Archive for : November, 2011

KARAKTER MUSLIM DALAM BERBICARA

Oleh: Afiful Ikhwan*

 

Seorang yang bukan muslim tidak mempunyai aturan apapun dalam berbicara. Maka ia tampak banyak berbicara, tapi kosong dalam segala hal yang diketahui dan yang tidak diketahuinya. Ia akan mengatakan segala sesuatu dengan bukti atau tidak dengan bukti. Berguna atau tidak berguna, baik atau buruk. Selain itu, seorang kafir kalau berbicata tidak memperdulikan apakah pembicaraan itu berisi dukungan kepada ahli batil dalam kebatilan atau membantah ahli haq dalam kebenarannya. Dalam berdebat ia sama sekali tidak memperhintungkan norma-norma berbicara. Ia lakukan dengan ilmu ataupun tidak, dan tujuannya berdebat bukan untuk melahirkan kebenaran. Demikian pula halnya dalam berdiskusi. Ia hanya mencari kemenangan semata.

 

Seterusnya, kalau ia berbicara ada unsur menghina dan merendahkan orang lain. Kadang-kadang ungkapannya begitu kasar, jauh dari kebenaran, fasih, banyak serampangan dan dibuat-buat. Dia tidak memperdulikan yang keluar dari lisannya; apakah keji, kecaman, kutukan atau perkataan jahat.

 

Kebiasaan lain dalam pembicaraan orang kafir ialah suka melucu dan bergurau tanpa kebenaran. Maka ia sering melucu dengan dusta. Bahkan ia sering berdusta dalam segala hal dan setiap waktu. Kalau dia ingin, dia dapat saja melakukan pembicaraan yang menghina orang, merendahkan, memperolok-olok atau membuka rahasia dan menyebarkannya. Kalau berjanji, ia tidak mesti menepatinya dan kalau bersumpah, ia tidak memperdulikan apakah sumpahnya dalam kebaikan, pelanggaran atau kedustaan. Ia biasa menyalahi janjinya, melancarkan adu domba meskipun orang yang diadu domba itu orang-orang dekatnya dan menyebarkan gosip di tengah-tengah manusia dengan tujuan membuat keonaran.


 

Seorang kafir biasanya keterlaluan dalam memuji dan mencela. Dia tidak memperdulikan pembicaraannya itu benar atau salah, mengakibatkan kebaikan atau keburukan dan menghasilkan kemanfaatan atau malah membahayakan. Intinya bagi orang kafir tidak ada norma yang mengikatkannya dalam berbicara. Memang, seorang kafir tidak melakukan semua itu. Tapi baginya tidak ada halangan untuk melakukannya.

 

Akan halnya seorang muslim sungguh sangat bertolak belakang dengan semua itu.

Prinsip pertama seorang muslim dalam berbicara ialah dia tidak akan berbicara kecuali dengan baik. Allah berfirman, “ Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh manusia memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf atau mengadakan perdamaian di antara manusia ( QS. 4 ; 114).

Rasulullah saw, bersabda: “ Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah dengan baik atau (kalau tidak dapat berkata dengan baik) diam.” (Hr. Bukhari- Muslim).

Seorang muslim tidak akan berbicara yang tidak ada artinya. Rasulullah saw. Bersabda: “ Diantara kebaikan Islamnya seseorang adalah meninggalkan apa-apa yang tidak berguna.” (Hr. Tirimidzi& Ibnu Majah)

 

Sebelum berbicara, ia terlebih dahulu menginstropeksi diri. Karena itu ia tidak akan mengeluarkan kata-kata tanpa norma, karena ia takut ancaman Rasulullah saw., “seorang laki-laki yang berkata-kata dengan kata-kata yang menyebabkan kemurkaan Allah dan apa yang dikirakannya menyampaikan dia kepadanya, maka Allah menetapkan kepadanya karena kata-kata itu sampai hari kiamat.” (Hr. Tirimidzi& Ibnu Majah)

                                                      

Jika ia melihat orang-orang yang memperolok-olok dalam kebatilan, ia akan memisahkan diri dari mereka karena melaksanakan perintah Allah, “Dan apabila kamu melihat orang memperolok-olok ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika setan menjadikan kamu lupa (akan larangan itu), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang ang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu). (QS. An-Am: 68)

“Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan orang-orang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, merela lalui saja dengan menjaga kehormatan dirinya. (QS Al-Furqon: 72)

 

Seorang muslim tidak mengandalkan perdebatan dan perbantahan. Tetapi ia lebih menekankan penjelasan kebenaran. Jika ada orang yang membantahnya maka ia menjawabnya dengan mengemukakan hujjah, kemudian selesai. Rasulullah saw bersabda, “Janganlah kamu membantah saudaramu dan jangan mengolok-ngoloknya dan jangan kamu menjanjikan suatu janji kemudian kamu tidak menepatinya.” (HR. Tirmidzi).

“Suatu kamu sesudahku tidak akan sesat kecuali mereka saling berdebat” (HR.  Tirimidzi& Ibnu Majah).

Muslim, dimanapun ia berada, tidak menyukai pertentangan dan permusuhan dengan orang lain dengan melampaui batas. Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya laki-laki yang paling dibenci Allah ialah yang paling keras pertentangannya.” (HR. Bukhari)

 

Selain itu seorang muslim tidak suka pula terlalu memperberat diri dalam berbicara, meskipun dia tidak mengurangi kefasihannya dibandingkan orang lain. Sehubungan dengan ini Nabi saw bersabda, “Orang-orang yang paling dibenci Allah dan paling jauh dari majelisku di antar kamu ialah banyak omong tanpa isi dan serampangan.” (HR. Tirmidzi)

 

Mengutuk, mencela, berkata kotor dan keji sangat dijauhi oleh seorang muslim. Karena Rasulullah saw bersabda, “Bukan orang mukmin yang suka mengutuk, mencela, berkata kotor dan keji.” (HR Ahmad).

Seroang muslim akan berdosa bila ia mengutuk, kecuali yang dibolehkan Allah. Bersenda gurau dan melucu diperbolehkan asalkan dengan benar (haq). Sehingga gurauan dan kelakarnya tidak terjerumus ke dalam kebatilan, dusta dan mengada-ngada. Rasulullah saw mengatakan kepada orang yang berbicara melucu agar orang menertawakannya, “Celakalah, celaka baginya.”

 

Seorang muslim sangat menghindari kata-kata yang dapat dipahami sebagai merendahkan dan menghina orang lain. Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-ngolok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-ngolokkan) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-ngolokkan) wanita-wanita yang lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-ngolokkan) dan jangalah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman. Dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim. (QS AL-Hujurat: 11)

“Dan jangalah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya (Qs Al-Hujurat: 12)

 

Semua rahasia akan terjamin di tangan seorang muslim. Rasulullah saw bersabda, “Jika salah seorang membicarakan satu pembicaraan yang itu rahasia, maka ia adalah amanah.” (HR. Tirmidzi, Abu Dawud & Ahmad).

Sedangkan membuka dan menyebarkan rahasia dipandang sebagai perbuatan khianat. Rasulullah saw bersabda, “Dari Abu Hurairah. Nabi saw bersabda, “Siapa yang merahasiakan cela orang lain di dunia, Allah akan menutupi cela hamba itu di hari kiamat.” (HR. Muslim)

Majelis-majelis (pembicaraan) itu adalah amanah, kecuali tiga: Pembicaraan terhadap pembunuh, penzina dan perampok.

Seorang muslim jika berjanji akan menetapinya, Allah berfirman:” Hai roang-orang beriman, tepatilah janji-janji itu… (QS. Al Maidah: 1).

Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya. (QS.  Maryam:54)

Sabda Rasulullah saw, diantara tanda munafik ialah apabila berjanji ia tidak menepatinya.

 

Seorang muslim selalu berkomitmen dengan kebenaran. Jika berbicara, berjanji dan bersumpah ia akan benar, dan hanya muslim-lah yang melestarikan kemuliaan kata-kata dan kepercayaan makhluk terhadap kata-katanya. Rasulullah saw bersabda, “ Dari Abdullah ra. Katanya: “Rasulullah saw bersabda, “Berpegang tegulah dengan berkata benar, karena benar itu membawa kebaikan dan kebaikan itu membawa ke surga; selama orang memelihara sifat benar dan menjaga kebenaran, orang itu dicatat oleh Allah sebagai orang yang benar. Dan jauhilah sifat bohong karena bohong itu membawa kejahatan dan kejahatan itu membawa ke neraka, bila seseorang berbuat dusta, ia dicatat oleh Allah sebagai pendusta” (HR. Muslim)

 

Seorang muslim sama sekali dilarang berdusta, kecuali dalam tiga tempat. Ummu kaltsum meriwayatkan sebuah hadist. “Dari Ummu Kaltsum binti ‘Uqbah ra, katanya:” Kudengar Rasulullah saw bersabda, “Bukan terhitung pendusta yang berdusta karena mengadakan ishlah antara manusia dengan perkataan yang baik dan hasil yang baik. Kata bin Syihab, “belum pernah aku dengar yang dibolehkan memakai kata dusta, kecuali pada tiga tempat: mengadakah ishlah sesama manusia, dalam peperangan dan rayuan suami kepada istrinya dan rayuan istri kepada suaminya. (HR Abu Dawud)

Dalam ketiga tempat pun, kalau kita teliti, seorang muslim akan memilih kata-kata yang tetap mengandung kebenaran.

 

Seorang muslim konsekuen tidak akan melakukan ghibah “mengumpat”. Ia tidak akan menyebut-nyebut sesuatu yang berhubungan dengan seseorang yang perkataan itu tidak disukainya kalau ia mendengar meskipun orang tersebut adalah orang kafir. Kecuali bila tidak disebutnya akan membahayakan atau sangat perlu menyebutkannya. Rasulullah saw bersabda, ‘Dari Abu Hurairah ra, katanya Rasulullah saw bersabda, “Tahukah kau apakah yang disebut ghibah?” Mereka berkata, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Rasulullah berkata, “ Ghibah itu ialah memperkatakan saudaramu padahal ia tidak suka kalau perkataan itu didengarnya.” Rasulullah saw ditanya, “Bagaimana kalau memang yang dikatakannya itu ada pada orang itu?” Jawab beliau, “Kalau memang ada itulah yang namanya ghibah dan kalau tidak ada, sesungguhnya kamu telah berbuat yang batil dan dusta.” (HR Muslim)

 

Muslim akan tetap konsekuen tidak akan menyebarkan desas-desus yang dapat membangkitkan permusuhan, menyebabkan timbulnya permusuhan atau melestarikannya. Rasululah saw bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang kerjanya membuat onar.”

Sebaliknya, seorang muslim dengan perkataannya selalu menimbulkan perbaikan di kalangan manusia. Muslim tidak akan bermuka dua, munafik dan berpura-pura. Karena itu ia tampak jelas kepribadiannya dan urusannya. Tidak menjadi orang mudzabdzah, bunglon dan hipokrit. Rasulullah saw bersabda, “BArang siapa di dunianya menjadi orang bermuka dua, maka di akhirat nanti akan diberi dua lidah dari api neraka? (HR Abu Dawud & Ad Darami)

“Kamu akan menjumpai orang yang paling buruk di hari kiamat ialah orang yang bermuka dua; yaitu yang mendatangi satu kelompok orang dengan membawa satu cerita dan ke kelompok lain dengan satu cerita lain.” (HR Ahmad)

“Dari Abu Hurairah ra katanya, Rasulullah saw bersabda, “Sejahat-jahat manusia ialah yang bermuka dia, datang ke satu kelompok dengan satu muka dan ke kelompok lain dengan muka yang lain.” (HR Muslim)

“Jihad paling utama ialah kalima t haq ( yang dikatakan langsung) di sisi pemerintah yang zhalim.” (HR Ahmad)

 

Seorang muslim tidak suka memuji orang lain didepannya. Karena hal itu menimbulkan riya’ dan menanam kesombongan di hati orang yang dipuji. Dalam satu hadist disebutkan, “Dari Abu Bakar ra. Katanya, “Seorang laki-laki memuji laki-laki lain di sisi Rasulullah saw, lalu beliau bersabda, Ah! Engkau telah memotong leher temanmu.’ Perkataan ini diulanginya beberapa kali. Kemudia Beliau bersabda, “Barangsiapa di antara kamu terpaksa memuji saudaranya hendaklah ia berkata, “Saya kira si Fulan, hanya Allah yang mengetahui dan saya tidak akan mensucikan seseorang di sisi Allah, sepanjang dugaan saya orang itu begini atau begitu; kalau mengetahui keadaan orang tersebut.” (HR Bukhari)

 

Seorang muslim benar-benar komitmen terhadap kebenaran dan keilmiahan dalam pembicaraannya. Menjauhi kesalahan, dan ia lebih dahulu menentukan bobot pembicaraan sebelum dikatakan. Rasululah saw bersabda, “Orang yang paling berani berfatwa (tanpa dasar) adalah orang yang berani masuk neraka. (HR Ad-Darami)

Dia tidak akan membicarakan satu pembicaraan yang tidak mengandung kemaslahatan kepada pendengar. Karena itu ia tidak akan menyiarkan satu topik pembicaraan yang dapat membangkitkan kemudharatan, atau yang dapat melemahkan aqidah dan prilaku. Rasulullah saw bersabda, “Janganlah kamu berbicara satu topik pembicaraan kepada kaum yang belum terjangkau oleh akal kaum tersebut, melainkan (kalai kamu membicarakannya) akan menimbulkan fitnah bagi sebagian mereka.” (HR Muslim)

 

Akhirnya, seorang yang benar-benar muslim pasti, dengan izin Allah, akan mendapat kepercayaan dari berbagai kalangan. Tidak diragukan lagi bahwa lisannya mengandung kebaikan murni dan ma’ruf yang tidak tercampur mungkar. Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu mengadakan pembicaraan rahasia, janganlah kamu membicarakan tentang membuat dosa, permusuhan dan durhaka kepada Rasul. Dan bicarakanlah tentang membuat kebajikan dan takwa. Dan bertakwalah kepada Allah yang kepada-Nya kamu akan dikembalikan.” (QS Al Mujadillah: 9)

Dengan demikian Jelaslah karakteristik muslim dalam berbicara…

*Di ambil dari Buku Al-Islam Jilid I yang ditulis oleh Sa’id Hawa. Pada halaman 429 – 438*) Penulis Mahasiswa PPs IAIN Tulungagung Semester Akhir

FacebookTwitterGoogle+LinkedIn

Perbedaan Skripsi, Tesis dan Disertasi

Secara akademik SKRIPSI, TESIS DAN DISERTASI memiliki persamaan yaitu merupakan dokumen tertulis yang merupakan tugas akhir para mahasiswa, mengikuti kaidah penulisan yang baku dan sistematis, dan menggunakan metode ilmiah yang dapat dipertanggung jawabkan di depan dosen pembimbing dan penguji.  Skripsi adalah  Tugas akhir jenjang sarjana (S1),  Tesis adalah Tugas akhir jenjang Magister (S2) sedangkan  Disertasi (S3) merupakan Tugas akhir jenjang Doktor (S3, jenjang tertinggi akademik).  Skripsi adalah tugas akhir calon sarjana dengan level sebagai peneliti pemula atau pembelajaran menjadi peneliti, dimana bobot penelitian dan ketajaman analisis paling rendah dibandingkan dengan Tesis atau Disertasi.

 


 

Namun demikian banyak pula mahasiswa yang belum mengerti perbedaan di antara  ketiganya.  Pada Skripsi, kajian deskriptif atau paparan lebih dominan dibandingkan dengan kajian analitis.  Disamping itu pada skripsi jumlah rumusan masalah biasanya sekitar 1 atau 2 rumusan masalah, sedangkan tesis biasanya minimal 3 rumusan masalah.  Kemudian untuk doktor Lebih dari 3  rumusan masalah dengan bobot ilmiah yang paling tinggi dibandingkan yang lain (Lihat Tabel 1).

Kemudian pada jenjang pasca sarjana (S2, S3) kerap pula terjadi kebingungan  ketika mahasiswa akan melakukan riset atau menulis karya ilmiah untuk tugas akhir mereka.  Kebingungan biasanya muncul ketika dosen pembimbing atau supervisor atau promotor mereka mulai menanyakan, dimana posisi penelitian mereka dalam kerangka state of the art dari studi atau disiplin yang mereka geluti.

 

Kebingungan juga terjadi pada sebagian mahasiswa doktoral, ketika supervisor atau promotornya menanyakan hal yang sama. Mungkin kita heran, bagaimana bisa seorang kandidat doktor tidak bisa membedakan tesis dan disertasi ?  Tapi ternyata memang demikian adanya, masih banyak kandidat doktor yang belum memahami apa tujuan atau filosofi penyelenggaraan pendidikan tinggi, apa filosofi sarjana, pendidikan diploma/vocational, S-2 (master/magister) dan apa filosofi pendidikan doktoral.

 

Maka tak heran, apabila banyak orang melanjutkan pendidikan formalnya baik ke jenjang magister maupun doktor, sementara mereka tidak tahu untuk apa sesungguhnya mereka melakukan itu. Katakanlah, seorang pejabat di daerah, misalnya saja seorang bupati atau walikota, atau anggota DPD, Camat atau Lurah, kemudian mereka menempuh pendidikan S-3.  Maka  ketika seseorang ingin menentukan topik disertasi, maka ia harus benar-benar paham state of the art dari disiplin ilmu yang ia geluti,  agar dengan disertasinya nanti ia dapat memberi kontribusi bagi pengembangan ilmunya tersebut, karena memang demikianlah seyogianya tugas seorang kandidat doktor. Sebagai konsekuensinya tentu ia harus membaca secara lengkap, text book dasar dan advance tentang disiplin ilmunya, serta membaca ratusan jurnal terbaru tentang disiplin ilmunya, sehingga ia memiliki peta yang jelas dan benar tentang perkembangan disiplin ilmunya.

 

Bagi mereka, karena pemahamannya yang belum benar tentang filosofi penyelenggaraan pendidikan pascasarjana, membuat disertasi tidak ubahnya membuat skripsi sebagaimana yang pernah mereka lakukan dahulu (mungkin sudah puluhan atau belasan tahun yang lalu).  Maka tak heran apabila sangat sedikit karya ilmiah ilmuwan Indonesia yang dijadikan rujukan oleh komunitas ilmuwan dunia.

 

Tulisan ini akan memberikan sedikit pemahaman tentang apa sebenarnya tesis dan disertasi itu ? sehingga apabila seseorang memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang pascasarjana, tidak bersikap asal-asalan atau “tanggung”. Dengan memahami apa itu tesis dan disertasi, serta apa perbedaannya dengan skripsi maka diharapkan akan lahir tesis-tesis atau disertasi-disertasi dari para pelajar Indonesia yang lebih mencerahkan lagi.

 

Perbedaan Tesis & Disertasi

Berikut adalah pendapat mengenai  perbedaan tesis dan disertasi. Menurut salah satu pendapat Master’s Thesis adalah : You do a thorough research on a particular topic and present your discourse depending on what type of information you have collected on the subject with your views on it. Sementara PhD Thesis Dissertation: It requires your original research and adds something new to the existing literature. It usually takes many years to complete it.

 

Pendapat lain adalah bahwa kedua istilah itu dapat digunakan atau menggantikan satu dengan yang lainnya ( interchangeable.) Both are written discourses on a given subject. Thesis implies that original research is involved. Dissertation implies that you have looked into something and are setting down what you have found and are perhaps including your thoughts on it. Thus a Thesis is what you will write to obtain a higher degree, but a dissertation is more likely to be a small part of a first degree.

 

Yang lainnya: Dissertation and thesis are both used interchangeably. But they are not the same. For dissertations, one just has to collect matter from different reference materials and include ones opinions and arguments on it. But a thesis is much more than that. A thesis needs to be original research that one undertakes, though one is free to refer materials for that too.  This differentiation is used by universities around the world. In the US, a dissertation is the submission for the entire course while the thesis is for applying to masters program. In the UK, a thesis is for applying to M.Phil or Ph.D/doctoral degree while the dissertation is for some undergraduate project reports. Both types of academia based submissions require the students to extract data from all the reference material they have gathered and organize them into a neatly typed report. The typing work may take up a lot of time, if the student chooses to do it by himself. But to save time and utilize the time saved for more of research, it is advisable for students to go for Dissertation Transcription.

 

Terakhir: If you want to know more about dissertations and theses, you chose the right site. This article tells you about the main difference between a dissertation and thesis, which you should take into consideration.

 

Dissertations and theses are two types of academic writings, which should be performed by students in order to get a degree, and here is one main difference between a dissertation and thesis. A dissertation is a work, which should be performed in order to get a doctoral degree, and a thesis is a kind of work, which should be written by a student in order to get a master’s degree.

Different types of degrees require different academic writings: dissertations and theses are just for this. You should clearly understand the difference before you start writing a dissertation or thesis.

 

Dissertations and theses also differ in their manner of preparation. When you write your thesis project, it is possible to use someone’s research – you may study it and prove with some theoretical data, and as for a dissertation, it is necessary to make your own research. Only your research, based on your background knowledge, can be appropriate. So, try to be careful and attentive.

As you can see, it is impossible to say that a dissertation and thesis are synonyms from all sides. We can even say that one of these two notions stands a bit higher, it is a dissertation, and a thesis takes the lower rang.

The structure of dissertations and theses is the same: introductory, literary review, main body, conclusion, bibliography, and appendix. Well, may be it is necessary to put more efforts into writing a good dissertation, and a thesis can be an additional variant, which will take not much efforts, but still give you a chance to get a degree.

It is up to you what you choose: dissertation or thesis writing, now you know the differences and you are ready to make a choice.

 

Jadi dari kutipan diatas terlihat bahwa tesis adalah penelitian mendalam,  yang sungguh-sungguh dilakukan dengan proses  yang berasal dari berbagai informasi dan data yang dikumpulkan.   Tesis berangkat dari suatu masalah dan bagaimana kita menyelesaikan suatu masalah tersebut dengan menggunakan pandangan dan analisis  mendalam  kita  berdasarkan ilmu, teori, puluhan jurnal yang kita pahami dan berbagai data yang kita miliki.  Sedangkan Disertasi lebih dari sekedar penelitian mendalam.  Disertasi membutuhkan originalitas ide dan melakukan penelitian sesuatu yang baru, berdasarkan puluhan bahkan ratusan makalah dan jurnal yang telah dibaca dan dipahami.  Disertasi bukan belajar penelitian, bukan hanya mendalami penelitian, tetapi lebih dari itu,  menciptakan suatu ide yang baru, menciptakan atau mengembangkan teori yang baru dalam rangka melakukan sesuatu yang bermanfaat guna mensejahterakan umat manusia dan ini butuh waktu bertahun-tahun.  Disertasi sebaiknya dilakukan berasal dari pengembangan tesis yang telah ia lakukan sebelumnya.

Berikut adalah table yang menunjukkan perbedaan antara Skripsi, Tesis dan Disertasi, sehingga lebih memudahkan pembaca untuk membaca “peta kekuatan” ketiga jenis tugas akhir ini.

Tabel 1.  Perbedaan Umum antara Skripsi, Tesis dan Disertasi

No

Aspek

Skripsi

Tesis

Disertasi

1

Jenjang

S1

S2

S3 (tertinggi)

2

Permasalahan

Dapat diangkat dari pengalaman empirik, tidak mendalam

Diangkat dari pengalaman empirik, dan teoritik, bersifat  mendalam

Diangkat dari kajian teoritik yang didukung fakta empirik, bersifat sangat mendalam

3

Kemandirian penulis

60% peran penulis, 40% pembimbing

80% peran penulis, 20% pembimbing

90% peran penulis, 10% pembimbing

4

Bobot Ilmiah

Rendah – sedang

Sedang – tinggi.  Pendalaman / pengembangan terhadap teori dan penelitian yang ada

Tinggi, Tertinggi dibidang akademik.   Diwajibkan mencari terobosan dan teori baru dalam bidang ilmu pengetahuan

5

Pemaparan

Dominan deskriptif

Deskriptif dan Analitis

Dominan analitis

6

Model Analisis

Rendah – sedang

Sedang – tinggi

Tinggi

7

Jumlah rumusan masalah

Sekitar 1-2

Minimal 3

Lebih dari 3

8

Metode / Uji statistik

Biasanya  memakai uji Kualitatif / Uji deskriptif, Uji statistik parametrik (uji 1 pihak, 2 pihak), atau Statistik non parametrik (test binomial, Chi kuadrat, run test), uji hipotesis komparatif, uji hipotesis asosiatif, Korelasi, Regresi, Uji beda, Uji Chi Square, dll

Biasanya memakai uji Kualitatif  lanjut  /  regresi ganda, atau korelasi ganda, mulitivariate, multivariate lanjutan (regresi dummy, data panel, persamaan simultan, regresi logistic, Log linier analisis,  ekonometrika static & dinamik, time series ekonometrik) Path analysis, SEM

Sama dengan tesis dengan metode lebih kompleks, berbobot yang bertujuan mencari terobosan dan teori baru dalam bidang ilmu pengetahuan

9

Jenjang Pembimbing / Penguji

Minimal Magister

Minimal Doktor dan Magister yang berpengalaman

Minimal Profesor dan Doktor  yang berpengalaman

10

Orisinalitas penelitian

Bisa replika penelitian orang lain, tempat kasus berbeda

Mengutamakan orisinalitas

Harus orisinil

11

Penemuan hal-hal yang baru

Tidak harus

Diutamakan

Diharuskan

12

Publikasi hasil penelitian

Kampus Internal dan disarankan nasional

Minimal Nasional

Nasional dan Internasional

13

Jumlah rujukan / daftar pustaka

Minimal 20

Minimal 40

Minimal 60

14

Metode / Program statistik yang biasa digunakan

Kualitatif / Manual, Excel, SPSS dll

Kualitatif lanjut / SPSS, Eview, Lisrel, Amos dll

Kualitatif lanjut / SPSS, Eview, Lisrel, Amos dll

 

Sumber :  Agung Wahyudi Biantoro,  Metode Penelitian Ekonomi Islam, 2009, diolah

Demikian perbedaan skripsi, tesis dan Disertasi.  Semoga bermanfaat bagi kita semua. Amieen.

FacebookTwitterGoogle+LinkedIn

Sejarah Pendidikan Islam Masa Bani Abbasiyah

 

Oleh: Afiful Ikhwan*

 

 

Masa pemerintahan Daulah Abbasiyah merupakan kejayaan islam dalam berbagai bidang, khususnya bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Pada zaman itu umat islam telah banyak melakukan kajian kritis tentang ilmu pengetahuan, sehingga ilmu pengetahuan baik aqli (rasional) ataupun yang naqli mengalami kemajuan dengan pesatnya. Pada zaman pemerintahan daulah abbasiyah, proses pengalihan ilmu pengetahuan dilakukan dengan cara penterjemahan berbagai buku karangan bangsa-bangsa terdahulu, seperti buku-buku karya bangsa-bangsa yunani, romawi, dan Persia, serta sumber dari berbagai naskah yang ada dikawasan timur tengah dan afrika, seperti Mesopotamia dan mesir.

Gerakan membangun ilmu secara besar-besaran dirintis oleh khalifah ja`far al Mansur, setelah ia mendirikan kota Baghdad (144 H/ 762 M) dan menjadikannya sebagai ibu kota Negara. Ia menarik banyak ulama dan para ahli diberbagai daerah untuk tinggal di Baghdad. Ia merangsang usaha pembukuan ilmu agama seperti fiqh, tafsir, tauhid atau ilmu-ilmu lain seperti bahasa dan ilmu sejarah. Akan tetapi yang lebih mendapat perhatian adalah penerjemahan ilmu yang berasal dari luar.[1]  Namun begitu secara garis besar perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mencapai puncak kejayaan pada masa Harun al Rasyid dan putranya al Makmun.

Di antara banyak ahli yang berperan dalam proses perkembangan ilmu pengetahuan adalah kelompok Mawali, seperti orang-orang Persia. Pada masa itu, pusat-pusat kajian ilmiah bertempat dimasjid-masjid, misalnya masjid basrah. Di masjid ini terdapat kelompok study yang disebut halaqat al jadl, halaqat al fiqh, halaqat at tafsir wal hadits, halaqat al riyadiyat, halaqat lil syi`ri wal adab, dan lain sebagainya. Banyak orang dari berbagai suku bangsa yang dating kepertemuan itu, dengan demikian berkembanglah kebudayaan dan ilmu pengetahuan dalam islam.


 

 

  1. Kemajuan Ilmu Agama Pada Masa Bani Abbas

Dibidang ilmu-ilmu agama, era abbasiyah mencatat dimulainya sistemasi beberapa cabang keilmuan seperti Tafsir, Hadits, dan Fiqh. Khususnya sejak tahun 143 H. para ulama mulai menyusun buku dalam bentuknya yang sistematis baik dibidang ilmu tafsir, hadits, maupun ilmu fiqh.[2]

Diantara ulama tersebut yang terkenal adalah ibnu juraij (w.150 H) yang menulis kumpulan hadisnya dimekah, Malik Ibn Anas (w.171 H) yang menulis al muwatta` nya di madinah, Al Awza`I di wilayah syam, Ibn Abi Urubah dan Hammad Ibn salamah di Basrah, Ma`mar di Yaman, Sufyan Al Tsauri di kufah, Muhamad Ibn Ishaq (w.175 H) yang menulis buku sejarah (Al Maghazi) Al Layts Ibn Sa`ad (w.175 H) serta Abu Hanifah.

Ilmu naqli adalah ilmu yang bersumber dari Naqli (Al Quran dan Hadits), yaitu ilmu yang berhubungan dengan agama Islam.[3] Ilmu-ilmu itu diantaranya :

  1. Ilmu Tafsir

Al Quran adalah sumber utama dalam agama islam. oleh karena itu semua perilaku umat islam harus berdasarkan kepadanya, hanya saja tidak semua bangsa Arab memahami arti yang terkandung di dalamnya. Maka bangunlah para sahabat untuk menafsirkan.

Ada dua cara penafsiran, yaitu : yang pertama, tafsir bi al ma`tsur, yaitu penafsiran Al Quran berdasarkan sanad meliputi Al Quran dengan Al Quran, Al Quran dengan AL Hadits. Yang kedua, tafsir bi ar ra`yi, yaitu penafsiran Al Quran dengan mempergunakan akal dengan memperluas pemahaman yang terkandung didalamnya.

Ahli tafsir bi al ma`tsur dipelopori oleh As Subdi (w.127 H), Muqatil bin Sulaiman (w.150 H), dan Muhamad Ishaq. Sedangkan tafsir bi ar ra`yi banyak dipelopori oleh golongan Mu`tazilah. Mereka yang terkenal antara lain Abu Bakar al Asham (w.240 H), Abu Muslim al Asfahani (w.522 H) dan Ibnu Jarwi al Asadi (w.387 H).[4]

  1. Ilmu Hadits

Hadis adalah sumber hukum islam yang kedua setelah Al Quran. Karena kedudukannya itu, maka setiap muslim selalu berusaha untuk menjaga dan melestarikannya. Pada masa Abbasiyah, kegiatan pengkodifikasian/ pembukuan Hadits dilakukan dengan giat sebagai kelanjutan dari usaha para ulama sebelumnya. Sejarah penulisan hadis-hadis Nabi memunculkan tokoh-tokoh seperti Ibn Juraij, Malik ibn Anas, juga Rabi` ibn Sabib (w.160 H) dan ibn Al Mubarak (w.181 H).

Selanjutnya pada awal-awal abad ketiga, muncul kecenderungan baru penulisan hadits Nabi dalam bentuk musnad. Di antara tokoh yang menulis musnad, antara lain Ahmad ibn Hanbal, ~Ubaydullah ibn Musa al `Absy al Kufi, Musaddad ibn Musarhad al Basri, Asad ibn Musa al Amawi dan Nu’aim ibn Hammad al Khuza’I, perkembangan penulisan hadits berikutnya, masih pada era Abbasiyah, yaitu mulai pada pertengahan abad ketiga, muncul ternd baru yang bisa dikatakan sebagai generasi terbaik sejarah penulisan Hadits, yaitu munculnya kecenderungan penulisan Hadits yang di dahului oleh tahapan penelitian dan pemisahan hadits-hadits sahih dari yang dha’if sebagaimana dilakukan oleh al Bukhari (w.256 H), Muslim (w.261 H), Ibn Majah (w.273 H), Abu Dawud (w.275 H), Al Tirmidzi (w.279 H), serta Al Nasa’I (w.303 H), yang karya-karya haditsnya dikenal dengan sebutan kutubu al sittah.

  1. Ilmu Fiqh

Ilmu fiqh pada zaman ini juga mencatat sejarah penting, dimana para tokoh yang disebut sebagai empat imam mazhab fiqh hidup pada era tersebut, yaitu Abu Hanifah (w.150 H), Malik ibn Anas (w.179 H), Al Shafi’I (w.204 H), dan Ahmad ibn Hanbal (w.241 H). dari sini memunculkan dua aliran yang berbeda dalam metode pengambilan hukum, yaitu ahli Hadits dan ahli Ra`yi. Ahli hadits dalam pengambilan hukum, metode yang dipakai adalah mengutamakan hadits-hadits nabi sebagai rujukan dalam istinbat al ahkam. Pemuka aliran ini adalah Imam Malik dengan pengikutnya, pengikut imam Syafi’I, pengikut Sufyan, dan pengikut Imam Hanbali. Sedangkan ahli ra’yi adalah aliran yang memepergunakan akal dan fikiran dalam menggali hukum. Pemuka aliran ini adalah Abu Hanifah dan teman-temannya fuqaha dari Iraq.

  1. Ilmu Tasawuf

Ilmu tasawuf yaitu ilmu syariat. Inti ajarannya ialah tekun beribadah dengan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, meninggalkan atau menjauhkan diri dari kesenangan dan perhiasan dunia.[5] Dalam sejarahnya sebelum muncul aliran Tasawuf, terlebih dulu muncul aliran Zuhud. Aliran ini muncul pada akhir abad I dan permulaan abad II H, sebagai reaksi terhadap hidup mewah khalifah dan keluarga serta pembesar-pembesar Negara sebagai akibat kejayaan yang diperoleh setelah islam meluas ke Syria, mesir, Mesopotamia, dan Persia. Aliran zuhud mulai nyata kelihatan di kufah. Sedangkan dibasrah sebagai kota yang tenggelam atas kemewahan, aliran zuhud mengambil corak yang lebih ekstrim. Zahid yang terkenal disini adalah Hasan al Bisri dan Rabi’ah al Adawiyah.

Bersamaan dengan lahirnya ilmu tasawuf muncul pula ahli-ahli dan ulama-ulamanya, antara lain adalah al Qusyairy (w.465 H), kitab beliau yang terkenal adalah ar risalatul Qusy Airiyah; Syahabuddari, yaitu abu Hafas Umar ibn Muhammad Syahabuddari Sahrowardy (w.632 H), kitab karangannya adalah Awwariffu Ma’arif; Imam Ghazali (w.502 H), kitab karangannya antara lain : al Basith, Maqasidul, mFalsafah, al Manqizu Minad Dhalal, Ihya Ulumuddin, Bidajatul Hidayah, Jawahirul Quran, dan lainsebagainya.

  1. Ilmu Bahasa

Pada masa bani Abbasiyah, ilmu bahasa tumbuh dan berkembang dengan suburnya, karena bahasa Arab semakin dewasa dan menjadi bahasa internasional. Ilmu bahasa memerlukan suatu ilmu yang menyeluruh, yang dimaksud ilmu bahasa adalah : nahwu, sharafi, ma’ani, bayan, bad’arudh, qamus, dan insya’.

Di antara ulama yang termasyhur adalah :

  1. Sibawaihi (w.153 H).
  1. Muaz al Harro (w.187 H), mula-mula membuat tashrif.
  1. Al Kasai (w.190 H), pengarang kitab tata bahasa
  1. Abu Usman al Maziny (w.249 H), karangannya banyak tentang nahwu.[6]

 

  1. Kemajuan Filsafat Pada Masa Bani Abbasiyah

Banyak golongan pemikir lahir pada zaman ini, banyak diantara mereka bukan islam dan bukan arab muslim. Mereka ini memainkan peranan yang penting dalam menterjemahkan dan mengembangkan karya kesusastraan yunani dan hindu, dan ilmu zaman pra islam kepada mmasyarakat Kristen eropa. Penerjemahan buku-buku yunani adalah salah satu factor dalam gerakan intelektual ytang dibangkitkan dalam dunia islam abad ke 9, dan terus berlanjut sampai abad ke 12. Memang ada juga terjemahan-terjemahan lain, terutama buku-buku india yang sebelumnya diterjemahkan dalam bahasa pahlevi.[7] Tetapi rangsangan awal berasal dari bahasa yunani.[8] Sumbangan mereka ini menyebabkan seorang ahli filsafat yunani yaitu aristoteles terkenal di eropa.

Namun penting untuk memandang pengaruh yunani dalam perspektif yang benar. Setelah kitab-kitab filsafat yunani diterjemahkan kedalam bahasa arab pada masa pemerintahan khalifah Harun al Rasyid dan Al Ma’mun, kaum muslimin sibuk mempelajari ilmu filsafat, bahkan menafsirkan dan mengadakan perubahan serta perbaikan sesuai dengan ajaran islam. oleh sebab itu, lahirlah filsafat islam yang akhirnya menjadi bintangnya dunia filsafat.

Bagi orang arab, filsafat merupakan pengetahuan tentang kebenaran dalam arti yang sebenarnya, sejauh hal itu bisa dipahami oleh pikiran manusia secara khusus, nuansa filsafat mereka berasal dari nuansa tradisi filsafat yunani, yang di modifikasi dengan pemikiran para penduduk diwilayah taklukan, serta pengaruh-pengaruh timur lainya, yang disaesuaikan dengan nilai-nilai islam, dan diungkapkan dengan bahasa Arab.

Filosof pertama adalah Al Kindi atau Abu Yusuf Ibn Ishaq, ia memperoleh gelar “filosof bangsa arab”, dan ia memang merupakan representasi pertama dan yang terakhir dari murid Aristoteles di dunia timur yang murni keturunan Arab. System pemikirannya beraliran ekletisisme, namun al Kindi menggunakan pola Neo Platonis untuk menggabungkan pemikiran Plato dan Aristoteles, serta menjadikan matematika Neo Phytagoren sebagai landasan ilmu.[9]

Proyek harmonisasi antara filsafat yunani dengan islam, yang dimulai oleh al Kindi, seorang keturunan Arab, beliau menganut aliran Mu’tazilah dan kemudian belajar filsafat. Al Nadim dan al Dafthi menyebutkan karangan al Kindi sebanyak 238 buah yang berisi filsafat, logika, ilmu hitung, astronomi, kedokteran, ilmu jiwa, ilmu politik, optic, ilmu matematika, dan lain sebagainya. Kemudian dilanjutkan oleh al Farabi, seorang keturunan Suriah. Di samping sejumlah komentar terhadap Aristoteles dan filosof yunani lainnya, al Farabi juga menulis berbagai karya tentang psikologi, politik, dan metafisika. Salah satu karya terbaiknya adalah Risalah Fushsush al Hakim (Risalah Mutiara Hikmah) dan Risalah fi Ara Ahl al Madinah al Fadhilah (Risalah tentang pendapat penduduk kota ideal)

 

  1. Kemajuan Sains Pada Masa Bani Abbasiyah

Kemajuan yang dicapai oleh umat islam di era Abbasiyah tidak hanya terbatas pada ilmu-ilmu agama dan filsafat, melainkan juga disertai dengan kemajuan ilmu-ilmu sains. Bahkan jika dicermati, kemajuan sains di dunia islam mendahului perkembangan ilmu filsafat yang juga berkembang pesat di era abbasiyah. Hal ini bisa jadi buah dari kecenderungan bangsa arab saat itu yang lebih mengutamakan penerjemahan buku-buku sains yang memiliki implikasi kemanfaatan secara langsung bagi kehidupan mereka (dzat al atsar al maddi fi hayatihim) di banding buku-buku olah piker (filsafat).

Kemajuan yang dicapai pada era ini telah banyak memberikan sumbangan besar kepada peradaban manusia modern dan sejarah ilmu pengetahuan masa kini. Dalam bidang matematika misalnya, ada Ibn Muhammad Musa al Khawarizmi, swang pencetus ilmu algebra. Algoritma, salah satu cabang matematika bahkan juga di ambil dari namanya.

Astronomi juga merupakan ilmu yang mendapat perhatian besar dari kaum muslimin era abbasiyah yang di dukung langsung oleh khalifah Al Mansur yang juga sering disebut sebagai astronom. Penelitian dibidang astronomi oleh kaum muslimin di mulai pada era Al Mansur ketika Muhamad Ibn Ibrahim al fazari menerjemahkan buku “siddhanta” (yang berarti pengetahuan melalui matahari) dari bahasa sanskerta ke dalam bahasa Arab.

Seorang ahli astronomi lainnya yang terkenal pada masa itu adalah Abu al Abbas Ahmad al Farghani dari Farghana Transoxiana, karya utama al Farghani adalah, al Mudkhil ila Ha ‘ilm Haya’ah Al Aflak diterjemahkan dalam bahasa latin oleh john dari Seville dan Gerard dari Cremona. Dalam versi bahasa Arab, buku itu ditemukan dengan judul yang berbeda. Abu Abdullah Muhammad Ibn Jabir al Battani, seorang sabi’in dari Harran, dan seorang ahli astronomi bangsa saba yang terbesar pada masanya, bahkan yang terbesar pada masa islam, telah melakukan berbagai observes dan kajian raqqah. Al Battani adalah seorang peneliti kawakan. Ia mengoreksi beberapa kesimpulan ptolemius dalam karya-karyanya, dan memperbaiki perhitungan orbit bulan. Juga beberapa planet, ia membuktikan kemungkinan terjadinya gerhana matahari cincin. Menentukan sudut ekliptik bumi dengan tingkat keakuratan yang lebih besar, dan mengemukakan berbagai teori orisinal kemungkinan munculnya bulan baru.[10]

Pada era harun al Rasyid dan al Makmun, sejumlah teori-teori astronomi kuno dari yunani direvisi dan dikembangkan lebih lanjut. Tokoh astronom muslim yang terkenal pada masa era abbasiyah antara lain Al Khawarizmi, Ibn Jabir al Battani (w.929 H), Abu Rayhan al Biruni (w.1048 H), serta Nasir al Din al Tusi (w.1274 H)

Sedangkan ilmu fisika telah dikembangkan oleh Ibn al Haytsam atau yang dikenal dibarat dengan sebutan Alhazen. Beliau pula yang mengembangkan teori-teori awal metodologi sains ilmiah melalui eksperimen. Untuk itu beliau diberi gelar sebagai the real founder of physics, Ibn al Haytsam juga dikenal sebagai bapak ilmu optic, serta penemu teori tentang fenomena pelangi dan gerhana.

Di bidang ilmu kimia di era abbasiyah mengenal nama-nama semisal Jabir ibn Hayyan (atau geber di barat) yang menjadi pioneer ilmu kimia modern. Selain itu ada Abu Bakr Zakariya al Razy yang pertama kali mampu menjelaskan pembuatan asam garam (sulphuric acid) dan alcohol. Dari para pakar kimia muslim inilah sejumlah ilmuwan barat seperti Roger Bacon yang memperkenalkan metode empiris ke eropa dan Isaac Newton banyak belajar.

Dalam bidang kedokteran muncul tokoh-tokoh seperti Al Kindi yang pertamakali mendemontrasikan penggunaan ilmu hitung dan matematika dalam dunia medis dan farmakologi. Atau ada juga Al Razi yang menemukan penyakit cacar (smallpox). Al Khawarizmi, Ibnu Sina dan Lain-lain. Disebutkan pula, sebagai bukti lain yang menggambarkan kemajuan ilmu kedokteran era Abbasiyah, bahwa pada zaman khalifah Al Muqtadir Billah (907-932 M/295-390 H) terdapat sekitar 860 orang yang berprofesi sebagai dokter.

Di samping itu kemajuan beberapa disiplin ilmu sains sebagaimana yang telah dipaparkan di atas, umat islam era abbasiyah juga mengalami kemajuan ilmu dibidang ilmu lainnya seperti biologi, geografi, arsitektur, dan lainnya yang tidak penulis jelaskan seluruhnya dalam makalah ini. Hal ini bisa menjadi bukti bahwa sains pada era abbasiyah memang begitu berkembang meskipun mulai periode kedua sudah mulai mengalami kemunduran, khususnya dalam bidang politik dan kekhilafahan.

Era keemasan bani abbasiyah juga mencatat penemuan-penemuan dan inovasi penting yang sangat berarti bagi manusia. Salah satu di antaranya adalah pengembangan teknologi pembuatan kertas. Kertas yang pertama kali ditemukan dan digunakan dengan sangat terbatas oleh bangsa cina berhasil dikembangkan oleh umat muslim era abbasiyah, setelah teknologi pembuatannya dipelajari melalui para tawanan perang dari cina yang berhasil di tangkap setelah meletusnya perang talas.[11] Setelah itu kaum muslim berhasil mengembangkan teknologi pembuatan kertas tersebut dan mendirikan pabrik kertas di Samarkand dan Baghdad. Hingga pada tahun 900 M di Baghdad terdapat ratusan percetakan yang mempekerjakan para tukang tulis dan penjilid buku untuk membuat buku. Perpustakaan-perpustakaan umum saat itu mulai bermunculan. Dari Baghdad teknologi pembuatan kertas kemudian menyebar hingga fez dan akhirnya masuk ke eropa melalui Andalusia pada abad ke 13 M.

 

 

*) Penulis adalah mahasiswa PPs Strata 2 IAIN Tulungagung

 

 


[1] Musripah, Susanto, Sejarah Islam Klasik, (Jakarta) : Kencana, 2002), hlm. 57-58

[2] Muhammad Sahrul Murajjab, “Peradaban Emas Bani Abbasiyah: Kajian Ringkas” dalam http;//www.inpansonline.com/index.php?option=com_content&view=article&id=371;peradaban-emas-dinasti-abbasiyah-kajian-ringkas&catid=28;sejarah-peradaban-islam&ltemid=97.

[3] Kutilang “Masa Keemasan Islam Bani Abbasiyah” dalam http;//one.indoskripsi.com/judul-skripsi-makalah-tentang-/masa-keemasan-islam-bani-abbasiyah.

[4] Faksain M Fa`al, Sejarah Kekuasaan Islam, (Jakarta : Artha Rivera,         ), hlm. 70-71

[5] Hitsuke, “Pembangunan daulah Bani Abbas”  dalam http;//hitsuke.blogspot.com/2011/01/daulah-abbasiyah.html

[6] Kutilang, “Masa Keemasan Islam Bani Abbasiyah”…

[7] Bahasa kerajaan Sasania

[8] W. Montgomery Watt, Kejayaan Islam…,hlm. 139

[9] Yanwar, “Bani Abassiyah”  dalam http;//one.indoskripsi.com/judul-skripsi-tugas-makalah-sejarah-peradaban-islam/bani-abbasiyah.

[10] Ibid…

[11] Perang talas adalah peperangan yang terjadi pada bulan juli tahun751 m.

FacebookTwitterGoogle+LinkedIn

ISLAM DAN PERADABAN

 

Oleh: Afiful Ikhwan*

 

 

A.  Perkembangan Islam

Di dalam perkembangan kebudayaan dan peradaban Islam, tujuan akhir dari berbagai keilmuan harus dilihat dan didasarkan pada al-Qur’an al-Karim, kitab suci umat Islam. Pada dasarnya, kebudayaan Islam dengan arsitektur Islam sebagai salah satu bagiannya, merupakan “budaya Qur’ani”. Karenanya, baik definisi, struktur, tujuan maupun metode untuk mencapai tujuan tersebut secara keseluruhan diambil darinya.

Dari al-Qur’an yang menjadi tuntunan, panduan hidup dan sumber keilmuan bagi umat Nabi Muhammad ini, seorang muslim tidak hanya mengambil pengetahuan mengenai Realitas Ultima. Secara mendasar, prinsip-prinsip yang diambil dari al-Qur’an juga mencakup tentang alam, manusia, dan makhluk hidup lainnya. Berbagai ilmu pengetahuan juga tercantum dalam al-Qur’an, baik secara implisit maupun eksplisit di berbagai institusi sosial, politik serta ekonomi yang diperlukan untuk menjalankan masyarakat yang sehat, sehingga al-Qur’an diperlukan di setiap pengetahuan dan aktivitas manusia, termasuk juga di bidang keilmuan arsitektur. Di dalam kitab itu, prinsip-prinsip dasar sudah disediakan bagi pembentukan sebuah kebudayaan yang lengkap.[1]

Membangun kembali peradaban Islam dimulai dari pembangunan ilmu pengetahuan Islam karena pada dasarnya peradaban dibangun dari ilmu pengetahuan. Maka yang harus dibangun adalah ilmu pengetahuan Islam. Dengan menguasainya, akan memungkinkan seseorang dapat memberikan respons terhadap masalah kehidupan yang terjadi disekitarnya, dan akan mempengaruhi corak perilaku sebagai respons terhadap apa yang dihadapi.


 

Ilmu pengetahuan, dari berbagai konsep yang diperoleh seseorang akan membentuk totalitas konsep yang saling terkait dalam satu jaringan struktur berpikir yang disebut architectonic whole atau suatu keseluruhan yang saling berhubungan. Inilah yang melahirkan pandangan hidup (worldview) seseorang. Di samping dipengaruhi oleh ilmu pengetahuannya, terbentuk beberapa saat setelah terjadi saling berhubungan antara berbagai konsep pengetahuan yang telah diperoleh. Pandangan seperti itu juga sering disebut sebagai natural worldview. Pada sisi lain, melalui kerangka konsep ilmiah atau kegiatan keilmuan, diharapkan lahir pengetahuan ilmiah untuk memunculkan pandangan hidup ilmiah (scientific worldview).

Pemosisian ilmu pengetahuan dalam membentuk peradaban suatu bangsa atau agama, menurut Ibnu Khaldun adalah pada peran ilmu pengetahuan tersebut. Peradaban hanya akan terwujud apabila ilmu pengetahuan berkembang. Maju mundurnya peradaban suatu bangsa atau agama tergantung pada maju mundurnya ilmu pangetahuan bangsa dan agama itu.

Keberkembangannya sebagai inti perdaban sangat tergantung pada adanya komunitas yang aktif. Maka suatu peradaban harus dimulai oleh ”suatu komunitas kecil”. Semakin besar dan membesarnya ”komunitas kecil” tersebut akan menjadikan semakin besar dan membesarnya peradaban.

Rambu Peradaban Worldview yang terbentuk dalam pikiran seseorang secara perlahan-lahan dimulai dari akumulasi konsep-konsep yang diterima dan sikap mental yang dikembangkan. Dari keduanya kerangka berpikir dibangun melalui proses alami maupun cara-cara ilmiah. Inilah gambaran proses pertumbuhan pandangan hidup pada umumnya.

Berbeda dari cara tersebut, pandangan hidup Islam tidak termasuk dalam kategori scientific worldview, karena tidak dikembangkan oleh komunitas ilmiah melalui cara ilmiah, namun dibangun berdasar wahyu Allah yang disampaikan dan dijelaskan oleh Nabi Muhammad kepada masyarakat. Oleh Prof Alparslan, ini dinamai dengan quasi-scientific worldview. Meskipun demikian dapat berkembang menjadi scientific worldview setelah dikembangkan oleh Nabi dan para sahabat melalui penjelasan dan perluasan makna wahyu. Bukan dalam arti pematangan sebagaimana ilmu pengetahuan, melainkan lebih merupakan interpretasi dan elaborsasi yang bersifat permanen.

Gradualisasi dan proses pembangunan peradaban Islam bisa dilihat dari periodisasi dan tahapan perkembangan seperti lahirnya pandangan hidup Islam dalam bentuk wahyu, lahirnya struktur ilmu pengetahuan dalam pandangan hidup dan tradisi keilmuan Islam. Periodisasi ini mengacu pada inti persoalan, yakni desiminasi ayat-ayat Alquran yang berlangsung dalam berbagai tahap.

Tahap awal (periode Makkah) adalah tahapan pembentukan pandangan hidup Islam dengan peran Nabi Muhammad yang menyampaikan dan menjelaskan wahyu-wahyu yang diturunkan Allah kepada masyarakat.

Banyak diturunkan ayat yang berkaitan dengan konsep tentang Tuhan dan keimanan, hari akhir, surga – neraka, ilmu, ibadah, dan konsep-konsep dasar Islam yang merupakan elemen penting pembentukan struktur worldview-nya. Periode ini bukan hanya telah memperjelas pandangan hidup Islam tentang dunia yang berbeda dari pra-Islam (jahiliyah) tetapi juga menggantikannya. Contoh konkretnya adalah pandangan tentang kemuliaan dunia yang dalam konsep jahiliyah identik dengan harta dan banyaknya anak, sementara dalam konsep Islam kemuliaan dunia (dan akhirat) karena ketakwaan.

Tahapan berikutnya (periode Madinah), wahyu Allah lebih menyempurnakan yang diturunkan di Makkah. Pada periode ini wahyu disempurnakan ritual peribadatan, sistem hukum yang mengatur individu, keluarga dan masyarakat yang berkaitan dengan kehidupan komunitas muslim, di samping mengembangkan wahyu periode Makkah, dan lebih aplikatif. Pengembangan konsep-konsep worldview Islam ini ke dalam scientific worldview dilakukan setelah periode Makkah dan Madinah.

Banyak sekali wahyu yang menjadi penuntun kehidupan bermasyarakat yang bukan hanya dapat dikembangkan tetapi harus dikembangkan menjadi scientific woldview agar dapat diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat baik dari sisi ilmu maupun agama. Pengembangan ini tidak boleh lepas dari pengembangan nilai wahyu dengan wahyu. Sebagai contoh, Allah menjanjikan kepada manusia yang mau beriman dan bertakwa akan hidup dalam keberkahan. Kepada umat yang mau meyakini kebenaran ajaran Allah dan bertakwa, akan diberi ”kecukupan” dalam hidupnya. Semua itu terdapat dalam Alquran, Surat Al A’raaf: 96.


Artinya :

“ Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, Pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, Maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya “.

Pada sisi lain diingatkan kepada yang berpaling dari (ingat akan) Allah dengan segala sifat-Nya, akan mendapatkan kehidupan yang sempit atau ma’isyatan dhanka. Al Raaghib Al Asfahani dalam ensiklopedi Mu’jam lima’ani al Quran mengartikannya sebagai ma’isyatan dhoyyiqatan atau kehidupan yang sempit. Dalam bahasa sehari-hari bisa disebut sebagai hidup yang serba susah atau krisis. Peringatan ini tertuang dalam Surat Thaaha: 124.

Artinya :

“ Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta ".

 

Pasti siapa pun akan memilih hidup yang penuh berkah, jauh dari hidup yang susah. Kalau saja setiap manusia sadar konsekuensi dari apa yang diperbuatnya, pasti akan berhati-hati dalam berperilaku. Kalau tiap orang sadar dan mau mengikuti tuntunan hidup dan aturan bermasyarakat yang telah diterimanya, pasti hidupnya akan berjalan sebagaimana yang dikehendaki. Namun dengan justifikasi sebagai makhluk tempat salah dan lupa, maka hidup susah yang dialami sebenarnya merupakan buah dari kekhilafan dan kesalahannya.

Panduan pun diberikan, misalnya dalam Surat Al Hujarat: 9 sampai 13. Pertama, bila terjadi perselisihan dalam hidup bermasyarakat agar ditempuh jalan damai. Kedua, sesama orang mukmin itu bersaudara, maka diperintahkan untuk berdamai dalam kehidupan di antara mereka. Ketiga, terhadap sesama saudara jangan mengolok-olok, (sebab jangan-jangan yang diolok-olok itu ternyata lebih baik dari yang mengolok-olok), jangan mencela, jangan memanggil seseorang dengan nama atau panggilan yang bukan sebenarnya (al qaab, atau laqab adalah nama paraban (Jawa), jangan berprasangka, jangan mencari keburukan atau kesalahan orang lain, jangan menggunjing kepada yang lain.

Nilai wahyu dalam Surat Al Hujarat ini seharusnya menjadi dasar lahirnya worldview yang islami dan melahirkan peradaban mulia dalam pergaulan kemasyarakatan. Namun realitasnya, masyarakat bangsa ini begitu enak melanggarnya. Dan, itu mestinya diyakini menjadi salah satu sumber krisis.

Inilah di antara hal-hal yang diharapkan menjadi pionir pengembangan peradaban Islam yang mampu menjelaskan quasi-scientific worldview ke dalam scientific worldview (dengan tidak terkontaminasi pemikiran lain seperti sekularisasi) untuk mempercepat desiminasi wahyu dan internalisasi nilai-nilai Islam, baik pada masyarakat atau komunitas muslim maupun komunitas lain. [2]

 

B.  Faktor-Faktor yang Menjadikan Peradaban Islam`Unik`

Pada pertemuan sebelumnya, kita telah berjalan-jalan ke abad pertengahan dan menyaksikan kontradiksi peradaban Barat dan Islam. Kita saksikan bagaimana Eropa hidup di dalam gumpalan kekumuhan yang ekstrim sementara dunia Islam gemerlap dengan kemajuan peradaban yang tidak terbayangkan.

Sekarang marilah kita melakukan kajian tentang faktor-faktor yang lebih jauh menyebabkan kemajuan peradaban Islam itu. Demikian juga kita kenali lebih dalam karakteristik kemajuan peradaban Islam di masa lalu.

Peradaban kita, peradaban Islam, merupakan matarantai dari peradaban-peradaban manusia yang didahului oleh perdaban-peradaban dan akan disusul oleh peradaban-peradaban lain.

1.   Faktor-Faktor yang Menjadikan Peradaban Islam`Unik`

Yang paling menarik perhatian para peneliti terhadap peradaban kita adalah beberapa karakteristik yang membuat peradaban kita menjadi unik, antara lain:

  1. Ber-asas Tauhid

Peradaban kita berpijak pada asas wahdaniah (ketunggalan) yang mutlak dalam aqidah. Peradaban kita adalah peradaban pertama yang menyerukan bahwa Tuhan itu satu dan tidak mempunyai sekutu dalam kekuasaan dan kerajaanNya. Hanya Dia yang disembah dan hanya Dia yang dituju oleh kalimat Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan (Iyyaaka na`budu wa iyyaaka nas ta`iin). Hanya Dia yang memuliakan dan menghinakan, yang memberi dan mengaruniai. Tiada sesuatupun di langit dan di bumi kecuali berada kekuasaan dan pengaturan-Nya.

Ketinggian dalam memahami wahdaniah ini mempunyai pengaruh besar dalam mengangkat martabat manusia, dalam membebaskan rakyat jelata dari kezaliman raja, pejabat, bangsawan dan tokoh agama. Tidak itu saja, tapi wahdaniah ini juga berpengaruh besar dalam meluruskan hubungan antara peguasa dan rakyat, dalam mengarahkan pandangan hanya kepada Allah semata sebagai pencipta mahkluk dan Robb adalah Islam yang hampir membedakannya dari seluruh peradaban baik yang telah berlalu maupun yang akan datang, yakni kebebasannya dari setiap fenomena paganisme (paham keberhalaan) dalam aqidah, hukum, seni, puisi dan sastra. Inilah rahasia yang membuat peradaban Islam berpaling dari penerjemahan mutiara-mutiara sastra Yunani yang paganis (keberhalaan), dan ini pula yang menjadi rahasia mengapa peradaban Islam lemah daam seni-seni pahat dan patung meskipun menonjol dalam seni seni-seni ukir dan desain bangunan. Islam yang menyatakan perang sengit terhadap paganisme (keberhalaan) dan fenomena-fenomenanya yang tidak mengijinkan peradabannya disusupi dengan fenomena-fenomena paganis dan sisa-sisanya terus ada jaman sejarah paling kuno, seperti patung orang-orang besar, orang shalih, nabi maupun penakluk. Patung-patung itu termasuk fenomena paling menonjol dari peradaban-peradaban kuno dan peradaban modern karena tidak satu pun dari peradaban-peradaban itu dalam aqidah wahdaniah (monotisme) mencapai batas yang telah dicapai oleh perdaban Islam.

Kesatuan dalam aqidah ini mencetak setiap asas dan sistem yang dibawa peradaban kita. Ada kesatuan dalam risalah, kesatuan dalam perundang-undangan, kesatuan dalam tujuan-tujuan umum, kesatuan dalam eksitensi universal manusia, dan kesatuan dalam sarana-sarana penghidupan serta model pemikiran. Bahkan para peneliti seni keislaman telah menyaksikan adanya kesatuan gaya dan rasa dalam bentuknya yang beraneka macam. Sepotong gading Andalus, kain tenun Mesir, benda keramik Syria dan benda logam Iran tampak memiliki gaya dan karakter yang sama meskipun bentuk dan hiasannya berbeda.

  1. Kosmopolitanisme

Peradaban Islam bervisi kosmopolitan. Qur`an telah menyatakan kesatuan jenis manusia meskipun berbeda-beda asal-usul keturunan, tempat tinggal dan tanah airnya. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah Ta`ala:

`Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. sesungguhnya orang yang paing mulia di antara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.`(Al Hujurat 13)

 

Ketika menyatakan kesatuan manusia yang kosmopolitan di atas jalan kebenaran, kebaikkan dan kemuliaan, Al-Qur`an telah menjadikan peradaban Islam sebagai simpul yang menghimpun semua kejeniusan bangsa-bangsa dan potensi umat yang bernaung di bawah panji-panji peradaban Islam. Setiap peradaban dapat membanggakan tokoh-tokoh jenius hanya dari putera-puteranya yang satu ras dan satu umat tetapi peradaban Islam tidak demikian.

Peradaban Islam dapat membanggakan tokoh-tokoh jenius pembangun istananya dari semua umat dan bangsa. Abu hanifah, Malik, Syaf`i, Ahmad, Al Khalil, sibawaih, Al Kindi, Al Ghazali, Al Farabi, Ibnu Rusyd dan tokoh-tokoh lain semisal mereka adalah manusia dari kebangsaan yang berbeda-beda. Yang satu tinggal di Asia, yang lainya di Afrika, dan yang lainnya lagi di Eropa. Namun tokkoh yang berlainan asal-usul dan tanah airnya adalah lebih dikenal sebagai tokoh-tokoh jenius Islam, ketimbang tokoh dari sebuah negara yang sempit atau bangsa tertentu. Lewat mereka, peradaban Islam mampu mempersembahkan produk pemikiran yang paling mengagumkan.

Bahkan yang lebih menarik lagi, umumnya mereka bukan berkebangsaan Arab dan bukan berasal dari keturunan penduduk gurun pasir tanah Jazirah Arabia. Mereka berasal dari negeri yang sangat jauh dari tanah Mekkah dan Madinah, namun peradaban Islam telah menjadikan mereka hidup dalam sebuah negara kosmopolitan, yaitu Khilafah Islamiyah.

Peradaban Islam tidak mengenal nation yang kecil dan terpecah-pecah. Sebaliknya, peradaban Islam menyatukan umat manusia dari beragam latar belakang ras, bangsa, wilayah geografis, keturunan dan beragam bahasa. Tanpa menghilangkan jati diri dan identitas masing-masing.

  1. Berasas Pada Moral Yang Agung

Peradaban kita menjadikan tempat pertama bagi prinsip-prinsip moral dalam setiap sistem dan berbagai bidang kegiatannya. Peradaban kita tidak pernah lepas dari prinsip-prinsip moral ini. Bahkan moral menjadi ciri khas peradaban Islam.

Islam tidak mengenal penjajahan dan eksplotiasi kekayaan suatu negeri, apalagi menghina dan memperkosa wanita-wanita. Para penyebar Islam ke berbagai negeri justru menjadi guru dalam bidang moral buat setiap negeri yang dimasukinya.

Peradaban Islam sungguh kontras peradaban Barat hari ini yang gencar mengekspor free sex, lesbianisme, homoseksual, hedonisme dan dekadensi moral. Barat mengatakan bahwa perilaku seks sejenis adalah hak asasi manusia dan melegalkannya. Bahkan secara hukum telah meresmikan pasangan laki-laki menikah sejenis untuk membentuk sebuah rumah tangga yang diakui secara hukum.

Presiden Amerika pernah mengumumkan bahwa lebih satu juta dari sekitar enam juta pemuda Amerika yang harus mengikuti wajib militer tidak layak menjadi tentara karena terkena spilis. Dan 30 sampai 40 ribu anak mati karena korban penyakit kotor orang tuanya dalam setiap tahunnya.

Pemerintahan militer Prancis terus menerus kekurangan pemuda-pemuda yang laik menjadi sukarelawan dari segi kesehatan badan. 75 ribu orang tentara yang terpaksa harus diberhentikan dan dimasukkan ke rumah sakit karena mengidap penyakit kotor (spilis).

Kasus kawin cerai para selebriti dan gaya hidup selingkuh di negeri ini tidak lain dari pengaruh gaya hidup barat. Zina dan seks ala binatang adalah diantara pernik-perniknya. Peradaban barat telah melahirkan anak-anak yang tidak pernah tahu siapakah ayah mereka, karena mereka lahir dari rahim wanita-wanita yang terbiasa berzina dengan sejumlah besar laki-laki. Dimana ibu mereka pun lupa dengan siapa saja pernah berzina dan tidak pernah tahu secara pasti benih siapakah yang ada dalam perutnya. Nauzu Billah…

Dan wajar pula bila penyakit AIDS yang mematikan lahir di peradaban mereka.  Peradaban Islam mengajarkan persamaan derajat manusia. Menghormati dan memuliakan wanita serta menempatkan pada posisi yang sangat penting. Mengharamkan protitusi baik resmi maupun terselubung. Mengharamkan zina dan perselingkuhan.

  1. Menyatukan Agama dan Negara

Umumnya peradaban yang dikenal manusia memisahkan antara agama dengan negara. Seakan keduanya adalah dua sisi yang tidak bisa bertemu.

Namun peradaban Islam mampu menciptakan tatanan negara dengan berpijak pada prinsip-pinsip kebenaran dan keadilan, bersandar pada agama dan aqidah tanpa menghambat kemajuan negara dan kesinambungan peradaban. Dalam peradaban Islam bahkan agama merupakan salah satu faktor terbesar kemajuan dalam bernegara. Maka, dari dinding masjid di bagdad, Damaskus, Kairo, Cordoba, dan Granada memancarlah sinar-sinar ilmu ke segenap penjuru dunia.

Peradaban Islamlah satu-satunya peradaban yang tidak memisahkan agama dari negara, sekaligus selamat dari setiap tragedi percampuran antara keduanya sebagaimana yang dialami Eropa pada abad-abad pertengahan. Kepala negara adalah khalifah dan amir bagi orang-orang mukmin, tetpi kekuasaan disisinya adalah untuk kebenaran. Adapun pembuatan undang-undang diserahkan kepada pakar-pakarnya Setiap kelompok ulama (ilmuwan) mempunyai spesialisai sendiri-sendiri, dan semua sama di hadapan undang-undang keutamaan yang satu atas yang lainnya ditentukan oleh taqwa dan pengabdian umum kepada manusia, sebagaimana yang pernah di ucapkan Rasulullah Saw megenai keadilan dalam perundang-undangan ini. Beliau berkata,

`Demi Allah, andaikata Fatimah, putri Muhammad mencuri, pasti Muhammad memotong tangannya.`(HR.Bukhari dan Muslim)

 

Rasulullah juga bersabda:

`Semua makhluk adalah keluarga besar Allah, maka orang yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi keluarga besarNya.`(HR. Al Bazzar)

Inilah agama yang menjadi alas pijak peradaban kita. Di dalamnya tidak ada keistimewaan atau kekhususan untuk seorang pemimpin, tokoh agama, bangsawan maupun hartawan. Perhatikanlah firman Allah yang diturunkanNya kepada Rasulullah Saw:

`Katakanlah (Muhammad):`Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu,…`(Al Kahfi 110)

  1. Toleransi Yang Mulia

Peradaban kita mempunyai toleransi keagamaan yang mengagumkan, yang tidak pernah dikenal oleh peradaban lain yang juga berpijak kepada agama. Orang yang tidak percaya kepada semua agama atau Tuhan tidak tampak aneh jika ia memandang semua agama berdasarkan pengertian yang sama serta memperlakukan pemeluk-pemeluknya dengan ukuran yang sejajar.

Tetapi pemeluk agama yang meyakini bahwa agamanya benar dan aqidahnya paling lurus dan syah, kemudian dia diberi kesempatan untuk memanggul senjata, dan meduduki kursi pengadilan dan kesempatan itu tidak membuatnya zalim atau menyimpang dari garis-garis keadilan, atau tidak menjadikan dia memaksa manusia untuk mengikuti agamanya, maka orang semacam ini sungguh sangat aneh ada dalam sejarah.

 

Apalagi jika dalam sejarah ada peradaban yang berpijak pada agama dan menegakkan fenomena-fenomenanya di atas prinsip-prinsip agama itu, lalu ia pun dikenal sejarah sebagai peradaban yang paling kuat toleransinya, keadilannya, kasih sayangnya dan kemanusiaannya.

  1. Setiap peradaban mengandung dua unsur yaitu unsur moral spiritual dan unsur material.

Mengenai unsur material, tdak di ragukan lagi. Setiap peradaban yang datang kemudian mengungguli peradaban sebelumnya. Itu adalah sunnatullah dalam perkembangan kehidupan dan sarana-sarananya. Sia-sia apabila kita menuntut peradaban terdahulu dengan kemajuan yang dicapai peradaban berikutnya. Andaikata ini boleh, maka tentu kita pun boleh pula mencemooh setiap peradaban yang mendahului peradaban kita lantaran kemajuan yang diciptakan oleh peradaban kita berupa sarana-sarana kehidupan dan fenomena-fenomena peradaban yang belum pernah dikenal sama sekali oleh peradaban-peradaban terdahulu. Maka, unsur material dalam peradaban-peradaban selamanya tidak bisa dijadikan dasar untuk saling mengakui kelebihan dan keutamaan peradabannya diantara yang satu dengan yang lain.

Adapun unsur moral spiritual adalah unsur yang mengekalkan peradaban-peradaban dan menjadi sarana untuk menaikkan risalah membahagiakan manusia dan menjauhkannya dari penderitaan dan momok yang menakkutkan. Di bidang ini peradaban kita telah mengungguli setiap peradaban dan mencapai batas yang tak ada bandingannya dalam masa sejarah manapun. Cukuplah peradaban kita kekal dengan hal ini.

Tujuan peradaban sebenarnya untuk mendekatkan manusia ke puncak kebahagiaan, dan peradaban kita telah berbuat untuk itu selama ini tidak pernah diperbuat oleh sebuah peradaban manapun baik di Timur maupun Barat.

  1. Peradaban tidak bisa dibandingkan satu dengan yang lainnya dari ukuran material atau dengan hitungan jumlah dan luas, atau dengan kemewahan material dalam penghidupan, makanan dan minuman, tetapi peradaban harus dibandingkan menurut pengaruh-pengaruh yang ditinggalkannya dalam sejarah kemanusiaan. Dalam hal ini kedudukan peradaban sama dengan kedudukan peperangan yang tidak bisa dibandingkan satu sama lain berdasarkan luasnya medan atau hitungan jumlah. Peperangan yang sangat menentukan dalam sejarah kuno dan pertengahan jika dibandingkan dengan perang Dunia II dari segi jumlah pasukan dan sarana-sarana perang tentu tak ada artinya. Namun, peperangan itu tetap dianggap mempunyai nilai lebih dalam sejarah karena mempunyai pengaruh-pengaruh yang jauh.

Dalam perang Kani, dimana panglima Carthagi yang tersohor, Hannibal berhasil menghancurkan pasukan Romawi, sampai sekarang masih merupakan salah satu pertempuran yang diajarkan di sekolah-sekolah militer di Eropa. Pertempuran Khalid bin Walid dalam penaklukan Irak dan Syria masih menjadi objek kajian dan kekaguman militer-militer Barat, sedangkan bagi kita itu merupakan lembaran-lembaran emas dalam sejarah penaklukan-penaklukan dalam peradaban kita. Berlalunya perang Kani, perang Badar, perang Qadisiah atau perang Hittin tidak mengubah pandangan bahwa perang-perang itu adalah perang-perang yang menentukan dalam sejarah.[3]

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Dr. Mustafa As-Siba’i, Peradaban Islam, Jakarta, t.p, t.t.

Auliya Yahya, Arsitektur Islam, Seni Ruang dalam Peradaban Islam, http://auliayahya.wordpress.com/2008/11/04/arsitektur-islam-seni-ruang-dalam-peradaban-islam/,diakses pada 03 November 2011

 


[1] http://auliayahya.wordpress.com/2008/11/04/arsitektur-islam-seni-ruang-dalam-peradaban-islam/

[2] http://artikel-media.blogspot.com/2009/12/wacana-21-desember-2009-inspirasi.html

[3] Dr. Mustafa As-Siba’i, Peradaban Islam…, hal. 23

FacebookTwitterGoogle+LinkedIn

SISTEM NILAI DALAM KEHIDUPAN MANUSIA

 

Oleh: Afiful Ikhwan*

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.Latar Belakang Masalah

Manusia sebagai makhluk sosial selalu hidup bersama dalam arti manusia hidup dalam interaksi dan interdepedensi sesamanya. Manusia saling membutuhkan sesamanya baik jasmani maupun rohani. Dalam proses interaksi inilah diperlukan nilai-nilai , norma, dan aturan-aturan, karena ia menentukan batasan-batasan dari perilaku dalam kehidupan masyarakat. Jadi dalam hubungan sosial dalam masyarakat itulah secara mutlak adanya nilai-nilai karena tiada nilai-nilai tanpa adanya hubungan sosial. Aturan hidup tersebut tidak selalu diwujudkan secara nyata, tetapi terdapat dorongan dalam diri manusia untuk melakukan atau tidak melakukan hal tertentu. Sifatnya abstrak namun dapat dirasakan manfaatnya.

Dalam masyarakat, sebagai suatu Gemeinschafts[1] manusia hidup bersama. manusia sebagai pribadi, dengan sifat-sifat individualitas yang unik bergaul satu sama lain. Kadang-kadang saling mengerti, saling simpati, saling menghormati dan mencintai. Tetapi adapula watak manusia adanya anti pati, salah paham, membenci, mengkhianat dan sebagainya adalah bentuk-bentuk tingkah laku manusia dalam hubungannya dengan nilai-nilai yang berlaku. Setiap hubungan antar manusia selalu disertai dengan proses penilaian, baik aktif maupun pasif, baik terhadap hubungan sesamanya maupun dengan lingkungan alam semesta. Proses penilaian itu dilakukan secara sadar ataupun tidak sadar. Realita yang demikian merupakan kecenderungan dan kodrat manusia.

Manusia dalam hubungannya dengan sesamanya dan dengan alam semesta tak mungkin melakukan sikap netral atau apatis. Kecenderungan–kecenderungan untuk simpati, anti pati ataupun netral itu sendiri merupakan suatu sikap. Dan setiap sikap adalah konsekuensi dari pada suatu penilaian, apakah penilaian itu didasarkan azas objektif rasional ataukah subjektif emosional. Di dalam garis penilaian mulai dari pengertian, simpati, kagum, hormat, memuja, cinta, atau sebaliknya salah paham, anti pati, jijik, menghinakan, membenci, bahkan netral sekalipun adalah perwujudan dan pengejawantahan penilaian.

Dalam makalah ini akan dibahas lebih detail masalah bagaimana sistem nilai dalam kehidupan manusia atau bermasyarakat. Baik buruknya dalam kehidupan manusia itu diciptakan oleh manusia itu sendiri (kelompok masyarakat).


 

B.Rumusan Masalah

1.Bagaimana Pengertian Nilai dalam kehidupan?

2.Bagaimana Munculnya Sistem Nilai dalam Kehidupan Manusia?

3.Bagaimana Hubungan Norma dan Nilai dalam Kehidupan Manusia?

 

C.Tujuan Masalah

1.Untuk Mengetahui Pengertian Nilai dalam kehidupan.

2.Untuk Mengetahui Munculnya Sistem Nilai dalam Kehidupan Manusia.

3.Untuk Mengetahui Hubungan Norma dan Nilai dalam Kehidupan Manusia.

 

BAB II

PEMBAHASAN

SISTEM NILAI DALAM KEHIDUPAN MANUSIA

 

  1. Pengertian Nilai dalam Kehidupan

Tylor dalam Imran Manan mengemukakan moral termasuk bagian dari kebudayaan, yaitu standar tentang baik dan buruk, benar dan salah, yang kesemuanya dalam konsep yang lebih besar termasuk ke dalam ‘nilai’. Hal ini di lihat dari aspek penyampaian pendidikan yang dikatakan bahwa pendidikan mencakup penyampaian pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai.[2]

            Kedudukan nilai dalam setiap kebudayaan sangatlah penting, maka pemahaman tentang sistem nilai budaya dan orientasi nilai budaya sangat penting dalam konteks pemahaman perilaku suatu masyarakat dan sistem pendidikan yang digunakan untuk menyampaikan sisitem perilaku dan produk budaya yang dijiwai oleh sistem nilai masyarakat yang bersangkutan.

            Clyde Kluckhohn mendefinisikan nilai sebagai sebuah konsepsi, eksplisit atau implisit, menjadi ciri khusus seseorang atau sekelompok orang, mengenai hal-hal yang diinginkan yang mempengaruhi pemilihan dari berbagai cara-cara, alat-alat, tujuan-tujuan perbuatan yang tersedia. Orientasi nilai budaya adalah Konsepsi umum yang terorganisasi, yang mempengaruhi perilaku yang berhubungan dengan alam, kedudukan manusia dalam alam, hubungan orang dengan orang dan tentang hal-hal yang diingini dan tak diingini yang mungkin bertalian dengan hubungan antar orang dengan lingkungan dan sesama manusia.

            Sistem nilai budaya ini merupakan rangkaian dari konsep-konsep abstrak yang hidup dalam masyarakat, mengenai apa yang dianggap penting dan berharga, tetapi juga mengenai apa yang dianggap remeh dan tidak berharga dalam hidup. Sistem nilai budaya ini menjado pedoman dan pendorong perilaku manusia dalam hidup yang memanifestasi kongkritnya terlihat dalam tata kelakuan. Dari sistem nilai budaya termasuk norma dan sikap yang dalam bentuk abstrak tercermin dalam cara berfikir dan dalam bentuk konkrit terlihat dalam bentuk pola perilaku anggota-anggota suatu masyarakat.[3]

            Kluckhohn mengemukakan kerangka teori nilai nilai yang mencakup pilihan nilai yang dominan yang mungkin dipakai oleh anggota-anggota suatu masyarakat dalam memecahkan 6 masalah pokok kehidupan, sebagai berikut:

Masalah pertama, yang dihadapi manusia dalam semua masyarakat adalah bagaimana mereka memandang sesamanya, bagaimana mereka harus bekerja bersama dan bergaul dalam suatu kesatuan sosial. Hubungan antar manusia dalam suatu masyarakat tersebut dapat mempunyai beberapa orientasi nilai pokok, yaitu yang bersifat linealism, collateralism, dan indiviualism. Inti persoalannya adalah siapa yang harus mengambil keputusan.

  • Masyarakat dengan orientasi nilai yang lineal orang akan berorientasi kepada seseorang untuk membuatkan keputusan bagi semua anggota kelompok.
  • Masyarakat dengan orientasi nilai yang collateral, orientasi nilai akan berpusat  pada kelompok. Kelompoklah yang mempunyai keputusan tertinggi.
  • Masyarakat dengan orientasi individualism, semua keputusan dibuat oleh individu-individu. Individualisme menekankan hak tertinggi individu dalam mengambil keputusan-keputusan dalam memecahkan berbagai permasalahan kehidupan.

Masalah Kedua, Setiap manusia berhadapan dengan waktu. Setiap kebudayaan menentukan dimensi dimensi waktu yang dominan yang menjadi ciri khas kebudayaan tersebut. Secara teoritis ada tida dimensi waktu yang dominan yang menjadi orientasi nilai kebudayaan suatu masyarakat, yaitu yang berorientasi ke masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Dimensi waktu yang dominan akan menjiwai perilaku anggota-anggota suatu masyarakat yang sangat berpengaruh dalam kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan pengejaran kemajuan.

Masalah Ketiga, Setiap manusia berhubungan dengan alam. Hubungan dapat berbentuk apakah alam menguasai manusia, atau hidup selaras dengan alam, atau manusia harus menguasai alam.

Masalah Keempat, Masalah yang mendasar yang dihadapi manusia adalah masalah kerja. Apakah orang berorientasi nilai kerja sebagai sesuatu untuk hidup saja, ataukah kerja untukmencari kedudukan, ataukah kerja untuk menghasilkan kerja yang lebih banyak.

Masalah Kelima, Masalah kepemilian kebudayaan. Alternatif pemilikan kebudayaan yang tersedia adalah suatu kontinum antara pemilikan kebudayaan yang berorientasi pada materialisme atau yang berorientasi pada spiritualisme. Ada kesan bahwa kebudayaan barat sangat berorientasi kepada materialisme sedang kebudayaan timur sangat berorientasi kepada spiritualisme.

Masalah Keenam, Apakah hakekat hidup manusia. Orientasi nilai yang tersedia adalah pandangan-pandangan bahwa hidup itu sesuatu yang baik, sesuatu yang buruk, atau sesuatu yang buruk tetapi dapat disempurnakan.

            Ahli lain yang menganalisa nilai inti atau pola orientasi nilai suatu masyarakat adalah Talcots Parson. Dia telah memperkembangkan suatu taksonomi nilai dasar yang dinamakannya ”pattern variables” yang menentukan makna situasi-situasi tertentu dan cara memecahkan dilemma pengambilan keputusan. Lima pattern tersebut adalah:

  1. Dasar-dasar pemilihan objek terhadap mana sebuah orientasi berlaku, yaitu apakah pemilihan ditentukan oleh keturunan (ascription) atau keberhasilan (achievement).
  1. Kepatutan atau ketak-patutan pemuasan kebutuhan melalui tindakan ekspresif dalam konteks tertentu, yaitu apakah pemuasan yang patut harus disarankan atas pertimbangan perasaan, (affectivity) atau netral perasaan (affective neutrality).
  1. Ruang lingkup perhatian dan kewajiban terhadap sebuah objek yaitu apakah perhatian harus jelas dan tegas untuk sesuatu (specificity) atau tidak jelas dan tegas, atau berbaur (diffuseness).
  1. Tipe norma yang menguasai orientasi terhadap suatu objek yaitu apakah norma yang berlaku bersifat universal (universlism) atau normanya bersifat khusus (particularism).
  1. Relevan atau tidak relevannya kewajiban-kewajiban kolektif dalam konteks tertentu, yaitu apakah kewajiban-kewajiban didasarkan kepada orientasi kepentingan pribadi (self-orientation) atau kepentingan kolektif (collective orientation).

Menurut pandangan Sutan Takdir Alisyahbana (STA) yang menggunakan struktur nilai-nilai yang universal yang ada dalam masyarakat manusia. Menurut STA yang dinamakan kebudayaan adalah penjelmaan dari nilai-nilai. Bagian penting adalah adalah membuat klasifikasi nilai yang universal yang ada dalam masyarakat manusia. Dia merasa klasifikasi nilai yang digunakan E. Spranger adalah yang terbaik untuk dipakai dalam melihat kebudayaan umat manusia. Spranger mengemukakan ada 6 nilai pokok dalam setiap kebudayaan, yaitu:

  1. Nilai teori yang menentukan identitas sesuatu.
  2. Nilai ekonomi yang berupa utilitas atau kegunaan.
  3. Nilai agama yang berbentuk das Heilige atau kekudusan.
  4. Nilai seni yang menjelmakan expressiveness atau keekspresian.
  5. Nilai kuasa atau politik.
  6. Nilai solidaritas yang menjelma dalam cinta, persahabatan, gotong royong dan lain-lain.

 

Keenam nilai ini masing-masing mempunyai logika, tujuan, norma-norma, maupun kenyataan masing-masing.

Menurut STA nilai-nilai yang dominan yang berfungsi menyusun organisasi masyarakat adalah nilai kuasa dan nilai solidaritas.

Didalam hidupnya manusia dinilai atau akan melakukan sesuatu karena nilai. Nilai mana yang akan dituju tergantung kepada tingkat pengertian akan nilai tersebut. Misalnya, seorang yang telah melakukan pembunuhan kemudian ia melakukan pengakuan dosa dihadapan pendeta dan dalam pengakuannya itu ia benar-benar menggambarkan suatu kesalahan atau dosa. Hal ini karena dilatarbelakangi nilai ketuhanan atas nilai baik dan buruk menurut agama, sehingga membunuh itu dosa hukumnya dan yang melakukannya itu salah.

Berbeda dengan orang yang menganggap hal itu suatu pembelaan yang harus ditempuh, maka pembunuhan bukanlah merupakan suatu kesalahan, akan tetapi merupakan kebanggaan yang harus dijunjung seperti budaya ‘carok’ pada etnis Madura (carok merupakan budaya Madura masa silam, yang menjunjung tinggi harga diri keluarga jika kehormatannya diganggu, maka carok adalah penyelesaian yang terhormat)

Di lain pihak, semakin seseorang bersikap setia pada tuntutan-tuntutan moral, semakin ia membuka diri terhadap dunia nilai-nilai dan realitas rohani. Boleh dikatakan bahwa ia menjadi sekodrat dengan mereka. Ia mencintai mereka, dan dengan demikian dapat melihat arti suatu jalan menuju kepada realitas rohani dan nilai yang terutama, yaitu Tuhan. Sehingga ia mengerti arti baik dan buruk atau salah dan benar dalam berperilaku.

Sebelum sesuatu itu ada (sebagai landasan etis) maka nilai baik dan buruk atau dosa dan pahala itu tidak ada, sehingga setiap perbuatan memerlukan sandaran nilai untuk dapat dipertanggung jawabkan atas nilai perbuatan seseorang itu !! Dalam kaidah usul fikihnya ”kullu syain ibahah illa ma dalla daliilu `ala khilaafihi” setiap sesuatu itu adalah kebolehan sehingga sampai ada dalil yang menentukan nilai (haram atau halal).

Jika setiap perbuatan tidak memiliki landasan nilai, maka akan sulit kita menentukan bagaimana kita mengatakan perbuatan itu baik atau buruk, walaupun menurut pandangan etika umum menyatakan perbuatan itu buruk, misalnya orang primitif memiliki kebiasaan tidak memakai baju bahkan hanya memakai koteka (terbuat dari kulit labu untuk menutup kemaluan), dia tidak akan mengerti kalau hal itu dikatakan telah bersalah karena tidak menutup auratnya, mereka justru bingung dengan pernyataan kita, mengapa hal ini salah? baginya tidak masuk akal mengapa orang-orang modern itu melarangnya memakai koteka? kalau hal itu dikatakan tidak etis, etis menurut siapa?

 

  1. Munculnya Sistem Nilai dalam Kehidupan Manusia

Sebuah nilai muncul dari kesepakatan dalam sebuah kaum, kaum primitif memiliki kesepakatan nilai yang menjadi landasan etis untuk mengetahui sesuatu itu baik atau buruk. Dan dalam suatu masyarakat modern setiap tindakannya akan mengacu kedalam perudang-undangan yang telah disepakati bersama dalam sebuah majelis musyawarah yang diperjuangan wakil-wakilnya dalam sebuah parlemen, sehingga menghasilkan sebuah tata hukum positif untuk menilai dan menindak sesuatu boleh atau tidak boleh.

Narkotika, sebelum disepakati sebagai barang haram merupakan benda yang digemari para bangsawan dan para kafilah, artinya barang ini tidak memiliki nilai apa-apa secara hukum (kebolehan) ketika tidak diketahui manfaat dan mudharatnya, sehingga bagi pemakainya merupakan kebolehan (halal) dan tindakannya tidak dikatakan buruk (bersalah). Namun setelah kita sepakat bahwa narkotika itu membahayakan dan menurut hukum positif itu dilarang maka perbuatan si pemakai itu suatu keburukan, bahkan dikatakan sebagai kejahatan yang harus diperangi.

Jadi kesimpulannya adalah setiap perbuatan itu bisa dikatakan baik atau buruk jika perbuatan itu di landasi nilai etis terhadap sesuatu. Bagi orang tidak memiliki landasan dalam tindakannya maka orang tersebut bisa dikategorikan dalam enam gologan yang disebut dalam sebuah hadist, yaitu: (mafhum mukhalafah) yaitu orang yang perbuatannya dibebaskan dari pertanggungjawaban hukum adalah 1) anak kecil (shabiy) sampai baligh (ihtilam), 2) orang tidur (naim) sampai bangun (istiqadh), 3) orang gila (majnun) sampai sadar (yufiqa) [HR Bukhari]; 4) orang yang lupa (nisyan), 5) orang yang tersalah (khata`), dan 6) orang yang dipaksa (mukrah) [HR Ibnu Majah].[4]

Ada beberapa landasan populer yang di gunakan dalam masyarakat dunia antara lain : Etika ketuhanan ( agama. Islam, kristen, hindu, budha, katolik,dll), Etika budaya (etika jawa, sunda, melayu, adat dll), Filsafat (Yunani, Tao, komunis, pancasila, dll), Budaya primitip dll.

Di dalam Islam, pengertian nilai yang dimaksud adalah bahwa manusia memahami apa yang baik dan buruk serta ia dapat membedakan keduanya dan selanjutnya mengamalkannya. Pengertian tentang baik dan buruk tidak dilalui oleh pengalaman, akan tetapi telah ada sejak pertama kali ruh ditiupkan.

 

 

“Demi jiwa serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) keburukan dan kebaikan” ( QS. 91:7-8)

 

Pengertian (pemahaman) baik dan buruk merupakan asasi manusia yang harus diungkap lebih jelas, atas dasar apa kita melakukan sesuatu amalan.

Imam Alghazaly menamakan pengertian apriori sebagai pengertian awwali. Dari mana pengertian-pengertian tersebut diperoleh, sebagaimana ucapannya:

“Pikiran menjadi sehat dan berkeseimbangan kembali dan dengan aman dan yakin dapat ia menerima kembali segala pengertian-pengertian awwali dari akal itu. Semua itu terjadi tidak dengan mengatur alasan atau menyusun keterangan , melainkan dengan nur (cahaya) yang dipancarkan Allah Swt, kedalam bathin dari ilmu ma’rifat. “[5]

Disini, Alghazaly mengembalikannya kedasar pengertian awwali yaitu pengertian ilahiyah, sedang Plato menyebutnya “idea”. Ia mengungkapkan bahwa “idea” hakekatnya sudah ada, tinggal manusia mencarinya dengan cara kontemplasi atau bagi seniman biasa disebut mencari inspirasi. Jelasnya “idea” bukan timbul dari pengalaman atau ciptaan pikiran sehingga menghasilkan idea.

Dan idea-idea ini bersifat murni, tidak mengandung nilai baik atau buruk dan bersifat universal, sebelum turun sampai kepada kesepakatan hukum positif. Misalnya seorang yang mendapatkan ide membuat ilustrasi mengenai lengkuk tubuh manusia adalah murni sebuah ide, tidak ada nilai baik ataupun buruk dalam ide tersebut, kecuali setelah ada kesepakatan bahwa gambar itu mengandung pengaruh yang sangat buruk dalam masyarakat tertentu, akan tetapi sebaliknya gambar itu sekaligus merupakan sesuatu yang baik jika di kaitkan dengan kajian ilmu kedokteran dalam mengungkapkan fakta dalam anatomi tersebut.

Untuk itu agama salah satu jalan menentukan batasan nilai sehingga manusia menjadi mudah dalam menentukan sikap dalam hukum dan tanggung jawab pribadi dan hak orang lain dalam setiap tindakannya. Sebab jika tidak ada asas nilai di khawatirkan segalanya akan menjadi tidak jelas dan menjadikan manusia bertindak semaunya tanpa ada tindakan nilai. Jika hal ini terjadi maka manusia akan bersikap brutal dan berlaku hukum rimba atau menjadi kaum penjajah dan perbudakan.

Hal ini pernah terjadi pada masa penjajahan diseluruh dunia, dimana kaum penjajah menganggap manusia tidak lagi memiliki nilai apa-apa sehingga mereka menjadikan kaum terjajajah sebagai budak yang diperjual belikan dipasar, seperti binatang !!

Demikian pula tanah-tanah yang terhampar dianggap tidak bertuan, dimana saja mereka berpijak disanalah miliknya …..

 

  1. Hubungan Nilai dan Norma dalam Kehidupan Manusia

Sikap menilai atas segala sesuatu adalah didorong oleh faktor-faktor dalam yang sudah merupakan potensi dan kejenuhan manusia. Tetapi bagaimana menilai yang benar, objektif adalah persoalan norma-norma, azas-azas normatif. Kebenaran, kebaikan, kebajikan, kejujuran, cinta sesama, dan sebagainya adalah potensi martabat manusia. Adalah menjadi idealisme manusia untuk merealisasi potensi martabat manusia. Kebaikan manusia diukur dengan kenyataan seberapa jauh dia merealisasi potensi martabat manusia itu di dalam tingkah lakunya. Martabat manusia dan kepribadian seseorang selalu diukur dengan norma-norma yang berlaku dalam arti sejauh mana manusia loyal dengan nilai-nilai yang berlaku. Dengan demikian nilai-nilai dan norma-norma akan membentuk kepribadian manusia. Manusia tak berarti apa-apa tanpa adanya nilai-nilai, norma-norma yang berlaku.

  1. Nilai Sosial

Dalam realitas sosial kehidupan bersama, manusia memerlukan aturan hidup agar tercipta keteraturan sosial. Aturan hidup tersebut tidak selalu diwujudkan secara nyata, tetapi terdapat dorongan dalam diri manusia untuk melakukan atau tidak melakukan hal tertentu. Ada perasaan-perasaan tertentu jika orang melakukan atau tidak melakukan hal tertentu. Meskipun terlihat abstrak, tetapi dapat dirasakan manfaatnya, bahkan ada yang dapat dihayati secara mendalam dengan intensitas yang tinggi jadi nilai sosial adalah gambaran mengenai apa yang diinginkan, yang pantas, yang berharga, yang mempengaruhi perilaku social dari orang yang memiliki nilai itu.

Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa nilai sosial memiliki ciri-ciri antara lain : a) merupakan konstruksi masyarakat yang tercipta melalui interaksi antara anggota, b) membantu masyarakat agar berfungsi dengan baik, c) dapat dipelajari atau bukan bawaan dari lahir, d) dapat mempengaruhi emosi, e) dapat mempengaruhi perkembangan pribadi dalam masyarakat, baik secara positif maupun negatif, dll.

Sedangkan fungsi nilai antara lain: a) sebagai seperangkat alat yang siap dipakai untuk menetapkan harga diri pribadi dan kelompok, b) mendorong, menuntun, dan terkadang menekan manusia untuk berbuat baik, c) sebagai alat solidaritas di kalangan anggota kelompok masyarakat, d) sebagai arah dalam berfikir dan bertingkah laku secara ideal dalam masyarakat dan, e) menjadi tujuan akhir bagi manusia dalam memenuhi peranan-peranan sosialnya.

  1. Norma Sosial

Sebagai makhluk sosial, manusia akan selalu membutuhkan orang lain dalam kelangsungan hidupnya. Agar kehidupan bersama bisa berjalan teratur, manusia memerlukan aturan-aturan tertentu karena tidak semua orang bias berbuat menurut kehendaknya sendiri. Untuk mencapai keteraturan dan kenyamanan hidup bersama, manusia melakukan kesepakatan tentang apa yang boleh dilakukan, apa yang sebaik tidak boleh dilakukan kepada orang lain. Kesepakatan bersama itulah yang disebut norma social. Jadi norma sosial itu adalah aturan atau ketentuan yang mengikat warga kelompok dalam masyarakat, dipakai sebagai paduan, tatanan, dan kendali tingkah laku yang sesuai dan diterima secara bersama.

Norma-norma, aturan procedural dan aturan perilaku dalam kehidupan social pada hakekatnya adalah bersifat kemasyarakatan. Maksudnya adalah bukan saja karena norma-norma tersebut berkaitan dengan kehidupan social tetapi juga karena norma-norma tersebut adalah pada dasarnya hasil dari kehidupan bermasyarakat. Norma-norma adalah bagian dari masyarakat.

Norma tumbuh dari proses kemasyarakatan, ia menentukan batasan-batasan dari perilaku dalam kehidupan masyarakat. Robert M.Z Lawang membagi norma menjadi dua macam, yaitu adat istiadat (mores) dan kebiasaan (folkway). Sering juga adapt istiadat ini menjadi hokum tertulis yang berlaku dalam suatu masyarakat tertentu. Adat istiadat maupun hukum memiliki kekuatan mengikat yang tegas. Adapun kebiasaan tidak memiliki kekuatan yang mengharuskan sanksi terhadap pelanggarannya tidak terlalu berat, misalnya cemoohan, ejekan, sinis, atau si pelanggar akan dijauhi oleh yang lain. Biasanya kebiasaan lebih mudah berubah dari pada adat atau hukum.

Norma-norma dalam masyarakat memiliki kekuatan yang mengikat yang berbeda-beda, ada yang lemah dan ada yang kuat. Berdasarkan kekuatan mengikatnya norma dapat dibagi sebagai berikut.

  1. Cara (Usage); merupakan norma yang menunjuk pada suatu bentuk perbuatan dan memiliki kekuatan yang sangat lemah dibanding dengan kebiasaan.
  2. Kebiasaan (Folkways); merupakan norma yang memiliki kekuatan yang lebih besar dari cara (usage) dan merupakan perbuatan yang diulang-ulang dalam bentuk yang sama sehingga dapat dikatakan orang banyak menyukai perbuatan tersebut. Kebiasaan merupakan perikelakuan yang diterima masyarakat.
  3. Tata Kelakuan (Mores) ; merupakan norma yang berkembang dari kebiasaan, dimana kebiasaan tersebut tidak semata-mata dianggap sebagai cara berperilaku saja, tetapi bahkan diterima sebagai norma-norma pengatur
  4. Adat Istiadat (Custom); merupakan tata kelakuan yang kekal serta kuat integrasinya dengan pola-pola perilaku masyarakat. Anggota masyarakat yang melanggarnya akan menderita sanksi yang keras yang kadang-kadang diterima secara tak langsung.

Berdasarkan bidang-bidangnya norma dibagi sebagai berikut:

  1. Norma Agama, merupakan norma yang mengandung peraturan-peraturan yang sesuai dengan agama dan kepercayaan yang dianut oleh seseorang atau masyarakat.
  2. Norma Kesopanan, merupakan norma yang mengatur seseorang dalam bertingkah laku dalam kehidupan bermasyarakat.
  3. Norma Kebiasaan, merupakan tata aturan seseorang atau kelompok dalam melakukan suatu kegiatan yang didasarkan pada tradisi atau perilaku yang berulang-ulang dalam bentuk yang sama sehingga menjadi kebiasaan.
  4. Norma Kesusilaan, merupakan salah satu aturan yang berasal dar akhlak atau dari hati nurani sendiri tentang apa yang baik dan apa yang buruk.
  5. Norma Hukum, merupakan tata aturan yang paling tegas sanksi dan hukumnya yang terdiri dari hukum tertulis (KUHP, Undang-Undang, PP) dan hukum tidak tertulis misalnya hukum adat.[6]

Nilai yang dimiliki seseorang mempengaruhi perilakunya. Sedangkan norma sebenarnya mengatur perilaku manusia yang berhubungan dengan nilai yang terdapat dalam suatu kelompok. Artinya, untuk menjaga agar nilai kelompok agar tetap bertahan, lalu disusunlah norma-norma untuk menjaganya. Oleh karena itu pelanggaran terhadap norma berarti juga pelanggaran terhadap nilai yang dimiliki oleh kelompok atau masyarakat.

 

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Tindakan nilai merupakan hal asasi yang terpenting untuk menentukan sesuatu baik atau buruk. Kalau hal ini sudah jelas maka kita akan bisa berkata perbuatan saya salah atau perbuatan saya baik, maka berdosalah saya jika demikian dan berpahalalah tindakan saya jika demikian. Islam menekankan setiap tindakan harus dilandasi niat lillahita’ala (karena Allah ta’ala) untuk membedakan tindakan etis selain Allah, sehingga jika tidak dilandasi niat karena Allah, maka perbuatannya tidak diterima oleh Allah Swt.

Sesungguhnya segala perbuatan itu disertai niat. Dan seseorang diganjar sesuai dengan niatnya (HR Bukhari Muslim) Suatu riwayat, ketika Rasulullah Hijrah ke Madinah, diungkapkan masalah niat. Maka barang siapa hijrahnya didasari niat karena Allah dan Rasulullah maka hijrahnya akan sampai diterima oleh Allah dan Rasulullah.Dan barang siapa hijrahnya didasari niat karena kekayaan dunia yang akan di dapat atau karena perempuan yang akan dikawin, maka hijrahnya terhenti (tertolak) pada apa yang ia hijrah kepadanya ( Al hadist shahih).

Nilai sosial memiliki ciri-ciri antara lain : a) merupakan konstruksi masyarakat yang tercipta melalui interaksi antara anggota, b) membantu masyarakat agar berfungsi dengan baik, c) dapat dipelajari atau bukan bawaan dari lahir, d) dapat mempengaruhi emosi, e) dapat mempengaruhi perkembangan pribadi dalam masyarakat, baik secara positif maupun negatif, dll.

Norma-norma adalah bagian dari masyarakat, Norma tumbuh dari proses kemasyarakatan, ia menentukan batasan-batasan dari perilaku dalam kehidupan masyarakat. Norma terbagi menjadi empat macam, yaitu adat istiadat (mores) kebiasaan (folkway), cara (Usage), tata kelakuan (Mores). Lebih spesifiknya: Norma agama, norma kesopanan, norma kebiasaan, norma kesusilaan dan norma hukum.

 

 


[1] Bahasa Jerman, artinya Masyarakat

[2] Imran Manan. (1989). Pendidikan adalah enkulturasi. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Hlm. 19

[3] Usman Pelly dan Asih Menanti. 1994. Teori-Teori Sosial Budaya. Jakarta: Dirjen Dikti Depdikbud.

[4] Ali Imran. 2008. Kontribusi Hukum Islam Terhadap Pembangunan Hukum Nasional (Studi Tentang Konsepsi Taklif dan Mas`uliyyat dalam Legislasi Hukum). Semarang: Disertasi Universitas Diponegoro. Hlm. 16

[5] Sangkan SB, Etika Islam dalam http://media.isnet.org/sufi/Opini/Etika.html, diakses 15 Nov 2011.

[6] Afiful Ikhwan, Sistem Nilai dalam Kehidupan Manusia, dalam http://afive07.blogspot.com, diakses 01 Nov 2011

*) Penulis adalah Mahasiswa PPs Strata 2 IAIN Tulungagung Jatim

FacebookTwitterGoogle+LinkedIn

TEORI DASAR METODE STUDI ISLAM

 

 

TEORI DASAR METODE STUDI ISLAM

(Pembacaan atas Pemikiran Charles J. Adams dan Richard C. Martin)

 

R E V I S I  M A K A L A H

 

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah

" Metode dan Pendekatan Kajian Islam"

 

Dosen Pengampu   :  Dr. Maftukhin, M.Ag

 

 

 

 

Disusun Oleh  :

 

AFIFUL IKHWAN

2841104002

 

(PI A – SMT 2)

 

PROGRAM PASCASARJANA

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI

(IAIN) TULUNGAGUNG

JULI 2011

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.  Latar Belakang Masalah

Islam telah menjadi kajian yang menarik minat banyak kalangan . Studi keislaman pun semakin berkembang. Islam tidak lagi dipahami hanya dalam pengertian historis dan doktriner, tetapi telah menjadi fenomena yang kompleks. Islam tidak hanya terdiri dari rangkaian petunjuk formal tentang bagaimana seorang individu harus memaknai kehidupannya. Islam telah menjadi sebuah sistem budaya, peradaban, komunitas politik, ekonomi dan bagian sah dari perkembangan dunia. Mengkaji dan mendekati Islam, tidak lagi mungkin hanya dari satu aspek, karenanya dibutuhkan metode dan pendekatan interdisipliner.

Kajian agama, termasuk Islam, seperti disebutkan di atas dilakukan oleh sarjana Barat dengan menggunakan ilmu-ilmu sosial dan humanities, sehingga muncul sejarah agama, psikologi agama, sosiologi agama, antropologi agama, dan lain-lain. Dalam perjalanan dan pengembangannya, sarjana Barat bukan hanya menjadikan masyarakat Barat sebagai lapangan penelitiannya, namun juga masyarakat di negara-negara berkembang, yang kemudian memunculkan orientalisme. Bahkan oleh Muhammad Abdul Raouf, Islamic Studies disebut dengan oriental studies.

Sarjana Barat sebenarnya telah lebih dahulu dan lebih lama melakukan kajian terhadap fenomena Islam dari berbagai aspek: sosiologis, cultural, perilaku politik, doktrin, ekonomi, perkembangan tingkat pendidikan, jaminan keamanan, perawatan kesehatan, perkembangan minat dan kajian intelektual, dan seterusnya. Salah satu sarjana Barat yang mencurahkan perhatian intelektualnya untuk mengkaji Islam dengan menggunakan diversifikasi metode dan pendekatan adalah Charles Joseph Adams. Tulisan ini akan memaparkan tawaran pemikiran Charles Adams secara detail tentang bagaimana metode dan pendekatan yang digunakan dalam mengkaji Islam.

 

B.   Rumusan Masalah

  1. Pendekatan apa saja yg dipakai oleh charles j. adams dalam mendefinisikan Islam?
  1. Bidang kajian studi Islam apa saja yang dikaji oleh Charles J.Adams?
  1. Bagaimana cara kerja dari pendekatan fenomenologi kajian studi Islam dalam perspektif Richard C. Martin?
  1. Apakah pendekatan fenomenologi “Richard C. Martin”  dapat mendekati fenomena keagamaan?

 

C.   Tujuan Masalah

  1. Untuk mengetahui pendekatan apa saja yg dipakai oleh charles j. adams dalam mendefinisikan Islam.
  2. Untuk mengetahui bidang kajian studi Islam apa saja yang dikaji oleh Charles J.Adams.
  3. Untuk mengetahui bagaimana cara kerja dari pendekatan fenomenologi kajian studi Islam dalam perspektif Richard C. Martin.
  4. Untuk mengetahui apakah pendekatan fenomenologi Richard C. Martin  dapat mendekati fenomena keagamaan.

  

BAB II

PEMBAHASAN

TEORI DASAR METODE STUDI ISLAM

(Pembacaan atas Pemikiran Charles J. Adams dan Richard C. Martin)

 

A.  Biografi Charles J. Adams

Charles Joseph Adams lahir pada tanggal 24 April 1924 di Houston, Texas. Pendidikan dasarnya diperoleh melalui sistem sekolah umum. Pada permulaan belajar di sekolah dasar ini Adams telah menunjukkan kegemaran menulis. Setelah lulus dari Sekolah Menangah Atas John H. Reagen pada tahun 1941, dia meneruskan di Baylor University di Waco, Texas. Adams juga pernah bergabung dengan Angkatan Udara Amerika Serikat dari tahun 1942 sampai dengan 1945 sebagai operator radio dan mekanis. Setelah perang, tahun 1947 Adams memperoleh gelar Sarjana dan pada tahun yang sama memasuki Graduate School di Universitas Chicago bersama dengan Joachim Wach. Karir akademisi Adams adalah profesor dalam bidang Islamic Studies dan pada tahun 1963 diangkat menjadi director Institute of Islamic Studies McGill University selama 20 tahun. Adams menerima Ph. D dalam History of Religion dari University of Chicago pada tahun 1955 dengan disertasi berjudul “Nathan Soderblom as an Historian of Religions”.

Adams telah menulis banyak tentang Islam, salah satu karya terbesarnya yang dijadikan teks penting bagi dosen dan mahasiswa agama adalah A Reader’s Guide to the Great Religions (1977). Adams juga menjadi konstributor artikel untuk The Encyclopedia Britannica, dan the World Book Encyclopedia, dan Encyclopedia Americana. Beberapa karya lainnya adalah The Encyclopedia of Religion (1987), “The Authority of the Prophetic Hadith in the Eye of Some Modern Muslims, in Essays on Islamic civilization presented to Niyazi Berkes (1976), the Ideology of Maulana Maududi, in South Asian Politics and Religion, Ed. Donald E. Smith (1966), dan Islamic Religious Tradition, dalam Leonard Binder, The Study of the Middle East, Ed. (1976).

 


 

 

Burning issues and questions yang mengganggu nurani akademik Adams mengenai metode dan pendekatan studi Islam adalah adanya kegagalan ahli sejarah agama memperluas pengetahuan dan pemahaman kita tentang Islam sebagai agama, dan ahli tentang Islam (Islamists) juga telah gagal untuk menjelaskan secara tepat fenomena keberagamaan Islam[1]. Untuk menjawab kegelisahan akademik itu adalah dengan menggunakan dua disiplin yaitu sejarah agama dan studi Islam sebagai kerangka teoritis atau kerangka fikir (conceptual tool) untuk menganalisis lebih tajam tradisi Islam dan untuk memperoleh pemahaman yang jelas mengenai hubungan antara unsur yang bermacam-macam termasuk hubungan struktural dengan tradisi lainnya[2]. Hal mendasar yang penting dipahami dalam studi Islam adalah definisi Islam dan Agama.

Bagi Adams sangat sulit dicapai sebuah rumusan yang dapat diterima secara umum mengenai apakah yang disebut Islam itu? Islam harus dilihat dari perspektif sejarah sebagai sesuatu yang selalu berubah, berkembang dan terus berkembang dari generasi ke generasi dalam merespon secara mendalam realitas dan makna kehidupan ini. Islam adalah “an on going process of experience and its expression, which stands in historical continuity with the message and influence of the Prophet. Sedangkan konsep agama menurut Adams melingkupi dua aspek yaitu pengalaman-dalam dan perilaku luar manusia (man’s inward experience and of his outward behavior).[3]

Dalam melihat dan mendefinisikan agama Islam, Adams menggunakan kerangka teoretis dari Wilfred Cantwell Smith yang membedakan antara tradition dan faith[4]. Agama apapun, termasuk Islam, memiliki aspek tradition yaitu aspek eksternal keagamaan, aspek sosial dan historis agama yang dapat diobservasi dalam masyarakat, dan aspek faith yaitu aspek internal, tak terkatakan, orientasi transenden, dan dimensi pribadi kehidupan beragama. Dengan pemahaman konseptual seperti ini, tujuan studi agama adalah untuk memahami dan mengerti pengalaman pribadi dan perilaku nyata seseorang. Studi agama harus berupaya memiliki kemampuan terbaik dalam melakukan eksplorasi baik aspek tersembunyi maupun aspek yang nyata dari fenomena keberagamaan[5]. Karena dua aspek dalam keberagamaan ini (tradition and faith, inward experience and outward behavior, hidden and manifest aspect) tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lain.

Menurut Adams tidak ada metode yang canggih untuk mendekati aspek kehidupan-dalam individu dan masyarakat beragama, tetapi sarjana harus menggunakan tradisi atau aspek luar keberagamaan sebagai landasan dalam memahami dan melakukan studi agama. Sebagai tantangan dalam mengkaji Islam sebagai sebuah agama harus melampui dimensi tradisi atau aspek luar agar mampu menjelaskan dimensi kehidupan-dalam dari masyarakat Islam. Untuk menjawab tantangan dan tugas para pengkaji Islam, Adams merekomendasikan dua pendekatan yang diletakkan pada sebuah garis kontinum yaitu merentang dari pendekatan normatif sampai dengan pendekatan deskriptif. Pendekatan normatif adalah pendekatan yang dijiwai oleh motivasi dan tujuan keagamaan, sedangkan pendekatan deskriptif muncul sebagai jawaban terhadap motivasi keingintahuan intelektual atau akademis.

Pendekatan normatif dapat dilakukan dalam bentuk misionaris tradisional, apologetik, maupun pendekatan irenic (simpatik). Sementara pendekatan deskriptif, Adams mengelompokkan pada pendekatan-pendekatan filologis dan sejarah, pendekatan ilmu-ilmu sosial, dan pendekatan fenomenologis. Pendekatan normatif dan deskriptif dengan berbagai varian tersebut dapat dipergunakan dalam mengkaji Islam yang memiliki 11 subject matter, yaitu: (1) pre-Islamic Arabia, (2) studies of the Prophet, (3) Qur’anic studies, (4) prophetic tradition (Hadis), (5) kalam, (6) Islamic law, (7) falsafah, (8) tasawuf, (9) the Islamic sects—shi’ah—(10) worship and devotional life, dan (11) popular religion.

 

Pendekatan Normatif atau Keagamaan

1.   Pendekatan Misionaris Tradisional

Pendekatan ini muncul dan digunakan pada abad ke-19 pada saat semaraknya aktivitas misionaris di kalangan gereja dan sekte Kristen dalam rangka merespon perkembangan pengaruh politik, ekonomi dan militer negara Eropa di beberapa bagian Asia dan Afrika. Para misionaris tertarik mengetahui dan mengkaji Islam dengan tujuan untuk mempermudah meng-kristen-kan orang beragama lain (proselytizing). Metode yang digunakan adalah komperatif antara keyakinan Islam dengan keyakinan Kristen yang senantiasa merugikan Islam. Harus diakui konstribusi para misionaris adalah sebagai konstributor awal untuk pertumbuhan ilmu Islam.

2.   Pendekatan Apologetik

Ciri dan karakter pemikiran Muslim pada abad ke-20 adalah pendekatan apologetik. Pendekatan apologetik muncul sebagai respon umat Islam terhadap situasi modern. Di hadapkan pada situasi modern, Islam ditampilkan sebagai agama yang sesuai dengan modernitas, agama peradaban seperti peradaban Barat. Pendekatan apologetik merupakan salah satu cara untuk mempertemukan kebutuhan masyarakat terhadap dunia modern dengan menyatakan bahwa Islam mampu membawa umat Islam ke dalam abad baru yang cerah dan modern. Tema seperti ini menjadi fokus kajian para penulis buku dari kalangan Islam atau Barat seperti Sayyid Amir Ali dengan bukunya The Spirit of Islam (1922), W.C. Smith, Modern Islam in India (1946), dan Islam in Modern History (1957).

Konstribusi para pengkaji Islam dengan pendekatan apologetik tersebut adalah melahirkan pemahaman tentang identitas baru terhadap Islam bagi generasi Islam dan terbentuknya kebanggaan yang kuat bagi mereka. Kajian apologetik ini telah dapat menemukan kembali berbagai aspek sejarah dan keberhasilan Islam yang sempat terlupakan oleh masyarakat. Hasilnya dapat dilihat dalam banyak aktivitas penelitian dan karya tulis yang menekankan pada warisan intelektual, kultural, dan agama Islam sendiri.

Seperti halnya misionaris yang tertarik mengkaji Islam, gerakan apologetik ini memiliki beberapa karakteristik. Oleh karena apologetik lebih concern pada bagaimana menampilkan Islam dalam performance yang baik, maka mereka sering terjebak dalam kesalahan yang tidak mengindahkan nilai keilmuan. Pendekatan apologetik sering menghasilkan literatur yang mengandung kesalahan dalam bentuk distorsi, selektivitas dan pernyataan yang berlebihan dalam menggunakan bukti, sering menampilkan sisi romantisme sejarah dan keberhasilan ummat Islam, dan kesalahan dalam melakukan analisis perbandingan, serta disemangati oleh sifat atau karakter tendensius. Kegagalan para apologis Muslim modern adalah melakukan kajian Islam dengan motif dan tujuan untuk mempertahankan diri dan bukan untuk tujuan ilmiah.

3.   

Pendekatan Irenic (Simpatik)

Sejak perang dunia II telah berkembang gerakan yang berbeda di dunia Barat yang diwakili oleh kelompok agama dan universitas. Gerakan tersebut bertujuan memberikan apresiasi yang besar terhadap keberagamaan Islam dan memelihara sikap baru terhadap Islam. Upaya tersebut dalam rangka menghilangkan sikap negatif Kalangan Barat Kristen seperti prasangka, perlawanan, dan merendahkan terhadap tradisi Islam. Pada waktu yang bersamaan terjadi dialog dengan orang Islam dengan harapan membangun jembatan bagi terwujudnya sikap saling simpati antara tradisi agama dan bangsa. Pendekatan ini tetap memperoleh kritikan dari kalangan intelektual, mereka menghadapi kesulitan luar biasa dalam mempererat hubungan dengan orang Islam disebabkan kecurigaan di kalangan Muslim pada masa lampau.

Salah satu contoh pendekatan irenic dalam studi Islam adalah karya Kenneth Cragg. Melalui beberapa karya yang ditulis, Cragg menunjukkan kepada Kristen Barat beberapa unsur keindahan dan nilai keberagamaan yang menjiwai tradisi Islam, dan kewajiban orang Kristen adalah terbuka atau menerima hal tersebut. Cragg mampu menggambarkan bahwa Islam memperhatikan banyak problem dan isu yang juga fundamental menurut umat Kristen. Inti pesan Cragg adalah makna iman Islam adalah terealisasi dalam pengalaman Kristiani. Namun, dalam analisis akhirnya, Cragg tetap terpengaruh keyakinan Kristennya, bahkan ia mengatakan bahwa orang Islam harus menjadi Kristen dan hanya dengan cara demikian, orang Islam menjadi Islam kaffah. Konstribusi karya Cragg adalah bermanfaat untuk memberantas pandangan negatif terhadap Islam yang berkembang luas di kalangan Barat.

Contoh lain pendekatan irenic diterapkan oleh W.C. Smith, terutama dalam karyanya The Faith of Other Men (1962) dan artikelnya berjudul “Comparative Religion, Whither and Why?”(1959). Hal utama yang ditampilkan dalam tulisan Smith adalah memahami keyakinan orang lain dan bukan untuk mentransformasikan keyakinan itu, atau dengan motif penyebaran agama. Dengan memilih Cragg dan Smith sebagai contoh penggunaan pendekatan irenic dalam studi Islam, Adams tidak bermaksud mengabaikan akademisi lain yang dapat dikategorikan dengan mereka berdua seperti Montgomery Watt, dan Geoffrey Parrinder.

  

Pendekatan Deskriptif

1.   Pendekatan Filologi[6] dan Sejarah

Pendekatan filologi dan sejarah dianggap sangat produktif dalam studi Islam. Lebih dari 100 tahun sarjana membekali diri dengan prinsip-prinsip bahasa orang Islam dan memperoleh pendidikan dalam bidang metode filologi untuk memahami bahan-bahan tekstual yang menjadi bagian dari keberagamaan Islam. Karya di bidang filologi sebenarnya merupakan kesinambungan dari pendekatan serupa dalam kajian perbandingan bahasa atau studi Bibel. Hal ini disebabkan karena status Bahasa Arab merupakan perkembangan lebih jauh dari rumpun bahasa Semit.

Pendekatan filologi dapat digunakan hampir dalam semua aspek kehidupan umat Islam, tidak hanya untuk kepentingan orang Barat tetapi juga memainkan peran penting dalam dunia orang Islam sendiri yang berbentuk penelitian filologi dan sejarah yang banyak dilakukan oleh pembarahu, intelektual, politisi, dan lain sebagainya. Melalui pendekatan filologi dan sejarah, sarjana telah menemukan kembali masa kejayaan budaya Islam yang terlupakan di kalangan Muslim padahal ia menjadi salah satu faktor pada masa sekarang ini untuk melakukan revitalisasi Islam.

Menurut Adams, filologi memiliki peran vital dan harus tetap dipertahankan dalam studi Islam. Argumentasi Adams adalah karena Islam memiliki banyak bahan berupa dokumen-dokumen masa lampau dalam bidang sejarah, teologi, hukum, tasawuf dan lain sebagainya. Literatur tersebut belum banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Eropa, sehingga pendekatan filologi sekali lagi memainkan peran vital dalam hal ini.

Metode filologi dan sejarah akan tetap relevan untuk studi Islam, baik untuk masa lalu, sekarang maupun yang akan datang. Adams lebih lanjut menjelaskan, penekanan terhadap pendekatan filologi ini bukan berarti tidak menghargai pendekatan lain untuk mengkaji kehidupan umat Islam kontemporer. Pendekatan behavioral kontemporer terhadap Islam tetap memiliki signifikansi dalam membangun pengetahuan tentang Islam sebagai sebuah living religion. Yang hendak ditegaskan Adams adalah filologi merupakan kata kunci untuk melakukan penelitian tentang realitas praktek dan kelembagaan Islam di masa lalu. Metode dan pendekatan ilmu behavioral harus digunakan apabila cocok digunakan tetapi tidak harus menolak tradisi penelitian filologi.

Pada bagian sub pembahasan tentang pendekatan filologi dan sejarah ini, Adams berharap agar di masa mendatang para pengkaji Islam tetap membekali diri dengan metode penelitian filologi dan sejarah dan juga familier dengan metode dan pendekatan ilmu-ilmu behavioral. Sampai dengan sekarang masih jarang terjadi komunikasi antara ilmuan behavior yang tertarik mengkaji Islam dengan pengkaji Islam yang menggunakan pendekatan filologi, bahkan antara mereka saling tidak mempercayai.

Membaca gagasan Adams mengenai pentingnya filologi agaknya bisa dilacak pada pendapat Max Muller—salah seorang dari tiga pencetus dan pendiri the study of religion[7]—yang juga sangat menekankan soal perbekalan bahasa bagi pengkaji agama. Sampai-sampai ia mengutip paradoks Goethe yang mengatakan: “He who knows one language knows none”[8]. Mudah dipahami bahwa menguasai bahasa dapat membantu memahami sendiri secara langsung suatu agama, dibanding jika melalui terjemahan atau tulisan hasil tangan kedua yang kemungkinan besar akan mengandung kesalahan-kesalahan dalam pemahaman. Apalagi jika penerjemah bukan pemeluk agama yang bersangkutan.

Bagi Joachim Wach, penguasaan bahasa bagi para pengkaji atau studi agama akan memungkinkan untuk memperoleh the most extensive information, yaitu informasi yang luas berkaitan dengan subject matter-nya sehingga akan memungkinkan pemahaman terhadap fenomena agama[9]. Dengan penguasaan bahasa akan diperoleh kebenaran deskripsi agama secara akademik dan juga kebenaran menurut perspektif atau pandangan pemeluknya.

2.   

Pendekatan Ilmu-ilmu Sosial

Perkembangan yang sangat penting pada abad ini adalah lahirnya ilmu sosial yang mewarnai dan meramaikan kehidupan akademik dan intelektual. Ilmuwan sosial telah tertarik terhadap Timur Tengah, terutama melakukan pengkajian tentang Islam. Di Amerika Utara, banyak karya hasil tulisan ilmuwan sosial terutama yang mengkaji aspek tradisi Islam secara kuantitatif. Kajian tersebut bukan dihasilkan oleh ilmuan berbasis humanitis atau penulis yang mempunyai latar belakang pendidikan studi agama. Karya ilmuwan sosial tersebut dapat meningkatkan pemahaman mahasiswa yang mengambil area studi Timur Tengah karena metode yang digunakan ilmuwan sosial dapat dijadikan alat analisis untuk memperluas pemahaman kita.

Untuk menemukan ciri-ciri dari “pendekatan ilmu-ilmu sosial” untuk studi Islam sangatlah sulit. Hal ini disebabkan karena beragamnya pendapat di kalangan ilmuwan sosial sendiri tentang validitas kajian yang mereka lakukan. Salah satu ciri utama pendekatan ilmu-ilmu sosial adalah pemberian definisi yang tepat tentang wilayah telaah mereka. Adams berpendapat bahwa studi sejarah bukanlah ilmu sosial, sebagaimana sosiologi. Perbedaan mendasar terletak bahwa sosiolog membatasi secara pasti bagian dari aktivitas manusia yang dijadikan fokus studi dan kemudian mencari metode khusus yang sesuai dengan objek tersebut, sedangkan sejarahwan memiliki tujuan lebih luas lagi dan menggunakan metode yang berlainan.

Asumsi dalam diri ilmuwan sosial, salah satunya adalah bahwa perilaku manusia mengikuti teori kemungkinan (possibility) dan objektivitas. Bila perilaku manusia itu dapat didefnisikan, diberlakukan sebagai entitas objektif, maka akan dapat diamati dengan menggunakan metode empiris dan juga dapat dikuantifikasikan. Dengan pendekatan seperti itu, ilmuwan sosial menggambarkan agama dalam kerangka objektif, sehingga agama dapat “dijelaskan” dan peran agama dalam kehidupan masyarakat dapat dimengerti. Penelitian dalam ilmu sosial bertujuan untuk menemukan aspek empiris dari keberagamaan. Kritikan dan kelemahan pendekatan ilmuwan sosial seperti ini, menurut Adams adalah hanya akan menghasilkan deksripsi yang reduksionis terhadap keberagamaan seseorang.

Dengan menggunakan pendekatan ilmu-ilmu sosial, maka agama akan dijelaskan dengan beberapa teori, misalnya agama merupakan perluasan dari nilai-nilai sosial, agama adalah mekanisme integrasi sosial, agama itu berhubungan dengan sesuatu yang tidak diketahui dan tidak terkontrol, dan masih banyak lagi teori lainnya. Sekali lagi, pendekatan ilmu-ilmu sosial menjelaskan aspek empiris orang beragama sebagai pengaruh dari norma sosial, dorongan instinktif untuk stabilitas sosial, dan sebagai bentuk ketidak berdayaan manusia dalam menghadapi ketekutan. Tampak jelas bahwa pendekatan ilmu-ilmu sosial memberikan penjelasan mengenai fenomena agama dalam kerangka seperti hukum sebab-akibat, supply and demand, atau stimulus and respons.

Adams menunjukkan kelemahan lain dari pendekatan ilmu-ilmu sosial adalah kecenderungan mengkaji manusia dengan cara membagi aktivitas manusia ke dalam bagian-bagian atau variabel yang deskrit. Akibatnya, seperti yang dapat dilihat, terdapat ilmuwan sosial yang mencurahkan perhatian studinya pada perilaku politik, interaksi sosial dan organisasi sosial, perilaku ekonomi, dan lain sebagainya. Sebagai akibat lebih lanjut dari kelemahan ini, muncul dan dikembangkan metode masing-masing bidang atau aspek, kemudian berdirilah fakultas dan jurusan ilmu-ilmu sosial di beberapa universitas. Fakta tersebut membuktikan bahwa telah terjadi fragmentasi pendekatan dan terkotaknya konsepsi tentang manusia. Kritikan Adams terhadap pendekatan ilmu-ilmu sosial paralel dengan pendapat W.C. Smith yang menyatakan bahwa aspek-aspek eksternal agama dapat diuji secara terpisah-pisah dan inilah kenyataannya yang berlangsung sampai beberapa waktu yang lalu, khususnya pada tradisi Eropa. Padahal persoalannya tersebut dalam dirinya bukanlah agama[10].

Meskipun memberikan kritik dan menunjukkan kelemahan pendekatan ilmu-ilmu sosial, Adams mengakui tetap perlu adanya pendekatan interdisipliner dalam melakukan studi tentang budaya manusia. Konstribusi ilmuwan sosial—dengan menggunakan salah satu disiplin ilmu sosial—seperti ilmuwan politik, ilmuwan sosial, dan antropolog yang tertarik pada wilayah di Timur Tengah atau masyarakat Muslim. Mereka menulis sesuai dengan fokus keahlian mereka, mereka concern terhadap Islam yang dilihat mempengaruhi fokus yang dikajinya. Pertanyaan yang dimunculkan misalnya adalah efek Islam terhadap politik di salah satu negara atau hubungan orientasi agama dengan pembangunan ekonomi atau perubahan sosial. Dari perspektif yang seperti ini agama menemukan maknanya sebagai fungsi dari realitas aktivitas lainnya. Karena bidang kaji ilmuwan sosial ditentukan oleh ketertarikan terhadap fokus tertentu, mereka akan memilih salah satu aspek dari Islam sesuai atau menurut tujuan mereka. Terhadap aspek Islam yang menurutnya penting, maka ilmu sosial akan membahas dan menjadikannya bernilai. Oleh sebab itu, karena ilmuwan dalam bidang politik dan sosiologi bukanlah ahli sejarah agama, maka karya mereka tentang agama mungkin sedikit memberikan kepuasan dan kurang komplit jika dibandingkan dengan karya tulis mahasiswa perbandingan agama dalam bidang politik atau kekuatan sosial.

Menurut Adams pengecualian harus diberikan untuk pendekatan antropologi. Dalam banyak hal, pendekatan antropologi dan sejarah agama sangat erat. Hal ini disebabkan karena kedua disiplin ini sama-sama tertarik untuk mengkaji seluruh kehidupan masyarakat, antropolog melebihi ilmuwan politik, sosiologi atau ekonomi karena antropolog mengkaji seluruh aspek kehidupan masyarakat beragama yang dijadikan subjek studi. Pendekatan antropologi tertarik untuk mengkaji fenomena agama dan seluruh aspek ekspresi keberagamaan. Di antara ilmuwan sosial yang melakukan kajian Islam dengan pendekatan antropologi adalah Clifford Geertz. Pendekatan antropologi mampu menghasilkan studi yang menjelaskan tentang ekspresi keberagamaan Islam lokal menurut tempat dan gaya hidup yang berlainan.

Seorang ilmuwan sosial yang tetap mempertahankan model studi dengan memilih dan mengkotakkan aktivitas manusia ke dalam bentuk bagian-bagian, sebagai sudut pandang secara sempit tetapi masih sangat penting adalah pendekatan yang dilakukan oleh C.A.O. van Nieuwenhuijze dalam sebuah tulisannya “The Next Phase of Islamic Studies: Sociology?”. Van Nieuwenhuijze menyatakan bahwa metode sosiologi dan ilmu sosial lainnya mungkin akan menambah pemahaman baru tentang tradisi keberagamaan Islam.

3.   

Pendekatan Fenomenologi

Di samping melalui pendekatan yang telah disebutkan, seseorang dapat mencurahkan waktu dan energi untuk studi Islam dengan pendekatan atau dalam bentuk Religionswissenschaft.[11] Mereka yang menggunakan pendekatan ini secara formal memperoleh pendidikan tradisi Eropa dalam studi agama yang lahir dalam seperempat ahir abad ke-19, dan mereka yang berjuang keras menggunakan pendekatan ilmiah terhadap agama sebagai sebuah fenomena sejarah yang universal dan sangat penting. Di Amerika Utara pendekatan studi seperti ini dikenal dengan sebutan sejarah agama atau perbandingan agama. Adams dalam tulisan ini mengabaikan bagaimana perubahan konsepsi Religionswissenschaft seperti pada awal kemunculannya kemudian menjadi fenomenologi sebagai salah satu ciri pendekatan dalam studi agama. Diakui Adams sangat sulit mendefinisikan fenomenologi agama, karena memang mereka sendiri yang menyebut fenomenologi agama.

Ada dua hal yang menjadi karakteristik pendekatan fenomenologi. Pertama, bisa dikatakan bahwa fenomenologi merupakan metode untuk memahami agama orang lain dalam perspektif netralitas, dan menggunakan preferensi orang yang bersangkutan untuk mencoba melakukan rekonstruksi dalam dan menurut pengalaman orang lain tersebut. Dengan kata lain semacam tindakan menanggalkan-diri sendiri (epoche), dia berusaha menghidupkan pengalaman orang lain, berdiri dan menggunakan pandangan orang lain tersebut.

Aspek fenomenologi pertama ini—epoche—sangatlah fundamental dalam studi Islam. Ia merupakan kunci untuk menghilangkan sikap tidak simpatik, marah dan benci atau pendekatan yang penuh kepentingan (intertested approaches) dan fenomenologi telah membuka pintu penetrasi dari pengalaman keberagamaan Islam baik dalam skala yang lebih luas atau yang lebih baik. Konstribusi terbesar dari fenomenologi adalah adanya norma yang digunakan dalam studi agama adalah menurut pengalaman dari pemeluk agama itu sendiri. Fenomenologi bersumpah meninggalkan selama-lamanya semua bentuk penjelasan yang bersifat reduksionis mengenai agama dalam terminologi lain atau segala pemberlakuan kategori yang dilukiskan dari sumber di luar pengalaman seseorang yang akan dikaji. Hal yang terpenting dari pendekatan fenomenologi agama adalah apa yang dialami oleh pemeluk agama, apa yang dirasakan, diakatakan dan dikerjakan serta bagaimana pula pengalaman tersebut bermakna baginya. Kebenaran studi fenomenologi adalah penjelasan tentang makna upacara, ritual, seremonial, doktrin, atau relasi sosial bagi dan dalam keberagamaan pelaku.

Pendekatan fenomenologi juga menggunakan bantuan disiplin lain untuk menggali data, seperti sejarah, filologi, arkeologi, studi sastra, psikologi, sosiologi, antropologi dan sebagainya. Pengumpulan data dan deskripsi tentang fenomena agama harus dilanjutkan dengan interpretasi data dengan melakukan investigasi, dalam pengertian melihat dengan tajam struktur dan hubungan antar data sekaitan dengan kesadaran masyarakat atau individu yang menjadi objek kajian. Idealnya, bagi seorang fenomenologi agama yang mengkaji Islam harus dapat menjawab pertanyaan: apakah umat Islam dapat menerima sebagai kebenaraan tentang apa yang digambarkan oleh fenomenologis sebagaimana mereka meyakini agamanya? Apabila pertanyaan ini tidak dapat terjawab, maka apa yang dihasilkan melalui studinya bukanlah gambaran tentang keyakinan Islam. Dalam hal ini, Adams menguatkan apa yang dikatakan W.C. Smith yang menyarankan bahwa pernyataan tentang sebuah agama oleh peneliti dari luar (outsider) harus benar, jika pemeluk agama tersebut mengatakan “ya” terhadap deskripsi tersebut[12].

Aspek Kedua dari pendekatan fenomenologi adalah mengkonstruksi rancangan taksonomi untuk mengklasifikasikan fenomena masyarakat beragama, budaya, dan bahkan epoche. Tugas fenomenologis setelah mengumpulkan data sebanyak mungkin adalah mencari kategori yang akan menampakkan kesamaan bagi kelompok tersebut. Aktivitas ini pada intinya adalah mencari struktur dalam pengalaman beragama untuk prinsip-prinsip yang lebih luas yang nampak dalam membentuk keberagamaan manusia secara menyeluruh.

Pendekatan fenomenologi menjadi populer di Amerika Utara dalam beberapa tahun terakhir ini karena pengaruh Mircea Eliade dan murid-muridnya, namun hampir tidak ada upaya untuk mengaplikasikan metode dan pendekatan ini untuk mengkaji Islam. Menurut Adams, penerapan pendekatan fenomenologi lebih baik untuk penelitian keberagamaan masyarakat yang diekspresikan terutama dalam bentuk non-verbal dan pre-rasional, oleh sebab itu fenomenologi lebih besar memfokuskan perhatiannya pada agama primitif dan agama kuno.

 

B.  Bidang Kajian Studi Islam

Adams membagi bidang kajian dalam studi Islam terdiri dari delapan bidang, yaitu Arab pra-Islam, studi tentang Nabi Muhammad, studi al-Quran, studi Hadis, kalam, tasawuf, aliran Islam khususnya Syi’ah, serta popular religion.

Pembagian bidang kajian yang menjadi subject matter studi Islam seperti di atas dipengaruhi oleh definisi Adams tentang Islam dan Agama. Meski pun Adams pesimistis untuk dapat menemukan kesepakatan umum tentang definisi Islam, namun dia akhirnya mengatakan bahwa Islam bukan hanya terdiri dari satu hal (one thing), tetapi Islam mempunyai banyak hal (many things) yang selalu berubah dan berkembang sehubungan dengan kondisi sejarah. Apapun definisi ilmuwan tentang Islam, menurut Adams, Islam dapat dijadikan objek kajian sebagai bagian dari sejarah.

1.   Kajian Arab pra-Islam

Terdapat kesepakatan yang mesti diterima sebelum membicarakan apa yang dimaksud Arab sebelum Islam dibatasi pada latarbelakang Islam saja untuk Arab pra-Islam. Siapapun yang membicarakan tentang hal ini, khususnya mahasiswa studi agama kuno Timur Dekat, akan menerima bahwa terdapat kesinambungan antara Islam dengan agama bangsa Semit. Oleh sebab itu latarbelakang munculnya Islam adalah sejarah agama Timur Dekat secara keseluruhan. Kita membatasi maksud Arab pra-Islam adalah Arab menjelang kemunculan Islam.

Bagi Adams, yang penting digaris bawahi di sini adalah kesinambungan pengalaman agama Islam dengan tradisi besar agama Timur Dekat, yang mempunyai hubungan erat antara keduanya dan hal ini seringkali dilupakan.

Pengetahuan tentang agama dan kondisi kehidupan sosial lainnya pada Arab pra-Islam dalam beberapa tahun tidak dapat diketahui disebabkan karena pemerintah Arab tidak mengizinkan dilakukankanya arkeologi dan melarang orang asing bepergian ke sana. Kajian interpretative mengenai Arab pra-Islam dilakukan oleh beberapa sarjana seperti Goldziher, Wellhausen, Margoulioth, Noldoke, Lamments, Lyall dan Nicolson, semua nama tersebut ini termasuk generasi masa lalu, yang karya mereka masih sangat penting sampai dengan sekarang. Kebanyakan dari pendahulu ini menggambarkan materi untuk karya mereka tentang Arab pra-Islam berasal dari sumber-sumber sastra: seperti Jahili, sirah, dari peninggalan ahli sejarah Arab atau berupa kompilasi seperti Kitab al-Ghani dan bahkan bersumber dari al-Quran. Mereka memberikan gambaran sikap bangsa Arab pra-Islam di mana Muhammad meuncul dan dilahirkan yang karya tersebut tidak dikritisi oleh karya-karya belakangan. Diantara yang paling signifikan konstribusi dalam pencerahan pemahaman tentang Arab sebelum Islam adalah upaya Toshihiko Izutsu yang menunjukkan secara tepat unsur moral dalam pandangan bangsa Arab yang sesuai dengan ajaran al-Quran. Kajian Montgomery Watt tentang latar belakang ekonomi dan sosial dari munculnya Islam dan peran hubungan antar suku dalam bukunya tentang Muhammad, dan kajian antropologis RB. Serjeant berkaitan dengan lembaga agama bangsa Arab sebelum Islam. Nama lain dapat disebut di sini adalah Thaha Husayn, AJ. Arerry, Sezgin dan Brockelmann.

Salah satu cara mengkaji asal usul agama Bangsa Arab peninsula adalah melalui karya archeology tentang sejarah kuno agama. Nama yang berjasa dalam bidang ini misalnya G. Ryckman, J. Pirenne, Ruth Stichl dan Hermann von Wissman. Perkembangan yang sangat besar dalam bentuk deskripsi sistematis tentang aspek kehidupan beragama pada Arab pra-Islam dibukukan oleh sarjana Perancis yang terdiri dari tiga nama penting: Vishr Fares, Joseph Chelhod, dan Toufic Fahd.

2.   Kajian Muhammad

Studi tentang kehidupan Muhammad menjadi semarak dalam beberapa tahun sejak perang dunia II melalui beberapa karya penting yang bermunculan. Adams memberikan contoh beberapa penulis dan pengkaji dalam bidang ini. Satu di antaranya adalah Montgomery Watt yang menampilkan dimensi sosial dan ekonomi serta latar belakang aktivitas kenabian Muhammad. Karya Watt lebih menekankan aspek moral dari Nabi Muhammad dan belum menjelaskan bagaimana makna agama dari perspektif umat Islam pada masa Muhammad.

Kajian berbeda yang memberi sumbangsih besar dalam karya tentang Nabi adalah A. Guillaume yang menerjemahkan karya Ibn Hisham, Shirat al-Nabi. Biografi dalam bahasa Arab ini merupakan sumber utama informasi tentang Muhammad, aktivitasnya, sahabatnya, dan waktunya yang digunakan untuk kita. Dalam penilaian Adams buku tersebut sangat tebal dan paling sulit digunakan, kecuali bagi mereka yang berpendidikan Bahasa Arab dalam versi aslinya. Oleh sebab itu, terjemahan A. Guillaume adalah karya berharga bagi orang Eropa di samping juga catatan kritisnya terhadap buku tersebut. Karya lain yang dijadikan sampel oleh Adams antara lain Marsden Jones, Regis Blachere, R.B. Serjeant, dan Harris Birkeland.

Satu bidang kajian yang masih perlu mendapat perhatian dan dikembangkan menurut Adams adalah eksplorasi tentang kehidupan keberagamaan Muslim pada masa Muhammad. Menurut Adams kita bisa merujuk pada peran Muhammad dalam kesalihan Islam, fungsi keberagamaan bagi masyarakat dan posisi kenabian dalam pemahaman Islam. Karya terakhir dalam bidang ini barulah tulisan Tor Andrae yang berjudul Die Person Muhammads. Bagi Adams, sebenarnya posisi Muhammad dalam perspektif dan pemikiran orang Islam lebih penting dari pada biografi dan perkembangan kepribadian Muhammad. Pusat perhatian tulisan yang dibuat contoh pada paragrap di atas lebih kepada Muhammad sebagai Nabi, dibandingkan Muhammad sebagai manusia. Mestinya, kajian historis dan kritis tidak hanya berhenti pada persepsi keagamaan tentang Muhammad sebagai nabi, melainkan diarahkan pada eksplorasi empiris bagaimana orang Islam berfikir mengenai Muhammad.

3.   Kajian Al-Qur’an

Studi al-Quran yang dilakukan sarjana Barat pada dasarnya terfokus pada persoalan-persoalan kritis yang mengelilingi kitab suci orang Islam ini. Persoalan-persoalan tersebut seperti pembentukan teks al-Quran, kronologis turunnya al-Quran, sejarah teks, variasi bacaan, hubungan antara al-Quran dengan kitab sebelumnya, dan isu-isu lain seputar itu. Kebanyakan karya dalam problem itu dilakukan oleh sarjana abad 19, yang paling penting adalah Theodor Noldeke.

Kajian kritis terhadap al-Quran adalah juga dilakukan oleh sekelompok sarjana Jerman bekerjasama dengan sarjana lain. Projek ini berhenti saat terjadi pengeboman kota Munich dalam Perang Dunia II yang menghancurkan manuskrip dan bahan-bahan lain. Terakhir adalah Arthur Jeffery yang mempublikasikan Material for the History of the Text of the Quran. Menurut Adams, sangat sulit ditemukan karya kritis terhadap teks al-Quran baik di dunia Islam sendiri maupun dunia Barat. Mungkin usaha yang sangat impresif adalah karya Toshihiko Izutsu berjudul The Structure of the Ethical Terms in the Koran, yang direvisi menjadi Ethico-Religious Concept in the Qur’an, dan God and Man in the Koran. Izutsu menggunakan metode analisis semantik yang canggih yang mengembangkan makna huruf-huruf dan konsep kunci dalam teks al-Quran secara mendalam, dan mendemontrasikan hubungan struktural di antara konsep-konsep tersebut dalam al-Quran sebagai satu kesatuan. Keragaman metode analisis semantik terhadap al-Quran juga telah dikembangkan oleh sekelompok sarjana di Universitas St. Joseph di Beirut. Teknik yang digunakan berupa sebuah indeks al-Quran dan sekumpulan kartu, yang dapat dimanfaatkan dan dihubungkan satu dengan lainnya untuk melakukan investigasi hubungan di antara ide dasar yang terdapat dalam al-Quran. Perkembangan lain adalah digunakannya komputer dalam studi al-Quran.

4.   Kajian Hadis

Adams menyebut empat nama orang yang dapat dijadikan ukuran dalam melihat studi hadis, yaitu Ignaz Goldziher, Joseph Schacht, Nabia Abbott, dan Fuaf Sezgin. Juga dapat ditambahkan lagi adalah Fazlur Rahman. Karya Abbott yang diterbitkan pada tahun 1967 dalam volume 2 Studies in Arabic Literary Papyrii, tidak secara langsung membahas dan mempertanyakan keaslian hadis sebagaimana dipertanyakan oleh Goldzihier. Perhatian Abbott adalah pada hadis sohih seperti tulisan Schacht. Hal lain yang dibahas Abbot adalah tentang keberadaan hadis dan sunnah pada abad pertama, eksistensi pengumpulan dan penulisan hadis dari masa awal dan kelangsungan periwayatan sampai dengan abad ketiga. Hal lain yang menjadi concern Abbot dalam karyanya adalah perdebatan keaslian hadis dan studi tentang tadwin al-hadis atau kodifikasi hadis. Pada tahun yang sama Abbott menerbitkan volume papyri yang mengkaji tentang tafsir al-Quran dan hadis, yang juga muncul pada volume 1 karya Sezgin Geschichle des Arabischen Schrifttums.

Salah satu persoalan dasar dalam studi hadis adalah masalah keaslian hadis, disebabkan karena sedikitnya sumber data dalam bentuk tulisan dari abad pertama Islam. Di antara perkembangan paling baru dalam studi hadis adalah tentang makna hadis bagi masyarakat. Salah satu di antaranya adalah munculnya ketertarikan dalam perdebatan tentang otoritas hadis di kalangan Muslim, yang sudah mulai muncul dari waktu ke waktu dalam sejarah Islam tetapi menjadi lebih intensif pada masa sekarang. Di beberapa negara Islam banyak karya yang mempertanyakan posisi hadis dalam pemikiran keagamaan Islam yang ditandai dengan pembatasan peran hadis.

Tulisan yang membahas persoalan ini adalah karya Mahmud Abu Rayyah (1967)—penulis Mesir—berjudul Adwa ‘ala al-Sunnah al-Muhmmadiyah dan karya penulis Pakistan: Ghulam Gilani Barq, Ghulam Ahmad Parvis dan Abu A’la al-Maududi. Topik yang diangkat dalam karya-karya ini menimbulkan kontroversi antara muslim (konservatif)[13] dengan muslim liberal atau modern yang banyak mempersoalkan masalah otentisitas hadis. Aspek kehidupan dan pemikiran muslim modern ini ternyata memperoleah perhatian sarjana Barat, seperti GHA Juynboll melalui publikasi penelitian doktornya “the Authenticity of the Tradition Literature: Discussions in Modern Egypt, karya—tidak dipublikasikan—Barq dan Parvez dan karya yang berkaitan dengan Maududi dan Shibli Nu’mani keduanya merupakan konstributor penting di benua India. Bentuk lain studi hadis adalah karya William Paul McLean berjudul Jesus in the Quran and Hadis Literature (tesis MA di McGill tahun 1970). Dia menyatakan bahwa Yesus digambarkan dalam hadis tidak hanya berbeda dari gambaran al-Quran, tetapi sangat radikal.

5.  Kajian Kalam

Kalam atau teologi Islam merupakan salah satu bidang kajian yang sulit karena kompleksitas dan luasnya objek kajian. Teologi atau ekspresi intelektual secara sistematis mengenai keyakinan beragama menjadi bidang yang menarik mahasiswa agama. Kajian kalam pada masa-masa awal Islam menjadi bagian dari studi filsafat, studi fiqh, studi tradisi dan bagian dari politik. Pada masa awal Islam teologi Islam merupakan pemikiran yang menjadi urat nadi kehidupan masyarakat karena persoalan teologi mempunyai relevansi dengan kehidupan sehari-hari.

Kajian bidang sejarah pemikiran teologi Islam dilakukan oleh sarjana pada abad 19 sampai dengan perang dunia I. Karya tersebut antara lain tulisan Goldziher (Vorlesungen, 1910), Duncan Black MacDonald (the Development of Muslim Theology, Jurisprudence and Constitutional Theory, 1903) dan buku karangan Max Horten yang masih menjadi sumber rujukan dalam bidang ini. Karya berjudul The Muslim Creed karangan AJ. Wensinck lebih jauh mengeksplorasi beberapa tema dasar tentang pemikiran teologis yang dijelaskan secara detail dan menarik. Di masa sekarang kajian mendasar tentang sejarah awal adalah tulisan MM Anawati dan Louis Garde (1948) berjudul Introduction a la Theologie Musulmane, yang mengadopsi model sistematis aliran teologis di tradisi Islam yang diinformasikan oleh aliran-aliran yang menjadi latar belakang kristennya.

Hampir semua karya tentang sejarah teologi Islam dari awal sampai sekarang didasarkan pada karya heresiograpis dari negara Islam awal. Yang penting adalah karya al-Shahrastani berjudul Kitab al-Milal wa al-Nihal, al-Bagdadi, al-Farq bayn al-Fiaq dan al-Ashari, Maqalat al-Islamiyat. Buku-buku tersebut bertujuan mendeskripsikan ajaran yang bervariasi dan kelompok aliran yang muncul pada abad awal dan membuat klasifikasinya. Karya tersebut menjadi sumber utama bagi pengetahuan kita tentang individu dan kelompok yang tidak meninggalkan tulisan atau bukti lain mengenai pandangan mereka.

Sebagai tambahan terhadap karya dalam sejarah teologi, para sarjana juga mengkaitkan dengan beberapa tokoh penting dari teologi Islam dalam bentuk penjelasan yang detail. Mungkin studi yang paling mendalam dan luas adalah karya tentang al-Ghazali, yang sampai sekarang menjadi literature yang sangat dipertimbangkan dalam bentuk teks, terjemahan, studi monograf, dan biografi. Al-Ghazali sufi atau filosof daripada al-Ghazali sebagai penganut aliran Ash’ariah. Perhatian yang detail juga diberikan kepada tokoh lain seperti Ahmad ibn Hanbal, Ibn Taimiyah, Ibn Hazm, al-Ashariyah, dan Ibn Aqil. Karya di bidang ini sangat bernilai dalam menyediakan data solid yang bisa kita gunakan untuk mengisi kesenjangan dalam menggambarkan sejarah secara umum.

Perkembangan penting yang baru ketertarikan dalam bidang kajian kalam dilakukan dengan sejarah teologi Islam masa awal dan perkembangan terakhir aliran Sunni tradisional atau dikenal dengan Ashyariyah. Subjek studi yang dihidupkan kembali dalam periode awal ini memiliki beberapa aspek. Salah satu di antaranya adalah munculnya upaya untuk rekonstruksi dan pemahaman mendalam tentang perkembangan pemikiran pada periode secara keseluruhan. Karya Montgomery Watt, Free Will and Predestination in Early Islam mungkin merupakan karya pertama dan yang diikuti dengan Islamic Philosophy and Theology, serta The Formative Period of Islamic Thought (1948,1962, 1973). Karya lain yang menjelaskan sejarah umum pemikiran termasuk pada periode awal adalah karya Majid Fakri berjudul A History of Islamic Philosophy (1970).

Aspek baru yang kedua dalam studi teologi masa awal dapat dilihat dalam munculnya beberapa studi teknik mengenai tokoh dan teks. Nama yang pertama dalam aspek ini adalah Joseph van Ess dari Universitas of Tubingen yang mempublikasikan seri edisi tentang aliran, terjemah dan monograp studi. Kajian Ess merentang sangat luas, dia memberikan perhatian pada subjek yang beraneka ragam seperti masalah qada dan qodar, dimana dia menulis beberapa artikel dan tentang Mu’tazilah yang menampilkan beberapa tokoh individual seperti Hasan Basri, Dirar ibn Amr, al-Daraqutni, Bashr al-Marisi dan Amr ibn Ubayd. Karya lain dalam bidang ini adlah Richard Frank yang mengangkat Abu al-Hudhayl al-Allaf.

Aspek ketiga dalam studi kalam pada masa awal Islam adalah menghidupkan kembali kajian/topik Mu’tazilah. Cabang studi ini menerima stimulus khusus melalui penemuan di Yaman tahun 1951 beberapa karya besar oleh pemikir mu’tazilah, yaitu Qadi Abd al-Jabbar. Buku berjudul al-Mughni merupakan kitab paling luas mengenai teologi Mu’tazilah. Kitab ini menjawab kesulitan studi peran Mu’tazilah di masa awal islam karena tidak adanya sumber pertama dan kebutuhan studi mengenai ajaran mu’tazilah. Menurut Adams, belum adal karya yang lengkap dalam Mu’tazilah yang telah dicapai oleh Baraty kecuali oleh Steiner.

Bidang lain dalam studi awal teologi adalah sejarah pemikiran aliran Asyariyah. Dalam mayoritas tulisan tentang tradisi Islam, aliran ini diidentifikasikan dengan muslim ortodoks. Meskipun asumsi ini sekarang bisa dipertanyakan kembali. Tulisan mengenai ini adalah karangan Joseph Scacht (1945), dan George Makdisi. Meski sudah banyak kajian tentang kalam, anjuran Adams adalah melalui pendekatan sejarah. Meski demikian, adal dua hal penting yang masih merupakan kesenjangan dalam studi kalam. Pertama, upaya untuk mengangkat tokoh tertentu. Kedua, adalah kekurangan Islamic tahought.

6.  Kajian Tasawuf

Menurt Adams di antara sekian banyak bidang kajian dalam studi Islam, tasawuf merupakan bidang yang menarik minat pada tahun belakangan. Studi tradisi Islam tidak dapat dilepaskan dari studi tentang mistis yang mungkin juga merupakan aspek yang muncul pada masa awal Islam bahkan pada masa kenabian. Adams menunjukkan beberapa sarjana yang tertarik mengkaji tasawuf, antara lain Annemarie Schimmel, dengan bukunya Mystical Dimensions of Islam (1975). Juga Louis Massignon. Hal terpenting dari pendapat Adams adalah untuk menstudi tasawuf dapat didekati dengan pendekatan fenonemologi.

7.  Kajian Aliran Islam (Syi’ah)

Dengan sedikit sekali pengecualian tradisi sarjana Barat cenderung melihat Islam sebagai agama yang monolitis, mempunyai norma yang terdefinisikan secara baik untuk keimanan dan ibadah. Hal ini biasanya diidentifikasi dengan sikap di kalangan Muslim Sunni dengan alasan dia dianggap sebagai ortodoks.

8.  Kajian Populer Religion (agama rakyat)

Peribadatan, penyembahan dan agama rakyat merupakan wilayah kajian yang utama dalam studi Islam. Penekanan lebih banyak pada asal mula kesalehan dalam Islam dan kualitas pengalaman orang beriman perlu dikaji untuk menghindari kesalahan dalam memandang Islam adalah agama formalitas. Telah banyak buku atau literatur terdahulu dalam populer religion dalam kehidupan orang Islam. Kebanyakan literatur jenis ini dibuat oleh pengembara dan ditulis oleh seorang sebagai pejabat kolonial atau dalam artikel sarjana. Materi tulisan ini serin tidak memiliki hubungan yang jelas dengan tema besar tentang Islam tradisional atau klasik. Di antara karya sarjana pada generasi awal yang berkaitan dengan popular religion dan masih memiliki nilai besar adalah karya Duncan Black Macdonald berjudul The Religious Life and Attitude in Islam dan buku Max Horten berjudul Die religiose Gedankenwell des Volkes im heutien Islam. Karya senada juga ditampilkan oleh Rudolf Kriss dan hubert Kriss-Heinrich, E. Dermenhem dan H. Granquist.

Adams menyebut satu karya yang menggunakan pendekatan antropologis mengkaji Islam aktual dalam kehidupan dan pengalaman masyarakat Islam di berbagai negara. Pendekatan seperti ini berbeda dan jauh dari kepentingan intrinsik. Salah satu karya yang dikutip Adams adalah The Religion of Java karya Clifford Geertz yang ditulis berdasarkan observasi yang hati-hati terhadap kehidupan beragama di sebuah kota kecil di Jawa yang terjadi perbauran antara Islam klasik dengan non-Islam. Termasuk dalam kategori pendekatan ini adalah karya Geertz lainnya yang berjudul Islam Observed yang membandingkan etos atau spirit keyakinan Islam di Indonesia dan di Marocco. Buku berjudul Saint of the Atlas yang ditulis oleh Ernest Gellner juga disebut oleh Adams sebagai karya yang dihasilkan melalui pendekatan antropologi dalam bidang popular religion.

 

C.  Konstribusi Adams terhadap Studi Islam

Memperhatikan tulisan Adams dalam bentuk artikel “Islamic Religious Tradition”, dapat dipahami bahwa Adams merupakan salah satu sarjana Barat yang mencurahkan waktu dan pikirannya terhadap pengembangan studi agama dan studi Islam. Latarbelakang pendidikan Magister dan Doktornya dalam bidang History of Religion semakin meneguhkan dirinya sebagai salah seorang ahli dan expert dalam studi Islam.

M. Amin Abdullah menyebut Adams sebagai salah satu sarjana Barat yang berpendapat bahwa metodologi ilmu-ilmu sosial dapat diterapkan pada ilmu-ilmu keislaman, dan merasakan pentingnya menerapkan kaidah-kaidah ilmiah, metode dan cara pandang yang biasa digunakan dalam studi agama (religionwissenchaft) pada wilayah studi keislaman[14]. Secara konseptual, pendekatan yang ditawarkan oleh Adams dalam studi Islam, sebenarnya merupakan penguatan terhadap pendekatan yang ditawarkan oleh Joseph M. Kitagawa yang menyatakan bahwa disiplin religionwisennschaft terletak di antara disiplin normatif di satu sisi dan disiplin deskriptif di sisi lain. Mengkaji agama dapat dilakukan dengan menggunakan disiplin-disiplin normatif maupun deskriptif. Aspek deskriptif studi agama harus bergantung kepada disiplin-disiplin yang berhubungan dengan perkembangan historis masing-masing agama, psikologi, sosiologi, antropologi, filsafat, filologi, dan hermeneutik.[15]

Konstribusi konkrit Adams adalah ketika memberikan eksplanasi dan pemetaan yang jelas dari pendekatan normatif dan deskriptif dalam studi Islam dengan diikuti uraian yang detail untuk masing-masing pendekatan. Kemudian masing-masing pendekatan tersebut coba digunakan dalam mengkaji bidang telaah studi Islam yang terdiri dari sebelas bidang kajian. Bagi pengkaji Islam sekarang, pemikiran Adams yang tertuang dalam artikel tersebut, sangat membantu karena Adams begitu banyak melaporkan hasil penelusuran literatur (prior research and concept on the topic) mengenai pendekatan tersebut.

Hasil bacaan yang sangat banyak tersebut tidak sekadar dilaporkan secara detail, tetapi Adams memberikan kritikan sekaligus menyuguhkan kegelisahan akademik untuk masing-masing wilayah telaah dalam studi Islam yang dapat ditindaklanjuti dengan penelitian oleh para pengkaji Islam sekarang. Tidak mengherankan kalau banyak sarjana Barat-pun yang menjadikan pemikiran Adams sebagai referensi dalam pembahasan studi agama dan Islam.

Pendapat Adams tentang studi al-Quran yang bisa mempertanyakan hal-hal berikut materi-materi sebagai pembentuk teks al-Quran, kronologi materi-materi yang tersusun dalam teks, sejarah teks, varian bacaan, hubungan al-Quran dengan literatur sebelumnya, dan isu-isu hangat lainnya yang sejenis telah diteliti sepenuhnya. Menurut Andrew Rippin pernyataan Adams tersebut mengusik kegelisahan akademik John Wansbrough, sehingga dia tertarik melakukan analisis sastra terhadap al-Quran, tafsir dan Sirah[16].

Richard C. Martin pun menempatkan Adams sebagai rujukan utama untuk menguatkan beberapa pendapatnya. Misalnya ketika menulis buku Approaches to Islamic in Religious Studies, Ricard Martin meminta Adams memberikan prakatanya[17]. Bahkan Ricard Martin sempat memuja Adams bahwa Adams sebagai terdidik sebagai Islamis, ia mempelajari sejarah agama bersama Joachim Wach di Universitas Chicago. Adams memilih mengejar dua disiplin ini dengan tujuan untuk mendapatkan alat konseptual guna mempertajam analisis terhadap tradisi islam dan pemahaman yang lebih tepat tentang hubungan antara unsur-unsur berbeda sekaligus hubungan strukturalnya dengan tradisi lain[18].

Makalah Carl W. Ernst berjudul The Study of Religion and the Study of Islam[19] banyak juga mengutip pemikiran Adams, meskipun juga memberikan kritik tajam terhadap beberapa item yang menjadi kelemahan pemikiran Adams. Di indonesia, selain M. Amin Abdullah adalah Qodri Azizi yang melihat bahwa Charles J. Adams menampilkan uraian tersendiri dalam penjelasan tentang pendekatan yang ia lakukan dalam studi Islam[20].

Dalam kaitannya dengan wilayah telaah dalam studi Islam, Adams memberikan rekomendasi 6 wilayah telaah yang harus memperoleh perhatian para pengkaji Islam. Ke-enam wilayah telaah tersebut adalah Pertama studi al-Quran terutama berkaitan dengan ajaran, gagasan dan pandangan dunia tentang al-Quran. Kedua, sejarah teologi Islam masa-masa permulaan dengan perhatian khusus pada Mu’tazilah. Ketiga, studi sufi dengan penekanan pada karya-karya individual, teks dan tarikat. Ke-empat studi Syiah dengan fokus kajian keunikan dan kekayaan konstribusinya terhadap ilmu keagamaan. Ke-lima studi agama rakyat di kalangan muslim, dan ke-enam adalah kajian tentang sejarah agama yang muncul di Eropa dan Amerika dengan menggunakan pendekatan ilmiah.

 

  1. Pembacaan Kritis terhadap Pemikiran Charles J. Adams

Apabila dirunut ke belakang, sebenarnya pendekatan studi agama dan Islam yang ditawarkan Adams dapat diperbandingkan dengan pendapat Joseph M. Kitagawa. Menurut Joseph M. Kitagawa agama itu dapat dipelajari dengan tiga macam model disiplin keilmuan, yaitu model normatif, model deskriptif, dan model religio-scientifical[21]. Dari tiga pendekatan tersebut, menurut Joachim Wach pendekatan religio-scientifical merupakan pendekatan sebenarnya dalam studi agama[22].

Pendekatan yang ditawarkan oleh Adams jika dilihat dalam perspektif kekinian menunjukkan beberapa item yang belum disentuh dari deskripsinya mengenai studi agama padahal item tersebut sangat dibutuhkan sekarang. Adams tidak menyebutkan bagaimana reaksi orang Islam kepada sarjana Eropa-Amerika, atau partisipasi mereka di dalamnya. Pembahasan mengenai Studi Islam belum mempertimbangkan pengaruh mahasiswa Islam di dalam kelas. Dia juga tidak mendiskusikan steretipe yang massif tentang hubungan Islam dengan terorisme, kekerasan, pelecehan terhadap perempuan dan sebagainya. Dia juga tidak menyebutkan sejarah kekinian, terutama kolonialisme Eropa, moderniasasi, dan fundamentalisme. Lebih jauh lagi dia tidak merujuk pada peran media dan jurnalistik dalam ikut mempengaruhi image tentang Islam sekarang. Dan tentu saja, fenomena terkini seperti pos-strukturalisme, kritisisme, konstruktivisme, feminisme, gender, dan diskursus pos-kolonial, termasuk juga kritis orientalisme sendiri.

Apapun kritikan terhadap Adams, pastinya bahwa sebagai objek studi, Islam harus didekati dari berbagai aspeknya dengan menggunakan multi disiplin ilmu pengetahuan untuk mengurai fenomena agama ini. Selama bertahun-tahun telah dikembangkan sistem pendidikan Islam yang normatif, yang bisa dijumpai di pesantren, PTAI dan lembaga pendidikan agama Islam lainnya. Pola tradisional yang dipakai dalam sistem pendidikan lama itu tidak banyak membantu ketika harus berhadapan dengan tantangan zaman yang menuntut banyak hal. Pesan dan provokasi akademik Adams tersebut mendapat penguatan dan sekaligus menjadi inspirasi bagi lahirnya pendekatan baru dalam studi Islam. Misalnya, M. Amin Abdullah menawarkan paradigma keilmuan “interkoneksitas” untuk studi keislaman kontemporer di Perguruan Tinggi. M. Amin Abdullah mengatakan, pendekatan interkoneksitas berbeda sedikit dari paradigma “integrasi” keilmuan yang seolah-olah berharap tidak akan ada lagi ketegangan dengan cara meleburkan dan melumatkan yang satu ke dalam yang lainnya, baik dengan cara meleburkan sisi normativitas-sakralitas keberagamaan secara menyeluruh ke dalam wilayah “historisitas-profanitas”, atau sebaliknya. Paradigma “interkoneksitas” mengasumsikan bahwa untuk memahami kompleksitas fenomena kehidupan yang dihadapi dan dijalani manusia, setiap bangunan keilmuan apapun, baik keilmuan agama (termasuk agama Islam dan agama-agama yang lain), keilmuan sosial, humaniora, maupun ke-alaman tidak dapat berdiri sendiri[23].

 

  1. Telaah Pemikiran Richard C. Martin tentang Islam dan Studi Agama

1.  Pendahuluan

Sebelum Islam hadir ke dunia ini yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah, telah terdapat sejumlah agama yang dianut oleh manusia. Dalam pandangan para ahli perbandingan agama (comparative study of religion), agama secara garis besar dibagi dalam dua bagian, yaitu pertama, agama yang diturunkan oleh Allah melalui wahyu-Nya sebagaimana yang termaktub dalam al Qur'an. Agama yang demikian biasa disebut sebagai agama samawi (agama langit). Yang termasuk dalam kategori agama samawi antara lain Yahudi, Nasrani dan Islam. Kedua, kelompok agama yang didasarkan dari hasil renungan secara radikal dari tokoh yang membawanya sebagaimana yang terdokumentasikan di dalam kitab yang disusunnya. Agama yang demikian biasa disebut sebagai agama ardli (agama bumi). Yang termasuk dalam kategori ini antara lain Hindu, Budha, Majusi, Kong Hucu dan lain sebagainya. Agama-agama tersebut hingga saat ini masih dianut oleh manusia di dunia, dan disampaikan secara turun temurun oleh penganutnya.

Dalam mengkaji agama-agama, kita sering dihadapkan dengan model atau karakteristik agama tersebut. Sebagian dari agama-agama tersebut ada yang bersifat inklusif-pluralis, yakni mengakui keberadaan agama-agama lainnya, menghormati dan membiarkannya untuk hidup secara berdampingan. Sebagian yang lain bersifat eksklusif atau tertutup, yakni tidak mengakui keberadaan agama-gama lain dan mengklaim agamanyalah yang paling benar dan harus diikuti.

Pada abad pertengahan, studi Islam mulai memasuki wilayah Kristen Eropa. Kajian-kajian yang berkembang lebih diwarnai tujuan-tujuan polemik diskriminatif yang menggambarkan wajah Islam dengan pemahaman dan pemaknaan distortif dan peyoratif. Pemahaman akan Islam yang seperti ini menimbulkan kesan bahwa Islam adalah agama yang diwarnai kekerasan, suka berperang, barbarian dan tuduhan-tuduhan lainnya. Hal ini terjadi akibat polimek Kristen dan Muslim. Walaupun demikian kontak dan ketegangan antara Islam dan Kristen lambat laun menemukan titik terang, di mana studi Islam dapat memberikan manfaat besar bagi perkembangan metodologi dan kajian Islam di Barat.

Sebagaimana yang dijelaskan oleh Charles J. Adams dalam tulisannya Islamic Religiuos Tradition diatas, bahwa dalam perkembangan studi ketimuran, para orientalis klasik telah mengkaji Islam dengan menggunakan pendekatan normatif yang dituangkan ke dalam tiga bentuk, yaitu traditional missionary approach, apologetic approach, dan irenic approach. Ketiga bentuk pendekatan ini ini pada intinya masih menaruh kesan ketidakrelaan akan keberadaan agama lain. Mereka masih berpandangan bahwa agamanyalah yang paling benar walaupun agama lain tetap diapresiasi (inklusif). Oleh Adams ditawarkanlah pendekatan deskriftif yang di dalamnya mencakup philological and historical approuch, social scientific approuch dan phenomenologal approuch. Akan tetapi yang menjadi kendala kemudian Adam belum bisa menjabarkan secara konkrit tentang pendekatan fenomenologi, ia hanya memberikan klasifikasi yang dapat membantu untuk memahami pendekatan ini, yaitu pertama, fenomenologi diartikan sebagai suatu metode untuk memahami agama orang lain dengan berupaya masuk atau berinteraksi dengan agama yang dikaji dengan meninggalkan atribut keagamaan yang dimiliki si peneliti, metode ini disebut epoch. Keistimewaan dari model ini adalah kita dapat memahami secara mendalam hakikat dari suatu agama, akan tetapi juga memiliki kelemahan yaitu dapat memunculkan sinkretisme pada diri si peneliti. Kedua, Fenomenologi dipandang sebagai pendekatan yang mencoba mencari struktur dasar dari fenomena-fenomena agama.

Berawal dari sinilah Richard C. Martin mencoba mengungkap kebiasaan yang dialami oleh Adam terkait dengan pendekatan fenomenologi agama. Hal ini sangatlah menarik untuk dijadikan bahan diskusi dengan menampilkan permasalahan bagaimana cara kerja dari pendekatan fenomenologi dalam perspektif Richard C. Martin? Dan Apakah pendekatan fenomenologi ini dapat mendekati fenomena keagamaan?

2.  

1.   Studi Islam dan Sejarah Agama-agama

Ada hubungan disharmonis antara sejarah agama-agama dan studi Islam, statement inilah yang dikemukakan oleh Adams di dalam bukunya kumpulan esai-esai tentang sejarah agama. Setidaknya ada dua alasan tentang kesulitan melihat langsung hubungan antara aktivitas Islamis dengan historians of religions (para sejarawan agama-agama), yaitu pertama, adanya fakta bahwa historians of religions berinteraksi dengan data Islam walaupun sedikit (snape shot) dan hanya relatif sedikit kontribusinya terhadap pengetahuan tentang masyarakat Islam dan tradisi-tradisi yang terdapat di dalamnya. Kedua, Belum dielaborasinya problem yang terdapat dalam keilmuan Islam dalam tema besar yang mendominasi horizon para sejarawan agama-agama. Ketidaksepakatan Adams ini tentunya menimbulkan sikap tidak menyenangkan bagi studi akademik tentang Islam sebagai agama.

Sikap yang cenderung antipati telah diperlihatkan oleh para sejarawan agama-agama yang dilatar belakangi oleh provinsialisme akademik dan distorsi pemahaman tentang Islam. Tidak adanya atensi akan studi Islam dipicu oleh kecenderungan pada kompartementalisasi (menggolong-golongkan) di dalam pendidikan tinggi. Para sarjana hanya mau mempelajari sebuah ilmu atau karya seseorang apabila karya itu berasal dari disiplin atau departemen yang sama. Unsur perdebabatan lain dalam usaha menyusun sebuah pendekatan terhadap studi lintas budaya (cross-cultural studies) datang dari sejumlah masalah yang terdapat di antara peneliti dan yang diteliti. Imparsialitas dan jarak sering kali kurang mendapat perhatian dalam tulisan-tulisan yang ada relevansinya dengan budaya lain. Terdapat bukti yang kuat bahwa agama bisa berubah di bawah pengaruh studi akademik. Di antara mereka yang meneorisasikan hal ini adalah para sarjana yang berpendapat bahwa muatan kepercayaan orang lain selamanya tidak akan tersingkap kecuali si peneliti simpati terhadap kepercayaan orang diteliti. Hal ini senada dengan apa yang disampaikan oleh Prof. Mukti Ali, bahwa agama pada manusia adalah hal yang sangat pribadi dan mendalam, sehingga hanya dapat diamati dengan berhati-hati. Seorang peneliti yang secara teknis dan dikatakan baik belum tentu dapat menemukan persoalan-persoalan agama pada orang yang diwawancarai atau diteliti kecuali dia sendiri beriman berefleksi, bukan saja pada situasi sementara penelitian dilakukan, tetapi juga di luar konteks penelitian, yaitu dalam hidup sehari-hari. Kalau si peneliti bukan orang beragama, akhirnya ia hanya sanggup mengkonstantir ungkapan-ungkapan kepercayaan dan gejala-gejala keagamaan, tetapi bukan agama itu sendiri. Dalam penelitian agama refleksi perlu dijalankan. Penelitian agama tidak mungkin dilakukan kalau si peneliti tidak tahu seluk-beluk persoalan pokok agama. Karena itu peneliti dan juga para pekerja lapangan dalam bidang agama itu sendiri harus beragama dan berefleksi atas agamanya.

Perlu dibangun kesadaran, bahwa munculnya kesulitan dalam pendekatan semacan ini dikarenakan hanya Muslimlah yang dapat mengkaji (mengajarkan) Islam dengan tingkat pemahaman yang memadai. Namun demikian ada sisi kemudahannya yang terletak pada keterbukaan dan empati terhadap kepercayaan dan keimanan orang lain, dan ini merupakan prasyarat bagi tercapainya sebuah pemahaman.

Persoalan lainnya berkaitan dengan batasan-batasan yang ditentukan oleh weltanschauung (pandangan hidup) terkait dengan ruang dan waktu dari mana mengawali sebuah pengamatan dan penilaian. Lebih lanjut ada keyakinan bahwa sekaranglah saatnya untuk membatasi studi Islam pada sudut pandang yang bercorak Barat, tetapi ilmiah. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah apakah hal ini mengimplikasikan bahwa hanya kategori-kategori dan istilah-istilah yang valid yang digunakan untuk menganalisis fenomena agama Islam itu disediakan oleh Islam sendiri? Atau apakah seluruh bidang kajian, katakanlah, dalam studi sejarah, ilmu bahasa, ilmu sosial dan studi agama dapat menjelaskan fenomena kegamaan sehingga menemukan koherensi diskursif, jika dianggap tidak sebangun di kalangan sarjana Barat dan non-Barat? Inilah gambaran yang dipaparkan oleh Richard C. Martin seputar permasalahan studi Islam dan sejarah agama-agama yang akan ia kupas secara fenomenologik. Lebih lanjut akan dibahas secara elaboratif tentang studi Islam dan sejarah agama-agama secara terpisah.

2.   Sejarah Agama-agama

Studi terkait dengan agama-agama manusia yang terspesialisasi merupakan dinamika akademik di abad ke-19. Hal ini ditandai dengan berdirinya sekolah-sekolah studi agama di Eropa, Inggris dan Amerika Utara. Sekolah yang didirikan tersebut diberi nama religionswissenchaft, allgemeine religionsgeschichte, perbandingan agama dan fenomenologi agama. Aktivitas akademik para sejarawan agama juga dikonversi oleh studi sejarah, antropologi, sosiologi, psikologi, oriental, al-kitab, dan teologi. Akan tetapi keduanya masih terdapat distingsi kualitas antara studi agama dengan disiplin ilmu lainnya. Hal mendesak yang perlu ditempuh adalah agama sebagai yang menyusun bidang koherens (bertalian) mudah untuk dijelaskan dan ditafsirkan. Oleh karenanya dalam buku ini Richard ingin menjelaskan dan memberikan pemahaman lebih baik data keagamaan dari tradisi Islam dalam konteks studi agama yang umumnya menghendaki survey secara singkat terhadap perkembangan dalam disiplin ilmu sejarah agama-agama masa lalu.

Kesulitan menjadikan agama sebagai bahan kajian, mengutip penjelasan Waardenburg setidaknya ada dua hal yang mendasari , pertama mengkaji berarti melakukan objektivasi atau penjarakan terhadap objek kajiannya. Dalam kajian terhadap agama, tidak hanya kepada ‘pihak lain’ yang diteliti, akan tetapi diri sendiri juga harus terlibat di dalamnya. Kedua, secara tradisional agama dipahami sebagai sesuatu yang sacral, suci dan agung. Permasalahan yang akan muncul kemudian, ketika kita mulai bersinggungan atau ingin mengkritisi terkait dengan hal ini, maka dianggap sebagai sebuah bentuk pelecehan atau bahkan dianggap merusak nilai tradisional agama.

Menurut Richard, barangkali satu-satunya peristiwa terpenting yang membawa perubahan pandangan secara komprehensif adalah peristiwa perang dunia I yang mampu mempengaruhi banyak sarjana untuk melakukan studi agama-agama. Hal ini disebabkan oleh implikasi perang yang menimbulkan guncangan besar dan mengakibatkan munculnya desakan akan kebutuhan untuk menemukan pendekatan yang dapat membuka ekspresi otentik agama-agama lain agar dapat berbicara secara independent, tanpa interpensi agama lainnya. Yang dibutuhkan kemudian adalah penilaian objektif terhadap peran agama dalam kehidupan manusia. Metode pendekatan baru ini kemudian dikenal sebagai phenomenology of religion atau fenomenologi agama yang muncul pertama kali di negara Belanda dan Skandanavia.

Para sarjana akhir abad ke-19 telah berusaha memahami esensi atau hakikat agama menurut alur generik. Sebuah metode alternatif dicoba oleh para filosof, terutama Hegel. (1770-1831) secara tandas pernah mengungkapkan bahwa tujuan utama mempelajari agama-agama adalah untuk memahami adanya kesatuan (unity) di balik keseragaman (diversity). Artinya, di balik aneka ragam manifestasi (perwujudan) agama-agama, terdapat kesatuan serta keutuhan esensi. Esensi yang tunggal itulah yang hendak dipelajari secara mendalam oleh para pemerhati agama. Sebelum Hegel, Kant telah memakai istilah fenomena untuk mendeskripsikan data pengalaman.

Disekitar akhir abad ke-19, istilah fenomenologi mulai dipakai oleh Edmund Husserl. Pernyataannya yang penting adalah bahwa filsafat harus menjauhkan diri dari semua hal yang bersifat metafisik. Filsafat harus mempelajari apa sebenarnya yang dihadapi, tidak membiarkan faktor apa pun yang membuatnya melakukan intervensi dan menjauhkannya dari usaha melakukan analisis langsung terhadap esensi atau struktur-struktur umum. Pengaruh Husserl dan pengaruh dari aliran yang didirikannya sangat besar, akan tetapi pengaruhnya terhadap fenomenologi agama tidak banyak, kecuali dalam bidang pendekatan secara umum. Hanya sedikit dari ahli sejarah agama yang mau mengikuti pemikiran Husserl, walau demikian Husserl telah mewariskan bagi para ahli fenomenologi agama tentang dua hal, yaitu epoche dan eidetic vision.

Jika para sarjana abad ke-19 menelurkan cara-cara bagaimana mengukur agama dan budaya dengan menghindari segala sesuatu yang supranaturalistik, fenomenologi abad ke-20 ingin mendudukkan pengalaman keagamaan manusia sebagai respon atas realitas terdalam. Jadi agama tidak lagi dipandang sebagai satu tahapan dalam sejarah evolusi, tetapi lebih sebagai aspek hakiki dari kehidupan manusia.

Capaian fenomenologi sangatlah penting bagi teoritisasi tentang hakekat agama, tetapi sedikit banyak membutuhkan konsekuensi metodologis. Fenomenologi melanjutkan karakter dan ensiklopedik dari allgemeine religionseschihte abad ke-19, yang lebih mengupayakan perbandingan sederhana melalui sintesis makna-makna umum dan lintas budaya. Kontribusi terpenting fenomenologi dalam tulisan-tulisan terbaru memusatkan pada proses pemahaman yang terjadi ketika peneliti menghadapi objek (fenomena keagamaan). Metode historiko-filologis lama mencari niat historis penulis teks dengan analisis tekstual, dengan kata lain mencari makna asli sehingga tujuan penjelasan terhadap teks sangtalah strukturalis, bukan merupakan makna historis, diakronik sebagai makna holistik, sinkronik. Fenomenologi juga sangat membutuhkan pendekatan terbuka dan empatik untuk memahami fenomena keagamaan. Salah satu kecenderungan penting histografi abad ke-19 adalah distingsi yang dibuat oleh Wilhelm Dilthey (1833-1911) dan tokoh lainnya antara ilmu alam dengan studi budaya. Dalam studi budaya atau studi manusia, objeknya adalah seluruh perbuatan dan tindakan manusia secara historis yang melibatkan bentuk-bentuk ekspresi artistik, intelektual, sosial, ekonomi, agama, politik. Dari studi manusia sekaligus studi fenomenologi, pemahaman tentang budaya menghendaki pengetahuan luas termasuk di dalamnya psikologi, sejarah, ekonomi, filologi, kritik sastra, pendeknya semua disiplin yang mengkaji, aktivitas intelektual dan sosialnya.

Oleh Dilthey, yang merupakan komponen metodologis penting dalam histografi adalah das verstehen, suatu istilah yang berarti pemahaman tentang gagasan, intensi dan perasaan orang atau masyarakat melalui manifestasi-manifestasi empirik dalam kebudayaan. Metode verstehen mengandaikan bahwa manusia di seluruh masyarakat dan lingkungan sejarah akan mengalami kehidupan yang bermakna dan mereka mengungkap makna-makna tersebut ke dalam pola-pola yang dapat dilihat, sehingga dapat dianalisis dan dipahami.

Selanjutnya adalah pendekatan personalis atau dialogis yang dicetuskan oleh Wilfred Cantwell Smith yang mengambil posisi nominalis terhadap istilah dan kategori standar di mana komponen-komponen agama secara tradisional di uraikan. Smith mengatakan bahwa objek pemahaman ilmiah adalah keimanan yang diyakini individu Muslim (Hindu, Budha, Kristen, dll.) dalam konteks kehidupan nyata. Pemahaman akan menjadi rancu jika penjelasan dan interpretasi tidak sesuai dengan apa yang dimaksudkan oleh Muslim itu sendiri. Pandangan Smith ini bersifat ekumene, yang mengundang semua elemen manusia untuk berdialog dalam mencapai pemahaman atas dasar kemanusiaan.

Menurut Richard, yang perlu dicatat adalah revivalisasi baru dalam studi tentang agama-agama oleh antropolog budaya, sekalipun belum diakui secara eksplisit dalam karya-karya sejarawan agama-agama, bagaimanapun telah memperkuat agama sebagai salah satu bidang kajian.

3.  Studi Islam

Akhir-akhir ini pengkajian Islam oleh orang-orang non Islam terus dilakukan bahkan semakin intensif. Pengkajian itu masih didominasi oleh para pemikir Barat. Hanya kalau dahulu para peneliti Islam disebut orientalis maka sekarang mereka tidak suka disebut orientalis. Sebutan yang mereka lebih sukai adalah Islamisis.

Menurut Azyumardi Azra, kecenderungan mereka tidak ingin disebut orientalis muncul setelah kritik tajam Edward W. Said dalam bukunya Orientalisme. Dalam buku ini Said mengungkapkan secara tajam bias intelektual Barat terhadap dunia Timur (oriental) umumnya, dan Islam serta dunia Muslim khususnya. Dengan tegar dia mengemukakan gugatan bahwa Barat bertanggung jawab membentuk persepsi yang keliru tentang dunia yang ingin mereka jelaskan. Dengan demikian, secara sederhana dapat ditemukan jawabannya bahwa dilihat dari segi normatif Islam lebih merupakan agama yang tidak dapat diberlakukan kepadanya paradigma ilmu pengetahuan, yaitu paradigma analitis, kritik metodologis, historis dan empiris, sedangkan jika dilihat dari segi historis yakni Islam dalam artian diaktikkan oleh manusia serta tumbuh dan berkembang dalam sejarah kehidupan manusia, maka Islam dapat dikatakan sebagai sebuah disiplin ilmu yaitu Ilmu Keislaman atau Studi Islam. Perbedaan sudut pandang akan Islam yang demikian itu dapat menimbulkan distingsi dalam menjabarkan Islam itu sendiri. Manakala Islam dilihat dari sudut pandang normatif, Islam merupakan agama yang berkaitan dengan urusan akidah dan muamalah. Sedangkan ketika Islam dilihat dari sudut pandang historis atau sebagaimana yang tampak dalam masyarakat, maka Islam tampil sebagai sebuah disiplin ilmu (studi Islam).

Implikasi dari distorsi informasi dan pemahaman akan Islam di antaranya dangkalnya pengetahuan akan Islam atau dengan kata lain Islam tidak ditampilkan secara komprehensif serta objektif. Hal ini dapat dilihat dari komentar Bernad Lewis dalam esai berjudul The State of Middle Eastern Studies, yang mengatakan bahwa studi Timur Tengah gersang dalam perspektif dengan menelaah kembali sejarah studi tentang Islam di Barat sejak masa pertengahan. Yang memotivasi orang-orang Eropa untuk mengkaji Islam adalah bersumber dari dua motif yaitu pertama, untuk belajar lebih banyak warisam klasik yang masih terpelihara dalam bentuk terjemahan dan komentar-komentar dalam bahasa Arab. Kedua, Menyokong polemik orang Kristen terpelajar melawan Islam. Ketika umat Kristen masih di bawah pengaruh (conversion) Muslim di bidang ilmu pengetahuan dan politik yang berlangsung hingga abad pertengahan, semakin nyata bahwa umat Muslim tidak pernah melakukan konversi dalam skala besar. Hal ini memudarkan dua hal yang dijadikan argumen di atas. Bahkan ketika masa renaisans dimulai, muncul argumen-argumen baru, pertama adanya rasa ingin tahu akan kebudayaan-kebudayaan asing (rasa ingin tahu yang dijumpai oleh Lewis yang juga ditemukan oleh G.E. von Grunebaum).

Ada perdebatan menarik terkait dengan apakah studi Timur Tengah merupakan program interdisipliner atau disiplin sendiri? Problem lain dimunculkan oleh Binder yang dituangkan di dalam papernya yang berjudul Area Studies Versus The Disciplines, ia menyatakan bahwa banyak disiplin ilmu menolak paham bahwa budaya itu unik, oleh karenanya tidak dapat diperbandingkan. Yang menjadi akar permasalahan dalam hal ini adalah apakah materi studi kawasan (Timur Tengah yang didominasi oleh Islam) penting dan membutuhkan metode studi yang diambil dari materi itu sendiri (disebabkan menginginkan disiplin tersendiri, katakanlah studi Timur Tengah); atau berbagai disiplin akademik dianggap penting (ilmu bahawa, studi sejarah, ilmu politik, antropologi dan seterusnya) karenanya dapat menerapkan metode penelitian yang valid pada studi Timur Tengah. Membandingkan studi ketimuran abad ke-19 dan studi Timur Tengah abad ke-20, Studi Timur Tengah telah dilumpuhkan oleh fakultas yang tidak kompeten, kurikulum yang tidak memadai (khususnya dalam persiapan bahasa), dan standar masuk yang rendah bagi manusia. Hal ini dibuktikan oleh Leonard Binder yang telah melakukan analisis kritis yang menjumpai banyak kesalahan pada fakultas-fakultas yang kurang persiapan dalam mengajarkan materi terkait.

Kritik atas studi Islam menurut Richard haruslah mengambil dimensi baru dengan memperbaharui di mensi lama. Binder di bagian lain esainya membahas tentang orientalism Versus Area Stuidies menyatakan bahwa tradisi studi ketimuran pada abad ke-19 didasarkan pada paradigma sejarah dan filologi yang dibangun oleh studi tentang masa klasik. Orientalisme telah banykak memberikan kontribusi bagi perkembangan tentang studi agama, sejarah, dan masyarakat Islam yang belum terpikirkan dalam studi Timur Tengah dan studi Islam sekarang.

Kebanyakan dari para sarjana sepakat akan dua hal yang dilontarkan oleh Binder, yaitu adanya prasangka agama dan politik dalam studi Timur Tengah. Kemudian muncul pertanyaan, seberapa besar prasangka tersebut memotivasi dalam mengkaji timur Muslim dan apakah pengaruhnya tetap berlanjut pada mereka yang mengajar studi Timur Tengah sekarang? Pertanyaan ini dijawab oleh Edward W. Said dalam bukunya Orientalism yang memberikan gambaran bahwa studi ketimuran sebagai sebuah disiplin keilmuwan secara material dan intelektual berkaitan dengan ambisis politik dan ekonomi Eropa, dan orientalisme telah telah menghasilkan gaya pemikiran yang dilandaskan pada distingsi teologis dan epistemologi antara Timur dan Barat dalam banyak hal. Hal ini pula yang memapankan superioritas budaya Barat terhadap atas budaya lain, ini senada dengan apa yang dikatakan oleh Michael Foucoult.

Richard merujuk pada pendapat Said bahwa akan lebih berharga untuk memasukkan wacana tentang Timur Tengah (dunia Islam) dalam bahasa dan metode disiplin serta mengkoordinasikannya sebagai sebuah multi disiplin (lintas petualangan).

4.  Islam di dalam Disiplin Studi Agama

Berbicara tentang studi agama, ada baiknya kita mengangkat kembali pemikiran Jacob Neusner yang sempat menuliskan di artikelnya terkait dengan persoalan tentang disiplin studi agama di tingkat keilmuwan. Ketiga hal itu adalah:

  1. Apakah disiplin ilmu yang dibangun dapat melahirkan kurikulum yang dibangun atas dasar konsensus mengenai apakah kita memikirkan suatu lembaga kependidikan dan mensosialisasikannya di kalangan internal? dan apakah teks mentransmisikan tradisi belajar pada tahapan selanjutnya?
  1. Apakah program pendidikan ikut menentukan bobot keilmuwan dari disiplin studi agama, sehingga dapat dilihat adanya kemajuan dari hasil penyelidikan yang dilakukan terhadap permasalahan-permasalahan yang muncul dalam jangka panjang?
  1. Apakah ada kriteria-kriteria spesifik untuk mengakui capaian dan menandai kesepelean serta pretensi (dalih/tuntutan) secara layak?

 

Jawaban yang muncul kemudian dianggap memalukan, sebagaimana yang diungkapkan oleh Neusner :

Even though, through philology, we understand every word of a text, through history, we know just what happened Indonesia the event or time to which the text testifies, we still do not understand that text, a religious text serves not merely the purposes of philology or history. It demands its profer place as a statement of religion, read as anything but a statement of religion, it is misunderstood. Accordingly, despite the primitive condition of religious studies as presently practiced, the discipline in the making known as religious studies does promise for Jewish learning that what has not yet been attained.

 

Inti dari ungkapan ini adalah “kita belum mampu memahami teks itu sendiri, kita belum bisa membahasakan teks tersebut, hingga dari agama lain pun dapat mempelajarinya. Walaupun studi agama dianggap masih gagal dalam membakukan diri sebagai sebuah disiplin keilmuwan akan tetapi prospeknya menjanjikan, dengan mengupayakan consensus mengenai kurikulum, pemecahan masalah dan kriteria dari tujuan yang akan dicapai.

 

  1. Kesimpulan

Kegelisahan akademik yang dirasakan oleh Richard terkait dengan studi Islam dan studi agama-agama, antara lain :

  1. Pamahaman terhadap studi Islam dan studi agama-agama masih berkutat pada pendekatan normative dan tidak menyentuh aspek deskriftifnya.
  1. Titik tekan pendidikan hanya seputar believer atau pendidikan iman seharusnya menyentuh aspek historians.
  1. Di kembangkannya sikap Lidiest subjectivism (lawan dari scientific objectivism)
  1. Kendala mencari format bagaimana menghubungkan antara studi Islam dengan studi agama-agama.

 

Fenomenologi mempelajari manusia yang ditinjau dari aspek psikologi, sejarah, ekonomi, filologi, kritik sastra. Adapu cara kerja fenomenologi yang ditawarkan oleh Richard adalah sebagai berikut:

  1. Pendekatan terbuka dan empatik
  1. Epoche yaitu menghilangkan prasangka atau prejudice.
  1. Eidetic vision
  1. Agama merupakan aspek hakiki dari kehidupan manusia bukan berasal dari evolusi.
  1. Harus menemukan sikap universal.

 

Dilthey menawarkan metodologi yaitu das verstehen yang mengungkap pemahaman manusia tentang gagasan, intensi, dan perasaan orang. Terkait dengan orientalisme bahwa para sarjana agama-agama sepakat akan dua hal sebagaimana yang dilontarkan oleh Binder, yaitu adanya prasangka agama dan politik dalam studi Timur Tengah. Di antara problem yang dihadapi oleh studi Islam hingga kini belum dapat disejajarkan dengan disiplin ilmu lainnya antara lain Studi Timur Tengah telah dilumpuhkan oleh fakultas yang tidak kompeten, kurikulum yang tidak memadai (khususnya dalam persiapan bahasa), dan standar masuk yang rendah bagi manusia. Walaupun studi agama dianggap masih gagal dalam membakukan diri sebagai sebuah disiplin keilmuwan akan tetapi prospeknya menjanjikan, dengan mengupayakan consensus mengenai kurikulum, pemecahan masalah dan kriteria dari tujuan yang akan dicapai.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2004.

Charles J. Adam, " Islamic Religiuos Tradition", dalam Leonard Binder (ed.), The Studi of the Middle-East, (New York, Wiely & Sons, tt.).

——————–, "The History of Religions and the Study of Islam", in The History of Religions : Essays on the Problem of Understanding, ed., Joseph M. Kitagawa, Mircea Eliade dan Charles H. Long, Chicago and London : University of Chicago Press, 1967.

Djam'annuri, Studi Agama-agama : Sejarah dan Pemikiran, Pustaka Rihlah, 2003.

Harold H. Titus, Marilyn S. Smith dan Richard T. Nolan, Persoalan-persoalan Filsafat, Jakarta : Bulan Bintang, 1984.

Jacque Waardenburg, “Religion between Reality and Idea”, dalam Numen xix/2-3 (19720, PP. 168FF. Mengenai Husserl lebih jauh lihat Ricoeur, Husserl : An Analysis of his Pheno-menology 1967.

Majalah Islamia, Vol. II No. 3, Desember 2005.

Mircea aliade dkk., Metodologi Studi Agama, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2000.

Prof. Dr. H. Abuddin Nata, M.A., Metodologi Studi Islam, Jakarta : PT. Grasindo Persada, 2002.

Taufik Abdullah dan M. Rusli Karim, Metodologi Penelitian Agama ; Sebuah Pengantar, Yogyakarta : Tiara Wacana, 1989.

 


[1] Charles J. Adams, Foreword dalam Richard C Martin (ed), Approaches to Islam in Religious Studies, (USA: The Arizona Board of Regents, 1985), vii – x

[2] Richard C. Martin, (Ed). Approaches to Islam in Religious Studies, 3

[3] Charles J. Adams, “Islamic Religious Tradition,” dalam The Study of the Middle East: Research amd Scholarship in the Humanities and the Social Sciences, ed. Leonard Binder (New York: John Wiley & Sons, 1976), 32 – 33.

[4] Manifestasi agama menurut W.C. Smith dapat dikelompokkan menjadi ajaran, simbol, praktek, dan lembaga. WC. Smith, “Comparative Religion, Whither and Why”, dalam Mircea Eliade and Joseph M. Kitagawa (Ed), The History of Religions, (Chicago and London: University of Chicago Press, 1973), 35.

[5] Charles J. Adams, Islamic Religious Tradition, dalam Leonard Binder (Ed)., The Study of the Middle East, 33

[6]- Berasal dari bahasa Yunani, philologia, gabungan kata dari philos = ‘TEMAN’ dan logos = ‘PEMBICARAAN’ atau ‘ILMU’.

- Dalam bahasa Yunani, philologia berarti ‘SENANG BERBICARA’.

- Dari pengertian ini kemudian berkembang menjadi ‘SENANG BELAJAR’, ‘SENANG KEPADA ILMU’, ‘SENANG KEPADA TULISAN-TULISAN’, dan kemudian ‘SENANG KEPADA TULISAN-TULISAN YANG BERNILAI TINGGI’ seperti ‘karya-karya sastra’.

- Konsep filologi demikian bertujuan mengungkapkan hasil budaya masa lampau sebagaimana yang terungkap dalam teks aslinya. Studinya menitikberatkan pada teks yang tersimpan dalam karya tulis masa lampau.

[7] Dua orang lainnya adalah Cornelis P. Tiele dan Pierre D. Chantapie De la Saussaye yang dianggap sebagai three founders of the study of religion. Lihat Jacques Waardenburg (ed), Classical Approaches to the Studies of Religions, Vol. I (Paris: Mouton – The Haque, 1973), 13 -17

[8] Jacques Waardenburg (ed), Classical Approaches to the Studies of Religions, 93.

[9] Joachim Wach, The Comparative Study of Religion, (New York and Columbia Univerity, 1966), 9

[10] W.C. Smith, “Perkembangan dan Orientasi Ilmu Perbandingan Agama”, dalam Ahmad Norma Permata, Metodologi Studi Agama, 77

[11] Istilah Religionswissenschaft pertama kali digunakan pada tahun 1867 oleh Max Muller, dia menggunakan istilah ini dalam rangka mengidentifikasikan bahwa disiplin ini lepas dari filsafat agama dan teologi. Joseph M. Kitagawa, “Sejarah Agama-agama di Amerika”, dalam Ahmad Norma Permata, Metodologi Studi Agama, 126 – 127

[12] Fazlur Rahman, “Approaches to Islam in Religious Studies, Review Essay”, dalam Richard Martin (ed.), Approaches to Islam in Religious Studies, 190

[13] Islam (Muslim) konservatif, kadang diartikan sebagai suatu pangaplikasian ajaran agama (islam) terlalu "berlebihan", hingga kadang gak sesuai ama jaman. Dalam http://heavans.multiply.com/journal/item/56/konservatif_hmm…  (diakses kamis-31 maret 201-10.37wib)

[14] M. Amin Abdullah, Islamic Studies di Perguruan Tinggi Pendekatan Integratif-Interkonektif, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006), hal. 33

[15] Joseph M. Kitagawa,”Sejarah Agama-agama di Amerika”, dalam Ahmad Norma Permata, (ed) Metodologi Studi Agama, 128 -129

[16] Andrew Rippin, “Literary Analysis of Quran, tafsir and Sira: the Methodologies of John Wansbrough”, dalam Richard Martin (ed.), Approaches to Islam in Religious Studies, 158

[17] Chares J. Adams, “Foreword”, dalam Richard C. Martin, Approaches to Islam in Religious Studies, vii – x

[18] Richard C. Martin (ed), Approaches to Islam in Religious Studies, 235

[19] Carl W. Ernst, The Study of Religion and the Study of Islam, Paper given at Workshop on “Integrating Islamic Studies in Liberal Art Curricula” University of Washington, Seattle WA, March 6-8, 1998

[20] A. Qodri Azizi, Pengembangan Ilmu-ilmu Keislaman di Perguruan Tinggi, (Jakarta: Dippertais, 2005), th.

[21] Mircea Eliade dan Joseph M. Kitagawa (ed), The History of Religions, (Chicago and London: University of Chicago Press, 1973), 19

[22] Joachim Wach, The Comparative Study of Religions, 14 dan Mircea Eliade dan Joseph M. Kitagawa (ed), The History of Religions, 21

[23] M. Amin Abdullah, Islamic Studies di Perguruan Tinggi: Pendekatan Integratif-Interkonektif, vii – viii.

 
FacebookTwitterGoogle+LinkedIn

Filsafat Ilmu – ILMU, FILSAFAT DAN TEOLOGI

 

BAB 1

ILMU, FILSAFAT DAN TEOLOGI

Oleh: Afiful Ikhwan*

 

“Aku datang – entah dari mana,

aku ini – entah siapa,

aku pergi – entah kemana,

aku akan mati – entah kapan,

aku heran bahwa aku gembira”.

(Martinus dari Biberach,

tokoh abad pertengahan).

 

1. Manusia bertanya

 

Menghadapi seluruh kenyataan dalam hidupnya, manusia kagum atas apa yang dilihatnya, manusia ragu-ragu apakah ia tidak ditipu oleh panca-inderanya, dan mulai menyadari keterbatasannya.  Dalam situasi itu banyak yang berpaling kepada agama:

 

“Manusia mengharapkan dari berbagai agama jawaban terhadap rahasia yang tersembunyi sekitar keadaan hidup manusia. Sama seperti dulu, sekarang pun rahasia tersebut menggelisahkan hati manusia secara mendalam: apa makna dan tujuan hidup kita, apa itu kebaikan apa itu dosa, apa asal mula dan apa tujuan derita, mana kiranya jalan untuk mencapai kebahagiaan sejati, apa itu kematian, apa pengadilan dan ganjaran sesudah maut, akhirnya apa itu misteri terakhir dan tak terungkapkan, yang menyelimuti keberadaan kita, darinya kita berasal dan kepadanya kita menuju?”  –  Zaman Kita (no.1), Deklarasi Konsili Vatikan II tentang Sikap Gereja Katolik terhadap Agama-agama bukan Kristen, 1965.


 

Salah satu hasil renungan mengenai hal itu, yang berangkat dari sikap iman yang penuh taqwa kepada Allah, terdapat dalam Mazmur 8:

 

“Ya Tuhan, Allah kami, betapa mulianya namaMu diseluruh bumi!

KeagunganMu yang mengatasi langit dinyanyikan.

Mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu berbicara bagiMu, membungkam musuh dan lawanMu.

Jika aku melihat langitMu, buatan jariMu, bulan dan bintang yang Kautempatkan;

apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya?

Siapakah dia sehingga Engkau mengindahkannya? — Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat.

Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tanganMu; segalanya telah Kauletakkan dibawah kakinya:

kambing domba dan lembu sapi sekalian,

juga binatang-binatang di padang;

burung-burung di udara dan ikan-ikan di laut,

 dan apa yang melintasi arus lautan.

Ya Tuhan, Allah kami, betapa mulia namaMu di seluruh bumi!”

 

2.  Manusia berfilsafat

 

Tetapi sudah sejak awal sejarah ternyata sikap iman penuh taqwa itu tidak menahan manusia menggunakan akal budi dan fikirannya untuk mencari tahu apa sebenarnya yang ada dibalik segala kenyataan (realitas) itu.  Proses itu mencari tahu itu menghasilkan kesadaran, yang disebut pengetahuan.  Jika proses itu memiliki ciri-ciri metodis,  sistematis dan  koheren, dan cara mendapatkannya dapat dipertanggung-jawabkan, maka lahirlah ilmu pengetahuan.

 

Ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang (1) disusun metodis, sistematis dan koheren (“bertalian”) tentang suatu bidang tertentu dari kenyataan (realitas), dan yang (2) dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu di bidang (pengetahuan) tersebut.

 

Makin ilmu pengetahuan menggali dan menekuni hal-hal yang khusus dari kenyataan (realitas), makin nyatalah tuntutan untuk mencari tahu tentang seluruh kenyataan (realitas).

 

Filsafat adalah pengetahuan metodis, sistematis dan koheren tentang seluruh kenyataan (realitas). Filsafat merupakan refleksi rasional (fikir) atas keseluruhan realitas untuk mencapai hakikat (= kebenaran) dan memperoleh hikmat (= kebijaksanaan). 

 

Al-Kindi (801 – 873 M) : "Kegiatan manusia yang bertingkat tertinggi adalah filsafat yang merupakan pengetahuan benar mengenai hakikat segala yang ada sejauh mungkin bagi manusia …  Bagian filsafat yang paling mulia adalah filsafat pertama, yaitu pengetahuan kebenaran pertama yang merupakan sebab dari segala kebenaran".

 

Unsur "rasional" (penggunaan akal budi) dalam kegiatan ini merupakan syarat mutlak, dalam upaya untuk mempelajari dan mengungkapkan "secara mendasar" pengembaraan manusia di dunianya menuju akhirat.  Disebut "secara mendasar" karena upaya itu dimaksudkan menuju kepada rumusan dari sebab-musabab pertama, atau sebab-musabab terakhir, atau bahkan sebab-musabab terdalam dari obyek yang dipelajari  ("obyek material"), yaitu "manusia di dunia dalam mengembara menuju akhirat". Itulah scientia rerum per causas ultimas – pengetahuan mengenai hal ikhwal berdasarkan sebab-musabab yang paling dalam.

 

Karl Popper (1902-?) menulis "semua orang adalah filsuf, karena semua mempunyai salah satu sikap terhadap hidup dan kematian.  Ada yang berpendapat bahwa hidup itu tanpa harga, karena hidup itu akan berakhir.  Mereka tidak menyadari bahwa argumen yang terbalik juga dapat dikemukakan, yaitu bahwa kalau hidup tidak akan berakhir, maka hidup adalah tanpa harga; bahwa bahaya yang selalu  hadir yang membuat kita dapat kehilangan hidup sekurang-kuran gnya ikut menolong kita untuk menyadari nilai dari hidup".  Mengingat berfilsafat adalah berfikir tentang hidup, dan "berfikir" = "to think" (Inggeris) = "denken" (Jerman), maka – menurut Heidegger (1889-1976 ), dalam "berfikir" sebenarnya kita "berterimakasih" = "to thank" (Inggeris) = "danken" (Jerman) kepada Sang Pemberi hidup atas segala anugerah kehidupan yang diberikan kepada kita.

 

Menarik juga untuk dicatat bahwa kata "hikmat" bahasa Inggerisnya adalah "wisdom", dengan akar kata "wise" atau "wissen" (bahasa Jerman) yang artinya mengetahui. Dalam bahasa Norwegia itulah "viten", yang memiliki akar sama dengan kata bahasa Sansekerta "vidya" yang diindonesiakan menjadi "widya". Kata itu dekat dengan kata "widi" dalam "Hyang Widi" =  Tuhan.  Kata "vidya" pun dekat dengan kata Yunani "idea", yang dilontarkan pertama kali oleh Socrates/Plato dan digali terus-menerus oleh para filsuf sepanjang segala abad.

 

Menurut Aristoteles (384-322 sM), pemikiran kita melewati 3 jenis abstraksi (abstrahere  = menjauhkan diri dari, mengambil dari).  Tiap jenis abstraksi melahirkan satu jenis ilmu pengetahuan dalam bangunan pengetahuan yang pada waktu itu disebut filsafat:

 

Aras abstraksi pertama – fisika.  Kita mulai berfikir kalau kita mengamati.  Dalam berfikir, akal dan budi kita “melepaskan diri” dari pengamatan inderawi segi-segi tertentu, yaitu “materi yang dapat dirasakan” (“hyle aistete”). Dari hal-hal yang partikular dan nyata, ditarik daripadanya hal-hal yang bersifat umum: itulah proses abstraksi dari ciri-ciri individual. Akal budi manusia, bersama materi yang “abstrak” itu, menghasilan ilmu pengetahuan yang disebut “fisika” (“physos” = alam).

 

Aras abstraksi kedua – matesis. Dalam proses abstraksi selanjutnya, kita dapat melepaskan diri dari materi yang kelihatan.  Itu terjadi kalau akal budi melepaskan dari materi hanya segi yang dapat dimengerti (“hyle noete”). Ilmu pengetahuan yang dihasilkan oleh jenis abstraksi dari semua ciri material ini disebut “matesis” (“matematika” – mathesis = pengetahuan, ilmu).

 

Aras abstraksi ketiga – teologi atau “filsafat pertama”.  Kita dapat meng-"abstrahere" dari semua materi dan berfikir tentang seluruh kenyataan, tentang asal dan tujuannya, tentang asas pembentukannya, dsb.  Aras fisika dan aras matematika jelas telah kita tinggalkan.  Pemikiran pada aras ini menghasilkan ilmu pengetahuan yang oleh Aristoteles disebut teologi atau “filsafat pertama”.  Akan tetapi  karena ilmu pengetahuan ini “datang sesudah” fisika, maka dalam tradisi selanjutnya disebut metafisika.

 

Secara singkat, filsafat mencakup “segalanya”. Filsafat datang sebelum dan sesudah ilmu pengetahuan; disebut “sebelum” karena semua ilmu pengetahuan khusus mulai sebagai bagian dari filsafat dan disebut “sesudah” karena ilmu pengetahuan khusus pasti menghadapi pertanyaan tentang batas-batas dari kekhususannya.

 

3.  Manusia berteologi

 

Teologi adalah: pengetahuan metodis, sistematis dan koheren tentang seluruh kenyataan berdasarkan iman.   Secara sederhana, iman dapat didefinisikan sebagai sikap manusia dihadapan Allah, Yang mutlak dan Yang kudus, yang diakui sebagai Sumber segala kehidupan di alam semesta ini.  Iman itu ada dalam diri seseorang antara lain melalui pendidikan (misalnya oleh orang tua), tetapi dapat juga melalui usaha sendiri, misalnya dengan cermat merenungkan hidupnya di hadapan Sang pemberi hidup itu. Dalam hal ini Allah dimengerti sebagai Realitas yang paling mengagumkan dan mendebarkan. Tentulah dalam arti terakhir itu berteologi adalah berfilsafat juga.

 

Iman adalah sikap batin.  Iman seseorang terwujud dalam sikap, perilaku dan perbuatannya, terhadap sesamanya dan terhadap lingkungan hidupnya.  Jika iman yang sama (apapun makna kata "sama" itu) ada pada dan dimiliki oleh sejumlah atau sekelompok orang, maka yang terjadi adalah proses pelembagaan.  Pelembagaan itu misalnya berupa (1) tatacara bagaimana kelompok itu ingin mengungkapkan imannya dalam doa dan ibadat, (2) tatanilai dan aturan yang menjadi pedoman bagi penghayatan dan pengamalan iman dalam kegiatan sehari-hari, dan (3) tatanan ajaran atau isi iman untuk dikomunikasikan (disiarkan) dan dilestarikan.  Jika pelembagaan itu terjadi, lahirlah agama. Karena itu agama adalah wujud sosial dari iman.

 

Catatan.

 

(1) Proses yang disebut pelembagaan itu adalah usaha yang sifatnya metodis, sistematis dan koheren atas kenyataan yang berupa kesadaran akan kehadiran Sang Realitas yang mengatasi hidup. Dalam konteks inilah kiranya kata akal ("'aql") dan kata ilmu ("'ilm") telah digunakan dalam teks Al Qur'an.  Kedekatan kata 'ilm dengan kata sifat 'alim kata ulama kiranya juga dapat dimengerti.  Periksalah pula buku Yusuf Qardhawi, "Al-Qur'an berbicara tentang akal dan ilmu pengetahuan", Gema Insani Press, 1998.  Namun sekaligus juga harus dikatakan, bahwa kata "ilmu" itu dalam pengertian umum dewasa ini meski serupa namun tetap tak sama dengan makna kata "ilmu" dalam teks dan konteks Al-Qur'an itu.

(2) Proses terbentuknya agama sebagaimana diungkapkan disini pantas disebut sebagai pendekatan "dari bawah". Inisiatif seakan-akan berasal dari manusia, yang ingin menemukan hakekat hidupnya di dunia ini dikaitkan dengan Sang sumber hidup dan kehidupan. Manusia meniti dan menata hidupnya sesuai dengan hasil penemuannya. Pendekatan "dari atas" nyata pada agama-agama samawi:  Allah mengambil inisiatif mewahyukan kehendakNya kepada manusia, dan oleh karena itu iman adalah tanggapan manusia atas "sapaan" Allah itu.

 

Sebagai ilmu, teologi merefleksikan hubungan Allah dan manusia. Manusia berteologi karena ingin memahami imannya dengan cara lebih baik, dan ingin mempertanggungjawabkannya: "aku tahu kepada siapa  aku percaya" (2Tim 1:12). Teologi bukan agama dan tidak sama dengan Ajaran Agama. Dalam teologi, adanya unsur "intellectus quaerens fidem" (akal menyelidiki isi iman) diharapkan memberi sumbangan substansial untuk integrasi akal dan iman, iptek dan imtaq, yang pada gilirannya sangat bermanfaat bagi hidup manusia masa kini.

 

4.  Obyek material dan obyek formal

 

Ilmu filsafat memiliki obyek material dan obyek formal.  Obyek material adalah apa yang dipelajari dan dikupas sebagai bahan (materi) pembicaraan, yaitu gejala "manusia di dunia yang mengembara menuju akhirat".  Dalam gejala ini jelas ada tiga hal menonjol, yaitu manusia, dunia, dan akhirat.  Maka ada filsafat tentang manusia (antropologi), filsafat tentang alam (kosmologi), dan filsafat tentang akhirat (teologi – filsafat ketuhanan; kata "akhirat" dalam konteks hidup beriman dapat dengan mudah diganti dengan kata Tuhan).  Antropologi, kosmologi dan teologi, sekalipun kelihatan terpisah, saling berkaitan juga, sebab pembicaraan tentang yang satu pastilah tidak dapat dilepaskan dari yang lain.  Juga pembicaraan filsafat tentang akhirat atau Tuhan hanya sejauh yang dikenal manusia dalam dunianya.

 

Obyek formal adalah cara pendekatan yang dipakai atas obyek material, yang sedemikian khas sehingga mencirikan atau mengkhususkan bidang kegiatan yang bersangkutan. Jika cara pendekatan itu logis, konsisten dan efisien, maka dihasilkanlah sistem filsafat.

 

Filsafat berangkat dari pengalaman konkret manusia dalam dunianya.  Pengalaman manusia yang sungguh kaya dengan segala sesuatu yang tersirat ingin dinyatakan secara tersurat. Dalam proses itu intuisi  (merupakan hal yang ada dalam setiap pengalaman) menjadi basis bagi proses abstraksi, sehingga yang tersirat dapat diungkapkan menjadi tersurat.

 

Dalam filsafat, ada filsafat pengetahuan. "Segala manusia ingin mengetahui", itu kalimat pertama Aristoteles dalam Metaphysica. Obyek materialnya adalah gejala "manusia tahu".  Tugas filsafat ini adalah menyoroti gejala itu berdasarkan sebab-musabab pertamanya. Filsafat menggali "kebenaran" (versus "kepalsuan"), "kepastian" (versus "ketidakpastian"), "obyektivitas" (versus "subyektivitas"), "abstraksi", "intuisi", dari mana asal pengetahuan dan kemana arah pengetahuan.   Pada gilirannya gejala ilmu-ilmu pengetahuan menjadi obyek material juga, dan kegiatan berfikir itu (sejauh dilakukan menurut sebab-musabab pertama) menghasilkan filsafat ilmu pengetahuan.  Kekhususan gejala ilmu pengetahuan terhadap gejala pengetahuan dicermati dengan teliti.  Kekhususan itu terletak dalam cara kerja atau metode yang terdapat dalam ilmu-ilmu pengetahuan.

 

5.  Cabang-cabang filsafat

 

5.1.  Sekalipun bertanya tentang seluruh realitas, filsafat selalu bersifat "filsafat tentang" sesuatu: tentang manusia, tentang alam, tentang akhirat, tentang kebudayaan, kesenian, bahasa, hukum, agama, sejarah, …  Semua selalu dikembalikan ke empat bidang induk:

 

1. filsafat tentang pengetahuan:

    obyek material : pengetahuan ("episteme") dan kebenaran

            epistemologi;

            logika;

            kritik ilmu-ilmu;

2. filsafat tentang seluruh keseluruhan kenyataan:

    obyek material : eksistensi (keberadaan) dan esensi (hakekat)

            metafisika umum (ontologi);

            metafisika khusus:

                        antropologi (tentang manusia);

                        kosmologi (tentang alam semesta);

                        teodise (tentang tuhan);

3. filsafat tentang nilai-nilai yang terdapat dalam sebuah tindakan:

    obyek material : kebaikan dan keindahan

            etika;

            estetika;

4. sejarah filsafat.

 

5.2.  Beberapa penjelasan diberikan disini khusus mengenai filsafat tentang pengetahuan.  Dipertanyakan: Apa itu pengetahuan?  Dari mana asalnya?  Apa ada kepastian dalam pengetahuan, atau semua hanya hipotesis atau dugaan belaka?

 

Pertanyaan tentang kemungkinan-kemungkinan pengetahuan, batas-batas pengetahuan, asal dan jenis-jenis pengetahuan dibahas dalam epistemologi. Logika ("logikos") "berhubungan dengan pengetahuan", "berhubungan dengan bahasa".  Disini bahasa dimengerti sebagai cara bagaimana pengetahuan itu dikomunikasikan dan dinyatakan. Maka logika merupakan cabang filsafat yang menyelidiki kesehatan cara berfikir serta aturan-aturan yang harus dihormati supaya pernyataan-pernyataan sah adanya.

 

Ada banyak ilmu, ada pohon ilmu-ilmu, yaitu tentang bagaimana ilmu yang satu berkait dengan ilmu lain.  Disebut pohon karena dimengerti pastilah ada ibu (akar) dari semua ilmu. Kritik ilmu-ilmu mempertanyakan teori-teori dalam membagi ilmu-ilmu, metode-metode dalam ilmu-ilmu, dasar kepastian dan jenis keterangan yang diberikan. 

 

5.3.  Menurut cara pendekatannya, dalam filsafat dikenal ada banyak aliran filsafat: eksistensialisme, fenomenologi, nihilisme, materialisme, … dan sebaginya.

 

 5.4.  Pastilah ada filsafat tentang agama, yaitu pemikiran filsafati (kritis, analitis, rasional) tentang gejala agama: hakekat agama sebagai wujud dari pengalaman religius manusia, hakikat hubungan manusia dengan Yang Kudus (Numen): adanya kenyataan trans-empiris, yang begitu mempengaruhi dan menentukan, tetapi sekaligus membentuk dan menjadi dasar tingkah-laku manusia.  Yang Kudus itu dimengerti sebagai Mysterium Tremendum et Fascinosum; kepadaNya manusia hanya beriman, yang dapat diamati (oleh seorang pengamat) dalam perilaku hidup yang penuh dengan sikap "takut-dan-taqwa", wedi-lan-asih ing Panjenengane

 

Sebegitu, maka tidak ada filsafat agama X; yang ada adalah filsafat dalam agama X, yaitu pemikiran menuju pembentukan infrastruktur rasional bagi ajaran agama X.  Hubungan antara filsafat dengan agama X dapat diibaratkan sebagai hubungan antara jemaah haji dengan kendaraan yang ditumpangi untuk pergi haji ke Tanah Suci, dan bukan hubungan antara jemaah haji dengan iman yang ada dalam hati jemaah itu.

 

Catatan lain. 

 

1. Iman dapat digambarkan mirip dengan gunung es di lautan. Yang tampak hanya sekitar sepersepuluh saja dari keseluruhannya.  Karena iman adalah suasana hati, maka berlakulah peribahasa: "dalam laut dapat diduga, dalam hati siapa yang tahu".  Tahukah saudara akan kadar keimanan saya?

 

2. Sekaligus juga patut ditanyakan "dimanakah letak hati yang dimaksudkan disini?  Pastilah "hati" itu (misalnya dalam kata "sakit hati" jika seorang pemudi dibuat kecewa  oleh sang pemuda yang menjadi pacarnya) bukan organ hati (dan kata "sakit hati" karena liver anda membengkak) yang diurus oleh para dokter di rumah sakit.  Periksa pula apa yang tersirat dalam kata "batin", "kalbu", "berhati-hatilah", "jantung hati", "jatuh hati", "hati nurani", dan "suara hati".

 

3.  Menurut Paul A Samuelson tirani kata merupakan gejala umum dalam masyarakat.  Sering ada banyak kata dipakai untuk menyampaikan makna yang sama dan ada pula banyak makna terkait dalam satu kata.  Manusia ditantang untuk berfikir dan berbicara dengan jelas dan terpilah-pilah ("clearly and distinctly"), sekurang-kurangnya untuk menghindarkan miskomunikasi dan menegakkan kebenaran. Itulah nasehat dari Rene Descrates. Bahkan kedewasaan seseorang dalam menghadapi persoalan (termasuk persoalan-persoalan dalam hidupnya) erat hubungannya dengan kemampuannya untuk berfikir dan berbicara dengan jelas dan terpilah-pilah tersebut.

 

6.  Refleksi rasional dan refleksi imani

 

Ketika bangsa Yunani mulai membuat refleksi atas persoalan-persoalan yang sekarang menjadi obyek material dalam filsafat dan bahkan ketika hasil-hasil refleksi itu dibukukan dalam naskah-naskah yang sekarang menjadi klasik, bangsa Israel telah memiliki sejumlah naskah (yang sekarang dikenal sebagai bagian dari Alkitab yang disebut Perjanjian Lama). Naskah-naskah itu pada hakekatnya merupakan hasil refleksi juga, oleh para bapa bangsa itu tentang nasib dan keberuntungan bangsa Israel — bagaimana dalam perjalanan sejarah sebagai "bangsa terpilih",  mereka sungguh dituntun (bahkan sering pula dihardik dengan keras serta dihukum) oleh YHWH (dibaca: Yahwe), Allah mereka.  Ikatan erat dengan tradisi dan ibadat telah menjadikan naskah-naskah itu Kitab Suci agama mereka (Agama Yahudi).  Pada gilirannya, Kitab Suci itu pun memiliki posisi unik dalam Agama Kristiani.

 

Catatan.

Bangsa Israel (dan Israel dalam Alkitab) sebagaimana dimaksudkan diatas tidak harus dimengerti sama dengan bangsa Israel yang sekarang ada di wilayah geografis yang sekarang disebut "negara Israel".

 

Kedua refleksi itu berbeda dalam banyak hal.  Refleksi tokoh-tokoh Yunani itu (misal Plato dan Aristoteles) mengandalkan akal  dan merupakan  cetusan penolakan mereka atas mitologi (faham yang menggambarkan dunia sebagai senantiasa dikuasai oleh para dewa dan dewi).  Sebaliknya, refleksi para bapa bangsa Israel itu (misal: Musa yang umumnya diterima sebagai penulis 5 kitab pertama Perjanjian Lama) merupakan ditopang oleh kalbu karena merupakan cetusan penerimaan bangsa Israel atas peran Sang YHWH dalam keseluruhan nasib dan sejarah bangsa itu.  Refleksi imani itu sungguh merupakan pernyataan universal pengakuan yang tulus, barangkali yang pertama dalam sejarah umat manusia, akan kemahakuasaan Allah dalam hidup dan sejarah manusia.

 

Sekarang ada yang berpendirian, bahwa hasil refleksi rasional para tokoh Yunani itu, berasimilasi dengan tradisi refleksi hidup keagamaan yang monoteistis, ternyata menjadi bibit bagi lahirnya ilmu-ilmu pengetahuan yang dikenal dewasa ini. Oleh karena itu sering filsafat dikatakan mengatasi setiap ilmu.

 

Sementara itu, harus dicatat bahwa dalam lingkungan kebudayaan India dan Cina berkembang pula refleksi bernuansa lain: wajah Asia. Refleksi itu nyata dalam buah pengetahuan yang terkumpul (misalnya dalam wujud "ilmu kedokteran alternatif" tusuk jarum), dan dalam karya-karya sastra "kaliber dunia" dari anak benua India.  Karya-karya sastra itu sering diperlakukan sebagai kitab suci, atau dihormati sebagai Kitab Suci, karena diterima sebagai kitab yang penuh dengan hal-hal yang bernilai suci untuk menjadi pedoman hidup sehari-hari. 

 

Misalnya saja Bhagavadgita (abad 4 seb Masehi). Bhagawadgita (atau Gita) diangkat dari epik Mahabharata, dari posisi sekunder (bagian dari sebuah cerita) ke posisi primer (sumber segala inspirasi untuk hidup). Pada abad 8 Masehi, Sankara (seorang guru) menginterpretasi Gita bukan sebagai pedoman untuk aksi, tetapi sebagai  pedoman untuk "mokhsa", pembebasan dari keterikatan kepada dunia ini.  Ramanuja (abad 12 Masehi) melihatnya sebagai sumber devosi atas kerahiman Tuhan yang hanya bisa dihayati melalui cinta.  Pada masa perjuangan kemerdekaan sekitar tahun 40-an, Gita dilihat sebagai pedoman untuk ber-"dharma yuddha", perang penuh semangat menegakkan kebenaran terhadap penjajah yang tak adil.  Bagi Tilak, Arjuna adalah "a man of action" ("karma yogin"), dan Gita mendorong seseorang untuk bertindak sedemikian sehingga ia menjadi "mokhsa" melalui "perjuangan" yang ditempuhnya. Aurobindo, Mahatma Gandhi, Bhave, Radhakrishnan, dan tokoh-tokoh lain membuat komentar yang kurang lebih sama.  Tanpa interpretasi Tilak, misalnya, pergolakan di India pada waktu itu mudah dinilai sebagai bersifat politis murni (atau kriminal murni?), yaitu tanpa  landasan ideal, spiritual, teologis dan etis.

 

Sesungguhnya, berefleksi merupakan ciri khas manusia sebagai pribadi dan dalam kelompok. Refleksi merupakan sarana untuk mengembangkan spiritualitas dan aktualisasi menjadi manusia yang utuh, dewasa dan mandiri.  Melalui refleksi pula, manusia dan kelompok-kelompok  manusia (yaitu suku dan bangsa) menemukan jati dirinya, menyadari tempatnya dalam dimensi ruang dan waktu (dalam sejarah), serta melaksanakan panggilannya untuk membuat sejarah bagi masa depan. 

 

Catatan.

Adakah refleksi tentang realitas yang khas Indonesia?  Suatu kajian berdasar naskah-naskah sastra Jawa masa lalu terdapat dalam disertasi doktor P J Zoetmulter SJ: "Manunggaling Kawula Gusti" (1935), yang telah diterjemahkan oleh Dick Hartoko SJ dan diterbitkan oleh PT Gramedia.

 

*) Penulis adalah mahasiswa semester akhir di PPs Strata 2 IAIN Tulungagung Jatim

FacebookTwitterGoogle+LinkedIn

Mengatasi file word yang tidak bisa di copy paste

 

Kita mungkin sering kali menemukan file dokumen seperti word yang diproteksi oleh pemilik aslinya. Memang kesal rasanya jika kita hanya bisa membacanya saja tanpa bisa diedit dan file yang bersangkutan sangat kita butuhkan sebagai tugas. Sangat sulit memang jika harus mengetik ulang satu-persatu,  ditambah lagi 9 dari 10 pelajar suka sistem belajar copas alias copy paste he he he…

 

Ok, sebentar lagi kita akan tahu bagaimana membobol file word yang di protect. Di bawah ini adalah langkah-langkahnya, perhatikan setiap kalimat yang ada secara cermat agar cara ini bisa bekerja, oke?

 

Pertama-tama buka file word yang terprotect lalu Pada menu bar pilih save as
Pada Save As Type, simpan document dengan type Web Page, atau XML Document.
Setelah di Save As maka tutup document tersebut. 

 

 

Selanjutnya kita buka kembali dokumen yang telah kita save as dengan type Web Page tadi dengan membukanya di notepad atau open with notepad
kemudian cari kata yang mengandung kata "protection

 

cara mudah :

Pada lembar kerja notepad tersebut tekan ctrl+f selanjutnya ketikkan kata protection, (ini hanya untuk memudahkan kita dalam mencari kata protection dalam notepad) selanjutnya klik Find Next. Maka secara cepat kita akan menemukan kata protection, selanjutnya ini bagian terpenting dari pembahasan ini. 

Yaitu hapus 2 (dua) baris kalimat ini :

 

 

 

 

Pastikan kedua baris kalimat tersebut terhapus
Setelah itu kita save dan tutup notped tersebut.

Selanjutnya buka aplikasi Ms. Word kemudian pilih file, pilih open pilih file yang kita edit di notepad tersebut, dan hasilnya? taraaaaa, proteksi hilang, dokumen kini bisa di copas.


Agar lebih mudah dalam pengeditan,  ubahlah tampilan lembar kerja Ms. Word Anda menjadi Print Layout View 

semoga bermanfaat…, tidak dianjurkan untuk kriminal.

FacebookTwitterGoogle+LinkedIn

Gallery

slide3 slide2 slide1
FacebookTwitterGoogle+LinkedIn