Archive for : November, 2010

Tasawuf – Konsep Sabar Dalam Ilmu Tasawuf.doc

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

A. LATAR BELAKANG

            Sebagai disiplin ilmu, sebagaimana telah dipaparkan para ilmuan, tasawuf merupakan sebuah disiplin agam yang baru, seperti halnya ilmu ushul fiqh, musthakah ai hadist dan sebagainaya. Karena eksistensunya sebagai salah satu metode peebaikan akhlak yang ajaranya mempunayai landasan yang kuat dalam al-quran dan sunnah rasul saw, dan cara mendekatkan diri kepada allah.

            Sebagai unit dari ilmu tasawuf sendiri yaitu tawakal dan sabar, yang mana kedua hal tersebut mempunyai perang yang sangat domonan dalam merealisasikan urgensi atau pendekatan kepada Allah. Sehingga hal tersebut tidak pernag terlepas dari kehidupan keseharian manusia yang senantisas mengabdikan dirinay kepada allah. Meskopun demikian keduanya itu dalam tatrqan kehidupan itu sama tetapi diantaranay ada hak yang membedakan, secara jelas perbadaan tersebut tidak dapat ataupun sulit untuk dicermati , kecuali bilaman dalam mengetahuinya menggunakan hati nurani yang bersih.

 

B. RUMUSAN MASALAH

  1. Apakah konsep sabar menurut ilmu tasawuf ?
  1. Bagaimankah sebuah konsep tawakal dalam taswuf ?
  1. Dimana letak perbedaan antara sabar dan tawakal ?

 

C. TUJUAN PEMBAHASAN

  1. untuk mengetahui apa itu tawakal dalm tasawuf
  1. mengetahui sabar dalam konsep tasawuf
  1. dan letak perbedaan antara keduanya

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A. Konsep Sabar Dalam Ilmu Tasawuf

a. pengertian sabar

            Kata As-Shobru dalam bahasa Arab berarti: Al-Habsu (belenggu) atau Al-Man’u (larangan) jika ada yang mengatakan “ana as-shabil” (saya seorang prnyabar) artinaya: saya membelenggu nafsuku, atau saya melarang nafsuku.[1]

            Sabar secara istilah, terdapat beberapa pengertian yabg diantaranya adalah: Abu Zakaria Al-Anshori memgemukakan bahwa sabar merupakan kemampuan seseorang mengendalikan diri terhadap sesuatu yang terjadi, baik yang di senangi maupun yang di benci. Menurut Qosim Junaidi sabar adalah mengalihkan perhatian dari urusan dunia kepada urusan akhirat.[2]


 

            Toyib sah dalam bukunya Aqidah Akhlak berpendapat bahwa sabar mempunyai dua macam pengertian yairu:

  1. Sabar yang berarti lapang dada dan tabah dalam menghadapi segala kasus, problematika, musibah dan ujian yang menimpa diri sendiri.
  2. Mushabroh yang berarti tabah dan teguh menghadapi persaingan, teguh mempertahankan prinsip, lebih tabah dan teguh dalam menjalani atau tidak.[3]

Dari sekian banyak definisi sabar dapat disimpulkan, yang dimaksud sabar ialah: Tahan terhadap penderitaan atau sesuatu yang disenagi dengan ikhlas dan ridho serta menyerahkan kepada Allah SWT dan tidaklah dinamakn sabar orang yang menahan diri secara paksa, tetapi sabar yang sebenarnaya ialah sabar dalam arti menyerah kepada allah dengan lapang dada.

b. Pembagian Sabar

Sabar dapat dibagi menjadi 3, yaitu:

1. Sabar terhadap maksiat

            Yaitu menhan diri untuk menghindari perbuatan jahat, dan dari perbuatan hawa nasu, dan menghindarkan diri dari, semua pebuatan yang mempunyai kemungkinan untuk terjerumus kedalam jurang kehinaan.

2. Sabar dalam menghadapi ibadah

            Sabar dalam menghadapi ibadah, dasarnya ialah prinsip-prinsip islam yang sudah lazim, pelaksanaanya perlu latihan yang tekun dan terus menerus, seperti latihan shalat, ini merupakan kewajiban yang memerlukan kesabaran.

3. Sabar dalam  menahan diri dari kemunduran

            Yaitu menhan diri dari surut kebelakang dan tetap berusaha untuk mempertahankan sesuatu yang telah di yakininya, misalnya pada saat membela kebenaran, melindungi kemaslahatan, mempertahankan harta dari perampok, menjaga nama baik

c. Tingkatan Sabar

            Al-Ghazali membagi sabar berdasarkan tingkat pengendalian nafsu dalam diri manusia, yaitu terbagi menjadi tiga tingkatan:

1.Orang yang sanggup mengalahkan hawa nafsunya karena ia mempunyai daya juang yang tinggi.

2.Orang yang kalah oleh hawa nafsunya, ia telah mencoba bertahan atas dorongan hawa nafsunya, tetapi karenya kesabaranya lemah maka ia kalah.

3.Orang yang mempunyai daya tahan terhadap dorongan nafsu tapi suatu ketika ia kalah karena besarnya dorongan nasu. Meskipun demikian, ia bangun lagi dan terus bertahan dengan sabar atas dorongan nafsu tersebut.

 

B. Tawakal dalam konsep ilmu tasawuf

a.Pngertian

            Secara lughawiyah kata tawakal memiliki wazan tafa’ul dari asal kata wikalah yang artinya perwakilan. Jadi orang yang bertawakal kepada seseorang ialah yang dianggapnya sebagai wakilnya dalam mengurus segala urusanya serta menjamin perbaikan dirinya. Dengan demikian kata tawakal berarti mempercayakan sesuatu kepada seseorang.[4] Dan tawakal juga mempunyai makna lain diantaranta adalah “berserah diri dan berpegang teguh kepada allah”. Di sini terdapat dua unsur pokok yaitu, pertama berserah diri dan kedua berpegang teguh. Kedua-duanya merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Tidak dapat dikatakan tawakal kalau belum berserah diri secara ikhlas. Tidak dapat pula dikatakan tawakal kalau belum berpegang kepada-Nya, belum kokoh atau belum bulat pada tingkat haqqul yakin kepada kekuasaan-Nya yang tidak terbatas, keadilan-Nya, kebijaksanaan-Nya, kasih sayang-Nya untuk mengatur segala sesuatu dengan sesempurna-sempurnanya.

            Menurut Imam Al-Ghazali, tawakal ialah menyandarkan sesatu kepada Allah ketika menghadapi sesatu kepentingan, bersandar kepadanya dalam waktu kesukaran, teguh hati tatkala di timpa bencana dengan jiwa yang tenang dan hati yang tabah.[5] 

Syaikh Abu Hamid berkata :"Barangkali ada yang mengira bahwa makna tawakkal adalah meninggalkan pekerjaan secara fisik, meninggalkan perencanaan dengan akal serta menjatuhkaan diri di atas tanah seperti sobekan kain yang dilemparkan, atau seperti daging di atas landasan tempat memotong daging. Ini adalah sangkaan orang-orang bodoh. Semua itu adalah haram menurut hukum syari'at. Sedangkan sya'riat memuji orang yang bertawakkal. Lalu, bagaimana mungkin suatu derajat ketinggian dalam agama dapat diperoleh dengan hal-hal yang dilarang oleh agama pula.? Hakikat yang sesungguhnya dalam hal ini dapat kita katakan, 'Sesungguhnya pengaruh bertawakkal itu tampak dalam gerak dan usaha hamba ketika bekerja untuk mencapai tujuan-tujuannya”[6]

            Adpaun perihal bertawakal tercapat dalam tiga bagian:

  1. Tawakal mengenai Qismah (nasib). Yaitu percaya kepada allah, sebab tidak ada yang luput apa yang dibagikan oleh allah semua makhluk-Nya, artinya tidak akan menyalahi apa yang sudah ditentukan oleh allah untuk kita pasti akan diterima,sebab keputusan allah itu tidak akan berubah. Tawakal itu wajib, karena ia ada.
  2. Dalam hal pertolongan, misalnya jiaka dalam keadaan sedang berjuang lalu mendapat pertolongan, maka hal itu tidak akan luput. Jadi dalam keadaan sedang berjuang harus mengandalkan dan percaya kepada pertolonagan Allah. Kesimpulanaya: jika seseorang sedang berjuang untuk Allah, maka pasti Allah akan menolongnya.
  3. Kemudian tawakal menegenai rizqi dan keperluan, sebab Allah SWT sudah menjamin akan kekuatan untuk bekal beribadah kepada-Nya. Dengan adanya jaminan ini engkau pasti bisa beribadah kepadanya. Allah berfirman, “siapa saja yang bertawakal kepada allah, maka allah akan menjaminya,” (Qs Ath-Thalaq [65]:3)[7].

 

Imam Ahmad berpendapat tentang tawakal yaitu Sekiranya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, niscaya Allah meberimu rizki sebagaimana yang diberikan-Nya kepada burung-burung, berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang". Dalam hadits tersebut dikatakan, burung-burung itu berangkat pagi-pagi dan pulang sore hari dalam rangka mencari rizki. Selanjutnya Imam Ahmad berkata, 'Para sahabat juga berdagang dan bekerja dengan pohon kurmanya. Dan mereka itulah teladan kita. [Dinukil dari Fathul Bari, 11/305-306].[8] Patut kita teladani dan kita cermati juga, bahwasanya tawakal mempunyai daya tahan dan benteng kekuatan yaitu sesutau yang mendoromg seseorang untuk tawakal adalah keinginanya akan jaminan Allah. Jika semua orang ingat akan jaminan Allah pasti akan bertawakal kepada-Nya. Dengan demikian benteng dari bentengnya tawakal ialah ingat akan keagungan allah, kesempurnaan ilmu-Nya dan kudrat-Nya dan mustahil Dia akan menyalahi atau lupa atau tidak mampu akan janji-Nya. Jadi apabila seseorang dawam (membiasakan) terus-menerus ingat akan hal-hal yang di sebutkan semua, pasti ia akan di dorong tawakal kepada allah.

b. tingkatan tawakal

            Syaikh Abu Ali Ad-Daqqad berkata, ada tiga tingkatan bagi orang yang bertwakal;

1. Tawakal

Orang yang bertawakal akan merasa tentram dengan janji-Nya

2. Taslim

Orang yang taslim akan merasa cukup dengan pengetahuan-Nya

3. Tafwidh

Orang yang tafwidh kepada allah akan merasa puas dengan kebijaksanaan-Nya.

Saya mendengar beliau berkata: Tawakal kepada Allah adalah awal, Taslim adalah tengah-tengahnya, dan Tafwidh segenap urusan kepada Allah adalah ujungnya

            Syaikh Abu Ali ad-Daqqad berkata “tawakal sifat orang yang beriman, taslim sifat para wali, dan menyerahkan segenap urusan kepada allah (tafwidh) adalah sifat ahli tauhid”.[9]

c. macam-macam tawakal

            Ada bebrapa macam tawakal yang terjadi pada manusia yaitu diantaranya

  1. Tawakal pada diri

kita yakin pada diri kita dapat berusaha untuk mencari rizqi sebab, badan masih kuat dan kita yakin Allah yang memberti rizqi kepada kita, jika kita berikhtiyar.

  1. Tawakal pada orang

Dia yakin selagi orang itu memberi bantuan kepada-Nya, dia tidak bimbang dengan rizqi sudah ada jaminan hidup diri dan keluarga

  1. Tawakal kepada Allah

Dia tidak peduli orang membnetunya atau tidak, dia tetap bertawakal kepada Allah, bersandar kepada allah dan menyerahkan diri kepada Allah.[10]

d. keutamaan dan hikmah tawakal

            Menurut hamka, keutaamaan yang terpenting dalam tawakal adalah apabila seorang mukmin telah bertawakal, berserah diri kepada Allah. Dengan demikian, dia memperoleh berbagai ilham dari Allah untuk mencapai kemenangan.

            Orang yang bertawakal kepada allah tidak akan berkeluh kesah dan gelisah. Ia akan selalu berada dalam ketenangan, ketentraman, dan kegembiraan. Jika ia memperolah nikmat dan karunia dari allah maka ia akan bersyukur dan jika tidak ia akan bersabar. Ia menyerahkan semua keputusan bahkan dirinya sendiri kepada Allah. Penyerahan diri itu di lakukan dengan sungguh-sungguh dan semata-mata karena allah.

 

C. PERBEDAAN SABAR DAN TAWAKAL

            Secara harfiyah, sabar berarti tabah hati. Menurut Zun Al-Nun Al-Mishary, sabar artinya menjauhkan diri dari hal-hal yang bertentanagan dengan kehendak allah, tetapi tenang ketika mendapatkan cobaan, dan menampakkan sikap cukup walaupun sebenarnya berada dalam kefakiran dalam bidang ekonomi. Selanjutnya Ibn Attha’ mengatakan sabar artinya tetap tabah dalam menghadapi cobaan dengan sikap yang baik.[11] Pada intinya sabar ialah kemampuan seseorang untuk mengendalikan diri terhadap sesuatau yang terjadi baik yang di senangi maupun yang di benci, atau lapang dada dan tabah menghadapi segala kasus, problematika, musibah dan ujian.

            Sedangkan tawakal secara harfiyah  berarti menyerahkan diri. Menurut Al-Qusyairi mengatakan bahwa tawakal tempatnya di dalam hati, dan timbulnya gerak dalam perbuatan tidak mengubah tawakal yang terdapat dalam hati itu. Hal itu terjadi setelah hamba meyakini bahwa segala ketentuan hanya di dasarkan pada ketentuan Allah. Mereka menganggap jika mengahadapi kesuliutan maka yang demikian itu sebenarnta takdir allah. Menurut Harun Nasution mengatakan bahwa tawakal adalah menyerahkan diri kepada qodho’ dan keputusan Allah. Selamanya dalam keadaan tentram, jika mendapat pemberian brerterima kasih, jika mendapatkan apa-apa bersikap sabar dan menyerah kepada qodho’ dan qodar Tuhan.[12] Pada intinya Tawakal ialah menyerah tanpa pamrih sepenuhnya, pasrah dan berpegang teguh pada Allah, dalam mencari kemashlahatan dan kebaikan, menolak kemudharatan yang mengnakat urusan dunia maupun Akhirat.

           

BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

            Sabar dalam pandangan para sufi diantaranya berati tabah di dalam mneghadapi segala kesulitan tanpa ada rasa keasal dalam diri. Sabar juga berarti tetap merasa cukup meskipun relitasnya tidak memiliki apa-apa. Tawakal dalam pandangan para sufi diantarnya berarti mnyerahkan diri hanya kepada ketentuan Allah. Jika mendapat sesuatu yang baik berterima kasih atau syukur, jika tidak, bersabar dan berserah diri kepada ketentuanya

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Kholid, Amru Muhammad. Sabar dan Santun, Pustaka Al-Kautsar. Jakarta 2003

Supiana dkk, Materi Pendidikan Islam, Rosda Karya. Bandung 2003

Saputra, Toyib Sah. dkk , Aqidah Akhlak, Toha Putra. Semarang 2004

Ismail, Asep Usmani. 7 Metode Menjernihkan Nurani, Mizan Publika. Jakarta 2005

Ust Labib Mz, Ajaran Tasawuf dan Thoriqot, Bintang Usaha. Surabaya 2003

www.yahoo perpustakaan islam, Bertawakal Kepada Allah, poted by Riza, 2003

www.google artikel islam / Tawakal posted by Zidan

http:// kawan sejati.ee.itb.ac.id / Macam-macam Tawakal

An Naisyaburi. Imam Al-Qusayri,  Risaltul Qusiriyah, Risalah Gusti. Surabaya 1997

Nata, Abuddin. Akhlak Tasawuf,  Raja Gradindo. Jakarta 2006

 

 


[1] Amru muhammad kholid, sabar dan santun, (jakarta: pustaka al-kautsar) hal 6

[2] supiiana dan karman, materi pendidikan islam, (bandung : rosda 2003) hal 228

[3] thiyib sah saputra dan wahyudin, aqudah akhlak, (semarang: toha putra, 2004) hal 175-176

[4] Dr. asep usmani ismail, 7 metode menjernihkan nurani, (jakarta: mizan publika, 2005) hal, 129

[5] ust labib mz, ajaran tasawuf dan thoriqot, (surabaya: bintang usaha, 2003) hal 68-69

[6] www.yahoo perpustakaan islam, bertawakal kepada allah, poted by Riza, 2003

[7] Dr. asep usmani ismail, 7 metode menjernihkan nurani, (jakarta: mizan publika, 2005) hal, 130

[8] www.google artikel islam / tawakal posted by zidan

[9] iamam al-qusyairi an naisyaburi, risaltul qusiriyah,(surabaya: risalah gusti 1997) hal 180-181

[10] http:// kawan sejati.ee.itb.ac.id / macam-macam tawakal

[11] abuddin nata, akhlak tasawuf (jakarta: raja gradindo, 2006) hal 200

[12] Ibid hal 202

FacebookTwitterGoogle+LinkedIn

PENGARUH KEBUDAYAAN TERHADAP JIWA KEAGAMAAN

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.   Latar Belakang

                   Kebudayaan merupakan pedoman bagi kehidupan masyarakat, merupakan perangkat-perangkat acuan yang berlaku umum dan menyeluruh dalam menghadapi lingkungan untuk pemenuhan kebutuhan-kebutuhan warga masyarakat pendukung kebudayaan tersebut.[1] Dalam kebudayaan terdapat perangkat-perangkat dan keyakinan-keyakinan yang dimiliki oleh pendukung kebudayaan tersebut. Adapun tradisi keagamaan merupakan pranata primer dari kebudayaan memang sulit berubah karena keberadaannya didukung oleh kesadaran bahwa pranata tersebut menyangkut kehormatan harga diri, dan jati diri masyarakat pendukungnya.[2] Dalam makalah ini akan dibahas tentang pengaruh kebudayaan khususnya tradisi keagamaan terhadap jiwa keagamaan pada era globalisasi. Pada era globalisasi itu menunjukan bahwa kebudayaan (bidang material) sangat berpengaruh terhadap jiwa keagamaan. Sehingga memuncukan kecenderungan-kecenderungan yang membawa konsekuensi tersendiri bagi penganut agama tertentu, apa kecenderungan yang positif atau negatif yang lebih bersifat destruktif. Pada kondisi itu kondisi kejiwaan penganut agama tersebut haruslah menunjukkan jati diri sebagai penganut agama yang tetap tidak tergerus oleh nilai-nilai yang sekuer meskipun kemajuan iptek berpengaruh pesat ditengah arus global. Hendaknya mereka menganggap globalisasi sebagai tantangan yang harus dihadapi sekaligus menjadikan globaisasi sebagai ancaman bila tidak mampu menunjukan jati dirinya, karena globalisasi merupakan puncak peradaban manusia.

 

B.   Rumusan Masalah

1.   Apakah yang dimaksud dengan tradisi keagamaan dan kebudayaan itu?

2.   Bagaimanakah hubungan antara tradisi keagamaan dan sikap keagamaan?

3.   Bagaimana pengaruh eksistensi kebudayaan di era globalisasi terhadap jiwa keagamaan?

 

C.   Tujuan

1.   Untuk mengetahui pengertian tradisi keagamaan dan kebudayaan.

2.   Untuk mengetahui hubungan antara tradisi keagamaan dan sikap keagamaan.

3.   Untuk mengetahui pengaruh eksistensi kebudayaan di era globalisasi terhadap jiwa keagamaan.

 


 

BAB II

PENGARUH KEBUDAYAAN TERHADAP JIWA KEAGAMAAN

 

I.    Tradisi Keagamaan dan Kebudayaan

A.   Pengertian Tradisi dan Tradisi Keagamaan

                   Kriteria tradisi dapat lebih dibatasi dengan mempersempit cakupannya. Dalam pengertian yang lebih sempit tradisi hanya berarti bagian-bagian warisan sosial khusus yang memenuhi syarat saja, yakni yang tetap bertahan hidup dimasa kini yang masih kuat ikatannya, dengan kehidupan masa kini.[3] Dalam arti sempit tradisi adalah kemampuan benda material dan gagasan yang diberi makna khusus yang berasal dari masa lalu.[4]

                         Adapun beberapa ahli merumuskan tradisi antara lain;

  1. Shils

             Menurut Shils, tradisi berarti segala sesuatu yang disalurkan atau diwariskan dari masa lalu kemasa kini.[5]

  1. Pasurdi Suparlan, Ph. D

             Menurut Pasurdi Suparlan, tradisi merupakan unsur sosial budaya yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat dan sulit berubah.

  1. Meredith Mc. Guire

             Menurut Meredith Mc. Guire, ia melihat bahwa dalam masyarakat pedesaan umumnya tradisi erat kaitannya dengan agama.

  1. Prof. Dr. Kasmiran Wuryo

             Menurut Kasmiran Wuryo, tradisi masyarakat merupakan bentuk norma yang terbentuk dari bawah, sehingga sulit untuk diketahui sumber asalnya. Adapun secara garis besarnya, tradisi sebagai kerangka acuan norma daam masyarakat disebut pranata . pranata ini terbagi atas;

  1.  Pranata Skunder

             Pranata ini merupakan pranata yang dapat dengan mudah diubah struktur dan peran hubungan antar peranannya maupun dengan norma-norma yang berkaitan dengan perhitungan rasional yang menguntungkan dan dihadapi sehari-hari. Pranata ini bersifat fleksibel, mudah berubah, sesuai dengan situasi yang diinginkan oleh pendukungnya. Contohnya; pranata politik, pranata pemerintahan, pranata ekonomi, dan pasar, berbagai pranata hukum dan keterkaitan sosial dalam masyarakat.

  1.  Pranata Primer

             Pranata ini merupakan kerangka acuan norma yang mendasar dan hakiki dalam kehidupan manusia. Pranata ini berhubungan dengan kehormatan dan harga diri, jati diri serta kelestarian masyarakat, dan pranata ini bersifat mudah dapat berubah begitu saja. Adapun titik tekan pranata primer adalah menekankan pada pentingnya keyakinan dan kebersamaan serta bersifat tertutup atau pribadi. Contohnya; pranata keluarga kekerabatan, keagamaan (tradisi keagamaan), pertemanan, atau persahabatan.

             Bila dihubungakan dengan tradisi maka tradisi (agama Samawi) bersumber dari norma-norma yang termuat dalam kitab suci.[6] Adapun tradisi keagamaan (agama Samawi) merupakan kontradiksi asli, yakni tradisi yang sudah ada dimasa lalu, bukan merupakan tradisi buatan, yakni tradisi yang khayalan atau pemikiran masa lalu.[7]

 

B.   Fungsi Tradisi (Termasuk; Tradisi Keagamaan)

                         Adapun fungsi tradisi (tradisi keagamaan) antara lain;[8]

  1. Dalam bahasa klise dinyatakan, tradisi (tradisi keagamaan) adalah kebijakan turun menurun, tempatnya didalam kesadaran, keyakinan norma dan nilai yang kita anut kini serta dalam benda yang diciptakan di masa lalu. Tradisi (tradisi keagamaan) pun menyediakan fragmen warisan historis yang kita pandang bermanfaat. Tradisi-tradisi keagamaan seperti gagasan dan material yang dapat digunakan orang dalam tindakan kini dan untuk membangun masa depan berdasarkan pengalaman masa lalu. Tradisi menyediakan cetak biru untuk bertindak. Dalam arti ia menyediakan mereka (orang) blok bangunan yang sudah siap untuk membentuk dunia mereka.
  1. Memberikan legitimasi terhadap pandangan hidup, keyakinan, pranata dan aturan semuanya itu memerlukan pembenaran agar dapat mengikat anggotanya.
  1. Menyediakan simbol identitas kolektif yang meyakinkan, memperkuat loyalitas primordial terhadap bangsa, komunitas dan kelompok.
  1. Membantu menyediakan tempat pelarian dan keluhan, ketidak puasan dan kekecewaan modern. Tradisi (tradisi keagamaan) yang mengesankan masa lalu yang lebih bahagia menyediakan sumber pengganti kebanggaan bila masyarakat dalam masa krisis.

 

C.   Pengertian Kebudayaan

                   Kata kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta buddhayah yang merupakan bentuk jamak kata “buddhi” yang berarti budi dan akal. Kebudayaan diadakan sebagai hal-hal yang bersangkutan dengan budi dan akal. Adapun istilah culture yang merupakan istilah bahasa asing yang sama artinya dengan kebudayaan, berasal dari bahasa Latin colere. Artinya mengolah atau mengerjakan, yaitu mengolah tanah bertani. Dari asal arti tersebut yaitu colere kemudian culture, diartikan sebagai daya dan kegiatan manusia untuk mengubah dan mengolah alam.[9]

                         Adapun beberapa ahli merumuskan kebudayaan antara lain;[10]

1.   E. B Tylor (1871)

      Menurut E.B Tylor, kebudayaan adalah komplek yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat, istiadat dan lain kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat.

2.   Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi

      Menurut tokoh ini, kebudayaan sebagai suatu hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.

  •  Karya masyarakat menghasilkan teknologi dan kebudayaan kebedaan atau masyarakat.
  •  Kasa meliputi jiwa manusia mewujudkan segaa kaidah dan nilai-nilai sosial yang perlu untuk mengatur masalah-masalah kemasyarakatan dalam arti yang kuat, didalamnya termasuk agama ideologi, kebatinan, kesenian, dan semua unsur yang merupakan hasil ekspresi jiwa manusia yang hidup sebagai anggota masyarakat.
  •  Cipta merupakan kemampuan mental, kemampuan berfikir orang-orang yang hidup bermasyarakat yang antara lain menghasilkan filsafat serta ilmu pengetahuan cipta bisa terwujud murni, maupun yang telah disusun untuk berlangsung diamalkan dalam kehidupan masyarakat.

 

D.  Fungsi Kebudayaan

               Fungsi kebudayaan sangat besar bagi manusia dan masyarakat:[11]

  1. Manusia dan masyarakat memerlukan kepuasan, baik di bidang spiritual maupun materiil. Kebutuhan ini sebagian besar dipenuhi oleh kebudayaan yang bersumber pada masyarakat itu sendiri.
  1. Hasil karya masyarakat menghasilkan teknologi dan kebudayaan kebendaan mempunyai kegunaan utama di dalam melindungi masyarakat terhadap lingkungan dalamnya.
  1. Karsa masyarakat mewujudkan norma dan nilai-nilai sosial yang sangat perlu untuk mengadakan tata tertib dalam pergaulan kemasyarakatan. Jadi fungsi kebudayaan disini agar manusia dapat mengerti bagaimana seharusnya bertindak, berbuat, menentukan  sikapnya kalau berhubungan dengan orang lain.

 

II.  Tradisi Keagamaan dan Sikap Keagamaan[12]

                   Tradisi keagamaan pada dasarnya merupakan pranata keagamaan yang sudah baku oleh masyarajkat pendukungnya. Dengan demikian tradisi keagamaan sudah merupakan kerangka acuan norma dalam kehidupan perilakumasyarakat. Dan tradisi keagamaan sebagai pranata primer dari kebudayaan memang sulit untuk berubah karena keberadaannya didukung oleh bahwa pranata tersebut menyangkut kehormatan, harga diri dan jati diri masyarakat pendukungnya.

                   Para ahli antropologi membagi kebudayaan dalam bentuk dan isi. Menurut Koentjaraningrat bentuk kebudayaan terdiri atas;

  1. Sistem kebudayaan (cultural system)

Sistem kebudayaan berbentuk gagasan, pikiran, konsep, nilai-nilai budaya, norma-norma, pandangan-pandangan yang bentuknya abstrak serta berada dalam pikiran para pemangku kebudayaan yang bersangkutan.

  1. Sistem sosial (social system)

Sistem sosial berwujud aktifitas, tingkah laku, prilaku, upacara-upacara ritual-ritual yang wujudnya lebih konkret. Sistem sosial adaah bentuk kebudayaan dalam wujud yang telah konkret dan dapat diamati.

  1. Benda-benda budaya (material system)

Benda-benda budaya atau kebudayaan fisik atau kebudayaan material merupakan hasil tingkah laku dan karya pemangku kebudayaan yang bersangkutan.

             Adapun isi kebudayaan menurut Koentharaningrat terdiri atas tujuh unsur, yaitu; bahasa, sistem pengetahuan religi dan kesenian. Dengan demikian dilihat dari bentuk dan isi. Kebudayaan merupakan lingkungan yang terbentuk oleh norma-norma dan nilai-nilai yang dipelihara oleh masyarakat pendukungnya. Nilai-nilai dan norma-norma menjadi pedoman hidup itu berkembang dalam berbagai kebutuhan masyarakat, sehingga terbentuk dalam suatu sistem sosial. Contohnya; sistem ini selanjutnya terwujud pula benda-benda kebudayaan dan bentuk benda fisik. Contohnya adalah penyebaran agama, kenusantara yang sampai saat ini mempengaruhi sikap keagamaan masyarakat Indonesia. Khususnya pengaruh tradisi keagamaan masa lalu ikit mempengaruhi sikap keagamaan masyarakat.

             Menurut Robert Monk hubungan antara sikap keagamaan dan tradisi keagamaan adalah sikap keagamaan perorangan dalam masyarakat yang  menganur suatu keyakinan agama merupakan unsur penopang bagi terbentuknya tradisi keagamaan. Tradisi keagamaan menurut Monk menunjukan kepada kompleksitas pola-pola tingkah laku (sikap-sikap kepercayaan atau keyakinan yang berfungsi untuk menolak atau menanti suatu nilai penting (nilai-nilai) oleh sekelompok orang yang dipelihara dan diteruskan secara berkesinambungan selama periode-periode tertentu.

             Tradisi keagamaan dan sikap keagamaan saling mempengaruhi sikap-sikap keagamaan sebagai lingkungan kehidupan turut memberi nbilai-nilai, norma-norma tingkah-laku keagamaan kepada sesamanya. Dengan demikian tradisi keagamaan memberi pengaruh dalam membentuk pengalaman dan kesadaran agama. Sehingga terbentuk daam sikap keagamaan pada diri seseorang yang hidup dalam lingkungan tradisi keagamaan tertentu.

             Sikap keagamaan yang terbentuk oleh tradisi keagamaan merupakan bagian dari pernyataan jati diri seseorang dalam kaitan dengan agama yang dianutnya. Sikap keagamaan ini akan ikut mempengaruhi cara berfikir, cita, rasa atau penilaian seseorang terhadap segaa sesuatu yang berkaitan dengan agama. Tradisi keagamaan daam pandangannya. Robert C Monk memiliki dua fungsi utama. Pertama adalah sebagai kekuatan yang mampu membuat kesetabilan dan keterpaduan masyarakat maupun individu. Kedua, tradisi keagamaan berfungsi sebagai agen perubahan dalam masyarakat atau individu.

 

III. Kebudayaan Dalam Era Globalisasi dan Pengaruhnya Terhadap Jiwa Keagamaan

A.   Pengertian Globalisasi

                   Makna globalisai menurut Anthoy Giddens dijelaskan sebagai intensifikasi relasi sosial di seluruh dunia yang menghubungan lokalitas yang berjauhan sehingga kejadian lokal dibentuk oleh peristiwa-peristiwa yang terjadi dibelahan dunia lain.[13]

                   Menurut Akbar S. Ahmad dan Hasting Donnan makna globalisasi diberi batasan yaitu pada prinsipnya mengacu pada perkembangan-perkembangan yang cepat daam teknologi komunikasi, transformasi, informasi yang bisa membawa bagian-bagian dunia yang jauh (menjadi hal-hal) yang bisa dijangkau dengan mudah.[14]

                   Istilah globalisasi sering digunakan untuk mengembangkan penyebaran dan keterkaitan produksi, komunikasi, dan teknologi seluruh dunia. Penyebaran ini melibatkan kompleksitas kegiatan ekonomi dan budaya. Adapun tema kunci dalam wawancara dan pengalaman globalisasi adalah;[15]

  1. Delokalisi dan lokalisasi
  1. Inovasi teknologi informasi
  1. Kebangkitan korporasi multinasional
  1. Privatisasi dan pembentukan pasar bebas.

 

B.   Kebudayaan Dan Era Globalisasi Dan Pengaruhnya Terhadap Jiwa Keagamaan

                   Secara fenomena kebudayaan dalam era globaisasi mengarah kepada nilai-nilai sekuler yang besar pengaruhnya terhadap perkembangan jiwa keagamaan, khususnya dikalangan generasi muda. Meskipun dalam sisi tertentukehidupan tradisi keagamaan tampak meningkat dalam kesemarakannya namun dalam kehidupan masyarakat global yang cenderung sekuer barangkali akan ada pengaruhnya terhadap pertumbuhan jiwa keagamaan para generasi muda. Paling tidak terdapat kecenderungan yang tampak. Pertama, muncul sikap toleransi yang tinggi terhadap perbedaan agama, dikaangan kelompok moderat. Kedua, munculnya sikap fanatic keagamaan yang muncul pada kelompok fundamental.

                   Kedua kecenderungan tersebut menurut pendekatan psikologis berisi ciri-ciri kepribadian yang ditampilkn kelompok introvert dan ekstrovert. Gejala kejiwaan yang dimiliki orang-orang introvert lebih tertutup terhadap perubahan yang terjadi, sedangkan ekstrovert lebih bersikap terbuka dan mudah menerima. Tetapi yang jelas era globalisasi dipandang dari sudut teknologi adalah era modernisasi puncak bagi peradaban manusia.

                   Era globalisasi memberikan perubahan besar pada tatanan dunia secara menyeluruh dan perubahan itu dihadapi bersama sebagai suatu perubahan yang wajar. Sebab mau tidak mau siap tidak siap perubahan diperkirakan bakal terjadi. Dikala manusia dihadapkan pada malapetaka sebagai dampak perkembangan dan kemajuan modernisasi dan perkembangan teknologi itu sendiri.

                   Dalam kondisi seperti itu barangkali manusia mengalami konflik batin secara besar-besaran. Konflik tersebut sebagai dampak ketidak seimbangan antara kemampuan iptek yang menghasilkan kebudayaan materi yang kosongan ruhani. Kegoncangan batin ini barangkali akan mempengaruhi kehidupan psikologi manusia. Pada kondisi ini manusia akan mencari ketentraman batin antara lain agama.

                   Era global bertepatan dengan millennium III ditandai dengan kemajuan iptek terutama dalam bidang transportasi dan komunikasi. Serta terjadinya lintas budaya. Selain itu dampak dan mobilitas manusia semakin tinggi menyebabkan apa yang terjadi disuatu tempat diwilayah tertentu dengan mudah dan cepat tersebar dan diketahui masyarakat dunia hampir tak ada yang tersembunyi. Pengaruh ini ikut malahirkan pandangan yang serba boleh (perssiviness) apa yang sebelumnya dianggap tabu, seanjutnya dapat diterima.

                   Sementara itu nilai-nilai tradisional mengalami pengerusan mulai kehilangan pegangan hidup yang bersumber dari tradisi masyarakat, termasuk kedalam sistem nilai yang bersumber dari ajaran agama. Dipihak lain manusia juga dihadapkan pada upaya untuk mempertahankan sistem nilai yang mereka anut sementara itu era global menawarkan alternatif baru (kekaguman dari hasil rekayasa iptek) yang menawarkan kenikmatan duniawi. Hal ini menimbulkan keraguan dan kecemasan kemanusiaan (human anxiety) adapun kemungkinan yang terjadi pada manusia adalah; pertama, mereka yang tidak ikut larut alam pengaguman yang berlebihan terhadap teknologi dan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai kegamaan, kemungkinan akan lebih meyakini kebenaran agama. Kedua, golongan yang longgar dari nilai-nilai ajaran agama akan kekosongan jiwa. Golongan kedua ini di era global akan diperkirakan memuncukan tiga kecenderungan agama, yaitu;

  1. Kecenderungan berupa arus kembali ke tradisi agama yang liberal
  1. Kecenderungan ke tradisi keagamaan pada aspek mistis
  1. Kecenderungan munculnya gerakan sempalan yang mengatas namakan agama.

             Gerakan yang dilakukan golongan ini, pada hakikatnya merupakan tindakan kompensatif. Mereka mengalami kesendirian kekosongan nilai-nilai ruhaniyah. Dalam kondisi kesendirian kekosongan itu terasa menyakitkan hingga mereka merasa perlu mengajak orang lain secara bersama sama larut dalam upacara yang mereka rekayasa.

             Sebagai umat beragama, khususnya umat Islam dalam era globalisasi hendaknya;[16]

  1. Menumbuhkan kesadaran tentang tujuan hidup menurut agama baik sebagai hamba Allah maupun sebagai khalalifah Allah. Tetap dalam kontek mengabdi kepada Allah dan berusaha memperoleh ridhanya dan keselamatan di dunia dan akhirat. Disini peran iman dan taqwa sangat penting hidup di era gobalisasi.
  1. Menumbuhkan kesadaaran dalam bertanggungjawab karena kita akan mempertanggungjawabkan apa yang diperbuat di dunia, baik formalitas administratif sesuai yang ada di dunia sendiri maupun hakiki menurut yang mempunyai konsekuensi akhirat kelak. Ketika kita menceburkan diri dalam kehidupan globalisasi amka kita juga selalu sadar akan tanggung jawab terhadap apa yang kita perbuat.

 

 

BAB III

PENUTUP

 

A.   Kesimpulan

             Tradisi keagamaan sebagai pranata primer dari kebudayaan memang sulit berubah, karena pranata tersebut disadari sebagai suatu yang penting, karena menyangkut kehormatan, harga diri, dan jati diri masyarakat pendukungnya. Adapun hubungan antara tradisi tersebut dan sikap keagamaan adalah tradisi keagamaan memberi pengaruh dalam membentuk pengalaman dan kesadaran agama sehingga terbentuk dalam sikap keagamaan pada diri seseorang yang hidup dalam kehidupan tradisi keagamaan tertentu.

             Istilah globalisasi sering digunakan untuk menggambarkan penyebaran dan keterkaitan produksi, komunikasi dan teknologi diseluruh dunia. Penyebaran itu menunjukkan kompleksitas kegiatan ekonomi dan budaya. Adapun pengaruh kebudayaan dalam era gobalisasi terhadap jiwa keagamaanadalah apabila tidak terjadi ketidak seimbangan antara kemajuan iptek dengan kemampuan individu yang beragama daam mengahasilkan kebudayaan terutama kebudayaan materi. Maka individu tersebut akan mengalami kekosongan rohani dan kegoncangan batin. Hal ini mempengaruhi kehidupan psikologisnya sehingga ia akan memerlukan agama. Adapun kemungkinan yang dapat dimungkinkan pada orang tersebut antara lain;

  1. Menyakini kebenaran agamannya
  1. Golongan yang longgar terhadap nilai-nilai ajaran agama, yang meliputi
  1. Orang yang cenderung kembali ke tradisi keagamaan yang liberal
  1. Orang yang cenderung kembali kedalam tradisi keagamaan yang mistis
  1. Orang yang cenderung memunculkan gerakan sempalan yang mengatas namakan agama.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

———– . Pendidikan Manusia Indonesia, Tonny D. Widiastono (ed.),  Jakarta: Kompas, 2004

Azizy, A. Qodry, Melawan Globalisasi Reinterpretasi Ajaran Islam (Persiapan SDM Yang Terciptanya Masyarakat Madani), Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004

Jaluddin, Psikologi Agama, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005

Soekanto, Soerjono, Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000

Sztompka, Piotr , Sosiologi Perubahan Sosial, Jakarta: Prenada, 2007

 

 


[1] Jaluddin, Psikologi Agama, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005), hal. 195

[2] Ibid., hal. 198

[3] Piotr Sztompka, Sosiologi Perubahan Sosial, (Jakarta: Prenada, 2007), hal. 70

[4] Ibid., hal. 71

[5] Ibid., hal. 70

[6] Jaluddin, Psikologi Agama…, hal. 195-197

[7] Piotr Sztompka, Sosiologi Perubahan…, hal. 72

[8] Ibid., hal. 74-76

[9] Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000), hal. 188

[10] Ibid., hal. 188-189

[11] Ibid., hal. 194-195

[12] Jaluddin, Psikologi Agama…, hal. 198-203

[13]  ———– , Pendidikan Manusia Indonesia, Tonny D. Widiastono (ed.),  (Jakarta: Kompas, 2004), hal. 218

[14] A. Qodri Azizy, Melawan Globalisasi Reinterpretasi Ajaran Islam (Persiapan SDM Yang Terciptanya Masyarakat Madani), (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), hal. 19

[15] ———– , Pendidikan Manusia…, hal. 218-221

[16] A. Qodri Azizy, Melawan Globalisasi…, hal. 32-33

FacebookTwitterGoogle+LinkedIn

MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH 1

BAB I
PENDAHULUAN

 

A. Latar Belakang

 

Salah satu permasalahan pendidikan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan pada setiap jenjang dan satuan pendidikan, khususnya pendidikan dasar dan menengah. Berbagai usaha telah dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional, misalnya pengembangan kurikulum nasional dan lokal, peningkatan kompetensi guru melalui pelatihan, pengadaan buku dan alat pelajaran, pengadaan dan perbaikan sarana dan prasarana pendidikan, dan peningkatan mutu manajemen sekolah. Namun demikian, berbagai indikator mutu pendidikan belum menunjukan peningkatan yang berarti. Sebagian sekolah, terutama di kota-kota, menunjukan peningkatan mutu pendidikan yang cukup menggembirakan, namun sebagian lainnya masih memprihatinkan.

 

Berdasarkan masalah ini, maka berbagai pihak mempertanyakan apa yang salah dalam penyelenggaraan pendidikan kita?. Dari berbagai pengamatan dan analisis, sedikitnya ada tiga faktor yang menyebabkan mutu pendidikan tidak mengalami peningkatan secara marata.

 

Faktor pertama, kebijakan dan penyelenggaraan pendidikan nasional menggunakan pendekatan education function atau input-output analisys yang tidak dilaksanakan secara konsekuen. Pendekatan ini melihat bahwa lembaga pendidikan berfungsi sebagai pusat produksi yang apabila dipenuhi semua input (masukan) yang diperlukan dalam kegiatan produksi tersebut, maka lembaga ini akan menghasilkan output yang dikehendaki. Pendekatan ini menganggap bahwa apabila input seperti pelatihan guru, pengadaan buku dan alat pelajaran, dan perbaikan sarana serta prasarana pendidikan lainnya, dipenuhi, maka mutu pendidikan (output) secara otomatis akan terjadi. Dalam kenyataan, mutu pendidikan yang diharapkan tidak terjadi. Mengapa? Karena selama ini dalam menerapkan pendekatan educational production function terlalu memusatkan pada input pendidikan dan kurang memperhatikan pada proses pendidikan. Padahal, proses pendidikan sangat menentukan output pendidikan.

 

Faktor kedua, penyelenggaran pendidikan nasional dilakukan secara birokratik-sentralistik sehingga menempatkan sekolah sebagai penyelenggaraan pendidikan sangat tergantung pada keputusan birokrasi yang mempunyai jalur yang sangat panjang dan kadang-kadang kebijakan yang dikeluarkan tidak sesuai dengan kondisi sekolah setempat. Sekolah lebih merupakan subordinasi birokrasi diatasnya sehingga mereka kehilangan kemandirian, keluwesan, motivasi, kreativitas/inisiatif untuk mengembangkan dan memajukan lembaganya termasuk peningkatan mutu pendidikan sebagai salah satu tujuan pendidikan nasional.

 

Faktor ketiga, peranserta warga sekolah khususnya guru dan pranserta masyarakat khususnya orang tua siswa dalam penyelenggaraan pendidikan selama ini sangat minim. Partisipasi guru dalam pengambilan keputusan sering diabaikan, pada hal terjadi atau tidaknya perubahan di sekolah sangat tergantung pada guru. Dikenalkan pembaruan apapun jika guru tidak berubah, maka tidak akan terjadi perubahan di sekolah tersebut. Partisipasi masyarakat selama ini pada umumnya sebatas pada dukungan dana, sedang dukungan-dukungan lain seperti pemikiran, moral dan barag/jasa kurang diperhatikan. Akuntabilitas sekolah terhadap masyarakat juga lemah. Sekolah tidak mempunyai beban untuk mempertanggung jawabkan hasil pelaksnanaan pendidikan kepada masyarakat, khususnya orang tua siswa, sebagai salah satu unsur utama yang berkepentingan dengan pendidikan (stakeholdir).

 

Berdasarkan kenyataan-kenyataan tersebut diatas, tentu saja perlu dilakukan upaya-upaya perbaikan, salah satunya adalah melakukan reorientasi penyelenggaraan pendidikan, yaitu dari manajemen peningkatan mutu berbasis pusat menuju manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah.


 

B. Rumusan Masalah

1. Permasalahan pendidikan yang bagaimana yang di hadapi oleh bangsa Indonesia?

2. Faktor – faktor apakah yang menyebabkan mutu pendidikan di Indonesia tidak mengalami peningkatan secara marata ?

3. Apa tujuan Manajemen Berbasis Sekolah itu ?

 

C. Tujuan Pembahasan Masalah

1. Agar Mahasiswa mengetahui permasalahan pendidikan yang bagaimana yang di hadapi oleh bangsa Indonesia.

2. Agar Mahasiswa mengetahui faktor – faktor apa yang menyebabkan mutu pendidikan di Indonesia tidak mengalami peningkatan secara marata.

3. Agar Mahasiswa mengetahui apa tujuan Manajemen Berbasis Sekolah itu.

 

BAB II
PEMBAHASAN
MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH

 

Oleh: Afiful Ikhwan*

 

A. Pengertian

MBS adalah upaya serius yang rumit, yang memunculkan berbagai isyu kebijakan dan melibatkan banyak lini kewenangan dalam pengambilan keputusan serta tanggung jawab dan akuntabilitas atas konsekuensi keputusan yang diambil. Oleh sebab itu, semua pihak yang terlibat perlu memahami benar pengertian MBS, manfaat, masalah-masalah dalam penerapannya, dan yang terpenting adalah pengaruhnya terhadap prestasi belajar murid.

 

Secara umum, manajemen berbasis sekolah (MBS) dapat diartikan sebagai model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah, dan mendorong partisipasi secara langsung warga sekolah (guru, siswa, kepala sekolah, karyawan) dan masyarakat (orang tua siswa, tokoh masyarakat, ilmuwan, pengusaha, dsb.) untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional serta peraturan perundang-undangan yang berlaku.

 

Munculnya konsep MBS memang masih harus dikaji terus menerus. Dan kajian tersebut hendaknya dimaksudkan untuk menciptakan sekolah sebagai tempat yang kondusif bagi layanan pendidikan, sehingga tercipta kemandirian sekolah dengan menggali sumber-sumber daya sekolah, yang pada akhirnya bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan dalam wujud mutu belajar para siswa. Munculnya konsep MBS memang menjadi suatu kebutuhan bagi sekolah atas berbagai perubahan yang terjadi selama ini. Ada kebutuhan yang terasa mendesak untuk mengkaji kembali fungsi sekolah. Pertama, pada saat timbul perubahan cepat yang terjadi saat ini, maka kumpulan pengetahuan dan pengalaman masa lampau, yang digunakan untuk membimbing anak-anak, ternyata tidak dapat memenuhi harapan untuk mencapai tujuan tersebut. Sesungguhnya orang tua sering kali tidak merasa pasti dibandingkan dengan putra-putranya. Demikian pula keadaan bagi komunitas orang dewasa pada umumnya. Nilai-nilai tradisional dan kebiasaan yang diwarisi kenyataannya telah kehilangan otoritas terhadap anak-anak muda, dan sebagai suatu bimbingan untuk mengambil tindakan yang tepat di dalam suatu lingkungan yang sedang mengalami perubahan ternyata juga tidak memadai. Karena keterbatasan atas kemampuan yang dimiliki orang tua inilah, akibatnya kita tergantung dari lembaga-lembaga pendidikan formal.

 

MBS merupakan salah satu model manajemen pendidikan yang berbasis pada otonomi atau kemandirian sekolah dan aparat daerah dalam menentukan arah, kebijakan, serta jalannya pendidikan di daerah masing-masing. Keberhasilan dalam pelaksanaan MBS sangat ditentukan oleh perwujudan kemandirian manajemen pendidikan pada tingkatan kabupaten atau kota. Gagasan MBS sebenarnya dapat merupakan jawaban atas tantangan pendidikan kita ke depan. Dalam UU No. 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional (Propenas).

 

B. Alasan Diterapkannya Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)

Keberhasilan MBS dapat ditentukan dengan meningkatkanya partisipasi masyarakat, dengan mengakomodasi pandangan, aspirasi dan menggali potensi masyarakat untuk menjamin demokratisasi, transaparan dan akuntabilitas. Upaya ini dapat dilakukan melalui Komite Sekolah di tingkat satuan pendidikan/ sekolah. Komite Sekolah merupakan bentuk dari meningkatnya kompleksitas sekolah, sebagai akibat dari munculnya konsep MBS. Dunia endidikan di Indonesia menghadapi tiga tantangan besar, di antaranya adalah sejalan dengan diberlakukannya otonomi daerah, sistem pendidikan nasional dituntut untuk melakukan perubahan dan penyesuaian sehingga dapat mewujudkan proses pendidikan yang lebih demokratis, memperhatikan keberagaman kebutuhan/ keadaan daerah dan peserta didik, serta mendorong peningkatan partisipasi masyarakat.

MBS diterapkan karena beberapa alasan berikut :

1. Dengan pemberian otonomi yang lebih besar kepada sekolah, maka sekolah akan lebih inisiatif/kreatif dalam meningkatkan mutu sekolah.

2. Dengan pemberian fleksibelitas/keluesan-keluesan yang lebih besar kepada sekolah untuk mengelola sumberdayanya, maka sekolah akan lebih luwes dan lincah dalam mengadakan dan memanfaatkan sumberdaya sekolah secara optimal untuk meningkatkan mutu sekolah.

3. Sekolah lebih mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman bagi dirinya sehingga dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya yang tersedia untuk memajukan sekolahnya.

4. Sekolah lebih mengetahui kebutuhan lembaganya. Khususnya input pendidikan yang akan dikembangkan dan didayagunakan dalam proses pendidikan sesuai dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan peserta didik.

5. Pengambilan keputusan yang dilakukan oleh sekolah lebih cocok untuk memenuhi kebutuhan sekolah karena pihak sekolahlah yang paling tahu apa yang terbaik bagi sekolahnya.

6. Penggunaan sumberdaya pendidikan lebih efisien dan efektif bilamana dikontrol oleh masyarakat setempat.

7. Keterlibatan semua warga sekolah dan masyarakat dalam pengambilan keputusan sekolah menciptakan transparansi dan demokrasi yang sehat.

8. Sekolah dapat bertanggung jawab tentang mutu pendidikan masing-masing kepada pemerintah, orang tua peserta didik, dan masyarakat pada umumnya, sehingga dia akan berupaya semaksimal mungkin untuk melaksanakan dan mencapai sasaran mutu pendidikan yang telah direncanakan.

9. Sekolah dapat melakukan persaingan yang sehat dengan sekolah-sekolah lain untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui upaya-upaya inovatif dengan dukungan orang tua peserta didik, masyarakat, dan pemerintah daerah setempat, dan

10. Sekolah dapat secara cepat merespon aspirasi masyarakat dan lingkungan yang berubah dengan cepat.

 

C. Tujuan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)

Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) bertujuan untuk memandirikan atau memberdayakan sekolah melalui pemberian kewenangan, keluwesan, dan sumber daya untuk meningkatkan mutu sekolah. Dengan kemandiriannya, maka:

1. Sekolah sebagai lembaga pendidikan lebih mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman bagi dirinya dibanding dengan lembaga-lembaga lainnya.

2. Dengan demikian sekolah dapat mengoptimal kan sumber daya yang tersedia untuk memajukan lembaganya.

3. Sekolah lebih mengetahui sumber daya yang dimilikinya dan input pendidikan yang akan dikembangkan serta didayagunakan dalam proses pendidikan sesuai dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan peserta didik,

4. Sekolah dapat bertanggung jawab tentang mutu pendidikan masing-masing kepada pemerintah, orang tua peserta didik, dan masyarakat pada, umumnya, sehingga sekolah akan berupaya semaksimal mungkin untuk melaksanakan dan mencapai sasarn mutu pendidikan yang telah direncanakan.

5. Sekolah dapat melakukan persaingan sehat dengan sekolah-sekolah yang lainnya untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui upaya-upaya inovatif dengan dukungan orang tua peserta didik, masyarakat, dan pemerintah daerah setempat.

6. Sekolah lebih berdaya dalam mengembangkan program-program yang tentu saja, lebih berdaya dalam mengembangkan dalam mengembangkan program-program yang tentu saja lebih sesuai dengan kebutuhan dan potensi yang dimilikinya.

 

Dengan demikian, secara bertahap akan terbentuk sekolah yang memiliki kemandirian tinggi. Secara umum, sekolah yang mandiri memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

1. Tingkat kemandirian tinggi sehingga tingkat ketergantungan menjadi rendah

2. Bersifat adaptif dan antisipatif memiliki jiwa kewirausahaan tinggi (ulet, inovatif, gigih, berani mengambil resiko)

3. Bertanggung jawab terhadap input manajemen dan sumber dayanya.

4. Memiliki kontrol yang kuat terhadap kondisi kerja.

5. Komitmen yang tinggi pada dirinya.

6. Prestasi merupakan acuan bagi penilaiannya.

 

MBS bertujuan untuk memandirikan atau memberdayakan sekolah melalui pemberian kewenangan (otonomi) kepada sekolah, pemberian fleksibilitas yang lebih besar kepada sekolah untuk mengelola sumberdaya sekolah, dan mendorong partisipasi warga sekolah dan masyarakat untuk meningkatkan mutu pendidikan. Lebih rincinya, MBS bertujuan untuk :

1. Meningkatkan mutu pendidikan melalui peningkatan kemandirian, fleksibelitas, partisipasi, keterbukaan, kerjasama, akuntabilitas, sustainbilitas, dan inisiatif sekolah dalam mengelola, memanfaatkan, dan memberdayakan sumberdaya yang tersedia.

2. Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan melalui pengambilan keputusan bersama.

3. Meningkatkan tanggung jawab sekolah kepada orang tua, masyarakat, dan pemerintah tentang mutu sekolahnya, dan

4. Meningkatkan kompetisi yang sehat antar sekolah tentang mutu pendidikan yang akan dicapai.

 

D. Manfaat Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)

Penerapan MBS yang efektif secara spesifik mengidentifikasi beberapa manfaat spesifik dari penerapan MBS sebagai berikut :

• Memungkinkan orang-orang yang kompeten di sekolah untuk mengambil keputusan yang akan meningkatkan pembelajaran.

• Memberi peluang bagi seluruh anggota sekolah untuk terlibat dalam pengambilan keputusan penting.

• Mendorong munculnya kreativitas dalam merancang bangun program pembelajaran.

• Mengarahkan kembali sumber daya yang tersedia untuk mendukung tujuan yang dikembangkan di setiap sekolah.

• Menghasilkan rencana anggaran yang lebih realistik ketika orang tua dan guru makin menyadari keadaan keuangan sekolah, batasan pengeluaran, dan biaya program-program sekolah.

• Meningkatkan motivasi guru dan mengembangkan kepemimpinan baru di semua level.

 

BAB III
P E N U T U P

 

Kesimpulan

Sistem manajemen pendidikan yang sentralistis telah terbukti tidak membawa kemajuan yang berarti bagi peningkatan kualitas pendidikan pada umumnya. Bahkan dalam kasus-kasus tertentu, manajemen yang sentralistis telah menyebabkan terjadinya pemandulan kreatifitas pada satuan pendidikan pada berbagai jenis dan jenjang pendidikan. Untuk mengatasi terjadinya stagnasi di bidang pendidikan ini diperlukan adanya paradigma baru dibidang pendidikan.

 

Seiring dengan bergulirnya era otonomi daerah, terbukalah peluang untuk melakukan reorientasi paradigma pendidikan menuju ke arah desentralisasi pengelolaan pendidikan. Peluang tersebut semakin tampak nyata setelah dikeluarkannya kebijakan mengenai otonomi pendidikan melalui strategi pemberlakuan manajemen berbasis sekolah (MBS). MBS bukan sekedar mengubah pendekatan pengelolaan sekolah dari yang sentralistis ke desentralistis, tetapi lebih dari itu melalui MBS diyakini akan muncul kemandirian sekolah.

 

Melalui penerapan MBS, kepedulian masyarakat untuk ikut serta mengontrol dan menjaga kualitas layanan pendidikan akan lebih terbuka untuk dibangkitkan. Dengan demikian kemandirian sekolah akan diikuti oleh daya kompetisi yang tinggi akan akuntabilitas publik yang memadai.

 

*) Penulis adalah mahasiswa S1 STAIN Tulungagung – Jatim

 

FacebookTwitterGoogle+LinkedIn

Gallery

slide3 slide2 slide1
FacebookTwitterGoogle+LinkedIn