Archive for : April, 2010

LINGKUNGAN PENDIDIKAN ISLAM

 

 

  1. Pengertian Lingkungan Pendidikan

Yang dimaksud dengan lingkungan ialah sesuatu yag berada diluar diri anak dan mempengaruhi perkembangannya.[1] Menurut Sartain (seorang ahli psikologi Amerika) mengatakan bahwa yang dimaksud dengna lingkungna sekitar ialah meliputi semua kondisi di dunia kecuali gen.

  1. Macam-macam Lingkungan dalam Pendidikan Islam

Menurut Drs. Abdurrahman Saleh ada 3 macam pengaruh lingkungan pendidikan terhadap keberagaman anak, yaitu :

  1. Lingkungan yang acuh tak acuh terhadap agama, (adakalnya berkeberatan terhadap pendidikan agama, dan adakalanya sedikit tahu tentang hal itu.
  1. Lingkungan yang berpegang kepada tradisi agama tetapi tanpa keinsafan batin (anak-anak beragama secara tradisional tanpa kritik atau beragama secara kebetulan.
  1. Lingkungan yang memiliki tradisi agama dengan sadar dan hidup dalam kehidupan agama, (apabila lingkungan ini ditunjang oleh pimpinan yang baik dan kesempatan yang memadai, maka kemungkinan besar hasilnya pun akan lebih baik.[2]

Ada beberapa lembaga yang tumbuh di dalam masyarakat serta mempunyai pengaruh luas bagi kehidupan agama (pendidikan Islam) anak :

  1. Keluarga : kebanyakan ahli didik menyatakan pendidikan di lembaga ini merupakan pendidikan pertama dan utama, karena disinilah seorang anak pertama kali mendapatkan pendidikan, disamping itu dari lembaga ini jugalah akan berpengaruh besar terhadap kehidupan peserta didik kemudian harinya. Kasih sayang orang tua yang tumbuh akibat dari hubungan darah dan diberikan kepada anak secara wajar atau sesuai dengan kebutuhan, mempunyai arti sangat penting bagi pertumbuhannya. Secara umum, kewajiban orang tua pada anak-anaknya ialah :

 

  1. mendo’akan anak-anaknya dengan do’a yang baik (QS.al-furqan:74) dan jangan sekali-kali mengutuk anaknya dengan kutukan yang tidak manusiawi;
  1. memelihara anak dari api neraka (QS.at-tahrim:6);
  1. menyerukan shalat pada anaknya (QS.Thaha:132);
  1. menciptakan kedamaian dalam rumah tangga (QS.an-nisa:128);
  1. mencintai dan menyayangi anak-anaknya (QS.al-imran:140);

Menurut al-Nahlawi, kewajiban orang tua dalam pendidikan anak-anaknya adalah :

  1. menegakkan hukum-hukum Allah SWT pada anaknya (QS.al-baqarah:229,230);
  1. merealissikan ketentraman dan kesejahteraan jiwa keluarga (QS.al-a’raf:189, ar-rum;21);
  1. melaksanakan perintah agama dan perintah Rasulullah SAW (QS.at-tahrim:6);
  1. mewujudkan rasa cinta kepada anak-anak melalui pendidikan.
  1. Sekolah : Sekolah adalah lembaga pendidikan yang sangat penting sesudah keluarga. Pada waktu anak-anak menginjak umur 6 atau 7 tahun perkembangan intelek, daya pikir telah meningkat sedemikian rupa, karena itu pada masa ini disebut masa keserasian bersekolah. Peran sekolah bagi pembentukan kepribadian anak sangat besar. Sekolah telah membina anak tentang kecerdasan, sikap, minta dan sebagainya dengan gaya dan caranya sehingga anak mentaatinya. Karena itu dapatlah dikatakan sekolah berpengaruh besar bagi jiwa dan keberagamaan anak.
  1. Tempat Ibadah
  1. Pondok Pesantren : tujuan terbentuknya pondok pesantren :

(1) tujuan umum, yaitu membimbing anak didik untuk menjadi manusia yang berkepribadian Islam, yang dengan ilmu agamanya ia  sanggup menjadi muballigh Islam dalam masyarakat sekitar melalui ilmu dan amalnya;

(2) tujuan khusus, yaitu mempersiapkan para santri untuk menjadi orang alim dalam ilmu agama yang diajarkan oleh kiai yang bersangkutan serta dalam mengamalkan dan mendakwahkannya dalam masyarakat.

Sistem yang ditampilkan dalam pondok pesantren mempunyai keunikan dibandingkan dengan system yang diterapkan dalam lembaga pendidkan pada umumnya, yaitu :

  1. memakai system tradisional, yang memiliki kebebasan penuh dibandingkan dengan sekolah modern, sehingga terjadi hubungan dua arah antara kiai dan santri;
  1. kehidupan di pesantren menampakkan semangat demokrasi, karena mereka praktis bekerja sama mengtasi problem non-kurikuler mereka sendiri;
  1. para santri tidak mengidap penyakit simbolis, yaitu perolehan gelar dan ijazah, karena sebagian besar pesantren tidak mengeluarkan ijazah, sedangkan santri dengan ketulusan hatinya masuk pesantren tanpa adanya ijazah tersebut. Hal itu karena tujuan utama mereka hanya ingin mencari keridhaan Allah SWT semata;
  1. alumni pondok pesantren tak ingin menduduki jabatan pemerintahan, sehingga mereka hampir tidak dikuasai oleh pemerintah.[3]
  1. Masyarakat : organisasi-organisasi yang tumbuh di dalam masyarakat itu banyak, antara lain :

(1) Kependudukan;

(2) Perkumpulan pemuda mahasiswa, pelajar (HMI, PMII, IPPNU, Anshor);

(3) Perkumpulan-perkumpulan olah raga dan kesenian;

Organisasi-organisasi seperti tersebut di atas jika mendasarkan diri pada agama mempunyai pengaruh positif bagi kehidupan keagamaan. Perkumpulan dan persekutuan hidup masyarakat yang memberikan anak untuk hidup dan mempraktekan ajaran Islam rajin beramal, cinta damai, toleransi, dan suka menyambung Ukhuwah Islamiah, sebaliknya lingkungan yang tidak menghargai ajaran Islam maka dapat menjadikan anak apatis atau masa bodoh kepada agama Islam. Apalagi masyarakat yang membenci Islam, maka akhirnya anaknya akan membenci kepada Islam pula.[4]

Dalam pembaharuan system pendidikan Islam modern terdapat pengembangan lingkungan pendidikan yaitu : lingkungan individu dan negara, jadi lingkungan yang terdapat dalam system pendidikan Islam terdiri dari 5 komponen yaitu seperti yang sudah disebutkan dan dijelaskan di atas : lingkungan keluarga, sekolah, tempat ibadah dan masyarakat. Pengembangan lingkungan pendidikan itu :

  1. Lingkungan Individu : lingkungan ini merupakan lingkungan diri sendiri, unsur yang terdapat pada individu terdiri dari 3 aspek, yaitu :

(a) Aspek Jasmaniah, meliputi tingkah laku luar yang tampak dan terlihat dari luar, misalnya : cara berbuat, cara berbicara, dll.

(b) Aspek Rohaniah, meliputi aspek-aspek kejiwaan yang lanih abstrak yaitu filsafat hidup dan kepercayaan.

(c) Aspek Kejiwaan, meliputi aspek-aspek yang tidak dapat dilihat dari luar, misalnya cara berfikir, sikap, dan minat.

Dari ketiga aspek tersebut manusia dapat dikatakan sebagai individu yang berkepribadian muslim, yang memiliki tingkah laku dan kejiwaan sesuai dengan ajaran Islam.

  1. Lingkungan Negara : lingkungan negara termasuk lingkungan yang paling luas sebab lingkungan ini menyangkut nasional maupun internasional. Pendidikan diarahkan untuk membentuk warga negara yang baik. Jika individu baik, masyarakat baik, maka negara akan baik pula sehingga terwujud negara yang adil, makmur dan sejahtera.[5]

 

 


[1] Arief Armai, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, Ciputat Pers, Jakarta, 2002, h.76

[2] Saleh Abdurrahman, Didaktik dan Metodik Pendidikan Agama, Bulan Bintang, Jakarta, 1969, h. 77

[3] Mujib Abdul, Ilmu Pendidikan Islami, Kencana Prenada Media, Jakarta, 2006, h. 235

[4] Uhbiyati Nur, Ilmu Pendidikan Islam, Pustaka Setia, Bandung, 1997, h. 209-211

[5] Arief Armai, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, Ciputat Pers, Jakarta, 2002, h. 79

FacebookTwitterGoogle+LinkedIn

PROFESI DAN PROFESIONALISME

BAB I
PENDAHULUAN

 

A. Latar Belakang

Peranan pendidikan harus dilihat dalam konteks pembangunan secara menyeluruh, yang bertujuan membentuk manusia sesuai dengan cita – cita bangsa. Pembangunan tidak mungkin berhasil jik tidak melibatkan manusianya sebagai pelaku dan sebagai tujuan pembangunan. Untuk menyukseskan pembangunan perlu system pendidikan yang relevan, system tersebut dirancang dan dilaksanakan oleh orang – orang yang ahli dalam bidangnya. Tanpa keahlian yang memadai maka proses pendidikan dimana guru sebagai pelaksana kurikulum yang dilaksanakan jadi tidak dapat berjalan dengan baik. Seorang calon guru seharusnya menempuh program pendidikan guru pada suatu lembaga pendidikan guru.


 

B. Rumusan Masalah

1. Apakah pengertian profesi dan profesionalisme ?

2. Bagaimana Pendidikan Guru itu ?

3. Bagaimana upaya peningkatan profesi guru di Indonesia ?

 

C. Tujuan Pembahasan

1. Untuk mengetahui pengertian profesi dan profesionalisme

2. Untuk mengetahui tentang pendidikan guru

3. Untuk mengetahui upaya peningkatan profesi guru di Indonesia

 

BAB II
PEMBAHASAN

 Oleh: Ahmad Faisal*

 

A. Pengertian Profesi & Profesionalisasi

Menurut kamus besar bahasa Indonesia, istilah profesionalisasi ditemukan sebagai berikut :

• Profesi adalah : bidang pekerjaan yang dilandasi penddidikan keahlian (keterampilan, kejuruan, dsb) tertentu

• Profesional adalah :

1. Bersangkut dengan profesi

2. Memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya

3. Mengharuskan adanya pembayaran untuk melakukannya

• Profesionalisasi ialah : “ proses membuat suatu badan organisasi agar menjadi professional ” ( Moeliono, 1988 : 702 )

Menurut Mukhtar Lutfi, ada delapan kriteria yang harus dipenuhi oleh suatu pekerjaan agar dapat disebut profesi, yaitu :

1. Panggilan hidup yang sepenuh waktu

2. Pengetahuan dan kecakapan / keahlian

3. Kebakuan yang universal

4. Pengabdian

5. Kecakapan diagnostik dan kompetensi aplikatif

6. Otonomi

7. Kode etik

8. Klien

 

Sedangkan menurut salah satu defenisi dari yang dikemukakan oleh Dr. Sikun Pribadi adalah : “ Profesi itu pada hakekatnya adalah suatu pernyataan atau janji terbuka, bahwa seorang akan mengabdikan dirinya kepada suatu jabatan akan pekerjaan dalam arti biasa. Karena orang tersebut merasa terpanggil untuk menjabat pekerjaan itu. “ ( Dr. Sikun Pribadi, 1976 )

 

 

B. Pendidikan Guru

Menurut G.W. Denemark bahwa pendidikan adalah sesuatu yang sangat penting dalam masyarakat modern, baik dari segi politik maupun ekonomi. Oleh sebab itu pendidikan bukan saja hal yang penting bagi individu, tetapi juga sangat penting bagi kehidupan nasional. Terlebih lagi pertumbuhan social perkembangan ilmu pengetahuan dalam banyak bidang dan percepatan mobilitas penduduk terletak pada kwalitas pendidikan yang diterima oleh anak – anak dan para pemuda. Hal tersebut menjadikan pendidikan menempati peranan sentral dimana pendidikan guru turut menentukan derajat kwalitas pendidikan.

 

1. Tujuan Pendidikan Guru

a. Penguasaan bahan ajaran

b. Penguasaan teori dan keterampilan keguruan

c. Pemilikan kemampuan memperagakan unjuk rasa

d. Pemilikan sikap, nilai dan kecenderungan kepribadian

 

2. Isi Program Pendidikan Guru

Pada dasarnya isi program pendidikan prajabatan guru terdiri atas unsur – unsur, yaitu :

a) Umum yang berlaku bagi segenap program jenjang pendidikan tinggi ditanah air

b) Bidang ilmu sumber ajaran yang akan dibina kelak

c) Penguasaan teori dan keterampilan keguruan

Penetapan isi program pendidikan prajabatan guru itu dilakukan dengan mengacu kepada misi pendidikan nasional didalam pembangunan, tujuan kelembagaan jenis dan jenjang sekolah sasaran tempat lulusan.


3. Tantangan Prifesionalisasi Jabatan Guru

Status professional hanya dapat diraih melalui perjuangan yang berat dan cukup panjang. T. Raka Joni menegmukakan ada 6 tahap dalam proses profesionalisasi ( 1989 : 350 – 351 ), yaitu :

1. Bidang layanan ahli “ unik “ yang diselenggarakan itu harus ditetapkan

2. Kelompok profesi dan penyelanggaraan pendidikan prajabatan yang mempersiapkan tenaga guru yang profesional

3. Adanya mekanisme untuk memberikan pengakuan resmi kepada program pendidikan pra jabatan yang memenuhi standar yang telah ditetapkan sebelumnya

4. Adanya mekanisme untuk memberikan pengakuan resmi kepada lulusan program pendidikan prajabatan yang memiliki kemampuan minimal yang dipersyaratkan (sertifikasi)

5. Secara perorangan dan secara kelompok, kaum pekerja professional bertanggung jawab penuh atas segala aspek pelaksanaan tuganya

6. Kelompok professional memiliki kode etik yang merupakan dasar untuk melindungi para anggota yang menjunjung tinggi nilai-nilai professional

 

Ada 2 aspek yang harus hadir secara baku tunjang sehingga sesuai bidang layanan termasuk keguruan kependidikan, memenuhi syarat untuk ditanyakan sebagai profesi, yaitu :

a) Keterandalan layanan

b) Layanan yang khas itu diakui dan dihargai oleh masyarakat dan pemerintah

 

 

C. Upaya Peningkatan Profesi Guru di Indonesia

Profesionalisasi berhubungan dengan profil guru walaupun potret guru yang ideal memang sulit didapat. Guru idaman merupakan produk dari kesinambungan antara penguasaan aspek – aspek keguruan dan disiplin ilmu. Sehubungan dengan hal diatas, maka upaya peningkatan profesi guru di Indonesia sekurang-kurangnya menghadapi dan memperhitungkan empat faktor, yaitu :

 

1. Ketersediaan dan Mutu Calon Guru

Secara jujur kita akui pada masa lalu ( dan masa kini ) profesi guru kurang memberikan rasa bangga diri, bahkan ada guru yang malu disebut sebagai guru, kurangnya rasa bangga itu akan mempengaruhi motivasi kerja dan citra masyarakat terhadap profesi guru.

2. Pendidikan Prajabatan

Bidang pekerjaan guru hanya pantas memperoleh penghargaan khusus seperti diatur oleh / melalui surat keputusan Men – PAN, apabila jajaran guru memberikan layanan ahli, yang hanya bisa diberikan melalui pendidikan prajabatan. Ada dua langkah yang perlu diambil untuk mencapai keadaan yang dikehendaki, yaitu :

 

1. Untuk meyakinkan pemilikan kemampuan professional awal, saringan calon peserta pendidikan prajabatan perlu dilakukan secara efektif, baik dari segi kemampuan potensial, aspek – aspek kepribadian yang relevan maupun motivasi

2. Pendidikan prajabatan harus benar-benar secara sistematis menyiapkan calon guru untuk menguasai kemampuan professional

 

3. Mekanisme Pembinaan Dalam Jabatan

Ada 3 upaya dalam penyelenggaraan berbagai aspek dan tahap pembinaan dalam jabatan professional guru, yaitu :

1. Mekanisme dan prosedur penghargaan aspek layanan ahli keguruan perlu dikembangkan

2. Sistem penilikan dijenjang SMTA yang berlaku sekarang dan memerlukan penyesuaian mendasar

3. Keterbukaan informasi juga memprasyaratkan keluasan kesempatan untuk meraih kualifikasi formal yang lebih tinggi

4. Peranan Organisasi Profesi

 

Pengawasan mutu layanan suatu bidang professional dilakukan secara kesejawatan baik melalui perorangan maupun melalui organisasi profesi. Sehingga munculah pertanyaan apakah organisasi profesi yang diharapkan memainkan pengawasan kesejawatan yang siap menunaikan funginya ? pada kesempatan ini yang dikejar bukan semata – mata pernyataan formal kesanggupan mengemban fugsi professional namun lebih terwujudnya mekanisme pengawasan kesejawatan yang hakiki baik berkenaan dengan penyelenggaraan layanan ahli itu sendiri maupun berhubungan dengan pendidikan prjabatan para calon pekerja professional yang bersangkutan.


BAB III

P E N U T U P

 

A. Kesimpulan

• Profesi merupakan bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian (keterampilan, kejuruan, dsb)

• Profesional ialah proses membuat suatu badan organisasi agar menjadi professional

• Pendidikan adalah sesuatu yang sangat penting dalam masyarakat modern, baik dari segi politik maupun ekonomi. Dalam pendidikan guru itu terdiri dari :

1. Tujuan pendidikan guru

2. Isi program pendidikan guru

3. Tantangan profesionalisasi jabatan guru

• Ada 4 faktor upaya peningkatan profesi guru di Indonesia, yaitu :

1) Ketersediaan dan mutu calon guru

2) Pendidikan pra jabatan

3) Mekanisme pembinaan dalam jabatan

4) Peranan organisasi profesi

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Conny R. Semiawan dan Soedijarto, Mencari Strategi Pengembangan Pendidikan Nasional Menjelang Abad XXI, Jakarta, PT. Grasindo : 1991

 

Oemar Mamalik, Pendidikan Guru Berdasarkan Pendekatan Kompetensi, Jakarta, Bumi Aksara : 2002

 

Syaifuddin Nurdin, Guru Profesional dan Implementasi Kurikulum, Jakarta, Ciputat Pers : 2002

 

*) Penulis adalah Mahasiswa PAI B SMT 3-STAIN TA

FacebookTwitterGoogle+LinkedIn

Gallery

slide3 slide2 slide1
FacebookTwitterGoogle+LinkedIn