Archive for : January, 2010

Konsep Islam Tentang Perubahan Sosial

 

Oleh: Afiful Ikhwan

Makna Perubahan Sosial

Perubahan Sosial adalah perubahan dalam hubungan interaksi antar orang, komunitas, atau organisasi, ia dapat menyangkut pola “nilai dan norma” atau “struktur sosial”. Wilbert Moore berpendapat bahwa yang dimaksudkan dengan perubahan sosial adalah “perubahan penting dari struktur sosial”, sedangkan yang dimaksudkan dengan struktur sosial adalah “pola-pola perilaku dan interaksi sosial”.

Kingsley Davis berpendapat bahwa perubahan sosial adalah perubahan dalam struktur dan fungsi masyarakat. Misalnya saja adanya organisasi buruh dalam masyarakat kapitalis, terjadi perubahan-perubahan antara majikan dengan buruh, selanjutnya perubahan-perubahan organisasi sosial dan politik

Dan terakhir, dikutip dari Selo Soemardjan mengartikan perubahan sosial itu adalah segala perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan dalam suatu masyarakat, yang mempengaruhi sistem sosialnya, termasuk didalamnya nilai-nilai, sikap-sikap dan pola-pola perilaku diantara kelompok-kelompok dalam masyarakat.

Perubahan sosial yang terbesar dalam sepanjang abad islam mungkin adalah apa yang telah dibawa oleh Muhammad saw. Melalui metode-metode yang dipakai telah mampu mengubah pola perilaku masyarakat dari yang suka berperang, suka membunuh anak perempuan, suka mabuk-mabukan menjadi masyarakat yang progresif, intelektual, terpelajar, dan yang terpenting, semua perilaku masa lalunya hilang ketika Muhammad mengubah sosio-kultural yang ada pada waktu itu.

Muhammad adalah Nabi sekaligus pemimpin yang terhebat sepanjang sejarah ini. Dan ini telah dibuktikan Michael Hearts dalam bukunya “100 orang yang berpengaruh di dunia” menempatkan Muhammad saw diurutan pertama. Ajaran Islam yang dibawanya mampu mengakar kedalam sosio-kultural mereka, mengubah masyarakat jahiliyah menjadi masyarakat yang intelektual.

Proses perubahan masyarakat yang digerakkan oleh Muhammad adalah evolusi. Proses itu digerakkan dengan mekanisme interaksi dan komunikasi sosial, dengan imitasi, sugesti, identifikasi dan simpati. Strategi perubahan kebudayaan yang dicanangkan adalah strategi yang sesuai dengan nalar, fitrah, bakat, asaz atau tabiat-tabiat universal kemanusiaan.


 

Strategi atau apalah namanya yang diterapkan oleh Muhammad sebenarnya patut kita pelajari, mengapa dalam kurun waktu kurang lebih 22 tahun, Muhammad bisa mengubah masyarakat yang jahiliyah kepada masyarakat yang intelektual tadi. Bahkan bukan Cuma untuk kaum Arar saja, akan tetapi hampir seluruh dunia dihegemoni oleh fikroh/pemikiran Muhammad tadi. Ini sangat jelas, mengapa dan ada apa dibalik dari strategi yang diterapkan oleh Muhammad. Suatu hipotesis yang perlu diketengahkan, bahwa sistem teologi yang dibawa oleh Muhammad sangat bertentang dengan sistem teologi yang ada dalam masyarakat jahiliyah.

Faktor Mempengaruhi Perubahan

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi suatu perubahan, yaitu: bertambah atau berkurangnya penduduk, penemuan-penemuan baru, pertentangan, terjadinya revolusi di dalam masyarakat itu sendiri, adanya gangguan dari alam seperti; gempa bumi, tsunami, dan peperangan.

Konsep Islam Tentang Perubahan itu sendiri

Perubahan adalah suatu hukum alam atau disebut Sunnatullah. Kita bisa membuktikan bahwa kehadiran manusia di bumi ini adalah dari yang tidak ada menjadi ada. Penciptaan bumi dan lain sebagainya pun hampir sama halnya dengan manusia. Dalam ‘adanya’ manusia, ia telah mengalami perubahan dari anak, dewasa, dan tua.

Dan juga, perubahan-perubahan itu terjadi di masyarakat-masyarakat muslim. Perubahan-perubahan sosial tentu saja dibolehkan, selama tidak melanggar prinsip asaz-asaz sosial yang telah ditentukan oleh Allah. Akan tetapi, banyak masyarakat islam yang tidak mengerti akan hal itu, terkadang mereka – atau bahkan kita – juga melanggar prinsip-prinsip tersebut. Dan kemudian, apakah perubahan sosio budaya itu sesuai dengan islam atau bukan, itu mereka – atau bahkan kita – sama sekali tidak tahu.

Didalam masyarakat islam itu sendiri sebenarnya terbagi menjadi 2 dalam menerima perubahan dan tidak menerima perubahan. Masyarakat muslim yang tidak menerima perubahan adalah mereka untuk menyelamatkan iman dan agama mereka. Tidak menerima perubahan berarti tidak meneriman sesuatu yang baru. Sesuatu yang baru itu adalah mungkin berbentuk ide, konsepsi, ataupun gagasan. Selain daripada itu masyarakat islam terbuka dalam perubahan sosial entah itu dalam sesuatu yang baru, ataupun karena asimilasi, difusi, dan akulturasi.

Namun, ada juga masyarakat muslim yang menerima perubahan sosial tanpa batas. Demi untuk maju, semua perubahan dihalalkan. Apakah mengenai prinsip sosialnya atau cara pelaksanaannya. Dengan menerima prinsip yang bukan dari Islam, maka ia tergelincir kepada cara hidup yang bukan kepada islam, walaupun sebenarnya ia masih beragama islam atau mungkin bisa juga disebut materialisme, hedonisme, dan isme-isme yang baru. Karena sosiobudayanya tidak mengikuti dengan apa yang telah digariskan oleh islam. Dan mereka yang menolak perubahan sosial menjadi statik. Prinsip dan cara pengalamannya hanya terhenti saat ada dalil naqli. Akal tidak mempunyai kewenangan untuk mengubahnya.

Kesimpulan
Jadi konsep islam dalam perubahan sosial itu ada. Bahkan Allah pun menyuruh masyarakat untuk berubah, kalau tidak mau berubah biar Allah saja yang mengubahnya. Akan tetapi, ada beberapa jenis masyarakat muslim yang mau melakukan perubahan sosial karena mereka ingin menjadikan islam itu agama yang fleksibel. Tapi bukan dalam hal yang prinsip. Namun ada juga masyarakat islam yang begitu mereka melakukan perubahan sosial, prinsip-prinsip yang telah Allah gariskan telah hilang dalam perubahan mereka. Artinya Islam sudah menjadi agama kenangan. Akan tetapi ada juga masyarakat islam yang sama sekali tidak ingin melakukan perubahan. Akhirnya mereka terjebak pada satu agama yang statik/ tidak berubah. Mereka menjadi terbelakang. 

Memahami konsep perubahan sosial dalam islam memang tidak mudah. Karena kita juga akan bersinggungan dengan hal-hal yang baru dalam islam, dimana islam sebenanya mengatur tapi tidak dijelaskan secara detail. Maka dalam hal ini, sebagai masyarakat muslim yang intelektual seharusnya memahami fiqh-fiqh yang seharusnya dipelajari secara mendalam, seperti fiqh muwazanat, fiqh aulawiyat, fiqh kemenangan dan kejayaan, dan mungkin zaman terus akan berlanjut maka akan bermunculan fiqh-fiqh yang baru. “Jikalau tidak ada fiqh-fiqh yang baru atau suatu aturan untuk menyamakan kualitas dan kuantitas agama dalam peredaran zaman, maka sesungguhnya islam ini hanya akan menjadi suatu agama yang catatan sejarahnya berhenti sampai disitu.”

Referensi:

Soejono Soekamto. 1974. Sosiologi Suatu Pengantar. Yogyakarta: UI Yogyakarta.

Ali A. Mukti. 1980. Manusia, Islam dan Kebudayaan. Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Alpizar. Islam dan Perubahan Sosial (Suatu Teori Tentang Perubahan Masyarakat) Riau: UIN Sultan Syarif Kasim Riau Press.

FacebookTwitterGoogle+LinkedIn

Nasakh Mansukh

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.    LATAR BELAKANG MASALAH

Dari awal hingga akhir, al-Qu’an merupakan kesatuan utuh. Tak ada pertentangan satu dengan lainnya. Masing-masing saling menjelaskan al-Qur’an yufassir-u ba’dhuhu ba’dha. Dari segi kejelasan, ada empat tingkat pengertian. Pertama cukup jelas bagi setiap orang. Kedua, cukup jelas bagi yang bisa berbahasa Arab. Ketiga, cukup jelas bagi ulama/para ahli, dan keempat, hanya Allah yang mengetahui maksudnya.al-Qur’an dijelaskan tentang adanya induk pengertian hunna umm al-kitab yang sudah mempunyai kekuatan hukum tetap. Ketentuan-ketentuan induk itulah yang senantiasa harus menjadi landasan pengertian dan pedoman pengembangan berbagai pengertian, sejalan dengan sistematisasi interpretasi dalam ilmu hokum. Hubungan antara ketentuan undang-undang yang hendak ditafsirkan dengan ketentuan-ketentuan lainnya dan undang-undang tersebut maupun undang-undang lainnya yang sejenis, yang harus benar-benar diperhatikan supaya tidak ada kontradiksi antara satu ayat dengan ayat lainnya.

 

Hal ini untuk menjamin kepastian hukum. Sementara, unsur-unsur bahasa, sistem dan teologi dan teori interpretasi hukum masih harus dilengkapi dengan satu unsur lain yang tidak kalah pentingnya. Itulah unsur sejarah yang melatarbelakangi terbentuknya suatu undang-undang, yang biasa dikenal “interpretasi historis.”

Dalam ilmu tafsir ada yang disebut asbab al-nuzul, yang mempunyai unsur historis cukup nyata. Dalam kaitan ini para mufassir memberi tempat yang cukup tinggi terhadap pengertian ayat al-Qu’an. Dalam konteks sejarah yang menyangkut interpretasi itulah kita membicarakan masalah nasikh-mansukh.

 


 

 

B.    RUMUS MASALAH

1.    Apa pengertian nasikh mansukh?

2.    Apa pengertian nasikh mansukh dalam al-Qur’an ?

3.    Apa pengertian nasikh mansukh dalam hadits ?

4.    Apa pengertian klasifikasi nasik mansuk dan cara mengetahui nasikh mansuh?


C.    TUJUAN PEMBAHASAN

1.    Agar mengetahui pentingnya nasikh mansukh.

2.    Agar mengetahui nasikh mansukh dalam al-Qur’an.

3.    Agar mengetahui nasikh mansukh dalam hadits.

4.    Agar mengetahui klasifikasi nasikh mansukh.

 

BAB II
PEMBAHASAN


A.    PEGERTIAN NASIKH MANSUKH

Secara bahasa nasakh adalah menghapus, sedangkan mansukh adalah yang dihapus. Dengan demikian ada dua hal yang terkait yakni Nasikh dan Mansukh. Sedangkan menurut istilah yang dimksud dengan Nasaikh adalah meñghapuskan suatu ketentuan hukum syara’ dengan dalil syara’ yang datangnya kemudian.

Atau Iebih jelasnya Nasikh adalah menghapus/membatalkan berlakunya sesuatu hukum syara’ yang telah ada oleh hokum syara’ yang datang kemuudian. Sedangkan Mansukh adalah sesuatu ketentuan hukum syara yang dihapuskan oleh hukum yang dating kemudian itu. Jadi Nasikh berarti mnghapus sedangkan Mansukh berarti dihapus.

 

Dari definisi tersebut dapat diambil pemahaman bahwa antara yang merusak dengan yang dirusak itu terdapat suatu masa yang di dalam masa berlaku hukum yang dinasakhkan, artinya jika na.sakh yang merusakkan itu tidak datang, maka secara pasti hukum yang telah ada itu tetap saja berlaku. Jadi yang dibatalkan itu dikenal dengan sebutan Mansukh sedang yang membatalkan dikenal dengan sehutan Nasikh.

Para Ulama berbeda pendapat perihal adanya Nasikh Mansukh dalam Al-Qur’an. Ditinjau daei segi akal maupun dari riwayat, maka perihal Nasikh Mansukh itu bisa saja terjadi. Hal ini sudah disepakati para Ualarua’, kecuali nasikh mansukh terhadap dalam AlQur’an ataupun al-Qur’an dengan Al Hadits para ulama masih berbeda pendapat.

 

Menurut akal, bisa difahami bahwa setiap ummat itu memiliki kepentingan yang berbeda antara waktu yang satu dengan waktu yang lain, antara satu situasi dengan situasi yang lain. Sehingga terkadang pada suatu waktu dan situasi tertentu, karena adanya kepentingan tertentu ditetapkan adanya aturan hukum tertentu, akan tetapi pada situasi yang lain, karena adanya perubahan situasi dan kepentinan, maka ketentuan hukum yang telah ditetapkan itu dirobahnya, disesuaikan dengan situasi dan kepentingan itu.

 

Misalnya ketentuan tentang boleh tidaknva berziarah kubur. Semula ziarah kubur itu dilarang oleh Nabi SAW, tetapi kemudian oleh beliau dianjurkannya. Hal ini karena situasi pada waktu dilarangnya dan pada waktu dianjurkannya itu sudah berbeda, yakni semula orang Arab Jahiliyah masih kuat sekali kemusyrikannya, setelah syirik itu terkikis oleh Nabi SAW maka mereka dianjurkan untuk ziarah kubur, karena tidak lagi ditakutkan menjadi musyrik. Misalnya riwayat lain perihal ketentuan kiblat sholat, semula nabi SAW sholat menghadap ke Baitul Maqdis kemudian dinasakh dengan menghadap ke Masjidil Haram.

Jadi secara riwayat ternyata ketentuan nasakh iyu pernah dipraktekkan oleh Nabi SAW.

  1. Golongan ke-1 menyatakan bahwa ada nasikh mansukh dalam al-Qur’an, artinya ada ayat atau ketentuan hokum dalam al-Qur’an yang dihapuskan. Yang termasuk golongan ini adalah : Imam Syafi’I, Imam As Suyuti, Imam Asy Syaukani. Alas an mereka adalah:

 

a.    Berdasarkan dalil al-Qur’an sendiri, antara lain:

 

Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya.(al-Baqoroh, 106)

 

Dan apabila Kami letakkan suatu ayat di tempat ayat yang lain sebagai penggantinya (An Nahl, 101)

 

Dua ayat itu mengindikasikan pembéritahuan Alloh bahwa: ada ayat yang diganti oleh ayat lain, baik yang sepertinya atau yang lebih baik daripadaaya.

Karena adanya kenyataan memperlihatkan, beberapa ayat memperlihatkan perlawanan antara lahiriah ayat yang satu dengan lainya. Misal firman Allah.

 

Dan orang-orang yang akan meninggal dunia di antara kamu dan meninggalkan isteri, hendaklah Berwasiat untuk isteri-isterinya, (yaitu) diberi nafkah hingga setahun lamanya dan tidak disuruh pindah (dari rumahnya). Akan tetapi jika mereka pindah (sendiri), maka tidak ada dosa bagimu (wali atau waris dari yang meninggal) membiarkan mereka berbuat yang ma'ruf terhadap diri mereka. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Q.S Al-Baqarah: 240)

 

Sedangkan pada firman lain. Al Baqoroh 234 Allah menyatakan:

 

Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah Para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber'iddah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila telah habis 'iddahnya, maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka147 menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat. (Q.S Albaqarah:234)

 

b.    Dengan melihat contoh dua ayat itu, tentu salah satunya berperan menghapuskan ketentuan ayat yang lainnya, yakni menahan dirinya itu setahun apa empat bulan sepuluh hari.

 

2. Golongan ke-2 menyatakan tidak ada Nasikh Mansukh dalam al-Qur’an. Termasuk golongan mi adalah : Ubay Bin Ka’ab, Abu Muslim Al Isfahan, Muhammad Abduh, Rosyid Ridlo dll. Alasan mereka adalah:

 

a.    Tidak ada keterangan yang spesifik dan tegas dari Al Qur’an sendiri bahwa ayat ini dimansukh dan ayat yang ini memansukh (menghapus), yakni keterangan ayat apa yang dihapus dan ayat apa yang menghapuskan.

b.    Tidak ada keterangan Hadits yang shorih/jelas yang menjadi nash qoth’i (meyakinkan) perihal adanya ayat apa yang dimansukh itu dan ayat apa yang memansukh.

c.    Melihat pendapat para ulama’ yang menyatakan adanya Nasikh Mansukh ternyata tidak kompak (ada perbedaan pendapat perihal jumlah berapa ayat yang di mansukh itu), sehingga pendapat mereka itu tidak meyakinkan.

d.    Setelah direnungkan ternyata ayat yang nampaknya berlawanan itu masih bias dikompromikan.

Perlu diketahui bahwa karena tidak adanya penjelasan Nabi SAW secara rinci mana ayat yang Mansukh, maka para ulama berbeda pendapat tentang jumlah ayat yang masukh. Misalnya menurut An Nahhas jumlah ayat yang mansukh adalah 100 ayat, sedangkan menurut Imam As Suyuti jumlahnya 20 ayat, sedangkan menurut Asy Syaukani jumlahhnya 8 ayat.

Misalnya ayat Q.S. Al Baqoroh 184:

 

 (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan[114], Maka Itulah yang lebih baik baginya. dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu Mengetahui. (Q.S al-baqarah:184)

[114]  maksudnya memberi makan lebih dari seorang miskin untuk satu hari.

 

Menurut ulama golongan pertama bahwa ayat ini dimansukh  oleh surat al-Baqoroh, 185:

 

185.  (beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.(Q, S al-baqarah:185)

 

Sebaliknya bagi golongan kedua yang menyatakan tidak ada nasakh mausukh dalam Al Quran, kedua ayat tersebut bisa dikompromikannya, yakni bagi siapa saja yang melihat bulan hendaknya berpuasa, kecuai bagi yang tidak mampu melaksanakan puasa, mereka yang sangat tua atau lemah ini bila dikehendaki dapat berbuka puasa dengan menggantinya dengan fidyah.

 

B.    NASAKH MANSUKH DALAM AL-QUR’AN

 

106.  Ayat mana saja[81] yang kami nasakhkan, atau kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tidakkah kamu mengetahui bahwa Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?
·    [81]  para Mufassirin berlainan pendapat tentang arti ayat, ada yang mengartikan ayat Al Quran, dan ada yang mengartikan mukjizat.
(QS. Al-Baqarah : 106)

 

Asy sa’dy berhujjah untuk orang yang memakai makna ini dengan firman Allah: “Inna kunna nastansikhu makuntum ta’malun-bahwasanya Kami menukilkan apa yang kamu kerjakan (QS. 45, Al Jatsiyah:29) yang dipautkan dengan firman Allah “Wa innahu fiummil kitabi ladaina la’aliyyun hakim = Sesungguhnya dia, yang berada di ummul kitab di sisi kami sungguh tinggi lagi kokoh”. (QS. 43, Az-Zukhruf: 4).

 

Al-Kitab menurut Asy Sa’dy tidak lain adalah Lauh Mahfuz atau Al-Kitabul Maknun. Penasikh Al-Qur’an yang menukilkannya telah mendatangkan lafal yang dimansukh, dinukil dan diturunkan kepada rasul.

Sumber perbedaan pendapat dalam mendefinisikan lafal nasakh kembali kepada pembatasan makna kata secara lughah secara istilah, supaya penggunaan lafal nasakh yang telah digunakan Al-Qur’an dalam firman Allah ayat 106 S. 2, Al-Baqarah, berlaku menurut uslub bahasa Arab dalam menerangkan sesuatu peristiwa yang mempunyai kedudukan yang besar.


Pendapat Beberapa Ulama Mengenai Nasakh-Mansukh

Menurut pendapat sebagian ulama ahli tahqiq, Al-Qur’an menggunakan lafal nasakh di segala tempat, sesuai dengan makna yang asli (hakiki) yang hanya itulah makna yang terguris di dalam dada masing-masing manusia. Oleh karenanya, mentakrifkan nasakh dengan perkataan raf’ul hukmisy syar’iyi bi dalilin syar’iyin = mengangkat sesuatu hukum syara’ dengan dalil syara’, adalah tahdid istilahy yang paling tepat bagi lafal ini, yang sesuai dengan bahasa Arab yang menetapkan bahwasanya nasikh itu, bermakna “menghilangkan dan mengangkat ketempat yang lain”.

 

Nash-nash syara’ mengangkat sebagian hukumnya dengan dalil-dalil yang kuat dan tegas pada peristiwa-peristiwa yang tertentu, karena mengandung rahasia-rahasia dan hikmah-hikmah yang hanya diketahui oleh ulama-ulama yang kuat ilmunya. Yang lainnya berpendapat bahwasanya nasakh hanya di dalam Al-Qur’an sendiri. Maka tidak salah al Quran dinasakhan oleh al-Quran,sepertimenasakhan puasa hari asyura dengan ayat shiyam.

 

Diantara tindakan dari para ulama yang berlebihan ialah mereka telah membagi sebuah ayat kepada dua bagian, lalu mereka mengat akan bahwa permulaannya dimansukhan oleh akhirnya.

Seperti firman Allah ayat 105 Surah Al-Maidah. Akhir ayat itu menyeru kita supaya menyuruh makruf dan mencegah munkar. Maka akhir ayat ini, menurut pendapat Ibnu Araby menasakhkan permulaannnya. Bahkan Ibnu Araby mengatakan, bahwa permulaan ayat 199 Surah Al A’raf dan demikian pula akhirnya mansukh. Hanya pertengahannya saja yang muhkam.

 

Kegemaran mereka menyingkap mana yang mansukh dalam ayat-ayat Al-Qur’an, menjerumuskan mereka kedalam berbagai kesalahan yang selayaknya mereka jauhi. Mereka memandang nasakh dalam al quran terbagi menjadi tiga macam:

·    Menasakhan hukum, tetapi tidak tilawahnya.

·    Menasakhan tilawah, tetapi tidak hukumnya.

·    Menasakhan hukum dan tilawah.

 

Bahkan ada lagi golongan yang mengatakan bahwa ayat yang nasikh itu bisa menjadi mansukh pula. Mereka berkata : “Ayat ke-6 dari surah Al-Kafirun dimansukhan oleh ayat ke-5 surah At-Taubah, kemudian ayat ke-5 surah At-Taubah itu, dimansukhan oleh ayat 29 surah At -Taubah.”

Sikap berlebih-lebihan sebagian ulama tentang nasakh dan mansukh itu jelas tidak masuk akal, dan seolah-olah meragukan eksistensi Al-Qur’an itu sendiri.

 

C.    NASAKH MANSUKH DALAM HADITS

Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as. telah menghilangkan segala keaiban (nasakh dan mansukh) dari Agama Islam setelah beliau diutus. Beliau telah membuktikan dengan dalil-dalil bahwa Al-Qur’an itu petunjuk terakhir Allah swt. Al-Qur’an terpelihara dari kemansukhan. Segala sesuatu yang terkandung di dalamnya wajib diamalkan oleh orang-orang Islam. Tiada satu bagianpun yang bertentangan dengan bagian lainnya dan patut dianggap mansukh. Barang siapa melihat pertentangan didalamnya, ia sendirilah yang jahil, dan ia menuduhkan ketunaan pengetahuannya kepada Al-Qur’an Suci. Didalamnya tidak sedikitpun terjadi perubahan. Kata demi katanya dan huruf demi hurufnya utuh seperti dahulu ketika diturunkan kepada junjungan kita Rasulullah saw. Allah Ta’ala sendirilah yang menjadi penjaganya. Dia mengadakan sarana-sarana penjagaan rohani maupun jasmani baginya sedemikian ketatnya sehingga campur tangan manusia tidak dapat memberi bekas kepadanya.2 Jadi, mengatakan adanya pembatalan di dalamnya adalah keliru. Begitu pula mempercayai ada perubahan didalamnya merupakan suatu tuduhan keji.

Dalil yang sering digunakan olah para ulama berkenaan dengan nasakh dan mansukh adalah firman Allah swt. Dalam Surah Al-Baqarah : 106 ;

“Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, kami datangkan yang lebih baik dari padanya atau yang sebanding dengannya. Tidakkah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?”.

Ada kekeliruan dalam mengambil kesimpulan dari ayat ini. bahwa, beberapa ayat Al-Qur’an telah dimansukhan (tidak berarti lagi). Kesimpulan itu jelas salah dan tidak beralasan. Tiada sesuatupun dalam ayat ini yang menunjukan bahwa, kata ayah itu maksudnya ayat-ayat Al-Qur’an. Padahal kata ayah itu sendiri memiliki banyak arti diantaranya pesan, tanda, perintah atau ayat Al-Qu’ran. Dan yang tepat dalam konteks ini adalah diartikan dengan perintah. Karena dalam ayat sebelum dan sesudahnya telah disinggung mengenai Al-Kitab dan keirian mereka terhadap wahyu baru yang menunjukan bahwa ayah yang dikatakan mansukh dalam ayat ini, menunjuk kepada wahyu-wahyu terdahulu. Dijelaskan bahwa ayat-ayat suci terdahulu mengandung dua macam perintah:

•    Yang menghendaki peghapusan karena keadaan sudah berubah dan karena keuniversalan wahyu baru itu (Al-Qur’an), menghendaki penghapusan.

•    Yang mengandung kebenaran kekal-abadi, atau memerlukan penyegaran kembali sehingga orang dapat diingatkan kembali akan kebenaran yang terlupakan.

Karena itu, perlu sekali menghapuskan bagian-bagian tertentu dari kitab-kitab suci itu dan mengganti dengan perintah-perintah baru dan menegakkan kembali perintah-perintah yang sudah hilang. Maka, Tuhan menghapuskan beberapa bagian wahyu terdahulu, dan menggantikannya dengan yang baru dan lebih baik, dan disamping itu memasukkan lagi bagian-bagian yang hilang dengan yang sama. Itulah arti yang sesuai dan cocok dengan konteks (letak) ayat ini dan dengan jiwa umum ajaran Al-Qur’an.3

Jadi jelaslah bahwa pengertian tentang nasakh yang menghilangkan sebagian ayat-ayat dalam Al-Qur’an adalah suatu kesalahan dan tidak ada relevansinya dengan apa yang sedang dibahas dalam ayat (Al-Baqarah : 107) ini. Karena yang dimaksud dengan nasakh dalam ayat ini adalah berkenaan dengan hukum-hukum/perintah-perintah yang terdapat dalam kitab suci terdahulu.

 

Yang di maksud dengan Nasikh Mansukh ialah Ilmu pengetahuan yang membahas tentanghadist yang datang terkemudian sebagai penghapus terhadap ketentuan hukum yang berlawanandengan kandungan hadist yang datang terlebih dahulu, ada juga yang memberi Pengertian(ta'rif)ilmu nasikh mansukh sebagai berikut :"Ilmu yang menerangkan hadist-hadist yang sudah di mansukhkan dan yang menasikhkanya".Para Muhaddisin memberikan penjelasan tentang nasikh Mansukh secara lengkap yaitu:"Ilmu yang membahas hadist-hadist yang serting berlawanan maknanya yang tidak mungkindapat dikompromikan dari segi hokum yang terdapat pada sebagianya,karena ia sebagai nasikh(penghapus) terhadap hokum yang terdapat pada sebagian lainya,karena ia sebagaimansukh(yang dihapus).karena itu yang mendahului adalah sebagai mansukh dan hadist yangterakhir adalah sebagai nasikh".sejarah perkembangan sumber Ilmu Nasikh Mansukh itu sudah ada sejak pendiwanan(kodifikasi) pada awal abadpertama,akan tetapi belum muncul dalam bentuk ilmu yang berdiri sendiri.

 

Kehadiranya sebagaiilmu di promotori oleh Qatadah bin Di"amar As-sudusi (61-118 H.) dengan tulisan beliau yangdiberi judul "An-nasikh wal-mansukh", Namun sangat disayangkan bahwa kitab tersebut tidakbisa kita manfaatkan ,lantaran tiada sampai hidup kita.Urgensi dari pada ilmu ini adalah :

·    Mengetahui Ilmu Nasikh Mansukh adalah tertmasuk kewjiban yang penting bagi orang-orang yang memperdalam ilmu-ilmu syari"at. Karena seorang pembahas syari"at tidakakan dapat memetik hokum dari dalil-dalil naskh (hadits), tanpa mengetahui dalil-dalilnash yang sudah di nasakh dan dalil-dalil yang menasakhnya.

·    Memahami khitob hadits menurut arti yang tersurat adalah mudah dan tidak banyakmengorbankan waktu. Akan tetapi yang menimbulkan kesukaran adalah mengistimbatkanhukum dari dalil-dalil nash (hadits) yang tidak jelas penunjukanya. Diantara jalan untuk

·    Mentahqiq (mempositipkan) ketersembunyian arti yang tidak tersurat ialah denganmengetahui mana hadits yang terdahulu dan mana pula hadits yang terkemudian danlain sebagainya dari segi makna.

Ilmu nasikh mansukh ini bermanfaat untuk pengamalan hadits,Apabila ada dua haditsmaqbul (Diterima) yang tanaaqud (bertentangan) yang tidak dapat dikompromikan ataudijama" (di kumpulkan). Apabila dapat di kompromikan,hanya sampai pada tingkatMukhtalif Al-hadits,maka kedua hadits tersebut dapat diamalkan. Namun jika tidak bisadijama" (Di kompromikan), maka hadits maqbul yang tanaaqud tadi di tarih atau dinasakh.

 

D.    KLASIFIKASI NASIKH MANSUKH DAN CARA MENGETAHUI NASIKH MANSUKH

a)    Klasifikasi Nasikh

Para ahli ushul yang mengakui keberadaan nasakh itu, membagi nasakh menladi beberapa bagian, yaitu:

1.    Nasakh yang gantinva tidak ada, seperti nasakh terhadap keharusan orang yang akan berbicara dengan Nabi SAW untuk bersedekah kepada orang miskin.

2.    Nasakh yang gantinya ada, seperfi kewajiban shalat yang asalya sebanyak 50 kali sehari semalam, menjadi hanya 5 kali sehari-semalam.

3.    Nasakh bacaannya, tetapi hukumnva tetap berlaku, seperti hukum

ranjam bagi laki-laki dan wanita tua yang telah menikah dan ini dinasakh dengan ayat lain.

4.    Nasakh hukumnya, tetapi bacaannva masih ada. seperti nasakh terhadap kewajiban sedekah kepada orang miskin.

5.    Nasakh hukumnya dan bacaannya sekaligus, seperti hukurn haramnya menikahi saudara sesusuan dengan batasan 10 kali menjadi hanya 5 (Hadis riwayat Bukhari-Muslim dari ‘Aisvah)

6.    Penambahan hukum dari hukum yang pertama. Dalam masalah ini

yang dipersoalkan adalah

Ø    Apakah tambahan itu dianggap menasakh nash atau hanya sebagai penjelas terhadap nash. Para ahli berbeda pandangan, yaitu:

·    Kelompok Hanafiyyah berpendapat bahwa tambahan itu termasuk menasakh. Maksudnya jika nash tersebut bersifat qath’iy maka tidak dapat menasakh dengan hadis ahad. Jika tambahan terdapat hadis ahad, maka berakibat tambahan tersebut ditinggalkan dan tidak boleh dipakai.

·    Jumhur Ulama, dan kelompok Syafi’iyyah, Malikiyyah dan Hanabilah berpendapat bahwa tambahan itu merupakan penjelas (bayan) dari nash, bukan menasakh’. Sekalipun mereka tetap memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

Ø    Jika hukum tambahan tidak terkait dengan hukum yang ditambah, hal itu tidak termasuk nasakh, karena keduanya terpisah, seperti penambahan kewajiban shalat pada ayat yang menerangkan kewajiban zakat, sehigga perintah shalat tidak berpengaruh pada zakat.

Ø    Jika hukum yang di nasakh itu berkaitan dengan hukum yang ditambah, maka tambahan itu namanya nasakh, seperti penambahan rakaat pada shalat shubuh yang hanya dua rakaat. Hal ini berarti mengubah esensi dari shalat itu sendiri.

Ø    Jika penambahan itu mempengaruhi pada bilangan tetapi tidak mempengaruhi esensi hukum semula, seperti hukuman dera bagi orang yang menuduh orang lain berbuat zina adalah 80 dera dan ditambah dengan 20 pukulan. Dalam hal ini terjadi perbedaan pendapat, yaitu:

·    Jumhur berpendapat tidak dinamakan nasakh, karena esensinya masih tetap.

·    Kelompok Hanafiyah berpendapat termnasuk nasakh, karena hukum asalnya sudah berubah.

b)    Cara Mengetahui Nasakh dan Mansukh.

Adapun tata-cara untuk mengetahui dan melaak ada dan tidaknya nasakh- mansukh adalah sebagai berikut:

·    Adanya penjelasan langsung dari nash al-Qur’an dengan menggunakan ayat yang menjelaskan nasakh

·    Adanya penjelasan langsung dan Rasulullah, seperti masalah berziarah,

Dahulu aku melarang kamu berziarah kubur, tetapi sekarang berziarahlah. (Hadis riwayat Muslim)

·    Adanya tindakan Nabi saw sendiri, seperti dera 100 kali bagi pezina, diantaranya:

o    Al-Qur’an, surat: an-nur:2, yaitu: pezina harus di dera 100 kali dera :

(èpu‹ÏR#¨“9$# ’ÎT#¨“9$#ur (#rà$Î#ô_$$sù ¨@ä. 7‰Ïnºur $yJåk÷]ÏiB sps($ÏB ;ot$ù#y_  

Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, Maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera(Q, S, an nuur,2)

o    al-Hadis, yaitu: pezina bujang atau gadis didera 100 kali dan diasingkan 1 tahun. Pengasingan 1 tahun sebagai tambahan.

·    Adanya penjelasan dan para sahabat bahwa nash ini dinasakh dan nash yang ini yang menasakh (mansukh),

·    Adanya keterangan dan periwayatan hadis yang menyatakan bahwa satu hadis dikeluarkan tahun sekian dan hadis lain tahun sekian, seperti ucapan ayat ini turun setelah ayat ini dan sebagainya. Contoh :

§    AI-Qur’an surat AI-muzammil:20,

 

 

Maka Bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran dan Dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik.

§    Jumhur Ulama’ berpendapat bahwa penentuan surat al-fatihah dalam hadis merupakan penjelas terhadap segala sesuatu yang dikatakan sebagai ayat-ayat yang mudah.

§    Kelompok Hanafiyah berperidapat bahwa bacaan yang diwajibkan di dalam shalat adalah sembarang ayat al-Qur’an dan tidak harus surat al-Fatihah.

c)    Cara Mengetahui Nasakh dan Macam-Macamnya

Manna’ al-Qatthan menetapkan 3 cara untuk mengetahui bahwa suatu dikatakan nasikh, dan ayat lain dikatakan mansükh, yaitu:

1.    Keterangan tegas dan Nabi.

2.    Melalui kesepakatan umat bahwa ayat ini nasikh dan mansukh.

3.    Melalui study sejarah.

Adapun pembagian nasikh ada 4 bagian yaitu:

1.    Nasikh Al-Qur’an dengan-Al-Qur’an. Contohnya: ayat tentang iddah 4 bulan 10 hari.

2.    Nasikh Qur’an dengan sunah. Dalam hal ini dibagi menjadi 2 macam:

·    Nasakh Qur’an dengan hadis ahad

·    Nasakh Qur’an dengan hadis mutawatir

3.    Nasakh sunah dengan Qur’an. Contohnya kewajiban puasa pada hari Asyura yang ditetapkan berdasarkan sunah, dinasakh oleh firman Allah: “Maka barangsiapa menyaksikan bulan Ramadlan hendaknya ia berpuasa”. (Q.S. AI-Baqarah: 185).

4.    Naskh sunnah dengan sunnah. Dalam kategori ini terdapat 4 bentuk:

·    Naskh mutawatir dengan mutawatir.

·    Naskh ahad dengan ahad

·    Naskh ahad dengan mutawatir

 

BAB III
KESIMPULAN

 

Nasikh adalah memindahkan, merubah, menggantikan, atau menghilangkan. Sedangkan sesuatu yang dihilangkan, digantikan, diubah, dipimdahkan, disebut mansukh.

Dasar-dasar penetapan nasikh mansukh yaitu melalui pentransmisian yang jelas dari nabi atau para sahabatnya melalui kesepakatan umat melalui studi sejarah.

Ada tiga macam nasikh diantaranya menghapus terhadap hokum dan bacaan secara bersamaan. Nasikh dalam al-Qur’an ada empat; nasikh shirih, nasikh dhimmy, nasikh kully, nasikh juz’i. hikmah keberadaan nasikh yaitu menjaga kemaslahatan umat, mengembangkan pengertian hukum sampai pada tingkat kesempurnaan menjadi kualitas keimanan mukallaf, kebaikan dan keburukan umat.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Zen Amiruddin, Ushul Fiqih, El Kaf, Surabaya:60237

 

Al Ghozaly, al Mankhul, Minta’likat Al-ushul fiqih Muhammad Hasan Haiti. Mesir, Dar Al-fikr:1980

 

Quraish shihab, Membumikan Al­­-Quran, Bandung, Mizan:1992

 

 Ma’shum Zain Muhammad, Ilmu Ushul fiqih, Darul Hikmah Jombang, Dan Maktabah Syarifah Al-Khodijah. 

 

Depertemen agama RI, al-Quq’an Mushaful Mufssiru, Bairut,2009,dan al-Qur’an al-kaaf, ponegoro.2004

 

Ibnu Badran,al-Madkhal lla Mazhab Ahmad Bin Hanbal, (Mesir,Mathaba’ah Idara thaba’ah al-Muniroh,

FacebookTwitterGoogle+LinkedIn

Ulumul Hadits – Pra Kodifikasi Hadits

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

Syukur alhamdulillah kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan nikmatnya sehingga kami dapat menyusun makalah tentang takhrij hadist.

Adapun tujuan penyusunan makalah ini guna memenuhi tugas mata kuliah ulumul hadist. Hadist adalah salah satu pedoman hidup umat islam dimana kedudukan hadist disini adalah sebagai sumber hukum islam yang ke-2 setelah al-qur’an. Didalam ilmu hadist pun terdapat pula sejarah dan perkembangan hadist pada masa prakodifikasi, yang mungkin belum diketahui oleh teman-teman. Oleh karena itu kami menyusun makalah ini dengan harapan memberi pengetahuan pada penyusun khusunya dan pada pembaca pada umumnya.

Tiada gading yang tak retak, begitulah pepatah mengatakan. Kami sadar bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan. Untuk itu kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan demi kesempurnaan dalam penyusunan makalah-makalah selanjutnya.

 

  1. Latar Belakang Masalah

Keberadaan hadist sebagai salah satu sumber hukum dalam islam memiliki sejarah perkembangan dan penyebaran yang kompleks. Sejak dari masa pra kodifikasi, zaman Nabi, Sahabat dan Tabi’in hingga setelah pembukuan pada abad ke-14.

Perkembangan hadist pada masa awal lebih banyak menggunakan lisan, dikarenakan larangan Nabi untuk menulis hadist. Larangan tersebut berdasarkan kekhawatiran Nabi akan tercampurnya nash Al-Qur’an dengan hadist. Selain itu juga disebabkan fokus Nabi pada para Sahabat yang bisa menulis untuk menulis Al-Qur’an. Larangan tersebut berlanjut sampai pada masa tabi’in besar. Bahkan dengan Khalifah yang lain. Periodesasi penulisan dan pembukuan hadist secara resmi dimulai pada masa pemerintahan Khalifah Umar ibn Abd Aziz (abad 2 H).

Terlepas dari naik turunnya perkembangan hadist, tak dapat dinafikan bahwa sejarah perkembangan hadist memberikan pengaruh besar dalam sejarah peradaban islam.

 

  1. Rumusan Masalah
  1. Bagaimana sejarah perkembanagn hadist pada masa Rasulullah SAW ?
  2. Bagaimana sejarah perkembangan hadist pada masa Sahabat (Khulafa’ Al-Rasyidin) ?
  3. Bagaimana sejarah perkembangan dan pemeliharaan hadist pada masa Tabi’in ?

 

  1. Tujuan Masalah
  1. Untuk mengetahui bagaimana sejarah perkembanagn hadist pada masa Rasulullah SAW.
  1. Untuk mengetahui bagaimana sejarah perkembangan hadist pada masa Sahabat (Khulafa’ Al-Rasyidin).
  1. Untuk mengetahui bagaimana sejarah perkembangan dan pemeliharaan hadist pada masa Tabi’in.

 


 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. periode kodifikasi hadits

Kita tahu bahwa dimasa rosululloh masih hidup, sebagian sohabat dengan motifasi tinggi sempat mengabadikan hadits dalam beberapa lembar catatan (shohifah), hal yang sama terjadi di masa tabi’in. Hamman bin munabbih ( w. 131 H. ) tercatat sempat menghimpun hadits-hadits yang di peroleh dari gurunya, Abu Hurairoh ( w. 59 H. ), yang kemudian di kenal dengan shohifah Hamman Bin Munabbih[1]

Volume aktifitas penulisan hadits semakin meningkat ketika perhilapan tentang hukum penulisan hadits telah sirna dan semua sepakay memperolehkannya. Pada pase inin semangat untuk mengkodifikasikan hadits-hadits nabi pun semakin terlihat, dan hal itu seakan mendapatkan momenttumnyaketika perintah pembukuan hadits menjadi sebuah kebijakan negara saat kendali pemerintah di pagang oleh kholipah Umar Bin Abdul Azis ( pemerintah 99 – 101 H ). Seorang kholipah yang di kenal adil dan wiro’ihingga beliau di pandang sebagai Khulafaur Rosyidin kelima. Rosululloh akan hilang di telan bumi bersama para penghafal nya. [2]

Faktor yang mendorong munculnya gagasan mulia dari kholifah ini antaralain ialah karena wilayah teritorial islam serta keberadaan para aemeluk nya katika itu semakin semakin meluas keberbagai penjuru daeah, sementara di sisi lain para fenghapal hadits telah beransur-ansur meninggal baik dalam medan perang maupun lanjut usia. Beliau kuwatir bila tidak segera di dokomuntasikan dalam sebuah tulisan, hadits-hadits Rosululloh akan hilang di telan bumi bersama para  peng hafal nya.  Beliau juga sadar bahwa ketika itu penyebaran ajaran bid’ah dari kelompok-kelompok sempalan seperti ekstrimis syi’ah, khawarij, atau gerakan penentang qodho’ qadar, telah menebabkan perlakuan buruk terhadap Hadis Nabi. [3]

Untuk lebih memahami kondisi/ keadaan hadist pada zaman Nabi SAW berikut ini akan diuraikan beberapa hal yang berkaitan:

 

Cara Rasul Menyampaikan Hadist

Ada suatu keistimewaan pada masa ini yang membedakannya dengan masa lainnya, yaitu umat islam dapat secara langsung memperoleh hadist dari Rasulullah SAW sebagai sumber hadist. Dimana tempat-tempat yang digunakan sebagai tempat pertemuan diantaranya adalah masjid, rumah beliau sendiri, pasar ketiks beliau dalam perjalanan (safar), dan ketika beliau mukim (berada dirumah).

Dalam riwayat Imam Bukhori, disebutkan Ibnu Mas’ud pernah bercerita bahwa Rasulullah SAW, menyampaikan hadistnya dengan berbagai cara, sehingga para sahabat selalu ingin mengikuti pengajiannya, dan tidak mengalami kejenuhan. Cara tersebut diantaranya adalah :

Pertama, melalui para jama’ah yang berada di pusat pembinaan atau majelis al-ilmi.

Kedua, dalam banyak kesempatan, Rasulullah SAW juga menyampaikan hadistnya melalui para sahabat tertentu, kemudian mereka menyampaikannya kepada orang lain.

Ketiga, melalui ceramah atau pidato ditempat terbuka, seperti ketika haji wada’ dan Futuh Makkah.

Untuk hal-hal tertentu, seperti yang berkaitan dengan soal keluarga dan kebutuhan biologis, beliau menyampaikan melalui istri-istrinya. Begitu pula para sahabat, jika mereka segan bertanya kepada Nabi, mereka sering kali bertanya kepada istri-istri beliau.

 

Keadaan para sahabat dalam menerima dan menguasai hadist

Dalam perolehan dan penguasaan hadist, antara satu sahabat dengan sahabat yang lain tidaklah sama, ada yang memiliki banyak, ada yang sedang bahkan ada pula yang sedikit. Hal ini disebabkan karena:

  • Perbedaan mereka dalam hal kesempatan bersama Rasulullah SAW.
  • Perbedaan dalam soal hafalan dan kesungguhan bertanya kepada sahabat lain.
  • Perbedaan dalam hal waktu masuk Islam dan jarak tempat tinggal dari Majlis Rasul SAW.
  • Perbedaan dalam ketrampilan menulis, untuk menulis hadist.

 

Ada beberapa sahabat yang tercatat banyak menerima hadist dari Nabi SAW mereka adalah:

  • Para sahabat yang termasuk As-Sabiqun Al- Awwalun, seperti Abu Bakar, Umar bin Khattab, ustman bin Affan, Ali bin Abi Tahlib.
  • Ummahat Al-Mu’minin (istri-istri rasul) seperti Aisyah dan Ummu Salamah. Hadist yang diterimanya banyak berkaitan dengan soal pribadi, keluarga, dan tatat pergaulan suami istri.
  • Para sahabat yang disamping dekat dengan Rasul juga menuliskan hadist yang diterimanya, seperti Abdullah Amr bin Ash.
  • Sahabat yang meskipun tidak lama bersama Rasulullah tetapi sangat efisian dalam memanfaatkan kesempatan dan bersungguh-sungguh bertanya kepada sahabat lain, seperti Abu Hurairah.
  • Sahabat yang secara sungguh-sungguh mengikuti Majlis Rasul dan banyak bertanya kepada sahabat lain seperti, Abdullah bin Umar, Anas bin Malik, Abdullah bin Abbas.

Pemeliharaan Hadist dalam Hafalan dan Tulisan.

  1. Aktifitas menghafal hadist

Untuk memelihara kemurnian al-Qur’an dan Hadist, Rasulullah mengambil kebijakan terhadap Al-Qur’an beliau memberi instruksi untuk menulisnya selain menghafalkan. Sedang terhadap hadist beliau secara resmi memerintahkan unutk menghafal dan menyampaikannya kepada orang lain.

Dengan demikian, para sahabat bersungguh-sungguh untuk menghafal hadist agar tidak terjadi kekeliruaan dengan Al-Qur’an. Ada alasan yang cukup memberi motivasi kepada para Sahabat, diantaranya adalah:

  1. Kegiatan menghafal merupakan budaya Arab yang telah ada sejak zaman praIslam.
  2. Mereka terkenal kuat hafalan jika dibanding bangsa-bangsa lain.
  3. Rasulullah banyak memberi spirit melalui doa-doanya agar mereka diberikan kekuatan hafalan dan dapat mencapai derajat yang tinggi.
  4. Dan Rasul sering kali menjanjikan kebaikan akhirat bagi mereka yang menghafalkan hadist dan menyampaikan kepada orang lain.

Aktifitas menulis hadist

Keadaan Sunnah pada masa Nabi SAW belum ditulis (dibukukan) secara resmi, walaupun ada beberapa sahabat yang menulisnya. Hal ini dikarenakan ada larangan penulisan hadist dari Nabi SAW dengan sabdanya:

لاتكقبو اعنّى سيئا غير القران فمن كتب عنّى سيئا غير القر ان فليمحه.

 

”Jangan menulis apa-apa selain Al-Qur’an dari saya, barang siapa yang menulis dari saya selain Al-Qur’an hendaklah menghapusnya”. (Hr. Muslim dari Abu Sa;id Al-Khudry)

 

Tetapi disamping ada hadist yang melarang penulisan ada juga hadist yang membolehkan penulisan hadist, yaitu sabda Nabi SAW:

اكتب عنّى فو الذى نفس بيده ما خرج من فمن الاالحق.

” tulislah dari saya, demi Dzat yang diriku didalam kekuasaanNYA, tidak keluar dari mulutku kecuali yang hak”.

Dua hadist diatas tampaknya bertentangan, maka para ulama mengkompromikannya sebagai berikut:

  1. Bahwa larangan menulis hadist itu terjadi pada awal-awal Islam untuk memelihara agar hadist tidak tercampur dengan Al-Qur’an. Tetapi setelah itu jumlah kaum muslimin semakin banyak dan telah banyak yang mengenal Al-Qur’an, maka hukum larangan menulisnya telh dinaskhkan dengan perintah yang membolehkannya.
  2. Bahwa larangan menulis hadist itu bersifat umum, sedang perizinan menulisnya bersifat khusus bagi orang yang memiliki keahlian tulis menulis. Hingga terjaga dari kekeliruan dalam menulisnya, dan tidak akan dikhawatirkan salah seperti Abdullauh bin Amr bin Ash.
  3. Bahwa larangan menulis hadist ditujukan pada orang yang kuat hafalannya dari pada menulis, sedangkan perizinan menulisnya diberikan kepada orang yang tiak kaut hafalannya.

 

  1. Hadist Pada Masa Sahabat Dan Tabi’in
  1. Hadist pada masa sahabat

Periode kedua sejarah perkembangan hadist, adalah masa sahabat, khususnya masa Khulafa Al-Rasyidin (Abu Bakar, Umar Ibn Khattab, Usman Ibn Affan dan Ali Ibn Abi Thalib) yang berlangsung sekitar 11 H sampai 40 H, masa ini juga disebut dengan sahabat besar.

 

Sahabat dan Periwayatan Hadist

  • Menjaga Pesan Rasul SAW

Pada masa menjelang kerasulannya, Rasul SAW berpesan kepada para sahabat agar berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Hadist serta mengerjakannya kepada orang lain sebagai mana sabdanya :

تركت فيكم أمر يى لن تملّوا ما تمسّكم بهما كتاب الله وسنة نبيّه

”Telah aku tinggalkan untuk kalian dua macam, yang tidak akan tersesat setelah berpegang kepada keduanya, yaitu kitab Allah (Al-Qur’an) dan sunnahku (Al-Hadist) ” H.R Malik

 

Pesan-pesan Rasul Saw sangat mendalam pengaruhnya kepada para sahabat, sehingga segala perhatian yang tercurah semata-mata untuk melaksanakan dan memelihara pesan-pesannya. Kecintaan mereka kepada Rasul SAW dibuktikan dengan melaksanakan segala yang dicontohkan.

  • Berhati-hati dalam Meriwayatkan dan Menerima Hadist.

Perhatian sahabat pada masa ini terutama sekali terfokus pada usaha memelihara dan menyebarkan Al-Qur’an, ini terlihat bagaimana Al-Qur’an dibukukan pada masa Abu Bakar atas saran Umar Ibn Khattab, usaha pembukuan ini diulang juga pada masa Usman Ibn Affan, sehingga melahirkan mushaf Usmani satu disimpan di Madinah yang dinamai Mushaf Al-Imam dan yang empat lagi maisng-masing disimpan di Makkah, Basrah, Syiria dan Kuffah.

Perlu pula dijelaskan disini, bahwa pada masa ini belum ada usaha resmi untuk menghimpun hadist dalam suatu kitab, seperti halnya Al-Qur’an. Hal ini (umat islam) dalam mempelajari Al-Qur’an. Sebab lain pula, bahwa para sahabat yang banyak menerima hadist dari Rasul SAW sudah tersebar diberbagai daerah kekuasaaan islam, dengan kesibukannya masing-masing sebagai pembina masyarakat. Sehingga dengan kondisi seperti ini, ada kesulitan mereka secara lengkap. Pertimbangan lainnya, bahwa soal membukukan hadist dikalangan para sahabat sendiri terjadi perselisihan pendapat, belum lagi terjadinya perselisihan soal lafadz dan kesahihannya.

  • Periwayatan Hadist dengan Lafadz dan Makna.

Pembatasan atau penyederhanaan periwayatan hadist, yang ditunjukkan oleh para sahabat dengan sifat kehati-hatianny, tidak berarti hadist-hadist Rasul tidak diriwayatkan. Dalam batasan-batasan tertentu hadist-hadist itu diriwayatkan. Khususnya permasalahan ibadah dan muamalah. Periwayatan tersebut dilakukan setelah diteliti secara ketat pembawa hadist tersebut dan kebenaran isi matannya.

Ada dua jalan sahabat dalam meriwayatkan hadist dari Rasul SAW:
Pertama, periwayatan lafdzi (redaksinya persis seperti yang disampaikan Rasul). Kebanyakan para sahabat meriwayatkan hadist dengan jalan ini. Mereka berusaha agar periwayatan hadist sesuai dengan redaksi dari Rasul SAW, seperti sahabat Ibnu Umar.

Kedua, periwayatan maknawi (maknanya saja). Periwayatan maknawi artinya periwayatan hadist yang matannya tidak persis sama dengan yang didengarnya dari Rasul SAW akan tetapi isi atau maknanya tetap terjaga secara utuh, sesuai dengan yang dimaksudkan oleh Rasul SAW tanpa ada perubahan.
 

Abu Bakar

Untuk menghindari kebohongan itu, misalnya Abu Bakar meminta pengukuhan sahabat lain ketika seorang nenek datang padanya mengatakan ”saya mempunyai hak atas harta yang ditinggal oleh para anak laki-laki saya” kata Abu Bakar ” saya tidak melihat ketentuan seperti itu, baik dari Al-Qur’an maupun dari rasul” maka tampillah Muhammad Bin Maslamah sebagai saksi bahwa seoarang nenek seperti kasus tersebut mendapat bagian (1/6) harta peninggalan cucu dari anak laki-lakinya.

Kesimpulannya, benar bahwa Abu Bakar amat ketat dalam periwayatan hadist. Akan tetapi tidak perlu disalah pahami bahwa beliau tidak anti terhadap penulisan hadist. Bahkan, untuk kepentingan tertentu hadist nabi ditulisnya.

Umar bin Khattab

Ibn Qutaibah berkata, sebagai dikutip Ajjaj al_Khatib mengatakan Umar bin Al-Khatab adalah orang yang sangat keras menentang orang-orang yang menghambarkan riwayat hadist, atau orang yang membawa hadist (khabar) mengenai hukum tertentu tetapi tidak diperkuat dengan seorang saksi. Umar bin Khatab tidak senang dengan terhadap orang yang memperbanyak periwayatan hadist dengan terlalu mudah dan sembrono. Tentu agar kemurnian hadist nabi dapat terpelihara. Ini tidak berarti bahwa beliau anti periwayatan hadist, Umar r.A mengutus para ulama’ mengajarkan islam dan sunnah nabi pada penduduk negeri.

Sikap kehati-hatian kedua sahabat tersebut, juga diikuti oleh Ustman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Dalam sebuah atsar disebutkan bahwa Ali bin Abi Thalib tidak menerima hadist sebelum yang meriwayatkan itu disumpah. Pada masa ini juga belum ada usaha secara resmi untuk menghimpun hadist dalam suatu kitab halnya Al-Qur’an, hal ini disebabkan karena:

  1. Agar tidak memalingkan perhatian umat Islam dalam mempelajari Al-Qur’an.
  2. Para sahabat yang banyak menerima hadist dari Rasul SAW sudah tersebar ke berbagai daerah kekuasaan Islam.
  3. Soal membukukan hadist, dikalangan sahabat sendiri terjadi perselisihan pendapat. Belum lagi terjadinya perselisihan soal lafadz dan kesahihannya.

 

 

 

  1. Hadist pada masa Tabi’in

Pada dasarnya periwayatan yang dilakukan oleh kalangan Tabi’in tidak berbeda dengan yang dilakukan oleh para sahabat sebagai para guru-guru mereka. Hanya saja persoalan yang dihadapi mereka agak berbeda dengan yang dihadapi para sahabat. Pada masa ini Al-Qur’an sudah dikumpulkan dalam satu mushaf. Dipihak lain, usaha yang telah dirintis oleh para sahabat, pada masa khulafa’ Al-Rasyidin kebeberapa wilayah kekuasaan islam, kepada merekalah para tabi’in mempelajari hadist.

Ketika pemerintahan dipegang Bani Umayyah, wilayah kekuasaan islam sudah meliputi Makkah, Madinah, Bashrah, Khurasan, Mesir, Persia, Irak, Afrika Selatan, Samarkand, dan Spanyol. Sejalan dengan pesatnya perluasaan kekuasaan Islam tersebut, penyebaran sahabat ke daerah-daerah juga meningkat. Oleh sebab itu, masa itu dikenal masa penyebaran periwayatan hadist.

Hadist-hadist yang diterima para tabi’in ini, seperti telah disebutkan ada yang dalam bentuk catatan-catatan atau tulisan-tulisan dan ada yang harus dihafal, disamping dalam bentuk yang sudah terpolakan dalam ibadah dan amaliah para sahabat yang mereka saksikan dan mereka ikuti. Kedua ini saling melengkapi, sehingga tidak ada satu hadist pun yang tercecer atau terlupakan.

Pada masa tabi’in ini muncul atau terjadi sejak masa sahabat, setelah terjadinya perang Jamal dan perang Siffin yaitu tatkala kekuasaan dipegang oleh Ali bin Abi Thalib. Akan tetapi akibatnya cukup panjang dan berlarut-larut dengan terpecahnya umat Islam ke dalam beberapa kelompok, yaitu Khawarij, Syiah, Muawiyah dan golongan minoritas yang tidak termasuk dalam ketiga kelompok tersebut.

Dari persoalan politik diatas langsung atau tidak langsung cukup memberikan pengaruh, baik positif maupun negatif terhadap perkembangan hadist berikutnya. Pengaruh yang langsung dan bersifat negatif mendukung kepentingan politik masing-masing kelompok menjatuhkan posisi lawan-lawannya. Adapun pengaruh yang berakibat positif adalah hadist sebagai upaya penyelamatan dari pemusnahan dan pemalsuan.

 

 

BAB III

KESIMPULAN

 

Sejarah hadist pra kodifikasi terbagi menjadi beberapa bagian, untuk lebih mudah memahaminya, berikut uraiannya.

 

  1. Hadist pada masa Rasul SAW

Dalam masa ini ada beberapa hal penting yang berkaitan dengan masa itu:

  • Cara rasul menyampaikan hadist, melalui jamaah pada majlis-majlis, ceramah dan pidato di tempat-tempat terbuka, dan lain-lain.
  • Keadaan para sahabat dalam menerima dan menguasai hadist, sesuai dengan kapasitas masing-masing sahabat.
  • Pemeliharaan hadist melalui hafalan dan tulisan.

 

  1. Hadist pada masa sahabat

Kehati-hatian para sahabat dalam hal pembukuan hadist dan pada masa itu belum ada pembukuan secara resmi, dikarenakan beberapa hal yang diantaranya adalah :

  1. Agar tidak memalingkan perhatian umat Islam dalam mempelajari Al-Qur’an.
  2. Para sahabat yang banyak menerima hadist dari Rasul SAW sudah tersebar ke berbagai daerah kekuasaan Islam.
  3. Soal membukukan hadist, dikalangan sahabat sendiri terjadi perselisihan pendapat. Belum lagi terjadinya perselisihan soal lafadz dan kesahihannya.

 

  1. Hadist pada masa tabi’in

Pada masa ini juga terjadi kegiatan menghafal dan menulis hadist, dan ada bebrapa hal yang begitu berpengaruh dalam hal perkembangan hadist, diantara pengaruh positif yang ada adalah hadist sebagai upaya penyelamatan dari pemusnahan dan pemalsuan.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Suparta, Munzier, ilmu hadist, Jakarta: PT. Raja Grafindo persada. 2002

 

Al- Ramaharmuzi, Al-Muhaddis Al-Fashil Baina ar-Rawi wa al-wa’I (Beirut: Al-Fikr)

 

Imam Malik, al-Muwatha’ juz 2. periwayat lain adalah Abu Daud, al-Tirmidzi, dan sa’ad ibn Majjah.

 

Rumtianing. Irma, Khusniatin Rofiah. pokok-pokok ilmu hadist . Ponorogo: STAIN Ponorogo press. 2005

 

Misbah, Mutiara Ilmu Hadits, Mitra Pesantren, kediri jatim. 2010

 

Muhammad Abdur Rahman, Muqoddimah Tuhfatul Ahwadzi, Darul Al- Fikr

 


[1] Misbah, Mutiara Ilmu Hadits.Hl :26, Mitra Pesantren.Kediri Jatim

[2] Misbah, Mutiara Ilmu Hadits.Hl :27, Mitra Pesantren.Kediri Jatim

[3] Muhammad Abdur Rahman al-Mubarakfuri, Muqoddimah Tuhfatul Ahwazi hl : 201, Darul Fikr

FacebookTwitterGoogle+LinkedIn

TERORISME DALAM PANDANGAN ISLAM

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang

Dewasa ini, terorisme merupakan salah satu topik pembahasan terpenting yang kerap menjadi obyek pembicaraan kalangan politisi dan para ahli. Dikarenakan pentingnya permasalahan ini, banyak tulisan-tulisan dan ide-ide yang dituangkan dengan berbagai macam cara guna mengkaji masalah ini.

Tidak dapat diragukan, pasca peristiwa 11 September di dunia barat terjadi gelombang serangan terhadap Islam. Gelombang serangan ini sedemikian besar sehingga tidak dapat tersembunyi dari siapa pun. Dengan dalih memerangai teroris, ajaran-ajaran luhur agama Islam luput menjadi obyek sasaran penguasa-penguasa barat, dan kaum  muslimin diperkenalkan sebagai wajah-wajah teroris. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana besar dan kebijakan apapun guna menjaga kepentingan pemerintahan dan rezim mereka. Mereka lupa bahwa sejak semula keberadaannya, Islam telah mencanangkan perang melawan terorisme sebagai salah satu agendanya, dan di masa dimana kekerasan menjadi ideologi masyarakat kala itu, Islam datang seraya menjunjung tinggi jiwa, kepemilikan dan harkat martabat manusia.

Oleh karenanya, perlu bagi kita untuk menjelaskan pandangan Islam mengenai terorisme dan dengan berpijak pada titik-titik persamaan dalam definisi dari istilah yang ada, kami akan menjelaskan poin-poin utama pengertian terorisme yang terdapat dalam ajaran-ajaran agama Islam.

Intinya, studi ini mencoba untuk membuktikan bahwa agama Islam bukan hanya agama anti teror dan terorisme, bahkan ia adalah agama yang memiliki strategi yang matang dalam memerangi dan menghadapai aksi terorisme. selain itu artikel ini pun berupaya untuk menyampaikan pandangan Islam mengenai terorisme dengan menyoroti persamaan-persamaan yang ada dalam pendefinisiannya.


1.2  Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut maka rumusan masalah dari makalah  ini adalah :

1.      Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang definisi teroris dan terorisme,

2.      Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang aktivitas-aktivitas teroris.

3.      Bagaimana solusi untuk mengatasi malasah ini

1.3  Ruang Lingkup Bahasan

Agar acuan penulisan dan penyelesaian masalah dapat lebih terarah dan dapat memberikan informasi yang jelas, maka dalam makalah ini penulis akan membahas tentang :

1.      Definisi teroris dan terorisme,

2.      Pandangan islam tentang teroris.

1.4   Batasan Masalah

            Dalam makalah ini hanya akan dibahas tentang pandangan islam terhadap terorisme

1.5  Tujuan Objektifitas Makalah

Adapun tujuan pembuatan makalah ini adalah :

1.      Mengetahui lebih dalam tentang teroris

2.      Mengetahui aktivitas-aktivitas teroris

 

1.6  Sistematika Penulisan

1.       Bab I

Membahas secara ringkas tentang latar belakang, rumusan masalah, ruang lingkup kajian, tujuan objektivitas, batasan masalah dan sistematika penulisan makalah.

2.       Bab II

Membahas tentang definisi teroris dan pandangan islam tentang teroris. Sub bab pandangan islam tentang teroris menjelaskan secara rinci tentang teroris menurut Al-Qur’an, teroris menurut Hadist, dan teroris menurut Ulama.

3.       Bab III

Membahas tentang analisa yang dikemukakan oleh penulis.

 

BAB II

LANDASAN TEORI

 

2.1 Definisi Terorisme

Sebelum mendiskusikan tentang terorisme, kita harus tahu dan paham tentang definisi dari teror itu sendiri.

Teror secara etimologi berasal dari kata “terrour” (Inggris Tengah), “terreur” (Perancis lama), “terror” (Latin) dan “terre” (Latin), yang artinya adalah untuk menakuti.

Definisi teror menurut beberapa ensiklopedia dan kamus:

  1. sangat takut, sangat ketakutan
  2. suatu emosi yang dialami sebagai antisipasi dari suatu rasa sakit atau bahaya (biasanya disertai oleh suatu keinginan untuk kabur atau untuk melawan)
  3. rasa panik atau perasaan yang sangat tidak tenang
  4. sifat yang sangat menyusahkan, terutama pada anak-anak.

 

Setelah mengetahui definisi teror, kita akan membahas tentang apa itu teroris dan terorisme. Dalam terminolgi yang sederhana, definisi teroris adalah satu atau lebih orang yang melakukan teror; sedangkan terorisme adalah suatu paham yang dianut seseorang atau lebih, atau organisasi untuk menggunakan teror. Sedangkan Menurut ensiklopeddia Indonesia tahun 2000, terorisme adalah kekerasan atau ancaman kekerasan yang diperhitungkan sedemikian rupa untuk menciptkan suasana ketakutan dan bahaya dengan maksud menarik perhatian nasional atau internasional terhadap suatu aksi maupun tuntutan. Dan menurut Noam Chomsky saat mendefinisikan terorisme’ menuliskan, “Terorisme ialah penggunaan cara kekerasan yang ditargetkan kepada warga sipil dalam upaya guna mencapai tujuan politik, agama atau semacamnya.

Sebenarnya, tidak ada definisi teroris dan terorisme resmi yang sama di seluruh dunia, masing-masing negara dan institusi baik itu institusi nasional maupun internasional, mempunyai definisi yang berbeda pula. Dan umumnya definisi mereka menjauh dari terminologi sederhana dan lebih bermuatan politik.

Adapun mengenai kaitan antara dua istilah ‘teror’ dan ‘terorisme’, diantara kedua istilah ini juga terdapat beberapa perbedaan yang sebagian darinya diakibatkan dari ketidakjelasan akan definisi ‘terorisme’. Sebagian orang menyakini bahwa tdak ada perbedaan antara dua istilah tersebut. Ketika mengartikan kedua istilah itu, mereka mengatakan, “Teror dan terorisme dalam dunia perpolitikan ditujukan kepada praktik pemerintah atau kelompok tertentu dimana untuk menjaga kekuasaan atau berperang dengan negara, mereka menempuh cara tertentu yang dapat menciptakan rasa takut.” meski demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa kedua ini mempunyai arti yang berbeda.

2.2 Ciri-ciri Terorisme.

Menurut beberapa literatur dan referensi termasuk surat kabar dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri terorisme adalah :

a.       Organisasi yang baik, berdisiplin tinggi & militant

b.      Mempunyai tujuan politik, ideologi tetapi melakukan kejahatan kriminal untuk mencapai tujuan.

c.       Tidak mengindahkan norma-norma universal yang berlaku, seperti agama, hukum dan HAM.

d.      Memilih sasaran yang menimbulkan efek psikologis yang tinggi untuk menimbulkan rasa takut dan mendapatkan publikasi yang luas.

e.       Menggunakan cara-cara antara lain seperti : pengeboman, penculikan, penyanderaan, pembajakan dan sebagainya yang dapat menarik perhatian massa/public

2.3 Bentuk-bentuk Terorisme.

            Dilihar dari cara-cara yang digunakan,terorisme dibedakan menjadi 2,yaitu :

a.       Teror fisik yaitu teror untuk menimbulkan ketakutan, kegelisahan memalui sasaran fisik jasmani dalam bentuk pembunuhan, penganiayaan, pemerkosaan, penyanderaan penyiksaan dsb, sehingga secara nyata dapat dilihat secara fisik akibat tindakan teror.

b.      Teror mental, yaitu teror dengan menggunakan segala macam cara yang bisa menimbulkan ketakutan dan kegelisahan tanpa harus menyakiti jasmani korban (psikologi korban sebagai sasaran) yang pada tingkat tertentu dapat menimbulkan tekanan batin yang luar biasa akibatnya bisa gila, bunuh diri, putus asa dsb.

2.4  Sasaran Terorisme

Dilihat dari Skala sasaran teror,sasaran terorisme terorisme dibagi menjadi 2 macam:

a.       Teror Nasinal, yaitu teror yang ditujukan kepada pihak-pihak yang ada pada suatu wilayah dan kekuasaan negara tertentu, yang dapat berupa pemberontakan bersenjata, pengacauan stabilitas nasional, dan gangguan keamanan nasional.

b.      Teror Internasional yaitu tindakan teror yang ditujukan kepada bangsa atau negara lain diluar kawasan negara yang didiami oleh teroris, dengan bentuk :

-       Dari Pihak yang kuat kepada pihak yang lemah. Dalam bentuk penjajahan, invansi, intervensi, agresi dan perang terbuka.

-       Dari Pihak yang Lemah kepada Pihak yang kuat. Dalam bentuk pembajakan, gangguan keamanan internasional, sabotase, tindakan nekat dan berani mati, pasukan bunuh diri, dsb.

2.5  Terorisme Menurut Pandangan Islam

Setelah kita menyebutkan berbagai definisi mengenai terorisme dan menyimpulkan definisi terorisme, saat ini kita akan membahas apakah dalam referensi-referensi Islam ditemukan definisi dan pengertian terorisme? Dan apakah Islam memiliki strategi tertentu guna memerangi terorisme?

Tidak diragukan lagi istilah ‘terorisme’ adalah istilah baru yang tidak terdapat pada masa kemunculan agama Islam. Kendati demikian, dalam ayat-ayat Al-Qur’an, riwayat-riwayat serta tulisan-tulisan para ulama terdapat istilah-istilah serta pembahasan-pembahasan yang mengemukakan teori-teori serta konsep-konsep tertentu yang berkaitan dengan masalah terorisme sebagai bagian permasalahan kehidupan manusia. Bahkan dalam  teks-teks agama islam terdapat beberapa istilah (konsep) yang setara atau dekat pengertiannya dengan istilah terorisme. Untuk lebih jelasnya, kajian di bawah ini akan menyoroti secara ringkas istilah-istilah yang ada, dengan harapan ia akan menjadi motivasi bagi para peneliti untuk mengkajinya lebih mendalam.

A.   Terorisme Dalam Al-Qur’an

Islam sebagai agama, pandangan hidup, dan sebagai “way of life” atau jalan hidup bagi penganutnya, tentu saja tidak mengijinkan dan bahkan mengutuk terorisme. Islam dengan kitab sucinya Al Quran yang mengajarkan tentang moral-moral yang berdasarkan konsep-konsep seperti cinta, kasih sayang, toleransi dan kemurahan hati.

Nilai-nilai yang ada di dalam Al Quran membuat seorang Muslim bertanggung jawab untuk memperlakukan semua orang, apakah itu Muslim atau non-Muslim, dengan rasa kasih sayang dan rasa keadilan, melindungi yang lemah dan yang tidak bersalah dan mencegah kemungkaran. Membunuh seseorang tanpa alasan adalah salah contoh yang jelas dari kemungkaran

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS 28:77)

Ayat ini memerintahkan manusia untuk berbuat kebaikan dan melarang manusia untuk berbuat kerusakan. Dan juga dijelaskan dalam Al Quran bahwa jika seseorang membunuh, walaupun hanya satu orang, maka kejahatan itu sama saja dengan membunuh seluruh manusia. Terkecuali, sebagai perlawanan melawan orang yang membuat kerusakan di muka bumi.

Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi. (QS 5:32)

Pada ayat di atas jika dilihat sepintas, mungkin ayat ini hanya berlaku bagi Bani Israil, akan tetapi, sesungguhnya ayat ini juga berlaku untuk seluruh manusia tanpa memandang bangsa dan golongan.

Al Quran juga memerintahkan umat Islam untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap sesama manusia, terkecuali orang-orang yang memerangi umat Islam. Hal ini diungkapkan dalam ayat berikut ini:

Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. (QS 60:8)

Dan Islam juga tidak pernah memerintahkan manusia untuk berbuat keji, bahkan sebenarnya Islam melarang manusia untuk berbuat keji. Banyak orang yang mengaku bahwa mereka membela Islam, menegakkan hukum Islam dan lain sebagainya. Akan tetapi semua ini tidak benar, mereka hanya mengada-ada, sebagai topeng keburukan mereka, sebagai pembenaran atas perbuatan keji mereka. Al Quran sudah mengingatkan manusia akan hal ini, seperti yang tertulis dalam ayat berikut ini:

Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata: “Kami mendapati nenek moyang kami mengerjakan yang demikian itu, dan Allah menyuruh kami mengerjakannya.” Katakanlah: “Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji.” Mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?” (QS 7:28)

Dalam ayat ini Allah SWT mengingatkan kita akan orang-orang munafik yang mengatasnamakan Islam sebagai topeng kebohongan mereka. Mereka lebih mempercayai pemimpin-pemimpin mereka, hadist-hadist palsu mereka, dan terjemahan Al Quran yang palsu daripada jiwa dan semangat Islam yang sebenarnya yang tertulis dalam Al Quran yang asli (terjemahan Al Quran yang benar).

Ada salah satu istilah yang terdapat dalam al-Qur’an yang berdasarkan dengannya musuh-musuh Islam menuding Islam sebagai agama terorisme ialah istilah ‘irhab’. Pada saat ini dalam dunia perpolitikan istilah ini diartikan dengan ‘terorisme’. Namun pada hakikatnya istilah ‘irhab’ dalam al-Qur’an memiliki makna lain yang sama sekali tidak tidak ada kaitannya dengan terorisme. Dengan demikian, bersandar kepada ayat-ayat al-Qur’an baik yang dilakukan oleh sebagian teroris guna justifikasi segala tindakan mereka, ataupun oleh musuh-musus Islam guna menuding Islam sebagai agama teroris, sama sekali tidak mendasar dan tidak dapat dibenarkan.

1. Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang Telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan Hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk) (Q.S. Al-Baqarah: 40).

Di akhir ayat ini disebutkan ‘farhabûn’ yang berartikan takutlah atau tunduklah kalian kepada-Ku.

2. Musa menjawab: "Lemparkanlah (lebih dahulu)!" Maka tatkala mereka melemparkan, mereka menyulap mata orang dan menjadikan orang banyak itu takut, serta mereka mendatangkan sihir yang besar (mena'jubkan). (Q.S. Al-A’raf: 116).

Dalam ayat ini istilah ‘irhab’ yang disebutkan dengan kalimat ‘Istarhabûhun’ beratikan menakut-nakuti mereka atau menjadikan mereka takut, dimana yang melakukannya ialah para penyihir.

Dari beberapa ayat di atas dapat simpulkan bahwa ayat-ayat yang mengandung kata-kata ‘irhab’ dengan berbagai musytaq-nya sama sekali tidak sepadan dengan istilah ‘irhab’ yang sekarang ini umum diartikan ‘terorisme’. Selain itu, juga terbukti bahwa seluruh musytak kata-kata ‘irhab’ yang terkandung dalam ayat-ayat Allah SWT tidak bermuatan arti negatif, berbeda halnya istilah ‘irhab’ yang umum digunakan saat ini yang mengadung arti negatif.

Yang patut ditekankan di sini ialah, bahwa permasalahan terorisme dalam Islam tidak ada kaitannya dengan istilah ‘irhab’, namun ia berkaitan dengan ayat-ayat yang menjunjung tinggi jiwa, harta dan harkat martabat manusia. Dimana ayat-ayat ini tidak membenarkan dan mengecam aksi-aksi terorisme yang membahayakan dan tidak mengabaikan jiwa, hak dan kehormatan seorang manusia. Islam sangat melarang dan sekali-kali tidak membenarkan seseorang untuk membunuh dan meregut nyawa orang lain, kecuali pada kondisi tertentu yang menuntut.

Selain itu, juga tidak dapat dilupakan bahwa dalam al-Qur’an terdapat hukuman dan konsekwensi yang berat bagi mereka yang melakukan pengrusakan di muka bumi dan aksi teror yang mengorbankan jiwa, harta dan kehormatan orang lain. Hal ini menunjukkan bahwa agama Islam sejak masa kemunculannya telah mengajak umat manusia untuk menjauhi tindakan kekerasan dan aksi teror, tentunya dengan mengamalkan dengan baik ajaran-ajaran agama Islam akan membentuk sebuah masyarakat yang tenteram dan aman serta terhindar dari kejahatan terorisme.

Guna merealisasikan hal ini dalam ayat lain al-Qur’an menganggap orang yang membunuh seseorang tanpa alasan yang benar, sama seperti ia telah membunuh seluruh seluruh manusia. Allah SWT berfirman, “Oleh Karena itu kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan Karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan Karena membuat kerusakan dimuka bumi, Maka seakan-akan dia Telah membunuh manusia seluruhnya. dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, Maka seolah-olah dia Telah memelihara kehidupan manusia semuanya. dan Sesungguhnya Telah datang kepada mereka rasul-rasul kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, Kemudian banyak diantara mereka sesudah itusungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi.” (Q.S. Al-Maidah: 32).

Dari ayat ini pun dapat difahami bahwa hanya terdapat dua kelompok manusia yang layat untuk dibunuh atau di hukum mati, yang pertama ialah mereka yang telah melakukan pembunuhan dengan sengaja, dan yang kedua ialah mereka yang telah berbuat kerusakan di muka bumi. Jelaslah mengeksekusi orang-orang yang tidak melakukann dua pelanggaran besar ini, sama sekali tidak dapat dibenarkan dan pelakunya pun dianggap telah melakukan pembunuhan seluruh manusia.

Ayat ini dengan gamblang menunjukkan bahwa tindakan sebagian oknum yang melakukan berbagai aksi teroris dengan mengatasnamakan Islam dan al-Qur’an sama sekali tidak dibenarkan dan tidak memiliki legitimasi, dimana tindakan ini muncul akibat pemahaman yang menyimpang atas ayat-ayat al-Qur’an.

B.   Terorisme Dalam Riwayat

Sekalipun dalam ayat-ayat al-Qur’an tidak ditemukan istilah yang benar-benar sepadan dengan terorisme atau makna yang dekat dengan istilah ini, akan tetapi dalam riwayat-riwayat Ahlusunnah maupun Syi’ah terdapat ibarat-ibarat yang dapat dijadikan pijakan untuk kita mengetahui pandangan Islam mengenai terorisme. Meskipun istilah-istilah yang terkandung dalam riwayat-riwayat memiliki pengertian lebih luas dbanding dengan istilah terorisme, akan tetapi dengan merujuk kepada riwayat-riwayat tersebut dengan mudah dapat difahami hukum islam mengenai terorisme. Bahkan berdasarkan riwayat-riwayat ini, kita dapat merumuskan definisi baru terorisme menurut perspektif Islam.

Sebagian istilah yang terkandung dalam riwayat-riwayat yang berkaitan dengan pemasalahan terorisme adalah:

1.      Fatk (membunuh, menyerang atau menyergap): guna menjelaskan akan keterkaitan istilah ini dengan istilah terorisme, semula kita akan menyebutkan ucapan beberapa ahli bahasa dan kemudian kita pun akan membawakan beberapa riwayat yang berkaitan dengan permasalahan ini.

2.      Ghilah’ atau ‘ightiyal’. Mengenai arti leksikal istilah ini, dalam kamus Lisanu al-Arab dan as-Shahah disebutkan, “Ghilah –dengan kasrah pada huruf Ghain- ialah perbuatan dimana seseorang telah memperdayai seorang lainnya dengan mengajaknya ke tempat tertentu dan sesampaiinya di tempat tersebut, orang itu pun akan membunuhnya. Dalam kamus lain juga disebutkan, “Ghilah ialah menyerang dan membunuh seseorang saat orang tersebut sedang lalai”. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ghilah ialah perbuatan seseorang dimana dengan cara memperdaya sang korban, ia pun akan membawanya ke tempat yang sepi atau tersembunyi dan di tempat itulah orang itu akan membunuhnya.

C.   Pandangan Ulama Mengenai Terorisme

Sebagian ulama dan fuqaha mengatakan bahwa istilah Muharabah dan Fasad fi al-ardh merupakan dua istilah yang sepadan dengan istilah terorisme. Guna menguji dan mengetahui sejauh mana kebenaran dakwaan ini, cukup bagi kami untuk membawakan pengartian yang diberikan Shahib al-Jawahir, karena definisi-definisi yang diberikan para ulama terkait dua istilah ini, tidak terdapat pengbedaan yang mendasar.

Shahib al-Jawahir dalam mendefinisikan istilah muharib mengatakan, “Muharib ialah seseorang yang menghunuskan senjata kepada orang lain dengan maksud untuk menakut-nakutinya, baik tindakan ini dilakukan di dataran atau di lautan, baik pada siang hari maupun malam hari dan baik di dalam kota ataupun di wilayah lainnya”.

Akan tetapi pada hakikatnya, apabila istilah Muharib dibandingkan dengan istilah terorisme, maka akan didapati bahwa istilah muharib memiliki pengerian yang lebih luas, sehingga setiap orang yang Muharib tidak dapat dikatagorikan sebagai teroris. Tentunya terorisme dengan definisi dan arti sebagaimana yang disebutkan dalam pembahasan di atas.

Contoh kasus terorisme yang mengatasnamakan islam :

1.   Serangan 11 September 2001 terhadap gedung WTC di Amerika Serikat yang dilakukan Osama bin Laden yang menewaskan kurang lebih 3000 orang.

2.   Bom Bali 1, 12 Oktober 2002. Tiga ledakan mengguncang Bali. 202 korban yang mayoritas warga negara Australia tewas dan 300 orang lainnya luka-luka

3.   Bom Bali 2, 1 Oktober 2005. Bom kembali meledak di Bali. Sekurang-kurangnya 22 orang tewas dan 102 lainnya luka-luka akibat ledakan yang terjadi di R.AJA's Bar dan Restaurant, Kuta Square, daerah Pantai Kuta dan di Nyoman Café Jimbaran.

 

 

 

 

BAB III

ANALISA PERMASALAHAN

 

3.1 Analisa dan Pemecahan Masalah

Sebagaimana dijelaskan dimuka, bahwa timbulnya terorisme sebagian besar diakibatkan karena adanya ketidakadilan, balas dendam atau ringkasnya adalah adanya konflik-konflik kepentingan antara pihak-pihak yang berinteraksi baik skala perorangan, organisasi, intern pemerintahan maupun antar negara. Jadi adanya terorisme pada umumnya disebabkan adanya konflik-konflik kepentingan antara pihak-pihak yang berinteraksi baik skala perorangan, organisasi, intern pemerintahan maupun antar negara. Jadi adanya terorisme pada umumnya disebabkan adanya konflik. Konflik yang menajam, yang kemudian terjabar dalam kondisi kritikal, dengan titik balik yang mengandung perubahan yang menentukan bagi pihak-pihak yang berkonflik, adalah suatu krisis. Manajemen krisis menangani titik balik yang didalamnya terkandung potensi perubahan yang menentukan, pemahaman terhadapnya hanya dapat dilakukan, jika orang berfikir strategik. Karena krisis adalah dijelang suatu perubahan yang menentukan, maka berfikir strategik adalah berfikir dalam kerangka perubahan. Kerangka berfikir tersebut dipandang penting karena setiap aktivitas terorisme tujuannya adalah menghendaki perubahan, pada umumnya adalah perubahan dibidang politik dan ekonomi yang dampaknya akan menimbulkan krisis.

Fakta yang terjadi akhir-akhir ini adalah munculnya aksi teror tidak dapat dicegah, karena beberapa hal antara lain :

a.       mudah mendapatkan calon anggota terorisme dan proses perekrutan juga relatif mudah;

b.      terorisme biayanya sangat murah karena organisasinya sangat kecil & fleksibel walaupun jaringannya berskala internasional;

c.       hasil kegiatan terorisme cepat dapat diperoleh;

d.      hasil kegiatan terorisme yang spetakuler akan meningkatkan moril anggota terorisme.

 

 

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

 

4.1 Kesimpulan

Peristiwa 11 September telah dijadikan dalih untuk mencuatkan kembali permasalahan teror dan terorisme hingga menjadi isu internasional, dan agama suci Islam menjadi terget sasaran media-media barat. Sejak saat itu, tuduhan terorisme diarahkan ke dunia Islam sehingga munculah rasa kecurigaan terhadap ajaran-ajaran suci Islam.

Setelah mengkaji definisi terorisme,. Dimana berdasarkan ayat-ayat al-Qur’an, hadis-hadis dan pernyataan-pernyataan fuqaha dapat disimpulkan bahwa meskipun dalam  teks-teks agama Islam tidak disebutkan kata atau istilah yang benar-benar sepadan dengan istilah terorisme, akan tetapi dari naskah-naskah yang ada kita mendapatkan bahwa sejak awal kemunculannya, Islam telah melarang setiap orang muslim untuk melakukan aksi teror, bahkan tidak cukup hanya itu, Islam pun telah memberikan solusi dan strategi guna menghadapi dan memerangi gerakan terorisme.

Ringkasnya, agama suci Islam mengandung ajaran-ajaran yang bukan hanya melarang dan menyatakan keilegalan segala bentuk tindakan terorisme, bahkan melihat solusi yang ditawarkan guna menghadapi gerakan terorisme, ajaran-ajaran tersebut dapat menjadi acuan bagi undang-undang internasional dalam rangka memberantas akar terorisme dari dunia ini.

4.2 Saran

 Makalah ini berupaya untuk membuktikan bahwa agama Islam memiliki kepedulian yang tinggi seputar masalah terorisme. Dan merurut pandangan Islam, definisi yang diutarkan para ilmuan barat mengenai istilah terorisme merupakan batas minimal sesuatu yang harus ditekankan dalam sebuah masyarakat, namun ia tidak dapat menjadi penjamin bagi keamanan dunia.

Dan untuk mencapai tujuan ini, hedaknya mereka menjauhi pola pemikiran barat dalam pendefinisian terorisme, sehingga mereka dapat mengidentifikasi hakikat terorisme sesuai perspektif Islam. Karena tanpa demikian, kita tidak akan ada definisi terorisme yang Islami menurut pandangan islam yang pada akhirnya kita pun tidak akan mencapai solusi yang matang guna memerangi gerakan terorisme.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

http://www.dephan.go.id/modules.php?name=Sections&op=viewarticle&artid=56

http://www.muhardjo.co.cc/index.php/artikel-islam/75-islam-dan-terorisme%20downloaded%20on%20Sunday%20,02

http://www.taghrib.ir/indonesia/index.php?option=com_content&view=article&id=238:terorisme-menurut-pandangan-islam-dan-bara&catid=62:sayere-mozuat&Itemid=153

http://id.wikipedia.org/wiki/Serangan_11_September_2001

FacebookTwitterGoogle+LinkedIn

Lahir dan Berkembangnya Madrasah di Indonesia

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang Masalah

Pendidikan Islam di Indonesia telah berlangsung sejak masuknya Islam ke Indonesia. Hakekat pendidikan adalah pembentukan manusia kearah yang dicita-citakan. Dengan demikian pandidikan Islam adalah proses pembentukan manusia kearah yang dicita-citakan Islam.

Untuk mempermudah kita mempelajari permasalahan tentang Perkembangan Pendidikan Islam, dalam makalah ini akan dijelaskan lebih rinci bagaimana perkembangan pendidikan Islam itu sendiri dan bagaimana system pendidikannya, sehingga bisa berkembang seperti yang kita rasakan saat ini.

 

  1. Rumusan Masalah
  1. Bagaimana cara berkembangnya Lembaga Pendidikan Islam di Indonesia ?
  1. Bagaimana system pembelajaran madrasah di Indonesia ?
  1. Bagaimana perkembangan madrasah itu sendiri di Indonesia ?
  1. Apa hakekat pendidikan yang sebenarnya ?

 

  1. Tujuan Masalah
  1. Agar Mengetahui cara berkembangnya Lembaga Pendidikan Islam di Indonesia.
  1. Agar Mengetahui bagaimana system pembelajaran madrasah di Indonesia.
  1. Agar Mengetahui bagaimana perkembangan madrasah di Indonesia.
  1. Agar Mengetahui apa hakekat dari pendidikan Islam itu.

 


 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. Pengertian Madrasah

Madrasah merupakan isim makan dari " darasa " yang berarti " tempat duduk untuk belajar ". Padanan Mdrasah, dalam bahasa Indonesia adalah " sekolah ", dengan konotasi yang khusus, yaitu sekolah-sekolah agama Islam. Dalam arti tempat belajar, madrasah memang berasal dari dunia Islam. Sebagai tempat mengajarkan dan mempelajari ajaran-ajaran agama Islam, ilmu pengetahuan dan keahlian lainnya yang berkembang pada zamannya.

 

Sejak Indonesia merdeka, telah terjadi proses perkembangan madrasah, diantaranya : Madrasah pada periode pertama ini adalah dibatasi dengan pengertian yang tertulis pada peraturan Menteri Agama No. 1 Th 1950, yaitu madrasah mengandung makna :

  1. Tempat pendidikan yang diatur sebagai sekolah dan membuat pendidikan dan ilmu pengetahuan agama Islam menjadi pokok pengajarannya.
  2. Pondok dan pesantren yang memberikan pendidikan setingkat dengan madrasah.[1]

 

  1. Lahir dan Berkembangnya Madrasah di Indonesia

Sekitar pertengahan abad ke 19 Pemerintahan colonial Belanda mulai memperkenalkan sekolah-sekolah modern munurut system persekolahan yang berkembang di dunia Barat, sehingga sedikit banyak mempengaruhi system pendidikan yang telah berkembang di Indonesia, termasuk pesantren.

Pada mulanya perubahan system tersebut tidak terlepas sama sekali dengan surau, langgar atau masjid serta pesantren sebagai induknya. Tetapi dalam perkembangna selanjutnya, madrasah-madrasah tersebut didirikan secara terpisah di luar lingkungan surau, masjid, atau pesantren. Bahkan kemudian, dengan masuknya ide-ide pembaharuan dalam dunia pendidikan Islam ke Indonesia, banyak berdiri madrasah di luar pesantren, yang tidak hanya memberikan pengetahuan agama saja, tetapi juga mengajarkan pengetahuan umum, sesuai dengan tuntutan zaman.

 

Madrasah yang pertama kali didirikan di Indonesia, adalah Madrasah Adabiyah di Padang ( Sumatera Barat ), yang didirikan oleh Syekh Abdullah Ahmad pada tahun 1909. Nama resminya pada masa itu adalah Adabiyah School. Masa itu memang pengertian madrasah dan sekolah sama saja, tetapi penggunaan istilah madrasah nampaknya belum dikenal secara umum. Madrasah Adabiyah pada mulanya bercorak agama semata-mata, tetapi kemudian pada tahun 1915 berubah coraknya menjadi H.I.S Adabiyah, merupakan sekolah pertama yang memasukkan pelajaran agama kedalamnya. Kemudian pada tahun 1910 didirikan Madrasah School ( Madrasah Diniyah ). Dan nama Diniyah School inilah yang kemudian berkembang dan terkenal.

 

Madrsah Diniyah kemudian berkembang hampir di seluruh Indonesia, baik merupakan bagian dari pesantren atau surau, maupun berdiri di luarnya. Pada tahun 1918 di Yogyakarta berdiri Madrasah Muhammadiyah, yang kemudian dirubah namanya menjadi Kweekschool Muhammadiyah, dan akhirnya menjadi Madrasah Mu' allimin Muhammadiyah, sebagai realisasi dari cita-cita pembaharuan pendidikan Islam yang dipelopori oleh K. H. Ahmad Dahlan. Sementara itu pada tahun 1916 di lingkungan Ponpes Tebuireng Jombang ( Jatim ). Telah didirikan Madrasah Salafiyah, oleh K. H. Hayim Asy' ari, sebagai persiapan untuk melanjutkan pelajaran ke pesantren. Pada tahun 1929 atas usaha K. Ilyas, diadakan pembaharuan dengan memasukkan pengetahuan Umum.

 

Dari Uraian diatas, dapat dikatakan bahwa awal abad ke 20, adalah masa pertumbuhan dan perkembangan madrasah di seluruh Indonesia, dengan nama tingkatan bervareasi. Namun dapat dikatakan madrasah-madrasah tersebut pada awal perkembangannya, masih bersifat diniyah semata-mata. Baru sekitar tahun 1930 terjadi pembaharuan dalam dunia madrasah, yaitu dengan mulai masuknya pengetahuan umum ke dalam kurikulumnya.

 

Kehadiran Madrasah sebagai sebagai lembaga pendidikan Islam setidak-tidaknya mempunyai beberapa latar belakang, diantaranya :

 

  1. Sebagai manifestasi dan realisasi pembaharuan system pendidikan Islam.
  2. Usaha penyempurnaan terhadap system pesantren kearah suatu system pendidikan yang lebih memungkinkan lulusannya memperoleh kesempatan yang sama dengan sekolah umum. Misal : masalah kesamaan kesempatan kerja dan perolehan ijazah.
  3. Adanya sikap mental pada golongan umat Islam, khususnya santri yang terpukau pada Barat sebagai sistem pendidikan mereka.
  4. Sebagai upaya untuk menjembatani antara system pendidikan tradisional yang dilakukan oleh pesantren dan system pendidikan modern dari hasil akulturasi.

 

Sementara itu madrasah yang boleh dikatakan sebagai fenomena baru dari lembaga pendidikan Islam yang ada di Indonesia, yang kehadirannya sekitar permulaan abad 20, tampaknya ada beberapa factor lain yang melatarbelakanginya, dan secara garis besar dikelompokkan kepada dua hal, yaitu :

  1. Keadaan bangsa Indonesia itu sendiri : dari segi ajaran Islam, aktifitas lembaga pendidikan Islam, dan aktifitas lembaga pendidikan Kolonial.
  1. Faktor kondisi Luar Negeri : Pola yang berorientasi kepada pendidikan modern di Eropa, Pola ayng berorientasi kepada pemurnian kembali ajaran Islam, Pola yang berorientasi kepada nasionalisme dan kekayaan budaya bangsa masing-masing.

 

  1. Sistem Pendidikan dan Pengajaran di Madrasah

Sistem pendidikan dan pengajaran yang digunakan di madrasah adalah perpaduan antara system pada ponpes atau surau/langgar dengan system yang berlaku pada sekolah-sekolah modern. Proses perpaduan tersebut berlangsung secara berangsur-angsur, mulai dan mengikuti system klasikal. System pengajian kitab, diganti dengan bidang-bidang pelajaran tertentu, walaupun masih menggunakan kitab-kitab yang lama. Kenaikan tingkat ditentukan oleh penguasaan terhadap sejumlah bidang pelajaran tertentu.

 

Pada perkembangan berikutnya system pondok mulai ditinggalkan, dan berdiri madrasah-madrasah yang mengikuti system yang sama dengan sekolah-sekolah modern. Namun demikian pada tahap awal madrasah tersebut masih bersifat diniyah, dimana mata pelajaran hanya agama, dengan menggunakan kitab-kitab berbahasa Arab.

Akhirnya karena pengaruh dari ide-ide pembaharuan yang berkembang di dunia Islam dan kebangkitan nasional bangsa Indonesia, sedikit demi sedikit pelajaran umum masuk kedalam kurikulum madrasah. Buku-buku pelajaran agama mulai disusun khusus sesuai dengan tingkatan madrasah, sebagaimana halnya buku-buku pengetahuan umum yang berlaku di sekolah-sekolah umum. Bahkan kemudian timbullah madrasah-madrasah yang mengikuti system perjenjangan dan bentuk-bentuk sekolah-sekolah modern. Seperti Madrasah Ibtidaiyah untuk tingkatan dasar ; Madrasah Tsanawiyah, untuk sekolah menengah pertama dan adapula Kuliah Mu' allimin ( Pendidikan Guru ).

 

  1. Pembinaan dan Pengembangan Madrasah

Sejak tumbuhnya madrasah adalah merupakan lembaga pendidikan yang mandiri, tanpa bimbingan dan bantuan pemerintah colonial Belanda. Setelah Indonesia merdeka, madrasah dan pesantren mulai mendapatkan perhatian dan pembinaan dari pemerintah RI. Undang-undang Dasar 1945, mengamanatkan, agar mengusahakan terbentuknya suatu system pendidikan dan pengajaran yang bersifat nasional ( UUD 1945 pasal 31 : 2 ).

Dalam rangka merealisasikan amanat tersebut, maka Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat ( BPKNIP ) sebagai Badan Pekerja MPR pada masa itu, merupakan pokok-pokok Usaha Pendidikan dan pengajaran, yang terdiri dari 10 pasal. Pada pasal 5, menetapkan bahwa :

Madrasah dan pesantren yang pada hakekatnya adalah salah satu alat dan sumber pendidikan dan pencerdasan rakyat jelata yang sudah berurat berakar dalam masyarakat Indonesia umumnya, hendaklah pula mendapat perhatian dan bantuan materil dari pemerintah.

 

BAB III

P E N U T U P

 

  1. Kesimpulan

Sekitar pertengahan abad ke 19 Pemerintahan colonial Belanda mulai memperkenalkan sekolah-sekolah modern munurut system persekolahan yang berkembang di dunia Barat, sehingga sedikit banyak mempengaruhi system pendidikan yang telah berkembang di Indonesia, termasuk pesantren.

Sistem pendidikan dan pengajaran yang digunakan di madrasah adalah perpaduan antara system pada ponpes atau surau/langgar dengan system yang berlaku pada sekolah-sekolah modern. Proses perpaduan tersebut berlangsung secara berangsur-angsur, mulai dan mengikuti system klasikal. System pengajian kitab, diganti dengan bidang-bidang pelajaran tertentu, walaupun masih menggunakan kitab-kitab yang lama. Kenaikan tingkat ditentukan oleh penguasaan terhadap sejumlah bidang pelajaran tertentu.

 

  1. Saran

Dalam penulisan makalah ini, penulis harapkan kepada pembaca untuk mengkaji ulang terkait dengan tema ini yang belum kami bahas, untuk itu lebih dikaji dari refrensi yang lain.

 

DAFTAR PUSTAKA

Haidar Putra Daulay, Pendidikan Islam, Dalam Sistem Pendidikan Nasional di Indonesia, Jakarta : Prenada Media, 2004.

Moh. Athiyah al-Abrasyi, Dasar – dasar Pokok Pendidikan Islam, Jakarta : Bulan Bintang, 1974.

Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Lintasan Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 1999.

 


[1] Haidar Putra Daulay, Pendidikan Islam Dalam Pendidikan Nasional di Indonesia, Prenada Media, Jakarta, 2004, H. 47.

FacebookTwitterGoogle+LinkedIn

Ilmu Pendidikan Islam – Sumber Ajaran Islam

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

Oleh: Afiful Ikhwan*

 

 

  1. Latar Belakang

Dalam menentukan atau menetapkan hukum-hukum ajaran Islam para mujtahid telah berpegang teguh kepada sumber-sumber ajaran Islam. Sumber pokok ajaran Islam adalah Al-Qur’an yang memberi sinar pembentukan hukum Islam sampai akhir zaman. Disamping itu terdapat as-Sunnah sebagai penjelas Al-Qur’an terhadap hal-hal yang masih bersifat umum. Selain itu para mujtahidpun menggunakan Ijma’, Qiyas. Sebagai salah satu acuan dalam menentukan atau menetapkan suatu hukum.

Untuk itu, perlu adanya penjabaran tentang sumber-sumber ajaran Islam tersebut seperti Al-Qur’an, Hadist, Ijma’, Qiyas, dan Ijtihad. Agar mengerti serta memahami pengertian serta kedudukannya dalam menentukan suatu hukum ajaran Islam.

 

  1. Rumusan Masalah
  1. Al-Qur’an dan ruang lingkupnya.
  1. Kedudukan Hadist, Ijma; dan Qiyas.
  1. Pengertian Nash dan Syari’ah.
  1. Teori dan konsep istimbath hukum Islam.
  1. Pengertian ijtihad dan perbedaan mazdhab.

 

  1. Tujuan Penulisan
  1. Untuk mengetahui Al-Qur’an dan ruang lingkupnya.
  1. Untuk memahami kedudukan Hadist, Ijma’ dan Qiyas dalam menetapkan hukum Islam.
  1. Untuk mengetahui pengertian Nash dan Syari’ah
  1. Untuk mengetahui teori dan konsep istimbath hukum Islam.
  1. Untuk memahami ijtihad dan perbedaan mazdhab.

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. PENGERTIAN AL-QUR’AN DAN RUANG LINGKUPNYA
  1. Pengertian Al-Qur’an

Al-Qur’an adalah wahyu Allah SWT yang merupakan mu’jizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai sumber hukum dan pedoman hidup bagi pemeluk Islam dan bernilai ibadat yang membacanya.

  1. Ruang Lingkupnya Al-Qur’an

Pokok-pokok isi Al-Qur’an ada 5:

  1. Tauhid, kepercayaan terhadap Allah, malaikat-malaikat Nya, Kitab-kitab Nya, Rosul-rosul Nya, Hari Akhir dan Qodho, Qadar yang baik dan buruk.
  1. Tuntutan ibadat sebagai perbuatan yang jiwa tauhid.
  1. Janji dan Ancaman
  1. Hidup yang dihajati pergaulan hidup bermasyarakat untuk kebahagiaan dunia dan akhirat.
  1. Inti sejarah orang-orang yang taat dan orang-orang yang dholim pada Allah SWT.
  1. Dasar-dasar Al-Qur’an Dalam Membuat Hukum
  1. Tidak memberatkan

“Allah tidak membenari seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”

Misalnya:

  1. Boleh tidak berpuasa pada bulan Ramadhan.
  1. Boleh makan-makanan yang diharamkan jika dalam keadaan terpaksa/memaksa.
  1. Boleh bertayamum sebagai ganti wudhu’

 

  1. Menyedikitkan beban

Dari prinsip tidak memberatkan itu, maka terciptalah prinsip menyedikitkan beban agar menjadi tidak berat. Karena itulah lahir hukum-hukum yang sifatnya rukhsah. Seperti: mengqashar sholat.

  1. Berangsur-angsur dalam menetapkan hukum

Hal ini dapat diketahui, umpamanya; ketika mengharamkan khomr.

  1. Menginformasikan manfaat dan mahdhorotnya.
  1. Mengharamkan pada waktu terbatas, yaitu; sebelum sholat.
  1. Larangan secara tegas untuk selama-lamanya.

 


 

  1. KEDUDUKAN HADIST, IJMA’ DAN QIYAS
  1. Kedudukan Al-Hadist/Al-Sunnah

Nabi Muhammad sebagai seorang rosul menjadi panutan bagi umatnya disamping sebagai ajaran hukum. Baik yang diterima dari Allah yang berupa Al-Qur’an maupun yang ditetapkan sendiri yang berupa al-Sunnah. Banyak sekali masalah yang sulit ditemukan hukumnya secara eksplisit dalam Al-Qur’an sebagai sumber pertama dan utama, maka banyak orang mencarinya dalam as-Sunnah.

Selain diindikasikan dalam Al-Qur’an, para ulama pun telah bersepakat untuk menetapkan al-Sunnah sebagai sumber ajaran Islam.

Sunnah yang dijalankan Nabi pada dasarnya adalah kehendak Allah juga. Dalam arti bahwa Sunnah itu sebenarnya adalah risalah dari Allah yang manifestasikan dalam ucapan, perbuatan dan penetapan Nabi. Maka sudah sepantasnya, bahkan seharusnya bilamana Sunnah Nabi dijadikan sumber dan landasan ajaran Islam.

  1. Kedudukan Ijma’

Kebanyakan ulama menetapkan, bahwa ijma’ dapat dijadikan hujjah dan sumber ajaran Islam dalam menetapkan suatu hukum. Firman Allah dalam surat An-Nisa’ ayat 59 yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan Rosulnya dan Ulil Amri diantara kamu.”

Maka dapat disimpulkan bahwa, apabila mujtahid telah sepakat terhadap ketetapan hukum suatu masalah/peristiwa, maka mereka wajib ditaati oleh umat.

Ijma’ dapat dijadikan alternatif dalam menetapkan hokum suatu peristiwa yang didalam Al-Qur’an atau as-Sunnah tidak ada atau kurang jelas hukumnya.

  1. Kedudukan Qiyas

Qiyas menduduki tingkat keempat, sebab dalam suatu peristiwa bila tidak terdapat hukumnya yang berdasarkan nash, maka peristiwa itu disamakan dengan peristiwa lain yang mempunyai kesamaan dan telah ada ketetapan hukumnya dalam Al-Qur’an. Mereka mendasarkan hal tersebut pada firman Allah dalam surat Al-Hasyr ayat 2 yang artinya; “Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran hai orang-orang yang mempunyai pandangan.”

 

  1. PENGERTIAN TENTANG NASH DAN SYARI’AH
  1. Pengertian Nash

Menurut bahasa, Nash adalah raf’u asy-syai’ atau munculnya segala sesuatu yang tampak. Oleh sebab itu, dalam mimbar nash ini sering disebut munashahat, sedangkan menurut istilah antara lain dapat dikemukakan di sini menurut:

  1. Ad-Dabusi:

Artinya:

“Suatu lafazh yang maknanya lebih jelas daripada zhahar bila ia dibandingkan dengan lafzh shahir.”

  1. Al-Bazdawi

“Lafazh yang lebih jelas maknanya daripada makna lafazh zhahir yang diambil dari si pembicaranya bukan dari rumusan bahasa itu sendiri.”

Dari definisi-definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa nash mempunyai tambahan kejelasan. Tambahan kejelasan tersebut tidak diambil dari rumusan bahasanya, melainkan timbul dari pembicara sendiri yang bisa diketahui dengan qarinah.

Atas dasar uraian tersebut, Muhammad Adib Salih berkesimpulan bahwa yang dimaksud nash itu adalah:

“Nash adalah suatu lafazh yang menunjukkan hukum dengan jelas, yang diambil menurut alur pembicaraan, namun ia mempunyai kemungkinan ditakshish dan takwil yang kemungkinannya lebih lemah daripada kemungkinan yang terdapat dari lafazh zhahir. Selain itu, ia dapat dinasikh pada zaman risalah (zaman Rasul).”

 

Sebagai contoh adalah ayat Al-Qur’an, seperti yang dijadikan contoh dari lafazh zhahir.

وَاَحَلَّ اللهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَى.

Dilalah nash dari ayat tersebut adalah tidak adanya persamaan hukum antara jual beli dan riba.

Pengertiannya diambil dari susunan kalimat yang menjelaskan hukum. Di sini nash lebih memberi kejelasan daripada zhahir (halalnya jual beli dan haramnya riba) karena maknanya diambil dari pembicaraan bukan dari rumusan bahasa.

  1. Pengertian Syari’ah

Dilihat dari sudut kebahasaan kata, syari’ah bermakna “Jalan yang lapang atau jalan yang dilalui air terjun.”

Syari’ah adalah semua yang disyari’atkan Allah untuk kaum muslimin baik melalui Al-Qur’an ataupun melalui Sunnah Rasul.

Syari’ah itu adalah hukum-hukum yang disyari’atkan Allah bagi hamba-hamba Nya (manusia) yang dibawa oleh para Nabi, baik menyangkut cara mengerjakannya yang disebut far’iyah amaliyah (cabang-cabang amaliyah). Dan untuk itulah fiqih dibuat, atau yang menyangkut petunjuk beri’tiqad yang disebut ashliyah i’tiqadiyah (pokok keyakinan), dan untuk itu para ulama menciptakan ilmu kalam (ilmu tauhid).

Pengertian syari’ah menurut Syaikh Mahmud Shaltut yakni, syari’at menurut bahasa ialah tempat yang didatangi atau dituju manusia dan binatang untuk minum air. Menurut istilah ialah hukum-hukum dan tata aturan yang disyari’atkan Allah buat hamba-Nya agar mereka mengikuti dan berhubungan antar sesamanya.

Perkataan syari’ah tertuju pada hukum-hukum yang diajarkan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW. Kemudian dimasukkan kedalamnya hukum-hukum yang telah disepakati (di ijma’) oleh para sahabat Nabi, tentang masalah-masalah yang belum ada nashnya dan yang belum jelasa dalam Al-Qur’an ataupun as-Sunnah (masalah yang di ijtihad), juga dimasukkan kedalamnya hokum-hukum yang ditetapkan melalui qiyas. Dengan perkataan lain syari’at itu adalah hukum-hukum yang telah dinyatakan dan ditetapkan oleh Allah sebagai peraturan hidup manusia untuk diimani, diikuti dan dilaksanakan oleh manusia didalam kehidupannya.

Pengertian syari’ah menurut Muhammad Salam Maskur dalam kitabnya al-Fiqh al-Islamy. Salah satu makna syari’ah adalah jalan yang lurus.

Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat al-Jaatsiyah: 18

ثُمَّ جَعَلْنَكَ عَلَى شَرِيْعَةٍ مِّنَ اْلأَمْرِ فَاتَّبِعْهَاوَلاَ تَتَّبِعْ اَهْوَآءَ الَّذِيْنَ لاَيَعْلَمُوْنَ. (الجاثية: 18)

 

“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (QS. Al-Jaatsiyah: 18)

para fuqaha memakai kata syari’ah sebagai nama bagi hukum yang ditetapkan Allah untuk para hamba-Nya dengan perantara Rasul-Nya, supaya para hamba-Nya itu melaksanakannya dengan dasar iman, baik hukum itu mengenai lahiriah maupun yang mengenai akhlak dan aqaid, kepercayaan dan bersifat batiniah.

Menurut asy-Syatibi di dalam kitabnya al-Muwafaqat, “Bahwa syari’ah itu adalah ketentuan hukum yang membatasi perbuatan, perkataan dan i’tiqad, orang-orang mukallaf.”

Demikianlah makna syari’at, akan tetapi jumhur mutaakhirin telah memakai kata syari’ah untuk nama hukum fiqh atau hukum Islam, yang berhubungan dengan perbuatan mukallaf. Atas dasar pemakaian ini, timbul perkataan: Islam itu adalah aqidah dan syari’ah sebagaimana dikemukakan Syekh Mahmud Shaltut. Syari’ah Islam adalah syari’ah penutup, syari’ah yang paling umum, paling lengkap, dan mencakup segala hukum, baik yang bersifat keduniaan maupun keakhiratan.[1]

 

  1. TEORI DAN KONSEP ISTIMBATH HUKUM DALAM ISLAM

Bila para ulama hadist dihadapkan kepada suatu masalah, pertama kali para ulama ahlul haidst mencari penyelesaian masalah itu kepada Al-Qur’an dan Sunnah Nabi/Rasul. Apabila para ulama hadist mendapat hadist yang berbeda-beda, maka mereka mengambil hadist sebagai sumber hukum, dari hadist yang diriwayatkan oleh para perawi hadist yang lebih utama dan memenuhi persyaratan. Kalau para ulama tersebut tidak menemukan hadistnya, selanjutnya mereka meninjau dan mempedomani pendapat para sahabat Nabi. Andaikata tidak juga diperoleh pendapat para sahabat mengenai masalah yang sedang dihadapi para ulama hadist tersebut, maka selanjutnya barulah mereka melaksanakan ijtihad untuk menyelesaikan suatu masalah hukum Islam, atau mereka belum/tidak menyampaikan fatwa kepada masyarakat. Masa mereka enggan berfatwa ini tidak lama, hanya sampai kepada masa wafatnya Imam Daud ibnu Ali. Para ulama Fuqaha sesudah itu selalu memperhatikan/melaksanakan fatwa, baik yang telah terjadi, walaupun yang belum atau mungkin terjadi, berarti mereka selalu melaksanakan ijtihad terhadap sesuatu masalah yang baru, dan belum teratur dasar hukumnya, sehingga segala masalah dapat mereka tentukan hukumnya berdasarkan hasil ijtihad para ulama hadist (aliran Madrasah Hadist).

 

  1. IJTIHAD DAN PERBEDAAN MAZDHAB
  1. Ijtihad

Pengertian Ijtihad

Dari segi bahasa, ijtihad berarti; mengerjakan sesuatu dengan segala kesungguhan. Sedang menurut pengertian syara’ ijtihad adalah:

اَ ْلإِجْتِهَادُ: اِسْتَفْرَاغُ الْوُسْعِ فِيْ نَيْلِ جُكْمٍ َِرْعِيٍّ بِطَرِيْقِ اْلإِسْتِنْبَاطِ مِنَ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ.

 

Menggunakan seluruh kesanggupan untuk menetapkan hukum syara’ dengan jalan memetik/mengeluarkan dari kitab dan sunnah.[2]

Adapun pengertia ijtihad ialah: Mencurahkan segala tenaga (pikiran) untuk menemukan hukum agama (syara’), melalui salah satu dalil syara’ dan dengan cara tertentu. Tanpa dalil syara’ dan tanpa cara tertentu, maka hal tersebut merupakan pemikiran dengan kemauan sendiri semata-mata dan hal tersebut tidak dinamakan ijtihad.[3]

Ijtihad mempunyai peranan yang penting dalam kaitannya pengembangan hukum Islam. Sebab, dalam kenyataannya di dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat Muhkamat (jelas kandungannya) dan ada yang Mutasyabihat (memerlukan penafsiran (belum terang). Dari sinilah, sehingga ajaran Islam selalu menganjurkan agar manusia menggunakan akalnya. Apalagi agama Islam sebagai Rahmatan lil Alamin (Rahmat bagi seluru alam) membuat kesediaannya dalam menerima perkembangan yang dialami umat manusia. Sehingga secara pasti cocok dan tepat untuk diterapkan dalam setiap waktu dan tempat. Maka peranan ijtihad semakin penting untuk membuktikan keluasan dan keluwesan hukum Islam.

  1. Perbedaan Mazdhab

Menurut bahasa mazdhab berarti “Jalan atau tempat yang dilalui.” Menurut istilah para Faqih Mazdhab mempunyai dua pengertian yaitu:

  1. Pendapat salah seorang Imam Mujtahid tentang hukum suatu masalah.
  1. Kaidah-kaidah istinbath yang dirumuskan oleh seorang imam.

Dari kedua pengertian diatas dapat disimpulkan, bahwa pegertian mazdhab adalah: “Hasil ijtihad seorang imam (Mujtahid Mutlaq Mustaqil) tentang hukum suatu masalah atau tentang kaidah-kaidah istinbath.”

Dengan demikian,bahwa pengertian bermazdhab adalah: “Mengikuti hasil ijtihad seorang imam tentang ukum suatu masalah atau tentang kaidah-kaidah istinbath.”[4]

Orang yang melakukan ijtihad disebut Mujtahid. Para Imam Mujtahid seperti Imam Hanafi, Maliki, Syahi’i dan Imam Ahmad bin Hambali, sudah cukup dikenal di Indonesia oleh sebagian besar umat Islam. Untuk mengetahui pola pemikiran masing-masing Imam Mazdhab bagi seseorang itu sangat terbatas, bahkan ada yang cenderung hanya ingin mendalami mazdhab tertentu saja. Hal ini disebabkan, karena pengaruh lingkungan atau karena ilmu yang diterima hanya dari ulama/guru yang menganut suatu mazdhab saja.

Menganut suatu aliran mazdhab saja, sebenarnya tidak ada larangan, tetapi jangan hendaknya menutup pintu rapat-rapat, sehingga tidak dapat melihat pemikiran-pemikiran yang ada pada mazdhab yang lain yang juga bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW. Hal ini dimaksudkan, agar seseorang tidak fanatik kepada suatu mazdhab.

Andaikata sukar menghindari kefanatikan kepada suatu mazdhab, sekurang-kurangnya mampu menghargai pendapat orang lain yang berbeda dengan pendapatnya.

 

Dibawah ini akan dikemukakan beberapa tokoh Imam Mazdhab.

  1. IMAM HANAFI

Dasar-dasar mazdhab Imam Hanafi dalam menetapkan suatu hukum.

  1. Al Kitab

Al Kitab adalah sumber pokok ajaran Islam. Segala permasalahan hukum agama merujuk kepada al-Kitab tersebut atau kepada jiwa kandungannya.

  1. As-Sunnah

As-Sunnah adalah berfungsi sebagai penjelasan al-Kitab, merinci yang masih bersifat umum (global).

  1. Aqwalush Shahabah (perkataan sahabat)

Perkataan sahabat memperoleh posisi yang kuat dalam pandangan Abu Hanifah. Karena menurutnya, mereka adalah orang-orang yang membawa ajaran Rasul sesudah generasinya.

  1. Al-Qiyas

Abu Hanifah berpegang kepada Qiyas. Apabila ternyata dalam Al-Qur’an, Sunnah atau perkataan sahabat tidak beliau temukan.

  1. Al-Istihsan
  1. Urf

Pendirian beliau adalah mengambil yang sudah diyakini dan dipercayai dan lari dari keburukan serta mempertahankan muamalah-muamalah manusia dan apa yang mendatangkan maslahat bagi mereka. Beliau melakukan segala urusan (bila tidak ditemukan dalam Al-Qur’an, Sunnah, Ijmak atau Qiyas, dan apabila tidak baik dilakukan dengan cara Qiyas) beliau melakukannya atas dasar istihsan selama dapat dilakukannya. Apabila tidak dapat dilakukan istihsan, beliau kembali kepada Urf manusia.

 

  1. IMAM MALIKI BIN ANAS

Dasar-dasar mazdhab Imam Maliki.

  1. Al-Qur’an
  1. Sunnah Rasul yang beliau pandang sah.
  1. Ijmak para ulama Madinah, tetapi kadang-kadang beliau menolak hadist apabila ternyata berlawanan/tidak diamalkan oleh para ulama Madinah.
  1. Qiyas
  1. Istishlah (Mashalihul Mursalah)

 

  1. IMAM SYAFI’I

Dasar-dasar hukum yang dipakai Imam Syafi’i.

Mengenai dasar-dasar hukum yang dipakai oleh Imam Syafi’i sebagai acuan pendapatnya termaktub dalam kitabnya ar-Risalah sebagai berikut:

  1. Al-Qur’an
  1. As-Sunnah

Beliau mengambil sunnah tidaklah mewajibkan yang mutawatir saja, tetapi yang ahad pun diambil dan dipergunakan pula untuk menjadi dalil, asal telah mencukupi syarat-syaratnya, yakni selama perawi hadist itu orang kepercayaan, kuat ingatan dan bersambung langsung sampai kepada Nabi SAW.

  1. Ijmak

Dalam arti bahwa para sahabat semuanya telah menyepakatinya

  1. Qiyas

Imam Syafi’i memakai Qiyas apabila dalam ketiga dasar hukum diatas tidak tercantum, juga dalam keadaan memaksa.

  1. Istidlal (Istishhab)

 

  1. IMAM AHMAD BIN HAMBALI

Imam Hambali dalam menetapkan suatu hukum adalah dengan berlandaskan kepada dasar-dasar sebagai berikut:

  1. Nash Al-Qur’an dan Hadist, yakni apabila beliau mendapatkan nash, maka beliau tidak lagi memperhatikan dalil-dalil yang lain dan tidak memperhatikan pendapat-pendapat sahabat yang menyalahinya.
  1. Fatwa Sahaby, yaitu ketika beliau tidak memperoleh nash dan beliau mendapati suatu pendapat yang tidak diketahuinya, bahwa hal itu ada yang menentangnya, maka beliau berpegang kepada pendapat ini, dengan tidak memandang bahwa pendapat itu merupakan Ijmak.
  1. Pendapat sebagian sahabat yaitu apabila terdapat beberapa pendapat dalam suatu masalah, maka beliau mengambil mana yang lebih dekat kepada Al-Qur’an dan Sunnah.
  1. Hadist Mursal atau Hadist Daif. Hadist Mursal atau Hadist Daif akan tetap dipakai, jika tidak berlawanan dengan sesuatu atsar atau dengan pendapat seorang sahabat.
  1. Qiyas, baru beliau pakai apabila beliau memang tidak memperoleh ketentuan hukumnya pada sumber-sumber yang disebutkan pada poin 1-4 diatas.

 

BAB III

KESIMPULAN

 

Al-Qur’an merupakan sumber utama yang dijadikan oleh para mujtahid dalam menentukan hukum ajaran Islam. Karena, segala permasalahan hukum agama merujuk kepada Al-Qur’an tersebut atau kepada jiwa kandungannya. Apabila penegasan hukum yang terdapat dalam Al-Qur’an masih bersifat global, maka hadist dijadikan sumber hukum kedua, yang mana berfungsi menjelaskan apa yang dikehendaki Al-Qur’an. Sumber hukum yang lain adalah Ijmak dan Qiyas.

Ijmak dan Qiyas merupakan sumber pelengkap, yang mana wajib diikuti selama tidak bertentangan dengan nash syari’at yang jelas.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

  • Rifai, Moh. Fiqih, CV. Wicaksana, Semarang, 2003
  • Hasan, M. Ali, Perbandingan Mazdhab, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2003
  • Bakry, Nazar, Fiqih dan Ushul Fiqih, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1994.
  • Syafi’i, Rachmat, Ilmu Ushul Fiqih, Pustaka Setia, Bandung, 1999.

 


[1] M. Ali Hasan, Perbandingan Mazhab, (Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2003), hal. 5-7

[2] Dr. H. Moh. Rifai, Fiqh, (Semarang: CV. Wicaksana, 2003), hal. 124

[3] M. Ali Hasan, Perbandingan Mazhab, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003), hal. 33

[4] Ibid, 86

 

 

*) Penulis adalah mahasiswa PPs Strata 2 IAIN Tulungagung

 

FacebookTwitterGoogle+LinkedIn

Gallery

slide3 slide2 slide1
FacebookTwitterGoogle+LinkedIn