Melawan kerakusan penguasa- Idza lam tastahi’ fashna’ ma syi’ta

 
Semakin lama rezim SBY berkuasa, ancaman kemiskinan, dekadensi moral, kriminalitas, dan tentu saja korupsi, semakin keras mendera kehidupan rakyat Indonesia. Segala retorika apologis yang dikemukakan penguasa, menghadapi kritik rakyat, justru disikapi dengan rasa muak dan sumpah serapah masyarakat. Bahkan sejumlah tokoh lintas agama, menyerukan tahun 2011 sebagai tahun perlawanan terhadap kebohongan penguasa.

Setelah terbukti pemerintahan SBY tidak efektif memberantas korupsi dan menyejahterakan kehidupan rakyatnya, bahkan sebaliknya memperpuruk kondisi negeri. Maka Indonesia sepanjang masa reformasi, seakan ditakdirkan nasib binasa dan nista. Dalam hal ini SBY telah menjadi penguasa dari rezim durjana yang digambarkan dalam Al-Qur'an:

 

 

 

 

"Dan Kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin yang menyeru manusia ke neraka dan di hari kiamat mereka tidak akan ditolong. Dan Kami ikutkanlah la'nat kepada mereka di dunia ini, dan pada hari kiamat mereka termasuk orang-orangyang dijauhkan dari rahmat Allah." (Qs. Al-Qashas, 28:41-42).

 

Lahirnya pemimpin yang tidak becus mengurus negara, pejabat-pejabat yang rakus, tidak bermoral, mati rasa dan kesat hati, menjerumuskan rakyatnya kelembah nista dan teraniaya, merupakan tanggungjawab rakyat yang memilihnya. Dosa terbesar justru ditanggung oleh rakyat karena pemimpin durjana seperti itu lahir dari pilihan langsung oleh rakyat atas nama demokrasi.

Jika sekarang, penguasa yang mereka pilih, ternyata tidak peduli dengan nasib pemilihnya, lalu apa yang akan diperbuat? Bayangkan, apa yang ada diotak SBY, jajaran eksekutif dan juga legislatif. Ketika rakyatnya dalam kondisi sengsara, menderita gizi buruk, ditimpa bencana, hidup ditenda darurat, kekurangan gizi, langka air bersih. Para nelayan berhenti melaut karena badai, petani berhenti bertani karena gempa, tsunami, maupun lahar dingin merapa. Eeh, tiba-tiba SBY curhat, sudah tujuh tahun gajinya tidak dinaikkan. Sebelumnya ketua DPR RI Marzuki Ali ngotot membangun gedung mewah. Bahkan zalimnya mereka, usulan pengadaan mobil mewah bagi tamu penting DPRD DKI, juga disetujui untuk anggaran 2011.

Masya Allah, apa yang ada di otak mereka anngota wakil rakyat, dan apa yang bersemayam di hati Presiden SBY? Tidak ada rasa malu dan tak ada pula kesedihan menyaksikan derita rakyatnya. Sabda Nabi Saw, agaknya tepat bagi mereka. " Idza lam tastahi' fashna' ma syi'ta (Jika rasa malu sudah tidak ada, maka berbuatlah sesukamu)."

Prilaku hedonistik, berfoya dalam kemewahan, gembira di atas penderitaan rakyat, adalah karakteristik pejabat negara RI, sehingga mereka tidak sungkan menjadi koruptor. Mereka diserahi amanah mengurus kepentingan rakyat, tapi malah menjarah harta rakyat. Benarlah mahfudzat yang menyatakan: "Hamiha haramiha, mereka penjaganya mereka pula malingnya."

Ancaman kehancuran menghadang Indonesia masa depan, yang lebih dahsyat dengan apa yang menimpa sekarang. Apabila tidak ada perbaikan serta kesadaran obyektif rakyat Indonesia, maka Nasib bangsa Indonesia seperti digambarkan dalam wahyu Ilahy:

"Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati perintah Allah). Tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadap mereka ketentuan Allah. Niscaya Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya." (Qs. Al-Isra', 17:16).


Hari kemarin SBY minta naik gaji, gedung DPR dibangun dengan biaya 300 trilyun, dan DPRD DKI bertekad beli mobil mewah. Sedang kaum agamawan, kaum intelektual dan rakyat mayoritas mengoreksi dan menasihati penguasa, agar hidup hemat, sederhana. Jangan biarkan terus menerus rakyat hidup melarat, ternyata tidak digubris juga. Lalu, apa yang akan terjadi nanti?

Yang mengejutkan lagi, dengan adanya Audio Alm. Gus Dur:
Kata Gusdur; Sby duduk diatas Qur'an sebelum dilantik jadi Presiden. (dalam pandangan mistis, sukses jadi presiden tapi harus ditebus dengan banyaknya tumbal yang harus dipenuhi dalam kepemimpinanya dengan berbagai bencana yang banyak menelan nyawa2 rakyat tak berdosa). Mudah2an hal itu tidaklah benar adanya. meski audio itu asli 100% pernyataan Gusdur dihadapan ribuan orang,( Ponpes Al-falah cicalengka).
Langsung ke TKP :

Semoga 2012 Indonesiaku lebih baik.

Tulungagung, 27 Des 2011 — di Setelah Melewati Depan Rumah Itu.

FacebookTwitterGoogle+LinkedIn

Hijab/Jilbab Punuk unta

 

Beginilah Gambar Perempuan Yang Kepalanya Ibarat Punuk Onta, Yang Disebutkan Oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam Dalam Hadits Shahih Riwayat Imam Muslim dan Lainnya Bahwasanya Mereka Tidak Akan Masuk Surga dan Tidak Akan Mencium Bau Wangi Surga, Padahal Bau Wangi Surga Bisa Dicium Dari Jarak Yang Sangat Jauh..

 

Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda”

 

( صنفان من أهل النار لم أرهما قوم معهم سياط كأذناب البقر يضربون بها الناس ونساء كاسيات عاريات مائلات مميلات رؤوسهن كأسنمة البخت المائلة لايدخلن الجنة ولا يجدن ريحها وان ريحها لتوجد من مسيرة كذاوكذا )

 

رواه أحمد ومسلم في الصحيح .

 

 

 

“Ada dua golongan penduduk neraka yang belum aku melihat keduanya,

1. Kaum yang membawa cemeti seperti ekor sapi untuk mencambuk manusia [maksudnya penguasa yang dzalim],

2. dan perempuan-perempuan yang berpakaian tapi telanjang, cenderung kepada kemaksiatan dan membuat orang lain juga cenderung kepada kemaksiatan. Kepala-kepala mereka seperti punuk-punuk unta yang berlenggak-lenggok. Mereka tidak masuk surga dan tidak mencium bau wanginya. Padahal bau wangi surga itu tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian waktu [jarak jauh sekali]”.

(HR. Muslim dan yang lain).


 

 

Penjelasan Hadits Menurut Para Ulama:

 

Imam An Nawawi dalam Syarh-nya atas kitab Shahih Muslim berkata:

 

“Hadis ini merupakan salah satu mukjizat Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam. Apa yang telah beliau kabarkan kini telah terjadi…

 

Adapun “berpakaian tapi telanjang”, maka ia memiliki beberapa sisi pengertian.

 

Pertama, artinya adalah mengenakan nikmat-nikmat Allah namun telanjang dari bersyukur kepada-Nya.

 

Kedua, mengenakan pakaian namun telanjang dari perbuatan baik dan memperhatikan akhirat serta menjaga ketaatan.

 

Ketiga, yang menyingkap sebagian tubuhnya untuk memperlihatkan keindahannya, mereka itulah wanita yang berpakaian namun telanjang.

 

Keempat, yang mengenakan pakaian tipis sehingga menampakkan bagian dalamnya, berpakaian namun telanjang dalam satu makna.

 

Sedangkan “maa`ilaatun mumiilaatun”, maka ada yang mengatakan: menyimpang dari ketaatan kepada Allah dan apa-apa yang seharusnya mereka perbuat, seperti menjaga kemaluan dan sebagainya.

 

“Mumiilaat” artinya mengajarkan perempuan-perempuan yang lain untuk berbuat seperti yang mereka lakukan.

 

Ada yang mengatakan, “maa`ilaat” itu berlenggak-lenggok ketika berjalan, sambil menggoyang-goyangkan pundak.

 

Ada yang mengatakan, “maa`ilaat” adalah yang menyisir rambutnya dengan gaya condong ke atas, yaitu model para pelacur yang telah mereka kenal.

 

“Mumiilaat” yaitu yang menyisirkan rambut perempuan lain dengan gaya itu.

 

Ada yang mengatakan, “maa`ilaat” maksudnya cenderung kepada laki-laki.

 

“Mumiilaat” yaitu yang menggoda laki-laki dengan perhiasan yang mereka perlihatkan dan sebagainya.

 

Adapun “kepala-kepala mereka seperti punuk-punuk unta”, maknanya adalah mereka membuat kepala mereka menjadi nampak besar dengan menggunakan kain kerudung atau selempang dan lainnya yang digulung di atas kepala sehingga mirip dengan punuk-punuk unta. Ini adalah penafsiran yang masyhur.

 

Al Maaziri berkata: dan mungkin juga maknanya adalah bahwa mereka itu sangat bernafsu untuk melihat laki-laki dan tidak menundukkan pandangan dan kepala mereka.

 

Sedang Al Qoodhiy memilih penafsiran bahwa itu adalah yang menyisir rambutnya dengan gaya condong ke atas. Ia berkata: yaitu dengan memilin rambut dan mengikatnya ke atas kemudian menyatukannya di tengah-tengah kepala sehingga menjadi seperti punuk-punuk unta.

 

Lalu ia berkata: ini menunjukkan bahwa maksud perumpamaan dengan punuk-punuk unta adalah karena tingginya rambut di atas kepala mereka, dengan dikumpulkannya rambut di atas kepala kemudian dipilin sehingga rambut itu berlenggak-lenggok ke kiri dan ke kanan kepala.

 

Fatwa Syaikhuna Fadlilatusy Syaikh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin rahimahullah:

 

Pertanyaan :

 

السؤال : هل ما تفعله بعض النسوة من جمع شعورهن على شكل كرة في مؤخرة الرأس ، هل يدخل في الوعيد : ” نساء كاسيات عاريات … رؤوسهن كأسنمة البخت المائلة لا يدخلن الجنة ….” ؟

 

 

Apakah perbuatan yang dilakukan sebagian wanita berupa mengumpulkan rambut menjadi berbentuk bulat (menggelung/menyanggul) di belakang kepala, masuk ke dalam ancaman dalam hadits :

نساء كاسيات عاريات … رؤوسهن كأسنمة البخت المائلة لا يدخلن الجنة …“…Wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang… kepala-kepala mereka seperti punuk unta, mereka tidak akan masuk surga…“ ?

 

Jawaban :

 

الجواب :

 

أما جمع المرأة رأسها للشغل ، ثم بعد ذلك ترده ، فهذا لا يضر ، لأنها لا تفعل هذا زينة أو تجملا ، لكن للحاجة ، وأما رفعه وجمعه على سبيل التزين ، فإن كان إلى فوق فهو داخل في النهي ، لقوله صلى الله عليه وسلم : [ رؤوسهن كأسنمة البخت …] ، والسنام يكون فوق.

 

 

Adapun jika seorang wanita menggelung rambutnya karena ada kesibukan kemudian mengembalikannya setelah selesai, maka ini tidak mengapa, karena ia tidak melakukannya dengan niat berhias, akan tetapi karena adanya hajat/keperluan.

Adapun mengangkat dan menggelung rambut untuk tujuan berhias, jika dilakukan ke bagian atas kepala maka ini masuk ke dalam larangan, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam :

رؤوسهن كأسنمة البخت …“…kepala-kepala mereka seperti punuk unta…”, dan punuk itu adanya di atas…“

Sumber : “Liqo’ Bab al-Maftuh” kaset no. 161.

 

Fatwa Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah:

 

Pertanyaan :

 

لسائل: ما حكم جمع المرأة لشعرها فوق رَقَبَتِهَا وخلف رأسها بحيث يعطي شكلاً مكوراً مع العلم بأن المرأة حين تتحجب يظهر شكل الشعر من خلف الحجاب ؟.

 

 

Apa hukum seorang wanita mengumpulkan (menggelung/sanggul) rambutnya di atas lehernya dan di belakang kepalanya yang membentuk benjolan sehingga ketika wanita itu memakai hijab, terlihat bentuk rambutnya dari belakang hijabnya?

 

Jawaban :

 

الشيخ: هذه خطيئة يقع فيها كثير من المتحجبات حيث يجْمَعْن شعورهن خلف رؤوسهن فَيَنْتُؤُ من خلفهن ولو وضعن الحجاب من فوق ذلك، فإن هذا يخالف شرطا من شروط الحجاب التي كنت جمعتها في كتابي حجاب المرأة المسلمة من الكتاب والسنة ومن هذه الشروط ألا يحجم الثوب عضوا أو شيئا من بدن المرأة، فلذلك فلا يجوز للمرأة أن تكور خلف رأسها أو في جانب من رأسها شعر الرأس بحيث أنه يَنْتُؤُ هكذا فيظهر للرأي ولو بدون قَصْدٍ أنها مشعرانية أو أنها خفيفة الشعر يجب أن تسدله ولا تُكَوِمَهُ .

 

 

Ini adalah kesalahan yang terjadi pada banyak wanita yang memakai jilbab, dimana mereka mengumpulkan rambut-rambut mereka di belakang kepala mereka sehingga menonjol dari belakang kepalanya walaupun mereka memakai jilbab di atasnya. Sesungguhnya hal ini menyelisihi syarat hijab yang telah kukumpulkan dalam kitabku “Hijab al-Mar’ah al-Muslimah minal Kitab was Sunnah”.

Dan diantara syarat-syarat tersebut adalah pakaian mereka tidak membentuk bagian tubuh atau sesuatu dari tubuh wanita tersebut, oleh karena itu tidak boleh bagi seorang wanita menggelung rambutnya dibelakang kepalanya atau disampingnya yang akan menonjol seperti itu, sehingga tampaklah bagi penglihatan orang walaupun tanpa sengaja bahwa itu adalah rambut yang lebat atau pendek. Maka wajib untuk mengurainya dan tidak menumpuknya.

 

Sumber : “Silsilatul Huda wan Nur“.

 

Fatwa ‘Al-Lajnah Ad-Da’imah’ 2/27:

 

Pertanyaan:

 

” السؤال : هل يجوز أن نعتقد كفر النساء الكاسيات العاريات لقول النبي صلى الله عليه وسلم : ( لا يدخلن الجنة ولا يجدن ريحها ) الحديث ؟

 

 

Apakah boleh kita berkeyakinan tentang kafirnya para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam: “Mereka tidak masuk surga dan tidak mencium bau wanginya. Padahal bau wangi surga itu tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian waktu [jarak jauh sekali” (Al-Hadits)?.

 

والجواب :

 

يكفر من اعتقد حل ذلك منهن بعد البيان والتعريف بالحكم ، ومن لم تستحل ذلك منهن ولكن خرجت كاسية عارية فهي غير كافرة ، لكنها مرتكبة لكبيرة من كبائر الذنوب ، ويجب الإقلاع عنها ، والتوبة منها إلى الله ، عسى أن يغفر الله لها ، فإن ماتت على ذلك غير تائبة فهي تحت مشيئة الله كسائر أهل المعاصي ؛ لقول الله عز وجل : ( إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ) ” انتهى.

 

 

Jawaban:

 

Siapa saja yang meyakini akan halalnya hal itu dari kalangan para wanita padahal telah dijelaskan kepadanya [kalau tidak halal] dan diberi pengertian tentang hukumnya, maka ia kafir.

 

Adapun yang tidak menghalalkan hal itu dari kalangan para wanita akan tetapi ia keluar rumah dalam keadaan berpakaian tapi telanjang, maka ia tidak kafir, akan tetapi ia terjerumus dalam dosa besar, yang harus melepaskan diri darinya dan taubat daripadanya kepada Allah, semoga Allah mengampuninya. Jika ia mati dalam keadaan belum bertaubat dari dosanya itu maka ia berada dalam kehendak Allah sebagaimana layaknya para ahli maksiat; sebagaimana firman Allah Azza Wa Jalla:

 

 

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya”. (QS. An-Nisaa’: 48). Selesai. Fatwa ‘Al-Lajnah Ad-Da’imah’ 2/27.

 

Kesimpulan:

 

Maksud dari hadits “kepala mereka seperti punuk onta”, adalah wanita yang menguncir atau menggulung rambutnya sehingga tampak sebuah benjolan di bagian belakang kepala dan tampak dari balik hijabnya .

 

Ancaman yang sangat keras bagi setiap wanita yang keluar rumah menonjolkan rambut yang tersembunyi di balik hijabnnya dengan ancaman tidak dapat mencium bau wangi surga, padahal bau wangi surga bisa dicium dari jarak yang sangat jauh.

 

Apabila telah ada ketetapan dari Allah baik berupa perintah atau pun larangan, maka seorang mukmin tidak perlu berpikir-pikir lagi atau mencari alternatif yang lain. Terima dengan sepenuh hati terhadap apa yang ditetapkan Allah tersebut dalam segala permasalahan hidup.

 

 

“Dan tidakkah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” [QS. Al-Ahzab: 36 ]

 

 

“ Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu ..” [Q.S. Al Hujaraat : 15]

 

Kalau kita cermati dengan seksama maka akan jelas sekali bahwa saat ini banyak kaum wanita yang telah melakukan apa yang dikabarkan oleh Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam dalam hadits tersebut, yaitu memakai jilbab yang dibentuk sehingga mirip punuk onta. Kalau berjilbab seperti ini saja tidak masuk surga, bagaimana pula yang tidak berjilbab?

 

Inti dari larangan dalam hadits tersebut adalah bertabarruj, yaitu keluar rumah dengan berdandan yang melanggar aturan syari’at dan berjilbab yang tidak benar sebagaimana firman Allah:

 

 

 

“dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu (bertabarruj) berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta'atilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. “ . (QS. Al-Ahzaab: 33).

 

Adapun ketika dirumah dan dihadapan suami, maka para isteri diperbolehkan berdandan dengan cara apa saja yang menarik hati suaminya, bahkan tanpa mengenakan sehelai kainpun juga boleh, tidak haram, bahkan berpahala.

 

Semoga jelas dan bermanfaat..

 

Sumber: www.kajianislam.net

FacebookTwitterGoogle+LinkedIn

Upss Jumlah Pelajar Kita di Iran Melebihi di Al-Azhar!!

Tidak kurang dari 7.000-an mahasiswa Indonesia diperkirakan sedang dan telah belajar ke Iran, sebuah negara yang notabene pusat cuci otak untuk menjadi pendukung Syiah. Kabar ini dikemukakan oleh salah seorang anggota DPR Komisi VIII, Ali Maschan Musa, termuat di www.republika.co.id dengan link http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/nasional/11/03/03/167288-ribuan-pemuda-belajar-di-iran-polri-diminta-waspadai-syiah.

 

Padahal sewaktu kemarin ada evakuasi besar-besaran mahasiswa Indonesia di Mesir, ternyata jumlah mereka hanya sekitar 4.000-5.000 orang saja. Kalau yang kuliah ke Iran sampai angka 7.000, berarti ini bukan angka yang main-main.

 

“Saya tahun 2007 ke Iran dan bertemu dengan beberapa anak-anak Indonesia di sana yang belajar Syiah. Mereka nanti minta di Indonesia punya masjid sendiri dan sebagainya,” kata Ali dalam rapat dengan Kepala Badan Reserse Kriminal Mabes Polri, Komjen (Pol) Ito Sumardi, di ruang rapat Komisi VIII DPR, Jakarta, Kamis (3/3).

 

Ini berarti dalam beberapa tahun ke depan, Indonesia akan diramaikan oleh demam paham Syi`ah. Karena dalam hitungan 4-5 tahun ke depan, tentu mereka akan kembali ke Indonesia dengan membawa paham yang secara tegak lurus bertentangan dengan paham umat Islam di Indonesia yang nota bene ahli sunnah wal jamaah.

 

Perkembangan Syiah di Indonesia

 

Sebenarnya untuk melihat hasil dari `kaderissasi` pemeluk syi`ah di Indonesia, tidak perlu menunggu beberapa tahun ke depan. Sebab data yang bisa kita kumpulkan hari ini saja sudah biki kita tercengang dengan mulut menganga.

 

Betapa tidak, rupanya kekuatan Syi`ah di negeri kita ini diam-diam terus bekerja siang malam, tanpa kenal lelah. Hasilnya, ada begitu banyak agen-agen ajaran syi`ah yang siap merenggut umat Islam Indonesia untuk menerima dan jatuh ke pelukan ajaran ini.

 

Iranian Corner di Perguruan Tinggi Islam

 

Perkembangan Iranian Corner di Indonesia khususnya Perguruan Tinggi cukup marak. Di Jakarta, Iranian Corner ada di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ). Jogjakarta sebagai kota pelajar malah punya tiga sekaligus, yaitu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Bisa dibayangkan, Yogyakarta, satu kota saja ada 3 Iranian Corner; yang satu UIN, yang dua Muhammadiyah. Di Malang juga ada di Universitas Muhammadiyah Malang.

 

Islamic Cultural Center (ICC)

 

Di Indonesia Iran memiliki lembaga pusat kebudayaan Republik Iran, ICC (Islamic Cultural Center), berdiri sejak 2003 di bilangan Pejaten, Jakarta Selatan. Dari ICC itulah didirikannya Iranian Corner di 12 tempat tersebut, bahkan ada orang-orang yang aktif mengajar di ICC itu.

 

Dii antara tokoh yang mengajar di ICC itu adalah kakak beradik: Umar Shihab ( salah seorang Ketua MUI -Majelis Ulama Indonesia Pusat) dan Prof Quraish Shihab (mantan Menteri Agama), Dr Jalaluddin Rakhmat, Haidar Bagir dan O. Hashem. Begitu juga sejumlah keturunan alawiyin atau habaib, seperti Agus Abu Bakar al-Habsyi dan Hasan Daliel al-Idrus.


 

Undangan Cuci Otak ke Iran

 

Siapa yang menolak kalau diundang jalan-jalan ke luar negeri. Buat banyak orang di negeri kita, jalan-jalan ke luar negeri memang sudah jadi demam tersendrii, tidak terkecuali para anggota DPR.

 

Nah, sifat norak dan kampungan seperti itu juga dimanfaatkan oleh Iran untuk memberikan jalan-jalan gratis ke pusat-pusat pengajaran Syi`ah di Iran. Sudah tidak terhitung tokoh Islam Indonesia yang diundang untuk berkunjung ke Iran, tentu saja judulnya bukan cuci otak, tetapi atas nama studi banding dan sejenisnya.

 

Namun rata-rata tokoh yang sudah pernah diundang kesana, begitu pulang bicaranya penuh pembelaan kepada Syi`ah, bahkan ada yang menganggap perbedaan Syi`ah dengan Sunni bukan perbedaan prinsipil dan sebagainya. Tanpa malu-malu mereka telah menjilat Iran, padahal negeri itu adalah pembantai ulama-ulama Sunni, bahkan penghancur masjid-masjid dan kitab-kitab rujukan Sunni.

 

Beasiswa Pelajar ke Iran

 

Syi’ah merekrut para pemuda untuk diberi bea siswa untuk dibelajarkan ke Iran. Kini diperkirakan ada 7.000-an mahasiswa Indonesia yang dibelajarkan di Iran, disamping sudah ada ribuan yang sudah pulang ke Indonesia dengan mengadakan pengajian ataupun mendirikan yayasan dan sebagainya.

 

Sekembalinya ke tanah air, para lulusan Iran ini aktif menyebarkan faham Syi’ah dengan membuka majelis taklim, yayasan, sekolah, hingga pesantren.

 

Di antaranya Ahmad Baraqbah yang mendirikan Pesantren al-Hadi di Pekalongan (sudah hangus dibakar massa), ada juga Husein al-Kaff yang mendirikan Yayasan Al-Jawwad di Bandung, dan masih puluhan yayasan Syi’ah lainnya yang tersebar di Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi.

 

Yayasan, Pengajian dan Ikatan Penyebar Aqidah Syi`ah

 

Pada tahun 2001 saja sudah terdapat 36 yayasan Syi`ah di Indonesia. Dan tidak kurang dari 43 kelompok pengajian yang intensif menanamkan aqidah syi`ah sudah berdiri. Berikut data-data syiah di indonesia yang untuk saat ini bisa kami himpun

 

a. Yayasan

1. Yayasan Fatimah, Condet, Jakarta.

2. Yayasan Al-Muntazhar, Jakarta.

3. Yayasan Al-Aqilah.

4. Yayasan Ar-Radhiyah.

5. Yayasan Mulla Shadra, Bogor.

6. Yayasan An-Naqi.

7. Yayasan Al-Kurba.

8. YAPI, Bangil.

9. Yayasan Al-Itrah, Jember.

10. Yayasan Rausyan Fikr, Jogya.

11. Yayasan BabIIm, Jember.

12. Yayasan Muthahhari, Bandung.

13. YPI Al-Jawad, Bandung.

14. Yayasan Muhibbin, Probolinggo.

15. Yayasan Al-Mahdi, Jakarta Utara.

16. Yayasan Madina Ilmu, Bogor.

17. Yayasan Insan Cita Prakarsa, Jakarta.

18. Yayasan Asshodiq, Jakarta Timur.

19. Yayasan Babul Ilmi, Pondok Gede.

20. Yayasan Azzahra Cawang.

21. Yayasan Al-Kadzim.

22. Yayasan Al-Baro`ah, Tasikmalaya.

23. Yayasan 10 Muharrom, Bandung.

24. Yayasan As Shodiq, Bandung.

25. Yayasan As Salam, Majalengka.

26. Yayasan Al Mukarromah, Bandung.

27. Yayayasan Al-Mujataba, Purwakarta.

28. Yayasan Saifik, Bandung.

29. Yayasan Al Ishlah, Cirebon.

30. Yayasan Al-Aqilah, Tangerang.

31. Yayasan Dar Taqrib, Jepara.

32. Yayasan Al-Amin, Semarang.

33. Yayasan Al-Khoirat, Jepara.

34. Yayasan Al-Wahdah, Solo.

35. Yayasan Al-Mawaddah, Kendal.

36. Yayasan Al-Mujtaba, Wonosobo.

37. Yayasan Safinatunnajah, Wonosobo.

38. Yayasan Al-Mahdi, Jember.

39. Yayasan Al-Muhibbiin, Probolinggo.

40. Yayasan Attaqi, Pasuruan.

41. Yayasan Azzhra, Malang.

42. Yayasan Ja’far As-Shadiq, Bondowoso.

43. Yayasan Al-Yasin, Surabaya.

44. Yapisma, Malang.

45. Yayasan Al-Hujjah, Jember.

46. Yayasan Al-Kautsar, Malang.

47. Yayasan Al-Hasyim, Surabaya.

48. Yayasan Al-Qoim, Probolinggo.

49. Yayasan Al-Kisa`, Denpasar.

50. Yayasan Al-Islah, Makasar.

51. Yayasan Paradigma, Makasar.

52. Yayasan Fikratul Hikmah, Jl Makasar.

53. Yayasan Sadra, Makasar.

54. Yayasan Pinisi, Makassar.

55. Yayasan LSII, Makasar.

56. Yayasan Lentera, Makassar.

57. Yayasan Nurtsaqolain, Sulawesi Selatan.

58. Yas Shibtain, Tanjung Pinang, Kepulauan Riau.

59. Yayasan Al-Hakim, Lampung.

60. Yayasan Pintu Ilmu, Palembang.

61. Yayasan Al-Bayan, Palembang.

62. Yayasan Ulul Albab, Aceh.

63. Yayasan Amali, Medan.

64. Yayasan Al-Muntadzar, Samarinda.

65. Yayasan Arridho, Banjarmasin.

66. Yayasan Al-Itrah, Bangil.

 

b. Pengajian

1. MT. Ar-Riyahi.

2. Pengajian Ummu Abiha, Pondok Indah.

3. Pengajian Al-Bathul, Cililitan.

4. Pengajian Haurah, Sawangan.

5. Majlis Taklim Al-Idrus, Purwakarta.

6. Majlis Ta’lim An-Nur, Tangerang.

7. MT Al Jawad, Tasikmalaya.

8. Majlis Ta’lim Al-Alawi, Probolinggo.

 

c. Ikatan

1. Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia (IJABI).

2. Ikatan Pemuda Ahlulbait Indonesia (IPABI), Bogor.

3. HPI – Himpunan Pelajar Indonesia-Iran.

4. Shaf Muslimin Indonesia, Cawang .

5. MMPII, Condet.

6. FAHMI (Forum Alumni HMI), Depok.

7. Himpunan Pelajar Indonesia di Republik Iran (ISLAT).

8. Badan Kerja Sama Persatuan Pelajar Indonesia Se-Timur Tengah dan Sekitarnya (BKPPI).

9. Komunitas Ahlul Bait Indonesia (TAUBAT).

 

d. Lembaga

1. Islamic Cultural Center (ICC), Pejaten.

2. Tazkia Sejati, Kuningan.

3. Al Hadi, Pekalongan.

4. Al-Iffah, Jember.

5. Lembaga Komunikasi Ahlul Bait (LKAB), wadah alumni Qom

 

e. Sekolah dan Pesantren

1. SMA PLUS MUTHAHARI di Bandung dan Jakarta.

2. Pendidikan Islam Al-Jawad.

3. Icas (Islamic College for Advanced Studies) – Jakarta Cabang London.

4. Sekolah Lazuardi dari Pra TK sampai SMP, Jakarta.

5. Sekolah Tinggi Madina Ilmu, Depok.

6. Madrasah Nurul Iman, Sorong.

7. Pesantren Al-Hadi Pekalongan.

8. Pesantren YAPI, Bangil.

 

f. Penerbit

1. Lentera.

2. Pustaka Hidayah.

3. MIZAN.

4. YAPI JAKARTA.

5. YAPI Bangil.

6. Rosdakarya.

7. Al-Hadi.

8. CV Firdaus .

9. Pustaka Firdaus.

10. Risalah Masa.

11. Al-Jawad.

12. Islamic Center Al-Huda.

13. Muthahhari Press/Muthahhari Papaerbacks.

14. Mahdi.

15. Ihsan.

16. Al-Baqir.

17. Al-Bayan.

18. As-Sajjad.

19. Basrie Press.

20. Pintu Ilmu.

21. Ulsa Press.

22. Shalahuddin Press.

23. Al-Muntazhar.

24. Mulla Shadra .

 

g. Penulis

1. Alwi Husein, Lc.

2. Muhammad Taqi Misbah.

3. O. Hashem.

4. Jalaluddin Rakhmat.

5. Husein al-Habsyi.

6. Muhsin Labib.

7. Riza Sihbudi.

8. Husein Al-Kaff.

9. Sulaiman Marzuqi Ridwan.

10. Dimitri Mahayana

 

h. Majalah – Jurnal

1. Majalah Syi’ar.

2. Jurnal Al-Huda.

3. Jurnal Al-Hikmah.

4. Majalah Al-Musthafa.

5. Majalah Al-Hikmah.

6. Majalah Al-Mawaddah.

7. Majalah Yaum Al-Quds.

8. Buletin Al-Tanwir.

9. Buletin Al-Jawwad.

10. Buletin Al-Ghadir.

11. Buletin BabIIm.

 

i. Radio dan TV

1. IRIB (Radio Iran siaran bahasa Indonesia).

2. Hadi TV, tv satelite (haditv.com).

3. TV Al-Manar, Libanon, dpt diakses sejak April 2008, bekerja sama dengan INDOSAT.

4. Myshiatv.com.

5. Shiatv.net.

 


UNIVERSITAS-UNIVERITAS YANG DILINK

1. Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

2. Politeknik Negeri Jakarta.

3. Sekolah Tinggi Informatika dan Komputer Indonesia .

4. Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Perbanas.

5. STMIK AKAKOM Yogyakarta .

6. Universitas Gajah Mada.

7. Universitas Pembangunan Nasbional “Veteran” Jakarta.

8. Universitas Airlangga.

9. Brawijaya University.

10. Universitas Darma Persada Jakarta.

11. Universitas Gunadarma.

12. Universitas Islam Indonesia.

13. Universitas Muhammadiyah Jakarta.

14. Universitas Negri Malang.

15. Universitas Negeri Manado.

16. Universitas Negeri Semarang.

17. Universitas Pendidikan Indonesia.

18. Universitas Pertanian Bogor.

19. Institut Teknologi Nasional Malang.

20. Politeknik Negeri Ujung Pandang.

21. Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

22. STIE Nusantara.

23. Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta

24. Universitas Klabat.

25. Universitas Malikussaleh.

26. Universitas Negeri Makasar.

27. Universitas Sriwijaya.

28. UPN Veteran Jawa Timur.

 

Majelis Ulama Indonesia (MUI) : Syiah Aliran Sesat

 

Secara resmi sesungguhnya Majelis Ulama Indonesia telah menegaskan bahwa Syiah bukan sekedar kelompok biasa, melainkan sebuah aliran yang telah divonis sesat dan keluar dari akidah Islam.

 

Majelis Ulama Indonesia dalam Rapat Kerja Nasional bulan Jumadil Akhir 1404 H./Maret 1984 merekomendasikan tentang faham Syi` ah sebagai berikut :

 

Faham Syi`ah sebagai salah satu faham yang terdapat dalam dunia Islam mempunyai perbedaan-perbedaan pokok dengan mazhab Sunni (Ahlus Sunnah Wal Jama`ah) yang dianut oleh Umat Islam Indonesia. Perbedaan itu diantaranya :

 

 

  1. Syi`ah menolak hadis yang tidak diriwayatkan oleh Ahlu Bait, sedangkan ahlu Sunnah wal Jama`ah tidak membeda-bedakan asalkan hadits itu memenuhi syarat ilmu mustalah hadis.
  2. Syi’ah memandang "Imam" itu ma `sum (orang suci), sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama`ah memandangnya sebagai manusia biasa yang tidak luput dari kekhilafan (kesalahan).
  3. Syi`ah tidak mengakui Ijma` tanpa adanya "Imam", sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama` ah mengakui Ijma` tanpa mensyaratkan ikut sertanya "Imam".
  4. Syi’ah memandang bahwa menegakkan kepemimpinan/Pemerintahan (imamah) adalah termasuk rukun agama, sedangkan Sunni (Ahlus Sunnah wal Jama`ah) memandang dari segi kemaslahatan umum dengan tujuan keimamahan adalah untuk menjamin dan melindungi da`wah dan kepentingan ummat.
  5. Syi`ah pada umumnya tidak mengakui kekhalifahan Abu Bakar as-Siddiq, Umar Ibnul Khatab, dan Usman bin Affan, sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama`ah mengakui keempat Khulafa` Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali bin Abi Thalib).
  6. Mengingat perbedaan-perbedaan pokok antara Syi`ah dan Ahlus Sunnah wal Jama’ah seperti tersebut di atas, terutama mengenai perbedaan tentang "Imamah" (Pemerintahan)"

Majelis Ulama Indonesia menghimbau kepada ummat Islam Indonesia yang berfaham Ahlus Sunnah wal Jama`ah agar meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan masuknya faham yang didasarkan atas ajaran Syi’ah.

 

Hakikat Syi`ah

Syiah adalah salah satu aliran aqidah di tengah umat Islam. Syiah mengikuti Islam sesuai yang diajarkan oleh Nabi Muhammad dan Ahlul Bait-nya. Proporsi terbesar perbedaan Syiah adalah menolak kepemimpinan dari tiga Khalifah umat Islam pertama. Dan umat Islam menolak imam dari Imam Syiah.

 

Sejarah

Kalau kita teliti sejarah, mula munculnya aliran syiah adalah masalah salah paham dan selera. Ada beberapa orang yang punya pandangan politik yang berbeda pada awalnya. Dan perbedaan ini sesungguhnya masalah yang manusiawi sekali dan mustahil dihindarkan.

 

Mereka menginginkan Ali bin Abi Thalib radiyallahu `anhu menjadi khalifah pengganti Rasulullah SAW. Sementara semua shahabat Nabi SAW telah sepakat membai`at Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu `anhu sebagai khalifah. Karena itu, mereka amat benci pada Abu Bakar, bahkan juga 2 orang khalifah berikutnya, Umar bin Al-Khattab dan Utsman bin Al-Affan radhiyallahu anhuma.

 

Padahal Ali bin Abi Thalib sendiri pun setuju dan mengakui pemerintahan tiga orang khalifah itu.Keinginan beberapa orang itu pada gilirannya sudah terpenuhi juga, sebab sepeninggal 3 khalifah itu, akhirnya Ali memang diangkat menjadi khalifah. Seharusnya, sampai disini masalah sudah selesai.

 

Dan sebenarnya memang masalah sudah selesai. Sebab keinginan untuk mendudukkan Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah sudah tercapai, meski sempat terhambat.

 

Lain Orang Lain Generasi

Selewat generasi para shahabat, muncul berbagai aliran sesat yang tujuannya ingin merontokkan agama Islam dari dalam. Dan salah satu cara yang paling mudah adalah dengan cara memecah-belah persatuan umat Islam, menghidupkan kebanggaan jahiliyah, semangat kesukuan, fanatisme kelompok, sikap saling menggugat dan menjelekkan serta mengungkit-ungkit masa lalu yang sebenarnya tidak terlalu dipahami.

 

Lahirlah kemudian generasi baru yang tidak tahu apa-apa, tetapi habis didoktrin untuk melakukan semua sifat buruk itu. Salah satunya adalah mengungkit-ungkit perbedaan di masa lalu yang sesungguhnya sudah selesai. Namun ibarat mengali mayat yang sudah dikubur, akibatnya menjadi sangat fatal.

 

Fitnah dan sikap saling menyelahkan kembali membara. Bedanya, sekarang dilakukan oleh generasi yang tidak secara langsung merasakan nikmatnya persaudaraan. Mereka lahir dari rahim kebencian dan terus menerus didoktrin untuk selalu membenci sesama muslim.

 

Sehingga masalah politik yang sudah dikubur, digali lagi dan berkembang menjadi serius ketika perbedaan itu berkembang ke wilayah aqidah dan syariah. Lalu masing-masing pihak saling mengkafirkan dan menuduh saudaranya sesat bahkan murtad. Inilah yang sebenarnya dikhawatirkan sejak dahulu.

 

Memang benar bahwa ada sebagian dari akidah syiah yang sudah tidak bisa ditolelir lagi, bukan hanya oleh kalangan ahli sunnah, tetapi oleh sesama penganut syiah pun dianggap sudah sesat. Dan kita harus tegas dalam hal ini, kalau memang sesat kita katakan sesat.

 

Contoh Sesatnya Aqidah Syiah

Pertama : Menolak Mushaf Utsmani

Misalnya mereka yang tidak percaya kepada Al-Quran mushaf Utsmani, dan menggunakan mushaf yang konon susunan yang 100% berbeda. Kalau memang ada yang begitu, tentu kelompok ini sudah keluar dari agama Islam secara muttafaqun `alihi

 

Logikanya, karena mereka amat benci pada sosok Utsman bin Al-Affan radhiyallahu `anhu. Sementara mushaf Al-Quran yang kita pakai sekarang ini tidak lain hasil kerja keras Utsman dan pemerintahannya. Bahkan tidak sedikit di antara kalangan Syiah yang mengkafirkan Utsman. Setidaknya, menambahkan julukan laknatullahi alaihi di belakang nama Utsman.

 

Maka adanya iasekte-sekte Syiah yang tidak mau pakai mushaf Utsmani bukan hal yang mengada-ada. Sayangnya, oleh sebagian kalangan syiah, fenomena itu sengaja ditutup-tutupi. Sebab kalau sampai masalah ini diketahui oleh mayoritas umat Islam yang lain, pasti mereka akan celaka.

 

Kedua : Mengkafirkan Para Shahabat

Aqidah sesat yang tidak bisa dipungkiri kalangan syiah dan ketahuan jelas adalah sikap mereka yang tegas-tegas mengkafirkan para shahabat Nabi ridhwanullahi `alaihim. Termasuk mengkafirkan Abu Bakar Ash-Shiddiq ra, Umar bin Al-Khattab, Utsman bin Al-Affan dan lainnya.

 

Dan satu hal yang menarik untuk dikaji, bahwa semangat menyatukan syiah dengan sunni bukannya tidak pernah dilakukan. Dr. Yusuf Al-Qaradawi adalah salah satu icon yang bisa disebut sebagai ulama sunni yang berhusnudzdzan untuk tidak dengan mudah menuduhkan masalah pengkafiran ini.

 

Maka kepada para pimpinan Mula di Iran, diadakanlah sebuah upaya pendekatan antara Syiah dan Sunni. Sudah beberapa kali disepakati agenda pertemuan. Namun ada satu hal yang nampaknya kecil saja, tetapi ternyata kalangan Syiah tidak mau mundur setitik pun. Masalah itu adalah penambahan kata (julukan) laknatulalhi alaihi (semoga Allah melaknatnya) setiap menyebut nama para shahabat Nabi SAW.

 

Ternyata kalangan Syiah yang konon mau duduk bersama tetap memanggap pelaknatan ini sebagai hal yang prinsip, dimaan mereka tidak mau berubah setitik pun. Dalam setiap pertemuan dan pembicaraan, urusan melaknat para shahabat ini menjadi hal yang tidak pernah ditinggal.

 

Karuan saja Dr. Yusuf Al-Qaradawi meradang. Beliau protes besar, katanya mau duduk bersama, katanya mau cari titik-titik persamaan, katanya mau cari jalan tengah, tetapi mengapa masih saja memaki-maki para shahabat Nabi SAW, bahkan sampai keluar ucapan laknat segala. Dan kalau urusan sekecil ini saja kalangan Syiah tidak mau bertoleransi, bagaimana dengan urusan yang lebih besar.

 

Maka upaya pendekatan syiah sunni itu pun lagi-lagi kandas di tengah kekerasan sikap kalangan syiah.

 

Padahal dalam aqidah mayoritas umat Islam, para shahabat nabi itu mulia dan adil. Bahkan dari mereka ada 10 orang yang dijamin masuk surga lewtat hadits yang shahih.

 

Ketiga : Menuduh Jibril Salah Menurunkan Wahyu

Maka jelaslah sikap ini tidak pernah bisa dibenarkan. Sungguh keterlaluan menuduh bahwa malaikat Jibril salah menurunkan wahyu. Maunya mereka, seharusnya Jibril menurunkan wahyu kepada Ali bin Abi Thalib dan bukan kepada Muhammad SAW.

 

Paham dan kepercayaan yang satu ini sangat fatal. Sebab hakikatnya bukan menuduh adanya kesalahan malaikat, tetapi sudah mengingkati kenabian Muhammad SAW. Dan ingkar pada kenabian Muhammad adalah kekafiran. Astaghfirullahal-`adzhim, inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.

 

Tentu sempalan yang sudah sampai keluar batas ini sudah tidak bisa ditolelir lagi secara aqidah.

 

Keempat : Kemakshuman Imam 12

Paham syiah yang paling populer adalah bahwa kepemimpinan umat Islam harus dibawah 12 orang imam. Semuanya dianggap makshum dalam arti tidak mungkin salah atau berbuat dosa. Dan penetapannya dianggap ketetapan langsung dari Allah berupa wahyu yang turun dari langit.

 

Semua pempimpin umat Islam dianggap telah merampas kepemimpinan itu, dan pada akhirnya harus dikembalikan kepada imam dari 12 imam itu.

 

Kalangan syiah juga percaya bahwa imam yang terakhir itu masih hidup walau pun sudah ada sejak tahun 800 hijriyah. Namun imam itu sedang menghilang dan akan muncul lagi di akhir zaman.

 

Tidak Digeneralisir

Tetapi kita tetap tidak bisa menggenalisir bahwa semua lapisan umat Islam yang ada aroma syiahnya pasti sesat, kafir atau murtad. Rasanya sikap itu kurang bijaksana.

 

Mengapa?

 

Pertama : Syiah Ternyata Banyak Dan Saling Bertentangan Secara Mendasar

Syiah yang konon dikabarkan berjumlah 10-an % dari total umat Islam, ternyata terdiri dari banyak sekte dan aliran yang saling bertentangan secara ideologis dan aqidah di dalamnya. Yang besar-besar saja kalau kita kumpulkan mencapai 22 kelompok besar. Tentu di bawahnya ada turunan-turunannya lagi.

 

Dan tidak tertutup kemungkinan bahwa antara satu aliran dengan aliran lain di dalam Syiah juga saling menafikan, bahkan saling mengkafirkan dan menganggap sesat.

 

Jadi kita tidak bisa memandang syiah hanya sebagai satu ajaran, tetapi sejumlah besar aliran aqidah yang sama-sama mengunsung satu nama yaitu Syiah, tetapi sesungguhnya saling berbeda. Ada syiah yang kafir dan dikafirkan oleh kebanyakan sesama pengikut syiah. Tapi ada juga yang tidak sampai kafir.

 

Di kalangan syiah juga ada aliran yang disebut Zaidiyah. Dinamakan demikian sebab mereka merupakan pengikut Zaid bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib. Mereka dapat dianggap moderat karena tidak menganggap ketiga khalifah sebelum Ali tidak sah.

 

Kedua : Pemeluk Syiah Tradisional

Kalau disebutkan syiah ada 10-an % dari jumlah muslimin di dunia, hanya sebagian kecil dari jumlah itu yang bersifat ideologis mendasar. Sebagian besarnya adalah syiah yang bersifat keturunan yang tidak tahu menahu urusan aliran dan aqidah.

 

Katakanlah seperti di Iraq sana, ada banyak komunitas yang secara tradisional menjadi penganut syiah secara keturunan. Kakek moyang yang melahirkan keturunan itu bukan orang jahat yang beniat busuk kepada agama Islam. Mereka menjadi syiah karena keturunan dan tidak tahu menahu tentang urusan koflik syiah dan sunnah.

 

Lalu apakah kita akan memvonis mereka sebagai non muslim, hanya karena mereka tanpa sengaja lahir dari keluarga syiah? Rasanya tidak begitu sikap kita.

 

Yang barangkali perlu diwaspadai adalah orang-orang jahat betulan yang berusaha menghancurkan agama Islam dari dalam dan menjadi pemeluk syiah sesat. Mereka inilah yang menggulirkan ajaran sesat di dalam syiah sehingga akhirnya muncul ajaran yang aneh-aneh seperti di atas.

 

Oleh karena itu kita harus tegas tapi tidak boleh asal tebas. Ada kalangan syiah yang memang sesat dan tidak berhak lagi menyandang status muslim. Tetapi kita juga harus dewasa, bahwa ada kalangan yang dianggap berbau syiah atau kesyiah-syiahan, tetapi sesungguhnya masih bisa ditolelir kekeliruannya.

 

Mengapa kita perlu bijak dalam masalah ini?

 

Karena kita tahu bahwa musuh-musuh Islam bergembira ria melihat umat Islam di Irak berbunuh-bunuhan, hanya karena urusan syiah dan sunnah. Jangan sampai isu negatif perbedaan syiah sunnah terbawa-bawa ke negeri kita juga. Sudah terlalu banyak pe-er umat Islam, maka sebaiknya kita jangan memancing di air keruh. Jangan sampai kita memancing yang tidak dapat ikannya tapi airnya jadi keruh. Sudah tidak dapat ikan, kotor pula.

 

Karena itu dialog antara sesama tokoh dari kalangan syiah dan sunnah ada baiknya untuk dirintis. Tentu untuk sama-sama menuju kepada kerukunan, bukan untuk cari gara-gara. Rasanya masih banyak ruang persamaan di antara keduanya, ketimbang kisi-kisi perbedaannya.

 

Semoga Allah SWT memberikan kelapangan di dalam hati kita untuk menata hati ini menjadi hamba-hamba-Nya yang shalih dan melakukan ishlah. Amien

 

Wallahu a`lam bishshawab, wassalamu `alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Baca: http://www.ustsarwat.com/web/berita-108-upss-jumlah-pelajar-kita-di-iran-melebihi-di-alazhar.html

FacebookTwitterGoogle+LinkedIn

Bergembira Datang Ramadhan Aman Dari Neraka?

Salah satu hadits yang paling populer terutama menjelang datangnya bulan Ramadhan, karena selalu diulang-ulang di tiap pengajian atau acara penyambutan Ramadhan (belakangan populer disebut tarhib) adalah hadits yang menjamin orang akan diharamkan dari api neraka, apabila dia bergembira dengan datangnya bulan Ramadhan.

Petikan nashnya demikian :

 

مَنْ فَرِحَ بِدُخُولِ رَمَضَانَ حَرَّمَ اللهُ جَسَدَهُ عَلىَ النِّيْرَانِ

 

Siapa bergembira dengan masuknya bulan Ramadhan, Allah akan mengharamkan jasadnya masuk neraka.

 

Para penceramah asyik sekali mengutip hadits ini, tanpa tahu dari mana sebenarnya teks ini berasal. Pokoknya, siapa yang bergembira dengan datangnya bulan Ramadhan, maka dijamin dia pasti akan aman dari siksa api neraka, karena Allah SWT sudah mengahramkan jasadnya dari api neraka.

 

Boleh jadi karena ungkapan inilah banyak orang yang melakukan berbagai aktifitas menjelang bulan Ramadhan, ada yang bersih-bersih rumah, bahkan sampai mengecat ulang, atau menambahi bagian rumah disana-sini.


 

Sebagian masyarakat ada yang kalau menjelang Ramadhan tidak pernah lepas dari membakar petasan dan kembang api, seolah-olah bentuk kegembiraan itu belum sah tanpa petasan dan kembang api. Mungkin dianggapnya itu bagian dari upaya agar hati bergembira, biar tidak dibakar neraka, entahlah dan tidak jelas. Yang pasti, tukang bikin petasan dan penjualnya, sudah pasti berbahagia.

 

Sebagian masyarakat yang lain ada yang memborong bahan makanan dan kue-kue sejak sebelum Ramadhan, termasuk baju-baju yang nanti sebulan lagi mau dikenakan saat lebaran.

 

Intinya, banyak orang yang berupaya menyambut bulan Ramadhan dengan keceriaan dan kebahagiaan, dan semakin mantap ketika dibumbui dengan hadits di atas.

Dari Mana Sumbernya?

 

Sebuah pertanyaan yang mendasar, kalau memang ungkapan di atas itu sebuah hadits, lalu siapa perawinya dan di kitab hadits yang mana bisa kita dapatkan?

 

Pertanyaan seperti ini kalau kita sampaikan kepada para penceramah itu, biasanya mereka bilang, yang penting kita mengamalkan isinya, urusan haditsnya shahih atau tidak, tidak terlalu penting, toh isinya kan baik. Masak sih masuk bulan Ramadhan, kita tidak boleh bergembira? Bukankah bulan Ramadhan itu bulan pengampunan, amal-amal dilipat- gandakan, malamnya lebih baik dari seribu bulan? Masak kita malah sedih?

Begitu biasanya jawaban dari para penceramah, yang pada dasarnya tidak punya jawaban pasti dari mana dia dapat hadits itu.

 

Dosen saya, Prof. KH. Ali Musthafa Ya'qub MA, dalam bukunya, Hadits-hadits Bermasalah di Bulan Ramadhan, menuliskan bahwa hadits dengan teks seperti di atas itu terdapat dalam kitab Durroh al-Nashihin karya Utsman al-Khiubbani.

Kitab ini termasuk kitab favorit para guru ngaji, ustadz dan ustadzah kalau mengajar pakai kitab ini, bisa bercerita panjang lebar. Dan para jamaahnya juga senang dibacakan hadits-hadits yang ada di dalam kitab ini, karena haditsnya bombastis. Amal-amal yang kecil, sederhana dan sepele, seringkali dihargai dengan balasan yang besar, berlipat ganda dan tidak main-main.

 

Sayangnya kitab ini oleh para ahli hadits disebut-sebut sebagai kitab yang penuh dengan hadits-hadits palsu dan kisah imajinasi. Dalam kitab itu, hadits ini disebutkan siapa perawinya dan apa kualitasnya. Kitab Durroh al-Nashihin sendiri bukan termasuk kitab hadits. Ia termasuk kitab akhlak yang berisi nasehat-nasehat untuk berperilaku luhur.

 

Memang, di dalamnya ada ayat-ayat al-Quran dan hadits-hadits yang shahih, tetapi bersama dengan ayat dan hadits shahih, tersebar juga hadits-hadits yang palsu dan kisah-kisah imajinasi. Sayangnya, para pembaca kitab ini tidak dapat menyeleksi mana hadits yang shahih, dan mana Hadits yang palsu, karena sama sekali tidak dijelaskan. Semuanya bercampur aduk menjadi satu, kemudian menyebar begitu saja lewat berbagai macam pengajian.

 

Prof. KH. Ali Musthafa Ya'qub MA sendiri mengaku telah mencoba melacak hadits tersebut di kitab-kitab rujukan hadits, untuk mengetahui siapa rawinya, kemudian diteliti apa kualitasnya. Namun sayang, sampai hari ini beliau tetap tidak mendapatkan apa yang beliau cari itu, sehingga beliau tidak berani menyatakan bahwa ungkapan tersebut di atas adalah sebuah hadits Nabi SAW.

 

Karenanya, paling tidak untuk sementara sampai ditemukan rawi dan kualitasnya, beliau menegaskan bahwa ungkapan tersebut bukan sebuah hadits Nabi SAW. Dan beliau menyatakan tidak tahu siapa yang pertama kali mengucapkan ungkapan itu. Yang jelas, bila ungkapan itu dinisbahkan kepada Nabi SAW, maka hal itu menjadi hadits palsu.

 

Sumber: http://www.ustsarwat.com/web/berita-126-bergembira-datang-ramadhan-aman-dari-neraka.html

FacebookTwitterGoogle+LinkedIn

Hukum Mengucapkan “Selamat Natal” atau Selamat Hari Raya Agama Lain

Dengan Banyaknya Pertanyaan dari Teman-Teman, Salah Satunya:

Assalamualaikum. Wr. Wb.
saya mau tanya, saya pernah membaca sebuah artikel tentang haramnya hukum mengatakan "Selamat Natal" kepada umat kristiani. Karena dijelaskan di situ bahwa kalau kita mengucapkan itu kita mengakui akan adanya trinitas dan sebagainya,
Bagaimana menurut pandangan anda?
Terima kasih

Wassalamu 'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Ucapan selamat natal oleh banyak kalangan memang diharamkan, ucapan selamat natal itu kontra produktif dengan fatwa MUI tahun 1984.
Sikap kami sendiri tentu juga tidak mengucapkan selamat natal kepada para pemeluk agama kristiani. Selain ada fatwa yang mengharamkannya, juga mengucapkannya saat ini jadi akan salah waktu. Sebab Nabi Isa 'alaihissalam tidak lahir pada tanggal 25 Desember, beliau lahir di musim panas saat kurma berbuah, sebagaimana isyarat di dalam ayat Al-Quran saat Ibunda Maryam melahirkannya di bawah pohon kurma. Saat itu Allah SWT berfirma kepadanya:

 

 

 

Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu (QS. Maryam 19: 25)
 



Fakta Penelitian
Jelas sekali Nabi Isa lahir di saat buah kurma masak, dan itu tidak terjadi di musim salju. Kecuali kalau mau dipaksakan sebuah kebohongan baru lagi. Misalnya dikatakan bahwa Nabi Isa 'alaihissalam merupakan penduduk Australia yang berada di Selatan Katulistiwa, di mana tanggal 25 Desember seperti sekarang ini di sana justru sedang musim panas. Tapi itupun salah, sebab di Australia tidak ada pohon kurma, yang ada mungkin pohon kaktus.

Atau bisa saja lahirnya nabi Isa tetap pada tanggal 25 Desember, tetapi syaratnya kejadiannya harus di Indonesia, karena pada tanggal seperti itu di Indonesia tidak ada musim panas atau musim dingin. Di Indonesia ada musim duren. Tapi yang disebutkan di dalam Al-Quran adalah buah kurma, bukan buah duren. Lagian, masak Maryam sehabis melahirkan malah makan duren? Aya aya wae.

Perbedaan Pendapat Ucapan Selamat Natal
Tentang hukum ucapan selamat natal itu, memang kalau kita mau telusuri lebih jauh, kita akan bertemu dengan beragam pendapat. Ada ulama yang mengharamkannya secara mutlak. Tapi ada juga yang membolehkannya dengan beberapa hujjah. Dan juga ada pendapat yang agak di pertengahan serta memilah masalah secara rinci.
Tentu bukan berniat untuk memperkeruh keadaan kalau kami sampaikan apa yang beredar di tengah umat tentang hal ini. Sebaliknya, kajian ini justru untuk memperluas wawasan kita dalam menuntut ilmu, wabil khusus tentang urusan yang agak khusus ini.

1. Pendapat Haramnya Ucapan Selamat Natal Bagi Muslim
Haramnya umat Islam mengucapkan Selamat Natal itu terutama dimotori oleh fatwa para ulama di Saudi Arabia, yaitu fatwa Al-'Allamah Syeikh Al-Utsaimin. Beliau dalam fatwanya menukil pendapat Imam Ibnul Qayyim

1. 1. Fatwa Syeikh Al-'Utsaimin
Sebagaimana terdapat dalam kitab Majma’ Fatawa Fadlilah Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, (Jilid.III, h.44-46, No.403), disebutkan bahwa:
Memberi selamat kepada mereka hukumnya haram, sama saja apakah terhadap mereka (orang-orang kafir) yang terlibat bisnis dengan seseorang (muslim) atau tidak. Jadi jika mereka memberi selamat kepada kita dengan ucapan selamat hari raya mereka, kita dilarang menjawabnya, karena itu bukan hari raya kita, dan hari raya mereka tidaklah diridhai Allah.
Hal itu merupakan salah satu yang diada-adakan (bid’ah) di dalam agama mereka, atau hal itu ada syari’atnya tapi telah dihapuskan oleh agama Islam yang Nabi Muhammad SAW telah diutus dengannya untuk semua makhluk.

1. 2. Fatwa Ibnul Qayyim
Dalam kitabnya Ahkamu Ahlidz Dzimmah beliau berkata, “Adapun mengucapkan selamat berkenaan dengan syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi mereka adalah haram menurut kesepakatan para ulama. Alasannya karena hal itu mengandung persetujuan terhadap syi’ar-syi’ar kekufuran yang mereka lakukan.

1. 3. Fatwa MUI?
Sedangkan terkait dengan fatwa MUI tentang haramnya mengucapkan selamat natal, ketika mencari dokumennya ternyata kami kesulitan mendapatkannya. Konon kabarnya fatwa itu dikeluarkan pada tahun 1984, ada juga yang mengatakan
7 Maret 1981, yang katanya isinya hanya mengharamkan umat Islam mengikuti upacara Natal. MUI juga menganjurkan bagi umat Islam untuk tidak mengikuti kegiatan natal, tapi tidak sekalipun disebut soal ’mengucapkan selamat Natal’.

 

Kalau dipelajari konteksnya, kehadiran fatwa itu berkaitan dengan suasana politik masa itu. Pada awal 1980an, Orde Baru sedang tidak bersahabat dengan Islam. Salah satu isu yang mengemuka di saat itu adalah adanya dominasi kalangan Kristen di dunia politik dan ekonomi Indonesia. Sebagian pihak kuatir para pemuka Kristen memanfaatkan posisi mereka untuk mengKristenkan Indonesia. Perayaan Natal dituduh sebagai bagian dari strategi itu.

 

Dengan latarbelakang itu, bisa dipahami bila ada keresahan di kalangan para ulama Indonesia saat itu terhadap praktek-praktek perayaan Natal bersama yang dilakukan di berbagai instansi pemerintahan dan perusahaan. Dalam fatwa itu tertulis bahwa MUI mengingatkan pada umat Islam bahwa perayaan Natal bersama adalah sebuah ibadat umat Kristen, sehingga adalah tidak layak bagi umat Islam untuk berada di dalam peribadatan tersebut.

 

MUI menyatakan bahwa perayaan Natal tidak dapat disejajarkan dengan perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw, karena perayaan Maulid tidak melibatkan kegiatan peribadatan.

 

Tetapi setelah dibrowse di situs MUI (www.mui.or.id) maupun di buku Kumpulan Fatwa MUI yang kami miliki, fatwa haram itu tidak kami temukan. Yang kami temukan hanyalah fatwa tentang haramnya melakukan natal bersama.
Sebaliknya, kami malah mendapatkan berita yang agak kontradiktif dengan apa yang dianggap sebagai sikap MUI selama ini. Sekretaris Jenderal MUI, Dr. Dien Syamsudin MA, yang juga Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah itu memang pernah menyatakan bahwa MUI tidak melarang ucapan selamat Natal, tapi melarang orang Islam ikut sakramen (ritual) Natal.

"Kalau hanya memberi ucapan selamat tidak dilarang, tapi kalau ikut dalam ibadah memang dilarang, baik orang Islam ikut dalam ritual Natal atau orang Kristen ikut dalam ibadah orang Islam, " katanya.

Bahkan pernah di hadapan ratusan umat Kristiani dalam seminar Wawasan Kebangsaan X BAMAG Jatim di Surabaya, beliau menyampaikan, "Saya tiap tahun memberi ucapan selamat Natal kepada teman-teman Kristiani."

Jadi mohon kepada MUI atau barangkali ada pembaca Eramuslim yang punya salinan fatwa tersebut, tentu kami akan sangat berterima kasih bila berkenan mengirimkannya kepada kami.

1.4 Tidak Ada Rujukan Al-Qur’an

Namun kalaupun MUI tidak pernah mengeluarkan fatwa tersebut, apakah memang pengharaman itu tidak berdasar? Jawabannya tidak sederhana. Namun pertama-tama harus ditegaskan bahwa Al-Quran tidak pernah menyatakan apa-apa soal ini, demikian pula tidak ada satupun hadis yang bicara soal Natal. Walaupun ini juga bisa dijelaskan oleh konteks perkembangan perayaan Natal.

Perayaan Natal secara besar-besaran seperti yang kita kenal sekarang bukanlah sesuatu yang ada sejak abad-abad pertama perkembangan Kristen. Baru pada abad keempat, gereja memutuskan tanggal lahir Yesus sebagai hari libur, dan adalah Paus Julius I yang menetapkan tanggal 25 Desember sebagai hari besar tersebut. Tradisi perayaan Natal itupun berkembang lamban, dan sampai abad ke delapan perayaan tersebut hanya dilakukan di kalangan Kristen Eropa.

 

Jadi ketika Islam lahir di jazirah Arab pada abad ke-7 Masehi, hampir pasti kalangan Kristen di daerah itu belum merayakan Natal. Mungkin karena itu, tidak sekalipun ada ayat Al-Quran maupun hadis Nabi yang menyinggung soal Natal. Sekadar sebagai catatan sejarah, karena ortodoksi keagamaan, perayaan Natal pernah dilarang di Inggris dan di tanah Amerika AS pada abad ke-17. Baru abad ke-19, Barat menemukan Natal sebagai hari perayaan keagamaan yang membawa seluruh umat Kristen untuk kembali meresapi nilai-nilai cinta kasih dan mengabaikan perbedaan-perbedaan dan ketamakan yang menguasai hidup manusia dalam kehidupan sehari-hari.


2. Pendapat Yang Tidak Mengharamkan
Selain pendapat yang tegas mengharamkan di atas, kita juga menemukan fatwa sebagian dari ulama yang cenderung tidak mengharamkan ucapan tahni'ah kepada umat nasrani.
Yang menarik, ternyata yang bersikap seperti ini bukan hanya dari kalangan liberalis atau sekuleris, melainkan dari tokoh sekaliber Dr. Yusuf Al-Qaradawi. Tentunya sikap beliau itu bukan berarti harus selalu kita ikuti.

2. 1. Fatwa Dr. Yusuf Al-Qaradawi
Syeikh Dr. Yusuf Al-Qaradawi mengatakan bahwa merayakan hari raya agama adalah hak masing-masing agama. Selama tidak merugikan agama lain. Dan termasuk hak tiap agama untuk memberikan tahni'ah saat perayaan agama lainnya.
Maka kami sebagai pemeluk Islam, agama kami tidak melarang kami untuk untuk memberikan tahni'ah kepada non muslim warga negara kami atau tetangga kami dalam hari besar agama mereka. Bahkan perbuatan ini termasuk ke dalam kategori al-birr (perbuatan yang baik). Sebagaimana firman Allah SWT:


Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. (QS. Al-Mumtahanah 60: 8)

Kebolehan memberikan tahni'ah ini terutama bila pemeluk agama lain itu juga telah memberikan tahni'ah kepada kami dalam perayaan hari raya kami.

Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu. Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu.(QS. An-Nisa' 4: 86)

Namun Syeikh Yusuf Al-Qaradawi secara tegas mengatakan bahwa tidak halal bagi seorang muslim untuk ikut dalam ritual dan perayaan agama yang khusus milik agama lain.

2.2. Fatwa Dr. Mustafa Ahmad Zarqa'

 

Di dalam bank fatwa situs www.Islamonline.net Dr. Mustafa Ahmad Zarqa', menyatakan bahwa tidak ada dalil yang secara tegas melarang seorang muslim mengucapkan tahniah kepada orang kafir.

Beliau mengutip hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah berdiri menghormati jenazah Yahudi. Penghormatan dengan berdiri ini tidak ada kaitannya dengan pengakuan atas kebenaran agama yang dianut jenazah tersebut.
Sehingga menurut beliau, ucapan tahni'ah kepada saudara-saudara pemeluk kristiani yang sedang merayakan hari besar mereka, tidak terkait dengan pengakuan atas kebenaran keyakinan mereka, melainkan hanya bagian dari mujamalah (basa-basi) dan muhasanah seorang muslim kepada teman dan koleganya yang kebetulan berbeda agama.

Dan beliau juga memfatwakan bahwa karena ucapan tahni'ah ini dibolehkan, maka pekerjaan yang terkait dengan hal itu seperti membuat kartu ucapan selamat natal pun hukumnya ikut dengan hukum ucapan natalnya.
Namun beliau menyatakan bahwa ucapan tahni'ah ini harus dibedakan dengan ikut merayakan hari besar secara langsung, seperti dengan menghadiri perayaan-perayaan natal yang digelar di berbagai tempat. Menghadiri perayatan natal dan upacara agama lain hukumnya haram dan termasuk perbuatan mungkar.

2.3 Majelis Fatwa dan Riset Eropa
Majelis Fatwa dan Riset Eropajuga berpendapat yang sama dengan fatwa Dr. Ahmad Zarqa' dalam hal kebolehan mengucapkan tahni'ah, karena tidak adanya dalil langsung yang mengharamkannya.

3. Pendapat Pertengahan
Di luar dari perbedaan pendapat dari dua 'kubu' di atas, kita juga menemukan fatwa yang agak dipertengahan, tidak mengharamkan secara mutlak tapi juga tidak membolehkan secara mutlak juga. Sehingga yang dilakukan adalah memilah-milah antara ucapan yang benar-benar haram dan ucapan yang masih bisa ditolelir.
Salah satunya adalah fatwa Dr. Abdussattar Fathullah Said, beliau adalah profesor di bidang Ilmu Tafsir dan Ulumul-Quran di Universitas Al-Azhar Mesir. Dalam masalah tahni'ah ini beliau agak berhati-hati dan memilahnya menjadi dua. Ada tahni'ah yang halal dan ada yang haram.

3.1. Tahni'ah yang halal
adalah tahni'ah kepada orang kafir tanpa kandungan hal-hal yang bertentangan dengan syariah. Hukumnya halal menurut beliau. Bahkan termasuk ke dalam bab husnul akhlaq yang diperintahkan kepada umat Islam.
Contohnya ucapan, "Semoga tuhan memberi petunjuk dan hidayah-Nya kepada Anda di hari ini." Beliau cenderung membolehkan ucapan seperti ini.

3.2. Tahni'ah yang haramadalah tahni'ah kepada orang kafir yang mengandung unsur bertentangan dengan masalah diniyah, hukumnya haram. Misalnya ucapan tahniah itu berbunyi, "Semoga Tuhan memberkati diri anda sekeluarga."
Beliau membolehkan memberi hadiah kepada non muslim, asalkan hadiah yang halal, bukan khamar, gambar maksiat atau apapun yang diharamkan Allah.

Kesimpulan:
Sebagai awam, ketika melihat para ulama berbeda pandangan, tentu kita harus arif dan bijaksana. Kita tetap wajib menghormati perbedaan pendapat itu, baik kepada pihak yang fatwanya sesuai dengan pendapat kita, atau pun kepada yang berbeda dengan selera kita.

Karena para ulama tidak berbeda pendapat kecuali karena memang tidak didapat dalil yang bersifat sharih dan qath'i. Seandainya ada ayat atau hadits shahih yang secara tegas menyebutkan: 'Alaikum bi tahni'atinnashara wal kuffar', tentu semua ulama akan sepakat.

Namun selama semua itu merupakan ijtihad dan penafsiran dari nash yang bersifat mujmal, maka seandainya benar ijtihad itu, mujtahidnya akan mendapat 2 pahala. Dan seandainya salah, maka hanya dapat 1 pahala.

Semoga kita tidak terjebak dengan suasana su'udzdzhan, semangat saling menyalahkan dengan sesama umat Islam dan membuat kemesraan yang sudah terbentuk menjadi sirna. Amin ya rabbal 'alamin

Wallahu a'lam bishshawab,
wassalamu 'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

FacebookTwitterGoogle+LinkedIn

KEPEMIMPINAN SITUASIONAL (Suatu Kajian Terhadap Konsep Kenneth Blanchard )

 

 

Oleh: Afiful Ikhwan[*]

 

Abstract: This study attempats to analyze the concept of Situasional Management founded by Kenneth Blanchard by means of Content Analysis. Its elaborates managers’ behavior in leading, encouraging a companyor institution as well as in solving problems from which point the managers re going to make further policy for the company. It also discusses the development of employees by encouraging the employees to improve their skiils and spirits in their working places. The author of this study, finally concludes that a manage should vary his or her managerial technique in working with his or her subordinates in leading, encouraging, solving problems, making decision, as well as improving skiils according to the current situation of the companies they are managing.

 

Kata Kunci: Kepemimpinan, Situasional

 

Perhatian pertama tentang hubungan antara manager dengan orang-orang (bawahan) yang melapor padanya. Ini adalah cara kebanyakan dari kita berpikir tentang kepemimpinan.

Ciri, sikap dan perilaku kepemimpinan telah dikaji selama beberapa dasawarsa, juga melalui pengamatan langsung terhadap pemimpin yang dinilai berhasil dalam kepemimpinannya. Salah satu di antara hasil kajian tersebut yang sangat bermanfaat adalah kajian Kenneth Blanchard dan Paul Hersey.(Anonim, 1988:35)

Mereka berjasa besar melengkapi teori-teori kepemimpinan yang pernah ada dengan pendekatan berdasarkan situasi tertentu terhadap gaya dan perilaku kepemimpinan (Situational leadership) untuk memahami teori tersebut langsung dari sumber aslinya, di sini diuraikan sebuah kajian Kenneth Blanchard.

Konsep teori kepemimpinan situasional (Situational leadership) merupakan suatu teori yang sudah menyebar luas sejak lebih dari satu dasawarsa yang lalu. Ini membuktikan teori tersebut benar-benar diakui kegunaan praktisnya dan mampu memahamkan secara lebih baik dan memberi petunjuk yang mudah cara-cara mengelola dan memotivasi orang. Konsep ini pertama kali dirumuskan oleh Paul Hersey dan Kenneth Blanchard pada tahun 1969, (Paul dan Kenneth, 1969) kemudian diuraikan secara lengkap dalam buku teks mereka yang terkenal Management of Organizational Behavior: Utilizing Human Resources: (Paul dan Kenneth, 1982: 221). Tulisan singkat ini adalah perumusan mutakhir dari Kenneth Blanchard sendiri tentang kepemimpinan situasional setelah mengembangkannya lebih jauh bersama rekan-rekannya di lembaga Blanchard Training & Development Inc (BTD).

Kajian ini mereka gunakan dalam berbagai program latihan dan konsultasi manajemen di seluruh dunia.

 


 

 

KEPEMIMPINAN DAN GAYA KEPEMIMPINAN

Hampir setiap saat seseorang mencoba mempengaruhi prilaku orang lain, yang ditampilkan dalam suatu bentuk tindakan kepemimpinan.

Dengan demikian kepemimpinan adalah suatu proses pengaruhi. Jika seorang berminat mengembangkan kemampuan anggotanya dan membangun suatu iklim kerja yang mampu membangkitkan semangat mereka mencapai tingkat produktivitas tinggi dalam jangka panjang, seseorang perlu menin-jaunya kembali dalam gaya kepemimpinannya sendiri.

Gaya kepemimpinan adalah pola prilaku yang ditampilkan ketika seorang mencoba mempengaruhi prilaku orang lain sebagaimana mereka sendiri menganggapnya demikian. Jika pandangan terhadap prilaku dirinya sudah demikian menarik dan penting, itu belum seberapa jika dibandingkan dengan pandangan mereka yang akan dipengaruhi tersebut.

Selama ini, jika orang-orang berbicara soal kepemimpinan, mereka menandainya dalam dua kutub yang saling bertentangan, yakni:

Kepemimpnan otoratis (bersifat serba mengarahkan dan memerintah) di satu sisi, dan kepemimpinan demokratis (bersifat mendorong dan mendukung). Kepemimpinan otokratis didasarkan pada kedudukan pemilikan kekuasaan dan kewenangan, sementara kepemimpinan demokratis lebih dikaitkan dengan kekuatan pribadi dan peran serta anggota yang dipimpin dalam proses pemecahan masalah dan pembuatan keputusan.

Tanem-baun dan Schmidt, dalam sebuah tulisan klasik mereka di Harvard Bussines Review, (Robert dan Werren, 1957: 222) menyatakan bahwa kedua sifat kepemimpinan ini otokratis dan demokratis adalah dua gaya kepemimpinan dalam suatu garis kontinum dari pimpinan yang sangat otokratis di salah satu ujungnya kepemimpinan yang sangat demokratis pada ujung yang lain.

 

KEPEMIMPINAN SITUASIONAL

Hasil-hasil penelitian (Roger dan Alvin, 1957: 223) ternyata kemudian menunjukkan, gaya kepemimpinan cenderung sangat bervariasi dari satu situasi ke situasi lainnya. Kalau kita menganggapnya dalam satu garis kontinum sebagai dua gaya kepemimpinan ini dan itu sangat tidak tepat. Meskipun prilaku banyak pemimpin terutama ditandai oleh kegiatan-kegiatan mereka memberikan pengarahan atau perintah kepada bawahannya untuk menyelesaikan tugas, namun cukup banyak juga pemimpin yang lebih memusatkan perhatian mereka pada penciptaan suasana yang mendukung terjalinnya hubungan baik antara dirinya dengan para bawahannya. Pada situasi lainnya, prilaku mengarahkan dan memerintahkan serta prilaku menumbuhkan dukungan tersebut, ternyata bisa terjadi bersamaan dan tergabung dalam berbagai variasinya. Jadi, kedua jenis prilaku tersebut memang bukan dua sifat gaya kepemimpinan ini dan itu. Jelasnya, pola-pola prilaku pemimpin tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

 

Mengarahkan

Rendah

Mendorong

Tinggi G3

Mengarahkan

Tinggi

Mendorong

Tinggi G2

Mengarahkan

Tinggi

Mendorong

Rendah G4

Mengarahkan

Tinggi

Mendorong

Rendah G1

Terdapat empat jenis gaya kepemimpinan yang terlihat pada gambar di atas. Masing-masing gaya menampilkan suatu gabungan prilaku mengarahkan dan prilaku menumbuhkan dukungan berbeda satu sama lain (Paul dan Kenneth, 1982: 233). Berbagai penggabungan tersebut, masing-masing dapat dibedakan satu sama lain atas dasar tiga matra pokok, yakni:

  1. Besarnya pengarahan atau perintah yang diperlukan dan diberlakukan sang pemimpin.
  1. Besarnya dukungan dan dorongan semangat yang diperlakukan dan diberikan sang pemimpin. 
  1. Besarnya keterlibatan bawa-han (anggota, yang dipimpin) dalam pembuatan keputusan.

 

PRILAKU PEMIMPIN MENGARAHKAN DAN MENDORONG

Prilaku mengarahkan (Directive Behaviour) diartikan sebagai: tindakan yang dilakukan oleh seorang pemimpin dalam bentuk komunikasi satu arah; menjelaskan peran bawahan dan memerintahkan kepada bawahan apa yang mesti mereka kerjakan, di mana mereka harus mengerjakannya, kapan, dan bagaimana caranya; serta melakukan pengawasan ketat terhadap pelaksanaan tugas dan hasil kerja bawahan tersebut.

Prilaku mendorong (Supportive Behaviour) diartikan sebagai tindakan yang dilakukan oleh seorang pemimpin dalam bentuk komunikasi dua arah, lebih banyak mendengarkan saran dan pendapat bawahan yang telah memberikan banyak dukungan dan dorongan semangat, memperlancar dan mempermudah terjadinya hubungan antara setiap orang, dan melibatkan bawahan dalam pengambilan keputusan.

Seperti terlihat pada gambar di atas tadi, Gaya-1 (G1) adalah gaya kepemimpinan yang sangat banyak (tinggi) prilaku mengarahkan atau memberi perintah, dan sangat sedikit (rendah) prilaku yang menumbuhkan dukungan dan dorongan semangat. Pemimpin bergaya seperti ini memberikan penjelasan sangat terinci (tentang tujuan yang harus dicapai dan peran yang harus dijalankan) kepada bawahannya dan secara ketat mengawasi pelaksanaan tugas serta hasil kerja bawahannya tersebut. Gaya-2 (G2) adalah gaya kepemimpinan yang tinggi prilaku mengarahkan maupun menumbuhkan dorongan semangat. Pemimpin bergaya seperti ini juga menjelaskan secara rinci keputusan yang diambilnya kepada bawahan, tetapi tetap harus melakukan pengawasan ketat terhadap pelaksanaan tugas dan hasil kerja bawahan tersebut. Gaya-3 (G3) adalah gaya kepemimpinan yang sangat rendah dalam prilaku mengarahkan, namun tinggi dalam prilaku menumbuhkan dorongan semangat. Pemimpin bergaya seperti ini membuat keputusan-keputusan bersama dengan bawahannya dan memberi dorongan kepada mereka untuk menyelesaikan pelaksanaan keputusan-keputusan tersebut. gaya-4 (G4) adalah gaya kepemimpinan yang sangat rendah prilaku mengarahkan maupun yang menumbuhkan dorongan semangat. Pemimpin bergaya seperti ini mengalihkan semua keputusan dan melimpahkan tanggung jawab serta wewenang kepada bawahan untuk melaksanakan keputusan-keputusan tersebut.

 

 

KEPEMIMPINAN SEBAGAI GAYA PEMECAHAN MASALAH DAN PEMBUATAN KEPUTUSAN

Sebagaimana didefinisikan tadi, gaya kepemipinan adalah pola prilaku yang akan dilakukan seeorang jika ingin mencoba mempengaruhi prilaku orang lain sebagaimana dipandang oleh orang-orang tersebut. Karena prilaku para bawahan pada dasarnya adalah sebagai tanggapan terhadap gaya kepemimpinan yang diberlakukan kepada mereka dalam rangka proses pemecahan masalah dan pembuatan keputusan organisasi, keempat gaya kepemimpinan itu dapat juga diartikan sebagai suatu proses pemecahan masalah dan pembuatan keputusan. Jika dipahami akan terlihat bahwa prilaku pemimpin sangat mengarahkan dan kurang menumbuhkan dorongan dinamakan juga sebagai proses “Memerintah (Telling), karena gaya ini sangat ditandai dengan cara berkomunikasi satu arah. Pemimpin menetapkan peranan bawahannya; apa yang menjadu tugas mereka, bagaimana cara melaksanakannya, kapan dan dimana harus dilaksanakan. Pemecahan masalah dan pembuatan keputusan diprakarsai sendiri oleh sang pemimpin, dan pelaksanaannya diawasi ketat olehnya.

Prilaku pemimpin yang sangat mengarahkan dan juga sangat menumbuhkan dorongan semangat dinamakan sebagai proses “Mengajak” (Consulting), karena sang pemimpin pada gaya ini masih merupakan pemegang kendali hampir semua keputusan, namun mulai lebih banyak menggunakan cara berkomunikasi dua arah dengan bawahan dan mulai lebih banyak memberi dorongan semangat pada bawahan. Selain masih tetap melakukan pengawasan ketet terhadap bawahan, sang pemimpin juga sudah mulai lebih banyak meminta dan mendengar pendapat dan saran bawahan tentang keputusan-keputusan yang diambilnya, dan meminta (mengajak) mereka untuk membicarakannya.

Prilaku pemimpin yang kurang mengarahkan tapi sangat banyak memberikan dorongan semangat dinamakan sebagai proses “Melibatkan(Participating), karena kendali pemecahan masalah dan pembuatan keputusan mulai lebih banyak dialihkan pada bawahan. Bawahan lebih banyak dilibatkan dalam proses pemecahan masalah dan pembuatan keputusan. Komunikasi dua arah semakin sering dilakukan, dan sang pemimpin lebih banyak mendengarkan dan membantu memberikan kemudahan dan kelancaran proses pemecahan masalah dan pembuatan keputusan yang dilakukan oleh bawahan. Gaya seperti ini memang tepat karena bawahan umumnya memang mampu dan memiliki pengetahuan yang diperlukan untuk melaksanakan tugas-tugas yang ada.

Prilaku pemimpin yang kurang mengarahkan dan juga kurang memberi dorongan semangat disebut sebagai proses “Melimpahkan(Delegating), kerena pembuatan keputusan sudah sepenuhnya dilimpahkan kepada bawahan. Sang pemimpin hanya ikut mendiskusikan permasalahan saja sampai pada tingkat perumusan masalah. Pada taraf ini, bawahan benar-benar berwenang penuh untuk memutuskan bagaimana tugas-tugas mereka harus diselesaikan. Mereka diberi kebebasan untuk melaksanakannya “menurut cara mereka sendiri”, kerena mereka memang memiliki kemampuan maupun kepercayaan diri dalam melaksanakan tanggung jawab tersebut.

 

 

TAK ADA SATUPUN GAYA KEPEMIMPINAN “TERBAIK”

Sekali dicapai suatu kesepakatan, keempat gaya kepemimpinan tersebut ditandai oleh gabungan-gabungan prilaku yang mengarahkan dan menumbuhkan dorongan semangat dalam berbagai tingkatannya, beberapa ahli (Robert, 1960: 227) pernah menyatakan, mestinya ada salah satu yang “terbaik” dari keempat gaya tersebut yang mampu meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan, kepuasan manusia dan produktivitas sekaligus pada semua situasi. Namun, hasil-hasil penelitian selama beberapa dasawarsa terakhir kembali menegaskan kesimpulan, tak ada satupun gaya kepemimpinan terbaik. Para pemimpin yang berhasil adalah mereka yang mampu menyesuaikan diri dengan situasi. (Wilian, 1966: 226)

Meskipun pendekatan situasional dalam kepemimpinan dirasaka perlu, namun hal itu tidak banyak membantu para pemimpin yang selama ini memang sudah memimpin, yang memang membuat keputusan-keputusan kepemimpinan setiap harinya. Jika memang “segalanya tergantung pada situasi” ini, mereka hanya perlu tahu kapan mesti menggunakan dan gaya yang mana?

Unsur-unsur situasional mempengaruhi suatu gaya kepemimpinan tertentu menjadi tepat-guna pada situasi yang dihadapinya, antara lain adalah unsur waktu, tuntutan tugas, iklim organisasi, atasan, kerabat kerja (rekan sejawat), serta ketrampilan dan harapan-harapan para bawahan. Meskipun faktor ini dan faktor-faktor lainnya, tidak diragukan lagi mempengaruhi keberdayahasilan suatu gaya kepemimpinan tertentu. Namun jika para pemimpin lebih dahulu menguji semua unsur situasi yang diajukan para ahli sebelum mereka memutuskan gaya kepemimpinan yang akan meraka gunakan, semuanya justru bisa tidak berlaku sama sekali. Inilah alasan mengapa Hersey dan Blanchard mendasarkan pendekatan “kepemimpinan situasional” mereka pada factor kunci yang mereka temukan memiliki pengaruh terbesar terhadap gaya kepemimpinan pada segala situasi, yakni faktor bawahan (anggota, pengikut). Pada dasarnya mereka menggunakan taraf prilaku mengarahkan atau mendorong semangat yang dilakukan oleh seoramg pemimpin bergantung pada taraf perkembangan bawahan dalam melakukan suatu tugas, peran, atau sasaran tertentu yang diberikan oleh sang pemimpin secara perseorangan maupun melalui kelolmpok.

 

TARAF PERKEMBANGAN YANG DIPIMPIN

Taraf perkembangan yang dimaksud di sini adalah kemampuan (ability) dan kemauan (willingness) bawahan untuk melakukan suatu tugas tanpa pengawasan. Kemampuan adalah suatu fungsi dari pengetahuan atau ketrampilan yang diperoleh dari pendidikan, latihan dan/atau pengalaman. Kemauan adalah suatu fungsi dari kepercayaan diri dan semangat.

Dari pembicaraan tentang taraf perkembangan seseorang penting dicamkan bahwa orang sama sekali tidak “berkembang sempurna” dan “tidak berkembang sama sekali”. Dengan kata lain, perkembangan seseorang bukanlah suatu konsep umum, tapi satu konsep yang khas. Itulah sebabnya dikatakan bahwa orang-orang yang cenderung berada pada berbagai tingkata atau taraf perkembangan yang berbeda-beda bergantung pada tugas, peranan, dan sasaran tertentu yang diberikan pada mereka.

Sebagai contoh, sebutlah seorang insinyur mungkin sangat berkembang (mampu dan mau) menangani soal-soal teknis dari suatu pekerjaan. Tapi tidak demikian halnya jika ia dihadapkan dengan soal-soal peraturan anggaran pekerjaan tersebut. Dengan demikian, sangat tepat bagi atasan sang insinyur dalam menghadapi bawahannya yang satu ini dengan sedikit mungkin pengarahan dan dorongan dalam hal pekerjaan teknik, tetapi dengan banyak pengarahan pengawasan ketat terhadap pekerjaan terhadap pekerjaan pengaturan anggaran yang dilakukan oleh sang insinyur. Jadi kepemimpinan situasional terutama berbicara tentang ketepatgunaan dan keberdayahasilan gaya pemimpin dalam kaitannya dengan taraf perkembangan bahawan dalam melaksanakan tugas yang sesuai. Gaya kepemimpinan “memerintah” yang kemudian menyampaikan (memerintahkan) bawahan untuk melakukannya dengan penjelasan terinci tentang apa, bagaimana, kapan dan dimana dilaksanakan.

Gaya kepemimpinan “mengajak” untuk tingkat perkembangan rendah ke sedang. Orang-orang tidak mampu tetapi maumemegang tanggung jawab suatu tugas adalah orang yang untuk taraf perkembangan rendah. Orang-orang yang tidak mampu dan tidak mau memegang tanggung jawab melakukan sesuatu adalah orang-orang yang tidak berkemampuan atau tidak percaya diri. Dalam banyak kasus, ketidakmampuan mereka akibat dari rasa tidak bisa (insecurity) atau karena kekurangan pengalaman dan pengetahuan yang diperlakukan untuk suatu tugas. Gaya kepemimpinan memerintah yang memberi pengarahan-pengarahan terinci dan pengawasan ketat adalah adalah gaya yang sangat efektif mungkin menghadapinya. Sekali lagi, gaya ini disebut gaya “memerintah” karena ditandai oleh penentuan peran bawahan yang dilakukan oleh sang pemimpin tidak percaya diri tetapi tak punya ketrampilan. Gaya kepemimpinan “mengajak” yang memberikan pengarahan terinci (karena sang bawahan tidak atau kurang terampil) tetapi juga memberi dorongan semangat dan kemauan yang lebih besar adalah gaya kepemimpinan yang paling tepat mengahadapinya. Gaya ini disebut “mengajak” karena mengerjakannya dengan caranya sendiri.

Karena “jagoan” seperti itu susah didapatkan dan mahal biayanya,banyak di antara kita masih tetap suka memilih yang kedua, membayar “calon-calon jagoan”. Dalam kenyataan, kecuali jika pemimpin memang sadar dan memahami fungsi latihan dalam pekerjaan, mereka selalu kecewa dan bingung, mengapa sang calon jagoan yang sudah dilatih itu ternyata kemudian tidak mampu mengerjakan tugasnya dengan baik. Kekecewaan inilah yang sering kali membuat banyak pemimpin terjerumus ke dalam suatu gaya kepemimpinan yang sangat umum dikenal sebagai gaya “biarkan saja”! Mereka membayar seseorang untuk memegang tanggung jawab tertentu; mengarahkan dengan jelas dan terinci yang mesti dikerjakan oleh orang tersebut, dan kemudian “meninggalkannya seorang diri dan menganggap pekerjaan akan berjalan lanca. Tanpa seorang “jagoan” yang mendapat limpahan wewenang sedimikian besar, anggapan ini sudah mengandung banyak kesalahan. Jika malah terjadi sebaliknya, yakni jika sang “jagoan” justru melakukan kesalahan dan tidak dapat mencapai hasil seperti yang diharapkan oleh sang pemimpin, sang pemimpin yang kecewa ini dengan segera akan memberlakukan kembali gaya kepemimpinan yang serba mengerahakan dan bersifat menghukum dengan menuntut mengapa segala sesuatunya tidak berjalan dengan baik? Perubahan gaya kepemimpinan seperti ini bisa menjadikan sang pemimpin benar-benar kecewa dan bawahan bingung atau bahkan marah.

Untuk mencegah akibat buruk dari gaya “biarkan dia” dan untuk menjaga semangat kerja staf yang memang produktif dan memuaskan, sang pemimpin perlu mengetahui cara meningkatkan kemampuan bawahannya. Berikut ini lima langkah yang dapat digunakan untuk itu:

  1. Perintahkan padanya yang anda inginkan untuk dikerjakan. Anda tak akan bisa memimpin, kecuali jika bawahan anda memahami yang mesti mereka kerjakan, tanggung jawab yang dituntut dalam pekerjakan tersebut dan kepada siapa mereka harus bertanggung jawab.
  1. Tunjukkan padanya yang anda inginkan untuk dikerjakan olehnya. Sekali seorang mengetahui yang menjadi tanggung jawabnya dan kepada siapa dia mesti bertanggung jawab, dia pun butuh mengetahui hasil kerjanya nanti apakah berhasil atau gagal. Prilaku perintahkan dan tunjukkan adalah prilaku yang bersifat mengarahkan. Jadi, untuk meningkatkan kemampuan seorang bawahan yang potensial, umumnya dimulai dengan gaya kepemimpinan “memerintah“. Sepanjang bawahan belum mengetahui cara melaksanakan suatu tugas secara semestinya tanpa pengarahan dan pengawasan, proses pemecahan masalah dan pembuatan keputusan masih dalam kendali sang pemimpin.
  1. Biarkan mereka mencoba. Sekali bawahan tahu apa yang mesti dikerjakannya dan hasil yang diharapkan dari dia, saatnya sang pemimpin harus mulai berani mengambil resiko dan membiarkannya melakukan pekerjaan tersebut sesuai dengan caranya sendiri. Jika anda menempuh ini, anda mesti mengurangi sampai sedikit mungkin pengarahan padanya dan menyerahkan pekerjaan tersebut. Resikonya adalah dia mungkin merasa, kalau nanti dia berbuat salah mungkin anda tidak akan memberinya tanggung jawab itu lagi. Jadi jelaskan resiko tersebut kepadanya semasuk akal mungkin. Biarka mereka memahami sendiri, karena kesalahan yang terjadi tidak akan menghancurkan mereka sama sekali.
  1. Amati penampilan dan hasil kerja mereka. Jika anda sudah mencoba memberikan kesempatan pada bawahan untuk melakukan sendiri tugasnya, jangan langsung sepenuhnya memberlakukan gaya kepemimpinan “melimpahkan” dan kemudian meninggalkannya sama sekali bekerja sendiri. Karena gaya tersebut tidak banyak menolong dalam peningkatan produktivitas dan kepuasan hasil kerjanya. Artinya, sesudah anda memberinya yang mesti ia kerjakan, anda harus tetap mengamati penampilan dan hasil kerjanya. Unsur pokok dalam kepemimpinan gaya “memerintah” adalah pengawasan yang ketat, dalam artian melakukan monioing sesering mungkin.
  1. Tangani akibat-akibatnya. Alasan utama untuk melakukan pangawasan dan monitoring tersebut adalah untuk menangani berbagai akibat yang mungkin timbul. Akibat yang dimaksud adalah segala sesuatu yang menyertai suatu perbuatan. Ada tiga utama yang mungkin timbul:
  1. Akibat positif  atau faktor yang menguatkan (reinforcer), yaitu segala sesuatu yang menyertai suatu hasil perbuatan yang cenderung lebih mendorong dan memungkinkan prilaku tersebut diulangi lagi. Misalnya memberikan imbalan usulan kenaikan ke jabatan yang lebih tinggi.
  1. Akibat negatif  atau faktor melemahkan (punisher), yakni segala sesuatu yang menyertai suatu hasil perbuatan yang cenderung mengurangi kemungkinan yang diulanginya prilaku tersebut. Misalnya menyuruh melakukan kembali dengan memperbaiki kesalahan yang ada atau malah menurunkan bawahan yang bersangkutan ke tingkat yang lebiuh rendah.
  1. Akibat netral atau faktor yang tidak menguatkan maupun melemahkan. Kecuali jika bawahan melakukan sesuatu yang benar-benar bagus (dia akan melakukannya terus meskipun tanpa umpan balik dari orang lain), tidak ada tanggapan sama sekali secara perlahan-lahan akan mengurangi kemungkinan ia akan melakukan tarus hal itu.

 Sebagaimana anda saksikan sendiri, hanya imbalan yang cenderung meningkat kemungkinan suatu prilaku dilakukan kembali yang merupakan akibat positif. Jadi, kunci untuk mengembangkan kemampuan dan kemauan kerja orang adalah menjadikan mereka tetap melakukan sesuatu yang baik. (Kenneth dan Spencer, 1962:235). Banyak pemimpin yanh justru membuat bawahannya melakukan sesuatu serba salah. Jadi anda pun perlu memahami, pada awal anda membina seorang bawahan agar menjadi seorang yang mampu dan mau, anda perlu membuatnya mengerjakan tugas-tugas kurang-lebih baik atau tak perlu benar-benar baik dulu. Tentu saja anda harus terus menhusahakan agar kemampuannya terus meningkat secara bertahap sampai ia benar-benar mencapai taraf terbaiknya.

Jika anda sudah memberikan kesempatan kepada seorang bawahan untuk melakukan sesuatu setelah “ mengarahkan dan menunjukkan“ caranya, segera andapun mengurangi prilaku anda yang serba mengarahkan. Dan jika anda kemudian mengamati, dia telah melakukan pekerjaannya dengan baik, anda harus segera tanggap untuk mulai lebih banyak memberikan dorongan semangat kepadanya.

Penggambaran arah perkembangan tersebut dalam bentuk anak-anak tangga bertingkat naik dan turun pada gambar di atas mengandung arti penurunan prilaku mengarahkan dan peningkatan prilaku memberi dorongan terus anda lakukan sampai sang bawahan mencapai taraf perkembangan sedang anda juga tetap jika secara bertahap mulai mengurangi prilaku mengarahkan dan juga prilaku menberi dorongan padanya. Pada saat dia mencapai taraf perkembangan tertinggi inilah sang bawahan tidak hanya mencapai kemampuan terbaiknya melakukan melakukan tugas, tetapi juga berarti ia memang telah menikmati imbalan kepuasan dari hasil kerjanya yang abik tersebut. Ini tidak lantas berarti pekerjaan sang bawahan menjadi lepas kendali sama sekali. Karena kendali pekerjaan tersebut sekaramh sudah menjadi bagian sebati (inheran) dengan dirinya sendiri, dan bukannya dipaksakan dari luar oleh sang pemimpin. Pada tingkatan ini, seseorang merasa mendapat imbalan positif yang setimpal terhadap hasil kerjanya jika mereka merasa diberi tanggung jawab lebih besar dan keleluasan untuk melakukan pekerjaannya menurut cara mereka sendiri. Ini pun tidak berarti tak ada lagi rasa saling percaya dan hormat antara sang pemimpin dengan sang bawahan (malah dalam kenyataannya justru semakin bertambah), tapi sekedar berarti sang pemimpin semakin berkurang peranannya dalam menciptakan suasana tersebut kepada seorang bawahan yang sudah sedemikian tinggi kemampuan dan kemauan kerjanya. (Skinner, 1953: 70).

Lebih dari sekedar membantu dan memberikan dukungan, anda pun akan menyaksikan orang-orang yang sudah mencapai taraf perkembangan seperti itu adalah orang-orang yang sangat percaya diri, sangat mampu, sangat bertanggung jawab, sangat bisa dipercaya dan memuaskan, jika dilibatkan dalam proses pemecahan masalah dan pembuatan keputusan. Semua inilah yang menjadikan mereka sebagai orang-orang yang suka mendengarkan dan meminta umpan balik dari orang lain untuk lebih membentuk kepercayaan dirinya, dorongan semangat, serta kemauan kerjanya.

Sebaliknya, jika anda terus saja berprilaku serba mengarahkan dan mengawasi ketat pekerjaan orang-rang seperti ini, anda akan menyaksikan bahwa anda telah salah langkah mengahdapi bawahan anda. Sangat mungkin anda tidak akan pernah melihatnya lagi sebagai orang yang penuh kepercayaan diri, berkemampuan, bertanggung jawab, dapat dipercaya dan memuaskan. Pada saatnya, perlakuan anda yang salah terhadapnya justru akan membalikkan sama sekali kemampuan hasil kerjanya. Jadi, aspek pengembangan kepemimpinan situasional dan kebutuhan untuk mengalihkan secara bertahap pengawasan dari luar yang bersifat mengarahkan menjadi pengendalian dari dalam diri sendiri yang bersifat mendorong adalah aspek paling kritis daripada pengembangan dan peningkatan kemampuan dan kemauan kerja bawahan.

Dalam pengembangan kemampuan bawahan, faktor picu yang melahirkan perubahan dalam gaya kepemimpinan adalah penampilan hasil kerja. Perbaikan dalam hasil kerja bergerak searah dengan pergeseran gaya kepemimpinan yang sesuai secara bertahap melalui jenjang anak tangga perkembangan. Ada satu hal penting yang anda harus ingat baik-baik, taraf pencapaian hasil terbaik dapat dicapai jika semua gaya kepemimpinan tersebut pernah dilalui dengan baik pula. Dengan kata lain, seorang bawahan yang tidak berpengalaman sekalipun sesungguhnya dapat mencapai taraf kemampuan terbaik seperti bawahan lain yang sangat berpengalaman, jika saja sang pemimpin mengarahkan dan mengawasinya secara ketat sejak awal sampai akhirnya ia mencoba peningkatan bertahap ke taraf yang lebih tinggi. Persoalannya, apa yang musti dikorbankan untuk itu? Jawabnya adalah waktu dan tenaga sang pemimpin. Kesimpulannya, kemampuan terbaik dicapai oleh seorang bawahan jika ia mampu melakukan pekerjaannya pada ukuran hasil yang diharapkan hanya dengan sedikit atau tanpa pengawasan sama sekali.

 

MENCEGAH KEMUNDURAN

Jika perbaikan atau peningkatan kemampuan dan kemauan seorang bawahan bergerak maju ke depan melalui anak tangga pada gambar di atas, sebaliknya penurunan kemampuan dan kemauan kerja mereka bergerak mundur ke belakang melalui anak-anak tangga yang dari. Dengan kata lain, pada saat tampak adanya gejala penurunan kemampuan dan kemauan kerja sang bawahan oleh berbagai sebab (misalnya: percekcokan di rumah tangganya, perubahan kondisi kerja dan lain-lain) sangat mendesak bagi sang pimpinan untuk juga menilai kembali perlakuannya terhadap bawahan yang bersangkutan sesuai dengan tingkat sesuai dengan tingkat perkembangan mundur yang dialaminya. Sebagai contoh, sebutlah anda seorang bawahan yang selama ini mampu menampilkan hasil kerja yang amat baik. Anggap saja secara tiba-tiba ia mengalami suatu perselisihan keluarga yang kemudian ikut mempengaruhi kerjanya. Pada situasi ini, sangat tepat bagi sang pemimpin untuk segera memberikan pengarahan dan dorongan semangat lagi secukupnya, sampai akhirnya ia kembali mencapai taraf kemampuan terbaiknya.

 

PENUTUP

Singkatnya, pemimpin yang berdayahasil mengetahui dengan baik keadaan para bawahannya dan cukup lues untuk berubah gaya kepemimpinannya menurut situasi yang ada. Dalam memberikan suatu tanggung jawab dan tugas-tugas kepada bawahan, baik secara perseorangan maupun kelompok, taraf perkembangan kemampuan dan kemauan kerja bawahan harus dipertimbangkan lebih dahulu. Seorang pemimpin mesti meragamkan gaya kepemimpinannya dalam menghadapi kebutuhan bawahan terhadap pengarahan dan dorongan serta semangat dirinya: mestilah dicamkan baik-baik, seorang atau sekelompok bawahan mengembangkan pola-pola prilaku mereka sendiri dan cara-cara mereka dalam melaksanakan sesuatu pekerjaan, termasuk norma-norma, kebiasaan-kebiasaan, tradisi, dan nilai-nilai. Meskipun seorang pemimpin menggunakan suatu gaya kepemimpinan yang khas pada sekelompok bawahan, ia mesti sadar memberlakukan gaya kepemimpinan yang berbeda pada setiap orang dalam kelompok tersebut, karena setiap orang selalu berbeda dalam taraf perkembangan kemampuan dan kemauan kerjanya masing-masing. Pergeseran gaya kepermimpinan bisa ditempuh dengan cara bergerak maju atau sebaliknya bergerak mundur yang mesti dilakukan secara bertahap menurut situasi yang ada. Inilah yang membuat pendekatan model kepemimpinan situasional sebagai suatu model perkembangan yang amat bermanfaat bagi sang pemimpin maupun sang bawahan.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anonim, 1998. Manajemen Nirlaba: Bacaan Utama, Jakarta: P3M.

 

Blanchard, Kenneth dan Spencer Johnson, 1962. The One Minute Manager. William Morrow.

 

Blake, Robert R. dan Jane S. Mouton, 1964. The Managerial Grid, Houston, Texas: Gulf Publishing.

 

Fiedler, Fred F. 1967. A Theory of Leadership Effectiviness, New York: Mc Graw Hill Book Company.

 

Herset, Paul dan Kenneth Blanchard. 1969. Life Cycle Theory of Leadership, dalam Training and Development Journal, Mei.

 

________ 1982. Management of Organization Behavior: Utilizing Human Resources (edisi 4), Englewood Cliffs: Prentice Hall Inc.

 

Reddin, William J. 1996. Managerial Effectiviness, New York: Mc Graw Hill Book Company, 1966.

 

Skinner, B. F. 1953. Science and Human Behaviour, New York: Mac Millan Company.

 

Stogill, Rogert M. dan Alvin E Coons. 1957. Leader Behaviour: its Description and Measurement, Research mongrafh No. 88, Colombus: Ohio State.

 

Tanembaun, Robert dan Warren H. Schmidt. 1957. How to Choose a Leadership Pattern, dalam Harvard Business Review.

 


[*] Mahasiswa Pascasarjana STAIN Tulungagung dan Penulis (Jurnal ini telah diterbitkan pada "Jurnal Tarbiyah" di STAIN Tulungagung edisi Juni 2011)

FacebookTwitterGoogle+LinkedIn

IMPLEMENTASI MANAJEMEN MUTU TERPADU (TQM) DI BIDANG PENDIDIKAN

 

 

I.      Pendahuluan

                        Dewasa ini perkembangan pemikiran manajemen sekolah mengarah pada sistem manajemen yang disebut TQM (Total Quality Management) atau Manajemen Mutu Terpadu. Pada prinsipnya sistem manajemen ini adalah pengawasan menyeluruh dari seluruh anggota organisasi (warga sekolah) terhadap kegiatan sekolah. Penerapan TQM berarti semua warga sekolah bertanggung jawab atas kualitas pendidikan.

                        Sebelum hal itu tercapai, maka semua pihak yang terlibat dalam proses akademis, mulai dari komite sekolah, kepala sekolah, kepala tata usaha, guru, siswa sampai dengan karyawan  harus benar – benar mengerti hakekat dan tujuan pendidikan ini. Dengan kata lain, setiap individu yang terlibat harus memahami apa tujuan penyelenggaraan pendidikan. Tanpa pemahaman yang menyeluruh dari individu yang terlibat, tidak mungkin akan diterapkan TQM.

                        Dalam ajaran TQM, lembaga pendidikan (sekolah) harus menempatkan siswa sebagai “klien” atau dalam istilah perusahaan sebagai “ stakeholders” yang terbesar, maka suara siswa harus disertakan dalam setiap pengambilan keputusan strategis langkah  organisasi sekolah. Tanpa suasana yang demokratis manajemen tidak mampu menerapkan TQM, yang terjadi adalah kualitas pendidikan didominasi oleh pihak – pihak tertentu yang seringkali memiliki kepentingan yang bersimpangan dengan hakekat pendidikan (Adnan Sandy Setiawan : 2000),

                        Penerapan TQM berarti pula adanya kebebasan untuk berpendapat. Kebebasan berpendapat akan menciptakan iklim yang dialogis antara siswa dengan guru, antara siswa dengan kepala sekolah, antara guru dan kepala sekolah, singkatnya adalah kebebasan berpendapat dan keterbukaan antara seluruh warga sekolah. Pentransferan ilmu tidak lagi bersifat one way communication, melainkan two way communication. Ini berkaitan dengan budaya akademis.

                        Selain kebebasan berpendapat juga harus ada kebebasan informasi. Harus ada informasi yang jelas mengenai arah organisasi sekolah, baik secara internal organisasi maupun secara nasional. Secara internal, manajemen harus menyediakan informasi seluas- luasnya bagi warga sekolah. Termasuk dalam hal arah organisasi adalah progran – program, serta kondisi finansial.

                        Singkatnya, TQM adalah sistem menajemen yang menjunjung tinggi efisiensi. Sistem manajemen ini sangat meminimalkan proses birokrasi. Sistem sekolah yang birokratis akan menghambat potensi perkembangan sekolah itu sendiri.


 

II.     PERMASALAHAN

                        Permasalahan yang ingin penulis kupas dalam paper  ini adalah :

  1. Apa yang dimaksud dengan Manajemen Mutu Terpadu (TQM) ?
  1. Apa yang menjadi kesulitan implementasi  TQM di bidang Pendidikan ?
  1. Apa  yang menjadi indikator keberhasilan implementasi TQM di bidang pendidikan ?

III.   TUJUAN PENULISAN

                        Dari permasalahan yang penulis pilih, penulis mempunyai tujuan :

  1. Menjelaskan pengertian Manajemen Mutu Terpadu (TQM).
  1. Menjelaskan kesulitan – kesulitan  implementasi TQM di bidang pendidikan.
  1. Mengidentifikasi indikator – indikator keberhasilan implementasi TQM di bidang pendidikan.

IV.   PEMBAHASAN

                        Dalam era kemandirian sekolah dan era Manajemen Berbasis Sekolah (MBS), tugas dan tanggung jawab yang pertama dan yang utama dari pimpinan skolah adalah menciptakan sekolah yang mereka pimpin menjadi semakin efektif, dalam arti menjadi semakin bermanfaat bagi sekolah itu sendiri dan bagi masyarakat luas penggunanya. (Thomas B. Santoso : 2001). Agar tugas dan tanggung jawab para pemimpin sekolah tersebut menjadi nyata, kiranya kepala sekolah perlu memahami, mendalami dan menerapkan beberapa konsep ilmu manajemen yang dewasa ini telah dikembang-mekarkan oleh pemikir – pemikir dalam dunia bisnis. Salah satu ilmu manajemen yang dewasa ini banyak diadopsi adalah TQM (Total Quality Management) atau Manajemen Mutu Terpadu.

  1. Manajemen Mutu Terpadu (TQM)

                Manajemen Mutu Terpadu sangat populer di lingkungan organisasi profit, khususnya di lingkungan berbagi badan usaha/perusahaan dan industri, yang telah terbukti keberhasilannya dalam mempertahankan dan mengembangkan eksistensinya masing – masing dalam kondisi bisnis yang kompetitif. Kondisi seperti ini telah mendorong berbagai pihak untuk mempraktekannya di lingkungan organisasi non profit termasuk di lingkungan lembaga pendidikan.

                Menurut Hadari Nawari (2005:46) Manajemen Mutu Terpadu adalah manejemen fungsional dengan pendekatan yang secara terus menerus difokuskan pada peningkatan kualitas, agar produknya sesuai dengan standar kualitas dari masyarakat yang dilayani dalam pelaksanaan tugas pelayanan umum (public service) dan pembangunan masyarakat (community development). Konsepnya bertolak dari manajemen sebagai proses atau rangkaian kegiatan mengintegrasikan sumber daya yang dimiliki, yang harus diintegrasi pula dengan pentahapan pelaksanaan fungsi – fungsi manajemen, agar terwujud kerja sebagai kegiatan memproduksi sesuai yang berkualitas. Setiap pekerjaan dalam manajemen mutu terpadu harus dilakukan melalui tahapan perencanaan, persiapan (termasuk bahan dan alat), pelaksanaan teknis dengan metode kerja/cara kerja yang efektif dan efisien, untuk menghasilkan produk berupa barang atau jasa yang bermanfaat bagi masyarakat.

                Menurut Cassio seperti yang dikutip oleh Hadari Nawawi (2005 : 127), ia memberi pengertian bahwa “TQM, a philosophy and set of guiding principles that represent the foundation of a continuosly improving organization, include seven broad components :

  1. A focus on the customer or user of a product or service, ensuring the customer’s need an expectations are satisfied consistenly.
  1. Active leadership from executives to establish quality as a fundamental value to be incorporated into a company’s managemen philosophy.
  1. Quality concept (e.g. statistical process control or computer assisted design, engineering, and manufacturing) that are thoroughly integrated throughout all activities of or a company.
  1. A corporate culture, established and reinforced by top executives, that involves all employees in contributing to quality improvement.
  1. A focus on employee involvement, teamwork, and training at all levels in order to strengthen employee commitment to continous quality improvement.
  1. An approach to problem solving that is base on continously gathering, evaluating, and acting on facts and data is a systematic manner.
  1. Recognition of supliers as full partners in quality management process.

          Pengertian lain dikemukakan oleh Santoso yang dikutip oleh Fandy Tjiptono dan Anastasia Diana (1998) yang mengatakan bahwa “ TQM merupakan sistem manajemen yang mengangkat kualitas sebagai strategi usaha dan berorentasi pada kepuasan pelanggan dengan melibatkan seluruh anggota organisasi”. Di samping itu Fandy Tjiptono dan Anastasia Diana (1998) menyatakan pula bahwa “ Total Quality Management merupakan suatu pendekatan dalam menjalankan usaha yang mencoba untuk memaksimumkan daya saing organisasi melalui perbaikan terus menerus atas produk, jasa, manusia, proses dan lingkungannya.

          Berdasarkan beberapa pengertian di atas, Hadari Nawawi (2005 : 127) mengemukakan tentang karakteristik TQM sebagai berikut :

  1. Fokus pada pelanggan, baik pelanggan internal maupun eksternal
  1. Memiliki opsesi yang tinggi terhadap kualitas
  1. Menggunakan pendekatan ilmiah dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah.
  1. Memiliki komitmen jangka panjang.
  1. Membutuhkan kerjasama tim
  1. Memperbaiki proses secara kesinambungan
  1. Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan
  1. Memberikan kebebasan yang terkendali
  1. Memiliki kesatuan yang terkendali
  1. Adanya keterlibatan dan pemberdayaan karyawan.

        B. Manajemen Mutu Terpadu dalam Bidang Pendidikan

                Di lingkungan organisasi non profit, khususnya pendidikan, penetapan kualitas produk dan kualitas proses untuk mewujudkannya, merupakan bagian yang tidak mudah dalam pengimplementasian Manajemen Mutu Terpadu (TQM). Kesulitan ini disebabkan oleh  karena ukuran produktivitasnya tidak sekedar bersifat kuantitatif, misalnya hanya dari jumlah lokal dan gedung sekolah atau laboratorium yang berhasil dibangun, tetapi juga berkenaan dengan aspek kualitas yang menyangkut manfaat dan kemampuan memanfaatkannya.

                Demikian juga jumlah lulusan yang dapat diukur secara kuantitatif, sedang kualitasnya sulit untuk ditetapkan kualifikasinya. Sehubungan dengan itu di lingkungan organisasi bidang pendidikan yang bersifat non profit, menurut Hadari Nawari (2005 : 47) ukuran produktivitas organisasi bidang pendidikan dapat dibedakan sebagai berikut :

  1. Produktivitas Internal, berupa hasil yang dapat diukur secara kuantitatif, seperti jumlah atau prosentase lulusan sekolah, atau jumlah gedung dan lokal yang dibangun sesuai dengan persyaratan yang telah ditetapkan.
  1. Produktivitas Eksternal, berupa hasil yang tidak dapat diukur secara kuantitatif, karena bersifat kualitatif yang hanya dapat diketahui setelah melewati tenggang waktu tertentu yang cukup lama.

          Masih menurut Hadari Nawawi (2005 : 47), bagi organisasi pendidikan, adaptasi manajemen mutu terpadu dapat dikatakan sukses, jika menunjukkan gejala – gejala sebagai berikut :

  1. Tingkat konsistensi produk dalam memberikan pelayanan umum dan pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan peningkatan kualitas SDM terus meningkat.
  1. Kekeliruan dalam bekerja yang berdampak menimbulkan ketidakpuasan dan komplain masyarakat yang dilayani semakin berkurang.
  1. Disiplin waktu dan disiplin kerja semakin meningkat
  1. Inventarisasi aset organisasi semakin sempurna, terkendali dan tidak berkurang/hilang tanpa diketahui sebab – sebabnya.
  1. Kontrol berlangsung efektif terutama dari atasan langsung melalui pengawasan melekat, sehingga mampu menghemat pembiayaan, mencegah penyimpangan dalam pemberian pelayanan umum dan pembangunan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
  1. Pemborosan dana dan waktu dalam bekerja dapat dicegah.
  1. Peningkatan ketrampilan dan keahlian bekerja terus dilaksanakan sehingga metode atau cara bekerja selalu mampu mengadaptasi perubahan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sebagai cara bekerja yang paling efektif, efisien dan produktif, sehingga kualitas produk dan pelayanan umum terus meningkat.

          Berkenaan dengan kualitas dalam pengimplementasian TQM, Wayne F. Cassio dalam bukunya Hadari Nawawi mengatakan : “Quality is the extent to which product and service conform to customer requirement”. Di samping itu Cassio juga mengutip pengertian kualitas dari The Federal Quality Institute yang menyatakan “quality as meeting the customer’s requiremet the first time and every time, where costumers can be internal as wellas external to the organization”. Senada dengan itu Goetsh dan Davis seperti yang dikutip oleh Fandy Tjiptono dan Anastasia Diana (1996) yang mengatakan : “kualitas merupakan suatu kondisi dinamis yang berhubungan produk, jasa, manusia, proses dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan”.

          Dilihat dari pengertian kualitas yang terakhir seperti tersebut di atas, berarti kualitas di lingkungan organisasi profit ditentukan oleh pihak luar di luar organisasi yang disebut konsumen, yang selain berbeda – beda, juga selalu berubah dan berkembang secara dinamis.

          Manajemen Mutu Terpadu di lingkungan suatu organisasi non profit termasuk pendidikan tidak mungkin diwujudkan jika tidak didukung dengan tersedianya sumber – sumber untuk mewujudkan kualitas proses dan hasil yang akan dicapai. Di lingkungan organisasi yang kondisinyan sehat, terdapat berbagai sumber kualitas yang dapat mendukung pengimplementasian TQM secara maksimal. Menurut Hadari Nawawi (2005 : 138 – 141), beberapa di antara sumber – sumber kualitas tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Komitmen Pucuk Pimpinan (Kepala Sekolah) terhadap kualitas.

Komitmen ini sangat penting karena berpengaruh langsung pada setiap pembuatan keputusan dan kebijakan, pemilihan dan pelaksanaan program dan proyek, pemberdayaan SDM, dan pelaksanaan kontrol. Tanpa komitmen ini tidak mungkin diciptakan dan dikembangkan pelaksanaan fungsi – fungsi manajemen yang berorentasi pada kualitas produk dan pelayanan umum.

  1. Sistem Informasi Manajemen

Sumber ini sangat penting karena usaha mengimplementasikan semua fungsi manajemen yang berkualitas, sangat tergantung pada ketersediaan informasi dan data yang akurat, cukup/lengkap dan terjamin kekiniannya sesuai dengan kebutuhan dalam melaksanakan tugas pokok organiasi.

  1. Sumberdaya manusia yang potensial

SDM di lingkungan sekolah sebagai aset bersifat kuantitatif dalam arti dapat dihitung jumlahnya. Disamping itu SDM juga merupakan potensi yang berkewajiban melaksanakan tugas pokok organisasi (sekolah) untuk mewujudkan eksistensinya. Kualitas pelaksanaan tugas pokok sangat ditentukan oleh potensi yang dimiliki oleh SDM, baik yang telah diwujudkan dalam prestasi kerja maupun yang masih bersifat potensial dan dapat dikembangkan.

  1. Keterlibatan semua Fungsi

Semua fungsi dalam organisasi sebagai sumber kualitas, sama pentingnya satu dengan yang lainnnya, yang sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Untuk itu semua fungsi harus dilibatkan secara maksimal, sehingga saling menunjang satu dengan yang lainnya.

  1. Filsafat Perbaikan Kualitas secara Berkesinambungan

Sumber – sumber kualitas yang ada bersifat sangat mendasar, karena tergantung pada kondisi pucuk pimpinan (kepala sekolah), yang selalu menghadapi kemungkinan dipindahkan, atau dapat memohon untuk dipindahkan. Sehubungan dengan itu, realiasi TQM tidak boleh digantungkan pada individu kepala sekolah sebagai sumber kualitas, karena sikap dan perilaku individu terhadap kualitas dapat berbeda. Dengan kata lain sumber kualitas ini harus ditransformasikan pada filsafat kualitas yang berkesinambungan dalam merealisasikan TQM.

          Semua sumber kualitas di lingkungan organisasi pendidikan dapat dilihat manifestasinya melalui dimensi – dimensi kualitas yang harus direalisasikan oleh pucuk pimpinan bekerja sama  dengan warga sekolah yang ada dalam lingkungan tersebut. Menurut Hadari Nawawi (2005 : 141), dimensi kualitas yang dimaksud adalah :

  1. Dimensi Kerja Organisasi

Kinerja dalam arti unjuk perilaku dalam bekerja yang positif, merupakan gambaran konkrit dari kemampuan mendayagunakan sumber – sumber kualitas, yang berdampak pada keberhasilan mewujudkan, mempertahankan dan mengembangkan eksistensi organisasi (sekolah).

  1. Iklim Kerja

Penggunaan sumber – sumber kualitas secara intensif akan menghasilkan iklim kerja yang kondusif di lingkungan organisasi. Di dalam iklim kerja yang diwarnai kebersamaan akan terwujud kerjasama yang efektif melalui kerja di dalam tim kerja, yang saling menghargai dan menghormati pendapat, kreativitas, inisiatif dan inovasi untuk selalu meningkatkan kualitas.

  1. Nilai Tambah

Pendayagunaan sumber – sumber kualitas secara efektif dan efisien akan memberikan nilai tambah atau keistimewaan tambahan sebagai pelengkap dalam melaksanakan tugas pokok dan hasil yang dicapai oleh organisasi. Nilai tambah ini secara kongkrit terlihat pada rasa puas dan berkurang atau hilangnya keluhan pihak yang dilayani (siswa).

  1. Kesesuaian dengan Spesifikasi

Pendayagunaan sumber – sumber kualitas secara efektif dan efisien bermanifestasi pada kemampuan personil untuk menyesuaikan proses pelaksanaan pekerjaan dan hasilnya dengan karakteristik operasional dan standar hasilnya berdasarkan ukuran kualitas yang disepakati.

  1. Kualitas Pelayanan dan Daya Tahan Hasil Pembangunan

Dampak lain yang dapat diamati dari pendayagunaan sumber – sumber kualitas yang efektif dan efisien terlihat pada peningkatan kualitas dalam melaksanakan tugas pelayanan kepada siswa.

  1. Persepsi Masyarakat

Pendayagunaan sumber – sumber kualitas yang sukses di lingkungan organisasi pendidikan dapat diketahui dari persepsi masyarakat (brand image) dalam bentuk citra dan reputasi yang positip mengenai kualitas lulusan baik yang terserap oleh lembaga pendidikan yang lebih tinggi ataupun oleh dunia kerja.

                                    Secara singkat dapat digambarkan diagram komitmen kualitas dalam Manajemen Mutu Terpadu adalah sebagai berikut :

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Diagram : Komitmen Kualitas dalam TQM

C. Tanggapan Penulis

Total Quality Management (TQM) atau Manajemen Mutu Terpadu dalam bidang pendidikan tujuan akhirnya adalah meningkatkan kualitas, daya saing bagi output (lulusan) dengan indikator adanya kompetensi baik intelektual maupun skill serta kompetensi sosial siswa/lulusan yang tinggi. Dalam mencapai hasil tersebut, implementasi TQM di dalam organisasi pendidikan (sekolah) perlu dilakukan dengan sebenarnya tidak dengan setengah hati. Dengan memanfaatkan semua entitas kualitas yang ada dalam organisasi maka pendidikan kita tidak akan jalan di tempat seperti saat ini. Kualitas pendidikan kita berada pada urutan 101 dan masih berada di bawah vietnam yang notabene negara tersebut dapat dikatakan baru saja merdeka dibandingkan dengan kemerdekaan bangsa kita Indonesia.

Implementasi TQM di organisasi Pendidikan khususnya negeri memang tidak mudah. Adanya hambatan dalam budaya kerja, unjuk kerja dari guru dan karyawan sangat mempengaruhi. Tidak perlu dipungkiri bahwa budaya kerja, unjuk kerja dan disiplin pegawai negeri sipil di negara kita ini sangat rendah. Ini sangat mempengaruhi efektifitas implementasi TQM.

Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yang telah mengadopsi prinsip – prinsip TQM ternyata tidak serta merta mendongkrak peningkatan kinerja pelaksana sekolah yang implikasinya dapat meningkatkan kompetensi siswa kita.

Menurut penulis, yang paling pertama diperbaiki adalah budaya kerja, unjuk kerja dan disiplin dari pelaksana sekolah (guru, karyawan dan kepala sekolah). Semuanya harus dapat memandang siswa sebagai “pelanggan”, yang harus dilayani dengan sebaik – baiknya demi kepuasan mereka. Pelaksana sekolah selalu bersemangat untuk maju, bersemangat terus untuk menambah kemampuan dan ketrampilannya yang pada akhirnya akan meningkatkan unjuk kerja mereka di hadapan siswa. Apabila semua pelaksana sekolah sudah mempunyai budaya kerja, unjuk kerja dan disiplin yang tinggi, maka implementasi TQM dapat secara nyata berjalan dan akan menjadikan organisasi pendidikan (sekolah) akan semakin maju, eksis, memiliki brand image yang semakin tinggi dan pada akhirnya dapat menciptakan kader – kader bangsa yang berkualitas dan dapat disejajarkan dengan bangsa lain.

Rendahnya budaya kerja, unjuk kerja dan disiplin kerja pelaksana seokolah (PNS) memang sangat dipengaruhi oleh sistem penghargaan negara (gaji) yang rendah terhadap PNS. Ini menyebabkan tidak sedikit kewajiban di organisasi pendidikan khususnya menjadi “sambilan” bagi PNS dan justru yang utama berada di kegiatan luar organisasi karena adanya tuntutan ekonomi yang semakin berat.

Angin segar telah berhembus bagi guru khususnya, dengan telah adanya UU Guru dan Dosen yang menjadi payung hukum dan menjamin peningkatan kesejahteraan Guru dan Dosen. Tetapi masih menjadi pertanyaan besar “kapan itu dilaksanakan?”, atau “ hanya meninabobokkan guru saja agar tidak berdemo?”.

Apabila UU tersebut benar dilaksanakan, apakah akan benar – benar dapat meningkatkan kinerja guru?

Pada intinya, implementasi TQM di organisasi pendidikan khususnya sekolah masih akan terasa berat. Diperlukan adanya kesungguhan dari warga sekolah secara bersama, sadar, dan berkeinginan yang kuat untuk maju.

V.        KESIMPULAN

            Dari paparan di atas dapat diambil kesimpulan :

  1. Manajemen Mutu Terpadu(TQM) adalah suatu sistem manajemen yang mendayagunakan sumber – sumber kualitas yang ada dalam organisasi melalui tahapan – tahapan manajemen secara terkendali untuk meningkatkan kualitas pelayanan pada pelanggan secara efektif dan efisien.
  1. Kesulitan penerapan TQM dalam bidang pendidikan adalah kesulitan dalam penentuan kualitas produknya (lulusan) yang lebih bersifat kualitatif.
  1. Implementasi TQM di bidang pendidikan dikatakan berhasil jika dapat ditemukan ciri – ciri  sebagai berikut :
  1. Tingkat konsistensi produk dalam memberikan pelayanan umum dan pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan peningkatan kualitas SDM terus meningkat.
  1. Kekeliruan dalam bekerja yang berdampak menimbulkan ketidakpuasan dan komplain masyarakat yang dilayani semakin berkurang.
  1. Disiplin waktu dan disiplin kerja semakin meningkat
  1. Inventarisasi aset organisasi semakin sempurna, terkendali dan tidak berkurang/hilang tanpa diketahui sebab – sebabnya.
  1. Kontrol berlangsung efektif terutama dari atasan langsung melalui pengawasan melekat, sehingga mampu menghemat pembiayaan, mencegah penyimpangan dalam pemberian pelayanan umum dan pembangunan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
  1. Pemborosan dana dan waktu dalam bekerja dapat dicegah.
  1. Peningkatan ketrampilan dan keahlian bekerja terus dilaksanakan sehingga metode atau cara bekerja selalu mampu mengadaptasi perubahan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sebagai cara bekerja yang paling efektif, efisien dan produktif, sehingga kualitas produk dan pelayanan umum terus meningkat.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Adnan Sandy Setiawan (200);  “Manajemen Perguruan Tinggi Di Tengah Perekonomian Pasar dan Pendidikan Yang Demokratis “, “INDONews (s)”indonews@indo-news.com. 24 Maret 2006

Ani M. Hasan (2003);  “Pengembangan Profesional Guru di Abad Pengetahuan”, Pendidikan Network : 24 Maret 2006

Fandy Tjiptono dan Anastasia Diana (1998);  Total Quality Management (TQM), Andi Offset : Yogyakarta

Frietz R  Tambunan  (2004);  “Mega  Tragedi  Pendidikan Nasional”, Kompas : 16 Juni 2004

Hadari Nawawi (2005); Manajemen Strategik, Gadjah Mada Pers : Yogyakarta

Thomas B. Santoso (2001), “ Manajemen Sekolah di Masa Kini (1)”, Pendidikan Network : 24 Maret 2006

FacebookTwitterGoogle+LinkedIn

PENGEMBANGAN MODEL KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP) DI MADRASAH

 

 

 

Kurikulum Pendidikan

  1. Pengertian Kurikulum

Kurikulum mempunyai banyak tafsiran sebagaimana yang dirumuskan oleh para pakar pengembangan kurikulum sejak dulu sampai sekarang, tafsiran – tafsiran itu berbeda-beda sesuai dengan pandangan para pakar itu sendiri. Istilah kurikulum sendiri berasal dari bahasa latin “ Curriculae” yang artinya jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari.[1]

Menurut soetopo dan soemanto kurikulum itu memiliki lima definisi, yaitu kurikulum sebagai bahan tertulis yang berisi tentang program pendidikan suatu sekolah yang harus dilaksanakan dari tahun ke tahun, kurikulum juga merupakan bahan yang dimaksudkan untuk digunakan pengajar dalam mengajarkan pelajaran kepada murid-muridnya, kurikulum juga suatu usaha untuk menyampaikan asas-asas dan ciri-ciri yang penting dari suatu rencana pendidikan, kurikulum juga sebagai tujuan pengajaran, pengalaman-pengalaman belajar, alat pelajaran serta cara penilaian,  kurikulum itu juga merupakan suatu program pendidikan yang direncanakan dan dilaksanakan untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan tertentu.[2]

Menurut Prof. Dr. Hasan Langgulung, kurikulum “adalah sejumlah pengalaman pendidikan, kebudayaan, sosial, olahraga dan kesenian yang disediakan oleh sekolah bagi murid-murid di dalam dan di luar sekolah dengan maksud menolongnya untuk berkembang menyeluruh dalam segala segi dan merubah tingkah laku mereka sesuai dengan tujuan-tujuan pendidikan”.[3] Dari definisi ini kita bisa mengetahui bahwa dalam kurikulum itu terdapat unsur-unsur atau aspek-aspek yang utama yang harus dijadikan acuan, yaitu :

  1. Tujuan-tujuan yang ingin dicapai oleh pendidikan itu, atau dengan istilah lain akan dijadikan apa murid yang kita didik itu? ;
  1. Pengetahuan (Knowledge), informasi-informasi, aktivitas dan data serta pengalaman dari mana terbentuknya kurikulum tersebut, disinilah letak  mata pelajaran yang dimasukan dalam silabus nantinya ;
  1. Metode dan cara-cara mengajar yang dipakai oleh guru-guru yang mengajar dan mendorong muridnya agar sesuai dengan tujuan yang dikehendaki kurikulum ;
  1. Metode dan cara penilaian yang digunakkan dalam mengukur dan menilai serta mengevaluasi kurikulum dan hasil dari proses pendidikan yang direncanakan dalam kurikulum itu. Singkatnya dalam kurikulum itu terkandung unsur tujuan, unsur mata pelajaran, unsur metode dan cara pembelajaran serta unsur metode dan cara evaluasi atau penilaian.

 


 

Kurikulum merupakan langkah awal dalam rangkaian sistem pendidikan, kurikulum adalah salah satu mesin utama pendorong majunya pendidikan, karena didalamnya termuat tujuan diadakannya pendidikan yang menjadi mercusuar penentu arah kapal pembelajaran dan guru sebagai nahkoda nya harus mampu untuk mengerti dan memahami apa yang di tentukan oleh kurikulum itu, sehingga bisa membawa para peserta didiknya mencapai apa yang menjadi tujuan pembelajaran bagi mereka. Dalam hal ini, kurikulum harus benar-benar tersusun rapi dan transparan sehingga para guru dapat memahami serta melaksanakannya dengan baik dan bijaksana.

  1. Pengembangan Kurikulum

Dalam UU Sisdiknas no. 20 thn 2003 bab X pasal 36 ayat 1 disebutkan bahwa pengembangan kurikulum dilakukan dengan mengacu pada standar nasional pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Kemudian dalam ayat 2 disebutkan bahwa kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah dan peserta didik. Sedangkan dalam pasal 38 ayat 2 dijelaskan bahwa kurikulum pendidikan dasar dan menengah dikembangkan sesuai dengan relevansinya oleh setiap kelompok atau satuan pendidikan dan komite sekolah/madrasah di bawah koordinasi dan supervisi dinas pendidikan atau kantor departemen agama kabupaten/kota untuk pendidikan dasar dan provinsi untuk pendidikan menengah.

Soetopo dan soemanto berpendapat bahwa landasan pengembangan kurikulum dapat menjadi titik tolak sekaligus titik sampai, maksud dari titik tolak itu adalah pengembangan kurikulum dapat didorong oleh pembaruan tertentu  seperti penemuan teori belajar yang baru dan perubahan tuntutan masyarakat terhadap fungsi sekolah, sedangkan titik sampai berarti  kurikulum harus dikembangkan sedemikian rupa sehingga dapat merealisasi perkembangan tertentu seperti kemajuan iptek, tuntutan sejarah masa lalu, perbedaan latar belakang murid, nilai filsafat masyarakat, kultur dan yang lainnya.

Dalam pengembangan kurikulum juga harus memiliki tujuan yang jelas dan ketentuan-ketentuan yang menjadi syarat utama dalam pengembangan kurikulum tersebut sehingga meskipun dikembangkan sedemikian rupa tetapi tidak keluar dari koridor yang telah ditetapkan pihak pemerintahan pusat agar bisa mencapai tujuan pendidikan nasional dengan baik. Oleh karena itu, ada beberapa pemikir dan pemerhati pendidikan yang memberikan ide dengan membuat unsur-unsur atau prinsip-prinsip yang bisa dijadikan acuan atau pegangan dalam pengembangan kurikulum. Salah satu dari mereka adalah Oemar Hamalik yang membagi prinsip pengembangan kurikulum menjadi delapan macam, yaitu :

1)      Prinsip berorientasi pada Tuhan

2)      Prinsip relevansi (kesesuaian)

3)      Prinsip efisiensi dan efektivitas

4)      Prinsip fleksibilitas

5)      Prinsip keseimbangan

6)      Prinsip kontinuitas (berkesinambungan)

7)      Prinsip keterpaduan

8)      Prinsip mutu

  1. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)
  1. Pengertian KTSP

KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. Satuan pendidikan yang dimaksud adalah sekolah atau lembaga pendidikan. KTSP muncul mengikuti adanya pelaksanaan otonomi daerah, dimana daerah mempunyai kewenangan dalam pemberdayaan dan pengembangan daerahnya masing-masing agar hidup dari, oleh dan untuk masyarakat di daerah tersebut. Diantara otonomi yang lebih besar diberikan kepada sekolah/madrasah adalah menyangkut pengembangan kurikulum, yang kemudian disebut sebagai KTSP. Dalam hal ini, pemerintah hanya memberikan rambu-rambu yang perlu dirujuk dalam pengembangan kurikulum, yaitu : UU no. 20/2003 tentang sistem pendidikan nasional, Peraturan Pemerintah no. 19/2005 tentang standar Nasional Pendidikan, Peraturan Menteri Pendidikan Nasional no. 22/2006 tentang standar isi (SI) untuk Pendidikan Dasar dan Menengah, Peraturan Menteri Pendidikan Nasional no.23/2006 tentang standar kompetensi lulusan (SKL) untuk satuan pendidikan dasar dan menengah, peraturan Menteri Pendidikan Nasional no.24/2006 tentang pelaksanaan dari kedua peraturan menteri pendidikan nasional tersebut, panduan dari BNSP (Badan Standar Nasional Pendidikan).[4]

KTSP merupakan suatu konsep yang menawarkan otonomi pada sekolah untuk  menentukan kebijakan sekolah dalam rangka meningkatkan mutu, dan efisiensi  pendidikan agar dapat memodifikasikan keinginan masyarakat setempat serta menjalin kerja sama yang erat antara sekkolah, masyarakat, industri dan pemerintah dalam membentuk pribadi peserta didik. Hal tersebut dilakukan agar sekolah dapat leluasa mengelola sumber daya dengan mengalokasikan sesuai prioritas kebutuhan serta tanggap  terhadap kebutuhan masyarakat setempat.

Otonomi dalam pengelolaan pendidikan merupakan potensi bagi sekolah untuk meningkatkan kinerja para staf, menawarkan paritsipasi langsung kepada kelompok-kelompok terkait dan meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap pendidikan. Otonomi ini juga berperan dalam menampung konsensus umum tentang pemberdayaan sekolah, yang meyakini bahwa untuk meningkatkan kualitas pendidikan sedapat mungkin keputusan dan seharusnya dibuat oleh mereka yang berada di garis depan (line staf) yang bertanggung jawab secara langsung terhadap pelaksanaan kebijakan dan terkena akibat-akibat dari kebijakan tersebut (guru maupun kepala sekolah).

KTSP ditujukan, untuk menciptakan tamatan yang kompeten dan cerdas dalam mengemban  identitas budaya dan bangsanya. Kurikulum ini dapat memberikan dasar-dasar pengetahuan, keterampilan, pengalaman belajar yang membangun integritas sosial serta membudayakan dan mewujudkan karakter nasional. Selain itu juga memudahkan guru dalam menyajikan pengalaman belajar yang sejalan dengan prinsip belajar sepanjang hayat yang mengacu pada empat pilar pendidikan universal sebagaimana yang telah dicetuskan oleh UNESCO. (Muhammad Joko Susilo, M, PDKTSP manajemen pelaksanaan dan kesiapan sekolah,,, hal. 11)

 

  1. Implementasi KTSP di Madrasah

Implementasi merupakan suatu penerapan ide, konsep, kebijakan atau inovasi dalam suatu tundakan prkatis sehingga memberikan dampak, baik berupa perubahan pengetahuan, keterampilan maupun nilai dan sikap. Dalam Oxford Advance Learner Dictionary dikemukakan implementasi adalah:”put something into effect”,(penerapan sesuatu yang memberikan efek atau dampak). Berdasarkan definisi implementasi tersebut, implementasi kurikulum didefinisikan sebagai suatu  proses penerapan ide, konsep dan kebajikan kurikulum (kurikulum potensial) dalam suatu aktivitas pembelajaran, sehingga peserta didik menguasai seperangkat kompetensi tertentu, sebagai hasil interaksi dengan lingkungan. Implementasi kurikulum tertulis (written curriculum) dalam bentuk  pembelajaran.[5]

Hal itu sejalan dengan yang diungkapkan miller dan seller bahwa :”in some cases implementation has been identified with instruction…”. Kemudian dijelaskan lebih lanjut bahwa “implementasi kurikulum merupakan suatu proses penerapan konsep, ide, program atau tatanan kurikulum ke dalam praktek pembelajaran atau aktivitas-aktivitas baru, sehingga terjadi perubahan pada sekelompok orang yang diharapkan untuk berubah. Mulyasa mengemukakan bahwa implementasi kurikulum merupakan proses interaksi antara fasilitator sebagai pengembang kurikulum dan peserta didik sebagai subjek belajar. Sementara Saylor (1981) mengatakan bahwa “instruction is thus the implementation of curriculum plan, usually, buat not necessarily, involving teaching in the sense of student, teaches interaction in an education setting”.[6]

Berdasarkan uraian diatas, dapat dikemukakan bahwa implementasi kurikulum adalah operasional konsep kurikulum yang masih bersifat potensial (tertulis) menjadi aktual dalam bentuk kegiatan pembelajaran.

Menurut Hasan seperti yang dikutip Mulyasa, bahwa implementasi kurikulum adalah hasil terjemahan guru terhadap kurikulum sebagai rencana tertulis yang sedikitnya dipengaruhi oleh tiga faktor :

  1. Karakteristik kurikulum, yang mencakup ruang lingkup ide baru suatu kurikulum dan kejelasan bagi pengguna di lapangan.
  1. Strategi implementasi, yaitu strategi yang digunakan dalam implementasi.
  1. Karakteristik  pengguna kurikulum, yang meliputi pengetahuan, keterampilan serta kemampuannya untuk merealisasikan kurikulum (curriculum planning) dalam pembelajaran.

 

Tetapi, Mars mengemukakan tiga faktor yang mempengaruhi implementasi kurikulum yaitu dukungan sekolah, dukungan rekan sejawat guru dan dukungan internal yang datang dari dalam diri guru sendiri. Dari berbagai faktor tersebut guru merupakan faktor penentu disamping faktor-faktor lain, dengan kata lain keberhasilan implementasi kurikulum di sekolah sangat ditentukan oleh guru, karena bagaimanapun baiknya sarana pendidikan apabila guru tidak melaksanakan tugas dengan baik, maka hasil implementasi kurikulum tidak akan memuaskan.[7]

Dalam penerapan KTSP di Madrasah memang masih dalam proses yang tentunya membutuhkan waktu untuk bisa melihat hasil dari implementasi kurikulum tersebut, dikarenakan KTSP adalah kurikulum baru yang masih dalam tahap uji coba dan belum dijadikan kurikulum baku sebagai kurikulum pendidikan nasional. Tetapi KTSP ini merupakan pengembangan dari kurikulum sebelumnya yiatu KBK, sehingga diharapkan guru maupun sekolah tidak bersikap apriori dalam memandang KTSP ini agar pelaksanaan pembelajaran dan pendidikan di lembaga pendidikan bisa tetap berjalan tanpa terbentur oleh keengganan segelintir pihak yang belum mengerti tentang hakekat dari KTSP tapi sudah mengambil sikap yang justru tidak menghendaki adanya perubahan dikarenakan keengganannya untuk merubah pola pendidikan yang sudah ditekuninya. Oleh karena itu, pihak pemerintah yang terkait dengan pelaksanaan kurikulum yang baru ini, hendaknya terus mengadakan sosialisasi dan penyuluhan tentang pelaksanaan KTSP ini, sehingga guru-guru dan kepala sekolah bisa mengerti dan memahami hakekat dari KTSP yang kemudian akan memudahkan terlaksananya kurikulum yang baru ini.

Untuk memaksimalkan pelaksanaan KTSP hendaknya dikembangkan secara sinergis antara siswa, guru dan sekolah. Siswa diarahkan secara benar tentang hakekat belajar yang aktif, kreatif dan inovatif yang tertuang dalam rencana pelaksanaan pembelajaran nya. Guru secara konsisten melaksanakan tugasnya mulai dari menyiapkan perangkat pembelajaran, rencana pelaksanaan pembelajaran, program semesteran, mengidentifikasi materi dan pengalaman belajar, merancang setting pembelajaran, melaksanakan evaluasi dan melaporkan hasil siswa dalam kerangka dan model KTSP. Guru menerapkan praktek belajar mengajar yang lebih demokratis disertai evaluasi berkala dengan melibatkan peserta didik, guru dan orang tua siswa. Ketiga unsur ini diharapkan dapat melakukan komunikasi berkala guna membahas berbagai hal yang berkaitan dengan praktek belajar mengajar. Mengikutsertakan siswa, orang tua siswa, dan Komite Sekolah dalam proses evaluasi terhadap praktek belajar mengajar dan kinerja guru perlu menjadi salah satu pertimbangan. Hal ini tidak saja dibutuhkan untuk menghargai hak siswa dan orang tua siswa, melainkan juga sebagai kontrol dan peningkatan kompetensi guru dalam mengajar.[8]

 


[1] Muhammad joko susilo, M.Pd, KTSP Manajemen Pelaksanaan dan Kesiapan Sekolah Menyongsongnya, Pustaka Pelajar,Yogyakarta, 2007, hal. 77

[2] Muhammad joko susilo, M.Pd, KTSP Manajemen Pelaksanaan…, hal. 78

[3] Prof. Dr. Hasan Langgulung, Manusia dan Pendidikan Suatu Analisa Psikologi dan Pendidikan, al-Husna Zikra, Jakarta, 1995, hal. 145

[4] Prof.Dr.H.Muhaimin,MA dkk, Pengembangan Model KTSP pada sekolah dan madrasah, Rajawali Press, Jakarta, 2008, hal. 3

[5] Muhammad Joko Susilo, M.Pd, KTSP Manajemen Pelaksanaan dan Kesiapan Sekolah Menyongsongnya, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2007, hal. 174

[6] Muhammad Joko Susilo, M.Pd, KTSP Manajemen Pelaksanaan…, hal. 175

[7] Muhammad Joko Susilo, M.Pd, KTSP Manajemen Pelaksanaan…, hal. 176

[8] Prof. Drs. Sutrisno, M.Sc., Ph.D dan Drs. Nuryanto, M.Pd, makalah Profil Pelaksanaan KurikulumTingkat Satuan Pendidikan (KTSP) di Provinsi Jambi (Studi Evaluatif Pelaksanaan KTSP, SD, SMP dan SMA) disampaikan pada symposium tahunan penelitian pendidikan 2008, Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pendidikan Nasional(BALITBANG-DEPDIKNAS)2008 dalam situs http://puslitjaknov.org/data/file/2008/makalah_peserta/ , hal. 28

FacebookTwitterGoogle+LinkedIn

PRODUKTIVITAS PENDIDIKAN ISLAM

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang Masalah

Masyarakat dunia, dari waktu ke waktu mengalami perubahan dalam segala aspeknya. Berbagai penemuan dan pengembangan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, menyebabkan jarak / gap antar masyarakat di dunia, semakin menyempit. Globalisasi pun menjadi sebuah fenomena tak terhindarkan.

Salah satu bidang yang mengalami “lompatan besar” dalam kehidupan masyarakat , adalah bidang pendidikan. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sangat terasa dampaknya , sekaligus juga menimbulkan efek berantai yang sangat besar dalam perubahan masyarakat.

Dampak perubahan di bidang pendidikan khususnya pendidikan Islam terhadap masyarakat, terasa sangat besar dan panjang, mengingat pendidikan menyentuh langsung persoalan-persoalan sumber daya manusia (SDM). Apalagi jika dikaitkan dengan pembangunan masyarakat / bangsa secara keseluruhan , dimana pendidikan menjadi bagian penting dalam “character building” dan “nation building”.

Pentingnya pendidikan dalam konteks pembangunan suatu bangsa, pada akhirnya menyebabkan hampir semua bangsa di dunia meletakan pendidikan sebagai prioritas dan titik perhatian. Anggaran pendidikan pun di munculkan dalam jumlah yang cukup besar. Di Indonesia misalnya, anggaran pendidikan mencapai 20 persen dari APBN yang ada, walaupun dalam realisasinya, angka sebesar itu belum benar-benar terpenuhi.
Pembangunan bidang pendidikan, kemudian akan bersentuhan langsung pada persoalan paling prinsip, yakni ke-bermutuan pendidikan itu sendiri. Artinya, bahwa untuk mampu mencapai tujuan-tujuan suatu bangsa, maka pendidikan harus dilaksanakan secara bermutu / berkualitas.

Dalam konteks inilah, kemudian ke-bermutuan pendidikan Islam akan terkait dengan beberapa hal, yaitu : efektifitas, efisiensi dan akuntabilitas. Persoalan kemudian adalah, apa sesungguhnya yang dimaksud dengan pendidikan yang bermutu itu ? Faktor-faktor apa saja yang berpengaruh terhadap pendidikan yang bermutu? Apakah pendidikan yang dilaksanakan di lingkungan kita sudah bermutu? dan banyak lagi persoalan-persoalan lainnya yang membutuhkan jawaban.

  1. Rumusan Masalah
  1. Apakah pendidikan yang berkualitas itu ?
  1. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi mutu pendidikan ?
  1. Bagaimana tingkat produktivitas penyelenggaraan pendidikan di sekolah ?

 


 

  1. Tujuan Masalah
  1. Untuk mengetahui bagaimana pendidikan yang berkualitas itu
  1. Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi mutu pendidikan
  1. Untuk mengetahui bagaimana tingkat produktivitas penyelenggaraan pendidikan di sekolah

 

  1. Sistematika Penulisan

Untuk mempermudah pembahasan, makalah ini disusun dengan seistematika sebagai berikut :

Bab I: Pendahuluan, yang berisi latar belakang / dasar
pemikiran, perumusan masalah dan sistematika pemulisan.

Bab II: Pembahasan, berkaitan dengan pengertian dan upaya-upa
meningkatkan produktivitas.

Bab III: Kesimpulan, berisi kesimpunan berkaitan dengan materi
yang dibahas.

 

BAB II

PEMBAHASAN

PRODUKTIVITAS PENDIDIKAN ISLAM

 

 

  1. Pendahuluan

Produktivitas pendidikan menjadi harapan semua elemen dalam organisasi pendidikan. Produktivitas pendidikan, bagaimanapun juga dalam prosesnya ditentukan oleh produktivitas keputusan. Pendidikan yang produktif diwujudkan oleh keputusan yang produktif juga. Tidak ada produktivitas tanpa keputusan. Semakin produktif suatu keputusan semakin memungkinkan produktivitas pendidikan dalam suatu lembaga pendidikan. Semakin jarang suatu keputusan diambil, maka makin mengurangi produktivitas pendidikan.

            Produktivitas pendidikan ini menunjukkan bukan hanya sebagai pertanda bahwa unit-unit organisasi telah berjalan, teapi lebih dari itu, berarti telah terjadi maksimalisasi kerja dalam suatu organisasi. Maksimalisasi kerja ini diwujudkan dengan sikap meningkatkan kinerja, menyempurnakan cara kerja, mengawal target yang ditetapkan, melakukan penghematan baik waktu, biaya maupun tenaga, serta sikap-sikap kreatif –dinamis-konstruktif lainnya.

Kita menyadari dalam dinamika dan peradaban global saat ini, lembaga pendidikan Islam menghadapi tantangan yang sangat berat. Salah satu tantangan tersebut yakni bahwa masyarakat mulai terbelenggu dengan pandangan positivisme, materialisme, dan kapitalisme sehingga segala sesuatu yang tidak memberikan faedah, keuntungan, dan peluang akan ditinggalkan. Bertolak dari pandangan di atas bahwa lembaga pendidikan Islam dianggap marginal oleh masyarakat memang cukup beralasan. Masyarakat menganggap lembaga pendidikan Islam tidak profesional, tidak berkualitas, NEM dibawah rata–rata, out put tidak mampu berkompetisi dengan yang lain, dan bahkan dianggap manajemen madrasah amburadul.

Hal ini diperkuat pandangan bahwa kelemahan sistem pendidikan Islam, yakni (1) mementingkan materi di atas metodologi, (2) mementingkan memori diatas analisis dan dialog, (3) mementingkan pikiran vertikal diatas literal, (4) mementingkan penguatan pada “otak kiri” diatas “otak kanan”, (5) materi pelajaran agama yang diberikan masih bersifat tradisional, belum menyentuh aspek rasional, (6) penekanan yang berlebihan pada ilmu sebagai produk final, bukan pada proses metodologinya, dan (7) mementingkan orientasi “memiliki” di atas “menjadi”.[1]

Pandangan ini, dapat terbukti di lapangan bahwa lembaga pendidikan Islam yang ada di lapangan (misalnya: Tulungagung, Blitar, Kediri, Trenggalek, Pacitan, Ponorogo, Madiun, Malang, dan bahkan hampir seluruh lembaga pendidikan Islam yang ada di Indonesia) terutama madrasah swasta tidak mampu memberikan pembaharuan dan pencerahan bagi pendidikan Islam, akibat mendirikan madrasah yang hanya mementingkan kuantitas bukan kualitas. Begitu juga keberadaan Madrasah-Madrasah swasta sebagian besar mengalami nasib yang sama, yakni keberadaannya la yamutu wala yahya/wujuduhu kaadamihi, dapat dibilang hidup segan mati tak mau.

Maka perlu dikerahkan semua pikiran, tenaga dan strategi untuk bisa mewujudkan mutu dalam lembaga pendidikan termasuk lembaga pendidikan Islam agar punya daya saing dengan lembaga pendidikan umum. Mutu pendidikan yang dimaksudkan di sini adalah kemampuan lembaga pendidikan Islam dalam mendayagunakan sumber-sumber pendidikan untuk meningkatkan kemampuan belajar se-optimal mungkin. Dalam konteks pendidikan, menurut Departemen Pendidikan Nasional sebagaimana dikutip Mulyasa, pengertian mutu mencakup input, proses dan output pendidikan.

Dewasa ini semua lembaga pendidikan berorientasi pada mutu. Lembaga pendidikan dikatakan ‘bermutu’ jika input, proses dan hasilnya dapat memenuhi persyaratan yang dituntut oleh pengguna jasa pendidikan. Bila performance-nya dapat melebihi persyaratan yang dituntut oleh stakeholder (user) maka dikatakan unggul. Lantaran tuntutan persayaratan yang dikehendaki para pengguna jasa terus berubah dan berkembang kualitasnya, maka pengertian mutu juga bersifat dinamis, terus berkembang dan terus berada dalam persaingan yang terus menerus yang juga mempengaruhi produktivitas Pendidikan Islam itu sendiri.

Sehubungan dengan hal tersebut, keberhasilan dalam produktif atau tidaknya lembaga pendidikan Islam tersebut bisa dilihat dari tiga indikator yaitu efisiensi, efektifitas, dan produktivitas. Tiga indikator tersebut saling berkaitan satu dengan lainnya, walaupun pada tataran praktik masing-masing bisa berdiri sendiri-sendiri .Untuk bisa dideteksi sejak dini sejauh mana produktif atau tidaknya lembaga pendidikan Islam tersebut, maka ketiga indikator (efisiensi, efektifitas, dan produktivitas) dalam manajemen peningkatan mutu harus sejak awal ditetapkan. Sehingga kekurangan atau kelemahan yang muncul dapat diperbaiki dan kelebihannya dapat dipertahankan.

 

  1. Pengertian
  1. Produktivitas
  1. Secara umum, produktifitas berarti “keinginan” dan upaya manusia
    untuk selalu meningkatkat kualitas kehidupan di segala bidang.
  1. Secara filosofis, produktivitas adalah sikap mental yang berpandangan
    bahwa mutu kehidupan hari ini harus lebih baik dari hari kemarin,
    sedangkan hari esok harus lebih baik dari hari ini
  1. Secara teknis, produktivitas merupakan perbandingan antara output
    dan input (Dewan Produktivitas Nasional , 1983)
  1. Efektifitas

Efektifitas dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990), dikemukakan bahwa efektif berarti ada efeknya (akibatnya, pengaruhnya, kesannya) manjur dan mujarab, dapat membawa hasil. Sondang P. Siagian (2001 : 24) memberikan definisi sebagai berikut : “Efektivitas adalah pemanfaatan sumber daya, sarana dan prasarana dalam jumlah tertentu yang secara sadar ditetapkan sebelumnya untuk menghasilkan sejumlah barang atas jasa kegiatan yang dijalankannya. Efektivitas menunjukan keberhasilan dari segi tercapai tidaknya sasaran yang telah ditetapkan. Jika hasil kegiatan semakin mendekati sasaran, berarti makin tinggi efektivitasnya.
Sementara itu Abdurahmat (2003:92) “Efektivitas adalah pemanfaatan sumber daya, sarana dan prasaranadalam jumlah tertentu yang secara sadar ditetapkan sebelumnya untuk menghasilkan sejumlah pekerjaan tepat pada waktunya.
Roulette (1999:1) mendefinisikan efektivitas adalah dengan melakukan hal yang benar pada saat yang tepat untuk jangka waktu yang panjang, baik pada organisasi tersebut dan pelanggan. Selanjutnya Hodge (1984:299) menguraikan bahwa efektivitas sebagai ukuran suksesnya organisasi didefinisikan sebagai kemampuan organisasi untuk mencapai segala keperluannya. Ini berarti bahwa organisasi mampu menyusun dan mengorganisasikan sumber daya untuk mencapai tujuan.
Pengertian efektifitas secara umum menunjukan sampai seberapa jauh tercapainya suatu tujuan yang terlebih dahulu ditentukan. Hal tersebut sesuai dengan pengertian efektifitas menurut Hidayat (1986) yang menjelaskan bahwa : “Efektifitas adalah suatu ukuran yang menyatakan seberapa jauh target (kuantitas,kualitas dan waktu) telah tercapai. Dimana makin besar presentase target yang dicapai, makin tinggi efektifitasnya”.

Sedangkan pengertian efektifitas menurut Schemerhon John R. Jr. (1986:35) adalah sebagai berikut : “ Efektifitas adalah pencapaian target output yang diukur dengan cara membandingkan output anggaran atau seharusnya dengan output realisasi. Adapun pengertian efektifitas menurut Prasetyo Budi Saksono (1984) adalah : “ Efektifitas adalah seberapa besar tingkat kelekatan output yang dicapai dengan output yang diharapkan dari sejumlah input “.

Dari pengertian-pengertian efektifitas tersebut dapat disimpulkan bahwa efektifitas adalah suatu ukuran yang menyatakan seberapa jauh target (kuantitas,kualitas dan waktu) yang telah dicapai oleh manajemen, yang mana target tersebut sudah ditentukan terlebih dahulu.

Dalam pengelolaan sekolah, efektifitas berkaitan dengan terlaksananya semua tugas pokok, tercapainya tujuan, ketepatan waktu dan adanya partisipasi aktif dari masyarakat, mendapatkan serta memanfaatkan sumber daya dan sumber belajar untuk mewujudkan tujuan sekolah (Mulyasa, 2002).

Efektifitas dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990), dikemukakan bahwa efektif berarti ada efeknya (akibatnya, pengaruhnya, kesannya) manjur dan mujarab, dapat membawa hasil.

Efektifitas merupakan sebuah fenomena yang mengandung banyak segi, sehingga sedikit sekali orang yang dapat memaksimalkan ke-efektivitasan sesuai dengan ke-efektivitasan itu sendiri . Atau dapat dikatakan bahwa efektivitas masih merupakan sebuah konsepsi yang bersifat elusive (sulit diraih) yang harus didefinisikan secara jelas. Sehingga efektivitas organisasi atau lembaga pendidikan memiliki arti yang berbeda bagi setiap orang, bergantung pada kerangka acuan yang dipakai.

Bagi Etzioni, keefektifan merupakan derajat di mana sebuah organisasi mencapai tujuannya . Sedangkan menurut Sergiovani, keefektifan merupakan kesesuaian antara hasil yang dicapai oleh organisasi dengan tujuan yang telah dirumuskan .Kemudian Scheerens mengemukakan bahwa efektivitas sebagai konsep kausal secara esensial, di mana hubungan maksud-hingga-tujuan (means-to-end relationship) serupa dengan hubungan sebab-akibat (cause-effect relationship), terdapat tiga komponen utama yang harus diperhatikan dalam studi tentang efektivitas organisasi pendidikan, yaitu: (1) cakupan pengaruh; (2) kesempatan aksi yang digunakan untuk mencapai pengaruh tertentu (ditandai sebagai mode pendidikan); dan (3) fungsi-fungsi dan mekanisme yang mendasari yang menjelaskan mengapa tindakan tertentu mendorong ke arah pencapain-pengaruh .

Dari definisi tersebut dapatlah dipahami bahwa efektifitas organisasi[2] merupakan kemampuan organisasi untuk merealisasikan berbagai tujuan dan kemampuannya untuk beradaptasi dengan lingkungan dan mampu bertahan agar tetap eksis/hidup. Sehingga organisasi dikatakan efektif jika organisasi tersebut mampu menciptakan suasana kerja dimana para pekerja tidak hanya melaksanakan tugas yang telah dibebankan kepadanya, tetapi juga membuat suasana supaya pekerja lebih bertanggung jawab, bertindak secara kreatif demi peningkatan efisiensi dalam mencapai tujuan.

Konsep efektivitas pendidikan mengacu pada kinerja unit organisasi, oleh sebab itu maksud dari efektivitas sesungguhnya pencapaian tujuan, maka asumsi kriteria yang digunakan harus mencerminkan sasaran akhir dari organisasi itu sendiri. Efektifitas pendidikan dalam setiap tahapannya berproses pada das sollen dan dessein dengan indikator-indikator sebagai berikut :

  1. Indikator input, meliputi karakteristik guru, fasilitas, perlengkapan dan materi pendidikan serta kapasitas manajemen.
  1. Indikator proses, meliputi prilaku administratif, alokasi waktu guru, dan alokasi waktu peserta didik.
  1. Indikator out put, berupa hasil-hasil dalam bentuk perolehan peserta didik meliputi hasil prestasi belajar, sikap, keadilan dan persamaan.
  1. Indikator out come, meliputi jumlah lulusan ketingkat pendidikan berikutnya, prestasi belajar di sekolah yang lebih tinggi dan pekerjaan serta pendapatan.

 

Sebagaimana dijelaskan diatas bahwa efektifitas merupakan satu dimensi tujuan manajemen yang berfokus pada hasil, sasaran, dan target yang diharapkan. Lembaga pendidikan yang efektif adalah lembaga pendidikan yang menetapkan keberhasilan pada input, proses, output, dan outcome yang ditandai dengan berkualitasnya indikator-indikator tersebut. Sehingga dengan demikian, efektifitas lembaga pendidikan bukan sekedar pencapaian sasaran dan terpenuhinya berbagai kebutuhan untuk mencapai sasaran, tetapi berkaitan erat dengan syaratnya indikator tersebut dengan mutu, atau dengan kata lain ditetapkannya pengembangan mutu lembaga pendidikan.

Mulyasa kemudian memberikan barometer terhadap efektifitas sebuah lembaga pendidikan. Menurutnya barometer efektifitas dapat dilihat dari kualitas program, ketepatan penyusunan, kepuasan, keluwesan, dan adaptasi, semangat kerja, motivasi, ketercapaian tujuan, ketepatan waktu, serta ketepatan pendayagunaan sarana, prasarana, dan sumber belajar dalam meningkatkan mutu lembaga pendidikan.[3]

Dari uraian di atas nampak jelas bahwa kajian tentang efektifitas pendidikan harus dilihat secara sistemik mulai dari input sampai dengan outcome, dengan indikator yang tidak hanya bersifat kuantitatif, tetapi juga bersifat kualitatif. Sudah lama kita mendambakan sebuah pendidikan yang berkualitas, sehingga tuntutan terhadap kualitas sangat semarak dan perwujudannya sangat urgen karena mutu sudah menjadi a very critical competitive variable dalam persaingan internasional.

  1. Efisiensi

Pengertian efisiensi menurut Mulyamah (1987;3) yaitu: “Efisiensi merupakan suatu ukuran dalam membandingkan rencana penggunaan masukan dengan penggunaan yang direalisasikan atau perkataam lain penggunaan yang sebenarnya”

Sedangkan pengertian efisiensi menurut SP.Hasibuan (1984;233-4) yang mengutip pernyataan H. Emerson adalah: “Efisiensi adalah perbandingan yang terbaik antara input (masukan) dan output (hasil antara keuntungan dengan sumber-sumber yang dipergunakan), seperti halnya juga hasil optimal yang dicapai dengan penggunaan sumber yang terbatas. Dengan kata lain hubungan antara apa yang telah diselesaikan.”

Efisiensi adalah perbandingan terbaik antara suatu kegiatan dengan hasilnya. Menurut definisi ini, efisiensi terdiri atas 2 unsur yaitu kegiatan dan hasil dari kegiatan tersebut. Kedua unsur ini masing-masing dapat dijadikan pangkal untuk mengembangkan pengertian efisiensi berikut.

  1. Akuntabilitas

Akuntabilitas adalah kewajiban untuk menyampaikan pertanggungjawaban atau untuk menjawab dan menerangkan kinerja dan tindakan seseorang/badan hukum/pimpinan kolektif atau organisasi kepada pihak yang memiliki hak atau berkewenangan untuk meminta keterangan atau pertanggungjawaban.

 

  1. Penjelasan Efisiensi dan Produktivitas
  1. Efisiensi

Efisiensi menurut Dharma dalam Mulyasa mengacu pada ukuran penggunaan daya yang langka oleh organisasi . Efisiensi juga ditekankan pada perbandingan antara input/sumber daya dengan out put. Sehingga suatu kegiatan dikatakan efisien bila tujuan dapat dicapai secara optimal dengan penggunaan atau pemakaian sumber daya yang minimal . Efisiensi dengan demikian merupakan perbandingan antara input dengan out put, tenaga dengan hasil, perbelanjaan dan masukan, serta biaya dengan kesenangan yang dihasilkan.

Dalam dunia pendidikan dapat diartikan sebagai kegairahan atau motivasi belajar yang tinggi, semangat kerja yang besar, kepercayaan berbagai pihak, dan pembiayaan, waktu, dan tenaga sekecil mungkin tetapi hasil yang didapatkan maksimal. Dengan demikian, efisiensi merupakan faktor yang sangat urgen dalam rangka manajemen peningkatan mutu pendidikan Islam. Hal ini karena lembaga pendidikan Islam secara umum dihadapkan pada masalah kelangkaan sumber dana, yang secara langsung berdampak terhadap kegiatan manajemen.

Di atas telah dikemukakan bahwa efisiensi merupakan perbandingan antara input dan output. Dalam pendidikan, input adalah sumber daya yang digunakan untuk melaksanakan kegiatan pendidikan dan pengajaran dalam rangka mencapai tujuan yang telah dirumuskan. Sumber daya tersebut terkait dengan nilai, serta faktor manusia dan ekonomi. Nilai menggariskan tujuan serta isi pendidikan, faktor manusia merupakan pelaksana pendidikan, dan faktor ekonomi menyangkut biaya dan fasilitas penyelenggaraan. Secara operasional, masukan tersebut adalah peserta didik, guru, ruang kelas, buku teks, peralatan, kurikulum serta sarana pendidikan. Masukan ini bisa dinyatakan dalam bentuk biaya pendidikan per peserta didik setiap tahun. Sehingga untuk mengetahui tingkat efisiensi pengelolaan lembaga pendidikan, dapat dihitung dari banyaknya tahun yang dihabiskan peserta didik dalam siklus tertentu untuk menyelesaikan studinya. Efisiensi ini akan menurun juka ada peserta didik yang mengulang atau DO.

Selain dianalisis dari perbandingan komponen input dan output, efisiensi juga bisa ditinjau dari sisi proses pendidikan, dimana merupakan interaksi antara faktor manusiawi dan non manusiawi dalam rangka mencapai tujuan yang dirumuskan sesuai dengan rentang waktu yang telah ditentukan. Sehingga pendidikan dikatakan efisien jika proses atau kegiatan pengelolaan lembaga pendidikan dilakukan dalam waktu yang relatif singkat.

Aan Komariah dan Cepi Triatna mengklasifikasikan efisiensi menjadi efisiensi internal dan eksternal. Efisiensi internal menunjuk kepada hubungan antara output pendidikan dan input (sumber daya) yang digunakan untuk memproses atau menghasilkan output pendidikan.

Menurut Coomb dan Hallak sebagaimana dikutip Aan Komariah, terdapat tiga kategori teknik untuk memperbaiki efisiensi sistem pendidikan :

  1. Efisiensi dapat diperbaiki dengan mengubah jumlah, kualitas, dan proporsi input atau dengan menggunakan input-input yang ada secara lebih intensif, tanpa mengubah secara mendasar kondisi dan teknologi yang ada atau fungsi produksi.
  1. Tahap berikutnya, efisiensi dapat ditingkatkan dengan memodifikasi rancangan dasar sistem secara substansial, meliputi pengenalan komponen-komponen dan teknologi baru yang berbeda, seperti pengajaran tim, televisi pendidikan, dan laboratorium bahasa.
  1. Pendekatan yang lebih radikal untuk memperbaiki efisiensi yang ada untuk merancang alternatif baru ”sistem belajar mengajar” yang membedakan secara radikal dari yang konvensional .

 

Diatas telah dikemukakan bahwa efisiensi diklasifikasikan menjadi (1) efisiensi internal dan (2) efisiensi eksternal. Dalam kajian sistem pendidikan, dengan diberlakukannya school based management (manajemen berbasis sekolah) diharapkan mampu meningkatkan mutu pendidikan melalui perbaikan serta peningkatan efisiensi internal pendidikan melalui inovasi manajemen serta pembelajaran yang menyertainya, seperti peningkatan peran dewan sekolah, penerapan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), dll. Sementara itu efisiensi eksternal merujuk pada hubungan antara keuntungan kumulatif yang diperoleh dari sistem lebih dari satu periode tertentu dan input-input yang sesuai digunakan dalam menghasilkan keuntungan.

Dalam dunia pendidikan, upaya dalam rangka meningkatkan efisiensi pendidikan dalam konteks peningkatan mutu, paling tidak dapat ditentukan oleh dua hal, yakni manajemen pendidikan yang profesional dan partisipasi dalam pengelolaan pendidikan yang meluas. Dalam hal ini, analisis terhadap efisiensi pendidikan juga dapat dilakukan dengan dua pendekatan, yaitu pendekatan dengan tidak memperhatikan secara terinci unsur-unsur biaya yang digunakan dalam proses pendidikan (agregate approach), serta pendekatan yang memperhitungkan kontribusi biaya secara terinci dalam proses pendidikan untuk menghasilkan keluaran (ingredient approach). Kedua pendekatan nampak berbeda dalam memperhitungkan biaya dalam proses pendidikan, yang satu menggunakan total biaya dalam menilai kontribusi biaya terhadap pendidikan, sedangkan yang satu memperhitungkan kontribusi per unsur . Namun demikian, tujuan yang ingin dicapai kedua pendekatan tersebut sama, yaitu mengidentifikasi dampak maupun akses penggunaan biaya.

Dari penjelasan di atas nampak jelas bahwa perbedaan karaktersitik situasi dan input yang terlibat mempunyai implikasi pada biaya pendidikan yang diperlukan. Karena itu keputusan tentang efisiensi haruslah kontekstual dan proporsional. Keputusan kontekstual dan proporsional ini sangat membutuhkan ketersediaan informasi tentang karakteristik situasi dan input yang terlibat dalam proses pendidikan dalam jumlah dan mutu yang memadai.

Dengan demikian, dalam menganalisis efektifitas mutu pendidikan sebagaimana juga dalam efektifitas pendidikan harus diperhatikan aspek input dan proses pendidikan tersebut. Berkenaan dengan hal tersebut, maka sistem pendataan yang akurat, tepat guna, dan waktu perlu dikonstruksi secara mendasar melalui peningkatan infrastruktur teknologi informasi pada setiap lembaga pendidikan, yang meliputi kemampuan staf, arus data yang melekat dalam proses manajemen, pusat pelatihan pendataan, serta sarana prasarana pendukung.

Dalam konteks peningkatan mutu pendidikan melalui efisiensi pengelolaan pendidikan, analisis serta pengkajian data dan informasi perlu dilakukan secara simultan, terus-menerus, dan mendalam agar setiap unit kerja dalam lembaga pendidikan dapat melaksanakan manajemen secara efisien.[4]

  1. Produktivitas
  1. Secara umum, produktifitas berarti “keinginan” dan upaya manusia
    untuk selalu meningkatkat kualitas kehidupan di segala bidang.
  1. Secara filosofis, produktivitas adalah sikap mental yang berpandangan
    bahwa mutu kehidupan hari ini harus lebih baik dari hari kemarin,
    sedangkan hari esok harus lebih baik dari hari ini
  1. Secara teknis, produktivitas merupakan perbandingan antara output
    dan input[5]

Produktivitas merupakan perbandingan terbaik antara hasil yang diperoleh (output) dengan jumlah sumber yang dipergunakan (input). Produktivitas dapat dinyatakan dengan kuantitas maupun kualitas. Kuantitas output merupakan jumlah lulusan, sedangkan input merupakan jumlah tenaga kerja sekolah, dan sumber daya lainnya. Sedangkan produktivitas dalam ukuran kualitas tidak dapat diukur dengan uang, ia digambarkan dari ketetapan penggunaan metode dan alat yang tersedia sehingga volume dan beban kerja dapat diselesaikan sesuai dengan waktu yang tersedia serta mendapatkan respon positif bahkan pujian dari orang lain atas hasil kerjanya .

Ada pula yang menekankan produktivitas pada sisi pemberian perhatian dan kepuasan kepada pelanggan, sehingga semakin banyak dan semakin memuaskan pelayanan yang diberikan sebuah corporate atau lembaga terhadap customer, maka semakin produktif lembaga tersebut. Produktivitas dalam dunia pendidikan berkaitan erat dengan keseluruhan proses penataan dan penggunaan sumber daya untuk mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien. Dalam konteks produktivitas pendidikan, sumber-sumber pendidikan dipadukan dengan cara-cara yang berbeda. Perpaduan tersebut sama halnya dengan upaya memproduksi pakaian yang menggunakan teknik-teknik yang berbeda dalam memadukan buruh, modal, dan pengetahuan. Untuk mengusai teknik-teknik tersebut diperlukan proses belajar.
Seiring dengan bertambahnya waktu, semakin besar pula modal untuk pendidikan. Sekolah pun semakin berkembang seiring dengan besarnya tuntutan pendidikan yang harus dikembangkan. Perubahan dalam intensitas tenaga kependidikan pun kemudian harus dilakukan dan disesuaikan dengan kebutuhan. Sehingga perlu diaplikasikan model ketrampilan mengajar yang bervariasi.

Secara sederhana produktivitas pendidikan dapat diukur dengan melihat indeks pengeluaran riil pendidikan seperti dalam National Income Blue Book, dengan cara menjumlahkan pengeluaran dari banyaknya peserta didik yang dididik. Namun cara ini merupakan pengukuran cara kasar terhadap produk riil kependidikan. Cara ini pun tidak menceritakan sama sekali tentang kualitas lulusan lembaga pendidikan, juga derajat efisiensi berbagai sumber yang digunakan. Sehingga pengukuran output pendidikan dengan cara yang rasional penting untuk dipertimbangkan, namun juga perlu disadari bahwa pengukuran ini tidak dapat memberi indikasi langsung mengenai kuantitas pengajaran yang diterima setiap peserta didik.

Kriteria keberhasilan manajemen pendidikan adalah produktivitas pendidikan yang dapat diukur dari sudut efektivitas dan efesiensi pendidikan. Efektivitas pendidikan dapat dilihat dari sudut prestasi, mutu, nilai ekonomis, dan proses pendidikan. Sementara itu, maksud efesiensi pendidikan adalah dengan memanfaatkan tenaga, fasilitas, dan waktu sesedikit mungkin yang mampu menghasilkan sesuatu yang banyak, bermutu, relevan, dan bernilai ekonomi yang tinggi. Efesiensi pendidikan memiliki arti sebagai hubungan antara pendayagunaan sumber-sumber pendidikan yang terbatas sehingga mencapai optimalisasi yang tinggi. Kalau efektivitas membandingkan antara input atau sumber daya dengan output.

Tampaknya, baik efektivitas maupun efesiensi pendidikan sama-sama berorientasi pada hasil. Hanya saja pada efektivitas ada usaha mewujudkan relevansi antara perencanaan dengan tujuan, sedangkan pada efesiensi terdapat usaha mewujudkan fungsi maksimal dari sumber daya yang ada. Efesiensi ini tidak berbeda sama sekali dengan prinsip ekonomi yang menyatakan penggunaan modal yang sedikit mungkin untuk menghasilkan keuntungan yang sebanyak mungkin. Bedanya, keberhasilan ekonomi melalui prinsip ini bisa berkonotasi merugikan orang lain, sedangkan dalam pendidikan tidak berimbas pada kerugian peserta didik.

Allan Thomas sebagaimana dikutip Mulyasa maupun Nanang Fatah mengatakan bahwa produktivitas pendidikan dapat ditinjau dari tiga dimensi berikut ini.

  1. Produktivitas sekolah dari segi keluaran administratif, yaitu seberapa baik layanan yang diberikan oleh guru, kepala sekolah, maupun yang lain dalam proses pendidikan.
  1. Produktivitas sekolah dari segi keluaran perubahan perilaku dengan melihat nilai-nilai yang diperoleh peserta didik dalam periode belajar tertentu.
  1. Produktivitas sekolah dari keluaran ekonomis yang berkaitan dengan pembiayaan layanan pendidikan di sekolah. Hal ini menyangkut “harga“ layanan yang diberikan dan “perolehan“ yang ditimbulkan oleh layanan itu atau disebut “peningkatan nilai balik“.

 

Dari uraian di atas, nampak jelas bahwa pengukuran produktivitas pendidikan erat kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi, yang sangat bergantung pada akurasi kerangka yang digunakan dalam analisis dan kualitas data. Dalam konteks ini agaknya tidak perlu diperdebatkan bagaimana pengukuran pendidikan dalam pertumbuhan ekonomi, sebab umumnya riset mengenai ini membuktikan bahwa peranan pendidikan tetap substansial dalam pertumbuhan ekonomi. Sehubungan dengan hal tersebut, untuk mengetahui produktivitas pendidikan dalam konteks peningkatan mutu pendidikan, antara lain dapat dilakukan dengan analisis efektifitas biaya, analisis biaya minimal, dan analisis manfaat

Hal ini mengandung pengertian bahwa produktivitas ditentukan oleh fungsi administratif, psikologis, dan ekonomis. Dalam konteks pendidikan Islam, diharapkan fungsi tersebut bisa dikembangkan dengan tambahan fungsi lain, seperti fungsi sosial dan fungsi kultural. Produktivitas sekolah dari segi keluaran sosial dapat diperhatikan pada seberapa jauh wawasan bermasyarakat yang diperoleh dalam proses pembelajaran oleh peserta didik, kemudian seberapa baik mereka mampu mengaplikasikan bahkan mengembangkannya dimasyarakat, baik masyarakat sekolah maupun masyarakat luas. Sementara itu, produktivitas sekolah dari segi keluaran kultural dapat diperhatikan pada seberapa besar peserta didik mampu berkreasi sebagai akibat rangsangan dari pembelajaran disekolah.

Dua fungsi sebagai penentu produktivitas ini begitu bermakna dalam pengembangan. Naluri pengembangan ini menjadi salah satu titik kelemahan pendidikan di Indonesia sehingga daya pikir lulusan-lulusan sekolah menjadi tumpul. Akibatnya, dalam berpikir mereka sangat terikat, kering gagasan atau ide energik, kemudian memperbanyak pengangguran. Ini semua terjadi karena model pembelajarannya lebih menekankan pada penguasaan hafalan. Injeksinya melalui pola pembelajaran yang menjadikan peserta didik bersikap aktif-kreatif, memburu, dan menemukan sesuatu. Bila ini terwujud berarti pola pembelajaran itu efektif.

Menurut Madhi, kepemimpinan efektif adalah kepemimpinan yang dibarengi oleh pemimpin yang mampu menerjemahkan fungsinya menjadi perilaku nyata. Kepemimpinan efektif bukan sekedar pusat kedudukan atau kekuatan, tetapi merupakan interaksi aktif yang efektif.[6]

Seorang pemimpin itu adalah berfungsi untuk memastikan seluruh tugas dan kewajiban dilaksanakan di dalam suatu organisasi. Seseorang yang secara resmi diangkat menjadi kepala suatu group I kelompok bisa saja ia berfungsi atau mungkin tidak berfungsi sebagai pemimpin. Seorang pemimpin adalah seseorang yang unik dan tidak diwariskan secara otomatis tetapi seorang pemimpin haruslah memiliki karekteristik tertentu yang timbul pada situasi -situasi yang berbeda.[7] Efektivitas kepemimpinan dalam mencapai tujuan dapat diperoleh dengan cara sebagai berikut.

  1. Kapabilitas (al-kafa’ah), kemampuan yang berkesinambungan, bekerja, dan mempresentasikannya.
  1. Pemahaman (al-fahm), yaitu ketajaman melihat tujuan dan memahami konsepsinya.
  1. Koordinasi (al-tandhim), artinya kemampuan mendefinisikan tugas merencanakan hubungan kerja dan mengorganisasikannya, mengefektifkan penyampaian dan penerimaan informasi.

 

Perpaduan al-kaf’ah, al-fahm, dan al-tandhim dapat mengontrol perencanaan supaya bisa diarahkan sesuai dengan tujuan pendidikan yang ingin dicapai. Tentunya, disamping ketiga kondisi itu harus ada rasionalisasi, baik pada tingkat perencanaan maupun tujuan. Perencanaan rasional artinya sesuai dengan potensi yang ada, sedang tujuannya juga rasional, artinya sangat memungkinkan untuk dicapai.

Adapun “efesiensi“ menurut Ibrahim Bafadhal, “Merupakan suatu konsepsi perbandingan antara pelaksanaan suatu program dengan hasil akhir yang diraih atau dicapai“. Rendahnya biaya dan tenaga yang dikerahkan dalam pelaksanaan suatu program, tapi diiringi hasil yang semakin tinggi berarti sangat efesien. Apabila biaya dan tenaga yang dikeluarkan dalam pelaksanaan suatu program tinggi, sedangkan hasil yang dicapai juga tinggi berarti belum efesien, apalagi bila biaya dan tenaga yang dikerahkan tergolong tinggi sedangkan hasil yang dicapai rendah berarti sangat tidak efesien, bahkan pemborosan.

Dalam pandangan Islam, pemborosan itu menjadi larangan karena mengarah pada kerugian, bahkan kehancuran. Allah swt berfirman:

ÏN#uäur #sŒ 4’n1öà)ø9$# ¼çm¤)ym tûüÅ3ó¡ÏJø9$#ur tûøó$#ur È@‹Î6¡¡9$# Ÿwur ö‘Éj‹t7è? #·ƒÉ‹ö7s? ÇËÏÈ ¨bÎ) tûï͑Éj‹t6ßJø9$# (#þqçR%x. tbºuq÷zÎ) ÈûüÏÜ»u‹¤±9$# ( tb%x.ur ß`»sÜø‹¤±9$# ¾ÏmÎn/tÏ9 #Y‘qàÿx. ÇËÐÈ

(26) Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. (27) Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah Saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. (Q.S al-Isra’: 26-27)[8]

 

Ayat ini mengandung beberapa pesan yang dapat kita angkat: (1) Seseorang perlu memiliki prioritas tertentu; (2) Prioritas itu diberikan kepada orang-orang yang membutuhkan; (3) Anjuran bersikap hemat dalam mengatur ekonomi; (4) Larangan bersikap boros (menjadi pemboros); dan (5) Pemborosan bukan hanya terkait dengan dimensi ekonomi melainkan juga terkait dengan dimensi teologi.

Untuk menghindari pemborosan (tabdzir)  sekaligus mengembalikan kepada efesiensi dibutuhkan pengondisian dan langkah-langkah strategis. Mulyasa menyatakan, “Upaya peningkatan efisien pendidikan paling tidak dapat ditentukan oleh dua hal, yakni manajemen pendidikan yang profesional dan partisipasi dalam pengelolaan pendidikan yang meluas. Sedangkan Made Pidarta mengatakan bahwa manajemen yang efisien dapat diperoleh dengan cara sebagai berikut:

  1. Mengerjakan sesuatu dengan benar.
  1. Kalau terjadi permasalahan dalam organisasi hendaknya segera diselesaikan dengan sebaik-baiknya.
  1. Mengamankan sumber-sumber pendidikan dengan cara mengoordinasikan sumber-sumber pendidikan itu dengan sebaik-baiknya.
  1. Setiap petugas baik pegawai atau guru/dosen diharuskan mengikuti tugas-tugas pekerjaan.
  1. Setiap manajer diharapkan dapat menekan biaya pendidikan dengan tidak mengorbankan produksi.

 

Efisiensi ini sangat bermakna dalam pengelolaan lembaga pendidika Islam. Ada beberapa alasan untuk mendasari makna efesiensi itu khususnya bagi lembaga pendidikan Islam, baik alasan konvensional maupun fungsional, antara lain sebagai berikut:

  1. Secara realitas faktor terbesar kendala lembaga pendidikan  Islam adalah persoalan pendanaan. Dengan melakukan efisiensi, dana yang serba terbatas bahkan serba kurang itu dapat dikelola untuk mewujudkan hasil yang memadai.
  1. Secara strategis dapat melatih para pimpinan lembaga pendidikan Islam untuk senantiasa berfikir dan bertindak secara produktif (berorientasi menghasilkan sesuatu).
  1. Secara psikologis, ketika pemimpin lembaga pendidikan Islam mau menjalankan tugasnya agar dapat memantapkan niatnya bahwa kepemimpinannya itu untuk mengembangkan lembaga bukan memperkaya diri melalui lembaga itu.
  1. Secara fungsional, penerapan prinsip efesiensi dalam mengelola lembaga pendidikan Islam dapat dilakukan penghematan biaya dan tenaga dengan tidak mengorbankan hasil yang ingin dicapai.

 

Dengan begitu, prinsip efisiensi ini harus dimiliki oleh komunitas lembaga pendidikan Islam dengan cara sebagai berikut:

  1. Mentradisikan mereka untuk serba menghemat biaya mapun tenaga.
  1. Mentradisikan mereka untuk senantiasa menyeleksi kebutuhan yang penting-penting saja.
  1. Mentradisikan mereka untuk konsisten dengan skala prioritas terutama bila terjadi kesenjangan antara sumber dana serta daya daya dengan tingkat kebutuhan.
  1. Mentradisikan mereka untuk menjalankan komitmen mengaplikasikan skala prioritas itu.
  1. Mentradisikan mereka untuk mampu merealisasikan hasil yang baik hanya dengan biaya dan tenaga yang relatif sedikit.

Hal ini bukan berarti biaya pendidikan Islam harus dikurangi, tetapi bagaimana dengan biaya yang relatif kecil dapat mencapai hasil yang relatif besar. Konsekuensinya, bila biaya yang dipakai bertambah besar, maka hasil yang dicapai semakin besar pula. Alokasi biaya untuk pendidikan Islam itu harus diorientasikan untuk mencapai hasil pendidikan Islam yang sangat memuaskan semua pihak, baik siswa/mahasiswa/santri, guru/dosen/kyai/ustadz, masyarakat, pemerintah, maupun para pengguna lulusan.[9]

 

 

BAB III

PENUTUP

 

Kesimipulan

  1. Produktivitas (dalam pengertian yang umum) , sangat berkaitan dengan upaya peningkatan mutu. Dalam konteks pendidikan, produktivitas berkaitan dengan mutu atau kualitas pendidikan.
  2. Peningkatan produktivitas pendidikan mengandung beberapa aspek , antara lain : efektivitas, efisiensi dan akuntabilitas penyelenggaraan pendidikan di sekolah.
  3. Faktor-faktor yang berkaitan dengan produktivitas, adalah : kurikulum , sarana dan prasarana, manajerial, kepemimpinan, dan sebagainya

 

Efektifitas, efisiensi, serta produktivitas manajemen pendidikan harus ditetapkan sejak awal agar dampaknya dapat dideteksi sejak dini terhadap pencapaian tujuan pendidikan. Selain itu, efektifitas, efisiensi, dan produktifitas menjadi prasarat utama untuk memperjelas orientasi dalam pengelolaan suatu lembaga pendidikan Islam. Sehingga lembaga pendidikan tampil sebagai lembaga yang memiliki daya tarik dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Agama Departemen. 1990.  Al-Qur’an dan Terjemahnya.  Jakarta: Depag RI.

 

Irawati Nisrul,  Kepemimpinan Efektif, Kepemimpinan Yang Mampu Mengambil Keputusan Yang Tepat, (Medan: Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara, 2004)

 

Mulyasa. E. 2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi; Karakteristik dan Implementasi. Bandung : P.T. Remaja Rosdakarya.

 

Mulyasa. E. 2003. Manajemen Berbasis Sekolah; Konsep, Strategi dan Implementasi . Bandung : P.T. Remaja Rosdakarya.

 

Pendidikan Nasional Departemen. 2000. Panduan Manajemen Sekolah. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah.

 

Permendiknas No. 22, 23 dan 24 Tahun 2007

 

Qomar Mujamil. 2007. Strategi Baru Pengelolaan Lembaga Pendidikan Islam; Manajemen Pendidikan Islam, Surabaya: Erlangga.

 

Raihan Abul. Efektifitas, Efisiensi, Dan Produktivitas Manajemen Peningkatan Mutu Pendidikan Islam. Dalam http://Abulraihan.Wordpress.Com/2009/05/25/Efektifitas-Efisiensi-Dan-Produktivitas-Manajemen-Peningkatan-Mutu-Pendidikan-Islam/ Diakses Minggu 10 Juli 2011.

 

Sukmadinata Nana Syaodih. 1997. Pengembangan Kurikum; Teori dan Praktek. Bandung: P.T. Remaja Rosdakarya.

 


[1] Abul Raihan, Efektifitas, Efisiensi, Dan Produktivitas Manajemen Peningkatan Mutu Pendidikan Islam, dalam http://Abulraihan.Wordpress.Com/2009/05/25/Efektifitas-Efisiensi-Dan-Produktivitas-Manajemen-Peningkatan-Mutu-Pendidikan-Islam/, Diakses Minggu 10 Juli 2011

[2] Untuk selanjutnya kata “organisasi” bisa dipahami dengan “Lembaga Pendidikan Islam” di sesuaikan dengan judul besar pembahasannya.

[3] E. Mulyasa. Kurikulum Berbasis Kompetensi; Karakteristik dan Implementasi. (Bandung : P.T. Remaja Rosdakarya. 2003)

[4] E. Mulyasa. Manajemen Berbasis Sekolah; Konsep, Strategi dan Implementasi . (Bandung : P.T. Remaja Rosdakarya. 2003)

[5] Dewan Produktivitas Nasional , 1983

[6] Mujamil Qomar, Manajemen Pendidikan Islam, (Surabaya: Erlangga, 2007) H. 297-300

[7] Nisrul Irawati,  Kepemimpinan Efektif, Kepemimpinan Yang Mampu Mengambil Keputusan Yang Tepat, (Medan: Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara, 2004), h. 2

[8] Depag RI, Al-Qor’an Dan Tarjamahnya, (Jakarta: Depag RI, 1990) H.

[9] Mujamil Qomar, Manajemen Pendidikan Islam…, H. 300-304

FacebookTwitterGoogle+LinkedIn

PERENCANAAN PENDIDIKAN DALAM MANAJEMEN MUTU TERPADU PENDIDIKAN ISLAM

 

Oleh: Afiful Ikhwan*

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.    Latar Belakang Masalah

Perencanaan adalah sesuatu yang penting sebelum melakukan sesuatu yang lain. Perencanaan dianggap penting karena akan menjadi penentu dan sekaligus memberi arah terhadap tujuan yang ingin dicapai. Dengan demikian suatu kerja akan berantakan dan tidak terarah jika tidak ada perencaan yang matang, perencaan yang matang dan disusun dengan baik akan memberi pengaruh terhadap ketercapaian tujuan. Penjelasan ini makin menguatkan alasan akan posisi stragetis perencanaan dalam sebuah lembaga dalam perencanaan merupakan proses yang dikerjakan oleh seseorang manajer dalam usahanya untuk mengarahkan segala kegiatan untuk meraih tujuan.

Berdasarkan penjelasan tersebut dapat dipahami perencanaan menentukan berhasil tidaknya suatu program, program yang tidak melalui perencanaan yang baik cenderung gagal. Dalam arti kegiatan sekecil dan sebesar apapun jika tanpa ada perencanaan kemungkinan besar berpeluang untuk gagal.

Hal tersebut juga berlaku dalam sebuah lembaga, seperti lembaga pendidikan, lebih khusus lembaga pendidikan Islam. Lembaga pendidikan yang tidak mempunyai perencanaan yang baik akan mengalami kegagalan. Hal ini tentunya makin memperjelas posisi perencanaan dalam sebuah lembaga.

Untuk memperlancar jalannya sebuah lembaga diperlukan perencanaan, dengan perencanaan akan mengarahkan lembaga tersebut menuju tujuan yang tepat dan benar menurut tujuan lembaga itu sendiri. Artinya perencanaan memberi arah bagi ketercapaian tujuan sebuah system, karena pada dasarnya system akan berjalan dengan baik jika ada perencanaan yang matang. Perencanaan dianggap matang dan baik jika memenuhi persyaratan dan unsur-unsur dalam perencanaan itu sendiri.


 

 

 

B.     Rumusan Masalah

1.      Apa pengertian perencanaan pendidikan?

2.      Apa saja komponen perencanaan pendidikan?

3.      Bagaimana model-model perencanaan pendidikan?

4.      Apa fungsi perencanaan pendidikan?

5.      Apa saja unsur dan syarat menyusun perencanaan pendidikan?

6.      Bagaimana ciri-ciri perencanaan pendidikan?

7.      Bagaimana prinsip-prinsip perancangan dan implementasi perencanaan pendidikan ?

8.      Apa saja jenis perencanaan pendidikan ?

9.      Bagaimana rencana strategi dalam perencanaan pendidikan ?

10.  Bagaimana proses dan tahapan perencanaan pendidikan ?

 

C.    Tujuan Masalah

1.      Untuk mengetahui pengertian perencanaan pendidikan

2.      Untuk mengetahui komponen perencanaan pendidikan

3.      Untuk mengetahui model-model perencanaan pendidikan

4.      Untuk mengetahui fungsi perencanaan pendidikan

5.      Untuk mengetahui unsur dan syarat menyusun perencanaan pendidikan

6.      Untuk mengetahui ciri-ciri perencanaan pendidikan

7.      Untuk mengetahui prinsip-prinsip perancangan dan implementasi perencanaan pendidikan

8.      Untuk mengetahui jenis perencanaan pendidikan

9.      Untuk mengetahui rencana strategi dalam perencanaan pendidikan

10.  Untuk mengetahui proses dan tahapan perencanaan pendidikan

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.    Pengertian Perencanaan Pendidikan

Adapun defenisi Perencanaan Pendidikan menurut para ahli atau para pakar manajemen adalah antara lain :

a.       Menurut, Prof. Dr. Yusuf Enoch

Perencanaan Pendidikan, merupakan suatu proses yang yang mempersiapkan seperangkat alternative keputusan bagi kegiatan masa depan yang diarahkan kepadanpencapaian tujuan dengan usaha yang optimal dan mempertimbangkan kenyataan-kenyataan yang ada di bidang ekonomi, sosial budaya serta menyeluruh suatu Negara.

b.      Beeby, C.E.

Perencanaan Pendidikan merupakan suatu usaha melihat ke masa depan ke masa depan dalam hal menentukan kebijaksanaan prioritas, dan biaya pendidikan yang mempertimbangkan kenyataan kegiatan yang ada dalam bidang ekonomi, social, dan politik untuk mengembangkan potensi system pendidikan nasioanal memenuhi kebutuhan bangsa dan anak didik yang dilayani oleh system tersebut.

c.       Menurut Guruge (1972)

Perencanaan Pendidikan merupakan proses mempersiapkan kegiatan di masa depan dalam bidang pembangunan pendidikan.

d.      Menurut Albert Waterson (Don Adam 1975)

Perencanaan Pendidikan adala investasi pendidikan yang dapat dijalankan oleh kegiatan-kegiatan pembangunan lain yang di dasarkan atas pertimbangan ekonomi dan biaya serta keuntungan sosial.

e.       Menurut Coombs (1982)

Perencanaan pendidikan suatu penerapan yang rasional dianalisis sistematis proses perkembangan pendidikan dengan tujuan agar pendidikan itu lebih efektif dan efisien dan efisien serta sesuai dengan kebutuhan dan tujuan para peserta didik dan masyarakat.

f.       Menurut Y. Dror (1975)

Perencanaan Pendidikan merupakan suatu proses mempersiapkan seperangkat keputusan untuk kegiatan-kegiatan di masa depan yang di arahkan untuk mencapai tujuan-tujuan dengan cara-cara optimal untuk pembangunan ekonomi dan social secara menyeluruh dari suatu Negara.

Jadi, definisi perencanaan pendidikan apabila disimpulkan dari beberapa pendapat tersebut, adalah suatu proses intelektual yang berkesinambungan dalam menganalisis, merumuskan, dan menimbang serta memutuskan dengan keputusan yang diambil harus mempunyai konsistensi (taat asas) internal yang berhubungan secara sistematis dengan keputusan-keputusan lain, baik dalam bidang-bidang itu sendiri maupun dalam bidang-bidang lain dalam pembangunan, dan tidak ada batas waktu untuk satu jenis kegiatan, serta tidak harus selalu satu kegiatan mendahului dan didahului oleh kegiatan lain.

Dengan demikian perencanaan adalah usaha untuk menggali siapa yang bertangungjawab terhadap berbagai aktifitas tertentu untuk mencapai tujuan bersama. Aktifitas tersebutkan tergambar dalam sebuah perencanaan yang matang dan komprehensif.. Di sisi lain, perencanaan dapat dikatakan sebagai usaha mencari penangggung jawab terhadap berbagai rumusan kebijakan untuk dilaksanakan bersama sesuai dengan bidang masing-masing.[1]

 

B.     Komponen Perencanaan Pendidikan

Secara konsepsional, bahwa perencanaan pendidikan itu sangat ditentukan oleh cara, sifat, dan proses pengambilan keputusan, sehingga nampaknya dalam hal ini terdapat banyak komponen yang ikut memproses di dalamnya. Adapun komponen-komponen yang ikut serta dalam proses ini adalah :

1.   Tujuan pembangunan nasional bangsa yang akan mengambil keputusan dalam rangka kebijaksanaan nasional dalam rangka kebijaksanaan nasional dalam bidang pendidikan.

2.   Masalah strategi adalah termasuk penanganan kebijakan (policy) secara operasional yang akan mewarnai proses pelaksanaan dari perencanaan pendidikan. Maka ketepatan pelaksanaan dari perencanaan pendidikan.

 

Dalam penentuan kebijakan sampai kepada palaksanaan perencanaan pendidikan ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu : siapa yang memegang kekuasaan, siapa yang menentukan keputusan, dan faktor-faktor apa saja yang perlu diperhatikan dalam pengambilan keputusan. Terutama dalam hal pemegang kekuasaan sebagai sumber lahirnya keputusan, perlu memperoleh perhatian, misalnya mengenai system kenegaraan yang merupakan bentuk dan system manajemennya, bagaimana dan siapa atau kepada siapa dibebankan tugas-tugas yang terkandung dalam kebijakan itu. Juga masalah bobot u ntuk jaminan dapat terlaksananya perencanaan pendidikan. Hal ini dapat diketahui melalui output atau hasil system dari pelaksanaan perencanaan pendidikan itu sendiri, yaitu dokumen rencana pendidikan.

Dari beberapa rumusan tentang perencanaan pendidikan tadi dapat dimaklumi bahwa masalah yang menonjol adalah suatu proses untuk menyiapkan suatu konsep keputusan yang akan dilaksanakan di masa depan. Dengan demikian, perencanaan pendidikan dalam pelaksanaan tidak dapat diukur dan dinilai secara cepat, tapi memerlukan waktu yang cukup lama, khususnya dalam kegiatan atau bidang pendidikan yang bersifat kualitatif, apalagi dari sudut kepentingan nasional. [2]

 

C.    Model-model Perencanaan Pendidikan

Beberapa model perencanaan pendidikan yang patut diketahui, antara lain:

a.       Model Perencanaan Komperehensif

Model ini terutama digunakan untuk menganalisis perubahan-perubahan dalam system pendidikan secara keseluruhan. Di samping itu berfungsi sebagai suatu patokan dalam menjabarkan rencana-rencana yang lebih spesifik kea rah tujuan-tujuan yang lebih luas.

b.      Model Target Setting

Model ini diperlukan dalam upaya melaksanakan proyeksi ataupun memperkirakan tingkat perkembangan dalam kurun waktu tertentu. Dalam persiapannya dikenal:

1.      Model untuk menganalisis demografis dan proyeksi penduduk

2.      Model untuk memproyeksikan enrolmen( jumlah siswa terdaftar ) sekolah

3.      Model untuk memproyeksikan kebutuhan tenaga kerja.

c.       Model Costing dan keefektifan biaya

Model ini sering digunakan untuk menganalisis proyek-proyek dalam criteria efisien dan efektifitas ekonomis. Dengan model ini dapat diketahui proyek yang paling fleksibel dan memberikan suatu perbandingan yang paling baik di antara proyek-proyek yang menjadi alternative penanggulangan masalah yang dihadapi.
Penggunaan model ini dalam pendidikan didasarkan pada pertimbangan bahwa pendidikan itu tidak terlepas pada pertimbangan bahwa pendidikan itu tidak terlepas dari masalah pembiayaan. Dan, dengan sejumlah biaya yang dikeluarkan selama proses pendidikan, diharapkan dalam kurun waktu tertentu dapat memberikan benefit tertentu.

d.      Model PPBS

PPBS (planning, programming, budgeting system) bermakna bahwa perencanaan, penyusunan program dan penganggaran dipandang sebagai suatu system yang tak terpisahkan satu sama lainnya. PPBS merupakan suatu proses yang komprehensif untuk pengambilan keputusan yang lebih efektif. Beberapa ahli memberikan pengertian, antara lain: Kast Rosenzweig (1979) mengemukakan bahwa PPBS merupakan suatu pendekatan yang sistematik yang berusaha untuk menetapkan tujuan, mengembangkan program-program, untuk dicapai, menemukan besarnya biaya dan alternative dan menggunakan proses penganggaran yang merefleksikan kegiatan program jangka panjang. Sedangkan Harry J. Hartley (1968) mengemukakan bahwa PPBS merupakan proses perencanaan yang komprehensif yang meliputi program budget sebagai komponen utamanya.

Berdasarkan kedua pengertian tersebut di atas dapat di simpulkan bahwa:

1.      PPBS merupakan pendekatan yang sistematik. Oleh kaena itu, untuk menerapkan PPBS diperlukan pemahaman tentang konsep dan teori system.

2.      PPBS merupakan suatu proses perencanaan komprehensif. Penerapannya hanya dimungkinkan untuk masalah-masalah yang kompleks dan dalam organisasi yang dihadapkan pada masalah yang rumit dan komprehensif.

Untuk memahami PPBS secara baik, maka perlu kita perhatikan sifat-sifat esensial dari system ini. Esensi dari PPBS adalah sebagai berikut:

1.      Memperinci secara cermat dan menganalisis secara sistematik terhadap tujuan yang hendak dicapai.

2.      Mencari alternative-alternatif yang relevan, cara yang berbeda-beda untuk mencapai tujuan.

3.      Menggambarkan biaya total dari setiap alternative, baik langsung ataupun tidak langsung, biaya yang telah lewat ataupun biaya yang akan dating, baik biaya yang berupa uang maupun biaya yang tidak berupa uanag.

4.      Memberikan gambaran tentang efektifitas setiap alternative dan bagaimana alternative itu mencapai tujuan.

5.      Membandingkan dan menganalisis alternative tersebut, yaitu mencari kombinasi yang memberikan efektivitas yang paling besar dari suber yang ada dalam pencapaian tujuan.[3]

 

D.    Fungsi Perencanaan Pendidikan

Perencanaan merupakan tindakan menetapkan terlebih dahulu apa yang akan dikerjakan, bagaimana mengerjakannya, apa yang harus dikerjakan dan siapa yang akan mengerjakannya. Beishline (1957) mengungkapkan bahwa;

Perencanaan menentukan apa yang harus dicapai (menentukan waktu secara kualitatif), dan bila hal itu harus dicapai, dimana hal itu harus dicapai, bagaimana hal itu harus dicapai, siapa yang bertanggungjawab, mengapa hal itu harus dicapai.

Dari pendapat tersebut jelas diketahui bahwa pada dasarnya membuat perencanaan itu menyangkut 5 W+I H (What, Who, Why, When, Where dan How) yang secara singkatnya akan dijelaskan sebagai berikut;

1.      What : Apa yang harus dikerjakan

2.      Why : Mengapa pekerjaan itu harus dilakukan

3.      Who : Siapa yang akan mengerjakan

4.      When : Kapan pekerjaan tersebut dikerjakan

5.      Where : Dimana pekerjaan itu dilakukan

6.      How : Bagaimana cara mengerjakannya

 

Untuk itulah dalam membuat sebuah perencanaan yang baik, seorang pemimpin harus benar-benar tanggap terhadap kondisi lingkungan sekitarnya dan bisa memprediksi kemungkinan-kemungkinan yang mungkin muncul di masa yang akan datang. Lebih lanjut Roger A. Kauffman (1972) menjelaskan bahwa Perencanaan adalah proses penentuan tujuan atau sasaran yang hendak dicapai dan menetapkan jalan serta sumber yang diperlukan untuk seefisien dan seefektif mungkin.

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa dalam membuat perencanaan membutuhkan data dan informasi agar keputusan yang diambil tidak lepas kaitannya dengan masalah yang dihadapi pada masa yang akan dating. Sesuai dengan yang diungkapkan oleh E. Mc. Farland dalam bukunya Supervision Management bahwa;

Perencanaan adalah Suatu keaktifan pimpinan untuk meramalkan keadaan yang akan datang dalam mencapai harapan, kondisi dan hasil yang akan datang.

Merujuk pada pendapat tersebut, berdasarkan kurun waktunya sering kita kenal dengan perencanaan tahunan atau jangka pendek (kurang dari 5 tahun), rencana jangka menengah/sedang (5-10 tahun) dan rencana jangka panjang (diatas 10 tahun).

Memang benar untuk membuat perencanaan yang baik seorang pemimpin harus mampu memprediksi jauh kedepan, kemungkinan-kemungkinan yang mungkin terjadi, baik itu kesalahan maupun kegagalan sehingga hasil yang dicapai akan sesuai dengan harapan. Untuk membuat perencanaan yang baik harus memuat beberapa hal sebagai berikut;

  1. Penjelasan dan perincian kegiatan yang dibutuhkan, sumber daya apa yang harus diperlukan dalam melaksanakan kegiatan tersebut agar apa yang menjadi tujuan bisa dihasilkan.
  2. Penjelasan mengapa rencana itu harus dilakukan atau dikerjakan dan mengapa tujuan tertentu harus dicapai.
  3. Penjelasan tentang lokasi secara fisik dimana dimana rencana tindakan harus dilakukan sehingga tersedia fasilitas sumber daya yang dibutuhkan.
  4. Penjelasan tentang kapan dimulainya tindakan dan kapan kapan selesainya tindakan itu di setiap unit organisasinya dengan menggunakan standar waktu yang telah ditetapkan dalam unitnya.
  5. Penjelasan tentang para petugas yang akan mengerjakan pekerjaannya baik mengenai kualitas dan kuantitas yang dikaitkan dengan standar mutu.
  6. Penjelasan secara rinci tentang teknik-teknik mengerjakan tindakan yang telah ditetapkan, sehingga tindakan yang dimaksud akan dapat dijalankan dengan benar.

Sedangkan untuk membuat rencana yang baik, sehingga hasilnya sesuai dengan harapan maka perlu melalui beberapa macam proses perencanaan sebagai berikut;

a.       Pendekatan Perkembangan yang menguntungkan (Profitable Growth Approach).

Seperti yang kita ketahui bahwa masyarakat kita semakin hari semakin berkembang. Dengan perkembangan yang terus menerus tersebut akan terjadi ketidakseimbangan antara sarana dan kebutuhan masyarakat. Untuk itulah diperlukan adanya proses perencanaan yang baik sehingga lembaga bisa terus berkembang dan tetap dipercaya oleh masyarakat.

Proses perencanaan tersebut dapat lakukan dengan menganalisa sarana dan prasarana yang dimiliki, kemudian menghubungkannya dengan kebutuhan masyarakat sehingga akan diketahui kemungkinan-kemungkinan yang mungkin muncul, mencari solusi yang terbaik dan perkembangan yang menguntungkan bagi lembaga pasti akan diperoleh.

b.      Pendekatan SWOT (Strength, Weaknesses, Opportunity, Treath).

Perencanaan memang sangat penting untuk dilakukan. Untuk membuat suatu rencana yang baik maka kita perlu memperhatikan dan menganalisa beberapa factor baik ekstern maupun intern. Factor-faktoir tersebut harus menyangkut kelebihan (Strength) yang dimiliki, kelemahannya (Weaknesses), kemungkinan yang mungkin terjadi (Opportunity), dan hambatan yang mungkin dihadapi (Treath).

Setelah keempat factor tersebut diketahui, maka kita dapat menyusun rencana yang strategis yang kemudian diterjemahkan dalam rencana-rencana operasional dengan mencantumkan target-target yang harus dicapai dari rencana operasional tersebut. Di mana secara jelas dapat digambarkan dalam bagan berikut;


Gambar: Proses Perencanaan

 

 

Adapun kegunaan dalam suatu perencanaan adalah sebagai berikut;

a.       Untuk membedakan arah dari setiap kegiatan dengan jelas sehingga hasil yang diperoleh bisa seefektif dan seefisien mungkin.

b.      Untuk mengevaluasi setiap tujuan-tujuan yang sudah dilakukan sehingga penyimpangan-penyimpangan yang terjadi sehingga bisa dihindari lebih awal.

c.       Memudahkan pelaksanaan kegiatan untuk mengidentifikasi hambatan-hambatan yang mungkin muncul sehingga sehingga lebih waspada dan dan dapat diselesaikan dengan cepat.

d.      Menghindari pertumbuhan dan perkembangan yang tak terkendali.

 

E.     Unsur-Unsur dan Syarat-Syarat Menyusun Perencanaan Pendidikan

Perencanaan membutuhkan pemkiran yang mendalam dengan pemikiran yang mendalam akan membantu proses perencanaan yang akan buat. Pemikiran tersebut dilandasi dengan keikhlasan dan keinginan untuk merencanakan suatu sebuah perencanaan bersama. Lebih dari dalam proses perencanaan hendaknya memperhatikan pendapat dan aspirasi bersama, Islam menurut Asnawir dalam bukunya Manajemen Pendidikan, paling tidak dalam menyusun perencanaan pendidikan, termasuk perencanaan pendidikan Islam, perlu memperhatikan empat unsur, pertama tujuan hendaknya jelas, yang tercakup perumusan sasaran untuk mencari solusi dari problem yang ada. Kedua, menetapkan teknik pengumpulan dan pengolahan data. Ketiga, berorentasi ke masa depan yang bersifat prediksi. Keempat, adanya kegiatan yang tersusun, terangkai untuk mencapai tujuan. Keempat unsur tersebut hendaknya menjadi perhatian bagi manajer sebelum menyusun perencanaan. Hal ini perlu karena berhubungan dengan kualitas, efektifitas dan efesiensi dalam isi kebijakan yang tersusun dalam perencanaan.

Selanjutnya selain memperhatikan unsur-unsur tersebut pelu diperhatikan syarat-syarat dalam menyusun perencanaan, yaitu pertama, perencanaan dalam lembaga pendidikan Islam hendaknya memperhatikan dan didasarkan kepada tujuan yang jelas. Kedua, dalam perencanaan hendaknya mengutamakan aspek kesederhanaan, realistis dan praktis. Ketiga, terinci dan memuat segala uraian, klasifikasi kegiatan dan rangkaian kegiatan sehingga memudahkan pelaksanaan serta memedomaninya. Keempat, memperhatikan fleksibilitas sehingga mudah beradaptasi dengan keadaan, kebutuhan dan kondisi dan situasi. Kelima, menghindari duplikasi dalam pelaksanaannya. Dari uraian tersebut tergambar bahwa perencanaan dilakukan terlebih dahulu sebelum pelaksanaan, di sisi lain, perencanaan di susun berdasarkan prioritas, efektif dan efesien.

Perencanaan menurut Asnawir adalah kegiatan yang harus dilakukan pada tingkat permulaan, lebih dari itu perencanaan merupakan aktifitas pemikiran, pemilihan rangkaian tindakan yang mengarah kepada tercapainya tujuan yang ingin diraih. Menurut Asnawir langkah –langkah perencanaan hendaknya meliputi hal-hal sebagai berikut: Pertama, menentukan dan merumuskan tujuan yang hendak dicapai. Kedua, meneliti masalah-masalah atau pekerjaan-pekerjaan yang akan dilakukan. Ketiga, mengumpulan data atau informasi-informasi yang diperlukan. Keempat menentukan tahap-tahap atau rangkaian tindakan. Kelima, merumuskan bagaimana masalah-masalah tersebut akan dipecahkan, dan bagaimana pekerjaan-pekerjaan tersebut di selesaikan. Keenam, menentukan siapa yang akan melakukan dan apa yang mempengaruhi pelaksanaan dari tindakan tersebut. Ketujuh, menentukan cara bagaiman mengadakan perubahan dalam penyusunan rencana.

Ketujuh hal perlu mendapat perhatian dari para menejer yang akan menyusun perencanaan. Jika tidak diperhatian, maka rencana yang disusun dianggap gagal. Kegagalan tersebut kemungkinan lebih besar jika dibandingkan dengan perencanaan yang memperhatikan ketujuh hal tersebut. Dengan demikian ketujuh hal tersebut hendaknya menjadi perhatian para penyusun perencanaan agar tercapai tujuan. bersama. Hal lain yang perlu juga mendapat perhatian dalam menyusun perencanaan adalah jelasnya tujuan yang ingin dicapai, jelasnya tujuan yang kan dicapai, jelasnya potensi yang ada dan yang diharapakan, perlu keseimbangan, kesinambungan, koordinasi, keutuhan, data yang tepat dan menyeluruh serta adanya fleksibilitas.[4]

Hal lain yang perlu mendapatkan perhatian adalah sebagai berikut; pertama perencanaan pendidikan hendaknya mengutamakan nilai- nilai manusiawi, karena pada dasarnya pendidikan membangun manusia. Kedua perencanaan pendidikan hendaknya memberikan kesempatan untuk mengembangkan segala potensi peserta didik seoptimal mungkin. Ketiga perencanaan pendidikan hendaknya memberikan kesempatan yang kepada peserta didik. Keempat, perencanaan pendidikan hendaknya menyeluruh dan sistematis terpadu serta tersusun logis dan rasional. Kelima, perencanaan pendidikan hendaknya bereorientasi kepada pembangunan sumber daya manusia. Keenam, perencanaan pendidikan hendaknya dikembangkan dengan memperhatikan keterkaitan dengan berbagai komponen pendidikan secara sistematis. Ketujuh, perencanaan pendidikan hendaknya menggunakan sumber daya secermat mungkin karena sumber daya yang tersedia langka. Kedelapan, perencanaan pendidikan hendaknya beroreintasi kepada masa datang, karena pendidikan adalah proses jangka panjang yang kesemua itu untuk menghadapi masa depan. Kesembilan, perencanaan lembaga pendidikan hendaknya responsif terhadap kebutuhan yang berkembang di tengah masyarakat. Kesepuluh, perencanaan lembaga pendidikan hendaknya sarana untuk mengembangkan inovasi pendidikan hingga pembaharuan terus menerus.[5]

Dari kutipan tersebut tergambar dengan jelas bahwa perencanaanm lembaga pendidikan Islam sangat rumit. Dengan demikian perencanaan tidak dapat dilakukan tanpa adanya pemikiran yang matang komprehensif dan rasional. Untuk itu perhatian terhadap langkah-langkah perencanaan dan segala yang berkaitan dengan perencanaan penting bagi para manajer.

Paling tidak dalam penyusunan perencanaan hendaknya memenuhi hal tersebut, jika hal tersebut tidak dilalui maka ada kemungkinan renaca yang telah dibuat akan sulit untuk di realisasikan. Dengan demikian untuk menghindarkan dari kegagalan dalam menyusun perencanaan, langkah terbaik adalah menggunakan langkah-langkah yang telah teruji kebenarannya dalam menyusun perencanaan.

 

F.     Ciri-Ciri Perencanaan Pendidikan

Ada beberapa ciri-ciri perencanaan lembaga pendidikan Islam adalah sebagai berikut: pertama, perencanaan pendidikan adalah suatu proses intelektual yang berkesinambungan dalam menganalisis, merumuskan dan menimbang serta memutuskan dengan keputusan yang diambil harus mempunyai konsistensi internal dan berhubungan secara sistematis dengan keputusan-keputusan lain. Kedua perencanaan pendidikan selalu memperhatikan masalah, kebutuhan, situasi, dan tujuan, keadaan perekonomian, keperluan penyediaan dan pengembangan tenaga kerja bagi pembangunan nasional serta memperhatikan factor sosial politik merupakan bagian integral dari perencanaan pembangunan yang menyeluruh. Ketiga, tujuan perencanaan pendidikan adalah menyusun kebijaksanaan dan menggariskan strategi pendidikan yang sesuai dengan kebijakan pemerintah yang menjadi dasar pelaksanaan pendidikan pada masa yang akan datang. Keempat perencanaan pendidikan sebagai perintis atau pelopor dalam kegiatan pembangunan hendaknya memperhatikan masa depan dan bersifat inovatif, kuantitatif dan kualitatif. Kelima, perencanaan pendidikan selalu memperhatikan dan menganalisa factor ekologi, baik internal maupun eksternal.[6] Berdasarkan ciri-ciri tersebut dapat dipahami dalam kontek pelaksanaannya tidak dapat diukur dan dinilai secara instant dan cepat, tetapi membutuhkan waktu yang lama, terutama yang bersifat kualitatif. Kenapa membutuhkan waktu yang lama? Karena pendidikan adalah sebuah pranata, pranata social yang hasilnya membutuhkan waktu yang lama.

 

G.    Prinsip-Prinsip Perancangan dan Implementasi Perencanaan Pendidikan

Perencanaan lembaga pendidikan sangat komplek dan rumit, untuk itu perlu mengetahui prinsip-prinsip dalam proses implementasi dan penyusunan rancangannya. Di antara prinsip-prinsip tersebut adalah; pertama, perencanaan adalah interdisipliner, karena pendidikan sesungguhnya interdispliner terutama yang terkait dengan pembangunan manusia. Kedua, perencanaan bersifat fleksibel, dalam arti tidak kaku tetapi bersifat dinamis serta responsive terhadap tuntutan masyarakat terhadap pendidikan. Ketiga, perencanaan itu obyektif rasional, dalam arti untuk kepentingan umum . keempat, perencanaan dunilai dari apa yang sudah dimiliki. Kelima, perencanaan adalah wahana untuk menghimpun kekuatan kekuatan secara terkoordinir. Keenam, perencanaan disusun sesuai dengan data, perencanaan tanpa adata tidak memiliki kekuatan yang dapat diandalkan. Ketujuh, perencanaan adalah mengendalikan kekuatan sendiri, tidak bersandarkan kepada kekuatan orang lain. Kedelapan, perencanaan bersifat komprehensif dan ilmiah, dalam arti mencakup aspek esensial pendidikan dan disusun secara sistematik dengan menggunakan prinsip dan konsep keilmuan.[7] Prinsip prinsip tersebut berguna dalam proses perancangan perencanaan lembaga pendidikan Islam.

 

H.    Jenis –Jenis Perencanaan Pendidikan

Menurut Asnawir ada tujuh jenis-jenis perencanaan, yang kesemua itu dilihat dari sudut pandang berbeda, di antara jenis-jenis perencanaan tersebut adalah;

  1. Dilihat dari segi waktu, dari segi waktu perencanaan dapat dibagi menjadi tiga yaitu pertama perencanaan jangka panjang, yang termasuk dalam perencanaan jangka panjang adalah rentang waktu sepuluh sampai tiga puluh tahun. Perencanaan jangka panjang ini bersifat umum, dan belum terperinci. Kedua, perencanaan jangka menengah, jangka menengah biasanya mempunyai jangka waktu antara lima sampai sepuluh tahun. Ketiga, perencanaan jangka pendek, yaitu perencanaan yang mempunyai jangka waktu antar satu tahun sampai lima tahun. Dilihat dari segi sifatnya perencanaan dibagi menjadi dua yaitu pertama, perencanaan kuantitatif, yang termasuk perencaan kuantitatif adalah semua target dan sasaran dinyatakan dengan angka-angka. Kedua, perencanaan kualitatif adalah perencanaaan yang ingin dicapai dinyatakan secara kualitas.
  2. Perencanaan dari segi luas wilayah, perencanaan pendidikan dipandang dari segi luas wilayah dapat dibagi menjadi empat, yaitu pertama perencanaan local, yaitu perencanaan yang disusun dan ditetapkan oleh lembaga-lembaga yang ada di daerah-daerah dengan sifat yang terbatas. Kedua, perencanaan regional adalah perencanaan yang ditetap[kan di tingkat propinsi.ketiga, perencanaan nasional, adalah perencanaan di suatau Negara dan dijadikan dasar untuk perencanaan local dan regional. Keempat, perencanaan internasional yaitu perencanaan oleh bebebrapa Negara yang melewati batas-batas suatu negara yang dilaksanakan melalui dari Negara-negara tersebut.

Perencanaan dari segi luas jangkauan terbagi menjadi dua yaitu pertama, perencanaan makro yaitu perencanaan yang bersifat universal, menyeluruh dan meluas. Kedua perencanaan mikro adalah perencanaan yang ditetapkan dan di susun berdasarkan kondisi dan situasi tertentu. Dari segi prioritas pembuatnya perencanaan dapat dibagi menjadi tiga, pertama perencanaan sentralisasi, yaitu perencanaan yang ditentukan oleh pemerintah pusat pada suatu Negara. Kedua perencanaan desentralisasi yaitu perencanaan yang di susun oleh masing-masing wilayah. Ketiga perencanaan dekonsentrasi yaitu perencanaan gabungan antara sentralisasi dengan desentralisasi.

  1. Dari segi obyek perencanaan dibagi menjadi dua: pertama perencanaan rutin yaitu perencanaan yang di susun untuk jangka waktu tertentu yang dilakukan setiap tahun. Kedua perencanaan eksendental, yaitu perencanaan yang di susun sesuai dengan kebutuhan yang mendesak pada saat tertentu. Dari segi proses, perencanaan dapat dibagi menjadi tiga kelompok, pertama perencanaan filosofikal, yaitu perencanaan yang bersifat umum, hanya berupa konsep-konsep dari nilai yang bersifat ideal dan masih memerlukan penafsiran-penafsiran dalam bentuk program. Kedua, perencanaan programial adalah perencanaan berupa penjabaran dari perencanaan filosofikal. Ketiga perencanaan operasional yaitu perencanaan yang jelas dan dapat dilakukan.

I.       Rencana Startegi dalam Perencanaan Pendidikan

Perencanaan strategi adalah usaha sistematis formal dari suatu perusahaan untuk memperjelas sasaran utama, kebijakan-kebijakan dan strategi. Menurut Asnawir perencanaan startegik adalah proses pemikiran tujuan perusahaan atau organisasi, penentuan kbijakan, dan program yang perlu untuk mencapai tujua tertentu. Untuk mencapai tujuan tersebut perlu di susun perencanaan, di antara metode perencanaan strategic adalah sebagai berikut: pertama pendekatan dari atas ke bawah, biasanya dibuat oleh prusahaan yang bersifat sentralisasi. Kedua pendekatan dari bawah, yaitu metode rancangan perencanaan darai bawah ke atas. Ketiga pendekatan interkatif adalah pendekatan manajer dari pusat bersama direksi-direksi berdialog secara terus menrus selama penyusunan rencana, termasuk juga berdialog dengan para staf pusat dan divisi-divisi. Keempat pendekatan perencanaan secara tim adalah pendekatan yang lebih banyak dilakukan pada perusahaan kecil dan bersifat sentralisasi. Kelima pendekatan tingkat ganda adalah pendekatan strategi dirumuskan secara independen pada tingkat korporasi dan pada tingkat unit bisnis.

Dalam perencanaan strategis dapat diambil contoh adalah perencanaan strategic di Perguruan Tinggi Agama Islam. Di antara kondisi obyektifnya adalah, pertama profil Pergururn Tinggi Agam Islam meliputi bidang kelembagaan, bidang ketenagaan, kurikulum, perpustakaan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, kemahasiswaaan, sarana dan prasarana pendidikan. Kedua kekuatan yang tersedia, meliputi kelembagaan letak geografis, factor hsitoris ketenagaan, kurikulum, perpustakaan, penelitian, penerbitan danpengabdian masyarakat. Ketiga kelemahan-kelemahan yang masoih dipunyai, meliputi persepsi masyarakat, tradisi akademis dan etos kerja, pendanaan, pengembangan sumber daya manusia,otonomi lembaga, ketenagaan, perpustakaan, penelitian, penerbitan, dan pengabdian masyarakat, sarana dan prasarana. Keempat beberapa peluang yang meliputi kelembagaan, ketenagaan, kurikulum, perpustakaan, penelitian, penerbitan, dan pengabdian kepada masyarakat, kemahasiswaan, saran dan parsarana. Kelima, tantangan meliputi kelembagaan, ketenagaan, kurikulum, perpustakaan, penelitian, penerbitan dan pengabdian kepada masyarakat, kemahasiswaan, sarana dan prasarana.

Di samping itu perlu diuraikan tahap-tahap strategi seperti arah pengembangan, strategi pengembangan, tahap-tahap pengembangan, selanjutnya bahan-bahan seperti informasi, data yang berkaitan dengan perencanaan masih perlu diuraikan lebih lanjut.

 

J.      Proses dan Tahapan Perencanaan Pendidikan

Untuk lebih menyederhanakan pentahapan perencanaan akan dijelaskan sebagai berikut, pertama need assessment, yaitu kajian terhadap kebutuhan yang mencakup berbagai aspek pembanguan pendidikan lembaga Islam yang telah dilaksanakan, keberhasilan, kesulitan, kekuatan, kelemahan, sumber-sumber yang tersedia, sumber-sumber yang perlu disediakan, aspirasi masyarakat yang berkembang terhadap pendidikan, harapan, cita-cita yang merupakan dambaan masyarakat. Kajian ini menjadi penting karena membandingkan antara antara yang telah terjadi dengan yang akan terjadi. Kedua Formula of Goals and obyektive, artinya perumusan dan sasaran perencanaan merupakan arah perencanaan serta merupakan penjabaran operasional dari aspirasi filosofis masyarakat. Ketiga, Priolicy and priority setting adalah penentuan kebijakan dan prioritas dalam perencanaan pendidikan sebagai muara need assessment. Keempat Program and project formulasion adalah rumusan program dan proyek kegiatan yang merupakan komponen opressional perencanaan pendidikan. Kelima Feasiblitay testing adalah dengan alokasi sumber-sumber yang tersedia seperti sumber dana. Biaya suatu rencana yang disusun secaralogis dan kurat serta cermat merupakan petunjuk tingkat kelayakan rencana. Keenam plan implementation adalah pelaksanaan rencana untuk mewujudkan rencana yang tertulis kedalam perbuatan penjabaran rencana kedalam perbuatan ilmiah yang menetukan apakah suatu rencana baik dan efektif. Ketujuh, evaluation and revisionfor future plan adalah kegiatan untuk menilai tingkat keberhasilan pelaksanaan rencana yang merupakan umpan balik untuk merivisi dan mengadakan penyesuaian rencana untuk periode rencana berikutnya.[8]

 

K.    Pentingnya Perencanaan

Perencanaan mempunyai posisi yang penting dalam sebuah organisasi, tanpa adanya perencanaan maka jalannya organisi tidak jelas arah dan tujuannya. Oleh Karena itu perencanaan penting karena pertama dengan adanya perencanaan diharapan tumbuhnya suatu pengarahan kegiatan, adanya pedoman bagi pelaksanaan kegiatan-kegiatan yang ditujukan kepada pencapaian tujuan. kedua dengan perencanaan, maka dapat dilakukan suatu perkiraan terhadap hal-hal dalam masa pelaksanaan yang akan dilalui. Ketiga perencanaan memberikan kesempatan untuk memilih berbagai alternative tentang cara terbaik atau kesempatan untuk memilih kombinasi cara yang terbaik. Keempat dengan perencanaan dapat dilakukan skala prioritas. Kelima, dengan adanya rencana, maka akan ada suatu alat pengukur atau standar untuk mengadakan pengawasan.[9]

Dengan demikian perencanaan mempunyai peranan penting dalam organisasi publik maupun dalam organisasi yang bersifat pribadi. Dengan adanya perencanaan akan dimungkinkan untuk memprediksi kerja dimasa yang akan datang, bahkan akan mampu memprediksi kemungkinan hasil yang akan dicapai.

 

 

BAB III

PENUTUP

 

A.    Kesimpulan

Ø      Perencanaan adalah suatu proses intelektual yang berkesinambungan dalam menganalisis, merumuskan, dan menimbang serta memutuskan dengan keputusan yang diambil harus mempunyai konsistensi (taat asas) internal yang berhubungan secara sistematis dengan keputusan-keputusan lain, baik dalam bidang-bidang itu sendiri maupun dalam bidang-bidang lain dalam pembangunan, dan tidak ada batas waktu untuk satu jenis kegiatan, serta tidak harus selalu satu kegiatan mendahului dan didahului oleh kegiatan lain.

Ø      Komponen dalam penentuan kebijakan sampai kepada palaksanaan perencanaan pendidikan ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu : siapa yang memegang kekuasaan, siapa yang menentukan keputusan, dan faktor-faktor apa saja yang perlu diperhatikan dalam pengambilan keputusan.

Ø      Model-model Perencanaan Pendidikan : Model Perencanaan Komperehensif,  Model Target Setting, Model Costing dan keefektifan biaya, Model PPBS (planning, programming, budgeting system)

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Asnawir. Manajemen Pendidikan. Padang: IAIN IB Press. 2006

Fattah, Nanang. Landasan Manajemen Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Cetakan kelima 2001

Hamzah, Uno, B. Perencanaan Pembelajara. Jakarta: Bumi Aksara. 2006

Makmun. dkk, Perencanaan Pendidikan, Bandung: Rosda Karya:2007

Syamrilaode. Defenisi Perencanaa Pendidikan Menurut Para Ahli. dalam http://id.shvoong.com/writing-and-speaking/presenting/2063294-definisi-perencanaan-pendidikan-menurut-para/ diakses pada 11 Des 2011

 


[1] B. Uno, Hamzah, Perencanaan Pembelajaran,(Jakarta: Bumi Aksara, 2006), 8.

[2] Syamrilaode, Defenisi Perencanaa Pendidikan Menurut Para Ahli, dalam http://id.shvoong.com/writing-and-speaking/presenting/2063294-definisi-perencanaan-pendidikan-menurut-para/ diakses pada 11 Des 2011

[3] Nanang Fattah, Landasan Manajemen Pendidikan, (Bandung, PT. Remaja Rosdakarya, Cetakan kelima 2001), 37

[4] Asnawir, Manajemen Pendidikan, (Padang: IAIN IB Press, 2006), 20

[5] Makmun, Abin Syamsuddin, dan Saud, Udin Syaefudin, Perencanaan Pendidikan, (Bandung: Rosda Karya:2007), 85

[6] Ibid, 87

[7] Harjanto, Perencanaan Pengajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 2005), 56

[8] Makmun, Abin Syamsuddin, dan Saud, Udin Syaefudin, Perencanaan Pendidikan…, 23

[9] Ibid, 60

 

*) Penulis adalah Mahasiswa PPs IAIN Tulungagung

FacebookTwitterGoogle+LinkedIn

Gallery

slide3 slide2 slide1
FacebookTwitterGoogle+LinkedIn