MPAI – PPSI (prosedur pengembangan sistem instruksional ) dalam Pendidikan Agama

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A. Latar belakang masalah

Dalam proses pendidikan islam, pendekatan mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam upaya mencapai tujuan, karena pendekatan sarana yang sangat bermakna bagi materi pelajaran yang tersusun dalam kurikulum pendidikan, sehingga dapat di pahami atau di serap oleh anak didik dan menjadi pengertian- pemgertian yang fungsional terhadap tingkah lakunya.

Pendidikan tidak akan efektif apabila tidak melakukan pendekatan ketika menyampaikan suatu materi dalam proses belajar mengajar. Dalam proses pendidikan agama islam, pendidikan yang tepat guna adalah pendidikan yang mengandung nilai – nilai yang sejalan dengan materi pelajaran dan secara fungsional dpt dipakai untuk merealisasikan nilai – nilai ideal yang terkandung dalam tujuan pendidikan islam.

 

B. Rumusan masalah

  1. Apa pengertian pendekatan dalam pendidikan  agama?
  2. Apa dan bagaimana PPSI dalam pendidikan agama?
  3. Apa dan bagaimana modul dalam mengajar agama?
  4. Apa pengertian CBSA?
  5. Apa dan bagaimana belajar tuntas?
  1. Apa dan bagaimana quantum teaching?  

 

C.Tujuan masalah

  1. Untuk mengetahui apa pengertian pendekatan dalam pendidikan agama
  1. Untuk mengetahui apa dan bagaimana PPSI dalam pendidikan agama
  1. Untuk mengetahui apa dan bagaimana modul dalam mengajar agama
  1. Untuk mengetahui apa pengertian CBSA
  1. Untuk mengetahui apa dan bagaimana belajar tuntas
  1. Untuk mengetahui apa dan bagaimana quantum teaching

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A. Pengertian Pendekatan

Dalam  kamus besar bahasa Indonesia, pendekatan adalah 1). proses perbuatan, cara mendekati; 2). Usaha dalam aktivitas penelitian untuk mengadakan hubungan dengan orang yang di teliti; metode-metode untuk mencapai pengertian tentang masalah penelitian. Secara terminologi Mulyono Sumardi menyatakan, bahwa “Pendekatan” dalam pendidikan islam berarti serangkaian asumsi mengenai hakikat pendidikan islam dan pengajaran Agama Islam serta belajar Agama Islam.

Pendekatan selalu terkait dengan tujuan, metode dan teknik, karena teknik yang bersifat implementasional dalm pengajaran tidak terlepas dari metode apa yang digunakan. Sementara metode sebagai rencana yang menyeluruh tentang penyajian materi pendidikan selalu didasarkan dengan pendekatan, dan pendekatan merujuk kepada tujuan pendidikan yang telah ditetapkan sebelumnya.[1]

 


 

B. PPSI (prosdur pengembangan sistem instruksional ) dalam Pendidikan Agama

            PPSI adalah singkatan dari prosdur pengembangan sistem instruksional. PPSI merupakan acuan logis (menunjuk suatu proses kerja) dalam perencanaan dan pelasksanaan pengajaran sebagai suatu sistem; yaitu berupa kesatuan langkah yang teroganisir yang memuat sejumlah unsur atau komponen (tujuan, bahan, metode, alat bantu, dan evaluasi pengajaran); semua unsur tersebut saling berinteraksi umtuk mencapai tujuan pengajaran yang telah ditetapkan.

 a. Perumusan Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK)

  1. Kedudukan TPK dalam program dan pelaksanaan pengajaran tujuan pembelajaran dibedakan menjadi dua macam yaitu: tujuan pembelajaran umum (TPU) dan tujuan pembelajaran khusus (TPK). TPU yang dicapai melalui pendalaman pokok bahasan telah termuat dalam kurikulum sekolah (GBPP= Garis Besar Progam Pengajaran). TPU secara fungsional menjadi acuan penyusunan TPK.
  2. Berbgai pertimbangan dalam penyusunan TPK
  • TPK merupakan penjabaran dari TPU dan tujuan pendidikan lain yamg lebih umum.
  • TPK harus memperhatikan sifat bahan (materi pelajaran).
  • TPK dan seluruh komponen serta kegiatan pengajaran yang lain mesti berpusat pada kepentingan siswa yang belajar.
  • Selain mempertimbangkan isi TPK dalm perumusan TPK para guru dituntut untuk merumuskan TPK dengan bahasa indonesia yang baik dan benar.

3.   Ciri-ciri TPK yang baik

  • TPK merupakan bentuk tingkah laku yang merupakan hasil belajar siwa.
  • TPK merupakan hasil belajar, bukan menunjuk proses belajar .
  • Setiap TPK hendaknya hanya menunjuk satu jenis tingkah laku.
  • TPK hendaknya dirumuskan dengan menggunakan kata-kata yang operasional.

 b. Mengembangkan alat penilaian (evaluasi)

            Ialah untuk mengecek sejauh mana para siswa telah menguasai kecakapam atau ketrampilan tertentu sebagai hasil belajarnya, seperti yang telah ditetapkan dalam TPK. 

 c. Menetapkan Kegiatan Belajar Mengajar.

            Untuk mencapai tujuan pengajaran yang telah ditetapkan, siswa harus berkegiatan belajar yang terarah. Dalam hal ini guru perlu memberi pengarahan agar pembelajaran terlakasana lebih efektif dan efisien.

 d. Merencanakan Program Kegiatan Kegiatan.

  • Menjabarkan materi pembelajaran.
  • Menentukan alokasi waktu yang diperlukan dalam pengajaran
  • Menyususn SP secara difinitif

 e. Melaksanakan program.

  • Mengadakan pre-test
  • Guru menyampaikan materi pelajaran kepada siswa
  • Mengadakan post test.[2]

 

C. Modul dalam mengajar Agama.

1. Pengertian pengajaran modul

            Yang di maksud dengan pengajaran modul adalah suatu paket pengajaran yang memuat satu unit konsep daripada bahan pelajaran. Pengajaran modul itu merupakan usaha penyelenggaraan pengajaran individual yang memungkinkan siswa menguasai satu unit bahan pelajaran sebelum dia beralih kepada unit berikutnya.

2. Unsur-unsur modul

            Modul yang dikembangkan di indonesia dewasa ini didalamnya terdapat unsur-unsur sebagai berikut:

  • Rumusan tujuan pengajaran yang eksplisit dan spesifik
  • Petunjuk untuk guru
  • Lembar kegiatan siswa
  • Lembar kerja bagi siswa
  • Kunci lembaran kerja
  • Lembaran evaluasi
  • Kunci lembaran evaluasi

3. Penerapan sistem modul untuk Pendidikan Agama

            Sebagai suatu alternatif tentang penerapan sistem modul untuk pendidikan agama islam maka titik tolak pembahasanya adalah kurikulum pendidikan agma islam itu sendiri, sebab dalam kurikulum pendidikan agama islam telah mencakup berbagai aspek seperti: Tujuan, bahan / materi, metode, alat, dan evaluasi[3]

 

D. Cara Balajar Siswa Aktif (CBSA).

            Hakekat CBSA pada dasarnya menunjuk pada taraf keaktifan belajar siswa yang relatif tinggi, usaha-usaha mengoptimalkan kegiatan belajar siwa, dan kegiatan belajar siswa tersebut tak sekedar motoris tetapi lebih-lebih keaktifan mental serta emosional, CBSA mengndaikan kegiatan belajar siswa yang berciri: kegiatan kognitif bertaraf tinggi, siswa bergairah belajar, terarah, dan reflektif.

1. Bentuk-bentuk CBSA

            secara garis besar ciri-ciri bentuk pengajaran CBSA yang berhasil, adalah yang memberi peluang siswa untuk aktif, mendayagunakan segala kemampuanya secara optimal, banyak usaha atau kegiatan yang dilaksanakan oleh siswa secara terarah, dibawah bimbingan guru yang kreatif, dan penuh pengabdian,

2. Langkah-langkah CBSA

  • Merumuskan tujuan pengajaran
  • Penialaian
  • Prosedur pengajaran.

 

E. Belajar Tuntas (Master Learning)

1. Pengertian Belajar Tuntas

            Belajar tuntas adalah suatu belajar yang mengharapkan siswa dapat menguasai tujuan instruksional umum dari suatu satuan unit belajar tuntas. Sedang menurut Muhammad Ali dalam bukunya “Guru Dalam Proses Belajar Mengajar”, mengatakan: belajar tuntas dapat diartikan sebagian penguasaan (hasil belajar) siawa secara penuh terhadap bahan yang dipelajari.

            Dengan belajar tuntas proses belajar siswa lebih diarahkan, minat belajar siswa ditinggkatkan, sikap yang positif terhadap belajar, bahan yang dipelajari lebih ditiggkatkan dan dikembangkan. Dengan demikian perubahan tingkah laku yang diharapkan pada setiap siswa akan berhasil secara optimal.

2. Prinsip ilmiah yang mendasari Belajar Tuntas

            Menurut Muhammad Ali asumsi dasar belajar tuntas adalah adanya ide tentang belajar tuntas yang ditopang, sebagai berikut:

  • Semua atau hampir semua siswa dapat menguasai apa yang diajarkan kepadnaya (apa yang dipelajari) bila pengajaran dilaksanakan secara siatematis.
  • Tingkat keberhasilan siswa disekolah ditentukan oleh kemampuan bawaan atau bakat yang dimiliki masing-masing.

Hal-hal yang perlu diperhatikan yang meruoakan variabel yang menentukan bagi belajar tuntas yaitu: Bakat, kualitas pengajaran, kesanggupan untuk memahami pengajaran, ketekunan dan kesempatan untuk belajar .[4]

 

F. Quantum Teaching

            Inti pokok Quntum Teaching adalah pengubagan belajar yang meriah dan menyenangkan (baik guru peserta didik) dengan segala nuansanya, apapun pelajaran yang diberikan, dengan menyertakan segala kaitan, interaksi dan perbedaan yang memaksimalkan momen belajar. Fokus Quantum Teaching terletak pada hubunagan dinamis pada lingkunagan kelas, interkasi yang mendirikan landasan dan rangka untuk bekajar.

1. Model Quantum Teaching

  1. Konteks, adalah latar untuk pengalaman guru. Guru akan menemukan semua bagian yang dibutuhkan untuk digubahnya, antara lain: suasana yang memberdayakan, landasan yang kukuh, lingkungan yang mendukung dan rancagan belajar yang dinamis.
  1. Isi, adalah ketermpilan penyampaian kurikulum apapun, pemilihan strategi yang bisa dibutuhkan siswa untuk bertanggung jawab atas apa yang mereka pelajari: penyajian yang prima, fasilitas yang lues, keterampilan belajar untuk belajar dan keterampilan hidup

2. Kerangka rancangan belajar Quantum Teaching dikenal dengan istilah TANDUR, yaitu: Tumbuhkan, Alami, Namai, Demonstrasikan, Ulangi dan Rayakan.

 

G. Contextual Teaching And Learning (CTL)

            CTL adalah suatu strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkanya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapknya dalam kehidupan mereka. Dalam srategi pembelajaran konstektual ada tiga hal yang harus difahami. Pertama, CTL menekankan pada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi. Kedua, CTL mendorong agar siswa dapat menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata. Ketiga, CTL mendorong siswa untuk dapat menerapkanya dalam kehidupan.

           

Asas-Asas CTL.

  1. Konsruktivisme, adalah proses membangun atau mennyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasrkan pengalaman.
  1. Inkuiri, adalah proses pembelajaran didasarkan pada pencarian dan penemuan melalui proses berpikir secara sistematis.
  1. Bertanya (Questioning), belajar pada hakeketnya ialah bertanya dan menjawab pertanyaaan.
  1. Masyarakat belajar (Learning Community), adalah konsep masyarakat belajar dalam CTL menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh melalui kerja sama dengan orang lain.
  1. Pemodelan (Moedeling), adalah proses pembelajarana dengan memperagakan sesuetu sebagai contoh yang dapat ditiru oleh setiap siswa.
  1. Refleksi (Reflektion), adalah proses pengendapan pengalaman yang telah dipelajari yang dilakukan dengan cara mengurutkan kembali kejadian-kejadian atau perstiwa pembelajaran yang telah dilaluinya.
  1. Penilaian Nyata (Authenticd Assessment), adalah proses yang dilakukan guru untuk mengumpulkan informasi tentang perkembangan belajar yang dilakukan siswa.[5]

 

 

BAB III

PENUTUP

 

A. KESIMPULAN

            Pendekatan dalam pendidikan islam adalah sebuah asumsi terhadap hakikat pendidikan islam. Setiap pendekatan yang digunakan akan memakai metode yang berbeda pula antar satu pendekatan dengan pendekatan yang lainya, oleh karena itu metode selalu terkait dengan pendekatan, sementar pendekatan selalu merujuk kepada tujuan.

            Dalam metodologi pengajaran pendidikan agama islam terdapat bebrapa pendekatan yaitu : PPSI (Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional), modul dalam mengajar agama, cara belajar siswa aktif (CBSA), Belajar Tuntas (Master Learning), Quantum Teaching dan Contextual Teaching and Learning (CTL)

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Arief, Armay. 2002. Pengantar Ilmu Dan Metodologi Pendidikan Islam. Jakata: Ciputat Pers.

Patoni, Achmad. 2004. Metodologi Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Bina Ilmu

Sanjaya, Wina. 2006. Strategi Pembalajaran. Jakarta: Kencana

 


[1] Armei Arif, Pengantar Ilmu Dan Metologi Prndidikan Islam, (Jakarta:Ciputat Pres, 2002) hal. 99

[2] Achmad Fatoni, Metodologi Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Bina Ilmu, 2002) hal. 135-141

[3] ibid, hal. 142-148

[4] Achmad Patoni. hal. 159-166

[5] Wina Sanjaya, Strategi Pembeljaran (Jakarta: Kencana 2006) hal 253-266

FacebookTwitterGoogle+LinkedIn

Kebijaksanaan Pemerintah Dalam Bidang Pendidikan di Indonesia

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.    Latar Belakang Masalah

Dengan susah payah akhirnya pada tanggal 17 Agustus 1945 bangsa Indonesia berhasil meraih kemerdekaannya sendiri, tanpa meminta belas kasihan dari pemerintah Jepang / bangsa lain. Kemerdekaan Indonesia melahirkan kehidupan baru disegala bidang, termasuk pendidikan setelah Indonesia merdeka, bangsa Indonesia sendiri secepatnya mengubah sistem pendidikan dan menyesuaikannya dengan keadaan baru sebagai negara yang merdeka dan berdaulat. Maka di perlukan system pendidikan Nasional yang berdasarkan eksistensi masa lampau, masa kini, dan kewaspadaan terhadap perkembangan ke depan.

 

B.    Rumusan Masalah

1.       Mengapa lembaga pendidikan seperti Madrasah dan Pesantren pada masa awal kemerdekaan mendapat perhatian dari pemerintah ?

2.       Ada berapakah organisasi Islam yang peduli terhadap perkembangan pendidikan di masa awal kemerdekaan Indonesia ?

 


 

C.    Tujuan Masalah

Agar kita mengetahui pada masa awal kemerdekaan Indonesia, pemerintah ingin merubah konsep pendidikan yang sudah ada, agar sesuai dengan keadaan yang baru yaitu sebagai negara yang merdeka, dan selain itu ada beberapa organisasi Islam yang peduli serta ikut berperan aktif dalam proses kemajuan pendidikan di negara Indonesia.

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.    Kebijaksanaan Pemerintah Dalam Bidang Pendidikan di Indonesia

Pada tanggal 17 Agustus 1945 bangsa Indonesia berhasil meraih kemerdekaannya sendiri, tanpa meminta belas kasihan pemerintah Jepang / bangsa lain. Kemerdekaan Indonesia melahirkan kehidupan baru di segala bidang, termasuk bidang pendidikan, sebagai modal dan pedoman pertama bagi rakyat dan pemerintah di lapangan pendidik dipergunakanlah rencana usaha pendidikan / pengajaran yang telah dipersiapkan pada hari – hari terakhir penjajahan Jepang. sebagai langkah awal dikeluarkan " Intruksi Umum " oleh : PP dan K, yaitu Kihajar Dewantara, selain itu bangsa Indonesia menggunakan UUD 1945 sebagai pedoman dan dasar penyelenggaraan pendidikan nasional.

Upaya menjalankan system pendidikan nasional, pemerintah memberi penghargaan tinggi bagi pendidikan agama Islam, pada tanggal 22 Desember 1945 BPKNIP mengumumkan bahwa " dalam memajukan pendidikan dan pengajaran di langgar – langgar dan di madrasah – madrasah berjalan terus dan di perpesat ". Berikutnya pada tanggal 27 Desember BPKNIP menyarankan agar pendidikan agama di sekolah mendapat tempat yang teratur, seksama dan mendapat perhatian yang semestinya, selain itu BPKNIP menyarankan agar lembaga pendidikan madrasah dan pondok pesantren mendapat perhatian yang semestinya, selain itu BPKNIP menyarankan agar lembaga pendidikan madrasah dan ponpes mendapat perhatian bantuan material dari pemerintah.

Agama merupakan pondasi dalam membangun agama, sehingga pada tanggal  3 Januari 1946  dibentuk Depag yang mengurusi penyelanggaraan pendidikan agama di sekolah umum dan mengurusi sekolah – sekolah agama. Pada waktu Mr. R. Suwandi menjadi Menteri PP dan K, dia membentuk panitia penyidik pengajaran RI yang di ketuai oleh Kihajar Dewantara, Panitia ini merekomendasikan mengenai sekolah – sekolah agama. Tahap demi tahap sesuai dengan kemampuan pembangunan bangsa Indonesia. Pendidikan Islam semakin terintegrasikan secara total dalam pendidikan nasional. Pentingnya pendidikan Agama Islam yang menjadi bagian integral dari pendidikan nasional akhirnya mendapat kekuatan hukum dalam komisi pembaharuan pendidikan nasional.

 

B.    Perhatian Organisasi Islam Terhadap Pendidikan

Adapun organisasi – organisasi Agama Islam yang sangat besar peranannya dalam ikut serta mengisi kemerdekaan melalui bidang pendidikan Regional maupun Nasional dan Internasional adalah sebagai berikut :

1.     Perserikatan Muhammadiyah

Muhammadiyah adalah suatu peserikatan social keagamaan dan merupakan pergerakan Islam yang didirikan oleh K. H. A. Dahlan pada tanggal 18 November 1912 di Yogyakarta. Muhammadiyah sebagai gerakan social keagamaan mempunyai cirri khas, yaitu :

  1. Muhammadiyah sebagai gerakan Islam
  2. Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah
  3. Muhammadiyah sebagai gerakan tajdid

 

Sejak berdirinya Muhammadiyah, tidak memilih politik sebagai jalur kegiatannya, tetapi ia bergerak di bidang dakwah, pendidikan dan sosial. Sebagai organisasi dakwah dan pendidikan, Muhammadiyah mendirikan lembaga pendidikan dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Pada tahun 1915  K. H. Ahmad Dahlan mulai mendirikan sekolah dasarnya yang pertama, pada sekolah ini diberikan pengetahuan umum selain pengetahuan agama.

Muhammadiyah mendirikan berbagai jenis dan tingkat sekolah dan tidak memisahkan antara pelajaran Agama dan pelajaran Umum. Dengan demikian diharapkan bangsa Indonesia dapat di didik menjadi bangsa yang utuh berkepribadian.

Pembaharuan di bidang pendidikan dan pengajaran Agama Islam yang di lakukan Muhammadiyah dapat disimpulkan sebagai berikut :

1.         Cara belajar dan mengajar mempergunakan cara sorogan dan weton yang kurang efisien, sambil duduk bersila diatas tikar, kepada system baru dengan menggunakan system klasikal persekolahan yang lebih efisien.

2.         Dari pondok system lama, dengan mata pelajaran semata – mata agama yang bersumber dari kitab – kitab karangan ulama – ulama lama, kepada perguruan baru dengan menambahkan mata pelajaran umum.

3.         dari pondok system lama yang tidak mempunyai rencana pelajaran yang teratur, kepada satu perguruan baru yang dipimpin oleh satu rencana pelajaran yang teratur dan integral.

4.          Dari pondok system lama, yang pengasuh dan santri – santri masih diliputi alam pikiran yang terbatas akibat issolasi selama ini, kepada perguruan yang baru, yang para pengasuhnya terdiri dari intelek alim dan ulama lama.

5.          Dari pondok system lama yang mengkeramatkan kyai kepada perguruan baru yang demokratis.

2.     Nahdlatul Ulama ( NU )

Nahdlatul Ulama ( NU ) didirikan di Surabaya pada tanggal 31 Januari 1926 M. Sebagai reaksi terhadap berdirinya gerakan reformasi dalam kalangan umat Islam Indonesia dan berusaha mempertahankan salah satu dari 4 Madzhab dalam masalah yang berhubungan dengan Fiqih ( Hukum Islam ). Dalam I' tikad NU berpegang pada aliran Ahlusunnah Wal Jama' ah, hal ini tampak pada AD / ART NU. Hasil mu' tamar ke 26 di semarang tahun 1979 pasal 2 ayat 2 yang bertujuan :

1.     Menegakkan syari' at Islam

2.     Mengusahakan berlakunya ajaran Aswaja dalam masyarakat.

 

Dalam perjalanannya sejarah NU, pernah menjadi partai politik, kemudian bergabung dalam partai Masyumi, namun setelah partai – partai Islam di fungsikan kedalam Partai Persatuan Pembangunan ( PPP ). Dewasa ini NU bergerak dibidang  social dan pendidikan agama, menurut paham yang diyakini yaitu Aswaja. Dengan usaha – usaha ini maka NU mempunyai banyak sekali pondok pesantren dan madrasah yang tersebar diseluruh pelosok tanah air. Untuk menangani bidang – bidang kegiatannya NU mempunyai bagian – bagian khusus, untuk menengani bagian da' wah, bagian ma' arif, bagian mubarrat, bagian ekonomi, bagaian penerbitan, bagian umum, bagian pertanian dn nelayan, bagian pembaharuan dan tenaga kerja.

Bagian yang menangani pendidikan dan pengajaran adalah " Darul Ma' arif  ". Berdasarkan hasil rapat kerja th 1978 dan program kerja ma' arif antara lain :

1.     Pemantapan system pendidikan Ma' arif

2.     Peningkatan organisasi ma' arif

3.     Penyediaan data dan informasi tentang sekolah – sekolah ma' arif

4.     Penerbitan

5.     Peningkatan guru ma' arif

Nahdlatul Ulama selain mengelola pendidikan dan pengajaran secara formal, juga menyelenggarakan pendidikan agama melalui jalur non formal.

3.     Persatuan Islam ( PERSIS )

Persatuan Islam ( Persis ) didirikan di Bandung tgl 17 September 1923 oleh K. H. Zamzam. Tujuan Persis ialah : mengembalikan umat Islam kepada tuntutan Al-Qur' an dan Al-Hadist, usaha yang dilakukan adalah menyelenggarakan pendidikan berupa madrasah, pondok pesantren tabligh baik secara lisan maupun tertulis. Dibidang keagaan Persis dengan gigih dan tak tangung – tanggung dalam memberantas bi' dah. Tokoh Persis yang terkenal adalah Ust. A. Hasan dan M. Natsir.

Pesantren Persis mula – mula didirikan di Bandung pada bulan Maret 1936. disamping pesantren untuk orang dewasa didirikan pula " Pesantren Kecil " yaitu : khusus untuk anak – anak dan di laksanakan pada sore hari, tujuan pesantren Persis ialah mendidik calon mubaligh yang sanggup menyiarkan, mengajar, membela dan mempertahankan agama Islam dimana saja.

4.     Al – Washliyah

Al – washliyah didirikan pada tanggal 30 November 1930 di Medan. Pendirinya adalah H. A. Racman Syihab, Ismail Banda dan H. M. Arsyad Thalib Lubis, seperti halnya NU, Al-Washliyah berpegang pada salah satu madzhab yang empat. Dalam hal ini al-washliyah mengikuti madzhab syafi' i. al-wshliyah bergerak dibidang pendidikan, social dan keagaman. Dari hasil usaha dakwahnya banyak suku bangsa Batak memeluk Agama Islam. Selain usaha dakwah al-washliyah juga mendirikan sekolah dan Panti Asuhan Anak Yatim. Universitas Islam Sumatra Utara ( UISU ) adalah salah satu hasil karya al-washliyah apda zaman kemerdekaan al-washliyah banyak berperan serta menyukseskan bidang pendidikan dan dakwah.

5.     Al-Irsyad

Perkumpulan al-Irsyad didirikan pada tahun 1913 di Jakarta. Pendirinya adalah Syekh Ahmad Surkati Al-Anshari, tujuan perkumpulan al-irsyad ini adalah memajukan palajaran agama Islam yang murni di kalangan bangsa Arab di Indonesia.

Al-Irsyad disamping bergerak dibidang pendidikan juga bergerak dibidang social dan dakwah Islam berdasarkan Al-Qur' an dan Sunnah Rasul secara murni. Al-Irsyad mendirikan madrasah awwaliyah, Ibtidaiyyah danTajhizlah serta mu' allimin dan Tkhasus. Pada tahun 1940 seluruh sekolah Al-Irsyad ditutup karena alasan yang tidak jelas. Setelah Indonesia merdeka Al-Irsyad dibuka kembali dan bahkan telah meluas kedaerah – daerah di Indonesia.

6.     Nahdlatul Wathan

Nahdlatul Wathan didirikan pada tahun 1936 oleh Tuan Guru H. M. Zainuddin di Pancor Lombok Timur ( NTB ). Nahdlatul Wathon mempunyai dasar ahlu sunnah wal jama' ah dan menganut madzhab Syafi' i. Adapun tujuannya ialah mempertinggi " Kalimatullahi Izzal Islam Wal Muslim " dan  kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

Nahdlatul Wathan sebagai organisasi slam, bergerak di bidang pendidikan social dan keagamaan. NW ( Nahdlatul Wathon ) mempunyai bagian – bagian ( Pendidikan, Sosial, Penerangan dan ekonomi ) dan mempunyai bebrapa cabang-cabang organisasi yang seazaz.

Dalam sejarah perkembangannya telah tersebar hampir di seluruh pulau Lombok dengan sekolah – sekolahnya. Hal ini berarti bahwa NW mempunyai Andil yang besar dalam ikut serta mengisi kemerdekaan Indonesia.

7.     Daru Da' wah Wal Irsyad ( DDI )

Perkumpulan Daru Da' wah Wal Irsyad ( DDI ) didirikan di Watang Sopeng Sulawesi, pada tanggal 7 Februari 1947. Kumpulan ini berdasarkan Syari' ah ISlamiyah dan berhaluan Ahlu Sunah wal Jama 'ah.

Tujuan didirikan perkumpulan ini ialah unutk memajukan kecerdasan umum, menuntun umat melaksanakan ajaran Islam dan memelihara persatuan kaum muslimin serta perdamaian dalam masyarakat.

Perkumpulan DDI bergerak di bidang sosial masyarakat, keagamaan dan pendidikan, bidang kegiatannya meliputi :

a.      Kerjasama dengan golongan – golongan lain yang menyetujui tujuan DII.

b.     Mengamalkan ta' awun secara luas dalam lapangan kerja dan usaha.

c.      Menyelenggarakan pendidikan baik secara formal maupun non formal.

Demikianlah bebrapa organisasi Islam yang bergerak di bidang sosial, agama dan pendidikan yang mempunyai jangkauan secara nasional dan regional.

 

 

BAB III

P E N U T U P

  

A.    Kesimpulan

1.     Pada hakekatnya madrasah dan pesantren adalah satu alat dan sumber pendidikan dan pencerdasan rakyat jelata yang sudah berakar dalam masyarakat Indonesia.

2.     Ada tujuh organisasi Islam yang ikut berperan aktif dalam memajukan pendidikan agama Islam di Indonesia.

B.    Saran

Dalam penulisan makalah ini, penulis harapkan kepada pembaca untuk mengkaji ulang terkait dengan tema ini yang belum kami bahas, untuk itu lebih dikaji dari refrensi yang lain.

 

DAFTAR PUSTAKA

Asrohah, Hanun, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta : PT. Logos Wacana Ilmu, 1999.

Zuhairini, dkk, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta : Proyek Pembinaan Prasarana dan Sarana Perguruan Tinggi Agama IAIN, 1986.

FacebookTwitterGoogle+LinkedIn

PROPOSAL SKRIPSI “ PERANAN GURU TIDAK TETAP (WIYATA BHAKTI) DALAM MENUNJANG KEBERHASILAN PROSES PEMBELAJARAN

 

 

PROPOSAL SKRIPSI

“ PERANAN GURU TIDAK TETAP (WIYATA BHAKTI) DALAM MENUNJANG KEBERHASILAN PROSES PEMBELAJARAN STUDI KASUS DI MADRASAH ALIYAH NEGERI 2

KEC. BOYOLANGU, KAB. TULUNGAGUNG ”

TAHUN AJARAN 2009/2010

 

ABSTRAK

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memenuhi tugas mata kuliah Seminar Proposal Skripsi dengan judul : ” Peranan Guru Tidak Tetap (Wiyata Bhakti) Dalam Menunjang Keberhasilan Proses Pembelajaran Studi Kasus di Madrasah Aliyah Negeri 2 Kec. Boyolangu, Kab. Tulungagung “, Oleh Afiful Ikhwan Jurusan Tarbiyah Program Studi Pendidikan Agama Islam, NIM 3211063024. Tahun 2010.

 

  1. Latar Belakang Masalah

Era globalisasi merupakan era persaingan mutu atau kualitas. Dalam menghadapi berbagai perubahan di era ini diperlukan sumber daya manusia yang memiliki kualitas dalam menghadapi setiap tantangan yang muncul. Salah satunya adalah bidang pendidikan. Pendidikan mempunyai peranan penting membangun masyarakat. Pendidikan juga mengemban tugas untuk menghasilkan generasi muda bangsa yang unggul, manusia yang lebih berkebudayaan serta manusia sebagai individu yang memiliki kepribadian yang lebih baik.

Dalam UU no. 20 tahun 2003 menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual-keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.

Salah satu tujuan pendidikan nasional yang harus di capai oleh bangsa Indonesia seperti yang termaktub dalam pembukaan UUD 1945, yaitu “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”. Tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia adalah cita-cita luhur perjuangan bangsa Indonesia dalam mengarahkan dan perkembangan.

Upaya mencerdaskan bangsa Indonesia dalam artian meningkatkan kualitas manusia Indonesia yang dapat direalisasikan melalui kegiatan pendidikan. Seperti yang dirumuskan dalam ketetapan-ketetapan MPR. Republik Indonesia tentang pendidikan nasional, yaitu :

Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat Jasmani dan Rokhani, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.[1]

 

Pendidikan nasional juga harus menumbuhkan jiwa patriotik dan mempertebal rasa cinta tanah air, meningkatkan semangat kebangsaan dan kesetiaan sosial serta kesadaran pada sejarah bangsa dan sikap menghargai jasa para pahlawan, serta berorientasi masa depan. Iklim belajar dan mengajar yang dapat menumbuhkan rasa percaya diri dan budaya belajar dikalangan masyarakat terus dikembangkan agar tumbuh sikap dan perilaku yang kreatif dan keinginan untuk maju.[2]


 

Sedangkan yang bertanggung jawab terhadap pendidikan bukan hanya pemerintah, kemudian guru dipercayakan dalam kegiatan proses pembelajaran. Dalam tugas guru, proses pembelajaran hal yang demikian itu bukan merupakan tugas yang ringan, karena guru berhadapan langsung dengan sekelompok siswa yang bermacam dan ragam sikap dan watak, dari latar belakang pendidikan orang tua, ekonomi keluarga dan agama.

Menurut Pembantu Rektor IV (Purek IV) Undip Dr. Muhammad Nur, DEA, di Kampus Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, masalah pendidikan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja, tapi juga tanggung jawab bersama antara pemerintah dan seluruh lapisan masyarakat yang peduli terhadap pendidikan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia.[3]

Peranan dan kompetensi guru dalam implementasi pengajaran atau proses belajar mengajar meliputi banyak hal sebagaimana yang dikemukakan Adams dan Deceya dalam Basic Prinsiple Of Student Teaching, antara lain guru sebagai pengajar, pemimpin kelas, pembimbing, pengatur lingkungan, partisipan, ekspeditor, perencana supervisor, motivator, konselor demonstrator, pengelola  kelas, mediator dan evaluator.[4]

Guru memegang peranan sentral dalam keseluruhan proses belajar mengajar. Seorang guru dituntut mengajar dan mendidik anak didik agar menjadi manusia yang berkualitas, pribadi yang mandiri, pelajar yang efektif serta anggota masyarakat yang baik. Guru mempunyai tanggung jawab besar dalam perkembangan kepribadiannya baik yang berlangsung di sekolah maupun di luar sekolah. Peran guru tidak hanya sebagai pengajar yang hanya menyampaikan materi setelah itu selesai. Peran guru antara lain :

1. Guru sebagai pelatih yaitu seorang guru harus memberikan peluang yang sebesar-besarnya bagi siswa untuk mengembangkan cara-cara pembelajarannya sesuai dengan kondisi masing-masing.

2. Guru sebagai konselor yaitu seorang guru harus mampu menciptakan sati situasi interaksi belajar mengajar, dimana siswa melakukan perilaku pembelajaran dalam suasana psikologis yang kondusif dan tidak ada jarak yang kaku dengan guru.

3. Guru sebagai manajer pembelajaran yaitu guru memiliki kemandirian dan otomi yang seluas-luasnya dalam mengelola keseluruhan kegiatan belajar mengajar dengan mendinamiskan seluruh sumber-sumber penunjang pembelajaran.

4. Guru sebagai partisipan yaitu guru tidak hanya berperilaku mengajar akan tetapi juga berperilaku belajar dari interaksinya dengan siswa.

5. Guru sebagai pemimpin yaitu seorang guru diharapkan mampu menjadi seorang yang mampu menggerakkan orang lain untuk mewujudkan perilaku menuju tujuan bersama.

6. Guru sebagai pembelajar yaitu guru secara terus menerus belajar dalam rangka menyegarkan kompetensinya serta meningkatkan kualitas profesionalnya, dan

7. Guru sebagai pengarang yaitu guru selalu kreatif dan inovatif menghasilkan berbagai karya yang akan digunakan untuk melaksanakan tugas-tugas keprofesionalannya.[5]

 

Lingkup terkecil dari pendidikan adalah proses pembelajaran. Terdapat dua kegiatan didalamnya yaitu belajar dan mengajar. Belajar merupakan proses perubahan perilaku seseorang yang diakibatkan adanya pengalaman atau latihan. Sedangkan mengajar yaitu proses mengatur, mengorganisasi yang ada disekitar anak didik sehingga menumbuhkan dan mendorong anak didik melakukan proses belajar. Siswa belajar dan guru mengajar.

Belajar mengajar merupakan suatu sistem yang diatur yang saling bergantung satu sama lain guna mencapai suatu tujuan. Tujuan yang terpenuhi disebut suatu keberhasilan. Untuk mencapai suatu keberhasilan tidaklah mudah. Berbagai faktor dapat mempengaruhi antara lain : tujuan, guru, anak didik, kegiatan pengajaran, bahan dan alat evaluasi serta suasana evaluasi.

Anak didik merupakan subyek dari proses belajar mengajar. Dalam belajar, banyak faktor yang akan mempengaruhi baik faktor dalam diri dan dari luar anak didik tersebut. Faktor internal atau yang berasal dari dalam diri siswa misalnya inteligensi, bakat, sikap, minat, motivasi. Sedangkan faktor eksternal atau yang berasal dari luar diri anak didik misalnya faktor keluarga, faktor sekolah maupun faktor lingkungan masyarakat.

Setiap tindakan yang diperbuat pasti memiliki tujuan. Begitu pula dengan belajar. Mendapatkan nilai yang maksimal, pemahaman terhadap materi, serta manfaat dari apa yang dipelajari merupakan tujuan belajar pada umumnya. Keberhasilan dalam mencapai suatu tujuan akan menghasilkan kepuasan.

Prestasi belajar biasa digunakan sebagai parameter sebuah keberhasilan belajar. Ada banyak faktor yang menentukan besarnya prestasi belajar siswa, diantaranya faktor dalam diri siswa yang salah satunya yaitu kepuasan siswa dalam proses belajar mengajar. Kepuasan tersebut menyangkut emosi siswa yang timbul setelah dilakukannya proses belajar mengajar. Jika proses belajar mengajar yang berlangsung menghasilkan rasa puas maka prestasi belajar yang dicapai akan lebih baik. Kepuasan siswa dalam proses belajar mengajar mempunyai hubungan positif dengan prestasi belajar.[6]

Untuk itu guru harus dapat menyesuaikan diri dan menghilangkan perbedaan itu dalam kegiatan pembelajaan. Guru mengarahkan siswa menjadi manusia yang berkualitas, beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, mandiri, maju, tangguh cerdas, kreatif, terampil, disiplin, beretos kerja, professional dan bertanggung jawab.

Maka untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia, sedikit banyaknya ditentukan oleh kemampuan seorang guru dalam melakukan kegiatan proses pembelajaran. Dalam pelaksanaannya guru hendaknya memahanmi dan menghayati wujud siswa sebagai manusia yang akan dibimbingnya. Seorang guru yang profesinya mengajar dan telah ditempa oleh ilmu pendidikan, sudah barang tentu tidak akan merasa kesulitan dalam melakukan kegiatan proses pembelajaran.

Tetapi ada juga tenaga pengajar (guru) tidak tetap pada Madrasah Aliyah Negeri 2 Tulungagung, masih ada yang kuliah sambil mengajar, bahkan mengajarnyapun tidak hanya di satu tempat di Madrasah Aliyah Negeri 2 saja, mereka juga mengajar sebagai guru tidak tetap di sekolah atau madrasah lainnya.

Sedangkan untuk mengajar di tingkat Madrasah Aliyah itu sekurang-kurangnya pernah mengikuti Pendidikan Guru Agama untuk masa dahulu atau tamatan Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) untuk masa sekarang, sebagai suatu lembaga pendidikan yang mampu menjalankan tugas selaku tenaga pendidik yang professional pada tingkatan Madrasah Aliyah atau Sekolah Menengah Umum sederajat.

Hal inilah yang menjadi pemikiran penulis dan sekaligus melatarbelakangi pokok penulisan proposal yang akan diajukan untuk penyusunan atau penelitian skripsi. Dimana tenaga pengajar tidak tetap, tapi mampu melakukan kegiatan proses pembelajaran dengan baik. Apakah mengajar itu cukup dengan guru yang berilmu pengetahuan saja tetapi tidak berpengalaman ? Atau berpengalaman tetapi tidak berilmu pengetahuan ? atau dibutuhkan kedua-duanya?

Berdasarkan uraian diatas secara singkat bahwa guru tidak tetap berperan dalam keberhasilan proses pembelajaran di Madrasah Aliyah Negeri 2 Tulungagung. Hal ini menjadi tanda Tanya dalam diri penulis, bagaimana cara pelaksanaan dan usaha guru bukan berlatar belakang pendidikan keguruan. Untuk itu penulis tertarik akan permasalahan ini, dan menuangkan kedalam bentuk skripsi yang berjudul : “Peranan Guru Tidak Tetap (Wiyata Bakti) dalam menunjang keberhasilan proses pembelajaran studi kasus di Madrasah Aliyah Negeri 2 Tulungagung”

 

  1. Rumusan Masalah
  1. Bagaimana pelaksanaan pendidikan yang dilakukan guru tidak tetap dalam mencapai keberhasilan proses pembelajaran di Madrasah Aliyah Negeri 2 Kecamatan Boyolangu Kabupaten Tulungagung.
  1. Bagaimana usaha guru tidak tetap dalam meningkatkan prestasi siswa di Madrasah Aliyah Negeri 2 Kecamatan Boyolangu Kabupaten Tulungagung.
  1. Apa hambatan dan solusi guru tidak tetap dalam mencapai keberhasilan proses pembelajaran di Madrasah Aliyah Negeri 2 Kecamatan Boyolangu Kabupaten Tulungagung.
  1. Bagaimana hasil yang telah dicapai guru tidak tetap dalam mencapai keberhasilan proses pembelajaran di Madrasah Aliyah Negeri 2 Kecamatan Boyolangu Kabupaten Tulungagung.

 

  1. Tujuan Penelitan
  1. Untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan pendidikan yang dilakukan guru tidak tetap dalam mencapai keberhasilan proses pembelajaran di Madrasah Aliyah Negeri 2 Kecamatan Boyolangu Kabupaten Tulungagung.
  1. Untuk mengetahui bagaimana usaha guru tidak tetap dalam meningkatkan prestasi siswa di Madrasah Aliyah Negeri 2 Kecamatan Boyolangu Kabupaten Tulungagung.
  1. Untuk mengetahui apa hambatan dan solusi guru tidak tetap dalam mencapai keberhasilan proses pembelajaran di Madrasah Aliyah Negeri 2 Kecamatan Boyolangu Kabupaten Tulungagung.
  1. Untuk mengetahui bagaimana hasil yang telah dicapai guru tidak tetap dalam mencapai keberhasilan proses pembelajaran di Madrasah Aliyah Negeri 2 Kecamatan Boyolangu Kabupaten Tulungagung.

 

  1. Kegunaan Hasil Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk kepentingan teoritis maupun kepentingan praktis.

  1. Kegunaan teoritis, hasil penelitian ini diharapkan dapat melengkapi atau sebagai sumbangsih pikiran terhadap khazanah ilmiah dalam pengembangan kinerja guru tidak tetap dalam melaksanakan proses kegiatan belajar mengajar atau pembelajaran di Madrasah Aliyah Negeri 2 Tulungagung.
  1. Kegunaan praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai berikut :
  1. Bagi penulis

Hasil pembahasan skripsi ini dapat dijadikan sebagai sarana untuk mengaktualisasikan berbagai macam ilmu pengetahuan serta sebagai salah satu pemenuhan akhir dari persyaratan menyelesaikan studi program strata satu pada (Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri) STAIN Tulungagung.

  1. Bagi siswa

Hasil penelitian ini dapat membantu meningkatkan pemahaman siswa pada setiap proses pembelajaran yang diajarkan oleh guru tidak tetap baik secara konseptual maupun prosedural.

  1. Bagi guru

Hasil penelitian ini dapat membantu sebagai umpan balik dalam memperbaiki kegiatan pembelajaran agar tercipta kegiatan belajar mengajar yang lebih bermakna dan suasana belajar yang lebih menyenangkan.

  1. Bagi Kepala Sekolah

Hasil penelitian ini dapat digunakan oleh kepala sekolah sebagai tambahan pertimbagan untuk menentukan kebijakan dalam kinerja guru tidak tetap.

 

  1. Bagi peneliti yang akan datang

Hasil penelitian ini dapat digunakan oleh peneliti yang akan datang sebagai bahan kajian penunjang dan bahan pengembang perancang penelitian dalam meneliti hal-hal yang berkaitan dengan topik di atas.

  1. Bagi Perguruan Tinggi

Hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan oleh STAIN (Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri) Tulungagung sebagai bahan masukan dan sumbangan pemikiran untuk tercapainya tujuan pendidikan agama Islam.

  1. Bagi Lembaga Pendidikan Madrasah Aliyah Negeri 2 Tulungagung

Dapat dijadikan sebagai  masukan yang konstruktif  bagi lembaga tersebut dalam rangka peningkatan kualitas pendidikan di lembaga tersebut.

 

  1. Metode Penelitian

1.Jenis Data

Jenis data dikumpulkan oleh penulis berupa data primer dan data sekunder:

  1. Data Primer

Data primer yaitu data yang berupa keterangan – keterangan langsung dari responden yang berkenaan dengan :

  1. Pelaksanaan Pendidikan yang dilakukan oleh guru tidak tetap.
  1. Usaha guru tidak tetap dalam meningkatkan prestasi siswa.
  1. Hasil belajar yang telah dicapai.

Responden disini, guru tidak tetap sebagai objek yang diteliti dan siswa kelas 2 IPS 1 Madrasah Aliyah Negeri 2 Tulungagung sebagai sample.

  1. Data Sekunder

Data sekunder yaitu data yang diperoleh melalui dokumen-dokumen, seperti mengenai :

  1. Sejarah berdirinya Madrasah Aliyah Negeri 2 Tulungagung
  1. Struktur organisasi Madrasaha Aliyah Negeri 2 Tulungagung
  1. Keadaan guru dan siswa sarana dan kurikulum.

 

2.Data dan Sumber Data

  1. Data

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi hasil wawancara, hasil observasi, dan hasil dokumen. Data-data tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut:

  1. Wawancara / Interview adalah percakapan maksud tertentu. Percapakan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu.[7] Wawancara yang akan dilakukan disini terhadap guru tidak yang dijadikan objek, kemudian kepala sekolah Madrasah Aliyah Negeri 2 Tulungagung. Hasil wawancara digunakan untuk memperoleh gambaran lebih dalam mengenai pemahaman guru, respon siswa, dan bentuk kesulitan yang dihadapi guru. Hasil wawancara akan melengkapi hasil tes untuk melihat pemahaman guru tidak tetap tersebut.

Adapun Metode wawancara ini digunakan dalam mengumpulkan data-data melalui percakapan dengan :

  1. Kepala Madrasah Aliyah Negeri 2 Tulungagung, Bapak Qomarul Huda, M.Ag.
  1. Tenaga pendidik/guru tidak tetap, Bapak M. Chobir Siroj, S.Pd.I. Dalam wawancara ini penulis ingin mengetahui bagaimana peran tenaga pendidik tidak tetap dalam menunjang keberhasilan proses pembelajaran siswa Madrasah Aliyah Negeri 2 Tulungagung.
  1. Jika memungkinkan kepada Siswa dan masyarakat sekitar Madrasah Aliyah Negeri 2 Tulungagung.
  1. Observasi, hasil observasi digunakan untuk melihat apakah proses pembelajaran sudah sesuai dengan yang direncanakan. Dari hasil observasi dapat dilihat faktor-faktor yang mendukung atau menghambat proses belajar mengajar.

Metode observasi ini, digunakan dalam mengumpulkan data-data melalui pengamatan-pengamatan yang dilakukan oleh penulis. Yang diamati adalah data-data atau bahan yang berkaitan dengan pokok permasalahan seperti :

  1. Mengamati kegiatan proses pembelajaran yang dilakukan tenaga pendidik/guru tidak tetap untuk menunjang keberhasilan proses pembelajaran di Madrasah Aliyah Negeri 2 Tulungagung,
  1. Lingkungan Madrasah Aliyah Negeri 2 Tulungagung,
  1. Dan lingkungan masyarakat sekitar Madrasah Aliyah Negeri 2 Tulungagung.
  1. Dokumentasi, menurut pengertian adalah kebenaran sesuatu yang dapat memberikan bukti-bukti dengan mempergunakan alat pembuktian atau bahkan yang mendukung sesuatu keterangan, penjelasan atau argumentasi.

Adapun metode dokumentasi ini digunakan untuk mengumpulkan data-data yang ada hubungannya dengan penelitian yang dilakukan oleh penulis. Data yang dikumpulkan itu berupa arsip-arsip, catatan-catatan dan memo-memo yang merupakan bukti yang otentik. Seperti data-data sekolah dan dokumen yang berkaitan dengan permasalahan.

Dan untuk lebih lengkapnya lagi tentang apa saja yang dibutuhkan oleh peneliti telah terlampir pedoman wawancara (Lampiran 1) pedoman observasi (Lampiran 2), pedoman Dokumentasi (Lampiran 3).

  1. Sumber data

Menurut Suharsimi Arikunto sumber data adalah subyek dari mana data dapat diperoleh.[8]

Penelitian ini bersumber dari informasi guru tidak tetap dalam usahanya meningkatkan prestasi siswa Madrasah Aliyah Negeri 2 Tulungagung.

Sedangkan sumber lainnya dapat diambil dari Kepala Sekolah Madrasah Aliyah Negeri  2 Tulungagung serta dokumen di Madrasah tersebut.

 

3.Prosedur Pengumpulan Data

Sesuai data yang akan dikumpulkan dalam penelitian, maka teknik pengumpulan data dalam penelitian ini : Wawancara dan Observasi.

  1. Wawancara, yaitu mendapatkan informasi dengan cara bertanya langsung kepada responden.[9] Pendapat lain mengemukakan wawancara merupakan teknik pengumpulan data dengan cara tanya jawab yang sistematis dan secara face to face.[10]

Disini prakteknya peneliti melakukan wawancara kepada responden yaitu guru tidak tetap di Madrasah Aliyah Negeri 2 Tulungagung.

  1. Observasi, yaitu suatu pengamatan yang khusus dan pencatatan yang sistematis ditujukan pada satu atau beberapa fase masalah dalam rangka penelitian.[11]

 

4.Teknik Analisis Data

Setelah berakhirnya pengumpulan data, maka dari sejumlah data ada pada penulis dipisah-pisahkan, kemudian data tersebut dikelompokkan menjadi dua kelompok sesuai dengan menurut jenisnya. Dari sejumlah data tersebut, setelah dikelompokkan yaitu data kuantitatif dan kualitatif. Masing-masing data tersebut penulis analisis sesuai dengan jenisnya.

Data yang bersifat kualitatif yang dimaksud adalah menghubungkan antara kerangka teori dengan kenyataan yang ada. Kenyataan tersebut dapat dipahami melalui bermacam-macam kegiatan yang ada hubungannya dengan peranan guru tidak tetap dalam mencapai keberhasilan proses pembelajaran.

Analisis data yang dilakukan menggunakan analisis data kualitatif model alir (flow model) yang dikembangkan oleh Miles dan Huberman yang terdiri dari 3 tahap yaitu (1) mereduksi data, (2) menyajikan data, dan (3) menarik kesimpulan dan verifikasi.[12]

Sedangkan data yang bersifat kuantitatif akan dianalisis dengan menggunakan tabulasi, dari data-data tersebut dianalisis dengan tiga teknik. Adapun tiga teknik yang digunakan dalam penelitian adalah :

  1. Analisis Domain.
  1. Analisis Taksonomi.
  1. Analisa Komponensial.

Ketiga analisis data tersebut diatas, dapat penulis uraikan sebagai berikut :

  1. Analisis Domain

“ Analisis domain biasanya dilakukan untuk memperoleh gambaran-gambaran atau pengertian yang bersifat umum dan relatif menyeluruh tantang apa yang mencakup suatu fokus atau pokok permasalahan yang diteliti permukaan tentang berbagai atau kategori-kategori konseptual (kategori-kategori simbolis yang mencakup atau mewakili sejumlah kategori atau symbol tertentu) “[13]

 

Dari penjelasan diatas, pada umumnya analisis domain dilakukan atau diterapkan dengan tujuan untuk memperoleh gambaran-gambaran atau pengertian yang bersifat umum dan relatif. Dengan analisis domain penulis dapat menggambarkan keadaan lokasi penelitian atau hal-hal yang menjadi pokok permasalahan dalam penelitian ini. Analisis domain ini adalah merupakan aspek produk penjelajahan atau masih bergerak ditingkat permukaan atau awal.

  1. Analisis Taksonomi

“ Analisis taksonomi pada analisis ini fokus penelitian ditetapkan pada domain tertentu yang sangat berguna dalam upaya mendiskripsikan atau menjelaskan fenomena atau fokus penelitian tersebut “[14]

Dari penjelasan tersebut diatas bahwa analisis taksonomi yang ditujukan adalah struktur internal masing-masing domain dengan mengorganisasikan atau menghimpun elemen-elemen yang berkesamaan didomain, analisis taksonomi ini diterapkan dalam penelitian diwaktu penulis melakukan observasi dan wawancara terhadap pokok masalah yang akan dijadikan fokus penelitian.

  1. Analisis Komponensial

“ Analisis komponensial adalah analisis yang diorganisasikan, bukanlah kesamaan elemen dalam domain melainkan kontras antar elemen dalam domain yang diperoleh melalui observasi dan wawancara terseleksi “.[15]

Dari penjelasan diatas bahwa analisis komponensial ini adalah analisis yang mengorganisasikan kontras dan wawancara untuk menyelesaikan perbedaan yang terjadinya kontras antar domain.

 

5.Lokasi Penelitian

Lokasi yang dijadikan sasaran dalam penelitian ini adalah Madrasah Aliyah Negeri 2 Tulungagung. Lokasi ini dipilih sebagai tempat penelitian dengan pertimbangan Madrasah Aliyah Negeri 2 Tulungagung adalah salah satu lembaga sekolah yang sedang berkembang dan perhatian masyarakat Tulungagung terhadap lembaga tersebut cukup besar. Hal ini dapat dilihat dari perkembangan kuantitas siswa yang terus meningkat dari tahun ke tahun.

 

6.Tahap-tahap Penelitian

Secara umum kegiatan penelitian ini dapat dibedakan dalam 2 tahap, yaitu tahap pendahuluan dan tahap pelaksanaan tindakan. Tahap-tahap yang dilakukan dalam pelaksanaan penelitian ini mengikuti model yang dikembangkan oleh Kemmis dan Mc. Taggart yang terdiri 4 tahap meliputi : (1) tahap perencanaan (plan), (2) tahap pelaksanaan tindakan  (act), (3) tahap observasi (observe), dan (4) tahap refleksi (reflect).[16]

 

  1. Rencana Sistematika Penulisan

Untuk mempermudah dalam membaca skripsi ini, maka dipandang perlu adanya sistematika pembahasan. Pembahasan dalam skripsi yang berjudul Peranan Guru Tidak Tetap (Wiyata Bhakti) dalam Menunjang Keberhasilan Proses Pembelajaran Studi Kasus di Madrasah Aliyah Negeri 2 Tulungagung ini nantinya dibagi menjadi tiga bagian yaitu:

Bab I berisi pembahasan mengenai (a) latar belakang masalah, (b) rumusan masalah, (c) tujuan penelitian, (d) kegunaan/manfaat penelitian, (e) kerangka teori, dan (f) hipotesis.

Bab II berisi pembahasan mengenai (a) lingkup penelitian, (b) jenis dan sumber data, (c) populasi dan sampel, (d) metode pengumpulan data, (e) analisis data, dan (f) jadual penelitian.

Bab III berisi pembahasan mengenai (a) letak geografis dan historisnya (b) sturktur organisasi Madrasah Aliyah Negeri 2 Tulungagung, dan (c) keadaan guru dan siswa.

Bab IV berisi mengenai (a) pelaksanaan pendidikan yang dilakukan guru tidak tetap, (b) usaha guru tidak tetap dalam meningkatkan prestasi siswa, dan (c) hasil yang telah dicapai..

Bab V berisi mengenai (a) kesimpulan dan (b) saran-saran ditambah dengan daftar pustaka dan lampiran-lampiran.

 

 

 

 

 

 

DAFTAR RUJUKAN SEMENTARA

 

Faisal, Sanafiah, Penelitian Kualitatif Dasar-Dasar dan Aplikasi, Malang : YA-3, 1990.

Masri Singarimbun dan Sofian  Effendi, Metode Penelitian Survai, Jakarta : LP3ES, 1989.

Maunah, Binti,  Diktat Ilmu Pendidikan, Tulungagung : STAIN Tulungagung, 2003.

Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, Bandung : Rosdakarya, 2002.

Moeleong, Lexy, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung : Ramaja Rosda Karya, 1988.

Sapari Imam Asy’ari, Metodologi Penelitian Sosial, Surabaya : Usaha Nasional, tt.

Suharsimi Arikunto, et. al., Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta : PT. Bumi Aksara, 2006.

 


[1] Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional

[2] Maunah, Binti,  Diktat Ilmu Pendidikan, Tulungagung : STAIN Tulungagung, 2003, hal. 32

[3] Gemari, Pendidikan Bukan Hanya Tanggung Jawab Pemerintah, Edisi 106/Tahun Gemari X/Nopember, 2009, hal. 34

[4] Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, Bandung : Rosdakarya, 2002, hal. 9.

[5] Surya, Muhammad, Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. Bandung : Pustaka Bani Quraisy, 2003, hal. 185

[6] Rohmah, Siti (2005). Hubungan Kepuasan Siswa Dalam Proses Belajar Mengajar (PBM) Dan Lingkungn Sosial Ekonomi Keluarga Dengan Prestasi Belajar Siswa. Online http://digilip.upi.edu/pasca/available/etd-0109106-0943. 30/. [accessed 03/05/2010].

[7] Moeleong, Lexy, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung : Ramaja Rosda Karya, 1988, hal. 135.

[8] Suharsimi Arikunto, et. al., Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta : PT. Bumi Aksara, 2006, hal. 3

[9] Masri Singarimbun dan Sofian  Effendi, Metode Penelitian Survai, Jakarta : LP3ES, 1989, hal. 192.

[10] Sapari Imam Asy’ari, Metodologi Penelitian Sosial, Surabaya : Usaha Nasional, tt, hal. 87.

[11] Sapari Imam Asy’ari, Metodologi Penelitian…, hal. 82.

[12] Miles, M.B. dan Huberman, Analisis Data Kualitatif, Terjemahan oleh Tjetjep Rohendi Rohidi,

   (Jakarta: UI Press, 1992),  hal. 18

[13] Faisal, Sanafiah, Penelitian Kualitatif Dasar-Dasar dan Aplikasi, Malang : YA-3, 1990, hal. 91.

[14] Faisal, Sanafiah, Penelitian Kualitatif…, hal. 98.

[15] Faisal, Sanafiah, Penelitian Kualitatif..,, hal. 102.

[16] Suharsimi, Penelitian…, hal. 142.

FacebookTwitterGoogle+LinkedIn

AGAMA YAHUDI DAN KRISTEN

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang Masalah

Yahudi dengan mudah menjadi sasaran tudingan karena mereka tampak beruntung dengan perubahan masyarakatnya. Dalam masyarakat Eropa tradisional, orang Yahudi sebagai minoritas agama dikucilkan dan biasanya tidak diperbolehkan berperan dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat: politik, pemilikan tanah dan banyak jenis pekerjaan dilarang bagi mereka. Runtuhnya tatanan sosial tradisional dan perkembangan ke arah masyarakat industri berarti juga berakhirnya larangan lama dan kemungkinan mobilitas sosial bagi semua orang Eropa termasuk Yahudi. Bagi golongan yang telah menghilangkan privilese lama dalam proses modernisasi ini, atau yang merindukan masyarakat tradisional, Yahudi menjadi simbol dari semua perubahan yang terjadi; sikap anti-kemodernan diungkapkan dalam bentuk antisemitisme.

Di dalam makalah ini kami akan membahas lebih spesifik lagi tentang atau yang berkaitan dengan agama yahudi dan itupun tidak keluar dari lingkup pembahasan yang sudah ditetapkan seperti dimulai dari sejarahnya, ajarannya, aliran-alirannya dan perkembangan atau bagaimana peran dari agama ini, karena sebagaimana yang diketahui bahwa agama ini tidak diakui pada Negara Indonesia.

 


 

  1. Rumusan Masalah
  1. Bagaimanakah sejarah agama yahudi ?
  2. Bagaimanakah ajaran – ajaran agama yahudi ?
  3. Bagaimanakah aliran – aliran agama yahudi ?
  4. Bagaimana agama yahudi di Indonesia ?
  1. Tujuan Masalah
  1. Agar pembaca mengetahui sejarah agama yahudi.
  2. Agar pembaca mengetahui ajaran – ajaran agama yahudi.
  3. Agar pembaca mengetahui aliran – aliran agama yahudi.
  4. Agar pembaca mengetahui bagaimana agama yahudi di Indonesia.

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. Sejarah Agama Yahudi  dan Kristen

1. Agama Yahudi

Agama Yahudi sebenarnya merupakan kelanjutan ajaran kewahyuan yang pernah diturunkan oleh tuhan kepada nabi Ibrahim. Agama ini telah berusia lebih dari 33 abad sampai abad ini, oleh karena agama tersebut diajarkan oleh Musa pada abad ke-13 SM dan kira-kira pada abad ke-4 sesudah nabi Ibrahim meninggal dunia. Musa sebagai seorang rasulullah adalah dibesarkan oleh Islam dan Kristen. Dengan demikian beliau sudah pasti membawa agama lurus dan haq atas dasar kewahyuan yang diterima dari Allah. Dengan alasan berbagai macam, sarjana-sarjana Barat yang beragama Kristen memandang agama Yahudi menjadi induknya agama Islam dan agama Kristen. Tetapi anehnya pada masa sekarang hanya memperoleh pengikut pada lingkungan terbatas, yaitu pada bangsa Israel saja yang jumlahnya lebih kurang 4 juta jiwa.

Dalam apa yang disebut “Perjanjian Ibrahim dengan Tuhan” telah disebutkan beberapa prinsip tentang kehidupan yang benar, dan bilamana janji-janji tersebut dipenuhi, Tuhan akan memberikan pahala, baik didunia maupun diakhirat. Misalnya tuhan akan memberikan tanah kana’an yang subur untuk anak cucu Ibrahim adalah salah satu pemenuhan janji tersebut.

Agama ini dinamakan menurut nama kepala salah satu suku di Israel, suatu agama yang kemudian dipeluk oleh bangsa Israel yang sekarang membentuk sebuah Negara yang bernama Negara Israel.[1]

2. Agama Kristen

Agama Kristen pada dasarnya adalah suatu agama sejarah, artinya, landasan utama berdirinya agama ini bukan terletak pada asas-asas yang bersifat umum, tetapi didasarkan pada kejadian-kejadian nyata, yaitu pada peristiwa-peristiwa yang sesungguhnya terjadi dalam sejarah. Peristiwa yang terpenting dalam rangkaian-rangkaian peristiwa tersebut adalah kisah kehidupan tukang kayu yahudi yang tidak dikenal, yang seperti telah sering di tunjukkan lahir disebuah kandang hewan, meninggal dalam usia 33 tahun dengan tuduhan sebagai penjahat dan bukan sebagai seorang pahlawan, tidak memiliki harta apapun, tidak pernah mengikuti pendidikan, tidak mempunyai pasukan, dan jangankan menulis buku, satu-satunya tulisan yang pernah digoreskan hanyalah tulisan di atas pasir. Walaupun demikian, seperti telah dijelaskan oleh Jeorge Buttrick, tanggal dan lahirnya di ingat oleh seluruh dunia dan saat kematiannya di peringati dengan palang salib di seluruh plosok.[2]

Pendiri agama Kristen itu adalah seorang Yahudi  bernama  Yesus, yang  lahir  di Betlehem, Palestina, antara tahun 8 hingga 4 SM. Tradisi biasanya menyebutkan bahwa dia lahir dalam bulan Desember  tahun  pertama  era Kristen yaitu, tahun 1 M, akan tetapi telah diketahui sekarang bahwa hal ini  salah.  Dalam catatan-catatan yang menyangkut Yesus -yakni Injil, empat di antaranya  terdapat  dalam  perjanjian  baru  yang   ditulis Matius, Markus, Lukas, dan Yahya- kita diberi tahu bahwa dia lahir selama berkuasanya Raja Herodes dan pada saat Kerajaan Romawi   melaksanakan   sensus   penduduk.  Kerajaan  Romawi melaksanakan  sensus  penduduk  empat  belas  tahun  sekali. Sensus  pertama  berlangsung  tahun  6  M; ini berarti bahwa sensus sebelumnya dimulai tahun 8  SM,  selama  pemerintahan Kaisar  Augustus  dan  tanah  Judea diperintah Kerenius yang dapat di baca dalam Lukas kitab suci umat kristiani (Injil) 2:1-5.  Disitu  juga  diberi  tahu tentang  bintang  yang  menuntun orang Majus ke tempat Yesus berada,  dan  astronom  Keppler,  menghitung  bahwa   timbul konjungsi antara Saturnus, Jupiter, dan Mars kira-kira tahun 7 SM yang menampakkan kesan sebagai bintang baru yang terang benderang.  Semua  data ini mendukung kesimpulan bahwa Yesus lahir antara tahun 8 hingga 4 SM. Kita juga dapat  menentang pendapat  bahwa  Yesus  lahir  bulan  Desembers karena dalam Injil Lukas terdapat gembala yang  menggembalakan  ternaknyapada  malam  hari (2:8). Namun di Palestina pun cuaca dinginvdan turun salju, jadi saat kelahiran itu  pastilah  di  luar musim dingin karena para gembala tidak akan keluar pada saat tersebut. Musim yang lebih mungkin adalah  musim  semi.

Yesus menyebarkan agama Kristen ini selain dengan berdakwah  juga dengan menyembuhkan banyak penyakit  dan  bahkan  menghidupkan  kembali   orang   mati. Perlahan-lahan  namanya  termasyhur  ke  seluruh  negeri dan orang  mulai  berbisik-bisik  mempersoalkan  siapakah   dia, dan akhirnya yang dikenal dengan “ sang penyelamat “ sampai sekarang.

 

  1. Ajaran – Ajaran Agama Yahudi

Dalam “Perjanjian Ibrahim dengan Tuhan” telah disebutkan beberapa prinsip tentang kehidupan yang benar, dan bilamana janji-janji tersebut dipenuhi, tuhan akan memberikan pahala, baik didunia maupun diakhirat. Misalnya tuhan akan memberikan tanah kana’an yang subur untuk anak cucu Ibrahim adalah salah satu pemenuhan janji tersebut.

Agama Yahudi terkenal dengan agama monotheisme mutlak (tauhid) yang meletakkan dasar kepercayaan kepada tuhan yang maha Esa pada tempat pertama. Setiap orang Yahudi yang akan mengerjakan sesuatu pekerjaan, harus lebih dahulu mengucapkan “shemah” yaitu ucapan sebagai berikut :

“dengarkanlah hai bangsa Israel, tuhan kita yang kita sembah adalah maha Esa”

Nabi Musa setelah membebaskan bangsa Israel dari perbudakan Mesir Kuno, kemudian membawa pengikut-pengikutnya ke Lembah Bukit Sinai (Tursina) dimana ia menunjukkan kepada mereka dua buah papan yang bertuliskan 10 perintah tuhan atau yang disebut oleh orang barat dan orang Kristen adalah “Ten Comindments” yang mengandung pengertian sebagai berikut :

  1. Saya adalah tuhanmu yang kamu sembah, yang telah membawa kamu keluar dari tanah Mesir, keluar dari rumah belenggu; kau tidak mempunyai tuhan selain aku.
  1. Kamu tidak boleh membuat persamaan atau menyamarkan segala sesuatu yang ada dilangit sebelah atas, atau diatas bumi, atau apa-apa yang ada dalam air, dibawah bumi dengan tuhan.
  1. Kamu tidak boleh menyia-nyiakan nama tuhanmu.
  1. Ingatlah hari sabath, untuk disucikannya.
  1. Hormatilah ayah ibumu.
  1. Kamu dilarang membunuh
  1. Kamu dilarang mencuri
  1. Kamu dilarang bersaksi palsu
  1. Kamu dilarang berbuat zina
  1. Kamu dilarang bernafsu lobak tamak terhadap milik orang lain

 

Kemudian ten comendement ini dijadikan inti ajaran kitab taurat dan dijadikan sumberhukum yahudiserta kepercayaan dan ethiknya. Dengan comendement ini pula orang Yahudi telah membuang faham agama bangsa primitif.

Adapun pokok-pokok agama yahudi telah mengalami perubahan beberapa kali sejak dari permulaan, menurut salah seorang sarjana yahudi yang pernah menjadi direktur lembaga kebudayaan yahudi Joseph Gerr dalam bukunya ”what the great religion believe” p. 114 adalah sebagai berikut :

“kepercayaan orang yahudi telah mengalami perubahan beberapa kali sejak dari permulaan sampai sekarang ini, ada beberapa kepercayaan dan upacara-upacara yang telah di tinggalkan. Dan beberapa yang telah dirubah dan disusun disesuai dengan kebudayaan yang mana agama tersebut mengandung hubungan-hubungan, sehingga kebudayan ataupun upacar-upacara tersebut mengalami pengertian yang baru.Tetapi ada beberapa kepercayaan kuno yang tersusun dalam tradisi yang masih tetap merupakan warisan masa lampau dan masih tetap mendapatkan pengikut-pengikutnya yang setia”

Dengan demikian agama yahudi pada masa sekarang atau masa-masa selanjutnya sudah tak dapat lagi disebut sebagai agama wahyu, karena telah mengalami perubahan-perubahan yang dilakukan oleh pengikut-pengikutnya sendiri. Seperti halnya yang dikatakan dalam sebagian kitab taurat 33/50-53, dikatakan, “Tuhanmu telah berfirman kepada Musa….. katakanlah kepada Bani Israil, kamu sekalian menyebrangi negeri Urdu ke tanah Kan’an,maka usirlah penduduk setempat dengan paksa, dan hapuslah segala hasil karya mereka, keluarkanlah bangunan-bangunannya, rebutlah tanahnya, dan tinggallah disana, karena sesungguhnya aku memberi tanah kepada kalian semua untuk dimiliki hanya oleh kalian. Jika kita teliti lebih seksama ajaran lama yang tidak diperkenankan untuk membunuh,tetapi dalam kitab taurat yang telah diperbaharui ini justru menyuruh untuk membunuh. Dan hal ini amatlah mustahil jika benar ini adalah wahyu dari Tuhan.[3]

Ajaran terpenting agama Yahudi atau Yudaisme adalah bahwa hanya ada satu Tuhan yaitu Yahweh, yang menghendaki manusia menaati ajaran-ajaran moral dan etika yang tercantum dalam kitab suci. Ajaran-ajaran dan hukum dasar Yudaisme dilandaskan pada dua kumpulan Kitab Suci. Yang pertama adalah Torah, lima buku pertama dari apa yang oleh pemeluk Kristen disebut Alkitab Perjanjian Lama. Torah mengandung hukum dasar ajaran Yudaisme dan menuturkan sejarah nenek-moyang manusia sejak Adam dan Hawa. Kitab suci kedua adalah Talmud.

Talmud adalah kumpulan tulisan mengenai hukum, tata cara do’a dan etika, disamping sejarah dan cerita-cerita rakyat Yahudi. Pemeluk Yudaisme atau agama Yahudi meyakini adanya perjanjian khusus yang dibuat Yahweh dengan Abraham, kakek-moyang bangsa Israel, dimana Yahweh berjanji akan memberkati Abraham dan keturunannya jika mereka tetap yakin dan percaya kepadaNya. Yahweh kemudian memperbaharui perjanjian itu dengan putra Abraham, Ishak dan putra Ishak: Ya’kub. Ya’kub yang juga disebut Israel memiliki putra 12 orang, yang kemudian menurunkan bangsa Israel. Musa adalah pemimpin mereka yang membawa bangsa Israel keluar dari perbudakan di Mesir. Bangsa Israel menjalankan  kehidupan sehari-hari dan membangun masyarakat mereka, tetapi berlainan dengan pemeluk agama lain, misalnya Kristen atau Islam, penganut Yudaisme tidak berusaha aktif untuk menarik pemeluk agama lain untuk pindah ke agama mereka. Ini karena keyakinan bahwa agama Yahudi hanya diperuntukkan bagi bangsa Israel, yang mereka  sebut sebagai bangsa pilihan Yahweh.

Pemeluk agama  Yahudi juga meyakini akan datangnya seorang messiah yang akan mempersatukan pemeluk Yahudi. Tetapi mereka menolak Isa Almasih dan Injil Perjanjian Baru yang  menjadi dasar keyakinan agama Kristen. Secara garis besar Yudaisme terbagi atas aliran Yudaisme Ortodox, Yudaisme Reformasi dan Yudaisme Konservatif. Yahudi ortodoks menaati dengan ketat  semua aturan dan larangan yang tercantum dalam kitab  Torah dan Talmud misalnya larangan mengenai makan dan  minum. Mereka sembahyang tiga kali sehari, pagi, sore dan setelah matahari terbenam. Yang pria mengenakan tutup kepala kecil sepanjang waktu sebagai pertanda  hormat kepada Yahweh.  Ajaran Yudaisme Reformasi lebih menekankan pada Torah,  tetapi mereka mempertanyakan Talmud. Mereka juga  mengatakan praktek keagamaan tradisional tidak banyak artinya dan tidak harus diikuti. Mereka hanya sembahyang pada hari Sabbath (Sabtu).

Penganut Yudaisme Konservatif berkeyakinan Talmud sama pentingnya dengan Torah, tetapi menurut mereka praktek  keagamaan dan tata-cara dapat disesuaikan dengan perubahan zaman. Hari suci saat istirahat pemeluk Yahudi adalah hari Sabtu yang mereka sebut Sabbath, yang diawali sejak matahari terbenam hari Jumat sampai Sabtu malam. Pada hari ini, pemeluk Yahudi menghadiri kebaktian di rumah ibadat mereka yang disebut sinagog dan menyantap makanan khusus di rumah. Pada hari Sabtu atau Sabbath ini pemeluk Yahudi Ortodox tidak boleh bekerja, tidak boleh bepergian dan tidak boleh membawa uang. Ada beberapa larangan menyangkut makanan. Pemeluk Yahudi dilarang makan daging babi dan hewan berkuku ganjil. Mereka juga dilarang makan kerang-kerangan serta daging hewan yang dapat hidup di darat dan di air seperti kepiting, kodok dan kura-kura. Minuman keras dan roti beragi dijauhi. Mereka juga menyimpan terpisah daging dan susu, yang tidak boleh sama-sama disuguhkan di meja makan. Seperti pemeluk Islam, pemeluk Yahudi juga mengkhitan atau menyunat anak laki-laki, yang dilakukan pada saat ia berusia 8 hari.

Kaum yahudi yang paling utama dewasa ini adalah : Ashkenazim, yaitu bentuk plural dari ashkenaz dari bahasa ibrani yang berarti Jerman, yaitu orang yahudi eropa terutama eropa timur, bahasa yang mereka pakai adalah bahasa yudish. Zaman sekarang kelompok Ashkenazim di eropa sudah hampir punah, mereka banyak di dapati di AS dan Israel. Kaum Ashkenazim sebagai sebuah kaum yang cukup tertutup banyak yang mengidap penyakit keturunan. Tetapi salah satu penyakit turunan yang berhubungan dengan penyakit otak, membuat mereka memiliki skor IQ tertinggi di dunia.

 

  1. Aliran – Aliran Agama Yahudi
  1. Parisi

Perkataan parisi berarti menyendiri atau berpecah. Jadi aliran parisi adalah aliran yang selalu menyendiri dan selalu berada dalam atau ingin kepada perpecahan. Nama ini adalah nama yang diberikan oleh orang yang tidak senang terhadap mereka, mereka sendiri menamakan dirinya adalah pendeta-pendeta agama atau saudara-saudara dijalan Yeovah (sebutan Tuhan bagi mereka).

Pengikut aliran ini terdiri dari hampir semua orang kebanyakan. Mereka terkenal dengan keimanan yang kuat, gagah berani, bekerja sebagai guru, pengkhotbah, atau sebagai penyebar agama. Kebanyakan penganutnya terutama para pemukanya hidup membujang, tidak kawin, tinggal dalam biara-biara, condong kepada kehidupan zuhud, dan tidak melaksanakan ibadah-ibadah yang berbentuk korban.

Mereka mempercayai hari kiamat dan kebangkitan dalam kubur, adanya akherat, dan percaya pada malaikat. Menurut mereka, bukan taurat saja yang harus diikuti sebagai kitab suci karena disamping taurat, masih banyak terdapat cerita-cerita mulut, peraturan, wasiat, keterangan dan kenyataan-kenyataan yang harus dianggap sebagai taurat tidak tertulis, yang telah diperbincangkan oleh para rabbi dari generasi ke generasi, sebagian mungkin telah dituliskan karena khawatir akan hilang itulah dia Tamlud’’.

2. saduki

Sebagian ahli mengatakan bahwa sadduki berasal dari kata saduk yaitu nama seorang ketua agama yang agung pada masa sulaiman. Aliran ini tidak percaya pada adanya akhirat, begitu juga mereka tidak mengakui adanya pembalasan, hidup sesudah mati, surga dan neraka. Mereka tidak mengamalkan tamlud, begitu juga taurat tidak mereka sucikan keseluruhannya. Keabadian individu, wujud malaikat dan syaitan di inkari mereka. Tidak menerima qada’ dan qadar, sebaliknya memegangi kebebasan mutlak. Semua perbuatan manusia adalah kehendak manusia sendiri, bukan kuasa Yehovah. Begitu juga tidak ada juru selamat yang ditunggu-tunggu.[4]

  1. Essenes

Golongan ini tidak melaksanakan korba binatang,mereka mengatakan bahwa jiwa mulia adalah satu-satunya korban yang sah.Mereka menentang perbudakan. Mereka mengajarkan cinta kepada Tuhan,tentang ibadat dan juga tentang manusia.Angota-angota golongan ini dapat ditandai dengan kebaikan mereka,persamaan mereka dalam masyarakat,mereka menganggap uang dan keduniaan itu sebenarnya tidak lain dari permainan dunia belaka.Mereka tinggal didaerah-daerah dimana mereka mempunyai rumah-rumah sederhana dan  perabotan-perabotan yang sederhana pula.semua anggotanya tidak kawin,tetapi mereka mengangkat anak untuk di Jadikan anggota dan dididik dengan pendidikan Essenes.[5]

4. Golongan fanatik atau Zealots

Golongan ini bersikap keras terhadap golongan-golongan lain,sikap mereka lebih keras lagi terhadap orang-orang yang dituduh tidak berTuhan.Mereka mempunyai semboyang”setiap orang hendaknya jangan terlalu mengharapkan pertolonga Yehovah,sebaliknya percayalah kepada kekuatan sendiri dan berusaha menolong yehovah dalam mewujudkan apa yang dicitacitakan.[6]

 

  1. Agama Yahudi di Indonesia

Yahudi di Indonesia membentuk komunitas Yahudi yang sangat kecil, yang terdiri hanya sekitar 20 orang Yahudi, yang kebanyakan merupakan Yahudi Sephardi.

Pada tahun 1850-an, pengelana Yahudi, Jacob Saphir, adalah orang pertama yang menulis mengenai komunitas Yahudi di Hindia Belanda, setelah mengunjungi Batavia. Kebanyakan Yahudi yang hidup di Hindia Belanda pada abad ke-19 adalah Yahudi Belanda, yang bekerja sebagai pedagang atau berhubungan dengan rezim kolonial. Namun, beberapa anggota komunitas juga merupakan imigran dari Irak atau Aden.

Pada saat Perang Dunia, jumlah Yahudi di Hindia Belanda diperkirakan sekitar 2.000 jiwa. Yahudi Indonesia menderita ketika Pendudukan Jepang di Indonesia, dan mereka dipaksa untuk bekerja di kemah. Setelah perang, Yahudi yang dilepas menemui berbagai masalah, dan banyak yang beremigrasi ke Amerika Serikat, Australia atau Israel.

Pada akhir 1960-an, diperkirakan 20 orang Yahudi tinggal di Jakarta dan 25 orang tinggal di Surabaya. Pada sensus tahun 2000, orang Indonesia yang menyatakan sebagai Yahudi berjumlah sekitar 200 orang saja. Mereka memiliki sebuah sinagoga di Surabaya, Jawa Timur.

Di bidang bisnis, orang Yahudi di Jakarta menguasai pusat bisnis elite di Pasar Baru, Jalan Juanda, dan Jalan Majapahit. Mereka menguasai perdagangan permata, jam tangan, dan kacamata. Pusat hiburan elite di Jakarta juga diramaikan oleh pemusik Yahudi Polandia. Akhirnya, Batavia menjadi salah satu kota zionis yang terpenting di Asia.[7]

Ada dua hal menarik berkenaan dengan munculnya Yahudi sebagai simbol dalam wacana Islam di Indonesia :

Pertama, Yahudi seringkali disebut dalam konteks kekhawatiran tentang adanya konspirasi untuk menghancurkan Islam. Banyak aspek proses modernisasi, berikut sekularisasi dan rasionalisasi, pergeseran nilai-nilai tradisional, globalisasi ekonomi dan budaya, individualisme dan hedonisme dilihat sebagai hasil rekayasa, bukan proses yang berdiri sendiri. Semua perkembangan barusan diduga kuat telah direncanakan dan dilaksanakan oleh persekongkolan yang memusuhi Islam dan ingin menghancurkannya. Konspirasi rahasia tersebut diidentikkan dengan Yahudi dan Zionis; tetapi setiap orang yang dianggap berjasa demi tujuan persekongkolan tersebut, walaupun agama dan kebangsaannya berbeda, bisa saja dijuluk Yahudi.

Kedua, teori-teori konspirasi dan kecenderungan untuk mengkambinghitamkan Yahudi tentu saja tidak lahir di Indonesia melainkan berasal dari negara-negara Arab – utamanya Arab Saudi, Kuwait dan Mesir. Menyembulnya kebencian kebanyakan orang Arab saat ini kepada orang Yahudi tak bisa dilepaskan dari masalah Palestina. Keprihatinan tentang Zionisme Israel sangat wajar. Meski di sini perlu ditambahkan, kepercayaan akan adanya konspirasi Yahudi untuk menghancurkan Islam dan menguasai seluruh dunia bukan hanya reaksi terhadap eksistensi Israel saja, dan sesungguhnya juga disebabkan penyebaran antisemitisme Barat ke negara-negara Arab.[8]

Tidak terlalu mengejutkan kalau kita menyaksikan di Indonesia belakangan ini pemikir-pemikir Islam berwawasan kosmopolit sudah mulai dijuluk "Yahudi" dan "Zionis" pula. Gerakan pembaharuan Islam yang mengkritik faham-faham mapan, menawarkan pola penafsiran baru dan menganjurkan sikap toleran terhadap sesama Muslim maupun penganut agama lain, tentu saja dicurigai oleh golongan yang berpegang kuat kepada faham mapan.

Sepanjang sejarah, para pembaharu sering dituduh ingin menghancurkan agama (sedangkan mereka sendiri mengaku ingin mengembalikan esensi agama kepada kedudukan yang sentral). Dengan semakin populernya teori tentang konspirasi Yahudi, dan mengikuti logika bahwa setiap hal yang mengancam Islam atau kemapanan apa pun adalah ulah Yahudi-Zionis, dengan sendirinya gerakan pembaharuan Islam mudah dituding sebagai bagian dari konspirasi Yahudi. Setidaknya terdapat dua dimensi pada penjulukan "Yahudi" terhadap sementara pemikir Islam yang liberal. Yang pertama menyangkut pemikiran mereka, yang dituduh dipengaruhi oleh orientalisme (dan orientalisme, tentu saja, dianggap sebagai salah satu senjata Yahudi dalam usahanya untuk menghancurkan Islam). Yang kedua, dan ini yang lebih penting, menyangkut kosmopolitanisme dan kemodernan mereka serta golongan sosial yang merupakan pendukung utama mereka. Sindiran dengan mencap "Yahudi" dan "Zionis" pernah dilontarkan dalam polemik melawan Nurcholish Madjid dengan Paramadinanya dan kemudian pula melawan LSAF (Lembaga Studi Agama dan Filsafat) dan majalah Ulumul Qur'an (pernah dijuluk Ulumul Talmud oleh pihak penentang). Yang dimaksud, agaknya, bukan saja keterbukaan, toleransi dan sikap berdamai mereka terhadap agama Kristen dan Yahudi, melainkan sesuatu yang lebih mendasar.

Baik Paramadina maupun LSAF mewakili trend baru dalam umat Islam, berkaitan erat dengan munculnya kelas menengah Islam yang sedang naik daun (dalam ekonomi maupun politik) dan yang mencari gaya Islam yang modern, bergengsi, "canggih" dan "trendy". Kelas baru ini, lebih terpelajar, kosmopolit dan percaya pada diri daripada generasi-generasi sebelumnya.

Berikut mereka ini bergaya hidup modern dan individualis serta mungkin pula kurang peduli terhadap kesenjangan sosial yang ada. Bukankah mereka ini yang merupakan sasaran sebenarnya dari julukan "Yahudi"? Dalam polemik berkelanjutan antara penulis muda serial Media Dakwah dengan majalah Ulumul Qur'an, mencerna juga adanya pertentangan "orang kampungan" lawan "orang gedongan", yang masing-masing mempunya gaya menghayati Islam sendiri.

Di negara Pancasila, pertentangan "antar-golongan" tidak bisa diungkapkan secara terang-terangan, dan itu yang membuat kata "Yahudi" begitu berguna bagi orang tertentu. Indonesia tidak punya hubungan dengan Israel, dan agama Yahudi tidak termasuk lima agama yang resmi diakui. Oleh karena itu, mengutuk Yahudi tidak mengandung risiko tuduhan SARA, berbeda dengan kutukan terhadap pengusaha Cina, pejabat Katolik atau Orang Kaya Baru (bangsa Pondok Indah). Secara demikian teori konspirasi Zionis – Yahudi – Freemasonry – Rotary Club, yang diimpor dalam bentuk siap pakai, terbukti mempunyai fungsi serbaguna di Indonesia. Bukan saja semua perubahan sosial, ekonomi dan budaya yang terjadi dalam masyarakat dapat "dijelaskan" dalam kerangka teori ini, melainkan golongan yang tidak disegani pun dapat dengan mudah dituding pula sebagai bagian dari konspirasi yang sama.

Wacana tentang Yahudi dan konspirasi untuk menguasai dunia, dengan Protokol-Protokol Para Sesepuh Zion sebagai sumber utama, berasal dari Eropa dan masih mencerminkan pertentangan sosial di Eropa pada masa laju modernisasi berlangsung begitu cepat. Wacana tersebut sampai ke Indonesia melalui Timur Tengah (terutama Arab Saudi) setelah menjadi bagian dari pandangan dunia Islam yang dipropagandakan Rabithah Al-`Alam Al-Islami. Di Indonesia, wacana ini telah mendapat fungsi baru dan diterapkan untuk membicarakan pertentangan yang sesungguhnya kasatmata namun tidak bisa dibicarakan secara terbuka.

Wacana ini tidak membantu untuk memahami apa yang terjadi di sekitar kita, tetapi mungkin saja lebih memuaskan sebagai penjelasan dan pembenaran kegagalan orang daripada sebuah analisa yang sungguh-sungguh. Dan sejarah Eropa abad terakhir ini menunjukkan betapa berbahaya wacana ini.[9]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

P E N U T U P

 

Kesimpulan

Agama Yahudi sebenarnya merupakan kelanjutan ajaran kewahyuan yang pernah diturunkan oleh tuhan kepada nabi Ibrahim. Agama ini telah berusia lebih dari 33 abad sampai abad ini, oleh karena agama tersebut diajarkan oleh Musa pada abad ke-13 SM dan kira-kira pada abad ke-4 sesudah nabi Ibrahim meninggal dunia.

Agama Kristen adalah sebuah kepercayaan yang berdasar pada ajaran, hidup, sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus Kristus atau Isa Almasih. Agama ini meyakini Yesus Kristus adalah Tuhan dan Mesias, juru selamat bagi seluruh umat manusia, yang menebus manusia dari dosa. Mereka beribadah di gereja dan Kitab Suci mereka adalah Alkitab. Murid-murid Yesus Kristus pertama kali dipanggil Kristen di Antiokia.

Agama yahudi pada masa sekarang atau masa-masa selanjutnya sudah tak dapat lagi disebut sebagai agama wahyu, karena telah mengalami perubahan-perubahan yang dilakukan oleh pengikut-pengikutnya sendiri. Agama Yahudi terkenal dengan agama monotheisme mutlak (tauhid) yang meletakkan dasar kepercayaan kepada tuhan yang maha Esa pada tempat pertama. Aliran-aliran agama yahudi ; Parisi, Saduki, Essenes dan Zealots.

Ada dua hal menarik berkenaan dengan munculnya Yahudi sebagai simbol dalam wacana Islam di Indonesia :

Pertama, Yahudi seringkali disebut dalam konteks kekhawatiran tentang adanya konspirasi untuk menghancurkan Islam. Banyak aspek proses modernisasi, berikut sekularisasi dan rasionalisasi, pergeseran nilai-nilai tradisional, globalisasi ekonomi dan budaya, individualisme dan hedonisme dilihat sebagai hasil rekayasa.

Kedua, teori-teori konspirasi dan kecenderungan untuk mengkambinghitamkan Yahudi tentu saja tidak lahir di Indonesia melainkan berasal dari negara-negara Arab – utamanya Arab Saudi, Kuwait dan Mesir. Menyembulnya kebencian kebanyakan orang Arab saat ini kepada orang Yahudi tak bisa dilepaskan dari masalah Palestina.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Ali Mukti, Agama Yahudi, PT. Bagus Arafah, Yogyakarta, 1982. h. 199-200

Arifin. H. M. Prof, Menguak Misteri Agama-agama Benar Dunia- Cet. Ke 6, Jakarta,: PT. Golden Trrayon Press,1995.

Huston Smith, Agama-Agama Manusia, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta 2001.h. 355-356

http://tarbiyah-uin.blogspot.com/2008/10/html.

 


[1] Prof. H. M. Arifin, Menguak Misteri Agama-agama Benar Dunia- Cet. Ke 6, Jakarta,: PT. Golden Trrayon Press,1995.

[2] Huston Smith, Agama-Agama Manusia, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta 2001.h. 355-356

[3] http://tarbiyah-uin.blogspot.com/2008/10/html.

[4] Ali Mukti, Agama Yahudi, PT. Bagus Arafah, Yogyakarta, 1982. h. 199-200

[5] Ali Mukti, Agama Yahudi…, h. 202

[6] Ali Mukti, Agama Yahudi…, h 203

[8] http://www.scribd.com/doc/13163758/Yahudi-Sebagai-Simbol-DalamWacana-Islam-Indonesia-Masa-Kini

[9] http://www.scribd.com/doc/13163758/Yahudi-Sebagai-Simbol-DalamWacana-Islam-Indonesia-Masa-Kini

FacebookTwitterGoogle+LinkedIn

UKURAN KEBENARAN

 

 

Berfikir merupakan kegiatan untuk menemukan pengetahuan yang benar, apa yang disebut benar bagi seseorang belum tentu benar bagi orang lain. Secara umum, orang merasa bahwa tujuan pengetahuan adalah untuk mencapai kebenaran , problem kebenaran inilah yang memacu tumbuh dan berkembangnya epistimologi. Perlu dibedakan adanya tiga jenis kebenaran. Yaitu ; kebenaran epistimologis, ontologis dan semantis.

 

Teori yang menjelaskan kebenaran epistimologis adalah :

  1. Teori Korespondensi tentang kebenaran.

Dikatakan benar apabila ada kesesuaian antara yang dimaksud oleh suatu pernyataan dengan objek yang dituju oleh pernyataan tersebut.

           

Dengan demikian, kebenaran epistimologis adalah keterkaitan antara subjek dan objek.

           

Suatu pengertian adalah benar apabila terdapat suatu fakta yang diselaraskannya, yaitu apabila ia menyatakan apa adanya, kebenaran adalah yang besesuaian dengan fakta.

           


 

Dengan demikian, kebenaran dapat didefinisikan sebagai kesetiaan pada realitas objektif. Yaitu : suatu pernyataan yang sesuai dengan fakta yang selaras dengan situasi.

           

Seorang yang bernama K. Roders, seorang penganut realisme kritis Amerika, berpendapat bahwa : keadaan benar ini terletak dalam kesesuaian antara "esensi atau arti yang kita berikan" dengan "esensi yang terdapat didalam objeknya".

           

Namun, dalam permasalahan sekarang adalah apakah realitas itu objektif atau subjektif ? dalam hal ini ada pandangan realisme epistemologis dan idealisme epistemologis.

           

Realisme epistemologis berpandang bahwa realitas yang tidak tergantung (independent), yang terlepas dari pemikiran dan kita tidak dapat mengubahnya bila kita memahaminya, itulah sebabnya realisme epistemologis kadangkala disebut objectivisme, dengan kata lain : realisme epistemologis atau objectivisme berpegang teguh kepada kemandirian kenyataan tidak tergantung pada yang diluarnya. Sedangkan idealisme epistimologis berpandang bahwa setiap tindakan mengetahui berakhir didalam suatu ide, yang merupakan suatu peristiwa subjektif.

 

  1. Teori Koherensi tentang kebenaran

Menurut teori ini kebenaran tidak dibentuk atas hubungan antara putusan dengan sesuatu yang lain, yaitu fakta atau realitas, tetapi atas hubungan antara putusan – putusan itu sendiri dengan kata lain kebenaran ditegakkan atas hubungan antara putusan yang baru dengan putusan yang lainnya yang telah kita ketahui dan akui kebenarannya terlebih dahulu.

 

Jadi menurut teori ini, putusan yang satu dengan yang lainnya saling berhubungan dan saling menerangkan satu sama lain, karenanya lahirlah rumusan (truth is consistency) kebenaran adalah konsistensi dan kecocokan.

 

Mengenai teori konsistensi dapat kita simpulkan : Pertama, kebenaran menurut teori ini ialah kesesuaian antara suatu pernyataan dengan pernyataan lain yang sudah lebih dahulu kita ketahui, terima dan akui sebagai benar. Kedua, teori ini dapat dinamakan teori penyaksian tentang kebenaran, karena menurutnya satu putusan dianggap benar apabila mendapat penyaksian oleh putusan lainnya yang terdahulu yang sudah diketahui, diterima dan diakui kebenarannya.

  1. Teori Pragmatisme tentang kebenaran

Pragmatisme berasal dari bahasa Yunani, pragma : yang dikerjakan, yang dilakukan, perbuatan, tindakan. Menurutnya benar tidaknya suatu ucapan, dalil atau teori semata-mata bergantung kepada asas manfaat.

 

Ungkapan dari penganut pragmatis :

  1. Sesuatu itu benar apabila memuaskan keinginan adan tujuan manusia
  1. Sesuatu itu benar apabila dapat diuji benar dengan eksperimen
  1. Sesuatu itu benar apabila ia mendorong atau membantu perjuangan biologis untuk tetap ada.

 

Jadi, bagi para penganut pragmatis, batu ujian keberanian ialah kegunaan dapat dikerjakan, akibat atau pengaruhnya yang memuaskan. Menurut pendekatan ini, tidak ada apa yang disebut kebenaran yang tetap atau kebenaran yang mutlak.

FacebookTwitterGoogle+LinkedIn

Pengembangan Kurikulum

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

  1. Latar Belakang Masalah

Pendidikan berintikan interaksi antara pendidik dan peserta didik dalam upaya membentu peserta didik menguasai tijuan-tujuan pendidikan. Interaksi pendidikan dapat berlangsung dalam lingkungan keluarga, sekolah ataupun masyarakat. Sementara itu otak dari semua alur proses terjadinya pendidikan yaitu kurikulum. Kurikulum merupakan rancangan pendidikan yang merangkum semua pengalaman belajar yang disediakan bagi siwa disekolah. Dalam kurikulum sendiri terintegrasi filsafat, nilai-nilai, pengetahuan dan perbuatan pendidikan. Rancangan pendidikan ini disusun dengan maksud memberi pedoman kepada pelaksna pendidikan dalam proses pembimbingan pengembangan siswa untuk mencapai tujuan yang di cita-citakan oleh peserta didik itu sendiri, keluarga dan masyarakat.


 

  1. Rumusan Masalah
  1. Apakah kurikulum itu?
  1. Bagaiman prinsip pengembangan kurikulum itu?
  1. Siapa saja pengembang kurikulum itu?
  1. Faktor apa saja yang mempenbaruhi pengembangan kurikulum?
  1. Hambatan apa saja yang terjadi dalam pengembangan kurikulum tersebut?

 

C.Tujuan Masalah

  1. Untuk mengetahui apa kurikulum tersebut
  1. Untuk mengetahui apa dan bagaimana prinsip penembangan kurikulum tersebut
  1. Untuk mengetahui siapa saja yang berperan dalam pengembangan kurikulum
  1. Untuk mengetahui pengaruh terhadap kemajuan pengembangan kurikulum
  1. Untuk mengetahui beberapa hambatan dalam pengembangan kurikulum

BAB II

PEMBAHASAN

 

 

A. Hakekat Kurikulum

            Kurikulum awal mulanya digunakan dalam dunia olahraga pada zaman yunani kuno. Curiculum dalam bahasa bahasa yunani berasal dari kata curir, artinya pelari dan curre artinya tempat berpacu. Curriculum diartikan jarak yang ditempuh pelari. Mengambil makna yang terkandung dari rumusan diatas, kurikulum dalam pendidikan diartikan sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh atau diselesaikan anak didik untuk memperoleh ijazah.

            Kurikulum itu sendiri adalah suatu niat dan harapan yang dituangkan dalam bentuk rencana atau program pendidikan untuk dilaksanakan oleh guru disekolah. Kurikulum dalah niat dan rencana, sedangkan proses belajar mengajar adalah pelaksanaanya. Isi kurikulum terdiri dari pengetahuan ilmiah termasuk kegitan dan pengalaman belajar., yang disusun sesuai dengan taraf perkembangan peserta didik. Kurikulum akan mempunyai arti dan fungsi untuk mengubah paradigma pemikiran siswa apabila dilaksanakan dan ditransformasikan oleh pendidik kepada peserta didik dalam suatu kegiatan pembelajaran yang disebut proses belajar mengajar. Dengan istilah lain proses belajar mengajar adalah operasionalisasi dari kurikulum.

            Ada dua hal pula yang tersirat dalam pengertian hakekat kurikulum yaitu, pertama adalah program atau rencana dan yang kedua adalah pengalaman belajar atau prakitek nyata. Wujud nyata dari kurikulum potensional adalah aturan dan tata cara serta pelaksanan pendidikan yang dirancang oleh pihak berwenang dan mempunyai keotentikan. Sedangkan dari aspek yang kedua adalah Pengalaman belajar siswa yang pada hakikatnya dalah kurikulum actual. Wujud nyata dari kurikulum actual adalah; Kegiatan nyata pada saat proses belajar mengajar berlangsung atau lebih populer disebut proses pengajaran (instruction).

 

 

B.Prinsip Pengembangan Kurikulum

       1. Prinsip-Prinsip Umum

  • Relevansi

Kurikulum menyiapkan siswa untuk bias hidup dan bekerja dalam masyarakat maupun keluarga. Kurikulum bukan hanya menyiapkan peseta didik untuk kehidupanya sekarang tetapi juag yang akan datang dan juga harus memiliki relevansi yaitu: ada kesesuaian dan konsistensi antar komponen-komponen kurikulum, yaitu antara tujuan, isi, proses penyampaian dan penilaian

  • Fleksibelitas

Kurikulum hendaklah memiliki sifat lentur atau fleksibel. Kurikulum mempersiapkan anak untuk kehdupan sekarang dan yang akan datang, disini dan ditempat lain, bagi anak yang memiliki latar belakang dan kemampuan yang berbeda.

  • Kontinuitas

Perkembangan dan proses belajar berlangsung secara berkesinambungan, tidak terputus-putus dan terhenti-henti. Oleh karena itu, pengalaman-pengalaman belajar hendaknya juga berkesinambungan antara satu tingkat kelas dengan tingkat yang lainya, antara jenjang pendidikan satu dengan lainya.

  • Praktis

Kurikulum mudah dilaksanakan, menggunakan alat sederhan dengan biaya yang tidak terlalu banyak. Prinsip ini juga bias disebut prinsip efisiensi. Betapapun bagus dan idealnya suatu kurikulum kalau menuntut keahlian-keahlian dan peralatan yang khusus dengan biaya cukup mahal, maka kurikulum tersebut tidak praktis dan sukar dilaksanakan. Kurikilum dan pendidikan selalu dilaksanakan dalam keterbatasan-keterbatasan baik dari segi waktu, biaya, alat maupun personalia.kurikulum bukan hanya harus ideal saja tetapi juga harus praktis

 

  • Efektifitas

Walaupun kurikulum itu murah, sederhana dan efisien tetapi keberhasilanya tetap harus diperhatikan dan dicermati. Keberhasilan pelaksanan kurikulum baik secara kualitas dan kuantitas. Pengembangan suatu kurikulum tidak dapat dilepaskan danmerupakan penjabaran dari prencanaan pendidikan. Perencanan di bidang pendidikan juga merupakan bagian yang dijabarkan dari kebijaksanan-kebijaksanan pemerintah di bidang pendidikan. Keberhasilan kurikulum akan mempengaruhi keberhaslan pendidikan.

      

       2. Prinsip-Prinsip Khusus

a. Prinsip berkenan dengan tujuan pendidikan

            Tujuan menjadi pusat kegiatan dan arah semua kegiatan pendidikan. Perumusan komponen-komponen kurikulum hendaknya mengacu pada tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan mencangkup tujuan yang bersifat umum atau yang berjangka panjang, jangka menegah dan jangka pnedek. Perumusan tujuan pendidikan bersumber pada

  1. Ketentuan dan kebijaksanaan pemerintah
  1. Survey mengenai persepsi orang tua, masyarakat tentang kebutuhan mereka.
  1. Survai tentang pandangan para ahli dalam bidang-bidang tertentu
  1. Penelitian

 

            b. Prinsip berkenaan dengan pemilihan isi pendidikan

                        Memilih isi pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan pendidikan yang telah ditetentukan oleh perencana kurikulum perlu mempertimbangkan beberapa hal.

  1. Perlu penjabaran tujuan pendidikan
  1. Isi bahan pelajaran harus meliputi segi pengetahuan sikap dan ketrampilan
  1. Penyusunan harus logis dan sistematis

C. Pengembang Kurikulum

        Dalam mengembangkan suatau kurikulum banyak pihak yang turut berpartisipasi, yaitu administrator pendidikan, ahli pendidikan, ahli kurikulum, ahli bidang ilmu pengetahuan, guru-guru dan orang tua murid serta tokoh-tokoh masyarakat. Dari pihak-pihak tersebut yang secara terus-menerus turut terlibat dalan pengembangan kurikulum adalaj; administrator, guru dan orang tua.

  1. Peranan Para Administrator Pendidikan

    Para administrator pendidikan ini terdiri atas; direktur bidang pendidikan, pusat pengembangan kurikulum, kepala kantor wilayah, kepala kantor kabupaten dan kecamatan serta kecamatan. Peranan administrator di tingkat pusat (direktur dan kepala pusat) dalam pengembangam kurikulum adalah menyusun dasar-dasar hokum, menyusun kerangka dasar serta program inti kurikulum. Sedangkan di tingkat lokal administrator harus bekerja sama dengan kepala sekolah dan guru dalam mengembangkan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, mengkomunikasikan sitem pendidikan kepada masyarakat, serta mendorong pelaksanan kurikulum oleh guru-guru dikelas. Peranan kepala sekolah lebih banyak berkenaan dengan implementasi kurikulum di sekolahnya. Kepala sekolah juga mempunyai peranan kunci dalam menciptakan kondisi untuk pengembangan kurikulum di sekolahnya. Ia merupakan figure kunci di sekolah, kepemimipinan kepala sekolah sangat mempengaruhi suasana sekolah dan pengembangan kurikulum.

  1. Peranan Para Ahli

    Pengembangan kurikulum bukan saja didasarkan atas perubahan tuntutan kehidupan dalam masyarakat, tetapi juga perlu dilandasi oleh perkembangan-perkembangan konsep dalam ilmu. Pengembangan kurikulum juga mebutuhkan para ahli bidang studi / bidang ilmu yang juga mempunyai wawasan tentang pendidikan serta perkembangan tuntutan masyarakat. Sumbangan mereka dalam memilih materi bidang ilmu, yang mutakhir dan sesuai dengan perkembangan kebutuhan masyarakat sangat diperlukan. Mereka juga sangat diharakan partisipasinya dalam menyusun materi ajaran dalam sekuens yang sesuai dengan struktur keilmuan tetapi sangat memudahkan para siswa untuk mempelajarinya.

  1. Pearanan Guru

Guru memegang peranan yang cukup penting baik didalam perencanan maupun pelaksanan kurikulum. Dia dalah perencana, pelaksana, dan pengembang kurikulum bagi kelasnya. Peranan guru bukan hanya meniliai perilaku dan prestasi belajar anak didik dalam kelas, tetapi juga menilai implementasi kurikulum dam lingkup yang lebuh luas. Peran seorang guru juga bukan hanya di dalam kelas tetapi ia juga seoarang komunikator, pendorong kegiatan belajar dan pembimbing baik di sekolah maupun di masyarakat dalam hubunganya dengan pelaksanaan pendidikan seumur hidup. Sebagai pelaksana kurikulum maka gurulah yang menciptakan kegiatan belajar mengajar bagi anak didiknya. Berkat keahlian, ketrampilan dan kemampuan senunya dalam mengajar, guru mampu menciptakan situasi belajar yang aktif yang menggairhkan yang penuh kesungguhan dan mampu mendorong kreatifitas anak didik.

  1. Peranan Orang Tua

Ada dua hal peran orang tua terhadap pengembangan kurikulum yaitu; dalam penyusunan kurikulum dan pelaksanaan kurikulum. Dalam penyusunan mungkin tidak semua orang tua dapat ikut serta, tetapi hanya beberapa bagian saja yang mempunyai waktu luang dan mempunyai latar belakang yang memadai. Tetapi peran orang tua lebih besar pada pelaksanan kurikulum. Dalam pelaksananya kerja sama yang sangat erat antara lembaga pendidikan, guru serta orang tua murid sangat dibutuhkan supaya mudah mendapatkan informasi dari sisi kehidupan keluaraga sehingga interaksi siswa dengan guru dalam pelaksanaan kurikulum bisa kompetitif. Hal itu biasa dilaksanakan melalui pengamatan kegiatan belajar di rumah, partisipasi dalam kegiatan di luar ataupun didalam sekolah dan lain sebagainya.

 

 

 

D. Faktor Yang Mempegaruhi Pengembangan Kurikulum

Perguruan Tinggi

          Kurikulum minimal mendapat dua pengaruh dari perguruan tinggi. Pertama, dari pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan di perguruan tinggi umum. Kedua, dari pengembangan ilmu pendidikan dan keguruan serta penyiapan guru-guru di perguruan tinngi keguruan (lembaga pendidikan tenaga kependidikan).

         Kurikulum lembaga pendidikan tenaga kependidikan juga mempengaruhi pengmbangan kurikulum, terutama melalui penguasan ilmu dan kemampuan keguruan dari guru-guru yang dihasilkanya. Penguasaan ilmu baik ilmu pendidikan maupun bidang studi serta serta kemampuan mengajar dari guru-guru akan sangat mempengaruhi pengembangan dan implementasi kurikulum disekoalah.

 

     Masyarakat

            Sekolah merupakan bagian dari masyarakat dan mempersiapkan anak didik untuk kembali kepada masyarakat. Sebagai bagian dan agen  dari masyarakat sekolah sangat dipengaruhi oleh lingkungan masyarakat dimana sekolah itu berada. Isi kurikulum hendaknya mencerminkan kondisi dan dapat memenuhui tuntutan masyarakat. Sebab jenis pekerjan dan perusahan yang ada di masyarakat menuntut persiapanya di sekolah

 

     Sitem Nilai

            Dalam kehidupan bermasyarakat terdapat sitem nilai baik dari segi moral, agama, sosial, budaya maupun politis. Sekolah sebagai lembaga masyarakat juga bertanggung jawab dalam pemeliharaan dan penerusan nialai-nilai. Sitem nilai yang akan dipelihara dan diteruskan tersebut harus diintegrasikan dalam kurikulum. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan guru dalam mengajarkan nilai: (1) guru hendaknya memperhatikan dan mengetahui semua nilai yang ada dalam masyarakat. (2) guru hendaknya berpegang pada prinsip demokratis, eis dan moral. (3) guru berusaha menjadikan dirinya sebagia suru teladan yang baik. (4) guru memahami nilai-nilai kelompok lain. (5) memahami dan merima keragaman budaya.

 

E. Hambatan Pengembangan Kurikulum

            Dalam pengembangan kurikulum terdapat beberapa hambatan. Hambatan pertama terletak pada guru. Guru kurang berpartisipasi dalam pengembangan kurikulum. Hal itu di sebabkan karena faktor kurang waktu, kurang sesuai pendapat baik antara guru maupun dengan kepala sekolah dan administrator dan kemampuan serta kemampuan guru itu sendiri.

            Hanbatan lain datang dari masyarakat. Untuk pengembangan kurikulum dibutuhkan dukungan dari masyarakat baik dalam pembiayaan maupun dalam memberikan umpan balik terhadap sitem pendidikan atau kurikulum yang sedang berjalan. Masyarakat adalah sumber input bagi sekolah. Keberhasilan pendidikan, ketepatan kurikulum yang digunakan membutuhkan bantuan serta input fakta dan pemikiran dari masayarakat.        

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

KESIMPULAN

 

            Suatu hakekat terhadap pengembangan kurikulum ini tidak terlepas dari realita yang berada dalam lingkungan sekitar baik dalam sekolah, keluarga maupun masyarakat. Dari sini kita dapat menarik garis besarnya bahwa suatu progran pelaksanan pendidikan tidak akan dapat berjalan sesuai ritme dan kehendak semua komponen tanpa adanya sebuah kurikulum yang mencangkup semuanaya itu. Dengan istilah lain kurikulum adalah rancangan program bagi terlaksanakanya suatu perencanan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Sukmadinata, Nana Syaodih Prof Dr. Pengembangan Kurikulum (teoti & praktek) PT Remaja Rosdakarya. Bandung 2005

Sudjana Nana DR, Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum di Sekolah, Sinar Baru Algesindo. Surabaya 1991

FacebookTwitterGoogle+LinkedIn

Tasawuf – Konsep Sabar Dalam Ilmu Tasawuf.doc

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

A. LATAR BELAKANG

            Sebagai disiplin ilmu, sebagaimana telah dipaparkan para ilmuan, tasawuf merupakan sebuah disiplin agam yang baru, seperti halnya ilmu ushul fiqh, musthakah ai hadist dan sebagainaya. Karena eksistensunya sebagai salah satu metode peebaikan akhlak yang ajaranya mempunayai landasan yang kuat dalam al-quran dan sunnah rasul saw, dan cara mendekatkan diri kepada allah.

            Sebagai unit dari ilmu tasawuf sendiri yaitu tawakal dan sabar, yang mana kedua hal tersebut mempunyai perang yang sangat domonan dalam merealisasikan urgensi atau pendekatan kepada Allah. Sehingga hal tersebut tidak pernag terlepas dari kehidupan keseharian manusia yang senantisas mengabdikan dirinay kepada allah. Meskopun demikian keduanya itu dalam tatrqan kehidupan itu sama tetapi diantaranay ada hak yang membedakan, secara jelas perbadaan tersebut tidak dapat ataupun sulit untuk dicermati , kecuali bilaman dalam mengetahuinya menggunakan hati nurani yang bersih.

 

B. RUMUSAN MASALAH

  1. Apakah konsep sabar menurut ilmu tasawuf ?
  1. Bagaimankah sebuah konsep tawakal dalam taswuf ?
  1. Dimana letak perbedaan antara sabar dan tawakal ?

 

C. TUJUAN PEMBAHASAN

  1. untuk mengetahui apa itu tawakal dalm tasawuf
  1. mengetahui sabar dalam konsep tasawuf
  1. dan letak perbedaan antara keduanya

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A. Konsep Sabar Dalam Ilmu Tasawuf

a. pengertian sabar

            Kata As-Shobru dalam bahasa Arab berarti: Al-Habsu (belenggu) atau Al-Man’u (larangan) jika ada yang mengatakan “ana as-shabil” (saya seorang prnyabar) artinaya: saya membelenggu nafsuku, atau saya melarang nafsuku.[1]

            Sabar secara istilah, terdapat beberapa pengertian yabg diantaranya adalah: Abu Zakaria Al-Anshori memgemukakan bahwa sabar merupakan kemampuan seseorang mengendalikan diri terhadap sesuatu yang terjadi, baik yang di senangi maupun yang di benci. Menurut Qosim Junaidi sabar adalah mengalihkan perhatian dari urusan dunia kepada urusan akhirat.[2]


 

            Toyib sah dalam bukunya Aqidah Akhlak berpendapat bahwa sabar mempunyai dua macam pengertian yairu:

  1. Sabar yang berarti lapang dada dan tabah dalam menghadapi segala kasus, problematika, musibah dan ujian yang menimpa diri sendiri.
  2. Mushabroh yang berarti tabah dan teguh menghadapi persaingan, teguh mempertahankan prinsip, lebih tabah dan teguh dalam menjalani atau tidak.[3]

Dari sekian banyak definisi sabar dapat disimpulkan, yang dimaksud sabar ialah: Tahan terhadap penderitaan atau sesuatu yang disenagi dengan ikhlas dan ridho serta menyerahkan kepada Allah SWT dan tidaklah dinamakn sabar orang yang menahan diri secara paksa, tetapi sabar yang sebenarnaya ialah sabar dalam arti menyerah kepada allah dengan lapang dada.

b. Pembagian Sabar

Sabar dapat dibagi menjadi 3, yaitu:

1. Sabar terhadap maksiat

            Yaitu menhan diri untuk menghindari perbuatan jahat, dan dari perbuatan hawa nasu, dan menghindarkan diri dari, semua pebuatan yang mempunyai kemungkinan untuk terjerumus kedalam jurang kehinaan.

2. Sabar dalam menghadapi ibadah

            Sabar dalam menghadapi ibadah, dasarnya ialah prinsip-prinsip islam yang sudah lazim, pelaksanaanya perlu latihan yang tekun dan terus menerus, seperti latihan shalat, ini merupakan kewajiban yang memerlukan kesabaran.

3. Sabar dalam  menahan diri dari kemunduran

            Yaitu menhan diri dari surut kebelakang dan tetap berusaha untuk mempertahankan sesuatu yang telah di yakininya, misalnya pada saat membela kebenaran, melindungi kemaslahatan, mempertahankan harta dari perampok, menjaga nama baik

c. Tingkatan Sabar

            Al-Ghazali membagi sabar berdasarkan tingkat pengendalian nafsu dalam diri manusia, yaitu terbagi menjadi tiga tingkatan:

1.Orang yang sanggup mengalahkan hawa nafsunya karena ia mempunyai daya juang yang tinggi.

2.Orang yang kalah oleh hawa nafsunya, ia telah mencoba bertahan atas dorongan hawa nafsunya, tetapi karenya kesabaranya lemah maka ia kalah.

3.Orang yang mempunyai daya tahan terhadap dorongan nafsu tapi suatu ketika ia kalah karena besarnya dorongan nasu. Meskipun demikian, ia bangun lagi dan terus bertahan dengan sabar atas dorongan nafsu tersebut.

 

B. Tawakal dalam konsep ilmu tasawuf

a.Pngertian

            Secara lughawiyah kata tawakal memiliki wazan tafa’ul dari asal kata wikalah yang artinya perwakilan. Jadi orang yang bertawakal kepada seseorang ialah yang dianggapnya sebagai wakilnya dalam mengurus segala urusanya serta menjamin perbaikan dirinya. Dengan demikian kata tawakal berarti mempercayakan sesuatu kepada seseorang.[4] Dan tawakal juga mempunyai makna lain diantaranta adalah “berserah diri dan berpegang teguh kepada allah”. Di sini terdapat dua unsur pokok yaitu, pertama berserah diri dan kedua berpegang teguh. Kedua-duanya merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Tidak dapat dikatakan tawakal kalau belum berserah diri secara ikhlas. Tidak dapat pula dikatakan tawakal kalau belum berpegang kepada-Nya, belum kokoh atau belum bulat pada tingkat haqqul yakin kepada kekuasaan-Nya yang tidak terbatas, keadilan-Nya, kebijaksanaan-Nya, kasih sayang-Nya untuk mengatur segala sesuatu dengan sesempurna-sempurnanya.

            Menurut Imam Al-Ghazali, tawakal ialah menyandarkan sesatu kepada Allah ketika menghadapi sesatu kepentingan, bersandar kepadanya dalam waktu kesukaran, teguh hati tatkala di timpa bencana dengan jiwa yang tenang dan hati yang tabah.[5] 

Syaikh Abu Hamid berkata :"Barangkali ada yang mengira bahwa makna tawakkal adalah meninggalkan pekerjaan secara fisik, meninggalkan perencanaan dengan akal serta menjatuhkaan diri di atas tanah seperti sobekan kain yang dilemparkan, atau seperti daging di atas landasan tempat memotong daging. Ini adalah sangkaan orang-orang bodoh. Semua itu adalah haram menurut hukum syari'at. Sedangkan sya'riat memuji orang yang bertawakkal. Lalu, bagaimana mungkin suatu derajat ketinggian dalam agama dapat diperoleh dengan hal-hal yang dilarang oleh agama pula.? Hakikat yang sesungguhnya dalam hal ini dapat kita katakan, 'Sesungguhnya pengaruh bertawakkal itu tampak dalam gerak dan usaha hamba ketika bekerja untuk mencapai tujuan-tujuannya”[6]

            Adpaun perihal bertawakal tercapat dalam tiga bagian:

  1. Tawakal mengenai Qismah (nasib). Yaitu percaya kepada allah, sebab tidak ada yang luput apa yang dibagikan oleh allah semua makhluk-Nya, artinya tidak akan menyalahi apa yang sudah ditentukan oleh allah untuk kita pasti akan diterima,sebab keputusan allah itu tidak akan berubah. Tawakal itu wajib, karena ia ada.
  2. Dalam hal pertolongan, misalnya jiaka dalam keadaan sedang berjuang lalu mendapat pertolongan, maka hal itu tidak akan luput. Jadi dalam keadaan sedang berjuang harus mengandalkan dan percaya kepada pertolonagan Allah. Kesimpulanaya: jika seseorang sedang berjuang untuk Allah, maka pasti Allah akan menolongnya.
  3. Kemudian tawakal menegenai rizqi dan keperluan, sebab Allah SWT sudah menjamin akan kekuatan untuk bekal beribadah kepada-Nya. Dengan adanya jaminan ini engkau pasti bisa beribadah kepadanya. Allah berfirman, “siapa saja yang bertawakal kepada allah, maka allah akan menjaminya,” (Qs Ath-Thalaq [65]:3)[7].

 

Imam Ahmad berpendapat tentang tawakal yaitu Sekiranya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, niscaya Allah meberimu rizki sebagaimana yang diberikan-Nya kepada burung-burung, berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang". Dalam hadits tersebut dikatakan, burung-burung itu berangkat pagi-pagi dan pulang sore hari dalam rangka mencari rizki. Selanjutnya Imam Ahmad berkata, 'Para sahabat juga berdagang dan bekerja dengan pohon kurmanya. Dan mereka itulah teladan kita. [Dinukil dari Fathul Bari, 11/305-306].[8] Patut kita teladani dan kita cermati juga, bahwasanya tawakal mempunyai daya tahan dan benteng kekuatan yaitu sesutau yang mendoromg seseorang untuk tawakal adalah keinginanya akan jaminan Allah. Jika semua orang ingat akan jaminan Allah pasti akan bertawakal kepada-Nya. Dengan demikian benteng dari bentengnya tawakal ialah ingat akan keagungan allah, kesempurnaan ilmu-Nya dan kudrat-Nya dan mustahil Dia akan menyalahi atau lupa atau tidak mampu akan janji-Nya. Jadi apabila seseorang dawam (membiasakan) terus-menerus ingat akan hal-hal yang di sebutkan semua, pasti ia akan di dorong tawakal kepada allah.

b. tingkatan tawakal

            Syaikh Abu Ali Ad-Daqqad berkata, ada tiga tingkatan bagi orang yang bertwakal;

1. Tawakal

Orang yang bertawakal akan merasa tentram dengan janji-Nya

2. Taslim

Orang yang taslim akan merasa cukup dengan pengetahuan-Nya

3. Tafwidh

Orang yang tafwidh kepada allah akan merasa puas dengan kebijaksanaan-Nya.

Saya mendengar beliau berkata: Tawakal kepada Allah adalah awal, Taslim adalah tengah-tengahnya, dan Tafwidh segenap urusan kepada Allah adalah ujungnya

            Syaikh Abu Ali ad-Daqqad berkata “tawakal sifat orang yang beriman, taslim sifat para wali, dan menyerahkan segenap urusan kepada allah (tafwidh) adalah sifat ahli tauhid”.[9]

c. macam-macam tawakal

            Ada bebrapa macam tawakal yang terjadi pada manusia yaitu diantaranya

  1. Tawakal pada diri

kita yakin pada diri kita dapat berusaha untuk mencari rizqi sebab, badan masih kuat dan kita yakin Allah yang memberti rizqi kepada kita, jika kita berikhtiyar.

  1. Tawakal pada orang

Dia yakin selagi orang itu memberi bantuan kepada-Nya, dia tidak bimbang dengan rizqi sudah ada jaminan hidup diri dan keluarga

  1. Tawakal kepada Allah

Dia tidak peduli orang membnetunya atau tidak, dia tetap bertawakal kepada Allah, bersandar kepada allah dan menyerahkan diri kepada Allah.[10]

d. keutamaan dan hikmah tawakal

            Menurut hamka, keutaamaan yang terpenting dalam tawakal adalah apabila seorang mukmin telah bertawakal, berserah diri kepada Allah. Dengan demikian, dia memperoleh berbagai ilham dari Allah untuk mencapai kemenangan.

            Orang yang bertawakal kepada allah tidak akan berkeluh kesah dan gelisah. Ia akan selalu berada dalam ketenangan, ketentraman, dan kegembiraan. Jika ia memperolah nikmat dan karunia dari allah maka ia akan bersyukur dan jika tidak ia akan bersabar. Ia menyerahkan semua keputusan bahkan dirinya sendiri kepada Allah. Penyerahan diri itu di lakukan dengan sungguh-sungguh dan semata-mata karena allah.

 

C. PERBEDAAN SABAR DAN TAWAKAL

            Secara harfiyah, sabar berarti tabah hati. Menurut Zun Al-Nun Al-Mishary, sabar artinya menjauhkan diri dari hal-hal yang bertentanagan dengan kehendak allah, tetapi tenang ketika mendapatkan cobaan, dan menampakkan sikap cukup walaupun sebenarnya berada dalam kefakiran dalam bidang ekonomi. Selanjutnya Ibn Attha’ mengatakan sabar artinya tetap tabah dalam menghadapi cobaan dengan sikap yang baik.[11] Pada intinya sabar ialah kemampuan seseorang untuk mengendalikan diri terhadap sesuatau yang terjadi baik yang di senangi maupun yang di benci, atau lapang dada dan tabah menghadapi segala kasus, problematika, musibah dan ujian.

            Sedangkan tawakal secara harfiyah  berarti menyerahkan diri. Menurut Al-Qusyairi mengatakan bahwa tawakal tempatnya di dalam hati, dan timbulnya gerak dalam perbuatan tidak mengubah tawakal yang terdapat dalam hati itu. Hal itu terjadi setelah hamba meyakini bahwa segala ketentuan hanya di dasarkan pada ketentuan Allah. Mereka menganggap jika mengahadapi kesuliutan maka yang demikian itu sebenarnta takdir allah. Menurut Harun Nasution mengatakan bahwa tawakal adalah menyerahkan diri kepada qodho’ dan keputusan Allah. Selamanya dalam keadaan tentram, jika mendapat pemberian brerterima kasih, jika mendapatkan apa-apa bersikap sabar dan menyerah kepada qodho’ dan qodar Tuhan.[12] Pada intinya Tawakal ialah menyerah tanpa pamrih sepenuhnya, pasrah dan berpegang teguh pada Allah, dalam mencari kemashlahatan dan kebaikan, menolak kemudharatan yang mengnakat urusan dunia maupun Akhirat.

           

BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

            Sabar dalam pandangan para sufi diantaranya berati tabah di dalam mneghadapi segala kesulitan tanpa ada rasa keasal dalam diri. Sabar juga berarti tetap merasa cukup meskipun relitasnya tidak memiliki apa-apa. Tawakal dalam pandangan para sufi diantarnya berarti mnyerahkan diri hanya kepada ketentuan Allah. Jika mendapat sesuatu yang baik berterima kasih atau syukur, jika tidak, bersabar dan berserah diri kepada ketentuanya

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Kholid, Amru Muhammad. Sabar dan Santun, Pustaka Al-Kautsar. Jakarta 2003

Supiana dkk, Materi Pendidikan Islam, Rosda Karya. Bandung 2003

Saputra, Toyib Sah. dkk , Aqidah Akhlak, Toha Putra. Semarang 2004

Ismail, Asep Usmani. 7 Metode Menjernihkan Nurani, Mizan Publika. Jakarta 2005

Ust Labib Mz, Ajaran Tasawuf dan Thoriqot, Bintang Usaha. Surabaya 2003

www.yahoo perpustakaan islam, Bertawakal Kepada Allah, poted by Riza, 2003

www.google artikel islam / Tawakal posted by Zidan

http:// kawan sejati.ee.itb.ac.id / Macam-macam Tawakal

An Naisyaburi. Imam Al-Qusayri,  Risaltul Qusiriyah, Risalah Gusti. Surabaya 1997

Nata, Abuddin. Akhlak Tasawuf,  Raja Gradindo. Jakarta 2006

 

 


[1] Amru muhammad kholid, sabar dan santun, (jakarta: pustaka al-kautsar) hal 6

[2] supiiana dan karman, materi pendidikan islam, (bandung : rosda 2003) hal 228

[3] thiyib sah saputra dan wahyudin, aqudah akhlak, (semarang: toha putra, 2004) hal 175-176

[4] Dr. asep usmani ismail, 7 metode menjernihkan nurani, (jakarta: mizan publika, 2005) hal, 129

[5] ust labib mz, ajaran tasawuf dan thoriqot, (surabaya: bintang usaha, 2003) hal 68-69

[6] www.yahoo perpustakaan islam, bertawakal kepada allah, poted by Riza, 2003

[7] Dr. asep usmani ismail, 7 metode menjernihkan nurani, (jakarta: mizan publika, 2005) hal, 130

[8] www.google artikel islam / tawakal posted by zidan

[9] iamam al-qusyairi an naisyaburi, risaltul qusiriyah,(surabaya: risalah gusti 1997) hal 180-181

[10] http:// kawan sejati.ee.itb.ac.id / macam-macam tawakal

[11] abuddin nata, akhlak tasawuf (jakarta: raja gradindo, 2006) hal 200

[12] Ibid hal 202

FacebookTwitterGoogle+LinkedIn

PENGARUH KEBUDAYAAN TERHADAP JIWA KEAGAMAAN

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.   Latar Belakang

                   Kebudayaan merupakan pedoman bagi kehidupan masyarakat, merupakan perangkat-perangkat acuan yang berlaku umum dan menyeluruh dalam menghadapi lingkungan untuk pemenuhan kebutuhan-kebutuhan warga masyarakat pendukung kebudayaan tersebut.[1] Dalam kebudayaan terdapat perangkat-perangkat dan keyakinan-keyakinan yang dimiliki oleh pendukung kebudayaan tersebut. Adapun tradisi keagamaan merupakan pranata primer dari kebudayaan memang sulit berubah karena keberadaannya didukung oleh kesadaran bahwa pranata tersebut menyangkut kehormatan harga diri, dan jati diri masyarakat pendukungnya.[2] Dalam makalah ini akan dibahas tentang pengaruh kebudayaan khususnya tradisi keagamaan terhadap jiwa keagamaan pada era globalisasi. Pada era globalisasi itu menunjukan bahwa kebudayaan (bidang material) sangat berpengaruh terhadap jiwa keagamaan. Sehingga memuncukan kecenderungan-kecenderungan yang membawa konsekuensi tersendiri bagi penganut agama tertentu, apa kecenderungan yang positif atau negatif yang lebih bersifat destruktif. Pada kondisi itu kondisi kejiwaan penganut agama tersebut haruslah menunjukkan jati diri sebagai penganut agama yang tetap tidak tergerus oleh nilai-nilai yang sekuer meskipun kemajuan iptek berpengaruh pesat ditengah arus global. Hendaknya mereka menganggap globalisasi sebagai tantangan yang harus dihadapi sekaligus menjadikan globaisasi sebagai ancaman bila tidak mampu menunjukan jati dirinya, karena globalisasi merupakan puncak peradaban manusia.

 

B.   Rumusan Masalah

1.   Apakah yang dimaksud dengan tradisi keagamaan dan kebudayaan itu?

2.   Bagaimanakah hubungan antara tradisi keagamaan dan sikap keagamaan?

3.   Bagaimana pengaruh eksistensi kebudayaan di era globalisasi terhadap jiwa keagamaan?

 

C.   Tujuan

1.   Untuk mengetahui pengertian tradisi keagamaan dan kebudayaan.

2.   Untuk mengetahui hubungan antara tradisi keagamaan dan sikap keagamaan.

3.   Untuk mengetahui pengaruh eksistensi kebudayaan di era globalisasi terhadap jiwa keagamaan.

 


 

BAB II

PENGARUH KEBUDAYAAN TERHADAP JIWA KEAGAMAAN

 

I.    Tradisi Keagamaan dan Kebudayaan

A.   Pengertian Tradisi dan Tradisi Keagamaan

                   Kriteria tradisi dapat lebih dibatasi dengan mempersempit cakupannya. Dalam pengertian yang lebih sempit tradisi hanya berarti bagian-bagian warisan sosial khusus yang memenuhi syarat saja, yakni yang tetap bertahan hidup dimasa kini yang masih kuat ikatannya, dengan kehidupan masa kini.[3] Dalam arti sempit tradisi adalah kemampuan benda material dan gagasan yang diberi makna khusus yang berasal dari masa lalu.[4]

                         Adapun beberapa ahli merumuskan tradisi antara lain;

  1. Shils

             Menurut Shils, tradisi berarti segala sesuatu yang disalurkan atau diwariskan dari masa lalu kemasa kini.[5]

  1. Pasurdi Suparlan, Ph. D

             Menurut Pasurdi Suparlan, tradisi merupakan unsur sosial budaya yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat dan sulit berubah.

  1. Meredith Mc. Guire

             Menurut Meredith Mc. Guire, ia melihat bahwa dalam masyarakat pedesaan umumnya tradisi erat kaitannya dengan agama.

  1. Prof. Dr. Kasmiran Wuryo

             Menurut Kasmiran Wuryo, tradisi masyarakat merupakan bentuk norma yang terbentuk dari bawah, sehingga sulit untuk diketahui sumber asalnya. Adapun secara garis besarnya, tradisi sebagai kerangka acuan norma daam masyarakat disebut pranata . pranata ini terbagi atas;

  1.  Pranata Skunder

             Pranata ini merupakan pranata yang dapat dengan mudah diubah struktur dan peran hubungan antar peranannya maupun dengan norma-norma yang berkaitan dengan perhitungan rasional yang menguntungkan dan dihadapi sehari-hari. Pranata ini bersifat fleksibel, mudah berubah, sesuai dengan situasi yang diinginkan oleh pendukungnya. Contohnya; pranata politik, pranata pemerintahan, pranata ekonomi, dan pasar, berbagai pranata hukum dan keterkaitan sosial dalam masyarakat.

  1.  Pranata Primer

             Pranata ini merupakan kerangka acuan norma yang mendasar dan hakiki dalam kehidupan manusia. Pranata ini berhubungan dengan kehormatan dan harga diri, jati diri serta kelestarian masyarakat, dan pranata ini bersifat mudah dapat berubah begitu saja. Adapun titik tekan pranata primer adalah menekankan pada pentingnya keyakinan dan kebersamaan serta bersifat tertutup atau pribadi. Contohnya; pranata keluarga kekerabatan, keagamaan (tradisi keagamaan), pertemanan, atau persahabatan.

             Bila dihubungakan dengan tradisi maka tradisi (agama Samawi) bersumber dari norma-norma yang termuat dalam kitab suci.[6] Adapun tradisi keagamaan (agama Samawi) merupakan kontradiksi asli, yakni tradisi yang sudah ada dimasa lalu, bukan merupakan tradisi buatan, yakni tradisi yang khayalan atau pemikiran masa lalu.[7]

 

B.   Fungsi Tradisi (Termasuk; Tradisi Keagamaan)

                         Adapun fungsi tradisi (tradisi keagamaan) antara lain;[8]

  1. Dalam bahasa klise dinyatakan, tradisi (tradisi keagamaan) adalah kebijakan turun menurun, tempatnya didalam kesadaran, keyakinan norma dan nilai yang kita anut kini serta dalam benda yang diciptakan di masa lalu. Tradisi (tradisi keagamaan) pun menyediakan fragmen warisan historis yang kita pandang bermanfaat. Tradisi-tradisi keagamaan seperti gagasan dan material yang dapat digunakan orang dalam tindakan kini dan untuk membangun masa depan berdasarkan pengalaman masa lalu. Tradisi menyediakan cetak biru untuk bertindak. Dalam arti ia menyediakan mereka (orang) blok bangunan yang sudah siap untuk membentuk dunia mereka.
  1. Memberikan legitimasi terhadap pandangan hidup, keyakinan, pranata dan aturan semuanya itu memerlukan pembenaran agar dapat mengikat anggotanya.
  1. Menyediakan simbol identitas kolektif yang meyakinkan, memperkuat loyalitas primordial terhadap bangsa, komunitas dan kelompok.
  1. Membantu menyediakan tempat pelarian dan keluhan, ketidak puasan dan kekecewaan modern. Tradisi (tradisi keagamaan) yang mengesankan masa lalu yang lebih bahagia menyediakan sumber pengganti kebanggaan bila masyarakat dalam masa krisis.

 

C.   Pengertian Kebudayaan

                   Kata kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta buddhayah yang merupakan bentuk jamak kata “buddhi” yang berarti budi dan akal. Kebudayaan diadakan sebagai hal-hal yang bersangkutan dengan budi dan akal. Adapun istilah culture yang merupakan istilah bahasa asing yang sama artinya dengan kebudayaan, berasal dari bahasa Latin colere. Artinya mengolah atau mengerjakan, yaitu mengolah tanah bertani. Dari asal arti tersebut yaitu colere kemudian culture, diartikan sebagai daya dan kegiatan manusia untuk mengubah dan mengolah alam.[9]

                         Adapun beberapa ahli merumuskan kebudayaan antara lain;[10]

1.   E. B Tylor (1871)

      Menurut E.B Tylor, kebudayaan adalah komplek yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat, istiadat dan lain kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat.

2.   Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi

      Menurut tokoh ini, kebudayaan sebagai suatu hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.

  •  Karya masyarakat menghasilkan teknologi dan kebudayaan kebedaan atau masyarakat.
  •  Kasa meliputi jiwa manusia mewujudkan segaa kaidah dan nilai-nilai sosial yang perlu untuk mengatur masalah-masalah kemasyarakatan dalam arti yang kuat, didalamnya termasuk agama ideologi, kebatinan, kesenian, dan semua unsur yang merupakan hasil ekspresi jiwa manusia yang hidup sebagai anggota masyarakat.
  •  Cipta merupakan kemampuan mental, kemampuan berfikir orang-orang yang hidup bermasyarakat yang antara lain menghasilkan filsafat serta ilmu pengetahuan cipta bisa terwujud murni, maupun yang telah disusun untuk berlangsung diamalkan dalam kehidupan masyarakat.

 

D.  Fungsi Kebudayaan

               Fungsi kebudayaan sangat besar bagi manusia dan masyarakat:[11]

  1. Manusia dan masyarakat memerlukan kepuasan, baik di bidang spiritual maupun materiil. Kebutuhan ini sebagian besar dipenuhi oleh kebudayaan yang bersumber pada masyarakat itu sendiri.
  1. Hasil karya masyarakat menghasilkan teknologi dan kebudayaan kebendaan mempunyai kegunaan utama di dalam melindungi masyarakat terhadap lingkungan dalamnya.
  1. Karsa masyarakat mewujudkan norma dan nilai-nilai sosial yang sangat perlu untuk mengadakan tata tertib dalam pergaulan kemasyarakatan. Jadi fungsi kebudayaan disini agar manusia dapat mengerti bagaimana seharusnya bertindak, berbuat, menentukan  sikapnya kalau berhubungan dengan orang lain.

 

II.  Tradisi Keagamaan dan Sikap Keagamaan[12]

                   Tradisi keagamaan pada dasarnya merupakan pranata keagamaan yang sudah baku oleh masyarajkat pendukungnya. Dengan demikian tradisi keagamaan sudah merupakan kerangka acuan norma dalam kehidupan perilakumasyarakat. Dan tradisi keagamaan sebagai pranata primer dari kebudayaan memang sulit untuk berubah karena keberadaannya didukung oleh bahwa pranata tersebut menyangkut kehormatan, harga diri dan jati diri masyarakat pendukungnya.

                   Para ahli antropologi membagi kebudayaan dalam bentuk dan isi. Menurut Koentjaraningrat bentuk kebudayaan terdiri atas;

  1. Sistem kebudayaan (cultural system)

Sistem kebudayaan berbentuk gagasan, pikiran, konsep, nilai-nilai budaya, norma-norma, pandangan-pandangan yang bentuknya abstrak serta berada dalam pikiran para pemangku kebudayaan yang bersangkutan.

  1. Sistem sosial (social system)

Sistem sosial berwujud aktifitas, tingkah laku, prilaku, upacara-upacara ritual-ritual yang wujudnya lebih konkret. Sistem sosial adaah bentuk kebudayaan dalam wujud yang telah konkret dan dapat diamati.

  1. Benda-benda budaya (material system)

Benda-benda budaya atau kebudayaan fisik atau kebudayaan material merupakan hasil tingkah laku dan karya pemangku kebudayaan yang bersangkutan.

             Adapun isi kebudayaan menurut Koentharaningrat terdiri atas tujuh unsur, yaitu; bahasa, sistem pengetahuan religi dan kesenian. Dengan demikian dilihat dari bentuk dan isi. Kebudayaan merupakan lingkungan yang terbentuk oleh norma-norma dan nilai-nilai yang dipelihara oleh masyarakat pendukungnya. Nilai-nilai dan norma-norma menjadi pedoman hidup itu berkembang dalam berbagai kebutuhan masyarakat, sehingga terbentuk dalam suatu sistem sosial. Contohnya; sistem ini selanjutnya terwujud pula benda-benda kebudayaan dan bentuk benda fisik. Contohnya adalah penyebaran agama, kenusantara yang sampai saat ini mempengaruhi sikap keagamaan masyarakat Indonesia. Khususnya pengaruh tradisi keagamaan masa lalu ikit mempengaruhi sikap keagamaan masyarakat.

             Menurut Robert Monk hubungan antara sikap keagamaan dan tradisi keagamaan adalah sikap keagamaan perorangan dalam masyarakat yang  menganur suatu keyakinan agama merupakan unsur penopang bagi terbentuknya tradisi keagamaan. Tradisi keagamaan menurut Monk menunjukan kepada kompleksitas pola-pola tingkah laku (sikap-sikap kepercayaan atau keyakinan yang berfungsi untuk menolak atau menanti suatu nilai penting (nilai-nilai) oleh sekelompok orang yang dipelihara dan diteruskan secara berkesinambungan selama periode-periode tertentu.

             Tradisi keagamaan dan sikap keagamaan saling mempengaruhi sikap-sikap keagamaan sebagai lingkungan kehidupan turut memberi nbilai-nilai, norma-norma tingkah-laku keagamaan kepada sesamanya. Dengan demikian tradisi keagamaan memberi pengaruh dalam membentuk pengalaman dan kesadaran agama. Sehingga terbentuk daam sikap keagamaan pada diri seseorang yang hidup dalam lingkungan tradisi keagamaan tertentu.

             Sikap keagamaan yang terbentuk oleh tradisi keagamaan merupakan bagian dari pernyataan jati diri seseorang dalam kaitan dengan agama yang dianutnya. Sikap keagamaan ini akan ikut mempengaruhi cara berfikir, cita, rasa atau penilaian seseorang terhadap segaa sesuatu yang berkaitan dengan agama. Tradisi keagamaan daam pandangannya. Robert C Monk memiliki dua fungsi utama. Pertama adalah sebagai kekuatan yang mampu membuat kesetabilan dan keterpaduan masyarakat maupun individu. Kedua, tradisi keagamaan berfungsi sebagai agen perubahan dalam masyarakat atau individu.

 

III. Kebudayaan Dalam Era Globalisasi dan Pengaruhnya Terhadap Jiwa Keagamaan

A.   Pengertian Globalisasi

                   Makna globalisai menurut Anthoy Giddens dijelaskan sebagai intensifikasi relasi sosial di seluruh dunia yang menghubungan lokalitas yang berjauhan sehingga kejadian lokal dibentuk oleh peristiwa-peristiwa yang terjadi dibelahan dunia lain.[13]

                   Menurut Akbar S. Ahmad dan Hasting Donnan makna globalisasi diberi batasan yaitu pada prinsipnya mengacu pada perkembangan-perkembangan yang cepat daam teknologi komunikasi, transformasi, informasi yang bisa membawa bagian-bagian dunia yang jauh (menjadi hal-hal) yang bisa dijangkau dengan mudah.[14]

                   Istilah globalisasi sering digunakan untuk mengembangkan penyebaran dan keterkaitan produksi, komunikasi, dan teknologi seluruh dunia. Penyebaran ini melibatkan kompleksitas kegiatan ekonomi dan budaya. Adapun tema kunci dalam wawancara dan pengalaman globalisasi adalah;[15]

  1. Delokalisi dan lokalisasi
  1. Inovasi teknologi informasi
  1. Kebangkitan korporasi multinasional
  1. Privatisasi dan pembentukan pasar bebas.

 

B.   Kebudayaan Dan Era Globalisasi Dan Pengaruhnya Terhadap Jiwa Keagamaan

                   Secara fenomena kebudayaan dalam era globaisasi mengarah kepada nilai-nilai sekuler yang besar pengaruhnya terhadap perkembangan jiwa keagamaan, khususnya dikalangan generasi muda. Meskipun dalam sisi tertentukehidupan tradisi keagamaan tampak meningkat dalam kesemarakannya namun dalam kehidupan masyarakat global yang cenderung sekuer barangkali akan ada pengaruhnya terhadap pertumbuhan jiwa keagamaan para generasi muda. Paling tidak terdapat kecenderungan yang tampak. Pertama, muncul sikap toleransi yang tinggi terhadap perbedaan agama, dikaangan kelompok moderat. Kedua, munculnya sikap fanatic keagamaan yang muncul pada kelompok fundamental.

                   Kedua kecenderungan tersebut menurut pendekatan psikologis berisi ciri-ciri kepribadian yang ditampilkn kelompok introvert dan ekstrovert. Gejala kejiwaan yang dimiliki orang-orang introvert lebih tertutup terhadap perubahan yang terjadi, sedangkan ekstrovert lebih bersikap terbuka dan mudah menerima. Tetapi yang jelas era globalisasi dipandang dari sudut teknologi adalah era modernisasi puncak bagi peradaban manusia.

                   Era globalisasi memberikan perubahan besar pada tatanan dunia secara menyeluruh dan perubahan itu dihadapi bersama sebagai suatu perubahan yang wajar. Sebab mau tidak mau siap tidak siap perubahan diperkirakan bakal terjadi. Dikala manusia dihadapkan pada malapetaka sebagai dampak perkembangan dan kemajuan modernisasi dan perkembangan teknologi itu sendiri.

                   Dalam kondisi seperti itu barangkali manusia mengalami konflik batin secara besar-besaran. Konflik tersebut sebagai dampak ketidak seimbangan antara kemampuan iptek yang menghasilkan kebudayaan materi yang kosongan ruhani. Kegoncangan batin ini barangkali akan mempengaruhi kehidupan psikologi manusia. Pada kondisi ini manusia akan mencari ketentraman batin antara lain agama.

                   Era global bertepatan dengan millennium III ditandai dengan kemajuan iptek terutama dalam bidang transportasi dan komunikasi. Serta terjadinya lintas budaya. Selain itu dampak dan mobilitas manusia semakin tinggi menyebabkan apa yang terjadi disuatu tempat diwilayah tertentu dengan mudah dan cepat tersebar dan diketahui masyarakat dunia hampir tak ada yang tersembunyi. Pengaruh ini ikut malahirkan pandangan yang serba boleh (perssiviness) apa yang sebelumnya dianggap tabu, seanjutnya dapat diterima.

                   Sementara itu nilai-nilai tradisional mengalami pengerusan mulai kehilangan pegangan hidup yang bersumber dari tradisi masyarakat, termasuk kedalam sistem nilai yang bersumber dari ajaran agama. Dipihak lain manusia juga dihadapkan pada upaya untuk mempertahankan sistem nilai yang mereka anut sementara itu era global menawarkan alternatif baru (kekaguman dari hasil rekayasa iptek) yang menawarkan kenikmatan duniawi. Hal ini menimbulkan keraguan dan kecemasan kemanusiaan (human anxiety) adapun kemungkinan yang terjadi pada manusia adalah; pertama, mereka yang tidak ikut larut alam pengaguman yang berlebihan terhadap teknologi dan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai kegamaan, kemungkinan akan lebih meyakini kebenaran agama. Kedua, golongan yang longgar dari nilai-nilai ajaran agama akan kekosongan jiwa. Golongan kedua ini di era global akan diperkirakan memuncukan tiga kecenderungan agama, yaitu;

  1. Kecenderungan berupa arus kembali ke tradisi agama yang liberal
  1. Kecenderungan ke tradisi keagamaan pada aspek mistis
  1. Kecenderungan munculnya gerakan sempalan yang mengatas namakan agama.

             Gerakan yang dilakukan golongan ini, pada hakikatnya merupakan tindakan kompensatif. Mereka mengalami kesendirian kekosongan nilai-nilai ruhaniyah. Dalam kondisi kesendirian kekosongan itu terasa menyakitkan hingga mereka merasa perlu mengajak orang lain secara bersama sama larut dalam upacara yang mereka rekayasa.

             Sebagai umat beragama, khususnya umat Islam dalam era globalisasi hendaknya;[16]

  1. Menumbuhkan kesadaran tentang tujuan hidup menurut agama baik sebagai hamba Allah maupun sebagai khalalifah Allah. Tetap dalam kontek mengabdi kepada Allah dan berusaha memperoleh ridhanya dan keselamatan di dunia dan akhirat. Disini peran iman dan taqwa sangat penting hidup di era gobalisasi.
  1. Menumbuhkan kesadaaran dalam bertanggungjawab karena kita akan mempertanggungjawabkan apa yang diperbuat di dunia, baik formalitas administratif sesuai yang ada di dunia sendiri maupun hakiki menurut yang mempunyai konsekuensi akhirat kelak. Ketika kita menceburkan diri dalam kehidupan globalisasi amka kita juga selalu sadar akan tanggung jawab terhadap apa yang kita perbuat.

 

 

BAB III

PENUTUP

 

A.   Kesimpulan

             Tradisi keagamaan sebagai pranata primer dari kebudayaan memang sulit berubah, karena pranata tersebut disadari sebagai suatu yang penting, karena menyangkut kehormatan, harga diri, dan jati diri masyarakat pendukungnya. Adapun hubungan antara tradisi tersebut dan sikap keagamaan adalah tradisi keagamaan memberi pengaruh dalam membentuk pengalaman dan kesadaran agama sehingga terbentuk dalam sikap keagamaan pada diri seseorang yang hidup dalam kehidupan tradisi keagamaan tertentu.

             Istilah globalisasi sering digunakan untuk menggambarkan penyebaran dan keterkaitan produksi, komunikasi dan teknologi diseluruh dunia. Penyebaran itu menunjukkan kompleksitas kegiatan ekonomi dan budaya. Adapun pengaruh kebudayaan dalam era gobalisasi terhadap jiwa keagamaanadalah apabila tidak terjadi ketidak seimbangan antara kemajuan iptek dengan kemampuan individu yang beragama daam mengahasilkan kebudayaan terutama kebudayaan materi. Maka individu tersebut akan mengalami kekosongan rohani dan kegoncangan batin. Hal ini mempengaruhi kehidupan psikologisnya sehingga ia akan memerlukan agama. Adapun kemungkinan yang dapat dimungkinkan pada orang tersebut antara lain;

  1. Menyakini kebenaran agamannya
  1. Golongan yang longgar terhadap nilai-nilai ajaran agama, yang meliputi
  1. Orang yang cenderung kembali ke tradisi keagamaan yang liberal
  1. Orang yang cenderung kembali kedalam tradisi keagamaan yang mistis
  1. Orang yang cenderung memunculkan gerakan sempalan yang mengatas namakan agama.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

———– . Pendidikan Manusia Indonesia, Tonny D. Widiastono (ed.),  Jakarta: Kompas, 2004

Azizy, A. Qodry, Melawan Globalisasi Reinterpretasi Ajaran Islam (Persiapan SDM Yang Terciptanya Masyarakat Madani), Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004

Jaluddin, Psikologi Agama, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005

Soekanto, Soerjono, Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000

Sztompka, Piotr , Sosiologi Perubahan Sosial, Jakarta: Prenada, 2007

 

 


[1] Jaluddin, Psikologi Agama, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005), hal. 195

[2] Ibid., hal. 198

[3] Piotr Sztompka, Sosiologi Perubahan Sosial, (Jakarta: Prenada, 2007), hal. 70

[4] Ibid., hal. 71

[5] Ibid., hal. 70

[6] Jaluddin, Psikologi Agama…, hal. 195-197

[7] Piotr Sztompka, Sosiologi Perubahan…, hal. 72

[8] Ibid., hal. 74-76

[9] Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000), hal. 188

[10] Ibid., hal. 188-189

[11] Ibid., hal. 194-195

[12] Jaluddin, Psikologi Agama…, hal. 198-203

[13]  ———– , Pendidikan Manusia Indonesia, Tonny D. Widiastono (ed.),  (Jakarta: Kompas, 2004), hal. 218

[14] A. Qodri Azizy, Melawan Globalisasi Reinterpretasi Ajaran Islam (Persiapan SDM Yang Terciptanya Masyarakat Madani), (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), hal. 19

[15] ———– , Pendidikan Manusia…, hal. 218-221

[16] A. Qodri Azizy, Melawan Globalisasi…, hal. 32-33

FacebookTwitterGoogle+LinkedIn

MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH 1

BAB I
PENDAHULUAN

 

A. Latar Belakang

 

Salah satu permasalahan pendidikan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan pada setiap jenjang dan satuan pendidikan, khususnya pendidikan dasar dan menengah. Berbagai usaha telah dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional, misalnya pengembangan kurikulum nasional dan lokal, peningkatan kompetensi guru melalui pelatihan, pengadaan buku dan alat pelajaran, pengadaan dan perbaikan sarana dan prasarana pendidikan, dan peningkatan mutu manajemen sekolah. Namun demikian, berbagai indikator mutu pendidikan belum menunjukan peningkatan yang berarti. Sebagian sekolah, terutama di kota-kota, menunjukan peningkatan mutu pendidikan yang cukup menggembirakan, namun sebagian lainnya masih memprihatinkan.

 

Berdasarkan masalah ini, maka berbagai pihak mempertanyakan apa yang salah dalam penyelenggaraan pendidikan kita?. Dari berbagai pengamatan dan analisis, sedikitnya ada tiga faktor yang menyebabkan mutu pendidikan tidak mengalami peningkatan secara marata.

 

Faktor pertama, kebijakan dan penyelenggaraan pendidikan nasional menggunakan pendekatan education function atau input-output analisys yang tidak dilaksanakan secara konsekuen. Pendekatan ini melihat bahwa lembaga pendidikan berfungsi sebagai pusat produksi yang apabila dipenuhi semua input (masukan) yang diperlukan dalam kegiatan produksi tersebut, maka lembaga ini akan menghasilkan output yang dikehendaki. Pendekatan ini menganggap bahwa apabila input seperti pelatihan guru, pengadaan buku dan alat pelajaran, dan perbaikan sarana serta prasarana pendidikan lainnya, dipenuhi, maka mutu pendidikan (output) secara otomatis akan terjadi. Dalam kenyataan, mutu pendidikan yang diharapkan tidak terjadi. Mengapa? Karena selama ini dalam menerapkan pendekatan educational production function terlalu memusatkan pada input pendidikan dan kurang memperhatikan pada proses pendidikan. Padahal, proses pendidikan sangat menentukan output pendidikan.

 

Faktor kedua, penyelenggaran pendidikan nasional dilakukan secara birokratik-sentralistik sehingga menempatkan sekolah sebagai penyelenggaraan pendidikan sangat tergantung pada keputusan birokrasi yang mempunyai jalur yang sangat panjang dan kadang-kadang kebijakan yang dikeluarkan tidak sesuai dengan kondisi sekolah setempat. Sekolah lebih merupakan subordinasi birokrasi diatasnya sehingga mereka kehilangan kemandirian, keluwesan, motivasi, kreativitas/inisiatif untuk mengembangkan dan memajukan lembaganya termasuk peningkatan mutu pendidikan sebagai salah satu tujuan pendidikan nasional.

 

Faktor ketiga, peranserta warga sekolah khususnya guru dan pranserta masyarakat khususnya orang tua siswa dalam penyelenggaraan pendidikan selama ini sangat minim. Partisipasi guru dalam pengambilan keputusan sering diabaikan, pada hal terjadi atau tidaknya perubahan di sekolah sangat tergantung pada guru. Dikenalkan pembaruan apapun jika guru tidak berubah, maka tidak akan terjadi perubahan di sekolah tersebut. Partisipasi masyarakat selama ini pada umumnya sebatas pada dukungan dana, sedang dukungan-dukungan lain seperti pemikiran, moral dan barag/jasa kurang diperhatikan. Akuntabilitas sekolah terhadap masyarakat juga lemah. Sekolah tidak mempunyai beban untuk mempertanggung jawabkan hasil pelaksnanaan pendidikan kepada masyarakat, khususnya orang tua siswa, sebagai salah satu unsur utama yang berkepentingan dengan pendidikan (stakeholdir).

 

Berdasarkan kenyataan-kenyataan tersebut diatas, tentu saja perlu dilakukan upaya-upaya perbaikan, salah satunya adalah melakukan reorientasi penyelenggaraan pendidikan, yaitu dari manajemen peningkatan mutu berbasis pusat menuju manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah.


 

B. Rumusan Masalah

1. Permasalahan pendidikan yang bagaimana yang di hadapi oleh bangsa Indonesia?

2. Faktor – faktor apakah yang menyebabkan mutu pendidikan di Indonesia tidak mengalami peningkatan secara marata ?

3. Apa tujuan Manajemen Berbasis Sekolah itu ?

 

C. Tujuan Pembahasan Masalah

1. Agar Mahasiswa mengetahui permasalahan pendidikan yang bagaimana yang di hadapi oleh bangsa Indonesia.

2. Agar Mahasiswa mengetahui faktor – faktor apa yang menyebabkan mutu pendidikan di Indonesia tidak mengalami peningkatan secara marata.

3. Agar Mahasiswa mengetahui apa tujuan Manajemen Berbasis Sekolah itu.

 

BAB II
PEMBAHASAN
MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH

 

Oleh: Afiful Ikhwan*

 

A. Pengertian

MBS adalah upaya serius yang rumit, yang memunculkan berbagai isyu kebijakan dan melibatkan banyak lini kewenangan dalam pengambilan keputusan serta tanggung jawab dan akuntabilitas atas konsekuensi keputusan yang diambil. Oleh sebab itu, semua pihak yang terlibat perlu memahami benar pengertian MBS, manfaat, masalah-masalah dalam penerapannya, dan yang terpenting adalah pengaruhnya terhadap prestasi belajar murid.

 

Secara umum, manajemen berbasis sekolah (MBS) dapat diartikan sebagai model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah, dan mendorong partisipasi secara langsung warga sekolah (guru, siswa, kepala sekolah, karyawan) dan masyarakat (orang tua siswa, tokoh masyarakat, ilmuwan, pengusaha, dsb.) untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional serta peraturan perundang-undangan yang berlaku.

 

Munculnya konsep MBS memang masih harus dikaji terus menerus. Dan kajian tersebut hendaknya dimaksudkan untuk menciptakan sekolah sebagai tempat yang kondusif bagi layanan pendidikan, sehingga tercipta kemandirian sekolah dengan menggali sumber-sumber daya sekolah, yang pada akhirnya bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan dalam wujud mutu belajar para siswa. Munculnya konsep MBS memang menjadi suatu kebutuhan bagi sekolah atas berbagai perubahan yang terjadi selama ini. Ada kebutuhan yang terasa mendesak untuk mengkaji kembali fungsi sekolah. Pertama, pada saat timbul perubahan cepat yang terjadi saat ini, maka kumpulan pengetahuan dan pengalaman masa lampau, yang digunakan untuk membimbing anak-anak, ternyata tidak dapat memenuhi harapan untuk mencapai tujuan tersebut. Sesungguhnya orang tua sering kali tidak merasa pasti dibandingkan dengan putra-putranya. Demikian pula keadaan bagi komunitas orang dewasa pada umumnya. Nilai-nilai tradisional dan kebiasaan yang diwarisi kenyataannya telah kehilangan otoritas terhadap anak-anak muda, dan sebagai suatu bimbingan untuk mengambil tindakan yang tepat di dalam suatu lingkungan yang sedang mengalami perubahan ternyata juga tidak memadai. Karena keterbatasan atas kemampuan yang dimiliki orang tua inilah, akibatnya kita tergantung dari lembaga-lembaga pendidikan formal.

 

MBS merupakan salah satu model manajemen pendidikan yang berbasis pada otonomi atau kemandirian sekolah dan aparat daerah dalam menentukan arah, kebijakan, serta jalannya pendidikan di daerah masing-masing. Keberhasilan dalam pelaksanaan MBS sangat ditentukan oleh perwujudan kemandirian manajemen pendidikan pada tingkatan kabupaten atau kota. Gagasan MBS sebenarnya dapat merupakan jawaban atas tantangan pendidikan kita ke depan. Dalam UU No. 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional (Propenas).

 

B. Alasan Diterapkannya Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)

Keberhasilan MBS dapat ditentukan dengan meningkatkanya partisipasi masyarakat, dengan mengakomodasi pandangan, aspirasi dan menggali potensi masyarakat untuk menjamin demokratisasi, transaparan dan akuntabilitas. Upaya ini dapat dilakukan melalui Komite Sekolah di tingkat satuan pendidikan/ sekolah. Komite Sekolah merupakan bentuk dari meningkatnya kompleksitas sekolah, sebagai akibat dari munculnya konsep MBS. Dunia endidikan di Indonesia menghadapi tiga tantangan besar, di antaranya adalah sejalan dengan diberlakukannya otonomi daerah, sistem pendidikan nasional dituntut untuk melakukan perubahan dan penyesuaian sehingga dapat mewujudkan proses pendidikan yang lebih demokratis, memperhatikan keberagaman kebutuhan/ keadaan daerah dan peserta didik, serta mendorong peningkatan partisipasi masyarakat.

MBS diterapkan karena beberapa alasan berikut :

1. Dengan pemberian otonomi yang lebih besar kepada sekolah, maka sekolah akan lebih inisiatif/kreatif dalam meningkatkan mutu sekolah.

2. Dengan pemberian fleksibelitas/keluesan-keluesan yang lebih besar kepada sekolah untuk mengelola sumberdayanya, maka sekolah akan lebih luwes dan lincah dalam mengadakan dan memanfaatkan sumberdaya sekolah secara optimal untuk meningkatkan mutu sekolah.

3. Sekolah lebih mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman bagi dirinya sehingga dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya yang tersedia untuk memajukan sekolahnya.

4. Sekolah lebih mengetahui kebutuhan lembaganya. Khususnya input pendidikan yang akan dikembangkan dan didayagunakan dalam proses pendidikan sesuai dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan peserta didik.

5. Pengambilan keputusan yang dilakukan oleh sekolah lebih cocok untuk memenuhi kebutuhan sekolah karena pihak sekolahlah yang paling tahu apa yang terbaik bagi sekolahnya.

6. Penggunaan sumberdaya pendidikan lebih efisien dan efektif bilamana dikontrol oleh masyarakat setempat.

7. Keterlibatan semua warga sekolah dan masyarakat dalam pengambilan keputusan sekolah menciptakan transparansi dan demokrasi yang sehat.

8. Sekolah dapat bertanggung jawab tentang mutu pendidikan masing-masing kepada pemerintah, orang tua peserta didik, dan masyarakat pada umumnya, sehingga dia akan berupaya semaksimal mungkin untuk melaksanakan dan mencapai sasaran mutu pendidikan yang telah direncanakan.

9. Sekolah dapat melakukan persaingan yang sehat dengan sekolah-sekolah lain untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui upaya-upaya inovatif dengan dukungan orang tua peserta didik, masyarakat, dan pemerintah daerah setempat, dan

10. Sekolah dapat secara cepat merespon aspirasi masyarakat dan lingkungan yang berubah dengan cepat.

 

C. Tujuan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)

Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) bertujuan untuk memandirikan atau memberdayakan sekolah melalui pemberian kewenangan, keluwesan, dan sumber daya untuk meningkatkan mutu sekolah. Dengan kemandiriannya, maka:

1. Sekolah sebagai lembaga pendidikan lebih mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman bagi dirinya dibanding dengan lembaga-lembaga lainnya.

2. Dengan demikian sekolah dapat mengoptimal kan sumber daya yang tersedia untuk memajukan lembaganya.

3. Sekolah lebih mengetahui sumber daya yang dimilikinya dan input pendidikan yang akan dikembangkan serta didayagunakan dalam proses pendidikan sesuai dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan peserta didik,

4. Sekolah dapat bertanggung jawab tentang mutu pendidikan masing-masing kepada pemerintah, orang tua peserta didik, dan masyarakat pada, umumnya, sehingga sekolah akan berupaya semaksimal mungkin untuk melaksanakan dan mencapai sasarn mutu pendidikan yang telah direncanakan.

5. Sekolah dapat melakukan persaingan sehat dengan sekolah-sekolah yang lainnya untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui upaya-upaya inovatif dengan dukungan orang tua peserta didik, masyarakat, dan pemerintah daerah setempat.

6. Sekolah lebih berdaya dalam mengembangkan program-program yang tentu saja, lebih berdaya dalam mengembangkan dalam mengembangkan program-program yang tentu saja lebih sesuai dengan kebutuhan dan potensi yang dimilikinya.

 

Dengan demikian, secara bertahap akan terbentuk sekolah yang memiliki kemandirian tinggi. Secara umum, sekolah yang mandiri memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

1. Tingkat kemandirian tinggi sehingga tingkat ketergantungan menjadi rendah

2. Bersifat adaptif dan antisipatif memiliki jiwa kewirausahaan tinggi (ulet, inovatif, gigih, berani mengambil resiko)

3. Bertanggung jawab terhadap input manajemen dan sumber dayanya.

4. Memiliki kontrol yang kuat terhadap kondisi kerja.

5. Komitmen yang tinggi pada dirinya.

6. Prestasi merupakan acuan bagi penilaiannya.

 

MBS bertujuan untuk memandirikan atau memberdayakan sekolah melalui pemberian kewenangan (otonomi) kepada sekolah, pemberian fleksibilitas yang lebih besar kepada sekolah untuk mengelola sumberdaya sekolah, dan mendorong partisipasi warga sekolah dan masyarakat untuk meningkatkan mutu pendidikan. Lebih rincinya, MBS bertujuan untuk :

1. Meningkatkan mutu pendidikan melalui peningkatan kemandirian, fleksibelitas, partisipasi, keterbukaan, kerjasama, akuntabilitas, sustainbilitas, dan inisiatif sekolah dalam mengelola, memanfaatkan, dan memberdayakan sumberdaya yang tersedia.

2. Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan melalui pengambilan keputusan bersama.

3. Meningkatkan tanggung jawab sekolah kepada orang tua, masyarakat, dan pemerintah tentang mutu sekolahnya, dan

4. Meningkatkan kompetisi yang sehat antar sekolah tentang mutu pendidikan yang akan dicapai.

 

D. Manfaat Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)

Penerapan MBS yang efektif secara spesifik mengidentifikasi beberapa manfaat spesifik dari penerapan MBS sebagai berikut :

• Memungkinkan orang-orang yang kompeten di sekolah untuk mengambil keputusan yang akan meningkatkan pembelajaran.

• Memberi peluang bagi seluruh anggota sekolah untuk terlibat dalam pengambilan keputusan penting.

• Mendorong munculnya kreativitas dalam merancang bangun program pembelajaran.

• Mengarahkan kembali sumber daya yang tersedia untuk mendukung tujuan yang dikembangkan di setiap sekolah.

• Menghasilkan rencana anggaran yang lebih realistik ketika orang tua dan guru makin menyadari keadaan keuangan sekolah, batasan pengeluaran, dan biaya program-program sekolah.

• Meningkatkan motivasi guru dan mengembangkan kepemimpinan baru di semua level.

 

BAB III
P E N U T U P

 

Kesimpulan

Sistem manajemen pendidikan yang sentralistis telah terbukti tidak membawa kemajuan yang berarti bagi peningkatan kualitas pendidikan pada umumnya. Bahkan dalam kasus-kasus tertentu, manajemen yang sentralistis telah menyebabkan terjadinya pemandulan kreatifitas pada satuan pendidikan pada berbagai jenis dan jenjang pendidikan. Untuk mengatasi terjadinya stagnasi di bidang pendidikan ini diperlukan adanya paradigma baru dibidang pendidikan.

 

Seiring dengan bergulirnya era otonomi daerah, terbukalah peluang untuk melakukan reorientasi paradigma pendidikan menuju ke arah desentralisasi pengelolaan pendidikan. Peluang tersebut semakin tampak nyata setelah dikeluarkannya kebijakan mengenai otonomi pendidikan melalui strategi pemberlakuan manajemen berbasis sekolah (MBS). MBS bukan sekedar mengubah pendekatan pengelolaan sekolah dari yang sentralistis ke desentralistis, tetapi lebih dari itu melalui MBS diyakini akan muncul kemandirian sekolah.

 

Melalui penerapan MBS, kepedulian masyarakat untuk ikut serta mengontrol dan menjaga kualitas layanan pendidikan akan lebih terbuka untuk dibangkitkan. Dengan demikian kemandirian sekolah akan diikuti oleh daya kompetisi yang tinggi akan akuntabilitas publik yang memadai.

 

*) Penulis adalah mahasiswa S1 STAIN Tulungagung – Jatim

 

FacebookTwitterGoogle+LinkedIn

ANALISIS DAN INTERPRETASI ITEMAN

 

 

B.   INTERPRETASI ITEMAN

Dalam analisis iteman, perlu dijabarkan secara rinci dalam interpretasi iteman, yang meliputi:

  1. Analisis soal.
  2. Analisis option (pilihan jawaban).
  3. Analisis kualitatif.

Berikut ini dijelaskan secara rinci,” Interpretasi iteman” yang didapat dari:

Mata Pelajaran         : Pendidikan Agama Islam

Kelas / Semester      : IV (empat) / I (Ganjil)

Tahun Pelajaran       : 2008-2009

Sekolah                   : SDN Wajak Lor I

Alamat                     : Jl. Raya Wajak Lor- Boyolangu-Tulungagung

Materi                      : Kisah Nabi dan Perilakunya

Dari materi pokok tersebut didapatkan SK, KD dan indikator, yaitu:

I.    Standar Kompetensi     : Menceritakan kisah Ibrahim dan Nabi Ismail as.

      Kompetensi Dasar        : Menceritakan Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail as.

Indikator                      :

1.   Menjelaskan kisah hidup Nabi Ibrahim as dan Ismail as..

2.   Menyebutkan keluarga Nabi Ibrahim as dan Ismail as.

3.   Menjelaskan dakwah Nabi Ibrahim as kepada ayahnya.

4.   Menjelaskan kisah Nabi Ismail di Mekah dan air zam-zam.

5.   Menyebutkan ketaatan nabi Ismail as terhadap Allah SWT dan ayahnya.

Materi Pokok               : Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as.

II.   Standar Kompetensi     : Kisah Ibrahim dan Nabi Ismail as.

      Kompetensi Dasar        : Membiasakan perilaku terpuji.

Indikator                      :

1.   Menjelaskan ketaatan hidup Nabi Ibrahim as dalam menerima ujian dari Allah SWT.

2.   Meneladani keteguhan hati Nabi Ibrahim as dalam berdakwah.

3.   Menceritakan kisah Nabi Ismail as.

4.   Menceritakan akhlak Nabi Ismail as yang taat dalam kehidupan.

5.   Meneladani akhlak Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as dalam kehidupan sehari-hari.

Materi Pokok               : Perilaku Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as.

Pada “interpretasi soal’ terdapat kaidah penulisan soal pilihan ganda (PG) pada soal-soal disimbolkan dengan:

1.   Soal harus sesuai dengan indokator.

2.   Pengecoh berfungsi.

3.   Setiap jawaban mempunyai satu jawaban yang benar.

4.   Pokok soal dirumuskan secara tegas dan jelas.

5.   Pokok soal tidak memberi petunjuk ke arah jawaban yang benar.

6.   Plihan jawaban homogen dan logis ditinjau dari segi materi.

7.   Panjang rumusan pilihan jawaban harus relatif sama.

8.   Pilihan jawaban tidak mengandung pernyataan “semua pilihan jawaban di atas salah atau benar”.

9.   Pilihan jawaban yang berbentuk angka disusun berdasarkan urutan besar kecilnya nilai angka.

10. Soal tidak bergantung pada jawaban soal sebelumnya.

11. Soal menggunakan bahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.

12. Pernyataan mudah dimengerti warga belajar siswa.

 


 

 Pop endorsing atau pop correct : proporsi siswa yang menjawab benar butir soal. Bila nilai ekstrim (mendekati nol atau satu) menunjukan bahwa butir soal terlalu sukar atau terlalu mudah untuk peserta tes.

Biser adalah indeks daya pembeda soal dengan menggunakan koefisien korelasi biserial. Nilai positif menunjukkan bahwa peserta tes yang menjawab benar butir soal mempunyai skor yang relatif tinggi dalam tes atau skala tersebut. Sedangkan nilai negatif menunjukkan bahwa peserta yang menjawab benar butir soal memproleh skor yang relatif rendah dalam tes atau skala tersebut. Untuk statistik pilihan jawaban (alternatif) korelasi biserial negatif sangat tidak dikehendaki untuk kunci jawaban dan sangat dihendaki untuk pilihan jawaban yang lain (pengecoh).

Point biser adalah daya pembeda soal dan pilihan jawaban (alternatif) dengan menggunakan koefisien point biserial. Nilai -9,00 menunjukkan statistika butir soal pilihan jawaban tidak dapat dihitung. Hal tersebut terjadi bila tidak ada peserta tes menjawab butir soal atau pilihan jawaban tersebut.

Adapun skala pedoman kriteria tingkat kesukaran dengan daya pembeda pada items statisties dan alternative statisties sebagai berikut:

1.   Tingkat kesukaran (pop correct dan pop endorsing).

0, 00 – 0, 30 = sukar

0, 31 – 0, 70 = sedang (tidak terlalu sukar atau mudah)

0, 71 – 1, 00 = mudah

2.   Daya pembeda (Biser dan point biser).

0, 40 – 1, 00 = baik

0, 30 – 0, 39 = diterima dan diperbaiki

0, 20 – 0, 29 = diperbaiki

0, 19 – 0, 00 = mudah

Berikut diuraikan ketiga interpretasi di atas:

1.   Ayah Nabi Ibrahim bernama….

a.   Azzar                                                c.   Ghaffar

b.   Nizar                                                 d.   Azzam

A.   Interpretasi Soal sesuai no. 4, 5, 6, 7, 8, 10, 11, dan 12, selain itu soal sesuai dengan:

-     Indikator, yaitu: menyebutkan keluarga Nabi Ibrahim as” (ayahnya yang bernama Azzar) dan keluarga Nabi Ismail, dalam hal ini berarti kakek Nabi Ismail as (no 1).

-     Pengecoh berfungsi (no. 2) dimana siswa dengan nilai rendah terkecoh dengan jawaban, A, B, D sedang siswa dengan nilai tinggi, banyak yang menjawab A sebanyak 9 siswa, meskipun Pop correct 0, 55 (sedang tidak terlalu sukar atau mudah).

B.   Interpretasi Option

Alternatif

Pop Endorsing

Biser

Point Biser

A

0, 55 = sedang

0, 659    = baik

0, 525   = baik

B

0, 2   = sukar

- 0, 53    = ditolak

-0, 371  = ditolak

C

0, 1   = sukar

- 0, 41    = ditolak

- 0, 371 = ditolak

D

0, 15 = sukar

- 0, 79    = ditolak

- 0, 517 = ditolak

Yang lain

0, 00 = -

-9, 00     = tidak dapat dihitung

-9, 0      = tidak dapat dihitung

 

C.   Interpretasi Kualitatif

  1. Soal

a.  Pop correct(tingkat kesukaran), 0, 550, berarti proporsi siswa yang menjawab benar butir soal kategori sedang (tidak terlalu sukar atau mudah).

b.   Biser (daya pembeda) 0, 659 = baik, indeks yang koefisien korelasi biserial positif menunjukkan bahwa peserta tes yang menjawab benar butir soal, mempunyai skor relatif tinggi dalam tes atau skala tersebut.

c.    Point biser (daya pembeda) soal baik yaitu 0, 625.

2.   Alternatif jawaban

a.    Pop endorsing (tingkat kesukaran) jawaban benar A. Azzar dalam kategori sedang (tidak terlalu sukar atau mudah), jawaban pengecoh B. Nizar, C. ghaffar dan D. Azzam dalam kategori sukar, namun yang paling sukar adalah C .

b.   Biser (daya pembeda) antara A. Azzar dan C. ghaffar memiliki biser baik sedangkan pada B Nizar dan D. Azzam ditolak karena koefisienannya negatif berarti peserta yang menjawab benar butir soal memperoleh skor yang relatif rendah dalam tes skala tersebut dan sangat dikehendaki untuk pilihan jawaban pengecoh.

c.    Point biser (daya pembeda) A. Azzar baik sedangkan C. Ghaffar perlu diperbaiki sedang alternatif B dan D ditolak.

2.   Nabi Ibrahim dihukum Raja Namrud berupa….

a.   dipenjara                                           c.   dibakar

b.   dirajam                                              d.   dibuang kelaut

A.   Interpretasi Soal, sesuai no 4, 5, 6, 7, 8, 10, 11 dan 12 dan selain itu soal sesuai dengan:

-     Indikator, yaitu: menjelaskan dakwah Nabi Ibrahim kepada Raja Namrud.

-     Pengecoh berfungsi (no. 2) dimana siswa rendah terkecoh dengan jawaban A atau B dan D, sedang siswa dengan nilai tinggi banyak menjawab C sebanyak 10 orang

-     no. 4 karena jawaban hanya satu (C).

B.   Interpretasi option

Alternatif

Pop Endorsing

Biser

Point Biser

A

0, 1   = sukar

-0, 231  = ditolak

-0, 135 = ditolak

B

0, 1   = sukar

-0, 487  = ditolak

-0, 285 = ditolak

C

0, 6   = sedang

0, 419   = baik

0,331 = diterima dan diperbaiki

D

0, 2   = sukar

-0, 129  = ditolak

-0, 9     = ditolak

Yang lain

0, 00 = -

-9, 00    = tidak

dapat dihitung

-9,00  = tidak dapat dihitung

 

C.   Interpretasi Kualitatif

  1. Soal

-     Pop correct 0, 6, berarti proporsi siswa yang enjawab benar butir soal dalam kategori sedang (tidak terlalu sukar atau mudah).

-     Biser (daya pembeda) = 0, 419 = baik. Indeks menunjukkan nilai positif menunjukkan bahwa peserta tes yang menjawab benar butir soal mempunyai skor yang relatif tinggi dalam tes /skala tersebut.

-     Point biser (daya pembeda) soal 0, 331 berarti soal diterima namun perlu diperbaiki.

2.   Alternatif jawaban

-     Pop endorsing (tingkat kesukaran) jawaban A. dipenjara B. dirajam dalam kategori sukar, jawaban C. dibakar merupakan jawaban benar dengan tingkat kesukaran sedangkan jawaban D. dibuang ke laut, alternatif jawaban (pembeda) jawaban benar C. dibakar adalah baik sedangkan daya pembeda A, B, D dengan koefisien negatif berarti kunci tersebut sangat tidak dikehendaki.

-     Point biser (daya pembeda) pada C diterima dan diperbaiki sedangkan alternatif A, B, D ditolak.

3.   Nabi Ibrahim membangun ka’bah bersama…

a.   Ismail                                                c.   Ishaq

b.   Sarah                                                d.   Muhammad

A.   Interpretasi Soal sesuai no. 4, 5, 6, 7, 8, 10, 11 dan 12, selain itu soal sesuai dengan:

 -    Indikator yaitu “menyebutkan kisah Nabi Ismail di Makkah”, yaitu Nabi Ismail membangun ka’bah bersama ayahnya di Makkah” (no. 1).

-     Pengecoh berfungsi (no. 2) dimana siswa dengan nilai rendah terkecoh denga jawaban B dan C .Padahal siswa dengan nilai tinggi yang menjawab A 8 orang sebagai jawaban benar A. Ismail.

-     no. 4 karena jawaban hanya satu (A).

B.   Interpretasi Option

Alternatif

Pop endorsing

Biser

Point Biser

A

0, 75 = mudah

0, 142    = ditolak

0, 104 = ditolak

B

0, 05 = sukar

-0, 742   = ditolak

0, 357 = diterima + diperbaiki

C

0, 15 = sukar

0, 077    = ditolak

0, 05    = ditolak

D

0, 05 = sukar

0, 131    = ditolak

0, 062   = ditolak

Yang lain

0, 00 = -

-9,00 = tidak dapat dilihat

-9,00 = tidak dapat dilihat

C.  Interpretasi Kualitatif

I.    Soal

a.   Pop Correct = 0,7, berarti proporsi siswa yang menjawab benar butir soal dalam kategori sedang (tidak terlalu sukar atau mudah).

b.   Biser (daya pembeda) = 0, 142 = ditolak, meskipun ditolak, namun karena bernilai positif menunjukkan bahwa peserta tes yang menjawab benar butir soal  mempunyai skor yang relatif tinggi dalam tes atau skala tersebut.

c.   Point Biser (daya pembeda) soal 0,104 = ditolak

II.   Alternatif Jawaban

a.   Pop Endorsing (tingkat kesukaran) jawaban A. Ismail sebagai jawaban benar dalam kategori mudah, sedangkan jawaban B, C, D dalam kategori sukar, namun jawaban yang lebih sukar adalah jawaban B. Sarah dan D. Muhammad.

b.   Biser (daya pembeda) jawaban A, B, dan D ditolak dengan koefisien positif, yang berarti meskipun alternatif tersebut ditolak, namun pserta tes yang menjawab benar butir soal mempunyai skor yang relatif tinggi dalam tes / skala tersebut, sedangkan pada B. Sarah, menunujukkan bahwa peserta tes yang menjawab butir soal memperoleh skor yang relatif rendah dalam tes / skala tersebut. namun hal ini sangat dikehendaki untuk jawaban lain (pengecoh)_.

c.   Point Biser (daya pembeda) B. Sarah diterima dan diperbaiki sedangkan alternatif A, C, D ditolak.

4.   Nabi Ibrahim bergelar “khalilullah’ karena….

a.   kekayaannya                                     c.   ketaqwaannya

b.   kesabarannya                                    d.   kebaikannya

A.  Interpretasi Soal, sesuai no. 4, 5, 6, 7, 8, 10, 11 dan 12, selain itu soal sesuai dengan:

-     Indikator yaitu menjelaskan kisah hidup nabi Ibrahim, termasuk gelarnya “khalilullah”.

-     No. 4, karena jawaban hanya 1 C. ketaqwaannya.

B.   Interpretasi Option

Alternatif

Pop Endorsing

Biser

Point Biser

A

0, 05 = sukar

-0, 305    = ditolak

-0,145   = ditolak

B

0, 15   = sukar

0,007   = ditolak

0,05  = ditolak

C

0, 7   = mudah

0, 608   = baik

0, 461 = ditolak

D

0, 1 = sukar

- 1, 00    = ditolak

- 0, 66 = ditolak

Yang lain

0, 00 = -

-9, 00     = tidak dapat dihitung

-9, 0      = tidak dapat dihitung

 

C.  Interpretasi Kualitatif

I.    Soal

a. Pop Correct (tingkat kesukaran) 0,7 berarti proporsi siswa yang menjawab benar butir soal dalam kategori sedang (tidak terlalu sukar atau mudah).

b.   Biser (daya pembeda) 0,608 baik, indeks koefisien positif menunjukkan bahwa peserta tes yang menjawab butir soal mempunyai skor relative tinggi dalam tes atau skala tersebut.

c. Point biser (daya oembeda) soal baik 0,461.

II.   Alternatif jawaban

  1. Pop Endorsing (tingkat kesukaran), jawaban benar C. ketaqwa-annya dalam kategori mudah, sedangkan jawaban A, B, D adalah sukar, jawaban yang lebih sukar jawab-A kekayaannya.
  1. Biser (daya pembeda). jawaban benar baik, amun jawaban A, B, dan D ditolak, namun pada B karena koefisien positif, maka peserta tes yang menjawab benar butir soal mempunyai skor yang relatif tinggi dalam tes atau skala tersebut sedangkan pada A dan D karena koefisiennya negatif, maka peserta tes yang menjawab butir soal memperoleh skor yang relatif rendah dalam tes /skala tersebut dan hal ini sangat dikehendaki untuk jawaban pengecoh.
  1. Point biser (daya pembeda) C. baik sedangkan pada A, B da D ditolak.
  1. Nabi Ibrahim lahir ditegah-tengah masyarakat penyembah…

 a.  Matahari                                            c.   Allah

b.   Bintang                                              d.   Berhala

A.   Interpretasi Soal sesuai no. 4, 5, 6, 7, 8, 10, 11 dan 12, selain itu soal sesuai dengan:

-     indikator yaitu “menyebutkan kisah nabi Ibrahim as” dimana beliau lahir ditengah masyarakat yang kafir”penyembah” berhala (no. 10).

-     Pengecoh berfungsi no. 2 dimana siswa dengan nilai rendah terkecoh dengan jawaban Adan B sedangkan siswa dengan nilai tinggi banyak yang menjawab D. berhala sebanyak 50% dari keseluruhan siswa (10 orang) dengan Pop Correct 0,7 = sedang (tida terlalu sukar/mudah).

-     No. 4 jawaban hanya 1 yaitu D. Berhala.

B.   Interpretasi Option

Alternatif

Pop Endorsing

Biser

Point Biser

A

0,25 = sukar

-0,92   = ditolak

-0,675  = ditolak

B

0,1   = sukar

-0,103 = ditolak

-0,06    = ditolak

C

0,1   = sukar

-0,103 = ditolak

-0,06    = ditolak

D

0,55 = sedang

0,83    = baik

0,66      = baik

yang lain

0,00 = -

-9,00  = tidak dapat dihitung

-9,00    = tidak dapat dilihat

C.  Intepretasi Kualitatif

I.    Soal

a.   Pop Correct (tingkat kesukaran) 0,55 berarti proporsi siswa yang menjawab benar butir soal dalam kategori sedang (tidak terlalu sukar atau mudah).

b.   Biser (daya pembeda) 0,83 = baik dengan koefisien positif menunjukkan bahwa peserta tes yang menjawab benar butir soal mempunyai skor relatif tinggi.

c.   Point Biser (daya pembeda) soal 0,66 = baik.

II.   Alternatif Jawaban

a.   Pop Endorsing (tingkat kesukaran) jawaban benar D. berhala adalah sedang (tidak terlalu sukar atau mudah) sedangkan jawaban pengecoh a, B, C dalam kategori sukar, namun yang paling sukar adalah B dan C.

b.   Biser (daya pembeda) jawaban D. berhala baik, sedangkan pada A, B dan C ditolak, karena koefisiennya negatif, menunjukkkan peserta  yang menjawab benar butir soal memperoleh skor yang relatif rendah dalam tes atau skala tersebut dan sangat dikehendaki untuk pilihan jawaban lain (pengecoh).

c.   Point Biser (daya pembeda) D. baik sedangkan pada A, B dan C ditolak.

6.   Ibu Nabi Ismail bernama….

a.   Siti Hajar                                           c.   Siti Fatimah

b.   Siti Sarah                                           d.   Siti Aminah

A.   Interpretasi Soal sesuai no. 4, 5, 6, 7, 8, 10, 11 dan 12 selain itu soal sesuai dengan:

-     Indikator, yaitu, menyebutkan keluarga Nabi Ismail disini ibunya Nabi Ismail yaitu Siti Hajar (no. 1).

-     Pngecoh berfungsi (no. 2) dimana siswa dengan nilai rendah terkecoh dengan jawaban C dan D sementara siswa dengan niai tinggi banyak yang menjawab A sebanyak 7 siswa dengan pop correct 0,6 sedang (tidak terlalu sukar atau mudah).

-     No. 4 jawaban hanya 1 hanya A Siti Hajar.

B.   Interpretasi Option

Alternatif

Pop Endorsing

Biser

Point Biser

A

0,6     = sedang

0,128 = ditolak

0,10   = ditolak

B

0,15   = sukar

0,463 = baik

0,302  = ditolak

C

0,15   = sukar

-0,695= ditolak

-0,454 = ditolak

D

0,1     = sukar

0,026  = ditolak

0,015   = baik

yang lain

0,00   = -

-9,00  = tidak dapat dihitung

-9,00    = tidak dapat dihitung

 

C.   Interpretasi Kualitatif

I.    Soal

a.   Pop Correct (tingkat kesukaran) 0,66 berarti proporsi siswa yang menjawab benar butir soal dalam kategori sedang (tidak terlalu sukar atau mudah).

b.   Biser (daya pembeda) 0,128 ditolak, meskipun soal ditolak tapi karena indeks korelasi biserial positif menunjukkan bahwa peserta tes yang  yang menjawab benar butir soal mempunyai skor relatif tinggi dalam tes atau skala tersebut.

c.   Point biser (daya pembeda) ditolak yaitu 0,101.

II.   Alternatif Jawaban

a.   Pop Endorsing (tingkat kesukaran) jawaban benar A. Siti Hajar dalam kategori sukar, namun yang paling sukar adalah D. Siti Aminah.

b.   Biser (daya pembeda) pada jawaban A, B, dan D koefisien biserial menunjukkan positif, berarti peserta tes yang menjawab benar butir soal mempunyai skor yang relatif tinggi dalam tes atau skala tersebut, namun tetap saja posisi alternatif A. ditolak. Pada kunci C dengan koefisien negatif dengan ditolak sebagai alternatif, hal ini menunjukkan bahwa peserta tes yang menjawab butir soal memperoleh skor yang relatif rendah dalam tes atau skala tersbeut, namun hal ini justru dikehendaki untuk jawaban lain (pengecoh).

c.   Point Biser (daya pembeda) pada B diterima dan diperbaiki sedangkan A, E dan E ditolak.

7.   Nabi Ismail melahirkan keturunan Arab….

a.   Badui                                                c.   Musta’ribah

b.   Nadzir                                               d.   Arofah

A.   Interpretasi Soal, sesuai no. 4, 5, 6, 7, 8, 10, 11, 12 selain itu soal sesuai dengan:

-     Indikator yaitu menjelaskan kisah Nabi Ismail termasuk kisahnya di Mekah yang melahirkan keturunan Arab Musta’riban.

-     No. 4 jawaban hanya 1 C. Musta’ribah

B.   Interpretasi option

Alternatif

Pop Endorsing

Biser

Point Biser

A

0,1     = sedang

0,282 = diperbaiki

0,165  = ditolak

B

0  =—-

-9,0- = tidak dapat dihitung

-9,00 = ditolak

C

0,85   = sukar

-0,463  = ditolak

-0,302 = diterima dan diperbaiki

D

0,05     = sukar

0,567  = baik

-0,268 = ditolak

yang lain

0,00 = -

-9,00  = tidak dapat dihitung

-9,00  = tidak da-pat dihitung

 

C.   Interpretasi Kualitatif

I.    Soal

a.   Pop Correct (tingkat kesukaran) 0,85 berarti proporsi siswa yang menjawab benar butir soal dalam kategori mudah.

b.   Biser (daya pembeda) -0,463 = ditolak, berarti peserta tes yang  yang menjawab benar butir soal memperoleh skor relatif rendah dalam tes atau skala tersebut.

c.   Point biser (daya pembeda) soal -0,302 = ditolak.

II.   Alternatif jawaban

a.   Pop Endorsing (tingkat kesukaran) jawaban benar C. dalam kategori mudah, sedangkan jawaban pengecogh (A dan B) sukar bagi siswa.

b.   Biser (daya pembeda) pada jawaban C. ditolak dengan koefisien  negatif yang berarti peserta yang menjawab benar butir soal memperoleh skor yang relatif rendah dalam tes (skala tersebut dan sangat dikehendaki untuk pilihan jawaban pengecoh. Adapun pada A. alternatif diperbaiki dan pada D baik dengan koefisien positif yang menunjukkkan peserta tes yang menjawab benar butir soal atau memperoleh skor yang relatif tinggi dalam tes atau skala tersebut.

c.   Point Biser (daya pembeda) jawaban C sebagai jawaban benar diterima diperbaiki, sedangkan jawaban A ditolak, B tidak dapat dihitung dan pada D alternatif tersebut perlu diperbaiki.

8.   Nabi Ismail meninggal usia…

a.   110 tahun                                          c.   137 tahun

b.   120 tahun                                          d.   157 tahun

A.   Interpretasi Soal, sesuai no. 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12 selain itu soal sesuai dengan:

-     Indikator yaitu menceritakan kisah Nabi Ismail termasuk kapan beliau wafat (no. 1).

-     Pengecoh berfungsi (no. 20 dimana siswa dengan nilai rendah terkecoh dengan jawaban d sedangkan siswa dengan nilai tinggi banyak yang menjawab C. 137 tahun sebantak 4 siswa dengan pop correct 0,6 = mudah.

-     No. 4 jawaban hanya 1 C. 137 tahun

B.   Interpretasi Option

Alternatif

Pop Endorsing

Biser

Point Biser

A

0,05     = sedang

0,131 = ditolak

0,062  = ditolak

B

0,05   = sukar

0,131 = ditolak

0,062  = ditolak

C

0,6   = sukar

0,012  = ditolak

0,009  = ditolak

D

0,3     = sukar

0,091  = ditolak

-0,069 = ditolak

yang lain

-

-9,00  = tidak dapat dihitung

-9,00  = tidak da-pat dilihat

 

C    Interpretasi Kualitatif

I.    Soal

a.   Pop Correct (tingkat kesukaran) 0,6 berarti proporsi siswa yang menjawab benar butir soal dalam kategori mudah.

b.   Biser (daya pembeda) 0,012= ditolak, berarti peserta yang  yang menjawab benar butir soal memperoleh skor relatif rendah dalam tes atau skala tersebut.

c.   Point biser (daya pembeda) soal 0,009 = ditolak.

II.   Alternatif Jawaban

a.   Pop Endorsing (tingkat kesukaran) jawaban benar C. 137 tahun dalam kategori sedang (tidak terlalu sukar atau mudah), sedangkan jawaban pengecoh lain termasuk sukar, namun yang lebih sukar pada a. 110 tahun dan B. 120 tahun.

b.   Biser (daya pembeda) pada jawaban C. ditolak dengan koefisien  negative, hal itu menunjukkan  peserta tes yang menjawab benar butir soal memperoleh skor yang relatif tinggi dalam tes (skala tersebut. Sebagaimana pada A dan B, namun pada alternative D dengan koefisien negatf yang berarti peserta yang menjawab benar butir soal memperoleh skor relatif rendah dalam tes atau skala tersebut dan hal itu sangat dikehendaki untuk pilihan jawaban pengecoh.

c.   Point Biser (daya pembeda) jawaban benar C. ditolak sedangkan jawaban A, B, dan D juga ditolak sebagai alternatif jawaban.

9.   Mata air yang dicari Siti Hajar adalah…

a.   Zamani                                              c.   Zam-Zam

b.   Zam-Zami                                         d.   Zabi

A.   Interpretasi Soal, sesuai no. 4, 5, 6, 7, 8, 10, 11, 12 selain itu soal sesuai dengan:

-     Indikator yaitu menjelaskan kisah Nabi Ismail (termasuk Siti Hajar) di mekah dan air Zam-Zam” (no. 1).

-     Pengecoh berfungsi (no. 2) namun hanya ada satu siswa dengan nilai rendah  menjawab D, namun pada siswa dengan nilai tinggi menjawab siswa (no.2).

-     No. 4 jawaban hanya 1 C. Zam-Zam.

B.   Interpretasi Option

Alternatif

Pop Endorsing

Biser

Point Biser

A

0,05     = sukar

0,131 = ditolak

0,062  = ditolak

B

0,05   = sukar

0,131 = ditolak

0,062  = ditolak

C

0,85   = mudah

0,212  = ditolak

0,139  = ditolak

D

0,05     = sukar

0,742  = ditolak

-0,351 = ditolak

yang lain

0,0 = -

-9,00  = tidak dapat dihitung

-9,00  = tidak da-pat dilihat

 

C.   Interpretasi Kualitatif

I.    Soal

a.   Pop Correct 0,85 = berarti proporsi siswa yang menjawab benar butir soal dalam kategori mudah.

b.   Biser (daya pembeda) 0,212= diperbaiki, indeks tersebut dengan koefisien positif menunjukkan bahwa peserta tes yang menjawab butir soal, mempunyai skor relatif tinggi dalam tes atau skala tersebut.

c.   Point biser (daya pembeda) hal ditolak = 0,139

II.   Alternatif Jawaban

a.   Pop Endorsing (tingkat kesukaran) jawaban benar C. Zam-Zam dalam kategori mudah, padahal jawaban pengecoh A, B dan D dalam kategori sukar.

b.   Biser (daya pembeda) pada jawaban benar C. Zam-Zam dan jawaban pengecoh A dan B dengan koefisien  yang berarti  peserta tes yang menjawab benar butir soal mempunyai skor yang relatif tinggi dalam tes atau skala tersebut. Namun pada C dalam kategori diperbaiki sedangkan pada B dan D dalam kategori ditolak dan pada D meskipun sama-sama.ditolak, namun pada alternatif D dengan koefisien negatif yang menunjukkan bahwa peserta tes yang menjawab benar butir soal memperoleh skor yang relatif rendah dalam tes atau skala tersebut, namun hal ini sangat dikehendaki untuk jawaban lain (pengecoh).

c.   Point Biser (daya pembeda) semua altrnatif jawaban ditolak

10. Nabi yang termasuk ulul azmi adalah…

a.   Ismail                                                c.   Musa

b.   Ishaq                                                 d.   Ibrahim

A.   Interpretasi Soal, sesuai no. 4, 5, 6, 7, 8, 10, 11, 12 selain itu soal sesuai dengan:

-     Indikator yaitu menjelaskan kisah hidup Nabi Ibrahim, termasuk gelar yang diberikan kepadanya yaitu “ulul azmi” (nol).

-     Pengecoh berfungsi (no. 2) dimana siswa dengan nilai rendah terkecoh dengan jawaban A, B, C sedangkan siswa dengan nilai tinggi banyak yang menjawab Nabi Ibrahim yaitu 12 siswa.

-     No. 4 jawaban hanya 1 yaitu D. Ibrahim.

B.   Interpretasi Option

Alternatif

Pop Endorsing

Biser

Point Biser

A

0,05     = sukar

-0,087 = ditolak

- 0,041  = ditolak

B

0,1       = sukar

0,103 = ditolak

- 0,06  = ditolak

C

0,15     = sukar

0,405 = ditolak

- 0,265  = ditolak

D

0,7       = mudah

0,349 = diterima + diperbaiki

-0,265 = ditolak

yang lain

0,0       = -

-9,00 = tidak dapat dihitung

-9,00  = tidak da-pat dihitung

 

C.   Interpretasi Kualitatif

I.    Soal

a.   Pop Correct 0,7 = berarti proporsi siswa yang menjawab benar butir soal dalam kategori mudah.

b.   Biser (daya pembeda) 0,349= diterima dan diperbaiki, indeks tersebut dengan koefisien positif menunjukkan bahwa peserta tes yang menjawab butir soal mempunyai skor relatif tinggi dalam tes atau skala tersebut.

c.   Point Biser (daya pembeda) hal diperbaiki = 0,265

II.   Alternatif Jawaban

a.   Pop Endorsing (tingkat kesukaran) jawaban benar D. Ibrahim dalam kategori mudah, padahal jawaban pengecoh A, B dan C kategori sukar namun yang paling sukar adalah A. Ismail.

b.   Biser (daya pembeda) pada jawaban benar D, dala kategori diterima dan diperbaiki dengan koefisien  yang berarti  peserta tes yang menjawab benar butir soal mempunyai skor yang relatif tinggi dalam tes sedangkan pada jawaban A, B, C ditolak dengan koefisien negatif yang berarti peserta tes yang enjawab butir soal memp-eroleh skor yang relatif rendah dalam tes atau skala tersebut dan hal ini memang dikehendaki untuk jawaban lain (pengecoh).

c.   Point biser pada D diperbaiki sedangkan pada A, B dan C ditolak.

11. Iman kepada Rasul adalah rukun iman yang ke….

a.   Dua                                                   c.   Empat

b.   Tiga                                                   d.   Lima

A.   Interpretasi Soal, sesuai no. 4, 5, 6, 7, 8, 10, 11, 12 selain itu soal sesuai dengan:

-     Terdapat pengecoh berfungsi (no. 2) dimana siswa dengan nilai rendah terkecoh dengan jawaban A, dan B,C sedangkan siswa dengan nilai tinggi banyak yang menjawab benar C siswa dengan pop correct 0,65 = sedang (tidak terlalu sukar atau mudah).

-     No. 4 jawaban hanya 1 yaitu C. Empat

B.   Interpretasi option

Alternatif

Pop Endorsing

Biser

Point Biser

A

0,1     = sukar

- 0,23 = ditolak

- 0,135  = ditolak

B

0,0     = -

- 9,00 = tidak dapat dihitung

- 9, 00  = tidak dapat dihitung

C

0,65   = sedang

-0,292 = ditolak

0,226  = diperbaiki

D

0,25   = sukar

0,212  = diterima + diperbaiki

-0,56 = ditolak

yang lain

0,0     = -

-9,00 = tidak dapat dihitung

-9,00  = tidak da-pat dihitung

 

C.   Interpretasi Kualitatif

I.    Soal

a.   Pop correct (tingkat kesukaran) 0,65 = berarti proporsi siswa yang menjawab benar butir soal dalam kategori mudah. Sedang (tidak terlalu atau mudah).

b.   Biser (daya pembeda) 0,292= diperbaiki koefisien biserial positif menunjukkan bahwa butir soal mempunyai skor relatif tinggi.

c.   Point biser (daya pembeda) soal 0,226 = diperbaiki

II.   Alternatif Jawaban

a.   Pop Endorsing (tingkat kesukaran) jawaban benar C. empat adalah sedang (tidak terlalu sukar atau mudah) sedangkan jawaban pengecoh B tidak berfungsi dan pada A dan D adalah sukar, namun lebih sukar A dua.

b.   Biser (daya pembeda) pada jawaban C. empat diperbaiki dengan positif,  yang menunjukkan peserta tes atau skala tersebut. Sedangkan pada A dan C ditolak dengan koofisien negatif yang menunjukkan bahwa peserta yang menjawab benar butir soal memperoleh skor relatif rendah dalam tes atau skala tersebut dan sangat dikehendaki untuk pilihan jawaban lain (pengecoh).

c.   Point Biser (daya pembeda) C diperbaiki, A dan C ditolak, sedangkan B. tidak dapat dihitung.

12. Allah menggantikan Ismail yang akan disembelih Ibrahim berupa seekor….

a.   Kuda                                                 c.   Kerbau

b.   Kambing                                           d.   Kelinci

A.   Interpretasi Soal, sesuai no. 4, 5, 6, 7, 8, 10, 11, 12 selain itu soal sesuai dengan:

-     Indikator, yaitu menjelaskan ketaatan Nabi Ismail as yang taat dalam menerima ujian dari Allah SWT” (no. 2).

-     Pengecoh berfungsi (no. 2) dimana siswa dengan nilai rendah terkecoh dengan jawaban A, dan C sedangkan siswa dengan nilai tinggi banyak yang menjawab B sebanyak 12 orang (keseluruhan siswa kelas atas = 100%) dengan pop correct.

-     No. 4 jawaban hanya 1 yaitu B. Kambing (no. 3).

B.   Interpretasi option

Alternatif

Pop Endorsing

Biser

Point Biser

A

0,05     = sukar

- 1,0 = ditolak

- 0,557  = ditolak

B

0,85    = -

- 0,984 = baik

- 0,643  = baik

C

0,05  = sedang

-0,305 = ditolak

-0,145  = diperbaiki

D

0,05   = sukar

0,742 = diterima + diperbaiki

-0,357= ditolak

yang lain

0,00     = -

-9,00 = tidak dapat dihitung

-9,00  = tidak da-pat dihitung

 

 

C.   Interpretasi Kualitatif

I.    Soal

a.   Pop Correct (tingkat kesukaran) 0,85 = berarti proporsi siswa yang menjawab benar butir soal dalam kategori mudah.

b.   Biser (daya pembeda) 0,984= baik, indeks positif menunjukkan  bahwa peserta tes yang menjawab benar butir soal, mempunyai skor relatif tinggi dalam tes atau skala tersebut.

c.   Point biser (daya pembeda) soal diperbaiki =0,643

II.   Alternatif jawaban

a.   Pop endorsing (tingkat kesukaran) jawaban benar B. Kambing dalam kategori mudah, padahal jawaban pengecoh A, C dan D pada tingkat sukar.

b.   Biser (daya pembeda) pada jawaban B dalam kategori baik, dengan koefisien baik, dengan koefisien positif yang berarti peserta tes yang menjawab benar-benar butir soal mempunyai skor yang relative tinggi dalam tes atau skala tersbeut, namun pada A, C dan D dengan koefisien negatif dalam kategori ditolak berarti peserta tes yang menjawab benar butir soal memperoleh skor yang relatif rendah dalam skala atau tes tersebut, namun hal ini sangat dikehendaki untuk jawaban lain (pengecoh).

c.   Point biser (daya pembeda) B. baik dan pada A, C dan C ditolak.

13. Terhadap orang tuanya, Nabi Ismail….

a.   beribadah                                          c.   ingkar

b.   acuh                                                  d.   patuh

A.   Interpretasi Soal, sesuai no. 4, 5, 6, 7, 8, 10, 11, 12 selain itu soal sesuai dengan:

-     Indikator, yaitu menjelaskan ketaatan Nabi Ismail as dan menceritakan akhlak Nabi Ismail as yang taat dalam kehidupan.

-     Pengecoh berfungsi (no. 2) dimana siswa dengan nilai rendah terkecoh dengan jawaban B dan C sedangkan siswa dengan nilai tinggi banyak yang menjawab D. patuh yaitu sebanyak 6 orang dengan pop correct 0,45 = 45.

-     No. 4 jawaban hanya 1 yaitu D. patuh

B.   Interpretasi Option

Alternatif

Pop Endorsing

Biser

Point Biser

A

0,15     = sukar

0,560 = baik

 0,365  = diterima  dan diperbaiki

B

0,2   = diperbaiki

- 0,53 = ditolak

- 0,371  = ditolak

C

0,2  = diperbaiki

-0,08 = ditolak

-0,034= ditolak

D

0,45   = baik

0,08 = ditolak

-0,063= ditolak

yang lain

0,0     = -

-9,00 = tidak dapat dihitung

-9,00  = tidak da-pat dihitung

 

C.   Interpretasi Kualitatif

I.    Soal

a.   Pop correct (tingkat kesukaran) 0,45 = berarti proporsi siswa yang menjawab benar butir soal dalam kategori baik.

b.   Biser (daya pembeda) 0,08 = ditolak, indeks positif menunjukkan  bahwa peserta tes yang menjawab benar butir soal, mempunyai skor relatif tinggi dalam tes atau skala tersebut.

c.   Point Biser (daya pembeda) soal ditolak = 0,063

II.   Alternatif Jawaban

a.   Pop endorsing (tingkat kesukaran) jawaban benar D. patuh adalah baik, sedangkan pada B dan C sama-sama diperbaiki.

b.   Biser (daya pembeda) pada jawaban benar D ditolak dan pada jawaban A baik dengan koefisien positif berarti peserta tes yang menjawab benar butir soal mempunyai skor yang relatif tinggi dalam tes atau skala tersebut sedangkan pada B, C dan D ditolak dengan koefisien negatif, berarti peserta tes yang menjawab benar butir soal memperoleh skor yang relatif rendah dalam skala atau tes tersebut, namun hal ini sangat dikehendaki untuk jawaban lain (pengecoh).

c.   Point Biser (daya pembeda) B, C dan D ditolak dan pada A diterima namun diperbaiki.

14. Kejadian luar biasa yang diberikan kepada Rasul disebut….

a.   karomah                                            c.   hidayah

b.   nikmat                                               d.   mukjizat

A.   Interpretasi Soal, sesuai no. 4, 5, 6, 7, 8, 10, 11, 12 selain itu soal sesuai dengan:

-     Pengecoh berfungsi (no. 2) dimana siswa dengan nilai rendah terkecoh dengan jawaban B dan C sedangkan siswa dengan nilai tinggi banyak yang menjawab D. mukjizat yaitu sebanyak 11 orang.

-     No. 4 jawaban hanya 1 yaitu D. mukjizat.

B.   Interpretasi Option

alternatif

Pop Endorsing

Biser

Point Biser

A

0,05   = sukar

0,349 = diterima + diperbaiki

 0,365 = diterima + diperbaiki

B

0,05   = diperbaiki

- 0,087 = ditolak

- 0,041  = ditolak

C

0,1     = diperbaiki

-0,231  = ditolak

-0,135   = ditolak

D

0,8     = baik

0,048   = ditolak

0,034    = ditolak

yang lain

0,00   = -

-9,00  = tidak dapat dihitung

-9,00 = tidak dapat dihitung

 

C.   Interpretasi Kualitatif

I.    Soal

a.   Pop Correct (tingkat kesukaran) 0,8 = berarti proporsi siswa yang menjawab benar butir soal dalam kategori baik.

b.   Biser (daya pembeda) 0,048 = ditolak, indeks positif menunjukkan  siswa peserta tes yang menjawab benar butir soal, mempunyai skor relatif tinggi dalam tes atau skala tersebut.

c.   Point biser (daya pembeda) soal ditolak = 0,034

II.   Alternatif Jawaban

a.   Pop Endorsing (tingkat kesukaran) jawaban benar D. mukjizat mudah, sedangkan jawaban pengecoh A, B dan C sukar, namun yang paling sukar adalah A dan B.

b.   Biser (daya pembeda) pada jawaban benar D ditolak dan pada A sebagai jawaban alternative pengecoh dengan koefisien positif yang berarti peserta tes yang menjawab benar butir soal mempunyai sukar yang relative tinggi dalam tes atau skala tersebut, namun pada jawaban pengecoh b dan C dalam kategori ditolak ,  koefisien negatif yang  berarti peserta tes yang menjawab benar butir soal memperoleh skor yang relatif rendah dalam skala atau tes tersebut, dan sangat dikehendaki untuk jawaban lain (pengecoh).

c.   Point biser (daya pembeda) A, B, C dan D ditolak.

15. Perintah Allah kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih puteranya, datang melalui:

a.   Bisikan                                              c.   Malaikat

b.   Mimpi                                               d.   Kitab

A.   Interpretasi Soal, sesuai no. 4, 5, 6, 7, 8, 10, 11, 12 selain itu soal sesuai dengan:

-     Pengecoh berfungsi (no. 2) dimana siswa dengan nilai rendah terkecoh dengan jawaban A dan C sedangkan siswa dengan nilai tinggi banyak yang menjawab B. sebanyak 9 orang dengan pop correct 0,75 = 45 mudah.

-     No. 4 yaitu jawaban hanya 1 yaitu B. mimpi.

B.   Interpretasi Option

Alternatif

Pop Endorsing

Biser

Point Biser

A

0,1     = sukar

- 0,487 = baik

 -0,385  = diterima + diperbaiki

B

0,75   = diperbaiki

 0,496  = baik

0,364   = ditolak

C

0,1     = diperbaiki

0,26     = diperbaiki

0,015  = diterima + diperbaiki

D

0,05   = baik

-0,742  = ditolak

-0,351   = ditolak

yang lain

0        = -

-9,0      = tidak

dapat dihitung

-9,00 = tidak dapat dihitung

 

C.   Interpretasi Kualitatif

I.    Soal

a.   Pop Correct (tingkat kesukaran) 0,75 = berarti proporsi siswa yang menjawab benar butir soal dalam kategori mudah.

b.   Biser (daya pembeda) 0,496 = baik, dengan koefisien positif menunjukkan bahwa peserta tes yang menjawab benar butir soal, mempunyai skor relatif tinggi

c.   Point biser (daya pembeda) soal diterima dan diperbaiki = 0,364

II.   Alternatif jawaban

a.   Pop Endorsing (tingkat kesukaran) jawaban benar B. mimpi adalah mudah, sedangkan jawaban pengecoh A, C, dan D dalam kategori sukar, namun yang paling sukar memperoleh skor adalah D. kitab.

b.   Biser (daya pembeda) pada jawaban B. mimpi, baik sedangkan –engecoh C diperbaiki dengan koefisien positif, menunjukkkan dalam tes sedangkan pada A dan D dalam kategori ditolak dengan koefisien negative menunjukkkan bahwa peserta tes yang menjawab benar butir soal memperoleh skor yang relatif rendah dalam skala atau tes tersebut, namun hal ini sangat dikehendaki untuk pilihan jawaban lain (pengecoh).

c.   Point Biser (daya pembeda) pada A, C dan D ditolak dan pada B diterima namun diperbaiki.

16. Orang yang mendiami Makkah pertama kali ialah…

a.   Ismail dan Siti Sarah                          c.   Ishaq dan Siti Sarah

b.   Ismail dan Siti Hajar                           d.   Ishaq dan Siti Sarah

A.   Interpretasi Soal, sesuai no. 4, 5, 6, 7, 8, 10, 11, 12 selain itu soal sesuai dengan:

-     Indikator, yaitu menjelaskan kisah Nabi Ismail as di Makkah dan dihuni bersama dengan ibunya yaitu Siti hajar (no. 1).

-     Pengecoh berfungsi (no. 2) dimana siswa dengan nilai rendah terkecoh dengan jawaban C dan D sedangkan siswa dengan nilai tinggi banyak yang menjawab B. Ismail dan Siti hajar yaitu sebanyak 9 orang dengan pop correct 0,750 = mudah.

-     No. 4 jawaban hanya 1 yaitu B. Ismail dan Siti Hajar.

B.   Interpretasi Option

Alternatif

Pop Endorsing

Biser

Point bBser

A

0,0     = -

-9,0 = tidak dapat dihitung

-9,0  = tidak dapat dihitung

B

0,75   = mudah

0,142 = ditolak

0,104  = ditolak

C

0,1  = sukar

0,538 = baik

0,315= diterima+diperbaiki

D

0,15   = sukar

-0,598 = ditolak

-0,391= ditolak

yang lain

0,0     = -

-9,00 = tidak dapat dihitung

-9,0  = tidak da-pat dihitung

 

C.   Interpretasi Kualitatif

I.    Soal

a.   Pop Correct (tingkat kesukaran) 0,75 = berarti proporsi siswa yang menjawab benar butir soal dalam kategori mudah.

b.   Biser (daya pembeda) 0,142 = ditolak, dengan koefisien positif  menunjukkan  bahwa peserta tes yang menjawab benar butir soal, mempunyai skor relatif tinggi.  

c.   Point Biser (daya pembeda) soal 0,104 ditolak.

II.   Alternatif Jawaban

a.   Pop Endorsing (tingkat kesukaran) jawaban benar B dalam kategori mudah, sedang pada B dan C sukar, namun yang paling sukar adalah D. Ishaq dan Siti Hajar sedang pada A tidak ada yang memilih.

b.   Biser (daya pembeda) pada jawaban B ditolak, meskipun ditolak namun koefisiennya positif berarti peserta tes yang menjawab benar butir soal mempunyai skor yang relatif tinggi dalam tes atau skla tersebut sedangkan pada B dan C dan D ditolak dengan koefisien negatif, begitu pula pada C dengan koefisien yang positif namun dalam kategori baik sedangkan pada D daya pembedanya ditolak dengan koefisien skor yang relatif rendah dalam tes atau skala tersebut dan hal ini memang sangat dikehendaki untuk pilihan jawaban lain (pengecoh).

c.   Point Biser (daya pembeda) A ditolak dapat ditolak pada B dan D ditolak, dan pada C diterima dan diperabiki.

 

17. Nabi yang disuruh khitan perama kali adalah…

a.   Isa                                                     c.   Ibrahim

b.   Ishaq                                                 d.   Ismail

A.   Interpretasi Soal, sesuai no. 4, 5, 6, 7, 8, 10, 11, 12 selain itu soal sesuai dengan:

-     Indikator, yaitu menjelaskan kisah hidup Nabi Ismail as termasuk ia adalah Nabi yang disuruh khitan pertama (no.2).

-     Pengecoh berfungsi (no. 2) dimana siswa dengan nilai rendah terkecoh dengan jawaban A dan D sedangkan siswa dengan nilai tinggi banyak yang menjawab C yaitu sebanyak 11 siswa.

-     No. 4 jawaban hanya 1 yaitu C. Ibrahim.

 

B.   Interpretasi Option

Alternatif

Pop Endorsing

Biser

Point Biser

A

0,15     = sukar

-0,598 = ditolak

-0,391  = ditolak

B

0,70   = -

-9,0 = tidak dapat dihitung

-9,0  = tidak dapat dihitung

C

0,75  = mudah

0,496 = baik

0,364= diterima+diperbaiki

D

0,1   = sukar

-0,103 = ditolak

-0,06= ditolak

yang lain

0     = -

-9,0 = tidak dapat dihitung

-9,0  = tidak dapat dihitung

 

C.   Interpretasi Kualitatif

I.    Soal

a.   Pop Correct (tingkat kesukaran) 0,75 = berarti proporsi siswa yang menjawab benar butir soal dalam kategori mudah.

b.   Biser (daya pembeda) 0,496 = baik, indeks koefisien positif  menunjukkan  siswa yang menjawab benar butir soal, mempunyai skor relatif tinggi dalam tes atau skala tersebut. 

c.   Point biser (daya pembeda) soal baik = 0, 364.

II.   Alternatif Jawaban

a.   Pop Endorsing (tingkat kesukaran) jawaban benar C mudah, sedangkan jawaban pengecoh A dan D dalam kategori sukar namun yang lebih sukar adalah D. Ismail.

b.   Biser (daya pembeda) pada jawaban C. Ibrahim baik, namun koefisiennya positif menunjukkan peserta tes yang menjawab benar butir soal mempunyai skor yang relatif tinggi dalam tes atau skala tersebut sedangkan jawaban pengecoh A dan C sama-sama ditolak dengan koefisien negatif yang menunjukkan peserta tes yang menjawab benar B. soal memperoleh skor yang relatif rendah dalam tes atau skala tersebut dan ha ini memang dikehendaki untuk jawaban lain (pengecoh).   

c.   Point biser (daya pembeda) pada A dan D ditolak pada C diterima namun diperbaiki dan pada B tidak dapat dihitung.

18. Nabi Ibrahim dan Ismail membangun ka’bah di ….

a.   Makkah                                            c.   Mesir

b.   Madinah                                            d.   Irak

A.   Interpretasi Soal, sesuai no. 4, 5, 6, 7, 8, 10, 11, 12 selain itu soal sesuai dengan:

-     Indikator, yaitu “ menjelaskan kisah hidup Nabi Ibrahim  termasuk membangun  ka’bah dan Makkah dan menjelaskan kisah Nabi Ismail di Makkah “ ( no 1)

-     Pengecoh berfungsi (no. 2) dimana siswa dengan nilai rendah terkecoh dengan jawaban sedangkan siswa dengan nilai tinggi banyak yang menjawab A  sebanyak 13 siswa.

-     No. 4 jawaban hanya 1 yaitu A makkah

B.   Interpretasi Option

Alternatif

Pop Endorsing

Biser

Point Biser

A

0,19     = mudah

-0,473 =  baik

0,435  = baik

B

0,05     =  skor

-0.007 = ditolak

-0,041 = ditolak

C

0,05     =  skor

1,00    = ditolak

-0,557 = ditolak

D

0,0       =  -

-9,0     = tidak

dapat di hitung

-0,06   = ditolak

yang lain

0,0       = -

-9,0 = tidak dapat dihitung

-9,0  = tidak dapat dihitung

 

C.   Interpretasi Kualitatif

I.    Soal

a.   Pop correct (tingkat kesukaran) 0,9 = berarti proporsi siswa yang menjawab benar butir soal dalam kategori mudah.

b.   Biser (daya pembeda) 0,743 = baik, indeks koefisien positif  menunjukkan  siswa yang menjawab benar butir soal, mempunyai skor relatif tinggi dalam tes atau skala tersebut

c.   Point biser (daya pembeda) soal baik = 0, 435

II.   Alternatif Jawaban

a.   Pop Endorsing (tingkat kesukaran) jawaban benar A mudah, sedangkan jawaban pengecoh A dan B adalah sukar

b.   Biser (daya pembeda) jawaban benar A. baik, dengan koefisien positif menunjukkan peserta tes yang menjawab benar butir soal mempunyai skor yang relatif tinggi dalam tes atau skala tersebut B dan C setelah dengan koefisien negatif yang menunjukkan peserta tes yang menjawab benar butir soal mempunyai skor yang relatif rendah dalam tes atau skala tersebut dan hal ini memang dikehendaki untuk jawaban lain (pengecoh).  

c.   Point Biser (daya pembeda) pada A baik, pada B dan C ditolak  dan pada D tidak dapat dihitung.

19. Yang menolong Nabi Ibrahim ketika di hukum raja namrud adalah……  

a    Allah                                                 c.   Ismail

b.   raja Namrud                                     d.   Ishaq

A.   Interpretasi Soal, sesuai no. 4, 5, 6, 7, 8, 10, 11, 12 selain itu soal sesuai dengan:

-     Indikator, yaitu “ menjelaskan kisah hidup Nabi Ibrahim  termasuk membangun  ka’bah dan makkah dan menjelaskan kisah Nabi Ismail di makkah “ ( no 1)

-     Pengecoh berfungsi (no. 2) dimana siswa dengan nilai rendah terkecoh dengan jawaban sedangkan siswa dengan nilai tinggi banyak yang menjawab A  sebanyak 13 siswa.

-     No. 4 jawaban hanya 1 yaitu A Makkah

 

C    Interpretasi Option

Alternatif

Pop Endorsing

Biser

Point Biser

A

0,19     = mudah

-0,473 = baik

0,435  = baik

B

0,05     =  skor

-0.007 = ditolak

-0,041 = ditolak

C

0,05     =  skor

1,00    = ditolak

-0,557 = ditolak

D

0,0       =  -

-9,0    = tidak dapat di hitung

-0,06   = ditolak

yang lain

0,0       = -

-9,0    = tidak dapat dihitung

-9,0      = tidak

dapat dihitung

 

C.   Interpretasi Kualitatif

I.    Soal

a.   Pop correct (tingkat kesukaran) 0,9 = berarti proporsi siswa yang menjawab benar butir soal dalam kategori mudah.

b.   Biser (daya pembeda) 0,743 = baik, indeks koefisien positif  menunjukkan  siswa yang menjawab benar butir soal, mempunyai skor relatif tinggi dalam tes atau skala tersebut. 

c.   Point biser (daya pembeda) soal baik = 0, 435

II.   Alternatif Jawaban

a.   Pop Endorsing (tingkat kesukaran) jawaban benar A mudah, sedangkan jawaban pengecoh A dan B adalah sukar

b.   Biser (daya pembeda) jawaban benar A. baik, dengan koefisien positif menunjukkan peserta tes yang menjawab benar butir soal mempunyai skor yang relatif tinggi dalam tes atau skala tersebut B dan C setelah dengan koefisien negatif yang menunjukkan peserta tes yang menjawab benar butir soal mempunyai skor yang relatif rendah dalam tes atau skala tersebut dan hal ini memang dikehendaki untuk jawaban lain (pengecoh).  

c.   Point biser (daya pembeda) pada A baik, pada B dan C ditolak  dan pada D tidak dapat dihitung.

20. Istri kedua Nabi Ibrahim bernama…….

a.   Siti Sarah                                           c.   Siti Saudah

b.   Siti Hajar                                           d.   Siti Fatimah

A.   Interpretasi Soal, sesuai no. 4, 5, 6, 7, 8, 10, 11, 12 selain itu soal sesuai dengan:

-     Indikator, yaitu “ menjelaskan kenangan Nabi Ibrahim  As disaat adalah   istrinya yang kedua yaitu Siti Hajar  “ ( no 1)

-     Pengecoh berfungsi (no. 2) dimana siswa dengan nilai rendah terkecoh dengan jawaban D Siti Fatimah sedangkan siswa dengan nilai tinggi banyak yang menjawab A  sebanyak 13 siswa.

-     No. 4 jawaban hanya 1 yaitu D Siti Hajar

B.   Interpretasi Option

Alternatif

Pop Endorsing

Biser

Point Biser

A

0,05    = sukar

0,567 = baik

0,268 = diperbaiki

B

0,8      =  mudah

0.691 = baik

0,484  = baik

C

0,0      =  -

-9,0   = tidak dapat dihitung

-9,0     = tidak

dapat dihitung

D

0,15    =  sukar

-1,0    = ditolak

-0,706  = ditolak

yang lain

0,0      = -

-9,0    = tidak dapat dihitung

-9,0      = tidak

dapat dihitung

 

C.   Interpretasi Kualitatif

I.    Soal

a.   Pop correct (tingkat kesukaran) 0,8 = berarti proporsi siswa yang menjawab benar butir soal dalam kategori mudah.

b.   Biser (daya pembeda) 0,691= baik, karena  indeks koefisien positif  menunjukkan  siswa yang menjawab benar butir soal, mempunyai skor relatif tinggi dalam tes atau skala tersebut. 

c.   Point biser (daya pembeda ) 0, 484= baik

II.   Alternatif jawaban

a.   Pop endorsing (tingkat kesukaran) jawaban benar B mudah, sedangkan jawaban D dan D sama- sama sukar  namun yang paling sukar adalah  A Siti sarah.

b.   Biser (daya pembeda) jawaban benar B. baik, jawaban pengecoh  A  juga baik dengan  koefisien positf nenunjukkan  peserta tes yang menjawab benar butir soal  mempunyai skor yang relatif tinggi  dalam tes skala tersebut. Dan skala pada C  tidak dapat dihitung dan pada  D ditolak dengan koefisien negatif, menunjukkan peserta  tes yang menjawab benar butir soal memperoleh skor yang relatif rendah dalam tes skala tersebut. Hal ini memang dikehendaki untuk jawaban lain ( pengecoh) 

c.   Point biser (daya pembeda) pada A diperbaiki, pada B baik dan  D ditolak.

Dari data-data diatas maka dapat diringkas bahwa:

1.   N of items (jumlah soal yang dianalisir) sebanyak 20 soal.

2.   N of examines (jumlah siswa) sebanyak 20 siswa.

3.   Mean (rata-rata jawaban benar) 14,4.

4.   Varience (penyebaran distribusi jawaban benar) = 4,940

5.   Std. Dev (standar Deviasi atau akar varience) 3,113

6.   Skew (kencenderungan kurva atau bentuk destribusi) = – 0,783

7.   Kurtosis (tingkat pemuncakan kurva) = -0,2 dengan distribusi lebih mendatar.

8.   Minimum (skor minimum siswa dari 20 siswa )= 9,0

9.   Maximum ( skor maksimum ) 17,0

10. Median (skor tengah )15,0

11. Alphal reliabilitas skor tes atau = 0,264

12. SEM (standar kesalahan pengukuran) = 1,906

13. Mean p (rf = tingkat kesukaran) = 0,720

14. Mean item-tot 9nilai rf indeks daya pembeda) = 0,258

15. mean biserial (rata-rata korelasi biserial) = 0,359

FacebookTwitterGoogle+LinkedIn

Gallery

slide3 slide2 slide1
FacebookTwitterGoogle+LinkedIn