indian, tahun 1787. Di sana akan ditemukan tanda tangan Kepala Suku Cherokee saat itu, bernama AbdeKhak dan Muhammad Ibnu Abdullah.

 

Isi perjanjian itu antara lain adalah hak suku Cherokee untuk melangsungkan keberadaannya dalam perdagangan, perkapalan, dan bentuk pemerintahan suku cherokee yang saat itu berdasarkan hukum Islam. 

 

Lebih lanjut, akan ditemukan kebiasaan berpakaian suku Cherokee yang menutup aurat sedangkan kaum laki-lakinya memakai turban (surban) dan terusan hingga sebatas lutut.

 

Cara berpakaian ini dapat ditemukan dalam foto atau lukisan suku cherokee yang diambil gambarnya sebelum tahun 1832. Kepala suku terakhir Cherokee sebelum akhirnya benar-benar punah dari daratan Amerika adalah seorang Muslim bernama Ramadan Ibnu Wati.

 

Berbicara tentang suku Cherokee, tidak bisa lepas dari Sequoyah. Ia adalah orang asli suku cherokee yang berpendidikan dan menghidupkan kembali Syllabary suku mereka pada 1821. Syllabary adalah semacam aksara. Jika kita sekarang mengenal abjad A sampai Z, maka suku Cherokee memiliki aksara sendiri.

 

Yang membuatnya sangat luar biasa adalah aksara yang dihidupkan kembali oleh Sequoyah ini mirip sekali dengan aksara Arab. Bahkan, beberapa tulisan masyarakat cherokee abad ke-7 yang ditemukan terpahat pada bebatuan di Nevada sangat mirip dengan kata ”Muhammad” dalam bahasa Arab.

 

Nama-nama suku Indian dan kepala sukunya yang berasal dari bahasa Arab tidak hanya ditemukan pada suku Cherokee (Shar-kee), tapi juga Anasazi, Apache, Arawak, Arikana, Chavin Cree, Makkah, Hohokam, Hupa, Hopi, Mahigan, Mohawk, Nazca, Zulu, dan Zuni.


Bahkan, beberapa kepala suku Indian juga mengenakan tutp kepala khas orang Islam. Mereka adalah Kepala Suku Chippewa, Creek, Iowa, Kansas, Miami, Potawatomi, Sauk, Fox, Seminole, Shawnee, Sioux, Winnebago, dan Yuchi. Hal ini ditunjukkan pada foto-foto tahun 1835 dan 1870.

 

Secara umum, suku-suku Indian di Amerika juga percaya adanya Tuhan yang menguasai alam semesta. Tuhan itu tidak teraba oleh panca indera. Mereka juga meyakini, tugas utama manusia yang diciptakan Tuhan adalah untuk memuja dan menyembah-Nya.

 

Seperti penuturan seorang Kepala Suku Ohiyesa : ”In the life of the Indian, there was only inevitable duty-the duty of prayer-the daily recognition of the Unseen and the Eternal”. Bukankah Al-Qur’an juga memberitakan bahwa tujuan penciptaan manusia dan jin semata-mata untuk beribadah pada Allah 

 

Bagaimana bisa Kepala suku Indian Cheeroke itu muslim?

 

Sejarahnya panjang, Semangat orang-orang Islam dan Cina saat itu untuk mengenal lebih jauh planet (tentunya saat itu nama planet belum terdengar) tempat tinggalnya selain untuk melebarkan pengaruh, mencari jalur perdagangan baru dan tentu saja memperluas dakwah Islam mendorong beberapa pemberani di antara mereka untuk melintasi area yang masih dianggap gelap dalam peta-peta mereka saat itu.

 

Beberapa nama tetap begitu kesohor sampai saat ini bahkan hampir semua orang pernah mendengarnya sebut saja Tjeng Ho dan Ibnu Batutta, namun beberapa lagi hampir-hampir tidak terdengar dan hanya tercatat pada buku-buku akademis.

 

Para ahli geografi dan intelektual dari kalangan muslim yang mencatat perjalanan ke benua Amerika itu adalah Abul-Hassan Ali Ibn Al Hussain Al Masudi (meninggal tahun 957), Al Idrisi (meninggal tahun 1166), Chihab Addin Abul Abbas Ahmad bin Fadhl Al Umari (1300 – 1384) dan Ibn Battuta (meninggal tahun 1369).

 

Menurut catatan ahli sejarah dan ahli geografi muslim Al Masudi (871 – 957), Khashkhash Ibn Saeed Ibn Aswad seorang navigator muslim dari Cordoba di Andalusia, telah sampai ke benua Amerika pada tahun 889 Masehi.

 

Dalam bukunya, ‘Muruj Adh-dhahab wa Maadin al-Jawhar’ (The Meadows of Gold and Quarries of Jewels), Al Masudi melaporkan bahwa semasa pemerintahan Khalifah Spanyol Abdullah Ibn Muhammad (888 – 912), Khashkhash Ibn Saeed Ibn Aswad berlayar dari Delba (Palos) pada tahun 889, menyeberangi Lautan Atlantik, hingga mencapai wilayah yang belum dikenal yang disebutnya Ard Majhoola, dan kemudian kembali dengan membawa berbagai harta yang menakjubkan.

 

Sesudah itu banyak pelayaran yang dilakukan mengunjungi daratan di seberang Lautan Atlantik, yang gelap dan berkabut itu. Al Masudi juga menulis buku ‘Akhbar Az Zaman’ yang memuat bahan-bahan sejarah dari pengembaraan para pedagang ke Afrika dan Asia.

 

Dr. Youssef Mroueh juga menulis bahwa selama pemerintahan Khalifah Abdul Rahman III (tahun 929-961) dari dinasti Umayah, tercatat adanya orang-orang Islam dari Afrika yang berlayar juga dari pelabuhan Delba (Palos) di Spanyol ke barat menuju ke lautan lepas yang gelap dan berkabut, Lautan Atlantik. Mereka berhasil kembali dengan membawa barang-barang bernilai yang diperolehnya dari tanah yang asing.

 

Beliau juga menuliskan menurut catatan ahli sejarah Abu Bakr Ibn Umar Al-Gutiyya bahwa pada masa pemerintahan Khalifah Spanyol, Hisham II (976-1009) seorang navigator dari Granada bernama Ibn Farrukh tercatat meninggalkan pelabuhan Kadesh pada bulan Februari tahun 999 melintasi Lautan Atlantik dan mendarat di Gando (Kepulaun Canary).

 

Ibn Farrukh berkunjung kepada Raja Guanariga dan kemudian melanjutkan ke barat hingga melihat dua pulau dan menamakannya Capraria dan Pluitana. Ibn Farrukh kembali ke Spanyol pada bulan Mei 999.

 

Perlayaran melintasi Lautan Atlantik dari Maroko dicatat juga oleh penjelajah laut Shaikh Zayn-eddin Ali bin Fadhel Al-Mazandarani. Kapalnya berlepas dari Tarfay di Maroko pada zaman Sultan Abu-Yacoub Sidi Youssef (1286 – 1307) raja keenam dalam dinasti Marinid.

 

Kapalnya mendarat di pulau Green di Laut Karibia pada tahun 1291. Menurut Dr. Morueh, catatan perjalanan ini banyak dijadikan referensi oleh ilmuwan Islam.

 

Sultan-sultan dari kerajaan Mali di Afrika barat yang beribukota di Timbuktu, ternyata juga melakukan perjalanan sendiri hingga ke benua Amerika. Sejarawan Chihab Addin Abul-Abbas Ahmad bin Fadhl Al Umari (1300 – 1384) memerinci eksplorasi geografi ini dengan seksama.

 

Timbuktu yang kini dilupakan orang, dahulunya merupakan pusat peradaban, perpustakaan dan keilmuan yang maju di Afrika. Ekpedisi perjalanan darat dan laut banyak dilakukan orang menuju Timbuktu atau berawal dari Timbuktu.

 

Sultan yang tercatat melanglang buana hingga ke benua baru saat itu adalah Sultan Abu Bakari I (1285 – 1312), saudara dari Sultan Mansa Kankan Musa (1312 – 1337), yang telah melakukan dua kali ekspedisi melintas Lautan Atlantik hingga ke Amerika dan bahkan menyusuri sungai Mississippi.

 

Sultan Abu Bakari I melakukan eksplorasi di Amerika tengah dan utara dengan menyusuri sungai Mississippi antara tahun 1309-1312. Para eksplorer ini berbahasa Arab.

 

Dua abad kemudian, penemuan benua Amerika diabadikan dalam peta berwarna Piri Re’isi yang dibuat tahun 1513, dan dipersembahkan kepada raja Ottoman Sultan Selim I tahun 1517. Peta ini menunjukkan belahan bumi bagian barat, Amerika selatan dan bahkan benua Antartika, dengan penggambaran pesisiran Brasil secara cukup akurat.

 

Pengaruh Islam di Benua Amerika

 

Sekali-kali cobalah Anda membuka peta Amerika. Telitilah nama tempat yang ada di Negeri Paman Sam itu. Sebagai umat Islam, pastilah Anda akan dibuat terkejut.  Apa pasal? Ternyata begitu banyak nama tempat dan kota yang menggunakan kata-kata yang berakar dan berasal dari bahasa umat Islam, yakni bahasa Arab.

 

Tak percaya? Cobalah wilayah Los Angeles. Di daerah itu ternyata terdapat nama-nama kawasan yang berasal dari pengaruh umat Islam. Sebut saja, ada kawasan bernama Alhambra. Bukankah Alhambra adalah nama istana yang dibangun peradaban Islam di Cordoba?

 

Selain itu juga ada nama teluk yang dinamai El Morro serta Alamitos. Tak cuma itu, ada pula nama tempat seperti; Andalusia, Attilla, Alla, Aladdin, Albany, Alcazar, Alameda, Alomar, Almansor, Almar, Alva, Amber, Azure, dan La Habra.

 

Setelah itu, mari kita bergeser ke bagian tengah Amerika. Mulai dari selatan hingga Illinois juga terdapat nama-nama kota yang bernuansa Islami seperti; Albany, Andalusia, Attalla, Lebanon, dan Tullahoma. Malah, di negara bagian Washington terdapat nama kota Salem.

 

Pengaruh Islam lainnya pada penamaan tempat atau wilayah di Amerika juga sangat kental terasa pada penamaan Karibia (berasal dari bahasa Arab). Di kawasan Amerika Tengah, misalnya, terdapat nama wilayah Jamaika dan Kuba. Muncul pertanyaan, apakah nama Kuba itu berawal dan berakar dari kata Quba – masjid pertama yang dibangun Rasulullah adalah Masjid Quba. Negara Kuba beribu kota La Habana (Havana).

 

Di benua Amerika pun terdapat sederet nama pula yang berakar dari bahasa Peradaban Islam seperti pulau Grenada, Barbados, Bahama, serta Nassau. Di kawasan Amerika Selatan terdapat nama kota-kota Cordoba (di Argentina), Alcantara (di Brazil), Bahia (di Brazil dan Argentina). Ada pula nama pegunungan Absarooka yang terletak di pantai barat.

 

Menurut Dr A Zahoor, nama negara bagian seperti Alabama berasal dari kata Allah bamya. Sedangkan Arkansas berasal dari kata Arkan-Sah. Sedangkan Tennesse dari kata Tanasuh. Selain itu, ada pula nama tempat di Amerika yang menggunakan nama-nama kota suci Islam, seperti Mecca di Indiana, Medina di Idaho, Medina di New York, Medina dan Hazen di North Dakota, Medina di Ohio, Medina di Tennessee, serta Medina di Texas. Begitulah peradaban Islam turut mewarnai di benua Amerika.

 

Fakta Eksistensi Islam di Amerika

 

Tahun 999 M: Sejarawan Muslim Abu Bakar Ibnu Umar Al-Guttiya mengisahkan pada masa kekuasaan Khalifah Muslm Spanyol bernama Hisham II (976 M -1009 M), seorang navigator Muslim bernama Ibnu Farrukh telah berlayar dari Kadesh pada bulan Februari 999 M menuju Atlantik. Dia berlabuh di Gando atau Kepulauan Canary Raya. Ibnu Farrukh mengunjungi Raja Guanariga. Sang penjelajah Muslim itu memberi nama dua pulau yakni Capraria dan Pluitana. Ibnu Farrukh kembali ke Spanyol pada Mei 999 M.

 

Tahun 1178 M: Sebuah dokumen Cina yang bernama Dokumen Sung mencatat perjalanan pelaut Muslim ke sebuah wilayah bernama Mu-Lan-Pi (Amerika). Tahun 1310 M: Abu Bakari seorang raja Muslim dari Kerajaan Mali melakukan serangkaian perjalanan ke negara baru. Tahun 1312 M: Seorang Muslim dari Afrika (Mandiga) tiba di Teluk Meksiko untuk mengeksplorasi Amerika menggunakan Sungai Mississipi sebagai jalur utama perjalanannya.

 

Tahun 1530 M: Budak dari Afrika tiba di Amerika. Selama masa perbudakan lebih dari 10 juta orang Afrika dijual ke Amerika. Kebanyakan budak itu berasal dari Fulas, Fula Jallon, Fula Toro, dan Massiona – kawasan Asia Barat. 30 persen dari jumlah budak dari Afrika itu beragama Islam.

 

Tahun 1539 M: Estevanico of Azamor, seorang Muslim dari Maroko, mendarat di tanah Florida. Tak kurang dari dua negara bagian yakni Arizona dan New Mexico berutang pada Muslim dari Maroko ini. Tahun 1732 M: Ayyub bin Sulaiman Jallon, seorang budak Muslim di Maryland, dibebaskan oleh James Oglethorpe, pendiri Georgia. Tahun 1790 M: Bangsa Moor dari Spanyol dilaporkan sudah tinggal di South Carolina dan Florida.

 

Sequoyah, also known as George Gist Bukti lainnya adalah, Columbus sendiri mengetahui bahwa orang-orang Carib (Karibia) adalah pengikut Nabi Muhammad. Dia faham bahwa orang-orang Islam telah berada di sana terutama orang-orang dari Pantai Barat Afrika.

 

Mereka mendiami Karibia, Amerika Utara dan Selatan. Namun tidak seperti Columbus yang ingin menguasai dan memperbudak rakyat Amerika. Orang-Orang Islam datang untuk berdagang dan bahkan beberapa menikahi orang-orang pribumi.

 

Sejarawan Ivan Van Sertima dalam karyanya They Came Before Columbus membuktikan adanya kontak antara Muslim Afrika dengan orang Amerika asli. Dalam karyanya yang lain, African Presence in Early America, Van Sertima, menemukan fakta bahwa para pedagang Muslim dari Arab juga sangat aktif berniaga dengan masyarakat yang tinggal di Amerika.

 

Van Sertima juga menuturkan, saat menginjakkan kaki di benua Amerika, Columbus pun mengungkapkan kekagumannya kepada orang Karibian yang sudah beragama Islam. "Columbus juga tahun bahwa Muslim dari pantai Barat Afrika telah tinggal lebih dulu di Karibia, Amerika Tengah, Selatan, dan Utara," papar Van Sertima. Umat Islam yang awalnya berdagang telah membangun komunitas di wilayah itu dengan menikahi penduduk asli.

 

Menurut Van Sertima, Columbus pun mengaku melihat sebuah masjid saat berlayar melalui Gibara di Pantai Kuba. Selain itu, penjelajah berkebangsaan Spanyol itu juga telah menyaksikan bangunan masjid berdiri megah di Kuba, Meksiko, Texas, serta Nevada. Itulah bukti nyata bahwa Islam telah menyemai peradabannya di benua Amerika jauh sebelum Barat tiba.

 

Lebih lanjut Columbus mengakui pada 21 Oktober 1492 dalam pelayarannya antara Gibara dan Pantai Kuba melihat sebuah masjid (berdiri di atas bukit dengan indahnya menurut sumber tulisan lain). Sampai saat ini sisa-sisa reruntuhan masjid telah ditemukan di Kuba, Mexico, Texas dan Nevada.

 

Dan tahukah anda? 2 orang nahkoda kapal yang dipimpin oleh Columbus kapten kapal Pinta dan Nina adalah orang-orang muslim yaitu dua bersaudara Martin Alonso Pinzon dan Vicente Yanex Pinzon yang masih keluarga dari Sultan Maroko Abuzayan Muhammad III (1362). [THACHER,JOHN BOYD: Christopher Columbus, New York 1950]

FacebookTwitterGoogle+LinkedIn

IMPLEMENTASI MANAJEMEN MUTU TERPADU PENDIDIKAN ISLAM

PENDAHULUAN

 

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa perubahan di hampir semua aspek kehidupan manusia dimana berbagai permasalahan dapat dipecahkan dengan upaya penguasaan dan peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi. Selain manfaat bagi kehidupan manusia di satu sisi perubahan tersebut juga telah membawa manusia ke dalam era persaingan global yang semakin ketat. Agar mampu berperan dalam persaingan global, maka sebagai bangsa kita perlu terus mengembangkan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusianya.

 

Oleh karena itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan kenyataan yang harus dilakukan secara terencana, terarah, intensif, efektif dan efisien dalam proses pembangunan, kalau tidak ingin bangsa ini kalah bersaing dalam menjalani era globalisasi tersebut.Berbicara mengenai kualitas sumber daya manusia, pendidikan memegang peran yang sangat penting dalam proses peningkatan kualitas sumber daya manusia. Peningkatan kualitas pendidikan merupakan suatu proses yang terintegrasi dengan proses peningkatan kualitas sumber daya manusia itu sendiri. Menyadari pentingnya proses peningkatan kualitas sumber daya manusia, maka pemerintah bersama kalangan swasta sama-sama telah dan terus berupaya mewujudkan amanat tersebut melalui berbagai usaha pembangunan pendidikan yang lebih berkualitas antara lain melalui pengembangan dan perbaikan kurikulum dan sistem evaluasi, perbaikan sarana pendidikan, pengembangan dan pengadaan materi ajar, serta pelatihan bagi guru dan tenaga kependidikan lainnya.

 

Tetapi pada kenyataannya upaya pemerintah tersebut belum cukup berarti dalam meningkatkan kuailtas pendidikan. Salah satu indikator kekurang berhasilan ini ditunjukkan antara lain dengan hasil ujian nasional siswa untuk berbagai bidang studi pada jenjang SLTP dan SLTA yang tidak memperlihatkan kenaikan yang berarti bahkan boleh dikatakan konstan dari tahun ke tahun, kecuali pada beberapa sekolah/madrasah dengan jumlah yang relatif sangat kecil.Ada dua faktor yang dapat menjelaskan mengapa upaya perbaikan mutu pendidikan selama ini kurang atau tidak berhasil.


 

 

Pertama, strategi pembangunan pendidikan selama ini lebih bersifat input oriented. Strategi yang demikian lebih bersandar kepada asumsi bahwa bilamana semua input pendidikan telah dipenuhi, seperti penyediaan buku-buku (materi ajar) dan alat belajar lainnya, penyediaan sarana pendidikan, pelatihan guru dan tenaga kependidikan lainnya, maka secara otomatis lembaga pendidikan (sekolah/madrasah) akan dapat menghasilkan output (keluaran) yang bermutu sebagaimana yang diharapkan. Ternyata strategi input-output yang diperkenalkan oleh teori education production function (Hanushek, 1979,1981) tidak berfungsi sepenuhnya di lembaga pendidikan (sekolah/madrasah), melainkan hanya terjadi dalam institusi ekonomi dan industri.

Kedua, pengelolaan pendidikan selama ini lebih bersifat macro-oriented, diatur oleh jajaran birokrasi di tingkat pusat. Akibatnya, banyak faktor yang diproyeksikan di tingkat makro (pusat) tidak terjadi atau tidak berjalan sebagaimana mestinya di tingkat mikro (sekolah/madrasah). Atau dengan singkat dapat dikatakan bahwa kompleksitasnya cakupan permasalahan pendidikan, seringkali tidak dapat terpikirkan secara utuh dan akurat oleh birokrasi pusat.

 

Diskusi tersebut memberikan pemahaman kepada kita bahwa pembangunan pendidikan bukan hanya terfokus pada penyediaan faktor input pendidikan tetapi juga harus lebih memperhatikan faktor proses pendidikan. Input pendidikan merupakan hal yang mutlak harus ada dalam batas-batas tertentu tetapi tidak menjadi jaminan dapat secara otomatis meningkatkan mutu pendidikan (school resources are necessary but not sufficient condition to improve student achievement). Disamping itu mengingat sekolah/madrasah sebagai unit pelaksana pendidikan formal terdepan dengan berbagai keragaman potensi anak didik yang memerlukan layanan pendidikan yang beragam, kondisi lingkungan yang berbeda satu dengan lainnya, maka sekolah/madrasah harus dinamis dan kreatif dalam melaksanakan perannya untuk mengupayakan peningkatan kualitas/mutu pendidikan. hal ini akan dapat dilaksanakan jika sekolah/madrasah dengan berbagai keragamannya itu, diberikan kepercayaan untuk mengatur dan mengurus dirinya sendiri sesuai dengan kondisi lingkungan dan kebutuhan anak didiknya. Walaupun demikian, agar mutu tetap terjaga dan agar proses peningkatan mutu tetap terkontrol, maka harus ada standar yang diatur dan disepakati secara nasional untuk dijadikan indikator evaluasi keberhasilan peningkatan mutu tersebut (adanya benchmarking). Pemikiran ini telah mendorong munculnya pendekatan baru, yakni pengelolaan peningkatan mutu pendidikan di masa mendatang harus berbasis sekolah/madrasah sebagai institusi paling depan dalam kegiatan pendidikan.Pokok bahasan dalam makalah yang berjudul “Implementasi Manajemen Mutu Terpadu Pendidikan Islam”, penulis membagi dalam kisi-kisi sebagai berikut :

  • Pengertian Mutu
  • Pengertian dan Prinsip Mutu Terpadu
  • Manfaat Program Mutu Terpadu (TQM)
  • Peranan Pemimpin dan Staf dalam Implementasi Mutu Terpadu (TQM)
  • Hambatan dalam peningkatan kualitas
  • Peningkatan Mutu Pendidikan Berbasis Madrasah

PEMBAHASAN

A.Pengertian Mutu

Dalam kerangka umum, mutu mengandung makna derajat (tingkat) keunggulan suatu produk (hasil kerja/upaya) baik berupa barang maupun jasa; baik yang tangible maupun yang intangible. Dalam konteks pendidikan pengertian mutu, dalam hal ini mengacu pada proses pendidikan dan hasil pendidikan. Dalam "proses pendidikan" yang bermutu terlibat berbagai input, seperti; bahan ajar (kognitif, afektif, atau psikomotorik), metodologi (bervariasi sesuai kemampuan guru), sarana sekolah/madrasah, dukungan administrasi dan sarana prasarana dan sumber daya lainnya serta penciptaan suasana yang kondusif. 

 

Manajemen sekolah/madrasah, dukungan kelas berfungsi mensinkronisasikan berbagai input tersebut atau mensinergikan semua komponen dalam interaksi (proses) belajar mengajar baik antara guru, siswa dan sarana pendukung di kelas maupun di luar kelas; baik konteks kurikuler maupun ekstra-kurikuler, baik dalam lingkup subtansi yang akademis maupun yang non-akademis dalam suasana yang mendukung proses pembelajaran. Mutu dalam konteks "hasil pendidikan" mengacu pada prestasi yang dicapai oleh sekolah/madrasah pada setiap kurun waktu tertentu (apakah tiap akhir semester, akhir tahun, 2 tahun atau 5 tahun, bahkan 10 tahun). Prestasi yang dicapai atau hasil pendidikan (student achievement) dapat berupa hasil test kemampuan akademis (misalnya ulangan umum, Ebta atau UAN). Dapat pula prestasi di bidang lain seperti prestasi di suatu cabang olah raga, seni atau keterampilan tambahan tertentu misalnya: komputer, beragam jenis teknik, jasa. Bahkan prestasi sekolah/madrasah dapat berupa kondisi yang tidak dapat dipegang (intangible) seperti suasana disiplin, keakraban, saling menghormati, kebersihan, dan sebagainya.Antara proses dan hasil pendidikan yang bermutu saling berhubungan. Akan tetapi agar proses yang baik itu tidak salah arah, maka mutu dalam arti hasil (ouput) harus dirumuskan lebih dahulu oleh sekolah/madrasah, dan harus jelas target yang akan dicapai untuk setiap tahun atau kurun waktu lainnya. 

 

Berbagai input dan proses harus selalu mengacu pada mutu-hasil (output) yang ingin dicapai. Dengan kata lain tanggung jawab sekolah/madrasah dalam school based quality improvement bukan hanya pada proses, tetapi tanggung jawab akhirnya adalah pada hasil yang dicapai . Untuk mengetahui hasil/prestasi yang dicapai oleh sekolah/madrasah, terutama yang menyangkut aspek kemampuan akademik atau "kognitif" dapat dilakukan benchmarking (menggunakan titik acuan standar, misalnya: NEM oleh KKG atau MGMP). Evaluasi terhadap seluruh hasil pendidikan pada tiap sekolah/madrasah baik yang sudah ada patokannya (benchmarking) maupun yang lain (kegiatan ekstra-kurikuler) dilakukan oleh individu sekolah/madrasah sebagai evaluasi diri dan dimanfaatkan untuk memperbaiki target mutu dan proses pendidikan tahun berikutnya. Dalam hal ini RAPBS harus merupakan penjabaran dari target mutu yang ingin dicapai dan skenario bagaimana mencapainya.

B.Pengertian dan Prinsip Mutu Terpadu

Mendefinisikan mutu / kualitas memerlukan pandangan yang komprehensif. Ada beberapa elemen bahwa sesuatu dikatakan berkualitas, yakni;

  1. Kualitas meliputi usaha memenuhi atau melebihi harapan pelanggan
  2. Kualitas mencakup produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan
  3. Kualitas merupakan kondisi yang selalu berubah (apa yang dianggap berkualitas saat ini mungkin dianggap kurang berkualitas pada saat yang lain)
  4. Kualitas merupakan suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan.

Mutu terpadu atau disebut juga Total Quality Management (TQM) dapat didefinisikan dari tiga kata yang dimilikinya yaitu: Total (keseluruhan), Quality (kualitas, derajat/tingkat keunggulan barang atau jasa), Management (tindakan, seni, cara menghendel, pengendalian, pengarahan). Dari ketiga kata yang dimilikinya, definisi TQM adalah: “sistem manajemen yang berorientasi pada kepuasan pelanggan (customer satisfaction) dengan kegiatan yang diupayakan benar sekali (right first time), melalui perbaikan berkesinambungan (continous improvement) dan memotivasi karyawan “ (Kid Sadgrove, 1995)

 
  1. Seperti halnya kualitas, Total Quality Management dapat diartikan sebagai berikut;Perpaduan semua fungsi dari perusahaan ke dalam falsafah holistik yang dibangun berdasarkan konsep kualitas, teamwork, produktivitas, dan pengertian serta kepuasan pelanggan (Ishikawa, 1993, p.135).
  2. Sistem manajemen yang mengangkat kualitas sebagai strategi usaha dan berorientasi pada kepuasan pelanggan dengan melibatkan seluruh anggota organisasi (Santosa, 1992, p.33).
  3. Suatu pendekatan dalam menjalankan usaha yang mencoba untuk memaksimumkan daya saing organisasi melalui perbaikan terus menerus atas produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungannya.Total Quality Approach hanya dapat dicapai dengan memperhatikan karakteristik sebagai berikut;
  1. Fokus pada pelanggan (internal & Eksternal)
  2. Memiliki obsesi tinggi terhadap kualitas
  3. Menggunakan pendekatan ilmiah dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah
  4. Memiliki komitmen jangka panjang
  5. Membutuhkan kerjasama tim (teamwork)
  6. Memperbaiki proses secara kontinu
  7. Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan
  8. Memberikan kebebasan yang terkendali
  9. Memiliki kesatuan tujuan
  10. Adanya keterlibatan dan pemberdayaan karyawan

Sedangkan tujuan sistem mutu adalah memberikan keyakinan bahwa produk atau jasa yang dihasilkan perusahaan (dapat pula disebut sebagai keluaran) memenuhi persyaratan mutu pembeli. Sistem mutu tersebut mencakup baik jaminan mutu maupun pengendalian mutu.

 

Ada beberapa tokoh yang mengemukakan prinsip-prinsip TQM. Salah satunya adalah Bill Crash, 1995, mengatakan bahwa program TQM harus mempunyai empat prinsip bila ingin sukses dalam penerapannya. Keempat prinsip tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Program TQM harus didasarkan pada kesadaran akan kualitas dan berorientasi pada kualitas dalam semua kegiatannya sepanjang program, termasuk dalam setiap proses dan produk.
  2. Program TQM harus mempunyai sifat kemanusiaan yang kuat dalam memberlakukan karyawan, mengikutsertakannya, dan memberinya inspirasi.
  3. Progran TQM harus didasarkan pada pendekatan desentralisasi yang memberikan wewenang disemua tingkat, terutama di garis depan, sehingga antusiasme keterlibatan dan tujuan bersama menjadi kenyataan.
  4. Program TQM harus diterapkan secara menyeluruh sehingga semua prinsip, kebijaksanaan, dan kebiasaan mencapai setiap sudut dan celah organisasi.

Lebih lanjut Bill Creech, 1996, menyatakan bahwa prinsip-prinsip dalam sistem TQM harus dibangun atas dasar 5 pilar sistem yaitu; Produk, Proses, Organisasi, Kepemimpinan, dan Komitmen.Lima Pilar TQM adalah :

1.PRODUK

2.PROSES

3.ORGANISASI

4.PEMIMPIN

Bambang H. Hadi Wiardjo dan Sulistijarningsih Wibisono, Memasuki Pasar Internasional Dengan ISO 9000, Sistem Manajemen Mutu, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1996), hlm.7.

 

5.KOMITMEN Produk adalah titik pusat untuk tujuan dan pencapaian organisasi. Mutu dalam produk tidak mungkin ada tanpa mutu di dalam proses. Mutu di dalam proses tidak mungkin ada tanpa organisasi yang tepat. Organisasi yang tepat tidak ada artinya tanpa pemimpin yang memadai. Komitmen yang kuat dari bawah ke atas merupakan pilar pendukung bagi semua yang lain. Setiap pilar tergantung pada keempat pilar yang lain, dan kalau salah satu lemah dengan sendirinya yang lain jga lemah.

 

C.Manfaat Program Mutu Terpadu

TQM sangat bermanfaat baik bagi pelanggan, institusi, maupun bagi staf organisasi.

Manfaat TQM bagi pelanggan adalah:

1.Sedikit atau bahkan tidak memiliki masalah dengan produk atau pelayanan.

2.Kepedulian terhadap pelanggan lebih baik atau pelanggan lebih diperhatikan.

3.Kepuasan pelanggan terjamin.

 

Manfaat TQM bagi institusi adalah:

1.Terdapat perubahan kualitas produk dan pelayanan

2.Staf lebih termotivasi

3.Produktifitas meningkat

4.Biaya turun

5.Produk cacat berkurang

6.Permasalahan dapat diselesaikan dengan cepat.

 

Manfaat TQM bagi staf Organisasi adalah:

1.Pemberdayaan

2.Lebih terlatih dan berkemampuan

3.Lebih dihargai dan diakui

Manfaat lain dari implementasi TQM yang mungkin dapat dirasakan oleh institusi di masa yang akan datang adalah:

1.Membuat institusi sebagai pemimpin (leader) dan bukan hanya sekedar pengikut (follower)

2.Membantu terciptanya tim work

3.Membuat institusi lebih sensitif terhadap kebutuhan pelanggan

4.Membuat institusi siap dan lebih mudah beradaptasi terhadap perubahan

5.Hubungan antara staf departemen yang berbeda lebih mudah

Persyaratan Implementasi TQM

Agar implementasi program TQM berjalan sesuai dengan yang diharapkan diperlukan persyaratan sebagai berikut:

1.Komitmen yang tinggi (dukungan penuh) dari menejemen puncak.

2.Mengalokasikan waktu secara penuh untuk program TQM

3.Menyiapkan dana dan mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas

4.Memilih koordinator (fasilitator) program TQM

5.Melakukan banchmarking pada perusahaan lain yang menerapkan TQM

6.Merumuskan nilai (value), visi (vision) dan misi (mission)

7.Mempersiapkan mental untuk menghadapi berbagai bentuk hambatan

8.Merencanakan mutasi program TQM.

 

 

D.Peranan Pemimpin dan Staf dalam Implementasi Mutu Terpadu (TQM)

Pemimpin berperan dalam implementasi program TQM mulai dari menetapkan tujuan hingga alokasi waktu yang cukup. Kepemimpinan organisasi yang umum digunakan dapat dibedakan dalam empat model gaya kepemimpinan yaitu: model autocrasi, model feudal, model egalitarian, model anarchic. Adapun model kepemimpinan yang sangat cocok dengan budaya TQM adalah model egalitarian, karena pada model ini seorang pemimpin memberikan kebebasan kepada karyawan untuk bekerja. Karyawan berkomunikasi ke atas dan ke bawah di dalam departemennya bahkan dapat melewati departemen yang lain. Tim antar departemen dapat dibentuk untuk menyelesaikan masalah tertentu, pada model kepemimpinan ini.Menurut pengalaman Deming dan Juran disimpulkan bahwa sistem dan menejemen lebih menentukan keberhasilan perusahaan. Namun, tanpa dukungan karyawan maka keberhasilan itu tidak akan sempurna. Kesuksesan TQM yang dapat mengenali karyawan hanya dapat mencapai hasil terbaik ketika budaya perusahan mendukung dan sistem yang jelek diperbaiki secara seksama. Implikasinya adalah menejemen harus mendorong karyawan yang berada ditingkat bawah untuk membuat keputusan mereka sendiri dan karyawan harus dipercayai dalam mengerjakan tugasnya tanpa harus dimonitor setiap gerak-geriknya. Hal ini merupakan prinsip pemberdayaan (empowerment) karyawan.

 

Sifat-sifat Agar Pelanggan Puas

Sedikitnya terdapat lima sifat layanan yang harus diwujudkan agar pelanggan puas yang meliputi

1.Reability (kepercayaan), yaitu layanan sesuai dengan yang dijanjikan

2.Assurance (keterjaminan), yaitu mampu menjamin kualitas layanan yang diberikan

3.Tangible (penampilan), yaitu iklim sekolah/madrasah yang kondusif

4.Emphaty (perhatian), yaitu memberikan perhatian penuh kepada peserta didik

5.Responsiveness (ketanggapan), yaitu tepat tanggap terhadap kebutuhan peserta didik.

 

Strategi pelaksanaan di tingkat sekolah/madrasah

Dalam rangka mengimplementasikan konsep manajemen peningkatan mutu yang berbasis sekolah/madrasah ini, maka melalui partisipasi aktif dan dinamis dari orang tua, siswa, guru dan staf lainnya termasuk institusi yang memiliki kepedulian terhadap pendidikan sekolah/madrasah harus melakukan tahapan kegiatan sebagai berikut :

  • Penyusunan basis data dan profil sekolah/madrasah lebih presentatif, akurat, valid dan secara sistimatis menyangkut berbagai aspek akademis, administratif (siswa, guru, staf), dan keuangan.
  • Melakukan evaluasi diri (self assesment) utnuk menganalisa kekuatan dan kelemahan mengenai sumber daya sekolah/madrasah, personil sekolah/madrasah, kinerja dalam mengembangkan dan mencapai target kurikulum dan hasil-hasil yang dicapai siswa berkaitan dengan aspek-aspek intelektual dan keterampilan, maupun aspek lainnya.
  • Berdasarkan analisis tersebut sekolah/madrasah harus mengidentifikasikan kebutuhan sekolah/madrasah dan merumuskan visi, misi, dan tujuan dalam rangka menyajikan nasional yang akan dicapai. Hal penting yang perlu diperhatikan sehubungan dengan identifikasi kebutuhan dan perumusan visi, misi dan tujuan adalah bagaimana siswa belajar, penyediaan sumber daya dan pengeloaan kurikulum termasuk indikator pencapaian peningkatan mutu tersebut.
  • Berangkat dari visi, misi dan tujuan peningkatan mutu tersebut sekolah/madrasah bersama-sama dengan masyarakatnya merencanakan dan menyusun program jangka panjang atau jangka pendek (tahunan termasuk anggarannnya). Program tersebut memuat sejumlah program aktivitas yang akan dilaksanakan sesuai dengan kebijakan nasional yang telah ditetapkan dan harus memperhitungkan kunci pokok dari strategi perencanaan tahun itu dan tahun-tahun yang akan datang. Perencanaan program sekolah/madrasah ini harus mencakup indikator atau target mutu apa yang akan dicapai dalam tahun tersebut sebagai proses peningkatan mutu pendidikan (misalnya kenaikan NEM rata-rata dalam prosentase tertentu, perolehan prestasi dalam bidang keterampilan, olah raga, dsb). Program sekolah/madrasah yang disusun bersama-sama antara sekolah/madrasah, orang tua dan masyarakat ini sifatnya unik dan dimungkinkan berbeda antara satu sekolah/madrasah dan sekolah/madrasah lainnya sesuai dengan pelayanan mereka untuk memenuhi kebutuhan masyarakat setempat. Karena fokus kita dalam mengimplementasian konsep manajemen ini adalah mutu siswa, maka program yang disusun harus mendukung pengembangan kurikulum dengan memperhatikan kurikulum nasional yang telah ditetapkan, langkah untuk menyampaikannya di dalam proses pembelajaran dan siapa yang akan menyampaikannya.
  • Dua aspek penting yang harus diperhatikan dalam kegiatan ini adalah kondisi alamiah total sumber daya yang tersedia dan prioritas untuk melaksankan program. Oleh karena itu, sehubungan dengan keterbatasan sumber daya dimungkinkan bahwa program tertentu lebih penting dari program lainnya dalam memenuhi kebutuhan siswa untuk belajar. Kondisi ini mendorong sekolah/madrasah untuk menentukan skala prioritas dalam melaksanakan program tersebut. Seringkali prioritas ini dikaitkan dengan pengadaan peralatan bukan kepada output pembelajaran. Oleh karena itu dalam rangka pelaksanaan konsep manajemen tersebut sekolah/madrasah harus membuat skala prioritas yang mengacu kepada program-program pembelajaran bagi siswa. Sementara persetujuan dari proses pendanaan harus bukan semata-mata berdasarkan pertimbangan keuangan melainkan harus merefleksikan kebijakan dan prioritas tersebut. Anggaran harus jelas terkait dengan program yang mendukung pencapaian target mutu. Hal ini memungkinkan terjadinya perubahan pada perencanaan sebelum sejumlah program dan pendanaan disetujui atau ditetapkan.
  • Prioritas seringkali tidak dapat dicapai dalam rangka waktu satu tahun program sekolah/madrasah, oleh karena itu sekolah/madrasah harus membuat strategi perencanaan dan pengembangan jangka panjang melalui identifikasi kunci kebijakan dan prioritas. Perencanaan jangka panjang ini dapat dinyatakan sebagai strategi pelaksanaan perencanaan yang harus memenuhi tujuan esensial, yaitu : (i) mampu mengidentifikasi perubahan pokok di sekolah/madrasah sebagai hasil dari kontribusi berbagai program sekolah/madrasah dalam periode satu tahun, dan (ii) keberadaan dan kondisi natural dari strategi perencanaan tersebut harus menyakinkan guru dan staf lain yang berkepentingan (yang seringkali merasakan tertekan karena perubahan tersebut dirasakan harus melaksanakan total dan segera) bahwa walaupun perubahan besardiperlukan dan direncanakan sesuai dengan kebutuhan pembelajaran siswa, tetapi mereka disediakan waktu yang representatif untuk melaksanakannya, sementara urutan dan logika pengembangan juga telah disesuaikan. Aspek penting dari strategi perencanaan ini adalah program dapat dikaji ulang untuk setiap periode tertentu dan perubahan mungkin saja dilakukan untuk penyesuaian program di dalam kerangka acuan perencanaan dan waktunya.
  • Melakukan monitoring dan evaluasi untuk menyakinkan apakah program yang telah direncanakan dapat dilaksanakan sesuai dengan tujuan, apakah tujuan telah tercapai, dan sejauh mana pencapaiannya. Karena fokus kita adalah mutu siswa, maka kegiatan monitoring dan evaluasi harus memenuhi kebutuhan untuk mengetahui proses dan hasil belajar siswa. Secara keseluruhan tujuan dan kegiatan monitoring dan evaluasi ini adalah untuk meneliti efektifitas dan efisiensi dari program sekolah/madrasah dan kebijakan yang terkait dalam rangka peningkatan mutu pendidikan. Seringkali evaluasi tidak selalu bermanfaat dalam kasus-kasus tertentu, oleh karenanya selain hasil evaluasi juga diperlukan informasi lain yang akan dipergunakan untuk pembuatan keputusan selanjutnya dalam perencanaan dan pelaksanaan program di masa mendatang. Demikian aktifitas tersebut terus menerus dilakukan sehingga merupakan suatu proses peningkatan mutu yang berkelanjutan.

E.Hambatan dalam peningkatan kualitas

Hal penting yang perlu diperhatian dalam mengimplementasikan TQM adalah hambatan-hambatan yang mungkin akan ditemui. Menurut Deming, ada “tujuh penyakit yang mematikan” sebagai hambatan dalam peningkatan kualitas, empat yang paling mematikan yaitu:

1.Kurang konstannya tujuan, sehingga organisasi terhambat untuk mengadopsi kualitas sebagai manajemen;

2.adanya pemikiran jangka pendek;

3.adanya evaluasi individual yang hanya dilakukan melalui skala pertimbangan atau laporan tahunan; dan

4.adanya ‘Job Hope’ (mengharapkan jabatan).

 

Deming juga mengutarakan penyebab gagalnya kualitas dalam pendidikan disebabkan oleh sumber-sumber pendidikan itu sendiri, termasuk design kurikulum, gedung sekolah/madrasah yang kurang terawat, lingkungan kerja yang buruk, system dan prosedur yang tidak sesuai, penjadwalan yang tidak memadai, kurangnya sumber-sumber yang penting dan pengembangan staf yang tidak memadai.Kegagalan TQM dapat juga diakibatkan oleh usaha pelaksanaan yang setengah hati dan harapan-harapan yang tidak realistis, ada pula beberapa kesalahan yang secara umum dilakukan pada saat organisasi memulai inisitaif perbaikan kualitas. Kesalahan-kesalahan tersebut antara lain:

1.Delegasi dan kepemimpinan yang tidak baik dari menejemen senior.

2.Team mania.

3.Proses penyebarluasan (deployment)

4.Menggunakan pendekatan yang terbatas dan dogmatis.

5.Harapan yang terlalu berlebihan6.Empowering yang bersifat premature.

 

F. Peningkatan Mutu Pendidikan berbasis Madrasah

Bervariasinya kebutuhan siswa akan belajar, beragamnya kebutuhan guru dan staff lain dalam pengembangan profesionalnya, berbedanya lingkungan sekolah/madrasah satu dengan lainnya dan ditambah dengan harapan orang tua/masyarakat akan pendidikan yang bermutu bagi anak dan tuntutan dunia usaha untuk memperoleh tenaga bermutu, berdampak kepada keharusan bagi setiap individu terutama pimpinan kelompok harus mampu merespon dan mengapresiasikan kondisi tersebut di dalam proses pengambilan keputusan. Ini memberi keyakinan bahwa di dalam proses pengambilan keputusan untuk peningkatan mutu pendidikan mungkin dapat dipergunakan berbagai teori, perspektif dan kerangka acuan (framework) dengan melibatkan berbagai kelompok masyarakat terutama yang memiliki kepedulian kepada pendidikan. Karena sekolah/madrasah berada pada pada bagian terdepan dari pada proses pendidikan, maka diskusi ini memberi konsekwensi bahwa sekolah/madrasah harus menjadi bagian utama di dalam proses pembuatan keputusan dalam rangka peningkatan mutu pendidikan. 

 

Sementara, masyarakat dituntut partisipasinya agar lebih memahami pendidikan, sedangkan pemerintah pusat berperan sebagai pendukung dalam hal menentukan kerangka dasar kebijakan pendidikan. Strategi ini berbeda dengan konsep mengenai pengelolaan sekolah/madrasah yang selama ini kita kenal. Dalam sistem lama, birokrasi pusat sangat mendominasi proses pengambilan atau pembuatan keputusan pendidikan, yang bukan hanya kebijakan bersifat makro saja tetapi lebih jauh kepada hal-hal yang bersifat mikro; Sementara sekolah/madrasah cenderung hanya melaksanakan kebijakan-kebijakan tersebut yang belum tentu sesuai dengan kebutuhan belajar siswa, lingkungan Sekolah/madrasah, dan harapan orang tua. 

 

Pengalaman menunjukkan bahwa sistem lama seringkali menimbulkan kontradiksi antara apa yang menjadi kebutuhan sekolah/madrasah dengan kebijakan yang harus dilaksanakan di dalam proses peningkatan mutu pendidikan. Fenomena pemberian kemandirian kepada sekolah/madrasah ini memperlihatkan suatu perubahan cara berpikir dari yang bersifat rasional, normatif dan pendekatan preskriptif di dalam pengambilan keputusan pandidikan kepada suatu kesadaran akan kompleksnya pengambilan keputusan di dalam sistem pendidikan dan organisasi yang mungkin tidak dapat diapresiasiakan secara utuh oleh birokrat pusat. Hal inilah yang kemudian mendorong munculnya pemikiran untuk beralih kepada konsep manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah/madrasah sebagai pendekatan baru di Indonesia, yang merupakan bagian dari desentralisasi pendidikan yang tengah dikembangkan.Manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah/madrasah merupakan alternatif baru dalam pengelolaan pendidikan yang lebih menekankan kepada kemandirian dan kreatifitas sekolah/madrasah. 

 

Konsep ini diperkenalkan oleh teori effective school yang lebih memfokuskan diri pada perbaikan proses pendidikan (Edmond, 1979). Beberapa indikator yang menunjukkan karakter dari konsep manajemen ini antara lain sebagai berikut; (i) lingkungan sekolah/madrasah yang aman dan tertib, (ii) sekolah/madrasah memilki misi dan target mutu yang ingin dicapai, (iii) sekolah/madrasah memiliki kepemimpinan yang kuat, (iv) adanya harapan yang tinggi dari personel sekolah/madrasah (kepala sekolah/madrasah, guru, dan staf lainnya termasuk siswa) untuk berprestasi, (v) adanya pengembangan staf sekolah/madrasah yang terus menerus sesuai tuntutan IPTEK, (vi) adanya pelaksanaan evaluasi yang terus menerus terhadap berbagai aspek akademik dan administratif, dan pemanfaatan hasilnya untuk penyempurnaan/perbaikan mutu, dan (vii) adanya komunikasi dan dukungan intensif dari orang tua murid/masyarakat. Pengembangan konsep manajemen ini didesain untuk meningkatkan kemampuan sekolah/madrasah dan masyarakat dalam mengelola perubahan pendidikan kaitannya dengan tujuan keseluruhan, kebijakan, strategi perencanaan, inisiatif kurikulum yang telah ditentukan oleh pemerintah dan otoritas pendidikan. 

 

Pendidikan ini menuntut adanya perubahan sikap dan tingkah laku seluruh komponen sekolah/madrasah; kepala sekolah/madrasah, guru dan tenaga/staf administrasi termasuk orang tua dan masyarakat dalam memandang, memahami, membantu sekaligus sebagai pemantau yang melaksanakan monitoring dan evaluasi dalam pengelolaan sekolah/madrasah yang bersangkutan dengan didukung oleh pengelolaan sistem informasi yang presentatif dan valid. Akhir dari semua itu ditujukan kepada keberhasilan sekolah/madrasah untuk menyiapkan pendidikan yang berkualitas/bermutu bagi masyarakat.

 

Dalam pengimplementasian konsep ini, sekolah/madrasah memiliki tanggung jawab untuk mengelola dirinya berkaitan dengan permasalahan administrasi, keuangan dan fungsi setiap personel sekolah/madrasah di dalam kerangka arah dan kebijakan yang telah dirumuskan oleh pemerintah. Bersama-sama dengan orang tua dan masyarakat, sekolah/madrasah harus membuat keputusan, mengatur skala prioritas disamping harus menyediakan lingkungan kerja yang lebih profesional bagi guru, dan meningkatkan pengetahuan dan kemampuan serta keyakinan masyarakat tentang sekolah/madrasah/pendidikan. 

 

Kepala sekolah/madrasah harus tampil sebagai koordinator dari sejumlah orang yang mewakili berbagai kelompok yang berbeda di dalam masyarakat sekolah/madrasah dan secara profesional harus terlibat dalam setiap proses perubahan di sekolah/madrasah melalui penerapan prinsip-prinsip pengelolaan kualitas total dengan menciptakan kompetisi dan penghargaan di dalam sekolah/madrasah itu sendiri maupun sekolah/madrasah lain.Ada empat hal yang terkait dengan prinsip-prinsip pengelolaan kualitas total yaitu; (i) perhatian harus ditekankan kepada proses dengan terus-menerus mengumandangkan peningkatan mutu, (ii) kualitas/mutu harus ditentukan oleh pengguna jasa sekolah/madrasah, (iii) prestasi harus diperoleh melalui pemahaman visi bukan dengan pemaksaan aturan, (iv) sekolah/madrasah harus menghasilkan siswa yang memiliki ilmu pengetahuan, keterampilan, sikap arief bijaksana, karakter, dan memiliki kematangan emosional.Sistem kompetisi tersebut akan mendorong sekolah/madrasah untuk terus meningkatkan diri, sedangkan penghargaan akan dapat memberikan motivasi dan meningkatkan kepercayaan diri setiap personel sekolah/madrasah, khususnya siswa. 

 

Jadi sekolah/madrasah harus mengontrol semua semberdaya termasuk sumber daya manusia yang ada, dan lebih lanjut harus menggunakan secara lebih efisien sumber daya tersebut untuk hal-hal yang bermanfaat bagi peningkatan mutu khususnya. Sementara itu, kebijakan makro yang dirumuskan oleh pemerintah atau otoritas pendidikan lainnya masih diperlukan dalam rangka menjamin tujuan-tujuan yang bersifat nasional dan akuntabilitas yang berlingkup nasional.

 

KESIMPULAN

Dalam rangka pelaksanaan konsep manajemen ini, strategi yang dapat dilaksanakan oleh sekolah/madrasah antara lain meliputi evaluasi diri untuk menganalisa kekuatan dan kelemahan sekolah/madrasah. Berdasarkan hasil evaluasi tersebut sekolah/madrasah bersama-sama orang tua dan masyarakat menentukan visi dan misi sekolah/madrasah dalam peningkatan mutu pendidikan atau merumuskan mutu yang diharapkan dan dilanjutkan dengan penyusunan rencana program sekolah/madrasah termasuk pembiayaannya, dengan mengacu kepada skala prioritas dan kebijakan nasional sesuai dengan kondisi sekolah/madrasah dan sumber daya yang tersedia. Dalam penyusunan program, sekolah/madrasah harus menetapkan indikator atau target mutu yang akan dicapai. Kegiatan yang tak kalah pentingnya adalah melakukan monitoring dan evaluasi program yang telah direncanakan sesuai dengan pendanaannya untuk melihat ketercapaian visi, misi dan tujuan yang telah ditetapkan sesuai dengan kebijakan nasional dan target mutu yang dicapai serta melaporkan hasilnya kepada masyarakat dan pemerintah. Hasil evaluasi (proses dan output) ini selanjutnya dapat dipergunakan sebagai masukan untuk perencanaan/penyusunan program sekolah/madrasah di masa mendatang (tahun berikutnya). Demikian terus menerus sebagai proses yang berkelanjutan.Untuk pengenalan dan menyamakan persepsi sekaligus untuk memperoleh masukan dalam rangka perbaikan konsep dan pelaksanaan manajemen ini, maka sosialisasi harus terus dilakukan. Kegiatan-kegiatan yang bersifat pilot/uji coba harus segera dilakukan untuk mengetahui kendala-kendala yang mungkin muncul di dalam pelaksanaannya untuk dicari solusinya dalam rangka mengantisipasi kemungkinan-kemungkian kendala yang muncul di masa mendatang. Harapannya dengan konsep ini, maka peningkatan mutu pendidikan akan dapat diraih oleh kita sebagai pelaksanaan dari proses pengembangan sumber daya manusia menghadapi persaingan global yang semakin ketat dan ditunjang oleh ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang secara cepat

DAFTAR PUSTAKA

Bambang H. Hadi Wiardjo dan Sulistijarningsih Wibisono, Memasuki Pasar Internasional Dengan ISO 9000, Sistem Manajemen Mutu, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1996).

 

Bendell, Tony, and Boulter, Louise, and Kelly, John, Benchmarking for Competitive Advantage, (United Kingdom: Pitman Publishing, 1993).

 

Dikmenum, Peningkatan Mutu Pendidikan Berbasis Sekolah/madrasah: Suatu Konsepsi Otonomi Sekolah/madrasah (paper kerja), (Jakarta: Depdikbud, 1999).

 

Fandy Tjiptono & Anastasia Diana, Total Quality Management, (Yogyakarta: Penerbit ANDI, 2003).

 

Karlof, Bengt and Ostblom, Svante, Benchmarking : A signpost to Excellence in Quality and Productivity, (New York, USA: John Wiley and Soons, 1994).

 

Roger,Everett M., Diffusion of Innovations, The Free Press, (New New York, USA.: 1995).

 

Semiawan, Conny R., dan Soedijarto, Mencari Strategi Pengembangan Pendidikan Nasional Menjelang Abad XXI, (Jakarta: PT. Grasindo, 1991).

 

Soegito, MM, Prof. Dr. HAT. Total Quality Management, (Semarang: UNNES, 2002).

 

Umedi, Dr., M.Ed., Manajemen Mutu Berbasis Sekolah/Madrasah (MMBS/M), (Jakarta: Pusat Kajian Mutu Pendidikan, 2004).

 

Victorian's Departement of Education, Developing School Charter: Quality Assurance in Victorian Schools, (Melbourne, Australia: Education Victoria, 1997).

 

Zulian Yamit, MSi, Manajemen Kualitas Produk Dan Jasa, (Yogyakarta: CV Adipura, 2001).

FacebookTwitterGoogle+LinkedIn

Gallery

slide3 slide2 slide1
FacebookTwitterGoogle+LinkedIn