Archive for : January, 2009

MANAJEMEN KURIKULUM DAN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN ISLAM

BAB I

PENDAHULUAN

Oleh: Afiful Ikhwan

A. Latar Belakang Masalah

Kurikulum pendidikan agama Islam adalah bahan-bahan pendidikan agama Islam berupa kegiatan, pengetahuan dan pengalaman yang dengan sengaja dan sistematis diberikan kepada siswa dalam rangka mencapai tujuan Pendidikan Agama Islam. Kurikulum Pendidikan Agama Islam merupakan alat untuk mencapai tujuan Pendidikan Agama Islam. Cakupan meteri Pendidikan Agama Islam itu sendiri adalah : Al-Qur’an dan Hadist, keimanan, akhlak, fiqh/ibadah dan sejarah.

Kurikulum ini juga terbagi dari banyak pengertian dan pembahasan, seperti dipandang dari pengertian secara tradisionil, modern, masa kini dan lain sebagainya.

Dalam makalah ini kami penyaji akan membahas tentang manajemen kurikulum dan pembelajaran pendidikan agama Islam secara singkat, jelas dan mudah dipahami oleh pembaca.

B. Rumusan Masalah

Apakah kurikulum pendidikan agama Islam itu ?
Apa saja komponen-komponen kurikulum itu ?
Apa yang dimaksud dengan organisasi kurikulum ?
Apa saja prinsip-prinsip kurikulum pendidikan Islam itu ?

C. Tujuan Masalah

Agar pembaca mengetahui tentang kurikulum pendidikan agama Islam.
Agar pembaca mengetahui komponen-komponen kurikulum.
Agar pembaca mengetahui yang dimaksud dengan organisasi kurikulum.
Agar pembaca mengetahui prinsip-prinsip kurikulum pendidikan Islam.

BAB II

PEMBAHASAN

MANAJEMEN KURIKULUM DAN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN ISLAM

A. Pengertian Kurikulum

Kata kurikulum berasal dari bahasa Yunani, yaitu Curere : jaarak terjauh lari. Pengertiannya dalam dunia pendidikan : suatu lingkaran pengajaran dimana guru dan murid terlibat didalmnya.

Adapun makna simentik kurikulum dikelompokkan menjadi tiga, yaitu : tradisional, modern dan masa kini (Up to Date).

1. Secara tradisional : kurikulum adalah mata pelajaran yang diajarkan disekolah atau bidang studi.

2. Modern : semua pengalaman actual yang dimiliki siswa dibawah pengaruh sekolah.

3. Masa kini : strategi yang digunakan untuk mengadaptasikan pewarisan kultural dalam mencapai tujuan sekolah.[1]

Kurikulum pendidikan agama Islam ialah : bahan-bahan pendidikan agama Islam berupa kegiatan, pengetahuan dan pengalaman yang dengan sengaja dan sistematis diberikan kepada siswa dalam rangka mencapai tujuan Pendidikan Agama Islam.

B. Komponen-Komponen Kurikulum

1. Kurikulum merupakan suatu rencana,

2. Kurikulum merupakan pengaturan,

3. Kurikulum mememuat isi bahan pelajaran,

4. Kurikulum memiliki metode penyampaian pengajaran,

5. Kurikulum adalah pedoman KBM,

6. Dan kurikulum ialah salah satu alat pendidikan.[2]

Pendapat lain tentang kurikulum :

a) Komponen Tujuan : tujuan yang ingin dicapai oleh sekolah dan tujuan yang ingin dicapai oleh setiap bidang studi,

b) Komponen Materi : Isi dan struktur program,

c) Komponen strategi : pelaksanaan suatu kurikulum terlihat dari cara yang ditempuh dalam melaksanakan pengajarannya.

d) Komponen Evaluasi : dinilai terus menerus serta menyeluruh terhadap bahan atau program pengajaran sebagai feedback terhadap tujuan, materi, metode, sarana, dll dalam rangka membina dan mengembangkan kurikulum lebih lanjut.

C. Organisasi Kurikulum

Organisasi kurikulum : pola atau bentuk penyusunan bahan pelajaran yang akan disampaikan kepada murid-murid. Pola-pola pengorganisasian kurikulum ada empat macam :

Kurikulum yang menyajikan segala bahan (subjects) pelajaran dalam berbagai macam mata pelajaran yang terpisah-pisah satu sama lain, seakan-akan ada batas pemisahnya antar mata pelajaran.
Adanya hubungan yang bersangkut paut antara mata pelajaran satu dengan yang lain.
Meniadakan batasan antara berbagai mata pelajaran dan menyajikan bahan pelajaran dalam bentuk unit atau keseluruhan.
Kurikulum inti yang diberikan kepada semua siswa untuk mencapai keseluruhan program kurikulum secara utuh. Contoh : Agama dan PPKN.

D. Prinsip-Prinsip Kurikulum Pendidikan Islam

Pendidikan Islam dibangun atas dasar pemikiran yang Islami, bertolak dari pandangan hidup dan pandangan tentang manusia, serta diarahkan kepada tujuan pendidikan yang dilandasi kaidah-kaidah Islam. Prinsipnya sebagai berikut :

Sistem dan pengembangan kurikulum hendaknya memperhatikan fitrah manusia,
Hendaknya mengacu kepada pencapaian tujuan akhir pendidikan Islam,
Kurikulum disusun secara bertahap mengikuti periodesasi perkembangan peserta didik,
Kurikulum hendaknya memperhatikan kepentingan nyata masyarakat seperti kesehatan, keamanan, administrasi dan pendidikan khususnya.
Kurikulum hendaknya terstruktur dan terorganisir secara integral,
Kurikulum hendaknya realistis, artinya : kurikulum dapat dilaksanakan sesuai dengan berbagai kemudahan yang dimiliki setiap negara yang melaksanakannya,
Metode pendidikan yang merupakan salah satu komponen kurikulum hendaknya dapat disesuaikan dengan kondisi dan situasi lokal,
Efektif untuk mencapai tingkah laku dan emosi yang positif,
Memperhatikan tingkat perkembangan peserta didik, baik fisik, emosional ataupun intelektualnya,
Kurikulum hendaknya memperhatikan aspek-aspek tingkah laku alamiah Islam.[3]

Sepuluh prinsip kurikulum yang dikemukakan oleh Abdurrahman Al-Nahlawi diatas tampaknya sudah meliputi apa yang secara teknis disebut landasan kurikulum (yakni filosofis, dan landasan sosial) dan prinsip-prinsip umum kurikulum. Kemudian yang dimaksud dengan prinsip-prinsip umum kurikulum ialah prinsip relevandi, fleksibelitas, kontiniutas, praktis atau efisiensi dan prinsip efektivitas.

Dan menurut Al-Syaibani, prinsip umum yang menjadi dasar kurikulum pendidikan Islam sebagai berikut :

1. Pertautan yang sempurna dengan agama,

2. Prinsip yang universal pada tujuan-tujuan dan kandungan-kandungan kurikulum,

3. Keseimbangan yang relative antara tujuan-tujuan dan kandungan-kandungan kurikulum,

4. Kurikulum pendidikan Islami berprinsip pada keterkaitan dengan bakat, minat, kemampuan dan kebutuhan peserta didik,

5. Kurikulum pendidikan Islami mengakui adanya perbedaan-perbedaan individual diantara para peserta didik,

6. Prinsip berkembang dan perubahan selaras dengan kemashlahatan masyarakat Islam,

7. Prinsip pertautan antar mata pelajaran, pengalaman, dan aktivitas yang terkandung dalam kurikulum.[4]

E. Manajemen Kurikulum dan Program Pengajaran Pendidikan Islam

Manajemen Kurikulum dan program pengajaran pendidikan Islam mencakup kegiatan perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian kurikulum. Didalam sekolah Islam yang paling penting adalah bagaimana merealisasikan dan menyesuaikan kurikulum tersebut dengan kegiatan pembelajaran. Dan sekolah Islam juga berwenang untuk mengembangkan kurikulum muatan lokal sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan lingkungan setempat.

Untuk menjamin efektivitas pengembangan kurikulum dan program pengajaran dalam manajemen pendidikan Islam, kepala sekolah sebagai pengelola program pengajaran bersama dengan guru-guru harus menjabarkan isi kurikulum secara lebih rinci dan operasional kedalam program tahunan, catur wilan dan bulanan. Adapun program mingguan atau program satuan pelajaran, wajib dikembangkan guru sebelum melakukan kegiatan belajar-mengajar. Berikut rincian bebrapa prinsip yang harus diperhatikan :

1. Tujuan yang dikehendaki harus jelas, makin operasional tujuan, makin mudah terlihat dan makin tepat program-program yang dikembangkan untuk mencapai tujuan,

2. Program itu harus sederhana dan fleksibel,

3. Program-program yang disusun dan dikembangkan harus sesuai dengan tujuan yang ditetapkan,

4. Program yang dikembangkan harus menyeluruh dan jelas pencapaiannya,

5. Harus ada koordinasi antar komponen pelaksana program disekolah.[5]

BAB III

P E N U T U P

A. Kesimpulan

· Kurikulum pendidikan agama Islam ialah : bahan-bahan pendidikan agama Islam berupa kegiatan, pengetahuan dan pengalaman yang dengan sengaja dan sistematis diberikan kepada siswa dalam rangka mencapai tujuan Pendidikan Agama Islam.

· Komponen-Komponen Kurikulum : Komponen Tujuan, Komponen Materi, Komponen strategi dan Komponen Evaluasi.

· Prinsip-prinsip kurikulum pendidikan Islam : Sistem dan pengembangan kurikulum hendaknya memperhatikan fitrah manusia, Hendaknya mengacu kepada pencapaian tujuan akhir pendidikan Islam, Kurikulum disusun secara bertahap mengikuti periodesasi perkembangan peserta didik, Kurikulum hendaknya memperhatikan kepentingan nyata masyarakat, Kurikulum hendaknya terstruktur dan terorganisir secara integral, Kurikulum hendaknya realistis, Metode pendidikan yang merupakan salah satu komponen kurikulum hendaknya dapat disesuaikan dengan kondisi dan situasi lokal, Efektif untuk mencapai tingkah laku dan emosi yang positif, Memperhatikan tingkat perkembangan peserta didik, Kurikulum hendaknya memperhatikan aspek-aspek tingkah laku alamiah Islam.

B. Kritik dan Saran

Makalah ini belum pada taraf kesempurnaan. Kami tidak menutup masukan-masukan dari teman-teman yang kiranya membangun demi kesempurnaan makalah kami selanjutnya.

C. Harapan

Dengan adanya pembahasan ini diharapkan dapat memberikan wawasan dan tambahan ilmu kepada kita semua sehingga dapat lebih mengerti dan memahami tentang manajemen kurikulum dan pembelajaran pendidikan Islam.

DAFTAR PUSTAKA

Sulistyorini, Manajemen Pendidikan Islam, Surabaya : eLKAF, 2006.

Malik Oemar, Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum, Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2007, h. 3.

Muhaimin, Konsep Pendidikan Islam, Solo : C.V Ramadhani, 1991, h. 33.

[1]Sulistyorini, Manajemen Pendidikan Islam, Surabaya : eLKAF, 2006, h. 28.

[2] Malik Oemar, Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum, Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2007, h. 3.

[3] Sulistyorini, Manajemen Pendidikan Islam……, h. 41.

[4] Muhaimin, Konsep Pendidikan Islam, Solo : C.V Ramadhani, 1991, h. 33.

[5] Sulistyorini, Manajemen Pendidikan Islam……, h. 44.

FacebookTwitterGoogle+LinkedIn

Pragmatisme

PENDAHULUAN

Oleh: Afiful Ikhwan*

1.1. Latar Belakang

Perkembangan filsafat abad ke-20 ditandai oleh munculnya berbagai aliran filsafat, dan kebanyakan dari aliran itu merupakan kelanjutan dari aliran-aliran filsafat yang telah berkembang pada abad modern, seperti: neo-thomisme, neo-kantianisme, neo-hegelianisme, neo-marxisme, neo-positivisme, dan sebagainya. Namun demikian, ada juga aliran filsafat yang baru dengan cirri dan corak yang lain sama sekali, seperti: fenomenologi, eksistensialisme, pragmatisme, strukturalisme, dan yang mutakhir adalah aliran postmodernisme. (Musyansir, 1999: 90)

Pada bagian ini hanya membicarakan tentang aliran pragmatisme dan tokoh yang paling berpengaruh di dalamnya.

Pragmatisme merupakan gerakakan filsafat Amerika yang menjadi terkenal selama satu abad terakhir. Aliran filsafat ini merupakan suatu sikap, metoe, dan filsafat yang memakai akibat-akibat praktis dari pikiran dan kepercayaan sebagai ukuran untuk menetapkan nilai kebenaran.

1.2. Rumusan Masalah

Apa yang dimaksud dengan pragmatisme?

Bagaimana pemikiran William James dalam filsafat?

Bagaimana pemikiran John Dewey dalam filsafat?

1.3. Tujuan

Menjelaskan definisi tentang pragmatisme

Menjelaskan tentang pemikiran William James

Menjelaskan tentang pemikiran John Dewey

PEMBAHASAN

Pragamtisme berasal dari bahasa yunani, yaitu pragma yang berarti guna, tindakan, atau perbuatan. Satu-satunya ukuran bagi berpikir ialah gunanya. Jadi, pengertian atau keputusan itu benar, jika pada praktek dapat dipergunakan.

Pragmatisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa yang benar apa yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan perantara akibat-akibatnya yang bermanfaat secara praktis. Aliran ini bersedia menerima segala sesuatu, asal saja membawa akibat praktis. Pengalaman-pengalaman pribadi, kebenaran mistis semua bisa diterima sebagai kebenaran dan dasar tindakan asalkan membawa akibat yang praktis yang bermanfaat. Dengan demikian, patokan pragmatisme adalah “manfaat bagi hidup praktis”. (Praja, 2005: 171)

Kelompok pragmatisme bersikap kritis terhadap sistem-sistem filsafat sebelumnya seperti bentuk-bentuk aliran materialisme, idealisme, dan realisme. Mereka mengatakan bahwa pada masa lalu filsafat telah keliru karena mencari hal-hal mutlak, yang ultimate, esensi-esensi abadi, substansi, prinsip yang tetap an sistem kelompok empiris, dunia yang berubah serta problema-problemanya, dan alam sebagai sesuatu dan manusia tidak dapat melangkah keluar keluar dari padanya.

Di bawah ini adalah beberapa tokoh atau ahli pikir yang dapat dimasukkan pada golongan penganut pragmatisme, yaitu:

2.1. William James (1842-1910 M)

William James dilahirkan di New York pada tahun 1842 M, dan dosen di Harvard University dalam mata kuliah anatomi, fisiologi, psikologi dan dan filsafat. Karya-karyanya antara lain, The Principles of Psychlogy (1890), The Will to Believe (1897), The Varietes of Riligious Experience (1902), dan Pragmatism (1907)

Ia memandang pemikirannya sendiri sebagai kelanjutan empirisme Inggris, namun empirismenya bukan merupakan upaya untuk menyusun kenyataan berdasarkan atas fakta-fakta lepas sebagai hasil pengamatan. James membedakan dua macam bentuk pengetahuan, pertama: pengetahuan yang langsung diperoleh dengan jalan pengamatan, kedua: merupakan pengetahuan tidak langsung yang diperoleh dengan malalui pengertian. (Mustasyir, 1999: 95)

Pemikiran yang dicetuskannya adalah aliran atau paham yang menitik beratkan bahwa kebenaran ialah apa yang membuktikan dirinya sebagai yang benar dengan memperhatikan kegunaanya secara praktis.

Di dalam bukunya “The Meaning of Truth” James mengemukakan, bahwa tiada kebenaran yang mutlak, yang berlaku umum, yang bersifat tetap, yang berdiri sendiri, lepas dari akal yang mengenal. Sebab pengalaman kia berjalan terus, dan segala yang kita anggap benar dalam perkembangan pengalaman itu senantiasa berubah, karena di dalam prakteknya apa yang benar dapat dikoreksi oleh pengalaman berikutnya. (Sudarsono, 2001: 337)

Di dalam bukunya, The Varietes of Riligious Experience, James mengemukakan bahwa gejala-gejala keagamaan itu berasal dari kebutuhan-kebutuhan perorangan yang tidak disadari, yang mengungkapkan diri di dalam kesadaran dengan cara yang berlainan. (Praja, 2005: 172).

Tentang definisi agama, James mengambil definisi psikologi, bahwa agama merupakan perasaan, tindakan, dan pengalaman manusia individual dalam kesunyian bersama Yang Maha Tinggi. Intinya kepercayaan pada ketinggian. Ia mengatakan bahwa agama itu perlu karena berguna bagi kehidupan manusia, membuat orang jadi lebih baik.

Ada kebenaran yang yang dapat di uji secara epiris, ada kebenaran yang hanya di uji secara logis, bahkan ada kebenaran yang hanya dapat di uji dengan kekuatan rasa.

Bagi James, pengertian atau putusan itu benar, jika pada praktek dapat dipergunakan. Putusan yang tak dapat dipergunakan itu keliru. Pengertian atau keputusan itu benar, tidak saja jika terbukti artinya dalam keadaan jasmani ini, akan tetapi jika bertindak (dapat dipergunakan) dalam ilmu, seni, dan agama. (Poedjawijatna, 1980: 128)

2.2. John Dewey (1859-1952 M)

Dewey lahir di Baltimore dan kemudian menjadi guru besar dalam bidang filsafat dan kamudian juga di bidang pendidikan di Chicago (1894-1904) dan akhirnya di Universitas Colombia (1904-1929).

Dewey adalah seorang pragmatis. Menurutnya, filsafat bertujuan untuk memperbaiki kehidupan manusia serta lingkungannya atau mengatur kehidupan manusia serta aktifitasnya untuk memenuhi kebutuhan manusiawi. (Praja, 2005: 173)

Bagi John Dewey, manusia itu bergerak dalam kesunguhan yang selalu berubah. Jika Ia sedang menghadapi kesulitan, maka mulailah ia berpikir untuk mengatasi kesulitan itu. Jadi, berpikir tidaklah lain daripada alat untuk bertindak. Pengertian itu lahir dari pengalaman. ((Poedjawijatna, 1980: 128)

Pandangannya mengenai filsafat sangat jelas bahwa filsafat memberi pengaruh global bagi tindakan dalam kehidupan secara riil. Filsafat harus bertitik tolak pada pada pengalaman, penyelidikan, dan mengolah pengalaman secara aktif dan kritis. Oleh karena iu, filsafat tidak boleh tenggelam dalam pemikiran yang metafisis yang tidak ada gunanya.

Pandangan tentang penyelidikan, benar ialah apa yang pada akhirnya disetujui oleh semua orang yang menyelidikinya. Kebenaran ditegaskan dalam istilah-stilah penyelidikan. Segala pernyataan yang kita anggap benar pada dasarnya dapat berubah. ((Sudarsono, 2001: 339)

Mengenal adalah berbuat. Satu-satunya cara yang dapat dipercaya untuk mengatur pengalaman dan untuk mengetahui artinya yang sebenarnya adalah metode induktif. Metode ini bukan hanya berlaku bagi ilmu pengetahuan fisika, melainkan juga bagi persoalan-persoalan social dan moral.

Menurut Dewey, kita ini hidup dalam dunia yang belum selesai penciptaannya. Sikap Dewey dapat dipahami dengan sebaik-baiknya dengan meneliti tiga aspek dari yang kita namakan instrumentalisme. Pertama, kata “temporalisasi” yang berarti bahwa ada gerak dan kemajuan nyata dalam waktu. Kedua, kata “futurisme” mendorong kita untuk melihat hari esok dan tidak pada hari kemarin. Ketiga, kata “milionarisme” berarti bahwa dunia dapat dibuat lebih baik dengan tenaga kita.

KESIMPULAN

Pragmatisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa yang benar apa yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan perantara akibat-akibatnya yang bermanfaat secara praktis.

James (1842-1910 M), mengemukakan, bahwa tiada kebenaran yang mutlak, yang berlaku umum, yang bersifat tetap, yang berdiri sendiri, lepas dari akal yang mengenal. Sebab pengalaman kia berjalan terus, dan segala yang kita anggap benar dalam perkembangan pengalaman itu senantiasa berubah, karena di dalam prakteknya apa yang benar dapat dikoreksi oleh pengalaman berikutnya. Menurutnya, pengertian atau putusan itu benar, jika pada praktek dapat dipergunakan. Putusan yang tak dapat dipergunakan itu keliru.

John Dewey (1859-1952 M), menyatakan bahwa, manusia itu bergerak dalam kesunguhan yang selalu berubah. Jika Ia sedang menghadapi kesulitan, maka mulailah ia berpikir untuk mengatasi kesulitan itu. Jadi, berpikir tidaklah lain daripada alat untuk bertindak. Pengertian itu lahir dari pengalaman. Pandangannya mengenai filsafat sangat jelas bahwa filsafat memberi pengaruh global bagi tindakan dalam kehidupan secara riil. Filsafat harus bertitik tolak pada pada pengalaman, penyelidikan, dan mengolah pengalaman secara aktif dan kritis.

DAFTAR PUSTAKA

Musytansyir, Rizal dan Misnal Munir. 1999. Filsafat Ilmu. Bandung: Pustaka Setia

Poedjawijatna. 1980. Pembimbing kearah Alam Filsafat. Jakarta: Pustaka Sarjana

Praja, Juhaya S. 2005. Aliran-aliran Filsafat dan Etika. Jakarta: Predana Media

Sudarsono. 2001. Ilmu Filsafat, Suatu Pengantar. Jakarta: Rineka Cipta

*) Penulis adalah mahasiswa S1 STAIN Tulungagung – Jatim

FacebookTwitterGoogle+LinkedIn

Puasa ‘Asyura

Oleh: Afiful Ikhwan*

Azh-Zhain bin Al-Mughirah berkata : “Pendapat terbanyak mengatakan bahwa yang dimaksud ‘Asyura adalah tanggal sepuluh pada bulan Muharram, dan pendapat ini lebih sesuai jika dilihat dari akar katanya dan penamaannya.

Hukum Puasa ‘Asyura

Para ulama sepakat bahwa hukum puasa ‘Asyura adalah sunnah, dan mereka berbeda pendapat mengenai hukumnya pada masa permulaan Islam tatkala disyariatkan sebelum disyariatkannya puasa Ramadhan. Abu Hanifah berpendapat bahwa pada awalnya diwajibkan kemudian dihapus, dan diriwayatkan dari Imam Ahmad akan sunnahnya, begitu juga ucapan jumhur ulama, karena Rasulullah SAW tidak memerintahkan secara umum tentang puasa tersebut, bahkan beliau bersabda :

{ هذا يوم عاشوراء, وأنا صائم فيه, فمن شاء صام ومن شاء أفطر {

“ Hari ini adalah hari ‘Asyura, dan saya puasa pada hari tersebut, siapa yang suka maka hendaklah dia puasa dan siapa yang suka dia berbuka “

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata :

“ Disunnahkan bagi yang puasa pada hari ‘Asyura untuk berpuasa pada tanggal sembilannya, karena hal tersebut adalah perintah rasulullah saw yang paling akhir”.

Hikmah Puasa ‘Asyura dan Puasa Tanggal Sembilannya.

Adapun puasa tanggal sembilannya adalah untuk menjaga puasa ‘Asyura, juga untuk menunjukkan sikap berbeda dari orang-orang Yahudi yang juga berpuasa hanya pada hari itu saja. Dengan menggabungkan kedua hari itu maka syariat tersebut menjadi berbeda dari ajaran Yahudi. Adapun puasa ‘Asyura itu sendiri karena pada hari tersebut terjadi beberapa kejadian yang baik, diantaranya : Selamatnya Musa alaihissalam dan para pengikutnya serta tenggelamnya musuh Allah, Fir’aun beserta kaumnya, begitu juga terjadinya beberapa tanda-tanda kebesaran Allah terhadap makhluknya, sesuatu yang layak untuk di syukuri.

Keutamaan Puasa ‘Asyura.

Terdapat riwayat dalam shahih Muslim dari Abi Qatadah bahwa seseorang bertanya kepada Rasulullah saw tentang puasa ‘Asyura, maka beliau bersabda : “Saya berharap agar ‘Allah menghapus dosa-dosa setahun sebelumnya “

Urutan Derajat Puasa ‘Asyura

Derajat pertama dan yang paling utama, adalah dengan melakukan puasa tiga hari, yaitu tanggal sembilan, sepuluh dan sebelas.

Derajat kedua, yaitu berpuasa pada tanggal sembilan dan sepuluhnya, sebagaimana yang terdapat dalam riwayat Muslim dari Ibnu Abbas radiallahuanhu, dia berkata : Rasulullah saw bersabda : “Jika saya masih ada pada tahun depan, saya akan berpuasa pada tanggal sembilannya (bersama tanggal sepuluh)”, dan dari Ibnu Abbas juga, beliau bersabda “ Puasalah kalian pada tanggal sembilan dan sepuluh, bedakanlah dari orang-orang Yahudi ”.Derajat ketiga, yaitu dengan berpuasa hanya pada tanggal sepuluhnya saja, sebagaimana dari Ibnu Abbas dia berkata : “Kami diperintahkan Rasulullah saw untuk berpuasa pada hari ‘Asyura”

Apa Derajat Yang Paling Utama ?

Yang paling utama dari ketiga derajat tersebut adalah derajat yang pertama, karena berpuasa pada hari-hari tersebut akan mendapatkan beberapa manfaat, diantaranya:

- Akan mendapatkan ganjaran puasa sebuan penuh, sebagaimana hadits Abdullah bin Amr bin Ash radialluhanhu, dia berkata, Rasulullah saw bersabda : “tiga hari pada setiap bulan bagaikan puasa selamanya “.

- Karena puasa pada bulan ini adalah puasa yang utama setelah puasa Ramadhan, sebagaimana hadits Ibnu Abbas radiallahunhu, dia berkata : “Aku tidak pernah melihat Rasulullah saw memperhatikan sebuah puasa dan mengutamakannya atas yang lainnya, kecuali hari ini, yaitu hari ‘Asyura, dan bulan ini, yaitu bulan Ramadhan “.

- Menunjukkan sikap berbeda dari orang-orang Yahudi, sebagaimana hadits Ibnu Abbas : “Berpuasalah kalian sehari sebelumnya dan sehari sesudahnya “.

- Mengikuti jejak Rasulullah saw yang merupakan sunnahnya dengan mengamalkannya dan mendakwahkannya, sebagai bentuk ibadah yang utama kepada Allah swt.

- Dapat menghapus dosa-dosa setahun penuh, berdasarkan hadits Qatadah radiallahunhu, dia berkata, Rasulullah saw bersabda : ”Dan hari ‘Asyura dapat menghapus (dosa-dosa) setahun sebalumnya “.

Akhi yang saya cintai, ada yang ingin saya saya sampaikan kepada anda: Walaupun bulan puasa (bulan Ramadan) telah berlalu, akan tetapi waktu beramal tetap ada, begitu juga dengan berpuasa, tetap disyariatkan setiap waktu -segala puji bagi Allah-. Rasulullah saw berpuasa pada hari ‘Asyura dan beliau memerintahkan untuk berpuasa sebelum disyariatkannya puasa Ramadhan. Sesungguhnya puasa ‘Asyura adalah sunnah dari Rasulullah, jika diamalkan dan didakwahkan dengan ucapan dan perbuatan, maka hal tersebut merupakan ibadah yang sangat utama kepada Allah, karena siapa yang menghidupkan sunnah, mengamalkannya dan menyebarkannya diantara manusia maka baginya dua pahala, pahala dia beramal dan pahala menghidupkan sunnah tersebut, maka selayaknya bagi setiap muslim untuk melakukannya.

Karena pada hakekatnya umur kita adalah apa yang kita isi didalamnya dengan ketaatan kepada Allah swt, selebihnya akan belalu begitu saja tanpa nilai, dan akan menyesallah orang yang menyia-nyiakan kesempatannya, pada saat tidak berguna lagi penyesalan.

Apakah Terdapat Kekhususan Lain Pada Hari ‘Asyura :

Doktor Shaleh As-Sadlan berkata :

“ Tidak ada kekhususan lain pada hari ini kecuali puasa, adapun yang dituliskan beberapa kitab dan yang disebutkan sebagian fuqoha, bahwa disunnahkan pada hari tersebut melebihkan nafkah untuk keluarga dan menjadikannya menyerupai hari ‘Ied, tidak terdapat dalil yang shahih didalamnya.

Beberapa Bid’ah Pada Hari ‘Asyura.

Kini kita merenung sejenak tentang hari ‘Asyura, hari mulia yang didalamnya Allah selamatkan Musa alaihissalam dan para pengikutnya dari Firaun dan kaumnya, kemudian dirubah oleh sebagian kaum muslimin di sebagian negri-negri Islam menjadi acara kendurian. Para ulama telah menerangkan semua itu sebagai bid’ah yang diharamkan dan bukan bagian dari ajaran Islam akan tetapi lebih dekat kepada ajaran jahiliyah. Akan anda dapatkan sebagian diantara mereka menghindari perhiasan dan kesenangan, yang demikian itu untuk memperingati terbunuhnya Husain radiallahu’anhu. Benar, terbunuhnya beliau membuat kaum muslimin sangat sedih, akan tetapi apakah itu berarti kita harus selalu mengorek luka lama ? Tidak, sebab yang demikian itu akan menjadikan kaum muslimin berpecah belah dan menumbuhkan fanatisme, serta membiarkan musuh-musuh mengambil kesempatan masuk didalamnya. Diantara bid’ah yang lain adalah membuat makanan yang berbeda dari biasanya, seperti dengan menambahkan biji-bijian atau yang lain, atau mengganti baju dan melapangkan nafkah bagi keluarga, atau membeli kebutuhan setahun pada hari itu, atau melakukan ibadah tertentu seperti shalat, menyembelih hewan, menyimpan daging korban untuk dimasak pada hari itu, memakai celak mata, saling bersalam-salaman, saling berziarah, mengunjungi masjid atau kuburan, atau menampar pipi dan merobek kantong baju sebagai tanda bela sungkawa seperti cara jahiliyah. Semua itu adala perbuatan bi’ah dan kemungkaran yang tidak diajarkan oleh Rasulullah saw, juga Khulafaurrasyidun dan orang-orang sesudahnya, juga tidak ada para imam yang menganjurkannya. Sesungguhnya yang sangat dibenci Islam adalah mengulang-ngulang kesedihan, maka bagaimana mereka melakukan hal yang demikian tersebut. Bagi setiap muslim seharusnya menjauhi perbuatan bid’ah, karena sebaik-baiknya perbuatan adalah mengikuti Rasulullah saw dan seburuk-buruknya perbuatan adalah menjauhi ajaran Rasulullah saw, karena setiap bi’ah adalah sesat dan setiap kesesatan kedalam neraka.

Dengan upaya-upaya tersebut, Insya Allah kita tepat dalam memposisikan diri mencapai derajad taqwa. Wallahu a’lamu bisawab. …

*) Penulis adalah mahasiswa S2 IAIN Tulungagung – Jatim

FacebookTwitterGoogle+LinkedIn

Gallery

slide3 slide2 slide1
FacebookTwitterGoogle+LinkedIn